Tag Archives: agama damai

Kisah-Kisah Santun dalam Berdakwah

Menyeru pada kebaikan tidaklah hanya bermodal wawasan dan ilmu agama semata yang berguna untuk membatasi gerak kita agar tidak sampai berlebihan dan menerjang aturan syara’ dalam berdakwah, akan tetapi masih membutuhkan taktik dan cara lain yang lebih sistemik sehingga bisa lebih menunjang dan mensukseskan sebuah dakwah, dan yang tak kalah penting adalah akhlak, tanpanya dakwah akan hanya berbuntut pada kekerasan dan bahkan akan kehilangan esensinya.

Sebab, seorang penyeru ketika hanya bermodal ilmu saja tanpa di bekali akhlak, ketika dalam prosesi dakwahnya ada dari wibawa, harta atau kedudukannya yang disinggung, maka bisa jadi spirit awal dari dakwahnya yang bertujuan mencari pahala akan beralih pada pembelaan diri sendiri, ada baiknya kita jadikan teladan kisah-kisah orang mulia terdahulu dalam mengajak pada kebaikan.

Suatu saat ada seorang pemuda mendatangi Baginda Nabi saw. Dan berkata dengan polosnya “wahai Nabi Allah, apakah engkau mengizinkanku untuk berzina ?” sontak hal ini menyebabkan kericuhan kecil di kalangan Sahabat yang hadir disitu dan beniat hendak berbuat kasar padanya. Tak ingin terjadi keributan, Nabi mengambil alih, dengan lembut beliau bersabda “ bawa pemuda itu kepadaku” pemuda itu mendekat dengan takzim hingga duduk persis di depan Nabi.

apakah kau mau menzinai ibumu” Beliau mengawali, kaget mendengar apa yang di katakana Nabi, pemuda itu menjawab tegas “tidak, semoga Allah melindungiku”.  “begitulah, manusia tidak mau berzina dengan ibunya” tangkas Nabi. “Apakah kau mau menzinai saudarimu?” dengan jawaban yang sama pemuda berkata “tidak, semoga Allah melindungiku”.

Baginda Nabi membalas “begitulah, manusia tidak mau berzina dengan saudarinya” pertanyaan Nabi dan jawaban pemuda itu tetap dan terus berlanjut hingga Baginda Nabi bertanya “Apakah kau mau menzinai bibimu?” masih dengan jawaban yang sama pemuda tadi menjawab “tidak, semoga Allah melindungiku” dan Nabi membalas “begitulah, manusia tidak mau berzina dengan ibunya”.

Setelah itu Baginda Nabi meletakkan tangannya yang mulia ke dada pemuda itu seraya berdoa “ Ya Allah bersihkan hatinya, ampuni dosanya dan jagalah kemaluannya (dari melakukan hal-hal buruk)” setalah kejadian ini, pemuda tersebut menjadi orang paling membeci terhadap perzinaan.

Di ceritakan juga tentang seorang pemuda yang berpapasan dengan Shillah bin Asyim, pemuda  itu  membiarkan jubahnya terurai hingga menyeret di tanah (merupakan perilaku tidak baik), melihat hal ini orang-orang yang melihatnya hendak bertindak dengan kasar padanya untuk mengingatkan.

Namun Shillah bin Asyim mencegah “ tunggu, serahkan urusannya padaku” dengan lembut ia berkata kepada pemuda itu “wahai anak saudaraku (panggilan keayahan), aku ada perlu denganmu” mendengar sambutan hangat ini, dengan lapang dada pula pemuda tersebut mengiyakan “ keperluan apa paman?” “aku ingin kau sedikit mengangkat jubahmu itu” “oh, iya dengan senang hati paman”  iapun sedikit menaikkan jubahnya.

Setelah itu Shillah bin Asyim bekata kepada sahabat-sahabatnya yang tadi berniat berlaku kasar pada si pemuda “kalau kalian tadi bertindak kasar padanya, niscaya ia takkan menuruti permintaan kalian, bahkan ia akan mencaci kalian

Cerita lain tentang seseorang yang memelihara kucing, ia memiliki tetangga bekerja sebagai jagal hewan. Setiap harinya ia meminta sepotong daging pada tetangganya itu untuk makanan kucinya.

Suatu tempo, ia melihat tetangganya tersebut melakukan perbuatan buruk, sebagai seorang muslim sekaligus tetangga yang baik, oleh agamanya ia di anjurkan untuk memberi nasehat. Namun ia melakukan hal yang tak diduga sebelum beranjak memberi nasehat, ia membuang jauh-jauh kucingnya, setelah itu ia pergi menemui tetangganya itu untuk menasehati.

Setelah ia mengutarakan maksudnya, tetangganya yang mungkin merasa telah memberi banyak bantuan kepadanya merasa tersinggung dan berkata mengancam “aku tidak akan lagi memberimu daging untuk makanan kucingmu” ancaman dari tetangganya ini sudah ia duga sebelumnya, sehingga ia membuang kucingnya “aku tidak mengingatkan kebaikan padamu kecuali aku telah membuang kucingku dan berhenti berharap kepadamu”.

Seperti itulah, jika ingin sukses dan  tidak takut dalam berdakwah, selain hal-hal diatas harus terpenuhi, seperti lemah lembut dalam bertindak, juga seyogyanya kita menghilangkan sifat kebergantungan kita kepada makhluk. agar ketika kebergantungan kita di ancam, kita tetap mampu menjalankan dakwah tanpa ada yang menghambat. Selanjutnya hanyalah Allah yang kita harapkan pertolonganNya.

Kasih Sayang Sesama Makhluk

Diceritakan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT memberikan belas kasihnya kepada mereka yang berbelas kasih. Maka berbelas kasihlah pada makhluk Allah yang ada bumi, agar makhluk Allah yang ada di langit berbelas kasih pada kita.”

Ada sebuah kisah dari Sahabat Umar. Suatu ketika saat Umar berjalan di Kota Madinah, beliau menjumpai seorang anak kecil. Di tangan anak tersebut, ada seekor burung kecil. Dia bermain-main dengan burung tersebut. Karena kasihan melihat burung kecil itu dipermainkan si anak, Umar lantas membeli dan melepaskan burung tersebut. Ketika Umar telah wafat, seorang ulama besar bertemu dengan Sahabat Umar dalam mimpi.

Dalam pertemuan itu, sang ulama bertanya kepada Sahabat Umar. “Wahai Umar, saat ini keadaan seperti apakah yang Allah berikan kepadamu?”

Umar menjawab, “Alhamdulillah, aku bahagia. Allah mengampuniku.”

“Kira-kira karena tindakan atau ibadah apa yang akhirnya Allah memberikan engkau ampunan? Karena engkau dermawan, atau sebab adilmu, ataukah karena kezuhudanmu?” Tanya sang ulama lagi.

“Setelah orang-orang meletakkanku di liang lahat, menguburku di dalamnya, meninggalkanku sendirian di sana, datanglah dua malaikat. Malaikat yang menyeramkan, membuat persendianku gemetar karena kedatangan mereka. Sesaat kemudian mereka meraihku dan mempersilahkan aku duduk. Aku tahu, saat itu mereka akan bertanya kepadaku. Tapi sebelum mereka bertanya, aku mendengar suara tanpa rupa. ’Hai malaikat, tinggalkan hambaku itu. Jangan kalian takut-takuti dia. Aku menyayangi dia dan mengampuni segala dosanya, karena suatu ketika dia menyayangi seekor burung di dunia maka aku menyayangi dia dalam kubur’,” jawab Sahabat Umar.

Ada sebuah kisah lain tentang kasih sayang sesama makhluk ini. Suatu ketika, seorang ahli ibadah dari golongan bani Israil berjalan melewati sebuah tumpukan pasir. Karena saat itu dia sedang lapar, dia berpikir andai saja pasir itu adalah tepung, tentu bisa dimakan dan mengobati kelaparan banyak orang.

Kemudian Allah menurunkan wahyu pada seorang nabi dari nabi-nabi bani Israil, “Katakan pada dia (ahli ibadah yang melihat tumpukan pasir), Aku telah memberi dia jatah pahala sebanyak jumlah pahala jika pasir itu berubah jadi tepung lalu dia bersedekah dengan tepung itu. Barangsiapa menyayangi hambaku, maka Aku akan jauh lebih sayang padanya. Ketika melihat pasir tadi dia berkata, ‘Andai pasir ini tepung, tentu akan bermanfaat untuk orang banyak yang sedang kelaparan,’ maka Aku memberi dia pahala sebagaimana jika dia bersedekah dengan pasir itu jika telah menjadi tepung.”

Demikianlah, betapa ajaran Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mengasihi sesama. Bukan malah menebar kebencian, baik dengan non muslim maupun sesama muslim. Jika masih ada oknum yang menganggap keberadaan seorang muslim di lingkungannya akan berbahaya, berarti dia belum kenal bagaimana sejatinya karakter muslimin. Bila masih ada yang berpikir pesantren adalah sarang teroris, jelas dia tidak kenal dengan apa itu pesantren yang sesungguhnya. /-