Tag Archives: Ahbabul Musthofa

Gempita Panggung Lirboyo Bersholawat

Mubtadi-aat pondokku, engkau panji martabatku,

Siapa yang datang mencarimu, kan bertemu hamparan cintamu….

Merekahlah senyum bahagia santri-santri putri Ponpes Hidayatul Mubtadi-aat begitu mars lagu kebanggaan mereka dinyanyikan oleh Habib Syekh bin Abdul Qadir As-Segaf dan grup Ahbabul Musthofa. Bersama-sama santri putri turut melantunkan mars ini dengan suara yang beriringan. Dipadukan dengan nada lagu Yâ Lal Wathan karya KH. Abdul Wahab Hasbullah. Bendera-bendera kecil yang mereka bawa dengan kompak berayun dan berkibar, mengiringi senandung lagu “Yâ Thôlibât Mubtadi-aat..”

Tahun ke-enam panggung Lirboyo Bersholawat kemarin memang spesial. Selain hadirnya Habib Syekh bin Abdul Qadir  As-Segaf dari Solo, nasyid asal Mesir, Musthofa Atef juga turut menyemarakkan gegap gempita suasana diatas panggung. Beberapa lagu sempat dilantunkan bersama oleh kedua tamu istimewa ini. Malam kemarin menjadi momen duet pertama kali, antara Habib Syekh dan Musthofa Atef. Sebagai catatan, pelantun lagu Qomarun ini sengaja hadir di Ponpes Lirboyo, menggenapi rangkaian turnya ke Indonesia, setelah beberapa hari sebelumnya datang mengunjungi beberapa tempat.

Acara Lirboyo Bersholawat, dalam rangka menyambut haul dan haflah ponpes putri Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo kemarin (13/04) alhamdulillah berjalan lancar. Cuaca cerah, dan para pengunjung dari berbagai daerah rela datang jauh-jauh untuk sekedar meramaikan. Saking “rapat”nya, mereka harus duduk berdesak-desakan. Sebelumnya, para jama’ah Syekher Mania yang berasal dari berbagai daerah harus benar-benar antri dan sabar untuk bisa masuk ke lokasi, memang jumlah hadirin kian membludak dari tahun ke tahun. Tahun ini, jumlah penonton meningkat tajam dari tahun kemarin. Diprediksi sekitar tujuh puluh ribu orang hadir tumpah ruah dalam satu lokasi. “Malam ini, Lirboyo Bersholawat menembus angka tujuh puluh ribu jamaah.” Taksir panitia.

Pagi harinya, Musthofa Atef menyempatkan diri bersilaturahim mengunjungi ndalem, dan bertatap muka dengan santri-santri putri. “Karena kalian para kaum hawa adalah rahasia cahaya di muka bumi, semoga Allah menambahkan cahaya pada kalian. Dengan kaum hawa Allah menyinari dunia Insya Allah.” Demikian sekelumit penggalan kutipan yang disampaikan nasyid yang berkuliah di Al-Azhar ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, panggung Lirboyo Berholawat dihadiri oleh banyak tokoh-tokoh penting, sekedar menyebut beberapa nama, seperti wakil gubernur Jawa Timur, HA. Saifullah Yusuf, atau akrab disapa Gus Ipul, Kapolres Kediri, Komandan Brigif Wirayuda Kediri, dan lain-lain.

Duet antara Habib Syekh dan Musthofa Atef ini menjadi yang pertama kalinya di tanah air. Pada penampilan-penampilan sebelumnya, Musthofa Atef biasanya hanya tampil sendirian, begitu juga Habib Syekh. Pengunjung sempat dibuat terkagum-kagum dengan lengkingan suara Musthofa Atef letika menyanyikan lagu-lagunya secara solo. Ia dapat menjangkau nada yang amat tinggi, tanpa kesulitan sedikitpun. Para santri putri dituntun untuk bersama menyanyikan salah satu lagu yang membuat beliau naik daun, Qomarun… “Musthofa ingin, orang Mesir bisa mendengar suara kalian (syekher mania-Red)” Kata Musthofa Atef lewat penerjemahnya.

Acara selesai sekitar pukul 23.30 WIB. Diakhiri dengan lagu Indonesia raya, sebagai salah satu bukti kecintaan kita, seluruh umat muslim akan bangsa kita, bangsa Indonesia.

Senandung Habib Syech di Malam Mendung

LirboyoNet, Kediri – “Beberapa tahun lalu, saya masih bersama Mbah Idris. Tahun sebelumnya, saya bersama Mbah Imam. Kami sama-sama selalu berdoa, ‘Ya Allah, kami cinta kepada Rasulullah. Kami rindu Rasulullah.'”

Malam itu, Sabtu (09/04) kedua almaghfurlah, KH. Ahmad Idris Marzuqi dan KH. Imam Yahya Mahrus sudah tidak berada di panggung lagi. Namun sang Habib tidaklah merasa di dalam sepi. “Beliau selalu hadir bersama kita. Beliau hadir dalam setiap kebaikan yang kita lakukan.”

Layaknya yang telah menjadi rutinitas, shalawat mulai bergema di lapangan Barat Pondok Pesantren Lirboyo setelah matahari tuntas berselimut di peraduan. Adalah Ahbabul Musthofa, grup shalawat pengiring Habib Syech yang memulai memendarkan cahaya cinta Rasulullah malam itu.

Syecher Mania pelan-pelan mengikuti irama pukulan rebana. Daftar lagu yang disuguhkan sudah di luar kepala mereka. Sambil menggandeng istri, seorang pengunjung berkomat-kamit. Sambil melayani pembeli, bibir penjual buku menggumam lirik-lirik.

Hujan adalah penghalang bagi sebagian orang. Bagi para pecinta, ia adalah wujud dari restu alam atas nama kekasih yang selalu disebut. Periksa saja foto-foto para syecher. Jalan penuh. Lapangan riuh. Tahun lalu, yang hadir sangat banyak. Tahun ini lebih banyak lagi. Benar ujar Habib Syech. Hujan malam itu adalah berkah.

Ribuan santri putri Pondok Pesantren Putri Tahfidzul Qur’an (PPTQ) terpaksa basah kuyup. Santri putri pondok unit lain, seperti Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM), P3HM Qur’aniyyah (P3HMQ) yang datang di waktu yang sama juga mengalami hal yang serupa. Tak mengapa. Pakaian dan badan mereka basah oleh hujan. Hati mereka kuyup oleh kerinduan. Mereka beruntung dapat bertemu Habib Syech dua kali. Pagi hari sebelum acara, Habib Syech berkenan menemui mereka. Mereka juga mendapat petuah untuk menemani belajar mereka selanjutnya.

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaff duduk bersila di panggung. Pun para masyayikh Lirboyo. Hadirin juga duduk dengan khidmat. Namun dalam sukma mereka, cinta telah bersujud. Menghamba kepada sebaik-baik pujaan hati, Rasul Muhammad Saw. Maka mengalirlah pujian-pujian yang tak putus. Qashidah satu disambung dengan qashidah lain, layaknya menyambung benang untuk sampai ke tirai kamar sang kekasih.

Di tengah untaian shalawat, Abdullah Abu Bakar S.E selaku Walikota Kediri berterima kasih, dan memberikan apresiasi kepada hadirin yang rela hujan-hujanan dalam even ini. Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur, juga ikut mengumbar satu-dua kalimat. “Jenengan semerap LGBT? Niku loh. Ganteng-ganteng, rabine lanang. Ayu-ayu rabine wedok.” Cinta adalah anugerah Tuhan. Maka jika tidak sesuai konsep cinta-Nya, masihkah pantas disebut cinta? Sungguh, dia adalah bujukan, rayuan, dan nafsu amarah yang dikendalikan syaitan.

Belum tengah malam, Indonesia Raya dikumandangkan. Memang, Habib Syech harus pulang lebih mula. Ada keperluan yang memaksa beliau untuk tidak berlama-lama. Hadirin kecewa? Tidak. Mereka tahu, kasih yang dipujakan tak akan putus oleh perpisahan. Sepasang kekasih akan selalu menemukan cara untuk bertemu kembali.][