Tag Archives: Ahlussunnah

Tahun Depan, Liburan Jadi Pertengahan Sya’ban

LirboyoNet, Kediri —Selepas Haul & Haflah di malam harinya, Resepsi Pagi Pondok Pesantren Lirboyo & Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) dilaksanakan keesokan harinya, Rabu, (25/04) 09.00 Aula Al Muktamar.

Resepsi Pagi adalah momen pertemuan antara pengurus pondok dan madrasah, dengan seluruh santri setelah melaksanakan seluruh agenda pondok dan madrasah. Pagi itu, selain memberitahukan susunan pengurus baru untuk tahun depan, ada beberapa pengumuman penting yang harus diketahui seluruh santri. “Kami harap, para santri teliti dalam memperhatikan pengumuman ini,” tegas Imam Rosikhin, Mudier Dua MHM.

Setelah Pondok Pesantren Lirboyo secara resmi menerapkan pendidikan Ma’had Aly, praktis ada beberapa perubahan administratif menyertainya. Diantaranya adalah perubahan dalam daftar pelajaran tambahan yang diberikan. Yang tak kalah penting adalah informasi terkait masa liburan santri. “Mulai tahun depan, seluruh santri baru diperkenankan pulang tanggal 19 Sya’ban,” imbuhnya.

Acara yang dilaksanakan di Aula Al Muktamar ini juga dirawuhi oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus. Beliau menekankan kepada santri untuk terus bertahan dalam menghadapi cobaan-cobaan di pesantren. Beliau juga mengharapkan, cobaan-cobaan itu tidak menjadikan para santri yang telah pulang ke rumah tidak kapok. “Jangan sampai ada alumni yang trauma, tidak mau memondokkan anaknya ke pesantren salaf. Memang alumni kalau sudah di rumah itu jadi apa? Jadi penjahat? Jadi preman? Tidak kan? Mereka jadi tokoh masyarakat, jadi manusia yang bermanfaat. Saya heran kalau sampai tidak memondokkan anaknya ke pesantren salaf.”

Beliau menegaskan, Pesantren Lirboyo itu, walaupun kitab yang diajarkan kuno, tetapi tidak mengurangi samasekali kualitas ilmunya. “Bahkan lebih berkah. (Karena) yang dipelajari masih murni. Kebaikan adalah ketika kita mengikuti apa yang telah digariskan oleh ulama-ulama terdahulu,” terang beliau.

Setelah acara, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, para siswa diperkenankan mengambil rapor nilainya selama setahun mereka belajar di Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien.][

Haflah, Negara Berharap Santri Terus Bersumbangsih

LirboyoNet, Kediri—Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien yang dilaksanakan Selasa malam Rabu, (24/04) kemarin, berlangsung semarak.

Hujan deras sempat mengguyur Lirboyo sore harinya. Namun, acara yang dimulai pukul 18.30 WIB itu tidak kehilangan hadirinnya. Ribuan alumni dan masyarakat umum tetap tumpah ruah di Aula Al-Muktamar, tempat di mana acara dilaksanakan.

Diawali dengan istighotsah, rangkaian acara berlanjut dengan sambutan KH. An’im Falahuddin Mahrus atas nama keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo. “Kami dzuriyah Pondok Lirboyo mengucap terima kasih kepada para wali murid yang telah memberikan kepercayaan untuk mendidik putra-putri panjenengan.” Lebih jauh, beliau berharap, apa yang dipelajari santri kini benar-benar bisa membentuk kepribadian santri yang berakhlakul karimah dan menjadi manusia yang baik. “Semoga apa yang diberikan para dzuriyah mampu menjadi sumbangsih yang berarti bagi bangsa dan negara,” tutup beliau.

Undangan pemerintah provinsi diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Gubernur, Abdul Hamid. Ia mengungkapkan, pesantren sekarang telah menjadi faktor utama pembangunan provinsi. “Pembangunan sektor pendidikan sedang giat-giatnya oleh pemerintah provinsi. Terutama di pesantren. Ada kerjasama yang dibangun oleh pemerintah, yang menghubungkan pesantren dengan pihak industri.” Bagi pemerintah, ini adalah momen berharga bagi pesantren untuk ikut andil menyejahterakan bangsa. “Ini saatnya pesantren ikut menjadi pendorong aktivitas ekonomi daerah, disamping menjadi pelopor dan pusat lembaga keagamaan,” ungkapnya.

Seperti yang telah direncanakan, penceramah dalam acara besar malam itu hadir tanpa kendala. KH. Said Aqil Siroj, yang terbang langsung dari Jakarta, segera bersimpuh di depan KH. M. Anwar Manshur begitu turun dari mobil pengantarnya. Beliau mengambil tempat duduk di belakang para pengasuh. Bagi para santri, ini adalah bukti luapan penghormatan dan rasa takdzim kepada orang-orang mulia.

Dalam ceramahnya, panjang lebar beliau paparkan bagaimana seharusnya santri kini berperan. “Kitab Fathul Muin itu sudah luar biasa. Itu sudah sangat cukup sebagai bekal menghadapi tantangan masyarakat nantinya.”

Beliau memuji apa yang dipelajari santri di Lirboyo sudah lebih dari cukup untuk menjawab perihal-perihal yang terjadi di masyarakat. Dari permasalahan ibadah, ekonomi, hingga politik praktis. Hanya saja, santri masih kurang begitu pandai mengemas kemampuan mereka sehingga bisa dikonsumsi khalayak banyak.

Menurut beliau, santri zaman sekarang harus bisa membumikan ajaran yang ia terima di pesantren. Masyakarat kini menuntut santri untuk berbahasa yang bisa dipahami mereka. Dengan begitu, Islam akan lebih mudah diajarkan dan benar-benar menjadi jalan terbaik yang  harus mereka pilih untuk mengarungi kehidupan dunia.][

Memejahijaukan Fanatisme

Ketika kita membahas apa itu fanatik, maka kita akan memasuki lorong dialog purba. Dimana diskursus mengenai hal tersebut sering tidak mencapai titik usai yang berkenaan dengan seluruh aspek kehidupan, lebih-lebih dalam aspek keagamaan.

Secara etimologi (bahasa), fanatik diartikan sebagai suatu kepercayaan atau keyakinan yang teramat kuat terhadap suatu ajaran, baik keagamaan, politik, dan lain sebagainya. Sebagian pakar menggambarkan sikap fanatik dengan sikap yang berlebihan dalam menganut, membela, serta memperjuangkan sebuah keyakinan. Sehingga pola pikir yang dibangun cenderung tertutup dan tidak sedikit pun memberi celah untuk mendengarkan ide dan opini yang dianggap bertentangan dengan keyakinannya.

Dan dari rahim fanatik inilah kemudian lahir sebuah tindakan, yang oleh sebagian kalangan dinilai negatif. Misalkan absolutisme, ekstremisme (Tatharruf), eksklusivisme, serta radikalisme, yang mana pada gilirannya semua akan mengantarkan terhadap runtuhnya persatuan (Ittihadul Ummah), menyuburkan permusuhan, serta menghidupkan permusuhan. Rasulullah Saw pernah bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

“Bukan termasuk golongan kami, seseorang yang mengajak untuk bersikap fanatik, dan seseorang yang berperang atas dasar fanatik, dan orang yang rela mati demi fanatik”.

Sudah sangat jelas, fanatisme yang dalam konotasinya disebut sebagai Ta’asshub sudah mendapatkan sikap secara tegas oleh Rasulullah Saw sebagaimana yang telah terekam dalam kitab Sunan Abi Dawud. Namun, realita kehidupan seakan tidak pernah mengetahui akan hal itu. Karena diakui ataupunt tidak, masih banyak dijumpai pola fanatik yang sangat beragam, mulai dari fanatik madzhab, fanatik ormas, maupun fanatik tokoh.

Fanatik Madzhab (Ta’asshub al-Madzhabiyyah)

Dalam perkembangannya, madzhab yang diakui oleh mayoritas kalangan Ahlussunnah wal Jamaah hanya terkualifikasi di kisaran empat madzhab (al-Madzahib al-Arba’ah), yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Eliminasi ini sangat mempertimbangkan bahwa hanya keempat madzhab itulah yang terdokumentasi (Mudawwanah) secara resmi dan dapat menjamin keauntentikan konsep madzhabnya. Imbasnya, tidak jarang masyarakat yang terjebak dalam pemahaman yang terkesan bersikap fanatik dan hanya membatasi diri dengan berpegang teguh atas salah satu madzhab yang dianutnya.

Melihat praktek yang diasumsikan fanatisme bermadzhab yang hanya sedemikian adanya, maka hal itu sebenarnya merupakan praktek bermadzhab secara tegas yang masih dapat dibenarkan menurut kacamat syariat. Karena dalam aplikasinya, sikap tegas dalam  bermadzhab hanya bertujuan untuk menguatkan keyakinan dan meningkatkan pemahaman terhadap madzhab yang dianut. Namun dengan catatan tanpa mengesampingkan atau lebih-lebih menafikan kredibilitas imam madzhab yang lain.

Di dalam kitab Manaqib A’immah al-Arba’ah dikatakan:

قَالَ الصَّلَابَةُ فِي الْمَذْهَبِ وَاجِبَةٌ وَالتَّعَصُّبُ لَا يَجُوْزُ. وَالصَّلَابَةُ اَنْ يَعْمَلَ بِمَا هُوَ مَذْهَبُهُ وَيَرَاهُ حَقًّا وَصَوَابًا وَالتَّعَصُّبُ السَّفَاهَةُ وَالْجَفَاءُ فِيْ صَاحِبِ الْمَذْهَبِ الْآخَرِ وَمَا يَرْجِعُ اِلَى نَقْصِهِ

Ulama berkata: Tegas dalam bermadzhab itu wajib, namun apabila fanatik bermadhzhab itu tidak diperbolehkan. Yang dimaksud tegas adalah mengamalkan terhadap ajaran yang menjadi madzhabnya dan meyakininya sebagai sesuatu yang benar dan tepat. Adapun yang dimaksud fanatik adalah sikap antipati terhadap madzhab lain dan mencari kelemahannya”.

Fanatik Ormas dan Tokoh (Ta’asshub al-Ijtima’iyyah wa Al-Syakhsiyyah)

Tidak asing lagi di jagad dunia maya, perseteruan panas dua kelompok pecinta dua tokoh sentral publik tidak pernah berakhir. Mereka sama-sama fantik terhadap tokoh yang dijadikan sebagai panutannya. Realita semacam ini menyisakan banyak persoalan. Perbedaan pendapat dan cara pandang tokoh yang dijadikan panutan sudah menjadi hal yang wajar. Akan tetapi, pembelaan serta pengagungan pengikutnya secara berlebihan inilah yang menjadi fokus sorotan.

Tidak berhenti sampai disitu, saat ini organisasi masyarakat tidak selamanya membangun persatuan dan kesatuan. Hal demikian dapat dibuktikan dengan banyaknya kasus konflik yang menghidupkan api permusuhan dan membuat retak hubungan antar organisasi masyarakat (Ormas), bahkan ketidakharmonisan dengan pemerintah. Setelah dianalisa secara cermat, semua itu tidak pernah terlepas dari faktor fanatisme dan daya saing ormas yang tidak sportif. Juga tidak jarang, para pimpinan suatu ormas tertentu dengan lantang mengeluarkan pernyataan dan pandangan yang memprovokasi para pengikutnya bersifat loyal bahkan menjadi fanatik buta.

Sebenarnya, syariat telah memberikan legalitas terhadap sikap sebagaimana di atas, apabila memang sikap fanatik itu hanya sebatas menjadikan panutan terhadap tokoh yang dimaksud. Namun yang perlu dicatat adalah, sikap legalitas ini tidak memberikan celah sedikit pun untuk memperbolehkan mereka saling menghujat terhadap pihak lain. Tindakan saling menghujat antar kelompok ini lah yang pada gilirannya akan menimbulkan dampak negatif yang berupa ketidakharmonisan, kebencian, hingga permusuhan. Atas dasar realita sikap yang demikian, maka fanatisme ormas dan tokoh tidak dapat dibenarkan, menimbang dampak negatif yang kemungkinan besar akan terjadi yang diakibatkan atas munculnya fanatisme tersebut.

Dan pada akhirnya, semua itu sangat berbeda dengan apa yang telah dicontohkan oleh para ulama salafus shalih sebagaimana keterangan dalam kitab at-Ta’liqat al-Mukhtashirah:

وَكَانَ الصَّحَابَةُ يَخْتَلِفُوْنَ فِي الْمَسَائِلِ الْفِقْهِيَّةِ، وَلَا يَحْدُثُ بَيْنَهُمْ عَدَاوَةٌ، وَهُمْ إِخْوَةٌ، وَكَذَلِكَ السَّلَفُ الصَّالِحِ وَالْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ يَخْتَلِفُوْنَ، وَلَمْ يَحْصُلْ بَيْنَهُمْ عَدَاوَةٌ، وَهُمْ إِخْوَةٌ، وَكَذَلِكَ أَتبَاعَهُمْ، فَإِذَا تَعَصَّبَ أَحَدُهُمْ لِلرَّأْيِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُوْجِبُ الْعَدَاوَةَ

“Para Sahabat Nabi juga berbeda dalam permasalahan hukum fiqih, namun hal itu tidak menimbulkan permusuhan di antara mereka, bahkan mereka tetap dalam ikatan persaudaraan. Begitu juga perbedaan pendapat yang terjadi di antara para ulama salafus shalihin dan empat imam madzhab. Hal itu tidak menimbulkan permusuhan di antara mereka, bahkan mereka masih dalam ikatan persaudaraan. Begitu pula para pengikutnya. Sehingga apabila mereka fanatik terhadap pendapat mereka, justru itulah yang akan menumbuhkan permusuhan,”.

Sebagai penutup, keberadaan sikap fanatik yang mewarnai dinamika kehidupan manusia adalah sebuah realita yang tak terbantahkan. Sebagaimana telah diketahui, fanatisme memiliki sisi faktor, esensi, spirit, hukum dan dampak yang masih dipertimbangkan dalam syariat. Sehingga tidak sepenuhnya benar apabila sikap fanatik dikatakan haram secara mutlak, dan juga sulit dibenarkan apabila dikatakan fanatisme dapat diterapkan secara totalitas. Karena bagaimanapun, syariat telah menggariskan secara jelas terhadap batasan-batasan yang tidak mentolerir siapapun untuk melampauinya. waAllahu a’lam[]

__________

Sumber Bacaan: Sunan Abi Dawud, Manaqib A’immah al-Arba’ah, at-Ta’liqat al-Mukhtashirah.

 

Kelahiran Ahlussunnah

Abu Hasan Al-Asy’ari, tokoh yang berjasa mempopulerkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, adalah seorang mantan Imam Agung aliran mu’tazilah. Hujjah-hujjahnya adalah oase bagi jamaah mu’tazilah yang setiap subuhnya berjumlah ribuan itu. Suatu hari di bulan Ramadlan, Rasulullah mendatangi beliau dalam mimpi. “Tolonglah ajaranku,” perintah Rasulullah kepada Ali bin Ismail, nama asli beliau. Lantas, beliau memberhentikan pengajian selama dua hari. Waktu itu beliau pergunakan untuk mendalami kajian tafsir dan hadis.

Di kesempatan selanjutnya, Rasulullah kembali hadir dalam mimpinya dengan perintah yang sama. Kemudian beliau jawab, “Bukankah sudah kulakukan ya Rasul?” Rasulullah tetap meminta Abu Hasan untuk menolong ajaran Rasul. Setelah beliau cerna dalam-dalam, terbukalah hati beliau, bahwa yang dimaksud Rasulullah adalah meluruskan akidah umat yang terlanjur dibelokkan oleh paham mu’tazilah. Sejak saat itu Abu Hasan memproklamirkan diri keluar dari mu’tazilah dan merumuskan akidah sesuai permintaan Rasulullah.

Sejak saat itu pula, paham mu’tazilah meredup dengan segera. Padahal, di masa sebelumnya, akidah mu’tazilah sangat sulit untuk ditaklukkan. Karena para ulama sebelumnya berdebat dengan mu’tazilah hanya menggunakan dalil naqli. Sementara mu’tazilah memilih untuk taqdimul aqli, mendahulukan akal daripada nash. Ketika keduanya berseberangan, mutlak kebenaran adalah milik akal.

Dalam membantah mu’tazilah, Imam Abu Hasan memiliki pendekatan lain. Beliau dengan cerdas menggabungkan antara naqli dan aqli. Mu’tazilah yang senang menterjemahkan filsafat Barat (Yunani) pun kelimpungan. Bagaimana tidak, Abu Hasan belajar akidah mu’tazilah selama tiga puluh tahun. Dan di masa masih menjadi pemimpin mu’tazilah, tidak ada seorangpun dari golongannya mampu menandingi rasio dan kelugasan beliau. Inilah yang membuat akidah asy’ariah seakan berkuasa dan mu’tazilah tumbang.

Dari kesuksesan yang dialami Imam Asy’ari inilah, kerancuan hukum mempelajari filsafat terjawab. Bahwa filsafat bukan sesuatu yang haram. Bahkan, Imam Ghazali dalam salah satu risalahnya menyebut bahwa belajar filsafat bertaraf fardhu kifayah. Bagaimana bisa kita melawan para rasionalis dan liberalis, jika kita tidak memahami pola pikir mereka? Tentu kita akan dihajar habis-habisan, seperti ahlussunnah pra-Asy’ari.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Tentunya, filsafat yang bisa kita tempuh tidak sampai ke ranah bebas tanpa aturan. Tidak sampai ‘membebaskan ruang dari Tuhan’ seperti yang dialami oleh lembaga pendidikan atau kampus di berbagai daerah. Kita sudah mempunyai kaidah agama yang menjadi rule untuk kita taati.

Sebenarnya, sebelum dipopulerkan oleh Imam Asy’ari, ajaran ahlussunnah sudah berupa benih di tangan Sayyidina Abdullah bin Abbas. Ahlussunnah merupakan reaksi dari ketidakmampuan Islam bertahan dari perpecahan sejak ditinggal sang pembawanya, Rasulullah SAW.

Perpecahan di dalam tubuh Islam sudah dimulai bahkan sebelum jenazah Rasulullah dikebumikan. Kita tentu ingat peristiwa pembai’atan Abu Bakar sebagai Khalifah, yang didahului perdebatan kecil antara Muhajirin dan Anshar. Di saat itu, watak asli kaum Arab mencuat. Mereka sebelum Rasulullah datang sebagai juru damai, adalah kaum yang sangat loyal pada kelompoknya. Bani Hasyim, Khazraj, Aus, sering berseteru dengan kelompok bani lain. Ini membuktikan bahwa Rasulullah adalah juru damai paling tangguh.

Memang, perseteruan kecil yang terjadi di saat berkabung itu dapat diredam oleh Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Namun lubang perpecahan menganga jua ketika muncul gerakan emoh zakat dari beberapa orang. Ini terjadi hanya beberapa waktu dari resminya Abu Bakar menjadi Khalifah. Mereka menganggap, kewajiban zakat sudah gugur ketika Rasulullah wafat, karena sudah tidak ada lagi doa dari Rasulullah untuk mereka yang berzakat. Peristiwa ini ditengarai sebagai perpecahan pertama yang sudah diprediksi oleh Rasulullah di dalam hadisnya yang masyhur, tentang terpecahnya umat Islam menjadi puluhan golongan itu.

Perpecahan akhirnya benar-benar tumpah ketika sayyidina Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah. Muncullah golongan Rawafidl (pendukung Ali) dan Khawarij (penolak kebijakan Ali). Jelas, perpecahan ini bukan akibat dari perbedaan akidah, melainkan politik yang memaksa mereka bertingkah. Lantas, demi mengukuhkan posisi mereka, masing-masing dari dua kubu merumuskan akidah sendiri, sehingga mereka yang tidak sesuai dengan rumusan yang telah diputuskan dianggap kafir. Di masa inilah menyemai hadis-hadis maudlu’. Mereka menggunakan nama Rasul untuk menguatkan tindakan-tindakan mereka.

Memandang suasana semakin keruh, Abdullah bin Abbas, sahabat yang sangat cerdas, menarik diri dari pertikaian ini, dan merumuskan akidah yang benar. Beliau lah orang pertama yang mencetuskan istilah Ahlussunnah wal jamaah (aswaja). Hal ini berdasarkan pada ucapan beliau saat mentafsirkan ayat:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

 Beliau berkata: “Yakni pada hari kiamat, ketika bersinar wajah para pengikut ahlussunnah wal jama’ah dan menghitam wajah pengikut bid’ah.”

Istilah ahlussunnah beliau gunakan demi membedakan diri dengan kaum Rawafidl dan Khawarij. Memang, ada hadis yang didatangkan oleh beberapa pihak berbunyi, “Siapakah mereka ya Rasulullah (satu golongan yang selamat itu)?” “Mereka adalah ahlussunnah wal jamaah”. Namun oleh mayoritas ulama, hadis ini patut dikoreksi kembali.

Abdullah bin Abbas menegaskan, aswaja tidak terpengaruh apapun, selain yang datang dari Rasulullah. Berbeda dengan Rawafidl maupun Khawarij yang mengkafirkan sahabat yang tidak sepaham dengan mereka, beliau menganggap semua yang datang dari sahabat dapat diterima kebenarannya.

Kenapa? Karena hanya sahabat lah golongan yang memahami ajaran Rasul. Memang, seringkali ditemukan pendapat yang terlihat silang sengkarut antar sahabat. Namun, aswaja menyikapinya dengan bijak. Logikanya sederhana. Kita misalkan satu kampung rombongan ziarah Walisongo. Di antara mereka ada ustadz dan anak muda. Setelah ke makam, ziarah dilanjutkan ke Monas. Kalau kita tanya ke ustad, tentu dia menjawab ‘Makamnya ramai sekali.’ ‘Kalau monasnya gimana?’ ‘Alah, monas ya gitu-gitu aja. Cuma tugu yang ada emasnya’. Sementara anak muda akan menjawab ‘Makamnya ya tetap gitu aja.’ ‘Kalau monasnya?’ ‘Wah, di sana ramai.’

Perbedaan latar belakang tentu berakibat pada perbedaan tingkat kepahaman dan penafsiran. Meskipun sumbernya sama persis. Dan kita, aswaja, tidak bisa menghakimi siapakah yang benar, karena kita tidak ikut dalam perjalanan ziarah sebagaimana pemisalan di atas.

Apa yang menjadi dasar keyakinan aswaja adalah “Kullu shohabiy udulun.” Setiap sahabat itu adil. Semua pendapat sahabat benar. Tidak ada yang bisa dibatalkan. Namun, kita punya wewenang untuk memilih, pendapat mana yang akan kita gunakan. Ini sangat berbeda dengan Rawafidl maupun Khawarij.

Dan juga, bagaimana mungkin kita menafikan kabar dari sahabat, jika mereka adalah perekam terbaik ajaran Rasulullah. Mereka mengikuti setiap perkataan, perbuatan dan taqrir (ketetapan) yang dikeluarkan Rasulullah. Kita tidak bisa melaksanakan salat, kecuali dengan melihat ‘rekaman’ yang disimpan oleh para sahabat.

Kita patut bersyukur. Ajaran aswaja dapat lahir dan sedemikian rupa mengalir memenuhi sungai-sungai akidah Nusantara sejak lampau. Karena jika tidak, mungkin saja kitalah aktor utama penyebar terorisme atas nama agama. Atau mungkin juga kita tergiur akan ujaran, “kembali ke ajaran Rasulullah” dan mengunyahnya mentah-mentah. Alhamdulillah.][

#Disarikan dari Seminar Aswaja Sebagai Penyeimbang Agama dan Budaya oleh KH. Muhibul Aman Ali (Pasuruan) di Lirboyo, 05 Nopember 2015.