Tag Archives: aksesoris

Hukum Memakai Kaos Bergambar Salib

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kami ingin bertanya, bagaimanakah hukum seorang muslim memakai kaos atau atribut lain yang bergambar salib? Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Maulana R., Serang-Banten)

__________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Saat ini banyak ditemukan atribut atau aksesoris semisal kaos, topi, tas, gelang dan sesamanya yang bergambar salib. Dan tak jarang ditemukan beberapa pemuda muslim yang memakai berbagai varian atribut atau aksesoris tersebut.

Dalam Islam, umat Islam dilarang menyerupai golongan non muslim dalam berbagai hal, salah satunya yang berkaitan dengan cara berpakaian dan berbusana. Namun dalam hal pakian dan busana, ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan. Dalam salah satu keterangan dalam kitab Majmu al-Fatawa wa ar-Rasail karya Sayyid Alwi al-Maliki al-Hasani disebutkan:

وَأَمَّا مَا كَانَ خَاصًا بِالْكُفَّارِ وَزَيَا مِنْ أَزْيَائِهِمُ الَّتِى جَعَلُوْهَا عَلَامَةً لَهُمْ كَلُبْسِ بُرْنَيْطَةٍ وَشَدِّ زِنَارٍ وَطُرْطُوْرِ يَهُوْدِيٍّ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَمَنْ لَبِسَهُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ رِضًا بِهِمْ وَتَهَاوُنًا بِالدِّيْنِ وَمَيْلًا لِلْكَافِرِيْنَ فَهُوَ كُفْرٌ وَرِدَّةٌ وَالْعِيَاذُ بِاللهِ وَمَنْ لَبِسَهُ اِسْتِخْفَافًا بِهِمْ وَاسْتِحْسَانًا لِلزَّيِّ دُوْنَ دِيْنِ الْكُفْرِ فَهُوَ اَثِمٌ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحَرَّمِ وَاَمَّا مَنْ لَبِسَهُ ضَرُوْرَةً كَأَسِيْرٍ عِنْدَ الْكُفَّارِ وَمُضْطَرٌّ لِلُبْسِ ذَلِكَ فَلَا بَأْسَ بِهِ وَكَمَنْ لَبِسَهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ اَنَّهُ زِيٌّ خَاصٌ بِالْكُفَّارِ وَعَلَامَةٌ عَلَيْهِمْ أَصْلًا لَكِنْ اِذَا عَلِمَ ذَلِكَ وَجَبَ خَلْعُهُ وَتَرْكُهُ وَأَمَّا مَا كَانَ مِنَ الْأَلْبِسَةِ الَّتِى لَا تَخْتَصُّ بِالْكُفَّارِ وَلَيْسَ عَلَامَةًُ عَلَيْهِمْ اَصْلًا بَلْ هُوَ مِنَ الْأَلْبِسَةِ الْعَامَّةِ الْمُشْتَرَكَةِ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَلَا شَيْءَ فِى لُبْسِهِ بَلْ هُوَ حَلَالٌ جَائِزٌ اهـ

Adapun atribut yang dikhususkan bagi kalangan non muslam dan pakaian yang menjadi identitas khusus mereka, seperti memakai topi keagamaan, ikat pinggang  khusus, serta aksesoris kaum Yahudi lainnya. Sehingga barang siapa dari umat muslim yang memakainya atas dasar rela dengan agama mereka, serta memiliki ketergantungan hati kepada non muslim maka ia menjadi kufur dan murtad. Dan barang siapa yang memakainya dengan tujuan meremehkan mereka serta untuk memperindah pakaian, bukan dilihat dari sisi agama non muslim, maka ia telah berbuat kesalahan yang mendekati perilaku haram. Dan barang siapa memakainya dalam keadaan darurat seperti ketika ia menjadi tawanan orang non muslim dan dipaksa untuk memakainya, maka hal itu tidak masalah. Begitu juga (tidak masalah) ketika ia memakai atribut itu dalam keadaan ia tidak mengetahui bahwa aksesoris itu menjadi ciri khas kelompok non muslim. Namun ketika pada suatu saat ia mengetahuinya, maka wajib untuk segera melepas dan meninggalkan aksesorisnya. Adapun pakaian-pakaian yang tidak menjadi ciri khas non muslim serta tidak menjadi identitas khusus mereka, akan tetapi sudah menjadi pakaian masyarakat secara umum antara umat muslim maupun non muslim, maka hukum memakainya diperbolehkan.”[1]

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gambar salib sudah menjadi identitas dan ciri-ciri khusus umat kristiani. Sehingga hukum memakainya adalah haram bahkan bisa murtad apabila ada kerelaan serta mengagungkan agama mereka. Karena sudah merambah ke dalam ranah ciri khas dan identitas khusus peribadatan yang melekat, alasan toleransi tidak dapat dibenarkan dalam persoalan ini.

[] WaAllahu a’lam


[1] Sayyid Alwi al-Maliki al-Hasani, Majmu’ al-Fatawa wa ar-Rasail, hlm. 183.

Hukum Masker dan Kacamata Bagi Ihram Wanita

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya ingin bertanya terkait hukum wanita ihram yang menggunakan masker atau kacamata. Apakah hal tersebut diperbolehkan atau tidak? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Wardah, Serang-Banten)

_____________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wb. Wb.

Menurut keterangan yang disampaikan Kementrian Agama RI, musim haji tahun 2019 ini bersamaan dengan cuaca ektrem di Arab Saudi. Untuk menghadapi cuaca ekstrem tersebut, banyak dijumpai pada jamaah haji Indonesia yang membawa peralatan atau aksesoris tambahan, seperti sandal jepit, kantong plastik, kacamata, bahkan masker.

Untuk sendal jepit tambahan dan kantong plastik tidak ada kaitannya dengan keabsahan ihram. Namun apabila kacamata dan masker ada potensi menutup sebagian wajah yang mana hal tersebut dilarang bagi wanita selama proses Ihram. Sehingga dalam penggunaan kacamata ini, Syekh Abdurrahman Al-Jaziri berkata: .

وَيَجُوْزُ لِلْمَرْأَةِ اَنْ تَسْتُرَ وَجْهَهَا وَيَدَيْهَا وَهِيَ مُحْرِمَةٌ اِذَا قَصَدَتِ السَّتْرَ عَنِ الْأَجَانِبِ بِشَرْطِ اَنْ تُسَدِّلَ عَلَى وَجْهِهَا سَاتِرًا لَا يَمُسُّ وَجْهَهَا عِنْدَالْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ

Diperbolehkan bagi wanita untuk menutupi wajah dan kedua telapak tangannya ketika ia sedang berihram apabila bertujuan untuk menutupi dari pandangan lelaki lain. Dengan syarat penutupnya terurai sehingga tidak menempel secara langsung pada wajah. Ini adalah pendapat ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah.”[1]

Menanggapi kasus penggunaan masker, syekh Muhammad As-Syatiri menjelaskan:

وَيَجُوْزُ لَهَا لُبْسُ النَّظَّارَةِ وَالْاِمَامُ الشّافِعِيًّ شَدَّدَ عَلَيْهَا وَيُلْزِمُهَا بِالْفِدْيَةِ اِذَا سَتَرَتْ وَجْهَهَا خَوْفًا مِنَ الْفِتْنَةِ لَكِنْ يُحْمِلُهَا قَوْلُ الْاِمَامِ اَحْمَدَ بِعَدَمِ الْفِدْيَةِ

Diperbolehkan bagi wanita untuk memakai kacamata. Dan Imam Syafi’i menekankan hal tersebut dan mewajibkan membayar fidyah pada perempuan yang menutup wajahnya karena khawatir adanya fitnah. Namun pendapat Imam Ahmad (pendiri madzhab Hanbali) mengarahkan bahwa tidak ada keharusan membayar fidyah.”[2]  

Kesimpulannya, bagi wanita memakai kacamata hukumnya boleh, sebab tidak melekat secara langsung pada wajah. Adapaun penggunaan masker tidak diperbolehkan kecuali ada kebutuhan (hajat) dan tetap mewajibkan membayar fidyah menurut ulama Syafi’iyyah, sedangkan menurut ulama Hanabilah tidak wajib membayar fidyah. []WaAllahu a’lam


[1] Abdurrahman bin Muhammad Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, vol. I hlm. 583

[2] Al-Habib Muhammad bin Muhammad bin Umar As-Syatiri, Syarh Al-Yaqut An-Nafis, hlm. 340.

Aksesoris Sticker Kaligrafi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Untuk memperindah peralatan yang dipakai sehari-hari, banyak di antara teman-teman yang menambahkan aksesoris, salah satunya ialah aksesoris yang berupa sticker kaligrafi. Ada yang ditempelkan di kaca mobil, cashing handphone, kaca rumah, dan lain sebagainya. Bagaimanakah syariat menanggapi hal tersebut? Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Sholeh – Lamongan.

_____________________

Admin – Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih kepada bapak Sholeh yang kami hormati.

Sebagian besar tulisan kaligrafi yang ada dalam sticker merupakan penggalan ayat al-Qur’an, shalawat, doa, dan lain sebagainya. Yang mana hampir dapat dipastikan dalam tulisan tersebut terdapat kata-kata yang wajib dimuliakan (asma’ mu’addzom). Sehingga dalam penggunaannya diharuskan tetap memegang etika untuk memuliakan tulisan tersebut.

Pemilahan hukum menggunakan asma’ muadzhom itu sesuai dengan keterangan dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah:

كِتَابَةُ الْقُرْآنِ عَلَى الْحَائِطِ: ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَبَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى كَرَاهَةِ نَقْشِ الْحِيطَانِ بِالْقُرْآنِ مَخَافَةَ السُّقُوطِ تَحْتَ أَقْدَامِ النَّاسِ، وَيَرَى الْمَالِكِيَّةُ حُرْمَةَ نَقْشِ الْقُرْآنِ وَاسْمِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الْحِيطَانِ لِتَأْدِيَتِهِ إِلَى الاِمْتِهَانِ. وَذَهَبَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ إِلَى جَوَازِ ذَلِكَ

Pembahasan menulis al-Quran di tembok. Ulama madzhab Syafi’i dan sebagian ulama madzhab Hanafi berpendapat hukum makruh apabila mengukir tembok dengan tulisan al-Qur’an. Karena dikhawatirkan akan jatuh sampai di bawah telapak manusia. Adapun ulama madzhab Maliki berpendapat haram mengukir tulisan al-Qur’an atau lafadz Allah di tembok karena akan berpotensi terlecehkan. Adapun sebagian ulama madzhab Hanafi memperbolehkan hal tersebut.”[1]

Merujuk dari keterangan di atas, pemasangan sticker kaligrafi yang ditempelkan di alat-alat yang sering digunakan setiap hari dapat diperinci sebagai berikut:

Boleh, apabila dipasang pada tempat yang aman dan tidak berpotensi menyebabkan sticker itu dilecehkan. Makruh, apabila dipasang pada tempat yang berpotensi menyebabkan sticker itu dilecehkan. Haram, apabila dipasang di tempat yang jelas-jelas hina dan terlecehkan.[] waAllahu a’lam

____________

[1] Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, XXVI/235.