Tag Archives: Alumni

Kamis legi dan Ijazahan

Lirboyonet,Kedir– Pagi tadi rutinan ngaji kamis legi yang bertepatan pada tanggal (28/09/17) begitu berbeda pasalnya ngaji kamis legi kali ini dilaksankan di Aula Muktamar di area barat Pondok Pesantren Lirboyo, antusias para alumni memenuhi aula muktamar sangatlah tinggi nyatanya aula muktamar pagi tadi penuh, tak hanya itu yang berbeda bahkan alumni dari pondok putri Mubtadi-at bisa mengikuti ngaji kamis legi yang ditempatkan di ruang belakang aula muktamar.

Kamis legi yang biasanya dikaji di Serambi Masjid lirboyo khusus pagi tadi dipindah di aula muktamar, karena beliau KH. Anwar Manshur menghendaki untuk mengadakan istighotsah dan juga ijazahan hizb Nawawi dan Nashor.

KH. A. Habibulloh Zaini memulai ngaji Kamis legi dengan bacaan tahlil tepat pukul 09.00 Wis, meski para alumni masih ada yang belum hadir tetap saja tahlil pagi tadi begitu bergemuruh dan khidmat. Setelah tahlil selesai KH. M. Anwar Manshur memulai ngaji kamis legi dengan membacakan kitab Al-Hikam.

Setelah pembacaan kitab ditutup beliau KH. M. Anwar Manshur melanjutkan dengan pembacaan istighotsah bersama secara singkat dan setelah itu pemberian ijazah hizb Nawawi dan Hizb Nashor dimulai. Dengan awalnya dibacakan oleh KH. M. Anwar Manshur terlebih dahulu kemudian ditirukan oleh para alumni.

Kenapa beliau meng-ijazahkan Hizb Nawawi dan Nashor, karena itu merupakan dua hizb yang dulunya di ijazahkan dari KH. Mahrus Aly kepada KH. M. Anwar Manshur untuk bekal di tengah-tengah masyarakat, yang satu untuk tameng dan yang satu untuk senjata.

Dan seperti di Serambi Masjid Lirboyo ngaji kamis legi diakhiri dengan mushofahah bersama masyayikh.

Instruksi Qunut Nazilah dan Hizib Nashar

Baitul Makdis di masa Nabi Sulaiman as. menjulang megah dengan ketinggian batu altar 12 hasta dan ketinggian kubah 18 mil. Di atasnya dihiasi patung kijang emas dengan gemerlap mutiara merah di antara kedua matanya, sampai-sampai para wanita daerah Balqāʼ saat itu (perjalanan dua hari dari Baitul Makdis) bisa memintal dengan diterangi pantulan mutiara tersebut.[1]

Dan Baitul Makdis, yang lebih sering kita sebut Masjid Al-Aqsha, kini telah kehilangan keindahan pantulan mutiara itu. Alih-alih menjadi tempat ibadah dan ta’lim kaum muslim, Baitul Makdis kini telah dikuasai oleh Pemerintah Israel. Beberapa kasus kontroversial pun terjadi. Puncaknya adalah ketika polisi Israel tidak mengizinkan pria Muslim berusia di bawah 50 tahun untuk masuk ke kompleks Masjidil Aqsha. Mereka berdalih, penutupan ini dipicu oleh tertembaknya dua tentara mereka hingga berbuntut tewasnya tiga orang yang diduga penyerang tersebut.

Tidak berhenti pada penutupan Masjid Al-Aqsha, Israel terus saja menyiksa nurani kita dengan perbuatan-perbuatan mereka yang arogan. Setelah insiden penutupan masjid, berturut-turut mereka membuat warga Palestina menderita. Pada Ahad (16/07), mereka memasang alat-alat pendeteksi logam dan kamera pengawas di seluruh area masjid. Protes dan penolakan warga Palestina tidak membuat kekejaman mereka redam. Bahkan pada Selasa, (18/07) pasukan mereka menembak Syaikh Ikrima Sabri, mantan mufti Jerusalem dan Imam Masjid Al-Aqsha, saat menjadi imam shalat jamaah di pelataran Masjid Al-Aqsha.

Kekejaman yang tak henti-henti harus ditanggapi dengan tidak berdiam diri. Bagi umat muslim, khususnya kaum santri, senjata terampuh yang dimiliki adalah doa. “ad-Du’a shilahul mukmin,” terang Rasulullah suatu ketika. Maka sudah saatnya kaum muslim bersama-sama menengadahkan tangan dan meluapkan doa bagi keselamatan warga Palestina, dan kehancuran orang-orang kafir yang terus saja menyiksa mereka.

Pondok Pesantren Lirboyo menyeru kepada seluruh alumni untuk membaca qunut nazilah dalam shalat, dan mengamalkan Hizib Nashar yang ditujukan untuk kehancuran Zionis Israel.

Bacaan qunut nazilah bisa didownload di link ini.

[1] Mujîr ad-Dîn al-Ḥanbaly, Al-Uns al-Jalîl. Hal. 118-120.

Dawuh Mbah Mun dalam Haflah 1438 H.

Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien 2017 Jumat (05/05) kemarin, dihadiri oleh KH. Maimun Zubair, kiai sepuh pengasuh Ponpes Al-Anwar, Sarang Rembang Jawa Tengah. Beliau hadir untuk memberikan siraman rohani bagi para hadirin. selain juga beliau datang sebagai alumni. Berikut beberapa kutipan maqolah beliau di acara malam hari itu:

 

“Kadang wong Islam iku dirubah gak kroso, kabeh katut opo zamane.”

Terkadang, orang Islam dirubah tidak merasa. Mereka semua terhanyut oleh aliran zaman.

 

“Elek apik seko Allah, sing ngatur yo Allah.”

Semua kebaikan itu datang dari Allah. Yang mengatur semuanya adalah Allah.

 

“Wong sing tawakkal menyang Allah tenan, Allah sing nyukupi.”

Manusia yang tawakkal, berpasrah diri kepada Allah dengan sungguh-sungguh, Allah lah yang nanti akan mencukupi keadaannya.

 

“Wong sing slamet iku wong sing netepi tindakane kanjeng Nabi, lan sohabat-sohabate.”

Manusia yang selamat, adalah mereka yang teguh menjalankan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

 

“Jowo okeh kiaine mergo katah turunane kanjeng Nabi sing ora nasab.”

Di Jawa ada banyak kiai, karena banyak keturunan Nabi saw. yang tidak bernasab.

 

“Allah ndamel kedhidupan wong Islam saben tahun berubah. Jenenge mujadid. Ngurip-ngurip madzhab salaf, tapi jangan sampai bertentangan dengan zaman sekarang.”

Allah merubah kehidupan orang Islam setiap tahunnya. Itulah yang dinamakan mujaddid (pembaruan). Seorang muslim harus menghidupkan madzhab salaf (kuno), tapi jangan sampai bertentangan dengan zaman sekarang.][

Bahtsul Masail HIMASAL: NKRI Sudah Final!

LirboyoNet, Kediri – Seperti yang telah diagendakan sebelumnya, Himpunan Alumni SantriLirboyo (HIMASAL) berencana melaksanakan bahtsul masail khusus bagi alumni Pondok Pesantren Lirboyo pada Rabu-Kamis, 22-23 Maret 2017 M./23-24 Jumadal Akhirah 1438 H. nanti. Pelaksanaan bahtsul masail ini menjadi salah satu agenda Bahtsul Masail Kubro (BMK) Pondok Pesantren Lirboyo, sehingga selain  diikuti oleh para santri dan undangan dari berbagai pesantren, bahtsu ini nantinya juga diharapkan semakin ramai dengan keikutsertaan para alumni.

Redaksi LirboyoNet pada Senin (06/03) lalu menemui Agus HM. Ibrohim A. Hafidz, Rois ‘Am Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo guna mendapatkan informasi terkait bahtsul masail ini.

Apa yang mendasari pelaksanaan bahtsul masail HIMASAL ini?

Mulanya, di dalam agenda HIMASAL, bahtsul masail akan terlaksana setiap lima tahun sekali. Namun, akhir-akhir ini, ada desakan dari para alumni yang merasa bahwa untuk mengakomodir dan memformulasi permasalahan yang aktual, tidaklah cukup dirumuskan lima tahun sekali. Maka kemudian HIMASAL mencoba mewadahi permasalahan alumni ini dengan mengadakan bahtsul masail HIMASAL padaakhir tahunini.

Apa tema besar yang diangkat dalam bahtsul masail kali ini?

Kami mengangkat isu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Tujuannya, memberikan wawasan kebangsaan kepada para alumni.

Kenapa harus NKRI?

Mengenai ini, kami lebih melihat isu-isu terkini yang beredar di sekitar kita. Seperti diketahui, situasi dan kondisi negara saat ini membutuhkan perhatian khusus dari para pemerhati, termasuk dari para alumnus pesantren ini. Bagaimana permasalahan-permasalahan yang ada seperti kecintaan pada negara mulai luntur, dan adanya rongrongan pihak-pihak yang tidak senang dengan keutuhan negara kita. Apalagi, ada yang memanfaatkan unsur-unsur keagamaan untuk mewujudkan keinginan-keinginan buruk itu. Para alumni harus mempunyai rumusan yang pasti dan teguh untuk menghadapi permasalahan ini.

Kami juga melihat fakta bahwa ada beberapa pesantren dan lembaga keagamaan yang mulai mempertanyakan kembali, apakah NKRI benar-benar menjadi harga mati? Kenapa tidak mengkaji ulang konsep yang ditawarkan Islam, seperti khilafah dan semacamnya? Kita akan membahas ini. Seperti yang kita ketahui bersama, kerusuhan dan carut-marut yang terjadi di sebagian Timur-Tengah, seperti perang saudara berawal dari keraguan akan sistem pemerintahan yang telah berjalan. Kemudian, dengan agresif menuntut perubahan drastis. Kasus ini kemudian berkembang pada isu takfiri, yakni mudah mengkafirkan orang lain.

Juga, kita sama memahami apa yang terjadi di dalam media sosial. Perang opini yang saling dilemparkan sangat memprihatinkan.Yang membuat kami lebih prihatin adalah para korban opini itu bukan hanya masyarakat awam, tapi juga santri dan alumni pesantren yang notabene telah mendapat pendidikan cinta kepada negara.

Kenapa isu kebangsaan menjadi se-urgen itu di mata pesantren Lirboyo?

Perlu diketahui bersama, apa yang sedang aktual terjadi di negara ini sangat meresahkan para masyayikh kita. Beliau-beliau menganggap keutuhan dan persatuan negara berada dalam situasi yang genting. Gangguan dan rongrongan terhadap institusi, bahkan konstitusi negara sudah tidak main-main. Para masyayikh tidak ingin apa yang terjadi di Timur-Tengah juga melanda Indonesia. Analisa dari pihak-pihak terpercaya mengatakan gangguan itu sudah menjalar ke berbagai lapisan masyarakat dan politik.

Islam wajib memperhatikan ini semua. Bukan hanya itu, islam juga wajib melindungi negara dari gangguan apapun. Bukan malah mendirikan sistem baru. Apalagi khilafah. Dalam kasus negara kita, tawaran berupa khilafah ini samasekali tidak diizinkan oleh islam. Semua santri, terutama alumni ponpes Lirboyo, wajib mengetahui dan meyakini bahwa apa yang telah dirumuskan pendahulu bangsa adalah keputusan terbaik.

Dengan dijadikannya tema kebangsaan sebagai titik tolak utama dalam bahtsul masail HIMASAL kali ini, apa harapan dari pondok pesantren Lirboyo?

Pertama adalah menyatukan visi-misi. Seluruh alumni harus satu pandangan dalam menghadapi berbagai kasus, terutama kasus ini. Hal ini penting agar lingkungan dan masyarakat tempat para alumni tinggal dapat dikoordinir dengan baik oleh para alumni. Tidak muncul keresahan dan kebingungan yang tidak perlu.

Selanjutnya, para alumni harus kokoh dan teguh memegang prinsip yang telah dirumuskan oleh masyayikh di atas, bahwa apa yang dicanangkan pendahulu bangsa adalah hasil renungan terbaik. Maka harus kita bela dan perjuangkan dengan sekuat tenaga. Adapun dalam menghadapi permasalahan pelik ini, kita harus mengikuti apa yang didawuhkan masyayikh, yakni tetap bil hikmah dan mauidhah hasanah. Dengan prilaku dan komunikasi yang baik.

Terakhir, pesan dari para masyayikh adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dipertahankan seperti layaknya yang dilakukan para kiai dan santri dahulu. Karena dengan negara yang aman, kondusif, visi pesantren berupa ta’lim dan ta’allum (persebaran ilmu pengetahuan) akan dapat berjalan lancar dan nyaman.][

HIMASAL Kediri Istighotsah Bersama Demi Keutuhan Negara

LirboyoNet, Kediri – Ahad pagi (26/02) kemarin, Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) cabang Kediri mengadakan kegiatan istighosah bersama. Mereka laksanakan istighosah itu di Masjid Al-Hasan Mojoroto, yang masih berada di dalam lingkungan Ponpes Lirboyo.

Pelaksanaan istighosah ini berkaitan dengan himbauan dari masyayikh untuk bersama-sama mendoakan bangsa dan Negara, yang bertujuan untuk menunjukkan partisipasi dalam menjaga keutuhan Negara (baca: Instruksi Menggelar Istighotsah).

Hadir dalam acara itu, KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Ponpes Lirboyo, dan segenap dzuriyah. Selain itu, istighosah ini juga dihadiri oleh jajaran aparatur polisi kota Kediri. Juga tak ketinggalan pengurus PCNU Kota Kediri. Sementara, ratusan alumni kota dan kabupaten Kediri memenuhi bagian dalam masjid dan sebagian halaman. Mereka mulai berdatangan sejak pukul 07.00 WIB.

Adapun rangkaian acara istighosah ini selesai menjelang dhuhur, sekitar pukul 11.00 WIB. Banyak harapan dari para peserta dengan adanya kegiatan ini. Salah satunya, kehidupan bermasyarakat semakin harmonis dengan lebih eratnya persatuan antar masyarakat Indonesia, baik sipil maupun aparatur negara.