Tag Archives: annawadir

Kisah Hikmah: Pengampunan di Bulan Rajab

Ada salah satu hadis dari Rasulullah SAW. Beliau pernah bercerita dalam sabdanya:

Sesungguhnya di balik gunung Qaf terdapat sebidang tanah putih. Debu tanahnya hampir menyerupai perak. Luas tanah itu seperti luas dunia tujuh kali, di tempat itu penuh sesak dengan para malaikat. Sehingga andai kata sebuah jarum dijatuhkan ke bawah, niscaya akan terjatuh di atas salah satu dari mereka.

Setiap tangan mereka memegang sebuah bendera. Bendera itu bertuliskan kata:

لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Tiada Tuhan Kecuali Allah. Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.

Di setiap malam jum’at di bulan Rajab, mereka berkumpul di sekeliling gunung itu untuk merendahkan diri kepada Allah, dan memohon keselamatan untuk umat Nabi Muhammad SAW.

Dengan diiringi tangisan dan penuh harapan, mereka berdoa ,“Wahai Tuhan kami, kasihanilah umat Nabi Muhammad SAW. Janganlah Engkau siksa mereka”.

Setelah itu, Allah SWT berfirman, “Wahai para Malaikatku, apa yang kalian kehendaki?

Kami menginginkan Engkau mengampuni dosa umat Nabi Muhammad SAW.” Jawab para malaikat.

Mendengar jawaban itu, Allah SWT berfirman, “Aku telah mengampuni mereka.”

 

 

_______________________

Disarikan dari hikayat ke tujuh puluh, kitab An-Nawadir, karya syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, hlm. 63, cet. Al-Haromain

 

Kisah Hikmah: Antara Ibadah dan Kekayaan

Dikisahkan pada zaman dahulu hiduplah seorang lelaki saleh dari golongan kaum bani Israel. Ia memiliki seorang istri yang salehah.

Di saat yang bersamaan, Allah SWT memberikan wahyu pada seorang Nabi dari golongan bani Israel pada saat itu, “Katakanlah pada lelaki saleh tersebut bahwa aku akan menjadikan separuh dari usianya dalam keadaan kaya dan menjadikan separuh usianya dalam keadaan miskin. Seandainya ia memilih kaya di usia muda, niscaya aku akan menjadikannya miskin di usia tua. Namun seandainya ia memilih miskin di usia muda, niscaya aku akan menjadikannya kaya di usia tua.

Setelah menerima wahyu tersebut, Nabi yang dimaksud segera menyampaikan kabar itu pada lelaki saleh yang dimaksud. Mendapatkan kabar tersebut, lelaki itu menghampiri istrinya untuk menceritakan apa yang baru saja ia terima.

Apa pendapatmu tentang hal ini, wahai istriku?” tanya lelaki tersebut.

Apapun yang terbaik untukmu suamiku”, Jawab sang istri.

Aku berpendapat lebih baik memilih miskin di masa muda. Sehingga aku masih mampu untuk bersabar dan beribadah pada Tuhanku. Dan ketika aku menginjak usia senja, aku memiliki segala hal yang menjadi kebutuhanku, sehingga aku akan mampu melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah dengan tenang”, lelaki tersebut mengemukakan pendapatnya.

Wahai suamiku, ketika kau memilih miskin di usia muda, maka kau akan kesulitan untuk beribadah pada Allah. Karena dalam keadaan itu, kita akan tersibukkan dengan dunia sehingga tak akan memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan bahkan untuk bersedekah sekalipun”, sang istri memberikan masukan.

Benar apa yang kau katakan istriku. Aku akan memilih sesuai pendapatmu”, jawab sang suami.

Selang beberapa saat, Allah SWT kembali memberikan wahyu kepada Nabi dari golongan itu untuk kedua kalinya, “Katakanlah pada lelaki saleh dan istrinya, apabila kalian berdua mendahulukan taat kepadaku dan mengerahkan kemampuan kalian hanya untuk beribadah kepadaku serta meluruskan niat untuk berbuat kebaikan, niscaya akan kujadikan seluruh usia kalian dalam keadaan kaya. Tetaplah taat kepadaku dan bersedekahlah dengan apa yang kalian kehendaki, niscaya kalian akan beruntung di dunia dan akhirat.” []waAllahu a’lam

 

___________________________

Disarikan dari hikayat ke seratus lima belas, kitab An-Nawadir, karya syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, hlm 96, cet. Al-Haromain.

Kisah Hikmah: Doa yang Tak Terkabulkan

Pada suatu hari, nabi Musa AS melihat seorang laki-laki yang memiliki suatu kebutuhan yang mendesak. Demi mendapatkan apa yang dibutuhkan, lantas laki-laki tersebut memohon kepada Allah SWT dengan cara berdoa dan merendahkan diri di hadapan-Nya.

Melihat apa yang dilakukan laki-laki itu, Nabi Musa AS bergumam dalam hatinya, “Wahai Tuhanku, seandainya aku memiliki apa yang dibutuhkan lelaki itu, niscaya aku akan membantunya.

Kemudian Allah SWT memberikan wahyu kepada nabi Musa AS, “Wahai Musa, ketahuilah bahwasanya lelaki itu memiliki seekor kambing. Dan ketika ia berdoa, hanya kambinglah yang ada dalam hatinya. Sementara aku enggan untuk mengabulkan doa seorang hamba yang hatinya tidak mengingat diriku di dalamnya.

Setelah menerima perihal wahyu tersebut, nabi Musa AS memberitahu laki-laki tersebut tentang apa yang baru saja diterimanya.

Merasa dirinya mendapatkan teguran dan peringatan, lelaki itu secara spontan membuang jauh-jauh atas pikiran tentang duniawi yang ada di dalam benaknya. Ia kembali berdoa dengan sungguh-sungguh dan memfokuskan hatinya agar senantiasa mengingat Allah SWT. Tak lama berselang doa itupun terkabulkan. []waAllahu a’lam

 

____________________

Disarikan dari hikayat ke seratus tujuh puluh, kitab An-Nawadir, karya syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, hlm 154, cet. Al-Haromain.

 

 

 

Kemuliaan yang Hanya Dimiliki Sayyidina Ali Ra.

Diceritakan bahwa rumah sayyidina Ali RA, dihuni oleh lima orang, yakni Ali RA, Fatimah RA, Hasan RA, Husain RA, dan Harits RA. Suatu hari, mereka pernah belum makan selama tiga hari. Agar dapat membeli makanan, Fatimah RA memberikan sarung yang dimilikinya kepada Ali RA agar dia menjualnya.

Setelah Ali RA menjual sarung tersebut seharga 6 dirham, lantas ia mensedekahkan seluruh uang hasil penjualannya kapada orang-orang fakir. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu malaikat Jibril AS yang menyamar menjadi seorang laki-laki yang membawa seekor unta.

Wahai Abu Hasan, belilah unta ini”, Jibril AS menawarkan untanya.

Aku tidak memiliki uang untuk membeli unta itu”, jawab Ali RA.

Dengan transaksi Nasi’ah (model transaksi jual beli yang mengakhirkan masa pembayaran)”, lanjut tawaran Jibril RA.

Berapa kau akan menjual untamu?”, tanya Ali RA.

Seratus Dirham”, jawab Jibril AS.

Akhirnya transaksi pun dilakukan. Kini unta tersebut berpindah tangan kepada Ali RA. Tak lama berselang, malaikat Mikail AS datang dengan menyamar sebagai orang Arab.

Apakah engkau akan menjual unta ini, Wahai Abu Hasan?”, tanya Mikail AS.

Iya”, jawab Ali RA singkat.

Berapa engkau akan menjualnya?”, lanjut Mikail AS.

Seratus dirham”, jawab Ali RA.

Aku akan membelinya dan memberikan keuntungan enam puluh dirham bagimu”, Mikail AS mengemukakan kesepakatannya.

Ali RA pun menjual unta tersebut kepada Mikail AS. Mikail AS menyerahkan uang 160 dirham sebagai harganya. Kemudian Ali RA berjalan menemui penjual yang menjual unta kepadanya, yakni Jibril AS.

Kau benar-benar telah menjual untanya, Abu Hasan?”, tanya Jibril AS.

Iya”, jawabnya singkat.

Kalau begitu, berikanlah hakku”, pinta Jibril AS.

Lantas, Ali Ra memberikan 100 dirham yang menjadi tanggungannya kepada sang penjual. Kini, ia memegang sisa 60 dirham yang akan dibawanya pulang. Sampai di rumah, ia memberikan uang tersebut kepada sang istri, Fatimah RA.

Dari manakah engkau mendapatkan uang ini?”, tanya Fatimah RA.

Baru saja saya berdagang atas bantuan Allah dengan modal enam dirham. Setiap satu dirham, Allah melipatgandakan menjadi sepuluh dirham”, jawab Ali RA.

Kemudian Ali RA datang menemui Rasulullah Saw dan menceritakan seluruh kejadian yang baru dialaminya tersebut. Mendengar cerita tersebut, Rasulullah Saw berkata kepadanya.

Wahai Ali, sesungguhnya yang menjual unta kepadamu adalah malaikat Jibril AS. Dan yang membelinya darimu adalah malaikat Mikail AS. Adapun unta tersebut adalah tunggangan Fatimah di hari kiamat kelak. Wahai Ali, engkau dianugerahi tiga perkara yang tidak pernah diberikan kepada selain dirimu, yakni memiliki istri yang kelak menjadi ratu bidadari di surga, memiliki dua orang putra yang kelak menjadi pimpinan pemuda surga, dan mertua yang menjadi pimpinan para Rasul. Bersyukurlah pada Allah atas apa yang telah diberikan kepadamu. Dan pujilah Dia atas apa yang telah dikuasakan kepadamu”.

[]waAllahu a’lam

______

Disarikan dari hikayat ke tiga puluh delapan, kitab An-Nawadir, karya syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, hlm 42-43, cet. Al-Haromain.

Memenuhi Hak Ibadah

Ibadah merupakan puncak penghambaan seseorang kepada Tuhannya. Dalam beribadah, keikhlasan kebersihan hati dari hal-hal yang berbau duniawi menjadi hal yang paling penting di dalamnya. Sebagaimana sebuah kisah yang diceritakan oleh Imam Al-Qulyubi dalam kitabnya, An-Nawadir:

حُكِيَ :اَنَّ عَابِدًا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ , فَلَمَّا وَصَلَ اِلَى قَوْلِهِ ” اِيَّاكَ نَعْبُدُ ” خَطَرَ بِبَالِهِ اَنَّهُ عَابِدٌ حَقِيْقَةً , فَنُوْدِيَ فِي سِرِّهِ كَذَبْتَ اِنَّمَا تَعْبُدُ الْخَلْقَ فَتَابَ وَاعْتَزَلَ عَنِ النَّاسِ , ثُمَّ شَرَعَ فِي الصَّلَاةِ , فَلَمَّا انْتَهَى اِلَى ” اِيَّاكَ نَعْبُدُ ” نُوْدِيَ كَذَبْتَ اِنَّمَا تَعْبُدُ زَوْجَتَكَ فَطَلَّقَ امْرَاَتَهُ , ثُمَّ شَرَعَ فِي الصَّلَاةِ , فَلَمَّا انْتَهَى اِلَى ” اِيَّاكَ نَعْبُدُ ” نُوْدِيَ كَذَبْتَ اِنَّمَا تَعْبُدُ مَالَكَ فَتَصَدَّقَ بِجَمِيْعِهِ , ثُمَّ شَرَعَ فِي الصَّلَاةِ , فَلَمَّا وَصَلَ اِلَى ” اِيَّاكَ نَعْبُدُ ” نُوْدِيَ كَذَبْتَ اِنَّمَا تَعْبُدُ ثِيَابَكَ فَتَصَدَّقَ بِهَا اِلَّا مَالَا بُدَّ مِنْهُ , ثُمَّ شَرَعَ فِي الصَّلَاةِ , فَلَمَّا وَصَلَ اِلَى ” اِيَّاكَ نَعْبُدُ ” نُوْدِيَ اَنْ صَدَقْتَ فَاَنْتَ مِنَ الْعَابِدِيْنَ حَقِيْقَةً

Diceritakan, ada seorang ahli ibadah yang sedang melaksanakan shalat. Ketika ia membaca Fatihah dan sampai pada kalimat “Iyyaaka Na’budu”, tiba-tiba tersirat dalam benaknya bahwa sesungguhnya dia adalah seorang hamba Allah yang sejati.

Setelah itu kemudian dia mendengar sebuah suara, “Kamu berbohong, karena sesungguhnya kamu masih mempertuhankan makhluk.” Maka dia pun bertaubat dan melakukan uzlah (menjauh dari keramaian manusia).

Kemudian dia melaksanakan shalat lagi. Ketika selesai membaca kalimat “Iyyaaka Na’budu”, dia mendengar sebuah suara yang berkata, “Kamu berbohong, sesungguhnya kamu masih takluk kepada istrimu.”. Maka dia pun menceraikan istrinya.

Saat dia melakukan shalat lagi dan telah selesai membaca “Iyyaaka Na’budu”, kemudian ia mendengar sebuah suara untuk yang ke sekian kalinya, “Kamu berbohong, sesungguhnya kamu masih memberatkan harta bendamu.”. Maka dia pun mensedekahkan seluruh harta bendanya.

Kemudian dia melaksanakan shalat lagi. Ketika telah selesai membaca kalimat “Iyyaaka Na’budu”, dia mendengar sebuah suara yang sama yang berkata, “Kamu berbohong, sesungguhnya kamu masih menyukai pakaianmu.”. Dia pun mensedekahkan seluruh pakaiannya, kecuali hanya sepotong pakaian yang digunakannya.

Akhirnya dia melaksanakan shalat lagi dan ketika telah selesai membaca kalimat “Iyyaaka Na’budu”, mendengar suara yang terakhir, “Sekarang kamu benar, dan kamu benar-benar telah menjadi seorang hamba yang sejati.”. waAllahu a’lam[]