Tag Archives: ASWAJA

Pembekalan Wajib Khidmah

LirboyoNet, Kediri—Dalam rangka mempersiapkan program wajib khidmah bagi mahasantri semester akhir Ma’had Aly Lirboyo, Pondok Pesantren Lirboyo bekerjasama  dengan Lembaga Itihadul Mubalighin (LIM) Lirboyo mengadakan acara pengukuhan & pembekalan wajib khidmah (23/3) kepada para mahasantri jenjang akhir Ma’had Aly Lirboyo. Acara ini merupakan kegiatan tahunan yang rutin dilaksanakan menjelang akhir semester 7.

Acara yang bertempat di Aula Muktamar ini turut dihadiri pula para pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, MHM & LIM Lirboyo. Acara diawali dengan pembekalan oleh Pimpinan Madrasah Hidayatul Mutadiin sekaligus Ma’had Aly Lirboyo Agus H. M Dahlan Ridlwan.

“Masa khidmah yang cuma 1 atau 2 tahun ini hanya masa uji coba kalian (santri) dalam berkhidmah, artinya dalam satu dua tahun ini adalah masa uji coba sejauh mana yang bisa kalian lakukan setelah sekian tahun belajar di pondok pesantren. Dan khidmah yang sesungguhnya adalah ketika kalian kembali ke masyarakat”. Tutur beliau.

Lebih lanjut beliau mengatakan, “mengawali pembekalan dalam berkhidmah yang perlu kalian persiapkan adalah dengan menguatkan mental, semangat juang, menata hati dan niat, dalam rangka menghadapi khidmah ditengah masyarakat. Caranya adalah dengan menanamkan dalam hati kita pentingnya amanah berkhidmah kepada masyayikh dan ilmu yang telah kita pelajari dipondok pesantren. Dan khidmah adalah bagian yang sangat penting bagi seseorang yang mempelajari ilmu”.

Pembekalan selanjutnya oleh pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo sekaligus pimpinan LIM Lirboyo Agus Abdul Qodir Ridlwan. Dalam kesempatan ini beliau lebih tepatnya menyampaikan teknis dan aturan dalam program wajib khidmah. Dan acara inipun diakhiri dengan do’a penutup oleh Agus H. M Dahlan Ridlwan.

Puasa di Bulan Rajab

Rajab adalah salah satu dari bulan-bulan yang dimuliakan (Al-Asyhur Al-Ḥurum). Di bulan ini, Allah Swt. akan melipatgandakan pahala amal kebaikan hamba-hamba-Nya. Di antara amal yang sering kali diyakini sebagai ibadah khusus pada bulan ini adalah amalan puasa Rajab. Sebagian orang mengatakan bahwa pada bulan ini tidak ada anjuran amalan khusus untuk berpuasa. Hadis-hadisnya pun kebanyakan dinilai ḍa’īf (lemah) dan bahkan mauḍū’ (palsu). Benarkah demikian?

Allah Swt. berfirman:

 إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya (ada) empat bulan haram (dimuliakan). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Dalam menjelaskan larangan melakukan kezaliman (menganiaya) dalam ayat di atas, Al-Qurtubi menulis dalam tafsirnya:

فيضاعف فيه العقاب بالعمل السيء، كما يضاعف الثواب بالعمل الصالح

“Maka, siksaan (dosa) atas perbuatan buruk di bulan mulia tersebut akan dilipatgandakan, seperti halnya ganjaran (pahala) atas perbuatan baik juga dilipatgandakan.”

Ulama sepakat bahwa empat bulan yang dimaksud pada ayat di atas adalah bulan Muharam, Dzulqa’dah, Dzulhijah dan Rajab. Dari sini saja, kita sudah bisa memahami, berpuasa di bulan-bulan ini memiliki nilai lebih dari pada berpuasa di bulan lainnya. Kepahaman ini ditegaskan oleh Syaikh Zainudin Al-Malibari dalam Fatḥul-Mu’īn:

أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم وأفضلها المحرم،  ثم رجب ثم الحجة ثم القعدة

“Bulan yang paling afdal untuk berpuasa setelah bulan Ramadan adalah Al-Asyhur al-Ḥurum. Dan, yang afdal dari keempatnya adalah bulan Muharam, Rajab, Dzulhijah, kemudian Dzulqa’dah.”

Ibn Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatāwā Al-Kubrā secara tegas menyatakan bahwa cukuplah kiranya dalil-dalil kesunahan puasa, baik dalil mutlak atau dalil khusus pada Al-Asyhur Al-Ḥurum, menjadi dalil untuk memperbanyak ibadah puasa di bulan Rajab. Dalil umum yang dimaksud Ibn Hajar adalah seperti hadis sahih riwayat Imam Al-Bukhari dan lainnya yang berbunyi:

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ المِسْكِ

“Sungguh, bau mulutnya orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah Swt. dari pada wangi minyak misik.”

Sedangkan dalil khusus Al-Asyhur al-Ḥurum salah satunya adalah hadis riwayat Abu Dawud yang bermula dari kedatangan Al-Bahili, seorang laki-laki yang sangat kurus karena berpuasa setiap hari sepanjang tahun. Rasulullah saw. menegurnya seraya bersabda: “Kenapa kau menyiksa dirimu? Berpuasalah di bulan Ramadan dan satu hari dalam setiap bulan.” Al-Bahili menjawab, “Tambahkanlah (puasa) untukku, sungguh aku masih memiliki kekuatan.” Rasulullah saw. menyarankan, “Berpuasalah dua hari.”

“Tambahkanlah (lagi) untukku.” Al-Bahili meminta lagi. “Berpuasalah tiga hari,” Rasulullah menambahkan.

Al-Bahili sedikit memaksa, “Tambahkanlah untukku.” Pada akhirnya Rasulullah saw. bersabda, “Berpuasalah dari/pada bulan haram dan kemudian tinggalkanlah puasa.” Kalimat ini diulangi hingga tiga kali oleh beliau seraya memberi isyarat dengan tiga jarinya.

Masih dalam kitab yang sama, Ibn Hajar al-Haitami berkata:

قال العلماء وإنما أمره بالترك لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث فأما من لا يشق عليه فصوم جميعها فضيلة

“Para ulama berpendapat, Nabi melarang Al-Bahili berpuasa setiap hari karena Al-Bahili mendapatkan masyaqqah (kesulitan) dengan banyak berpuasa, sebagaimana bisa dipahami dari permulaan hadis ini. Adapun bagi orang yang tidak mendapatkan kesulitan, maka berpuasa sepanjang tahun baginya adalah amal keutamaan.”

Sebagai penutup, Ibn Hajar menyampaikan kalimat yang sangat tegas untuk menolak terhadap orang-orang yang menentang kesunahan puasa Rajab.

نعم روي في فضل صومه أحاديث كثيرة موضوعة، وأئمتنا وغيرهم لم يعولوا في ندب صومه عليها حاشاهم من ذلك وإنما عولوا على ما قدمته وغيره

“Memang benar banyak diriwayatkan hadis maudū’ mengenai keutamaan puasa rajab, tetapi para imam kita dalam menetapkan kesunahannya tidak berdasarkan pada hadis-hadis tersebut. Beliau-beliau hanya berlandaskan pada hadis-hadis sahih yang di antaranya telah saya sampaikan.”

Kembali ke hadis Al-Bahili di atas, terkait isyarat tiga jari Rasulullah saw., Syekh Syaraful Haq dalam kitab ’Aunul-Ma’būd menjelaskan:

وأشار بالأصابع الثلاثة إلى أنه لا يزيد على الثلاث المتواليات وبعد الثلاث يترك يومًا أو يومين والأقرب أن الإشارة لإفادة أنه يصوم ثلاثًا ويترك ثلاثًا والله أعلم قاله السندي

“Dengan tiga jarinya Rasulullah saw. memberi isyarat bahwa berpuasa berturut-turut dianjurkan tidak melebihi tiga hari, selanjutnya tidak berpuasa selama satu atau dua hari. Namun, kepahaman yang lebih dekat dari isyarat ini, yang dianjurkan adalah berpuasa tiga hari kemudian tidak berpuasa tiga hari. Wallahu A’lam. Demikianlah yang disampaikan oleh As-Sanadi.”

Akhiran, dari beberapa dalil sahih yang telah dipaparkan di atas, memang tidak ada ketentuana atau tata cara khusus terkait berpuasa di bulan Rajab, sebagaimana ketentuan yang ada pada beberapa bulan istimewa lainnya (Syawal; enam hari, Dzulhijah; tanggal 9, Muharam; tanggal 10, dsb.). Kendati demikian, berpuasa sunah (baik sunah mutlak, berpuasa tiga hari sebagaimana isyarat jari Rasulullah saw., ataupun sunah khusus semacam puasa Senin-Kamis) di bulan ini memiliki nilai pahala yang lebih utama dari pada bulan-bulan biasa.

Penulis: M. Abdul Rozzaaq, Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Semester VIII. Mengabdi di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat.

kontak twitter @mad_rojak

Motivasi Khidmah & Penguatan ASWAJA

LirboyoNet, Kediri—Seperti yang kita ketahui bersama bahwa berkhidmah adalah cara ulama kita terdahulu mengabdi kepada guru, mengabdi kepada ilmu. Banyak metode yang ulama-ulama kita terapkan dalam berkhidmah kepada guru, diantaranya dengan mengajarkan al-Qur’an, mengadakan pengajian kitab kuning, dan masih banyak lagi. Maka nilai-nilai inilah yang semestinya diterapkan di pesantren-pesantren sebagai bentuk upaya kita berkhidmah kepada kyai.

Maka dalam rangka melestarikan tradisi ulama-ulama kita terdahulu, Pondok Pesantren Lirboyo melalui MHM, Ma’had Aly Lirboyo, dan LIM Lirboyo melakukan program wajib khidmah bagi santri-santri yang hendak menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren.

Malam selasa kemarin (19/2/2019) MHM bekerjasama dengan LIM mengadakan acara seminar “Motivasi khidmah dan penguatan ASWAJA” untuk Mahasantri Ma’had Aly Semester 5-6 dengan mendatangkan KH. M Azizi Hasbulloh sebagai pembicara. Dalam seminar kali ini pembahasan yang diangkat adalah penguatan ASWAJA, sebagai bekal agar lebih percaya diri dalam berkhidmah kepada masyarakat kelak.

Dalam pembahasan yang begitu panjang terkait khidmah, beliau mencoba mengenalkan kepada para santri yakni konsep mutaba’ah. “Dalam berkhidmah yang paling pokok adalah mengikuti kyai, mengikuti masyayikh. Dan yang harus kalian pegang dalam hati ialah, ‘saya melakukan semua ini hanya karena taat kepada kyai” tutur beliau. Lebih lanjut beliau mencontoh ketika Nabi Musa AS ketika hendak belajar kepada Nabi Khidir AS:

 هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا

“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66–67)

Karena mengikuti ulama dengan tujuan khidmah kepada masyayikh sama halnya meneruskan perjuangan masyayikh dalam menyampaikan ilmu kepada masyarakat. Tutur KH. M Azizi Hasbulloh.

Kuliah Umum Fikih Kebangsaan Ma’had Aly Lirboyo

LirboyoNet, Kediri- Sejak awal mula berdirinya, para kiai Nahdlatul Ulama dan pesantren memiliki ijtihad kreatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka berhasil mencerminkan penyelarasan ide-ide keislaman dan kebangsaan secara ideal. Wawasan kebangsaan dalam sudut pandang fikih Islam menjadi sebuah kekuatan dan payung hukum syariat bagi warga NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melihat realita demikian, Ma’had Aly Lirboyo yang berkonsentrasi (Takhassus) dalam bidang Fikih Kebangsaan terpanggil untuk mengkaji dan mengembangkan ijtihad kreatif para ulama Nusantara tersebut. Salah satunya dengan mengadakan kuliah umum Fikih Kebangsaan sebagai agenda wajib bagi seluruh Mahasantri semester 4 di setiap tahun ajarannya.

Kuliah umum yang bertemakan “Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan” tersebut dilaksanakan pada Sabtu kemarin (19/01) di auditorium Al-Muktamar, Ponpes Lirboyo. Acara yang diikuti oleh sekitar 600 mahasantri semester 4 tersebut menghadirkan KH. M. Azizi Hasbulloh—salah satu Tim Ahli Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU—sebagai pembicara.

Dalam kesempatan itu, KH. M. Azizi Hasbulloh memberikan uraian metodologi kerangka analisis adanya fikih kebangsaan. Dari kerangka tersebut kemudian diimplementasikan dalam berbagai wawasan kebangsaan. Dan pada akhirnya akan merumuskan konsep fikih kebangsaan sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama Nahdlatul Ulama dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Rasulullah SAW. rela menghapus tulisan gelar Utusan Allah dalam perjanjian Hudaibiyah demi menjaga persatuan dan perdamaian.” ungkap Kiai Azizi.

Dalam kuliah umum yang beliau sampaikan, beliau lebih menekankan dalam konsep dakwah dan amar makruf nahi munkar untuk konteks ke-Indonesia-an yang akhir-akhir ini sering disalahpahami oleh sebagian kelompok islam garis keras.

Pada hakekatnya, ketika tidak dilakukan secara benar, amar makruf nahi munkar sendiri telah memiliki empat kemunkaran. Pertama, merasa paling benar. Kedua, meremehkan orang lain. Ketiga, menyakiti orang lain. Keempat, membuka aib orang lain, lebih-lebih dilakukan secara terbuka dan di muka asyarakat umum.” pungkas kiai Azizi dalam pemaparannya. []

Kunjungan Ruhul Islam Anak Bangsa, Aceh

LirboyoNet, Kediri—Mengawali tahun 2019 minggu siang (6/1/2019) Pondok Pesantren Lirboyo kedatangan kunjungan silaturahmi sekaligus studi banding dari yayasan Ruhul Islam Anak Bangsa, Aceh. Kedatangan rombongan dari Aceh pun disambut dengan hangat oleh pimpinan pondok dan pimpinan madrasah dengan ditemani Agus H. Adibussoleh Anwar di Kantor Muktamar.

Dalam kunjungannya ke Jawa Timur, rombongan yang dibawa pun tidak banyak  hanya pimpinan Yayasan RAIB yang jumlahnya 5 orang yakni H. Khairul Azhar S.Ag (Sekretaris Yayasan RAIB), Prof. DR. H. Syarizal Abbas MA (Ketua Komite Madrasah RAIB), DR. H. Hasan Yakub M.Pd (Pengawas Yayasan RAIB), Tgk. Suryadi S.Ag (Direktur), dan Kusandi MA (Wakil Direktur Bidang Akademik).

Diawali dengan sambutan Agus H. Adibussoleh Anwar, dalam sambutannya beliau menyampaikan terkait penerapan kegiatan pondok pesantren Lirboyo, dari mulai sistem belajar, menejemen pondok pesantren, dan kegiatan ekstrakurikuler yang ada di pondok pesantren Lirboyo. Begitupun disiplin-disiplin yang diajarkan pondok pesantren antaranya kemandirian, pendidikan moral, dsb.

Sambutan selanjutnya atasnama pimpinan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien dan lembaga Ma ’had Aly Lirboyo Bapak Imam Rosihin. Dalam kesempatannya beliau sedikit banyak menyampaikan hal-hal yang menjadi fokus di Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien yakni pendidikan pesantren salaf (kitab kuning). Terlepas dari pada itu, salah satu metode yang ditekankan di Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien ialah hafalan, dan musyawaroh (diskusi). Pertemuan yang berlangsung siang itu tidak lama, semoga apa yang menjadi tujuan bisa bermanfaat.