Tag Archives: bahagia

Nasihat Sahabat Abdullah bin ‘Amr

Sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Ash ra. Pernah menuturkan, bahwa sesiapa yang dalam dirinya terkumpul lima amalan ini, maka niscaya ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pertama, ia senantiasa mengisi waktu-waktunya dengan berzikir: لا اله الا الله محمد رسول الله.

Berdzikir merupakan salah satu diantara ibadah yang ringan untuk dilakukan. Bukan saja karena hanya dengan lisan atau hati belaka, melainkan karena dengan mudah kita bisa merangkapnya bersama berbagai kegiatan lainnya semisal: menyapu, berkendara, memasak, atau pun pekerjaan-pekerjaan lainnya yang sehari-hari kita lakukan.

Rasulullah saw. bersabda:

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ عز وجل عَلَى كُلِّ حَالٍ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَمَلٌ أَحَبُّ إِلَى اللهِ وَ لَا أَنْجَى لِعَبْدٍ مِنْ ُكلِّ سَيِّئَةٍ فِي الدُّنْيَا وَ الْأَخِرَةِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ

Artinya: “Perbanyaklah berdzikir kepada Allah yang maha luhur lagi agung dalam berbagai keadaan. Karena tidak ada perbuatan yang lebih dicintai Allah dan lebih menyelamatkan seorang hamba dari keburukan dunia dan akhirat melebihi berdzikir kepada Allah” (HR. Ibnu Sorsori).

Kedua, tatkala mendapat cobaan ia berkata: لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم  إن لله وإن إليه راجعون

Yang artinya adalah, segala sesuatu sungguh dari dan kembali pada Allah semata dan tidak ada daya upaya melainkan hanya dengan pertolongan Allah yang maha Luhur lagi Agung.

Dengan mengucapkan ini, disaat kesulitan melanda kita, setidaknya kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak pernah lepas dari garis yang telah ditentukan oleh Allah. Sehingga akan semakin menambah rasa kepasrahan kita kepada Allah swt. dan terhindar dari rasa putus asa.

Ketiga, tatkala ia diberi nikmat ia berucap: الحمد لله ربّ العالمين sebagai tanda syukurnya,

Dengan mengucap hamdalah kita sekaligus menginsyafi bahwa segala nikmat adalah anugerah dari dan milik Allah Ta’ala, sehingga diharapakan kita semakin menjauhi kesombongan dan kelalaian oleh sebab nikmat tadi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”(QS. Ibrahim: 7)

Keempat, tatkala memulai sesuatu senantiasa mengucapkan: بسم الله الرحمن الرحيم

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh baginda Nabi saw.:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر

Artinya: “Setiap perkara yang memiliki nilai baik namun tidak diawali dengan bismillah, maka akan kurang (kemanfaatannya)

Demikian hal ringan ini semoga bisa kita biasakan agar hal-hal yang kita lakukan menuai manfaat yang maksimal.

Kelima, tatkala ia melakukan sebuah dosa, ia berucap:  أستغفر الله العظيم وأتوب اليه

Nabi saw bersabda:

أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى دَائِكُمْ وَدَوَائِكُمْ  أَلا إِنَّ دَاءَكُمُ الذُّنُوبُ  وَدَوَاؤُكُمُ الاسْتِغْفَارُ

 Artinya: “Tidakkah kalian mau aku tunjukkan penyakit kalian sekalian beserta obatnya? Ketahuilah sungguh penyakit itu adalah dosa sdang obatnya adalah beristighfar” (HR. ad-Dailami)

Sebagai manusia yang tidak luput dari dosa, hendaknya kita selalu mengiringinya dengan istigfar kepada Allah swt. Bahkan baginda nabi yang terjaga dari dosa pun setiap harinya tidak kurang seratus kali bertaubat atau beristighfar kepada Allah swt.

 

Alangkah indah jika kita sekalian dapat dengan istiqomah mengamalkan sekaligus meresapi lima hal ringan yang dituturkan oleh sahabat Abdullah bin ‘Amr tadi. Semoga.(IM)

Disarikan dar kitab Nasoihul Ibad, Imam Ahmad bin Hajar al-Asqolani, bab al-khumasi.

Kemana Kita Harus Pergi?

Tentunya pergi ke ruang kebahagiaan. Hal yang satu ini memang kerap diperbincangkan oleh khalayak dari semua tingkatan berbagai golongan mulai yang bersifat mulia hingga pengobral dosa. Kiranya perbincangan terkait kebahagiaan tidak berlebihan jika melihat naluri insani. ‘Bahagia itu sederhana’ ungkapan itu deras mengguyur beberapa kalangan akhir-akhir ini sederas perkembangan teknologi hari ini. Kiranya ungkapan sederhana tidak sesederhana ditafsiri dengan arti yang sederhana. Secara garis besar, kebahagiaan memiliki beberapa faktor yang berperan penting terhadap dan dalam kemunculannya. Faktor -faktor itu erat kaitannya dengan pengetahuan, pengalaman dan lingkungan yang berperan membangun pola pikir(mindset).

Tidak sedikit para motivator yang menyebarkan ide-ide menghadapi problematika hidup  yang tertuang dalam karya-karya yang jumlahnya tidak sedikit pula. Siapa dari sekian banyak cendekia yang telah berhasil dalam hidup sesuai teori hidupnya? Benarkah para motivator telah hidup dalam ruang yang syarat kebahagiaan?. Mungkin ini yang perlu kelanjutan dalam pengkajian cermat dan serius.

Ihya’ Ulumiddin, sebuah buku yang disusun oleh al-Allamah Hujjatul Islam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali atThusi yang sufi itu, telah diperhitungkan dalam kancah percaturan intelektual dunia. Banyak dari mereka yang dalam karyanya mengutip karya al-Ghazali mulai dari teologi, sosiologi dan kajian khusus lainnya yang hanya membidik misi keagamaan dan beberapa tema lain.

Nrimo ing pandum”, ungkapan yang para pengkaji karya al-Ghazali lebih akrab dengan istilah Qona’ah ini telah berlalu-lalang dalam keseharian beberapa kalangan khususnya mereka yang bersentuhan dengan nuansa jawa. Selain Qona’ah, mereka akan sering menemui kata Syukur dalam ekspedisi penelusuran beberapa halaman di lembar lembar karya al-Ghazali.

Dalam  hal ini, salah satu ulama menyatakan  bahwa Syukur  memiliki keterkaitan antara tiga komponen dasar berupa pengetahuan, kondisi dan realisasi (alAmal). Ketiga hal tersebut bersifat kronologis mulai dari pengetahuan seseorang terhadap nikmat yang bersumber dari yang menjadikan dan memberi nikmat. Hal ini berkelanjutan pada kebahagiaan (alFarh) seseorang disebabkan kenikmatan yang diberikan kepadanya. Dua komponen itu akan menimbulkan reaksi upaya merealisasikan Syukur.

“والعمل هو القيام بما هو مقصود المنعم ومحبوبه”

Dalam konteks ini, alAmal diartikan dengan melaksanakan atau mengolah suatu  nikmat sesuai tujuan Tuhan yang maha memberi dan kekasih-Nya. Sederhananya, jika ada orang diberi pakaian dengan harga yang fantastis, maka sudah seharusnya orang tersebut memakainya sesuai tujuan pemberinya yaitu menutup anggota tubuh. Kiranya bagaimana reaksi pemberi jika orang yang diberi pakaian menjadikannya sebagai keset yang akan terus di injak setiap kaki yang berdiri di atasnya seraya acuh terhadap tujuan yang memberi?

Dalam menyikapi hal ini, semua nalar normal akan sepakat terkait perasaan yang memberi dan etika yang diberi. Secara garis besar alAmal erat kaitannya dengan hati, anggota tubuh dan lisan sebagai perwujudan interaksi terhadap Tuhan, sesama dan diri sendiri. Pentingnya pengetahuan dalam berislam sesuai undang-undang akan berpengaruh terhadap kesadaran Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin yang akan dirasakan dalam dunia nyata yang tidak hanya bias-bias cahaya pada air yang sebentar lagi akan menguap begitu saja.

“وبالله المستعان وعليه التكلان”

Wallahu A’lam

Penulis: M. Ibnu Najib, santri Ma’had Aly PP. Lirboyo semester VII asal Magelang