Tag Archives: Bidah

Kapoknya Penuduh Bid’ah Maulid Nabi

Sayyid Alawi Al-Maliki menceritakan bahwasanya ayah beliau, Sayyid Abbas Al-Maliki, pernah berada di Baitul Maqdis untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi pada malam ‘Ied Milad An-Nabawi. Dibacakanlah Maulid Al-Baryzanji di sana.

Saat itu, Sayyid Abbas melihat seorang pria tua beruban yang berdiri dengan khidmat penuh adab mulai dari awal sampai acara selesai. Ia heran. Lalu bertanya padanya mengapa berdiri sedemikian lama sementara usianya sudah tua.

Lelaki tua itu bercerita bahwa dulu ia tidak mau berdiri pada acara peringatan Maulid Nabi. Ia berkeyakinan bahwa perbuatan itu adalah bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang buruk).

Suatu malam ia bermimpi dalam tidurnya. Dia bersama sekelompok orang yang bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi Muhammad Saw. Saat cahaya wajah Nabi Muhammad laksana bulan purnama itu muncul, sekelompok orang itu bangkit dengan berdiri menyambut kehadiran Rasulullah Saw.

Namun tak disangka, ia tiba-tiba tidak mampu bangkit. Lumpuh. Hanya dia. Rasullullah Saw. lalu bersabda kepadanya, “Kamu tidak akan bisa berdiri.” Ia kemudian bangun dari tidurnya. Betapa sedihnya dia,  ternyata ia bangun tidur dalam keadaan duduk dan lumpuh, tak mampu berdiri. Berbulan-bulan ia menderita.

Kemudian ia bernazar jika Allah menyembuhkan sakitnya ini, ia akan berdiri mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan. Ajaibnya, tak berapa lama kemudian Allah menyembuhkannya. Maka ia pun selalu berdiri mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan untuk memenuhi nazarnya karena mengagungkan Rasulullah Saw.

Sumber: Kitab Al-Hadyut taamm fii Mawaaridil Maulidinnabawiyyi Wa Maa I’tiida Fiihi Minal Qiyaam karya Sayyid Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki Al-Makki (1287 H – 1367 H).

Penulis: M. Tholhah al-Fayyad, mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo.

Salat ‘Rebo Wekasan’ dalam Tinjauan Fikih

Salat ‘Rebo Wekasan’ tidaklah asing di telinga kita. Terutama kita yang berasal dari masyarakat budaya Jawa. ‘Rebo Wekasan’ sendiri merupakan istilah dari hari Rabu terakhir pada bulan Shafar. Dalam banyak keterangan, hari ini hari di mana Allah swt. menurunkan segala bala` (cobaan) dan marabahaya ke dunia. Bala` yang turun ini terlebih dahulu difilter oleh seorang Wali Quthb (wali tertinggi) dan barulah kemudian menimpa umat manusia.

Imam al-Dairabi berkata :

ذَكَرَ بَعْضُ الْعَارِفِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْكَشْفِ وَالتَّمْكِيْنِ أَنَّهُ يَنْزِلُ فِي كُلِّ سَنَةٍ ثَلَاثُ مِئَةِ أَلْفِ بَلِيَّةٍ وَعِشْرُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ وَكُلُّ ذَلِكَ فِيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِيْرِ مِنْ صَفَرَ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبَ أَيَّامِ السَّنَةِ

Sebagian ulama Arifin dari Ahli Kasyf menuturkan bahwa pada setiap tahunnya diturunkan 320 ribu bala’ (cobaan). Yaitu terjadi pada hari Rabu terakhir dari bulan Shafar. Pada waktu itu merupakan hari terberat dari sekian banyak di hari dalam satu tahun.”

Di tempat lain Al-Syaikh Al-Buni mengatakan :

اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَزِّلُ بَلَاءً فِي آخِرِ أَرْبِعَاءَ مِنْ صَفَرَ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْاَرْضِ فَيَأْخُذُهُ الْمُوَكَّلُ بِهِ وَيُسَلِّمُهُ اِلَى قُطْبِ الْغَوْثِ فَيُفَرِّقُهُ عَلىَ الْعَالَمِ فَمَا حَصَلَ مِنْ مَوْتٍ اَوْ بَلَاءٍ اَوْ هَمٍّ اِلَّا وَيَكُوْنُ مِنَ الْبَلَاءِ الَّذِيْ يُفَرِّقُهُ الْقُطْبُ

Sesungguhnya Allah menurunkan bala’ di hari Rabu terakhir dari bulan Shafar di antara langit dan bumi. Kemudian bala’ tersebut diterima oleh malaikat yang bertugas dan diserahkan kepada wali Quthb al-Ghauts lalu disebar ke seluruh penduduk alam semesta. Segala bentuk kematian, bala’ atau kesusahan tidak lain adalah berasal dari bala’ yang disebarkan oleh sang wali quthb tersebut.”

Untuk menghadapi hari yang begitu berat ini banyak ulama yang menganjurkan untuk melakukan amalan ibadah berupa salat dengan tata cara (kaifiyyah) tertentu. Namun dar itu, ada juga ulama yang mengatakan bahwa salat dengan kaifiyyah tertentu itu dihukumi bid’ah yang memerlukan sebuah jalan tengah.

Kita mulai dari pendapat ulama yang menganjurkannya terlebih dahulu. Para ulama berbeda-beda dalam memberikan tata cara salat Rebo Wekasan. Di antaranya:

  1. Imam Al-Dairabi

Melakukan salat sunah sebanyak empat rakaat. Pada tiap rakaat, setelah membaca surat al-Fatihah membaca surat Al-Kautsar 17x, surat Al-Ikhlash 5x, Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan Al-Nas) 1x. Kemudian setelah salam membaca doa :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

  1. Al-Buni

Melakukan salat sunah sebanyak 6 raka’at. Raka’at pertama membaca surat Al-Fatihah dan Ayat Kursi dan rakaat kedua dan selanjutnya membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlash. Kemudian setelah salam membaca shalawat kepada Rasulullah Saw dengan bagaimanapun bentuk shighatnya, Serta diakhiri dengan membaca do’a sebagai berikut :

اللهم إنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنِيْ وَأَنْ تُعَافِيَنِيْ مِنْ بَلَائِكَ يَا دَافِعَ الْبَلَايَا يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ اكْشِفْ عَنِّي مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍّ أَوْ غَمٍّ إِنَّكَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا

  1. Menurut ba’dh al-shalihin

Dalam kaifiyyah ini tidak dilakukan dengan melakukan salat, akan tetapi dengan membaca surat Yasin sebanyak  1x. Ketika sampai pada ayat: سلام قولا من رب رحيم ayat ini diulangi sebanyak 313x. Kemudian membaca do’a :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْاَهْوَالِ وَالْآفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّآتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا أَعْلىَ الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا اَقْصىَ الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ اَللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْاَرْضِ اِنَّكَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Kemudian salah satu ulama yang mengatakan salat ‘Rebo Wekasan’ tidak boleh adalah Syaikh Abd al-Hamid Quds Al-Makky. Beliau menungkapkan hal tersebut ketika mengomentari pernyataan Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam Irsyad al-‘Ibad tentang salat-salat yang dianggap bid’ah. Berikut cuplikannya:

قَالَ الْعَلَّامَةُ الشَّيْخُ زَيْنُ الدِّيْنِ تِلْمِيْذُ ابْنِ حَجَرٍ اَلْمَلِكِى فِى كِتَابِهِ اِرْشَادِ الْعِبَادِ كَغَيْرِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمَذْهَبِ: وَمِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُوْمَةِ الَّتِى يَأْثَمُ فَاعِلُهَا وَيَجِبُ عَلَى وُلَاةِ الْأَمْرِ مَنْعُ فَاعِلِهَا صَلَاةَ الرَّغَائِبِ -اِلَى أَنْ قَالَ- أَمَّا أَحَادِيْثُهَا فَمَوْضُوْعَةٌ بَاطِلَةٌ وَلَا يَغْتَرُّ عَنْ ذِكْرِهَا اهـ، قُلْتُ وَمِثْلُهُ صَلَاةُ الصَّفَرِ فَمَنْ أَرَادَ الصَّلَاةَ فِى وَقْتِ هَذِهِ الْأَوْقَاتِ فَلْيَنْوِ النَّفْلَ الْمُطْلَقَ فُرَادَى مِنْ غَيْرِ عَدَدٍ مُعَيَّنٍ وَهُوَ مَا لَا يَتَقَيَّدُ بِوَقْتٍ وَلَا سَبَبٍ وَلَا حَصْرَ لَهُ اهـ

“Syaikh Zainuddin (Al-Malibari) menungkapkan dalam kitabnya Irsyad al-Ibad seperti halnya ulama lain dari mazhab Syafi’i bahwa termasuk dari bid’ah yang tercela pelakunya berdosa dan wajib dilarang oleh pemerintah adalah salat Ragha`ib, hadis-hadis yang dipakai adalah hadis maudhu’ maka jangan terpancing untuk menuturkannya. Saya (Syaikh Zainuddin) berkata: termasuk dari bid’ah adalah salat bulan Shafar. Maka siapa yang ingin mengerjakan salat di waktu ini, niatilah salatnya dengan niat salat sunah mutlak secara sendiri dan tanpa hitungan tertentu. Sebab salat sunah mutlak itu tidak terikat dengan sebab dan tidak terikat dengan batas.”

Dari statement di atas, Syaikh Zainuddin Al-Malibari meskipun menganggap salat ‘Rebo Wekasan’ adalah bid’ah namun beliau tetap memberi solusi jalan tengah dengan menggantinya dengan salat sunah mutlak.

Perbedaan ulama yang semacam ini bukanlah untuk dipertentangkan dan diperselisihkan, namun untuk memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada umat untuk menjalani agama dengan tanpa keluar dari jalur syariat.

Yang terpenting dari itu semua adalah agar akidah umat tidak keliru apalagi tersesat. Bahwasanya tidak ada hal-hal buruk yang terjadi karena sebab-sebab tertentu, seperti datangnya hari demikian, datangya tanda-tanda demikian, atau hal-hal lain yang berbau mitos dan klenik. Bahkan hal ini sangat dilarang oleh syariat.

Kita harus yakin bahwa semua yang terjadi pada kita apakah itu baik atau buruk merupakan takdir dan kehendak Allah. Seperti tertera dalam rukun iman yang kelima. Yakni meyakini qadha` dan qadar baik dan buruk itu berasal dari Allah. Syaikh Abdurrauf al-Manawi dalam Faidl al-Qadir juz 1, hal.62 menjelaskan:

وَالْحَاصِلُ أَنَّ تَوَقِّيَ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ عَلىَ جِهَةِ الطِّيَرَةِ وَظَنِّ اعْتِقَادِ الْمُنَجِّمِيْنَ حَرَامٌ شَدِيْدُ التَّحْرِيْمِ إِذِ الْأَيَّامُ كُلُّهَا لِلهِ تَعَالىَ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ بِذَاتِهَا وَبِدُوْنِ ذَلِكَ لَا ضَيْرَ وَلَا مَحْذُوْرَ وَمَنْ تَطَيَّرَ حَاقَتْ بِهِ نَحْوَسَتُهُ وَمَنْ أَيْقَنَ بِأّنَّهُ لَا يَضُرُّ وَلَا يَنْفَعُ إِلَّا اللهُ لَمْ يُؤَثِّرْ فِيْهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ

“Walhasil, sesungguhnya segala bentuk kehati-hatian dan penjagaan di hari Rabu atas dasar mitos buruk dan meyakini kebenaran para peramal adalah sangat diharamkan. Sebab semua hari adalah milik Allah. Tidak dapat berdampak buruk dan memberi manfaat dengan sendirinya. Dan dengan tanpa keyakinan akan mitos buruk tersebut, maka diperbolehkan. Barangsiapa meyakini mitos buruk, maka kejadian buruk tersebut benar-benar akan menimpanya. Barangsiapa meyakini bahwa tidak ada yang memberi bahaya dan manfaat kecuali Allah, maka tidak akan terjadi kepadanya keburukan tersebut”.

 

Sumber: akun Instagram @santrimengaji17

 

Lupa Niat Puasa

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin, saya pernah lupa niat puasa Ramadan. Setelah shalat maghrib, saya kelelahan, hingga tertidur.  Di waktu sahur, saya tidak niat, karena kebiasaan saya hanya niat puasa ketika selesai jamaah tarawih. Bagaimana nasib puasa saya?

 

(Bukhari- Madiun, Jawa Timur)

______________

Admin– Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Bapak Bukhari, lupa adalah salah satu sifat dasar manusia. Allah sendiri yang menyebut bahwa manusia tidak akan luput dari salah dan lupa. Maka, Fiqih sebagai rumusan hukum syariat Islam, menyikapi sifat lupa ini dengan bijak.

Jika di pagi hari anda sudah ingat, segera saja melafalkan niatnya. Karena menurut salah satu imam madzhab empat, yakni Imam Abu Hanifah, batas akhir niat adalah sampai waktu dzuhur. Jika ingat setelah dzuhur, tetap wajib meneruskan puasanya, dan mengqadlanya di kemudian hari.

Sebagai tindakan antisipasi, sebaiknya di malam pertama Ramadan kita berniat puasa satu bulan penuh. Sehingga, ketika lupa niat di hari-hari berikutnya, puasa kita tetap sah. Adapun niat yang dilakukan tiap malam setelahnya, menjadi berhukum sunnah. Ini sesuai dengan pendapat Imam Malik.

Demikian.

 

 

___________

Referensi:

Fiqh al-‘Ibadat Syafi’i, vol. 01 hal. 531

Tuhfah al-Muhtaj ma’a Hawasyi as-Syarwani wa al-‘Ibadiy, vol. 04 hal. 515.

Mencetak Kitab Amtsilah, Lirboyo Mendapat Restu dari sang Cucu

LirboyoNet, Surabaya—Kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyah adalah salah satu kitab ilmu sharaf yang paling digemari oleh masyarakat pesantren Nusantara. Hampir seluruh pesantren menggunakan kitab ini sebagai kitab wajib untuk mempelajari ilmu sharaf (gramatika Arab). Mayoritas mengakui, ilmu sharaf adalah ilmu yang tidak mudah untuk dipelajari. Ini tak lepas dari kekayaan kosakata bahasa Arab yang sangat luas.

Namun, oleh KH. M. Maksum bin Ali, seorang alim dari Jombang, mampu menyederhanakan rumus ilmu sharaf dalam sejilid kitab mungil itu. Beliau susun secara sistematis, dan disesuaikan dengan kemampuan santri dalam menghafal dan menelaahnya.

Senin (07/05) beberapa santri Pondok Pesantren Lirboyo sowan kepada salah satu cucu beliau, KH. Kikin Abdul Hakim Mahfudz di Surabaya. Santri-santri itu adalah tim Lajnah Ta’lif wan Nasyr Darul Mubtadi-ien (LTN-DM) Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM). Mereka bermaksud mengetahui secara detail bagaimana kitab ini ditulis dan diajarkan. Karena, akhir-akhir ini banyak ditemukan teks kitab al-amtsilah kurang sesuai dengan teks aslinya.

Dalam momen sowan itu, tim LTN-DM juga mendapatkan izin untuk mencetak dan memperbanyak kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyah. Tentu ini sangat disambut gembira oleh Pondok Pesantren Lirboyo. Selain kitab ini adalah kitab wajib dalam kurikulum madrasah, restu yang diberikan ini adalah satu hal yang terpenting dalam keberkahan ilmu yang dipelajari para santri nantinya.][

Perdebatan Hukum Puasa Rajab

Rajab adalah nama bulan ketujuh dalam hitungan kalender Hijriyah. Sebagaimana telah diketahui bahwa bulan Rajab termasuk salah satu bulan dari empat bulan yang mendapatkan kemuliaan khusus (arba’atun hurum). Sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada dua belas bulan. Seluruhnya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara (dua belas bulan) itu terdapat empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Tentunya sebagai bulan yang memiliki kemuliaan lebih, bulan Rajab mendapat perlakuan yang begitu istimewa. Tak heran jika di kalangan umat Islam banyak yang melakukan amalan-amalan ibadah yang secara khusus dilaksanakan saat bulan Rajab, termasuk salah satunya ialah puasa Rajab.

Namun, sebagian kalangan memiliki asumsi dan pendapat bahwa puasa Rajab tidak memiliki landasan hukum (dalil) secara spesifik. Akan tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian, karena dalam salah satu hadis yang ada dalam kitab Shahih Muslim disebutkan:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ، قَالَ: سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ، عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ

Utsman bin Hakim al-Anshari berkata: Saya bertanya kepada Sa’id Ibnu Jubair terkait puasa Rajab dan kami pada waktu itu berada di bulan Rajab. Said bin Jubair menjawab: Saya mendengar Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW berpuasa  hingga kami menduga Beliau SAW selalu berpuasa, dan Beliau tidak puasa (berturut-turut) sampai kami menduga Beliau tidak  berpuasa.” (HR. Muslim)[1]

Dalam kitab Fathul Mun’im Syarh Shahih Muslim dikutip mengenai pendapat imam an-Nawawi dalam menanggapi kasus ini:

قَالَ النَّوَوِيُّ الظَّاهِرُ أَنَّ مُرَادَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ بِهَذَا الِاسْتِدْلَالِ أَنَّهُ لَا نَهْيَ عَنْهُ وَلَا نَدْبَ فِيهِ لِعَيْنِهِ بَلْ لَهُ حُكْمُ بَاقِي الشُّهُورِ وَلَمْ يَثْبُتْ فِي صَوْمِ رَجَبٍ نَهْيٌ وَلَا نَدْبٌ وَلَا نَهْيٌ لِعَيْنِهِ وَلَكِنَّ أَصْلَ الصَّوْمِ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَدَبَ إِلَى الصَّوْمِ مِنَ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ وَرَجَبٌ أَحَدُهَا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Imam an-Nawawi berkata: Proses penggalian dalil yang dilakukan Sa’id Ibnu Jubair menunjukan tidak ada larangan dan kesunahan khusus puasa di bulan Rajab. Akan tetapi hukumnya sama dengan puasa di bulan-bulan yang lain, karena tidak ada larangan dan kesunahan khusus terkait puasa Rajab, akan tetapi hukum asal puasa adalah sunah. Dan di dalam kitab Sunan Abi Dawud disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW menganjurkan melakukan puasa di bulan haram (bulan-bulan mulia) dan bulan Rajab termasuk salah satunya.”[2]

Dalam salah satu fatwanya, imam Ibnu as-Shalah juga menjelaskan secara terperinci mengenai anjuran puasa Rajab beserta jawaban atas dalil tandingan yang dibuat-buat untuk mengharamkan amaliah tersebut. Beliau berkata:

مَسْأَلَةٌ صَوْمُ رَجَبَ كُلُّهُ هَلْ عَلَى صَائِمِهِ إِثْمٌ أَمْ لَهُ أَجْرٌ وَفِيْ حَدِيْثٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْوِيْهِ ابْنُ دِحْيَةِ الَّذِيْ كَانَ بِمصْرٍ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ جَهَنَّمَ لَتَسْعَرُ مِن الْحَوْلِ إِلَى الْحَوْلِ لِصُوَّامِ رَجَبَ هَل صَحَّ ذَلِكَ أَمْ لَا أَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا إِثْمَ عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ وَلَمْ يُؤَثِّمْهُ بِذَلِكَ أَحَدٌ مِنْ عُلَمَاءِ الْأُمَّةِ فِيْمَا نَعْلُمُهُ بَلَى قَالَ بَعْضُ حُفَّاظِ الْحَدِيثِ لَمْ يَثْبُتْ فِيْ فَضْلِ صَوْمِ رَجَبَ حَدِيْثٌ أَيْ فَضْلٌ خَاصٌ وَهَذَا لَا يُوْجِبُ زُهْدًا فِيْ صَوْمِهِ فِيْمَا وَرَدَ مِنَ النُّصُوْصِ فِيْ فَضْلِ الصَّوْمِ مُطْلَقًا وَالْحَدِيْثُ الْوَارِدُ فِيْ كِتَابِ السُّنَنِ لِأَبِيْ دَاوُدَ وَغَيْرِهِ فِيْ صَوْمِ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ كَافٍ فِي التَّرْغِيْبِ فِي صَوْمِهِ وَأمَّا الحَدِيْثُ فِيْ تَسْعِيْرِ جَهَنَّمَ لِصُوَّامِهِ فَغَيْرُ صَحِيْحٍ وَلَا تَحِلُّ رِوَايَتُهُ وَاللهُ أَعْلَمُ

Masalah: Apakah melakukan puasa Rajab secara keseluruhan mendapatkan pahala ataukah dosa? karena ada suatu hadis dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Dihyah yang ada di Mesir. Ibnu Dihyah berkata: Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya neraka jahanam akan membara dari tahun ke tahun yang diperuntukkan bagi orang yang berpuasa Rajab. Apakah hadis itu shahih atau tidak?. Ibnu Shalah menjawab: (orang yang berpuasa Rajab) tidak ada dosa baginya. Dan yang saya ketahui tidak ada satu ulama pun yang menganggapnya dosa. Sebagian ulama yang hafal hadis mengatakan bahwa tidak ada dalil yang secara khusus menjelaskan keutamaan puasa Rajab. Namun hal ini bukan berarti harus menghindari puasa Rajab. Adapun hadis yang ada dalam kitab Sunan Abi Dawud dan lainnya yang menjelaskan puasa di bulan-bulan yang mulia itu sudah mencukupi untuk anjuran puasa Rajab. Menaggapi hadis yang mengatakan bahwa api neraka jahanam untuk orang yang puasa Rajab, bahwa hadis tersebut tidak shahih dan dilarang untuk meriwayatkannya. waAllahu a’lam”.[3]

Dari beberapa keterangan di atas nampak jelas sekali bahwa hukum puasa Rajab adalah sunah. Hukum ini telah menjadi konsensus para ulama salaf. Hal ini dibuktikan dalam kitab-kitab fiqih madzhab Syafi’iyyah yang semuanya hampir mencantumkan keterangan bahwa puasa Rajab sebagai bagian dari puasa sunah. Salah satu contoh ialah keterangan yang terdapat dalam kitab Fathul Mu’in karya syekh Zainuddin al-Malibari:

أَفْضَلُ الشُّهُوْرِ لِلصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ: الْاَشْهُرُ الْحُرُمُ وَأَفْضَلُهَا الْمُحَرَّمُ ثُمَّ رَجَبَ ثُمَّ الْحِجَّةُ ثُمَّ الْقَعْدَةُ ثُمَّ شَهْرُ شَعْبَانَ

Bulan-bulan yang utama untuk berpuasa setelah Ramdhan adalah bulan-bulan mulia (asyhurul hurum), dan yang lebih utama dari keempat bulan itu adalah Muharram, kemudian Rajab, kemudian Dzulhijjah, kemudian Dzulqo’dah, kemudian Sya’ban”.[4] []waAllahu a’lam

______________________

[1] Shahih Muslim, II/811, Maktabah Syamilah.

[2] Fathul Mun’im Syarh Shahih Muslim, V/47.

[3] Fatawa Ibni as-Shalah, I/180.

[4] Fathul Mu’in, hlm 59, al-Haromain.