Tag Archives: Biografi

Imam An-Nawawi: Sang Idola Fuqoha Masa Kini

Imam An-Nawawi yang memiliki nama lengkap Abu Zakaria Muhyiddin Yahya Bin Syaraf Bin Murri Bin Hasan Bin Husein Bin Muhammad Bin Jum’ah Bin Hizzam Al Khizami An Nawawi.

Julukan Muhyiddin dikarenakan beliau dalam dakwahnya menjernihkan/memperjuangkan madzhab Syafi’i. Maka tak heran sebagian besar karya beliau yang masyhur di bidang fiqh metodologi Imam Syafi’i. Sedangkan nisbat An-Nawawi sendiri adalah nisbat nama desa asalnya yang bernama Nawa. Beliau lahir pada pertengahan bulan Muharram 631 H. atau 1233 M. sejak lahir tinggal di desa Nawa  dengan didikan ayahnya. Masa kecilnya suka membaca al-Qur’an, berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Pendalaman ilmu al-Qur’an menjadi pijakan selanjutnya hingga beliau berumur 19 tahun, selama itu dihabiskan dalam keilmuannya untuk al-Qur’an. Suatu saat pada usia 7 tahun, ketika beliau tidur dipangkuan ayahnya, Imam An-Nawawi tiba-tiba bangun dari tidurnya.

Kemudian, melihat cahaya berada disekitarnya memenuhi ruangan, sedangkan yang bisa melihat hanya beliau saja dan pada malam itu tepat pada tanggal 27 Ramadhan bertepatan dengan Lailatul Qadr. Hal ini membuat heran baginya ketika diungkapkan pada sang ayah. Sedangkan ayah beliau tidak tahu apa-apa dikarenakan tidak melihat apa yang dilihat oleh sang anak. Mungkin, berkah mendapat Lailatul Qodr, menjadikan kecerdasan dalam mencari ilmu.

Ketika berusia 19 tahun, Imam An-Nawawi baru mondok. Tempat mondoknya pun tidak jauh dari desa kelahirannya. Tepatnya di Ar-Ruwahiyyah selama 2 tahun, kemudian pergi haji bersama ayahnya dan setelah itu berpindah-pindah tempat dalam mencari ilmu.

Guru-guru Imam an-Nawawi

Diantara guru-guru Imam An-Nawawi yaitu Syech Jamaluddin bin Abdul Kahfi bin Abdul Malik Ar-Roba’i, Syech Abi Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Muhadzab, Syech Ridho bin Burhan Zain Kholid Abdul Aziz Al Hamawi, Syech Syihauddin Abu Syamah, Syech Jamaluddin Abdullah bin Malik Al- Andalusi.

Dari segi banyaknya guru beliau, kepergian dalam mencari ilmunya tidak sampai keluar negara dikarenakan cukup dengan pendalamannya dan cinta dengan negaranya. Sampai-sampai ketika Imam Ibnu Malik singgah di Damaskus, kesempatan tersebut langsung ditanggapinya, seketika beliau mencarinya untuk belajar Ilmu dalam fan yang dimiliki Imam Ibnu Malik.

Kepergian Imam An-Nawawi dalam mencari ilmu pun seperti santri salaf ketika mondok di Pesantren, yaitu dengan diiringi tirakat. Diantaranya adalah beliau tidak pernah tidur, kalau pun tidur waktunya sangat sedikit. Waktu beliau hanya untuk mempeng dalam belajar berbagai kitab. Dalam makan beliau hanya makan remukan roti dan tidak pernah makan cemilan khas Damaskus yang akibatnya mudah mengantuk. Maka dari itu, oleh beliau makanan tersebut dihindari.

Gaya hidup Imam An-Nawawi

Dalam segi pakaian sangat sederhana sekali, dalam artian apa yang dibutuhkan hanya sebagai pakaian syar’an wa adatan. Adab Beliau kepada guru-gurunya selalu takzim dan husnudzan dengan apa yang diperintahkan gurunya, diikuti tanpa berprasangka yang lain. Sikap beliau kepada gurunya yang menjadikanya murid kesayangan. Dari sisi toriqoh mencari ilmu, yang dipandang bukan seberapa jauh perginya, tetepi seberapa kedalaman ilmu yang didapat.

Keseharian Imam An-Nawawi dalam segala aspek memang ditempuh dengan jalan yang tidak seperti santri pada umumnya. Hasil yang didapat pun berpengaruh dengan apa yang dijalani beliau. Tidak hanya dari segi tirakat dan thoriqohnya saja melainkan giat dalam belajarnya juga. Dalam sehari semalam beliau paling tidak menghabiskan 12 pelajaran untuk dipelajari.

Dari 12 pelajaran, yang sering dipelajari adalah ilmu hadis dengan kitabnya Hadits fii Jam’i baina Shohihain dan Shohih Muslim, kemudian ilmu fiqihnya ada kitab Al- Washith dan Kitab Al-Muhadzab, dilanjut ilmu Lughot, Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Balaghoh, Ilmu Mantiq, Ilmu Shorof, Ilmu Sejarah, Ilmu Ushuluddin, Qoidah Fiqih, Ilmu Tafsir, dan ilmu Kedokteran (Al-Qonun). Dibalik semua fan tadi, Imam An-Nawawi dalam ilmu Kedokteran terlalu sibuk hingga menyababkan terbengkalai dengan fan Ilmu yang lain.

Pada akhirnya kitab Al-Qonun tersebut dijual ke orang lain dengan tujuan agar tidak melanjutkan ilmu tersebut. Selama kurang lebih 20 tahun beliau tidak berhenti dalam belajar. Alhasil selama itu pula beliau hafal diluar kepala. Dalam waktu empat setengah bulan sudah hafal kitab At-Tanbih dan dilanjutkan dalam kurun satu setengah tahun, kurang lebih seperempat jilid kitab Muhadzab sudah dilahap.

Menjadi seorang pemimpin

Setelah Imam An-Nawawi merampungkan belajarnya, beliau diamanahi oleh gurunya Syech Syihabuddin Abu Syamah untuk menggantikan dalam memimpin lembaga pendidikan Darul Hadis. Tidak hanya itu, setiap harinya beliau punya target dalam menulis karangan sebanyak 8 halaman.

Dengan ini, selama beliau mulai mengamalkan ilmunya hingga akhir hayatnya, kurang lebih ada 100 karya yang hasil dan menjadi rujukan ulama-ulama setelahnya hingga zaman sekarang.

Dari 100 karangan tadi, ada beberapa kitab yang masyhur yaitu Ar-Roudhoh ringkasan dari Syarah Al-Kabir, Al-Minhaj fii Syarah Shohih Muslim, Syarah Muhadzab hanya sampai pertengahan bab riba yang dikemudian hari dilanjutkan oleh ulama setelahnya, Minhaj at-Tholibin, Tahdzibul Asma’ wal Lughot, Riyadus Sholihiin, Al-Adzkar, Arbain An-Nawawim At-Tibyan, dan lain-lain.

Dalam mengamalkan ilmu, Iama An-Nawawi tidak hanya lewat karyanya saja. Terbukti murid-murid-murid beliau yang masyhur diantaranya Al-Hafidz Al-Kabir Yusuf bin Abdul Malik Al-Halb Ad-Damsyuqi dan Imam ibnu At-Thur.

Imam An-Nawawi kurang komunikasi terhadap pemerintahan di masanya. Sedangkan yang lebih berkecimpung dalam urusan pemerintahan adalah Imam Al-Mawardi. Hal ini dapat kita perhatikan, bahwa manhaj pemikiran beliau tidak sampai rana pemerintah hanya dalam bidang agama saja.

Wafatnnya Imam An-Nawawi

Kehidupan Imam An-Nawawi yang melalangbuana dalam bidang keagamaan, ternyata tidak menjadikan usia beliau bertahan lama. Pada hari sabtu tanggal 20 Rajab 676 Hijriyyah atau 1277 Masehi, beliau sakit dalam pembaringannya.

Menyebabkan mulai berhenti dalam berdakwah hingga selang 4 hari pada rabu 24 Rajab beliau wafat diusia 45 tahun meninggalkan murid-muridnya dan puluhan karya untuk diwariskan pada ulama setelahnya.

Jarak antara sakit dengan wafatnya yang tidak lama membuat beliau tidak sampai merasakan. Tetapi, menurut para ulama bahwa sakit itu bukanlah penderitaan melainkan sebuah kenikmatan tersendiri bisa merasakannya. Dengan ini, perjalanan hidup beliau tidaklah lama tetapi memberikan amal yang melebihi dari masa hidupnya.

Sumber: Al-Minhaj us-Sawi, Mukadimah Riyadussholihin.

Baca juga: SYARAT AKAD NIKAH MENGGUNAKAN BAHASA SELAIN ARAB

Sejenak Mengenang Imam Al-Ghazali

Kebanyakan orang pasti pernah mengalami masa depresi. Kegalauan yang biasa sampai luar biasa. Ketika ada masalah yang kian banyak dan makin bertumpuk, atau ada sejuta pertanyaan tak terjawab, ‘saklar’ kesadaran itu otomatis ‘padam’.

Imam Al-Ghazali mengalami petualangan ilmiah yang luar biasa hebat. Rihlah tholabul ‘ilminya panjang dan “melelahkan”. Tapi dengan hasil yang tak mengecewakan, Hujjatul Islam ini mampu menguasai tidak hanya satu disiplin ilmu. Tidak cukup satu gelar saja untuk menggambarkan kepakarannya. Beliau bukan hanya pakar fiqih, kalam, dan ushul, beliau lebih dari itu semua. Namun dihari-hari  terakhirnya, beliau lebih memilih sembunyi dan pulang ke kampung halamannya. “Ingin dikenal orang sebagai warga Thus biasa, seperti halnya petani dan pedagang lainnya”. Begitulah mungkin. Sekedar menyebutkan beberapa karyanya, dalam ushul fiqih, Al-Mushtasfanya adalah salah satu dari empat kitab ushul terbaik yang pernah ada, yang kemudian di resume menjadi Al-Mahshul. Dalam fiqh, Al Basith,Al-Wasith,dan Al-Wajiz adalah kitab-kitab pokok Mazhab Syafi’i. Hampir seluruh kitab-kitab ulamamutaakhirin merujuk kepada tiga kitab tersebut. Bisa dibilang, kalau kita sedang belajar  fiqh ala Syafi’iyyah atau  ushul fiqh, disitu ada “ilmunya imam Al-Ghazali”. Beliau adalah pahlawan sejati Ahlussunah yang gigih membela islam sunni dari dua ancaman besar pada masa itu, rasionalis Mu’tazilah dan Syiah garis keras Isma’iliyyah. Juga ancaman umum dunia intelektual, Filsafat Yunani. Banyak orang menilai Imam Al- Ghazali sebagai filsuf, namun dari kiprah beliau tak nampak kalau beliau adalah seorang filsuf. Justru sebaliknya, beliau adalah mistikus.

Imam Al- Ghazali, nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Al-Thusi. Bergelar Hujjatul Islam. Di dunia barat beliau dikenal dengan nama Algazel. Ditanah kelahirannya, Thus, beliau dilahirkan tahun 1059 M/450 H. Dan beliau wafat.diusianya yang ke lima puluh lima.

Al-Ghazali kecil terlahir dari keluarga miskin. Beliau punya seorang saudara kandung bernama Ahmad. Ayah beliau sehari-hari bekerja sebagai pemintal wol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ayah beliau terkenal orang  yang saleh, sangat mencintai para ulama dan gemar melayani mereka. Sering ayah beliau menghadiri majlis-majlis pengajian, disitu tak jarang ayah beliau menagis berkaca-kaca. Dalam do’anya, ingin sekali beliau dikaruniai putra-putra  yang kelak menjadi ulama besar. Do’a ayah Al-Ghazali dijawab oleh Allah SWT. dikemudian hari. Baik Al-Ghazali maupun saudaranya, Ahmad, keduanya sama-sama  menjadi  ulama besar.

Ketika ayahnya wafat kedua bersaudara ini dititipkan kepada kerabatnya agar dididik, supaya diajari tentang  agama. Ketika kerabat ayahnya tak mampu lagi membiayai mereka, mereka berdua masuk ke madrasah setempat agar bisa mendapatkan makanan. Bermula dari sini, rihlah ilmiah Al-Ghazali dimulai. Al-Ghazali kecil ngaji di tanah kelahirannya bersama saudara kandungnya,  Ahmad ditempat yang diasuh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Zâdzakâni. Setelah sekian lama, beliau pindah ke Jurjan, ngaji bersama Syaikh Abi Nashr Al-Isma’ili. Beliau membuat Ta’liqot, catatan hasil belajar, tanpa menghafalkannya. Sepulang dari sana, rombongan Al-Ghazali dirampok, dan semua barang bawaan dijarah. Termasuk buku ta’ilqot Al-Ghazali selama di Jurjan. Al-Ghazali diejek oleh pimpinan perampok ketika hendak meminta kembali buku ta’liqotnya, “Kalau saja buku ini hilang kamu tak lagi punya ilmu apa-apa.” Kalimat ini menjadkian beliau terpacu untuk menghafalkan seluruh ilmunya. Setibanya  kembali di rumah, beliau menghafalkan seluruh ilmu yang dia dapatkan.

Setelah beberapa saat  dirumah, Al-Ghazali memutuskan ikut rombongan pelajar yang hendak berangkat ke Naisabur, Khurasan. Negri itu dikenal sebagai kotanya ilmu pengetahuan. Disana adalah tempat para pelajar mengadu  nasib, karena menjadi tempat asimilasi ilmu pengetahuan dari berbagai tokoh besar. Disana beliu memutuskan untuk ngaji kepada tokoh sentral Mazhab Syafi’I, salah satu ulama terbesar dimasanya, Imam Al-Haramain yang mengasuh Madrasah Nidzamiyyah Naisabur. Madrasah yang diprakarsai Alp Arslan. Disinilah akhirnya beliau dapat mengukuhkan dan menguasai pemahaman tentang  fiqh, ushul, ilmu khilaf, jadal, manthiq, hikmah, dan filsafat. Padahal usia beliau kala itu baru menginjak dua puluh delapan tahun. Beliau aktif menulis karya ilmiah, dan mengikuti aktifitas keilmuan lain. Karir beliau menanjak dan beliau mulai memiliki nama besar. Murid kesayangan Imam  Al-Haramain ini bahkan sampai dijiluki Al-Bahr Al-Mughdiq (Lautan luas-deras) oleh gurunya. Al-Ghazali juga mulai diminta membantu mengajar oleh gurunya dan menggantikan gurunya jika berhalangan. Bahkan beliau adalah orang yang dipersilahkan duduk ditempat duduk gurunya, Imam Al-Haramain. Sepeninggal gurunya, beliau meninggalkan Madrasah Nidzamiyyah Naisabur menuju tempat perdana mentri Nidzamul Mulk didekat kota Naisabur. Tempat itu dikenal sebagai perkumpulannnya ulama-ulama besar berdiskusi. Al-Ghazali yang memang juga jago berdebat segera mendapat nama dan diakui kehebatnnya. Popularitas beliau segera menanjak. Nama Al-Ghazali cukup disegani karena kedalaman ilmunya. Beliau segera diundang  oleh perdana mentri Nidzamul Mulk yang memang mencintai ilmu pengetahuan ke Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Sebuah gudang ilmu pengetahuan yang bergengsi dimasanya.  Ketika tiba di Baghdad  tahun 1091 M/484 H puncak karir imam Al-Ghazali mencapai babak baru.

Nama Imam Al-Ghazali semakin bersinar. Maklum, Baghdad adalah ibukota pemerintahan islam “yang sah” saat itu. Dan Madrasah Nidzamiyyah Baghdad seolah menjadi sentralnya ilmu pengetahuan diseluruh dunia islam. Fatwa-fatwanya bisa mencapai pelosok negeri. Karya-karyanya dibaca dan dikaji dimana-mana. Diusia beliau yang tergolong masih muda, tiga puluh tiga tahun, bisa dikatakan semua sudah diraih Imam Al-Ghazali. Hidup di istana sebagai penasihat perdana mentri Nidzamul Mulk, fasilitas hidup serba mewah, penghormatan setinggi-tingginya, dan menjadi profesor di Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Seperti mimpi, padahal tiga puluh tahun silam, beliau masih hidup dalam kubangan kemiskinan ditengah-tengah keluarga yang nyaris tak memiliki “nama” di Thus. Nama Imam Al-Ghazali segera dikenal sebagai imamnya orang-orang Iraq, setelah sebelumnya dikenal sebagai imamnya orang-orang Khurasan.

Di Baghdad beliau dikenal gigih memperjuangkan Mazdhab Ahlusssunnah Al-Asy’ari dari serangan bermacam-macam ancaman aktual kala itu. Permasalahan akidah kala itu menjadi pembahasan mainstream, dimana semua orang mengaku benar, dan semua orang mengaku yang paling selamat. Selain itu, dalam karyanya, “Tahafut Al-Falasifah” (kerancauan filsafat), Imam Al-Ghazali mempersoalkan keberadaan filsafat sebagi polemik. Jika saja filsafat hanya berkaitan dengan fenomena dunia yang nampak, seperti kedokteran, astronomi, atau matematika, bukan masalah metafisika  yang membahas ketuhanan, maka filsafat akan sangat berguna. Tidak mungkin doktrin emanasi dibuktikkan. Dan anggapan mereka bahwa tuhan terlalu agung untuk tahu hal-hal yang juz’I, partikular, adalah realitas rendah yang tak masuk akal. Akhirnya, menurut beliau filsuf jadi tidak filosofis karena menggali sesuatu yang diluar kemampuan mereka. Meskipun begitu, sanggahan Imam Al-Ghazali segera mendapat tanggapan dari Ibn Rusydi, ulama Andalusia, yang segera menulis karya tandingan, “Tahafut Al-Tahafut” (Kerancauan KitabTahafut Al-Falasifah). Adu argumen tak terelakkan, ketika konon Imam Al-Ghazali dengan mudah menjawab kitab Ibn Rusydi dengan karyanya “Tahafut Al-Tahafut Al-Tahafut” (Kerancauan kitab Tahafut  Al-Tahafut). Imam Al-Ghazali juga menghadapi konflik internal dalam madzhabnya sendiri. Banyak kalangan yang mencoba menyerang pemikirannya, dan menuduhnya dengan tuduhan yang tidak-tidak. Bisa dibaca dalam karya-karyanya, beliau cukup prihatin dengan kondisi sosial kala itu.

Sifatnya yang amat kritis sangat mempengaruhi perjalanan intelektualnya. Ketika akhirnya beliau mulai ditimpa kegalauan yang luar biasa. Keresahan intelektual ini mulai dialami empat tahun setelah beliau tinggal di Baghdad dalam puncak karirnya. Beliau adalah orang yang dirundung nestapa atas ketidak pastiannya kesimpuan-kesimpulan yang beliau hasilkan. Setiap kesimpulan yang beliau rumuskan pada suatu hari, akan beliau klaim salah pada hari yang lain. Semakin dalam beliau menggali pengetahuan, semakin banyak saja hal yang tidak beliau ketahui. Pada awal karirnya, Imam Al-Ghazali percaya pada fakta-fakta indrawi. Tapi tak lama kemudian beliau mempertanyakannya kembali. Kemudian beliau beralih menjadi orang yang percaya dengan logika. Namun akhirnya hal ini dikritik juga. Banyak orang yang menilai pemikiran beliau inkonsisten, ambigu, dan kontradiktif. Tentu saja sulit membaca sepak terjang wawasan Imam Al-Ghazali karena keilmuwannya yang kaya. Banyak sarjana-sarjana modern di timur dan barat banyak yang gagal menyimpulkan benang merah pemikiran beliau. Beliau bukan saja sosok yang misterius bagi banyak orang, namun barangkali juga bagi dirinya sendiri.

Kekecewaan-kekecewaan banyak beliau alami ketika bergelut dalam ilmu kalam dan filsafat. Hingga pada bulan Rajab 488 H, tulis Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz Min Al-Dzalal, selama hampir enam bulan hari demi hai beliau dilanda kebimbangn dan kegalauan luar biasa.

Hingga akhirnya pada tahun yang sama, 1094 M. beliau tidak mampu lagi berbicara sepatah katapun untuk sekedar member kuliah pada murid-muridnya. Imam Al-Ghazali mengalami depresi  klinis, para dokter dengan tepat mendiagnosis adanya konflik batin mendalam dalam jiwanya.

Aku pernah memaksakan diri untuk mengajar pada suatu hari. Namun lidahku tak mampu mengucapkan sepatah katapun.” (Al-Munqidz Min Al-Dzalal)

Akhirnya beliau mengambil keputusan yang mencengangkan. Beliau mengundurkan diri dari dunia keilmuan, meninggalkan seluruh pencapaian prestisiusnya, dan memilih mengembara ke Damaskus. Beliau meminta saudara kandungnya, Syaikh Ahmad untuk menggantikan posisi beliau di Madrasah Nidzamiyyah. Beliau lebih memilih melupakan nama besarnya di dunia intelektual. Babak lain perjalanan Imam Al-Ghazali sudah dimulai. Beliau menyendiri dan beriktikaf di menara barat masjid Jami’ Ummayah di Damaskus. Untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis, mengunjungi maqam Nabi Ibrahim AS. Disana beliau bernadzar tiga hal, tidak akan lagi menerima harta pemberian apapun dari penguasa, tidak akan pergi menemui penguasa, dan tidak akan lagi berdebat dengan siapapun. Dalam syairnya yang terkenal, Imam Al-Ghazali bersenandung;

تركت هوي ليلي و سعدي بمعزل ><و عدت الي تصحيح أول منزل

ونادت بي الأشواق: مهلا فهذه ><منازل من تهوى رويدك فأنزل

Aku Pernah tinggalkan Laela dan Su’ada sendiri ditempat terasing. Aku kini pulang, membenahi rumahku yang awal. Kerinduan demi kerinduan memnggilku. Oh, pelan-pelan saja tuan. Inilah rumah-rumah orang yang engkau cinta. Aku singgah….”

Ketika beliau kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Thus. Disini beliau mempertahankan nadzarnya diatas maqam Nabi Ibrahim AS. Untuk tidak mendekati penguasa dengan menolak surat permintaan penguasa Baghdad agar kembali mengajar di Madrasah Nidzamiyyah. Beliau lebih memilih hidup sederhana di Thus, dengan sebuah lahan miliknya, yang cukup sederhana untuk menghidupi keluarga kecil beliau. Beliau tidak tergiiuar dengan tawaran hidup kaya raya dan mapan dengan menjadi professor di Madrasah Nidzamiyyah.

Ketika menunaikan ibadah haji dan umrah, beliau kembali singgah di Damaskus dan kembali sambil menutup pintu, Imam Al-Ghazali beriktikaf di menara barat masjid Jami’ Ummayyah. Pada saat inilah, menurut cerita, beliau mengarang master piecenya, Ihya’ ‘Ulum Al-Din.

Ada yang mengatakan setelah ini beliau singgah di Mesir dan Iskandariyyah, beliau sempatkan, menurut cerita, mengunjungi Maqam Imam Syafi’I dan Imam Muzani. Lalu saat hendak kembali pulang melewati Khurasan, beliau singgah tak berapa lama di Baghdad. Di pondoknya Abi Sa’id Naisaburi dekat Madrasah Nidzamiyyah. Namun bukan dalam rangka kembali mengajar, beliau hanya sempatkan singgah beberapa saat untuk kemudian menuju Khurasan dan pulang ke Thus. Di tanah kelahirannya ini Imam Al-Ghazali membangun “pondok” kecilnya dengan sekitar seratus lima puluh murid, beliau menghabiskan masa-masa akhirnya dengan mengkhatamkan Alquran, mengaji dan kegiatan lain sehingga waktu beliau tak pernah kosong dari hal-hal positif. Beliau kembali menolak dengan beragam alasan ketika datang kembali surat permohonan dari perdana mentri Iraq supaya Imam Al-Ghazali mau mengajar kembali di Madrasah Nidzamiyyah.

Nihayatus sâlik bidâyatuhu. Masa-masa akhir “seseorang” kadang justru adalah kembali mengulangi masa-masa awal yang dulu ia tinggalkan. Hanya saja dengan sikap yang lebih matang.

Disarikan dari kitab Thâbaqât Al-Syafi’iyyah Kubrâ, Pengantar Kitab Al-Bâsith dan Al-Munqidz Min Al-Dzalal.

 

Tertawa dalam Shalat

Ada kejadian menarik saat Kiai Kholil Bangkalan masih menjadi santri di Pesantren Langitan Tuban. Seperti biasanya Kholil muda selalu berjamaah, yang merupakan keharusan para santri. Suatu ketika di tengah shalat Isya tiba-tiba Kholil tertawa terbahak-bahak. Karuan saja, hal ini membuat santri lain marah. Demikian juga dengan Kiai Muhammad Noer yang menjadi imam saat itu. Seusai shalat berjamaah, Kholil dipanggil ke ndalem kiai untuk diinterogasi.

Dengan berkerut kening kiai bertanya, “Kholil, kenapa waktu shalat tadi kamu tertawa terbahak-bahak. Lupakah kamu bahwa hal itu mengganggu kekhusyukan shalat orang lain. Dan shalatmu tidak sah.” ucap Kiai Noer sambil menatap Kholil. “Maaf kiai, waktu shalat tadi saya tidak dapat menahan tawa. Saya melihat kiai sedang mengaduk-aduk nasi di bakul (tempat nasi). Karena itu saya tertawa. Salahkah yang saya lihat itu kiai?” jawab Kholil muda dengan tenang, mantap dan sangat sopan.

Kiai Noer terkejut, Kholil benar. Santri baru itu dapat membaca apa yang terlintas di benaknya. Kiai Noer duduk dengan tenang sambil menarik nafas. Sementara matanya menerawang lurus ke depan, lalu serta merta berbicara kepada Kholil. “Kau benar anakku. Saat mengimami shalat tadi perut saya memang sudah sangat lapar. Yang terbayang dalam fikiran saya memang hanya nasi.” ucap Kiai Noer secara jujur.

Maka sejak kejadian itu kelebihan Kholil menjadi buah bibir. Tidak saja di Pesantren Langitan, tetapi juga di sekitarnya.

* * * * *

Kiai Kholil muda tidak sedang meremehkan gurunya. Beliau sangat ta’dzim dengan semua gurunya. Beliau hanya perantara kehendak Allah. Di balik peristiwa itu ada suatu hikmah yang dalam. Allah bermaksud menyempurnakan iman sang guru.

*Dikutip dari buku biografi Kiai Kholil, Surat Kepada Anjing Hitam.