Tag Archives: birrul walidain

Dawuh KH. M. Anwar Manshur : Keutamaan Birrul Walidain

Nanti para santri yang tak pulang liburan maulid bisa mengisi waktu liburanya dengan mengaji, dan para santri yang pulang ke rumahnya masing-masing harus melakukan birrul walidain. Apa yang di kerjakan oleh orang tua kalian di rumah, kalau kalian bisa mengerjakanya, maka kerjakanlahlah oleh kalian, jangan sampai kalian di rumah membuat hati orang tua kalian tersinggung.

Dimanapun kalian berada jagalah ahlakul karimah, lakukan pekerjaan yang membuat hati orang tua kalian senang. Kalian yang sebelum berangkat ke pesantren tidak pernah menggunakan bahasa yang halus ketika berbicara pada orang tua, maka ketika sudah pulang pesantren, kalian semua harus berbicara yang halus ketika berbicara dengan orang tua, tunjukan ajaran-ajaran yang diajarkan di pesantren, lalu mintalah doa pada orang tua kalian.

Orang yang hidupnya melaksanakan birrul walidain hidupnya akan penuh barokah. Maka dari itu janganlah pernah menyakiti hati orang tua kalian ketika dirumah. Mereka sudah mengurusi kalian dari kecil, maka jagalah selalu ahlakul karimah. Ketika kalian menjaga ahlak kalian dimanapun kalian berada, itu sama halnya kalian seperti berdakwah.Ketika masyarakat melihat kalian yang menjaga ahlakul karimah, mereka yang belum memondokan anaknya ke pesantren, jadi ingin memondokan anak-anaknya.

Dan yang terakhir jangan sampai kalian dirumah membuat resah masyarakat, jaga selalu nama baik pondok pesantren kita.()

*Disampaikan dalam acara pembekalan santri sebelum liburan maulid di Masjid Lawang Songo 03 Nov 2019 M.(TB)

Pesan Liburan: Jangan Sekali-Kali Membantah Orangtua

Oleh: KH. M. Anwar Manshur

Anak-anak sekalian, alhamdulillah kita sampai pada waktu kita bertemu orangtua. Yang ingin pulang silahkan, yang ingin di pondok silahkan. Di rumah, tetap belajar yang serius. Yang di pondok juga. Ini hanya istirahat sebentar.

Sampean sudah dipondokkan. Saya minta, nanti sesampai di rumah pertama kali salim kepada ayah dan ibu. Yang dulu sebelum mondok kasar bahasanya kepada orangtua, sekarang harus halus. Anak tidak berbicara halus kepada orangtua itu buruk.

Orangtua harus kita muliakan. Setelah Allah memerintahkan kita beribadah, ada perintah birrul walidain. Birrul walidain itu, jangan sampai menyusahkan hati orangtua. Umpama kalian diperintah, tapi tak sanggup melakukannya, tetap jangan dibantah perintah orangtua. Kalau orangtua sudah melihat kesulitan kalian, baru matur, “saya belum bisa melakukannya.” Jadi orangtua senang. Jangan sampai membantah.

Kalian harus berubah dari sebelum mondok. Sebab di pondok kalian sudah mendapat didikan agama. Jangan sampai kalah dengan mereka yang tak mendapat pendidikan agama.

Kalau kalian ingin berkah, mempunyai anak yang birrul walidain, kalian harus birrul walidain. Orang yang birrul walidain, sungguh hidupnya barokah. Umpama di sini uang saku kalian kurang, jangan sampai minta. Tidak ada orangtua yang ingin anaknya sengsara. Kalau orangtua ada rizki, pasti ditambah uang saku kalian. Sungguh. Jadi jangan sampai marah-marah karena uang saku kurang. na’udzubillah min dzalik.

Coba kalian pikir. Ibu kalian mengandung sembilan bulan, susah payah. Saat melahirkan mempertaruhkan nyawanya. Dua tahun mengasuh, menyusui, memandikan, gendong ke sana ke mari. Pikirkan itu. Begitu berat perjuangan orangtua. Jangan sekali-kali membantah perintah orangtua. Sungguh.

Pikirkan. Sedari kecil kalian diasuh, sampai dipondokkan sekarang ini. Pikirkan ini, agar kalian senantiasa bersyukur, “Alhamdulillah, masih diberi bekal oleh orangtua. Kalau tidak, saya bisa apa?” Kalian harus bersyukur. “Saya harus giat belajar. Jangan sampai orangtua bersedih.” Kalian kalau tidak menyusahkan hati orangtua, insya allah barokah hidupnya.

Apalagi kepada ibu. Jangan sekali-kali menyusahkan hatinya. Aku gak lilo karo santri sing gak boso karo wongtuwo. (Saya tidak ridlo pada santri yang tidak halus bicaranya pada orangtua).][

Cium Kaki Ibumu

Fa ‘alaikum bil ijtihâd. Bersungguh-sungguhlah kalian. Manisnya surga tidak mudah diraih. Kalian harus bersabar dan bersungguh-sungguh. Membangun rumah itu mudah. Tapi tidak dengan membangun pondok pesantren. Karena itu saya berterima kasih kepada para ulama yang telah menjaga kemurnian ilmu Rasulullah saw. Mereka telah bersungguh-sungguh untuk menjaga kemurnian itu. Kalian juga harus bersungguh-sungguh seperti beliau-beliau. Karena kalian adalah para pewaris mereka. Para pengganti ulama.

Kalian harus bekerja keras. Tulis masalah-masalah dan faedah-faedah. Kalian butuh kesabaran tingkat tinggi. Dengan itu, kalian bisa meraih sukses. Ikuti jalan yang telah dicontohkan oleh nabi, as-sulûk an-nabawiy as-syarîf. Terutama, kalian harus berakhlak baik.

Barang siapa yang menunda-nunda shalat, tidak memprioritaskannya, maka shalat akan menyia-nyiakannya. Jikalau ada rumah yang penghuninya meninggalkan shalat, sungguh rumah itu akan berdoa kepada Allah, “jangan kembalikan dia dalam keadaan selamat.” Kalau sudah seperti itu, kalian akan jauh dari keterbukaan pikiran dan hati. Jauh dari futûh. Wal ‘iyâdzu billâh.

Jangan biasakan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama, oleh pondok. “pengurus tidak tahu, kiai tidak tahu,” jangan begitu. Jangan anggap tidak ada yang melihatmu. Ingat! Allah selalu memandang kita.

Kiai kalian adalah orangtua kalian. Berbuat baiklah kepada beliau. Berbuat baiklah kepada orangtua.

و قضى ربك أن لا تعبد الا اياه و بالوالدين احسانا

Perintah Allah untuk hanya menyembah kepada-Nya, dibarengi dengan perintah untuk berbaik dengan orangtua. Lihat! Allah menyebut perintah ini bersamaan, bukan sendiri-sendiri. Ini artinya, tidak dianggap orang yang menyembah kepada Allah, kalau ia tidak berbuat baik kepada kedua orangtuanya.

Cium kaki ibumu. Saat pulang, cium kaki ibumu. Sayangi mereka. Saat di pondok, sering-seringlah tanyakan padanya, “Apa kabar? Sehatkah?” itu adalah bentuk sayangmu kepadanya. Sambung terus dirimu dengan orangtua. Jangan ketika sudah disibukkan dengan yang lain, lupa orangtua. Sudah menikah, tidak ingat mereka. Berbuat baiklah, karena perbuatan yang sama akan dilakukan anak-anak kalian. Kita akan merasakan apa yang kita lakukan kepada orangtua.][

 

Disarikan dari mauidzah yang disampaikan Habib Abdul Qodir Jailani as-Syathiri saat berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo pada Senin, 03 Rabiul Akhir  1438 H./02 Januari 2017 M. di serambi Masjid Lawang Songo.

Habib as-Syathiri Berkunjung Kala Sore Mendung

LirboyoNet, Kediri—Cium kaki ibu. Saat pulang, cium kaki ibumu. Pikiran yang terbuka, hati yang terbuka akan hidayah, bersumber dari penghormatan kepada orangtua. Ancaman Allah berkali-kali datang bagi orang yang mengacuhkan orangtua. “Ketika datang ridla Allah pada seseorang, sedangkan orangtuanya murka, Allah akan ikut murka. Ketika Allah murka kepada seseorang, namun orangtuanya ridlah padanya, ‘fa ana ‘anhu râdl, maka padanya aku ridla.'” (al-hadits au kamâ qâl)

Cinta dan kasih sayang kepada orangtua inilah yang ditekankan oleh Habib Abdul Qadir Jailani as-Syathiri saat berada di tengah-tengah ribuan santri Ponpes Lirboyo, Senin sore (02/01). Bersanding dengan para masyayikh Lirboyo, beliau memperingatkan santri untuk tidak sekali-kali membuat orangtua susah. Karena apa yang kita perbuat kepada orangtua, juga akan diperbuat oleh anak-anak kita kelak.

Seperti sebelum-sebelumnya, ketika datang seorang terhormat ke pondok, toa tua nan tinggi di tengah-tengah asrama pesantren lantang bersuara, mengomando santri untuk segera berkumpul di serambi Masjid Lawang Songo. Bada Asar, santri-santri berdatangan. Sekejap saja, sudah tidak ada tempat untuk duduk bersila. Sembari menunggu sang tamu tiba, shalawat dari grup rebana bergema. Orang mulia yang ditunggu itu kemudian melewati gerbang, tak lama setelah masyayikh datang.

“fa ‘alaikum bil ijtihâd,” buka beliau. Keponakan Habib Salim bin Abdullah bin Umar as-Syathiri itu mengingatkan pada santri bahwa mereka adalah para pengganti ulama. Maka tidak boleh tidak, para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar. Kiatnya, harus menulis dan terus menulis masalah-masalah dan faedah-faedah. Kerja keras ini, dengan ditemani kesabaran yang tinggi, menurut beliau, akan mengantar santri pada jalur kesuksesan. Beliau mengutip kalimat al-Haddad, (sangat mungkin yang beliau sebut adalah Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, pengarang ratibul haddad), “orang-orang yang mendapat prioritas di sisi Allah adalah mereka yang penyabar.”

Selain di Masjid Lawang Songo, beliau yang datang langsung dari Yaman itu juga berkenan untuk memberikan mauidzah di aula Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM). Di sana, pesan-pesan yang beliau ungkapkan lebih khusus bagi para santri perempuan. “Bagaimanapun, kalian akan menjadi ibu. Juga istri. Siapkan itu.” Untuk membangun kualitas ibu dan istri yang baik, patut bagi para santri untuk mencermati bagaimana laku hidup Rasulullah saw. “Beliau sangat cinta pada kebersihan. Makanya, jaga kebersihan kalian. Bersihnya badan, kamar, dapur, dan juga bersihnya hati.” Beliau prihatin dengan prilaku istri-istri dewasa ini. Mereka berdandan, memakai wewangian, mengenakan baju ala pengantin baru, justru ketika keluar rumah. “Sementara untuk menyambut suaminya, mereka memakai pakaian seadanya. Yang kotor, bolong-bolong. Bau. Awut-awutan. Seperti jin,” tutur beliau sambil menunjukkan mimik menyeramkan. Hadiraat sontak tertawa menyambut candaan beliau itu.

Dawuh beliau selanjutnya adalah perhatian pada keramahan dan kesantunan terhadap sekitar. Karena Rasulullah pernah menyiratkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang mampu membangun hubungan baik dengan manusia lain, lebih-lebih tetangga.

Dalam kesempatan itu, beliau mengungkapkan rasa terima kasih kepada para ulama, karena telah dengan susah payah menjaga kemurnian ilmu. Membangun rumah mudah, ujar beliau, namun membangun pesantren tidak bisa dibandingkan dengan itu.][