Tag Archives: cerpen santri

Cerpen: Purnama Tanpa Bintang

Malam kian dingin. Bintang-gemintang menghilang satu-satu. Kabut mulai menyelimuti pedukuhan kecil itu. Rumah anyaman bambu di ujung dukuh begitu lenggang. Suara malam bersahutan riuh dengan ku-ku­ burung hantu dari rumpun bambu di belakang rumah.

            Sarindi terbangun. Titik-titik keringat di dahinya satu-dua mulai meleleh. Wajah ayunya pucat dengan pandangan nanar. Baru satu jam dia terlelap, namun mimpi-mimpi itu hadir lagi. Desahan napas tertahan bercampur tetesan peluh dalam dinginnya udara malam, mengiringi gerakan ritmis dua insan yang coba menggapai nirwana. Sarindi begidik! Mengingatnya membuat tubuh dengan perut yang mulai membuncit itu bergetar. Dipeluknya tubuh berbalut daster itu. Begitu erat! Mencengkeramnya, berharap tubuh hina itu remuk tak bersisa. Dan air matanya pun ikut membanjir, menggigil, meraung dalam tangisan pilu tanpa suara. Satu lagi, malam-malam yang dia lalui dengan sejuta sesal.

            Keesokan harinya Sarindi berjalan ke rumah Sang Sesepuh di dampingi ibunya. Wajahnya begitu tenang meski kantung mata menggantung disana. Dia berjalan selangkah demi selangkah dengan seribu keyakinan yang tak tergoyahkan.

            Sutri memucat, gemetar menggandeng erat tangan anak semata wayangnya. Seolah dia tengah digiring ke tiang gantungan. Berkali-kali dia membujuk anaknya itu semenjak subuh-subuh tadi saat mengutarakan keputusannya. Namun sedikit pun anaknya tak goyah. Saat dia terpukul akan nasib anaknya dengan linangan air mata, suaminya hanya terdiam mendengar keputusan itu dan memutuskan pergi ke sawah lebih pagi tanpa sepatah kata.

            “Tidakkah kita pulang saja, Sarindi?”

            Sarindi tak menjawab. Langkah kakinya kian mantap. Lagi-lagi Sutri mengusap matanya yang sudah teramat sembab. Malu, marah, luka, sedih, kehilangan, semuanya campur aduk jadi satu. Masalah ini begitu membingungkan. Mau bagaimana lagi? Saat takdir sudah menggariskan seorang janda muda yang ditinggal mati suaminya yang mandul, tergoda janji-janji busuk pemuda tampan dukuh sebelah yang entah dimana sekarang dia berada!

            Sang Sesepuh di dalam kamar saat Drapto, salah seorang muridnya, mengetuk pintu kamar. Dengan langkah yang termakan usia, Sang Sesepuh menemui Sarindi dan Sutri yang tengah bersimpu di atas tikar pandan di ruang depan.

            “Sepagi ini, ada maksud apa kalian kemari?” tanya Sang Sesepuh dengan lantang setelah duduk bersila di depan mereka. Hati Sang Sesepuh amat janggal. Perasaan aneh tiba-tiba menerkamnya.

            Sarindi angkat bicara. Dengan begitu gamblang dia mengakui semua yang telah diperbuatnya pada Sang Sesepuh.

            Sang Sesepuh diam sejenak setelah mendengar penjelasan Sarindi, “Apa kau yakin?” Harusnya Sang Sesepuh tak perlu lagi bertanya. Dari tatapan mata Sarindi, caranya bertutur dan ketenangan yang menyelimutinya, dia tahu perempuan itu lebih dari sekedar yakin. Dia benar-benar siap.

            “Hari ini aku telah datang ke rumahmu, maka biarlah aku menjalani apa yang memang harus aku jalani!” ucap Sarindi mantap. Sutri hanya menunduk di sebelah Sarindi.

            “Baikllah! Sutri, jaga anakmu baik-baik. Saat waktunya tiba, bawalah dia kemari. Dan sekarang, pulanglah!”

            Sutri mengangangguk murung. Hari itu takdir telah mencatatnya untuk berjumpa dengan sebuah perpisahan.

            Waktu terus berlalu seiring dengan perut Sarindi yang makin membesar. Kabar itu sudah mulai menyebar. Sutri jadi jarang keluar rumah, tak tahan mendengar cemooh dan pertanyaan-pertanyaan menohok yang menusuk telinga. Sedangkan suami Sutri kini benar-benar menutup mata, telinga dan hatinya. Dia berangkat ke sawah tiap subuh dan pulang saat petang menjelang, seolah tak pernah terjadi apapun.

            Sarindi hanya berdiam di dalam rumah. Sesekali duduk-duduk di teras depan rumah. Hari-hari terasa amat lamban. Tiap detik yang berlalu membuat jantungnya berdetak lincah. Dia sudah tidak sabar lagi menunggu hari yang dinanti-nanti.

Malam itu tepat ketika bulan purnama bersinar terang bagai raja diatas singga sana. Dibantu Sutri, susah payah Sarindi melahirkan putranya. Dengan keringat yang masih menetes, Sarindi mencium bayi mungil yang dibaringkan di sampingnya.

            “Anak kamu ganteng, Sari!”

            Sarindi tersenyum. “Iya, bu. Beri nama dia “purnama”, bu! Karena dia begitu tampan, indah seperti bulan purnama!”

            Genap empat puluh hari setelah kehadiran Purnama, akhirnya Sutri akan benar-benar kehilangan dalam hidupnya. Suratan takdir benar-benar akan terjadi. Subuh-subuh dia melihat Sarindi memeluk erat Purnama dalam gendongannya. Sutri tahu, itu adalah hari terakhir Purnama bertemu ibunya, juga hari terakhir Sutri melihat wajah ayu anaknya.

            Pagi itu Sarindi sungkem pada kedua orang tuanya, mengutarakan seribu kata maaf dengan cucuran air mata. Setelah sekali lagi mencium putranya Sarindi benar-benar tak sabar lagi. Dengan tangan yang diikat menggunkan lengan bajunya, dia berjalan menyusuri jalanan pedukuhan diiringi kedua orang tuanya. Penduduk yang melihatnya langsung ikut mengiring Sarindi. Mereka tahu, ini adalah harinya, upacara adat akan segera dilaksanakan. Sebagian menggunjing, sebagian ikut berduka.

            Dengan iringan penduduk yang makin banyak, Sarindi sampai di rumah Sang Sesepuh. Mendengar keramaian, Sang Sesepuh keluar rumah. Kepada Drapto, Sang Sesepuh menyuruh untuk mengarak Sarindi ke lapangan dan menggali lubang sedalam dada disana. Tak perlu dua kali, Drapto segera menjalankan perintah.

            Pukul sembilan pagi. Seluruh penduduk berkumpul di lapangan, meninggalkan semua aktifitas untuk sebuah upacara adat. Di tengah lapangan Sarindi telah dikubur sebatas dada. Sang Sesepuh membuka upacara adat itu, penduduk berkerumun memutari Sarindi dengan jarak yang telah ditentukan, membawa bongkahan-bongkahan batu sekepalan tangan. Dan saat Sang Sesepuh memberi aba-aba, penduduk mulai melempari Sarindi dengan batu!

            Sutri menjerit, melengking tinggi ditengah keramaian, meronta-ronta dalam pelukan suaminya. Hatinya remuk melihat nasib anak semata wayangnya.

            Di sela jerit tangis Sutri dan gemuruh lemparan batu penduduk, Sarindi menunduk, begitu takzim merasai setiap jengkal rasa. Tanpa ada seorang pun yang tahu, Sarindi tersenyum begitu indah. Senyuman paling indah dalam hidupnya. Dia begitu bahagia. Akhirnya, hari yang dinanti-nanti telah tiba! Semerbak wewangian bunga menyusup kedalam hidungnya. Matanya menangkap cahaya putih yang menyilaukan. Sarindi menangis, sebuah senyuman dengan tangisan bahagia. Hari ini, dia benar-benar akan kembali, menginggalkan jeritan ibunya yang samar-samar menghilang dan bayangan sosok Purnama yang kian memudar.

            Malam harinya Sutri memeluk Purnama yang terlelap di pangkuannya. Menatap kosong jalanan gelap. Sesekali matanya basah, meratapi perpisahannya dengan Sarindi.

            Angin berhembus kian dingin membawa kabut malam. Langit tampak indah berhiaskan purnama. Namun, malam ini tak satu pun bintang-gemintang terlihat. Hanya purnama sendiri di atas sana yang bersinar. Sendirian. Dia benar-benar telah kehilangan bintang-gemintangnya![]

Penulis: San Bashori (Penulis adalah santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri sejak 2015 hingga sekarang).

Baca juga: Nasehat Hidup dalam Ilmu Nahwu.

Simak juga: Hakikat Ulama ; KH. Aziz Manshur

Sinergi Ulama dan Umara

Secara kodrati, manusia membutuhkan makan, minum dan kebutuhan jasmani lainnya. Ditinjau dari segi emosi, manusia menginginkan rasa aman, tenteram dan bahagia. Dari segi sosial, manusia cenderung untuk bersama, berkumpul dan bermasyarakat.

Dorongan mental manusia menginginkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Dengan spiritual, manusia membutuhkan atau memerlukan satu kekuatan diluar dirinya yang sifatnya gaib, yaitu Dzat Yang Maha Kuasa.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut mutlak untuk diperoleh dan dipenuhi. Jika ada diantaranya yang tidak terpenuhi, maka akan memberikan efek kurang baik, karena kebutuhan itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Adanya berbagai macam dorongan ini, terutama dorongan yang bersifat spiritual menunjukkan bahwa secara kodrati manusia mempunyai cetak dasar untuk percaya kepada Tuhan. Jika ada manusia yang mengaku tidak percaya kepada tuhan, maka manusia tersebut telah mengingkari kodratnya, mengingkari fitrahnya.

Dalam banyak hal memang seorang manusia tidak perlu membuat jalan sendiri untuk memecahkan suatu masalahnya, ia cukup melihat bagaimana orang lain menyikapi dan menyelesaikan masalah itu, dan kemudian ia tinggal mencontohnya.

namun disaat yang lain, manusia benar-benar tidak punya pilihan sama sekali hingga ia benar-benar sadar bahwa ia telah jatuh dan tidak mungkin bangkit lagi. Keadaan-keadaan tersebut riil terjadi dalam diri manusia.

Hal ini terjadi karena alam bawah sadar manusia tidak bisa menyangkal adanya kebutuhan terhadap Dzat yang transenden, sebagai sandaran diri manusia ketika dirinya tidak menemukan jawaban sebagai jalan keluar menyangkut keterbatasan dirinya.

Manusia selalu mempunyai pengharapan sebagai refleksi keterbatasan dirinya dan mengharap terhadap suatu Dzat yang lebih mampu untuk menolong, sebagai contoh, setiap orang pernah berkata “mudah-mudahan selamat” dan “semoga mendapatkan rejeki yang banyak”.

Atas dasar inilah kebutuhan manusia atas tuhan mutlak diperlukan. Sebagaimana dalam firman Allah :

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S Yunus : 12)

Dari kepercayaan tuhan inilah agama mulai terlembagakan, karena sudah terbentuknya sebuah konsep agama, yaitu berupa manusia (penyembah), Tuhan (yang disembah) dan sebuah aturan ataupun qanun. Beragama berarti mempercayai hal gaib dan sakral beserta aturan yang mengikat secara individual  maupun komunal.

Dengan agama serta penghayatan dan perealisasiannya secara totalitas, maka moralitas manusia akan terbangun. Hal ini dikarenakan prinsip seluruh agama mengajarkan kebaikan baik secara vertikal maupun horizontal.

Agama mampu menghadirkan dampak individual dalam bentuk ketenangan jiwa, kerelaan hati, spirit berbuat baik dan benar dalam rangka pengabdian, sehingga menjadi sesuatu yang mendasar dalam bingkai hubungan antara pencipta dan makhluk.

Sedangkan dalam ranah komunal, agama mampu membangun struktur hubungan kemasyarakatan yang harmonis dan sehat dengan prinsip kebersamaan dalam hubungan horizontal sebagai sesama makhluk tuhan.

Maka idealnya agama bisa menjadi jembatan dalam menampung dan menerjemahkan kearifan universal dalam tatanan komunitas setiap masyarakat, yaitu dengan keselarasan dan keharmonisan hubungan antara individu dapat diraih.

Dari pemaparan tersebut tidaklah mengherankan jika aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan institusi budaya yang lain.

Ekspresi religius ditemukan dalam dalam budaya material, perilaku manusia, nilai, moral, sistem keluarga, ekonomi, hukum, politik, pengobatan, sains, teknologi, seni, pembrontakan, perang dan lainnya. Hal ini karena pengaruh dan implikasi agama sangatlah luas bahkan merasuk dalam kehidupan manusia.

Secara individual agama berfungsi sebagai sumber kekuatan moral yang ampuh. Ajaran agama mendorong orang berbuat baik. Menjauhkan diri dari kejahatan dan hawa nafsu, mengejar ketentraman dan keselamatan didunia maupun akhirat.

Karena agama selalu memotivasi orang untuk mengamalkan kebaikan kepada sesama dalam semangat mengabdi kepada Yang Maha Kuasa.

Manusia sendiri pada dasarnya memiliki fitrah untuk menyukai hal yang baik dan membenci hal buruk. Atas dasar inilah manusia membutuhkan sebuah petunjuk yang mampu memfilter semua kebaikan yang memang benar-benar mendatangkan maslahat yang hakiki bagi kedepannya.

petunjuk itulah yang dimaksud dengan istilah agama. Oleh karena itu untuk mengetahui dari istilah agama kita memerlukan seorang ulama yang mengarahkan dalam beragama, pula membutuhkan umara, sebab ulama dan umara merupakan instrumen penting dalam kehidupan manusia.

Ulama betapapun besar dan banyaknya tugas mereka, tetap saja mereka tidak boleh terpisah dari unsur penting lainnya, yakni umara. Keterkaitan mereka dengan para ulama sangatlah erat dan memiliki hubungan horizontal yang kokoh dalam menjalankan peran-perannya.

Peran ulama sendiri adalah menjaga syariat dari penyelewengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mis-interpretasi dari orang-orang bodoh. Rasulullah Saw. Bersabda ;

العلماء أمناء الله على خلقه

 

“Ulama adalah kepercayaan Allah atas makhluknya”

Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir mengatakan ; “kepercayaan” sebagai bentuk penjagaan ulama terhadap syariat dari distorsi takwil yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, mereka selalu bersikukuh dalam memegang masalah-masalah agama.

Selanjutnya ulama sebagai pengemban tugas para Rasul. Rasulullah Saw. Bersabda ;

العلماء أمناءامتي

 

“Para ulama adalah kepercayaan umatku”

Para ulama mempunyai tugas seperti halnya para Rasul yakni tugas menjaga ilmu dan menyebarkan kepada umat, amar ma’ruf nahi munkar. Ulama didepan umatnya diibaratkan seperti dokter dihadapan pasien, mengerti kondisi dan berapa kadar dosis obat dan sebagainya.

Sehingga dalam menyebarkan ilmu dan beramar ma’ruf nahi munkar, idealnya ulama juga harus mengerti keadaan umat secara menyeluruh. Lalu ulama juga sebagai suri tauladan bagi umat dalam perkataan dan perbuatan. Rasulullah Saw. Besabda ;

العلماء قادة والمتقون سادة ومجالستهم زيادة

 

“para ulama adalah penuntun, orang bertakwa adalah para pemimpin, majelis mereka adalah tambahan kebaikan”

Ulama mempunyai kewajiban menuntun, mendidik umat untuk mengetahui dan melaksanakan hukum-hukum syariat serta menjaga umat agar selalu lurus dijalan Allah Swt. Karena hanya dengan ilmu seseorang dapat mengetahui rahasia penciptaan. Sehingga dengan ilmu pula manusia dapat senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan.

Kemudian ulama pula sebagai rujukan umat dalam hal hukum-hukum syariat. konsensus mengenai keputusan sebuah hukum hanya diperbolehkan dari kalangan ulama. Karena para ulamalah yang dapat menggali hukum dari al-Quran dan Hadis.

Disisi lain, ulama dengan hati yang jernih dan pandangan yang jauh tentang kemaslahatan umat, mereka selalu menjadi rujukan dalam keadaan apapun. Namun, ada kaitannya pula dengan perannya umara. Umara adalah pemimpin untuk melayani, melindungi dan mengarahkan seluruh yang ada didalam negara, baik rakyat, keutuhan wilayah, termasuk keseluruhan harta kekayaan yang terdapat dalam wilayah negara tersebut.

Dengan demikian, memilih umara merupakan pokok, untuk menjamin berlangsungnya kehidupan manusia. Yang selaras dengan tujuan syariat, yaitu terpeliharanya lima hak dan jaminan dasar manusia. Yang meliputi, keselamatan keyakinan agama, keselamatan jiwa dan kehormatan, keselamatan akal, keselamatan keturunan, dan keselamatan hak milik.

Maslahat pada asalnya merupakan ungkapan tentang menarik manfaat dan penolak bahaya. Dan yang dimaksud dalam statemen ini bukan mewujudkan kehidupan mereka. Tetapi yang kami maksud tentang maslahat adalah proteksi (perlindungan) terhadap tujuan hukum yang ada lima tersebut.

Sehingga segala prinsip yang menjamin terlindungnya lima prinsip tersebut disebut maslahat. Sedangkan semua tindakan yang mengabaikan prinsip tujuan tersebut disebut kerusakan dan menolak kerusakan itu juga maslahat.

Oleh karena adanya umara itu juga sejalan dengan prinsip syariat (baca : ulama) maka dalam kitab-kitab tauhid Aswaja menegaskan bahwa menegakkan umara hukumnya wajib syar’i, karena Allah Swt. Sendiri yang telah menginstruksikan untuk mentaati hukum al-Quran, Sunnah dan pemerinah.

Walaupun membentuk umara itu wajib, tetapi tidak ada ketentuan seperti apa umara yang harus ditegakkan. Apakah berdasarkan syariat islam atau berdasar kesepakatan warga negara. Rasulullah sendiri ketika berada di Madinah tidak membentuk Umara Islam.

Oleh karena itu tugas utama kita adalah kesetiaan pada dua orang tersebut. Kesetiaan merupakan harga mati. Bukan demi keluhuran mereka berdua, tetapi demi tercapainya cita-cita bersama dan kemajuan negara.

Kalau ketaatan negara bersifat mutlak, sebaliknya, kesetiaan rakyat pada dua orang tersebut tidaklah buta. Kesetiaan itu hendaknya dipertimbangkan, karena seringkali pemerintah menghianati kepercayaan rakyat. Artinya kesetiaan dan loyalitas kita kepada keduanya sebatas pada permasalahan yang bersifat positif dan tidak melanggar syariat.

Bagaimana dengan indonesia kita ini?

Semarak wacana formalisasi syariat dan ide khilafah telah sampai pada tahap pro-kontra yang cukup tajam. Ironisnya, sejauh ini nuansa argumentasi yang dibangun kedua pihak terkesan tidak lagi diproyeksikan untuk berusaha meyakinkan pihak lain

Jika memang disepakati formalisasi syariat, maka teori syariat manakah yang akan diterapkan? Apakah Madzhab Salafi-Wahabi di Saudi Arabia yang mencabut ajaran-ajaran sebagaimana amaliah kaum Aswaja? Atau Madzhab Syiah yang telah  membunuh ratusan ulama dan umat islam, menghancurkan masjid-masjid Aswaja? Kemudian pemerintah yng berkuasa melakukan semua itu lagi-lagi atas nama agama.

Pertimbangan-pertimbangan diatas kian meyakinkan bahwa cita-cita untuk mendirikan khilafah akan membuahkan konsekuensi tersendiri, bukan hanya menyangkut penampilan wajah islam, namun juga menyangkut masyarakat, yang akan terseret pada konflik dan ketegangan dengan elemen bangsa yang lain.

Sebab mengingat dampak buruk yang ditimbulkan dalam aspek sosial, politik, ekonomi dan keamanan negara dalam pandangan Ahlussunnah Wal Jamaah, menghindari madlarat jauh lebih penting daripada mendapatkan sedikit kemaslahatan.

Sebaliknya, walaupun tidak mendapatkan sedikit kemaslahatan tetapi dapat menghindari kemudlaratan yang lebih besar merupakan sebuah kemaslahatan yang besar. Wallahu A’lam[]

__________________

Oleh : Miftahul Jannah

Asal : Bekasi

Kamar : A.05, P3HM

Kelas : 1 Tsn bagian A

 

Sebagai Juara Ketiga Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra

 

Cangcut Tali Wondo

Udara pagi masih seperti biasa. Sedikit lebih dingin, karena selain musim penghujan, daerahku termasuk perbukitan. Jika kalian main ke daerahku, ku jamin, kalian betah berminggu-minggu. Mungkin sampai berbulan-bulan. Coba saja kalian bayangkan. Di saat keadaan kota sudah tidak ‘kondusif’, di desaku tetap aman. Belum lagi udaranya yang sesak dengan kepulan asap. Tidak perlu berpikir ribuan kali untuk menancapkan kepercayaan. Jangankan hanya menitipkan kunci rumah, jabang bayi yang masih imut saja, belum pernah tuh ada kejadian dibawa kabur saat dititipkan. Keadaan di kota berbalik sekian derajat dibandingkan daerahku. Keadaan kota sudah tidak ‘aman’, mungkin ini hanya persepsiku. Tapi, begitulah yang diberitakan salah satu koran harian kota, bungkus gorengan yang tiap sore ku baca dikebun.

Meskipun desa, fasilitas desaku tidak kalah saing. Sama seperti di kota. Ada air, udara, dan tanah, sebuah ketentuan dari-Nya demi kelangsungan hidup manusia. Belum lagi mentarinya. Yang kala pagi dengan indahnya menyembul dari balik kebun ketela orang tuaku. Dan taukah kalian, saat petang datang, dia seakan berkata dari balik kolam lele di belakang rumah, “Selamat tinggal Shalehah. Sampai berjumpa besok. Karena sebentar lagi giliran bulan menemani waktu istirahat bani adam dan menyahdukan mereka yang bermunajat pada Tuhan Sang Pencipta kita.”

Hemm… Tapi harus ku akui, mungkin keindahan itu sudah tak berarti bagi penduduk kota. Mungkin juga keindahan diartikan lain oleh mereka. Karena masih menurut koran yang ku baca, pemandangan kota adalah kaki semampai tak berbungkus, pusar tersenyum dibawah t-shirt yang dipaksakan menempel badan, atau juga kemilau rambut rebonding-an. Aku tidak bisa membayangkan semua itu. Karena terus terang, sampai sekarang, saat aku yang semestinya sudah duduk dibangku kelas sembilan, jangankan pusar, rambut yang menari ke sana-kemari saja belum pernah ku perlihatkan. Meskipun jujur, masyarakat sini, termasuk aku sendiri tidak tahu apakah berjilbab sebuah tradisi orang Arab atau tidak, seperti kabar dari koran. Rasanya tidak sreg saja kalau tidak menutup kepala.

“Leha, udah sore. Pulang yuk. Bacanya dilanjutin di rumah saja.”

“Iya Kak. Kakak duluan aja. Nanggung nih…”

“Ye… Dibilangin ngeyel. Ayo… Ntar ada memedi, baru tau rasa.”

Tanpa berpikir lagi, akupun langsung jalan di belakang kakak tercintaku. Entahlah, apa maksud memedi yang tiap hari Mas Arsal bicarakan kalau aku sedikit membandel. Kalau di kota, mungkin memedi hanya jadi bahan banyolan.

Seperti biasanya, sehabis tidur siang, tepatnya setelah bayangan matahari melewati objeknya, saat di mana salat ashar masuk, aku menyusul kakak dikebun. Aku salat ashar berjamaah dengan ibu, hanya berdua. Karena ayah jamaahnya dengan kakak, di kebun. Sedang ibu memasak setelah salat, aku kebagian memanen sayuran di kebun buat esok harinya. Kebetulan tadi aku di suruh metik bayam. Setelah tugas selesai, seperti biasa, aku membaca koran bekas bungkus gorengan yang dibeli ibu tadi pagi di pasar.

Pernah aku bertanya pada ibu kenapa kalau salat keluargaku selalu berjamaah. Ibu malah menjawab, “Jadi anak muda tuh jangan banyak tanya, tidak baik. Dari dulu, orang tua ibu juga selalu berjamaah. Ibu yakin, itu lebih baik daripada salat sendirian.” Waktu itu aku langsung berpikir, kok jawaban ibu tidak nyambung.

Dan ternyata benar apa yang dikatakan ibu. Hal itu terbukti sekitar setahun yang lalu. Ketika ada kegiatan safari daerah di desa sebelah. Aku masih ingat waktu itu. Sore itu langit sedikit mendung. Kira-kira sekitar jam lima. Waktu maghrib masih lumayan lama. Sedang asyik-asyiknya baca koran, aku dikejutkan pemuda yang datang dari ujung kebun ketela. Sempat aku merinding. Karena selain wajahnya asing, tampangnya bikin hati gregetan.

“Mas, dari mana?” Mas Arsal yang ternyata juga tahu kedatangannya lebih dulu menghentikan langkah si pemuda.

Sedikit terbata-bata si pemuda menjawab pertanyaan Mas Arsal. Ku hentikan bacaanku. Karena jujur saja, aku juga penasaran dengan si pemuda. Sembari pura-pura membaca, aku fokuskan telingaku mendengar percakapan mereka.

Kalau tidak salah dengar, namanya Hasan. Meskipun masih terbilang muda, mungkin baru kelas dua belas, dia ternyata seorang ustadz. Dia berdomisili di desa sebelah, di rumah warga yang dekat dengan musholla. Katanya sih, dia diutus pondok pesantrennya menyebarkan apa yang telah dia dapatkan di pesantren. Namanya program safari ramadhan. Tidak begitu lama dia ngobrol dengan kakak. Tapi obrolan sesaat itu sangat bermanfaat bagiku. Remaja yang sedang dibakar keingintahuan dan penasaran.

Sesaat kemudian, rimbunan kebun pisang menutup punggung Kang Hasan yang sore itu terbungkus kemeja putih. Barisan pisang yang baru mulai berbuah itu terus aku pandang. Berharap kang Hasan kembali. Bukan maksud apa-apa, sekedar ingin tahu kenapa kita harus salat berjamaah.

Sudah tiga hari aku tidak keluar rumah karena hujan terus turun. Jenuh rasanya bila cuaca seperti itu. Pekerjaanku diambil alih oleh kakak. Selama tiga hari dia menggantikanku memetik sayuran. Bukannya aku malas, tapi kata ibu, daripada nanti sakit. Mending yang belanja ke pasar ayah dan yang mengambil sayuran di kebun kakak. Ah… mendengar ibu berkata seperti itu, aku jadi malu pada diriku sendiri. Karena aku masih ingat, betapa dulu aku menyangka kedua orang tuaku tidak lagi sayang sama anak gadisnya ketika mereka suruh aku memetik sayur. Ternyata benar kata seorang psikolog, yang kemarin pagi aku baca dikoran: ‘remaja cenderung semaunya, tidak berpikir dua-tiga kali sebelum bertindak.’

Kejenuhanku sebenarnya bukan karena hujan yang mengakibatkan aku tidak bisa menikmati petang dengan membaca koran di kebun. Bukan pula karena sudah tiga hari ini menjalankan puasa Ramadhan. Tapi rasanya, kejenuhanku karena satu hal. Aku ingin segera ke kampung sebelah, mengikuti kegiatan santri yang sedang safari Ramadhan.

Tuhan selalu mendengar doa hamba-Nya. Ya, aku yakin. Karena tanpa disengaja, aku bisa mengikuti ceramahnya kang Hasan. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Setelah acara selesai, ditemani Mas Arsal, kami bertiga berbincang-bincang. Dan setelah Mas Arsal menyampaikan kegelisahanku, kang Hasan memberikan jawaban yang sungguh sangat memuaskan. Tidak dapat aku rangkum kalimat darinya, terlalu panjang. Yang jelas pada intinya, serahkanlah permasalahan pada ahlinya. Tidak usah neko-neko atau banyak bertanya. Kalau tidak salah, di pesantrennya dikenal dengan istilah taklid atau mengikuti apa yang telah digariskan ulama-ulama terdahulu. Karena sungguh sangat mustahil jika harus menggali hukum langsung pada sumbernya: Alquran dan sabda Nabi Muhammad Saw.

“Tuh kan, dik… Kata kakak juga apa. Kita tinggal nurut saja dengan apa yang dilakukan ibu dan bapak. Tidak perlu tau dalil Alquran dan hadisnya. Yang penting segala aktifitas ibadah kita mengikuti ulama-ulama yang telah diakui kebenarannya, tanpa harus tahu dalilnya,” kata Mas Arsal waktu pulang dari pengajian.

*****

Kira-kira sebulan sudah udara dingin tidak kurasakan. Disamping pesantrenku bukan kawasan pegunungan, kamarku yang tidak terlalu lebar dihuni 20 orang. Kalau tidur, semuanya harus berjejer rapi. Karena kalau tidak, pasti ada yang tertindih. Dan ternyata, menurut penilaian sementaraku, tidak semuanya teman-teman disini murni ingin mencari ilmu pengetahuan, beragam niat. Malahan ada yang memilih nyantri daripada harus dinikahkan dengan orang yang tidak disukainya. “Ah, dasar orang kota!” batinku mengumpat.

Dengan suasana seperti tni, aku tidak tahu sampai berapa lama bertahan. Iya sih, sangat menentramkan jika berkumpul bareng Bu Nyai. Jangankan waktu berbincang, memandangnya saja ada rasa yang tak bisa aku lukiskan. Belum lagi ilmu yang aku terima. Baru sebulan saja, aku sudah banyak kemajuan. Sayang jika semua ini harus aku tinggalkan.

Ah, ternyata benar apa santri yang mampu menginspirasiku untuk pergi menuntut ilmu, tiga bulan lalu. “Satu hal yang harus kamu ingat jika kelak menjadi santri. Kamu harus siap ‘menderita’.”

Entahlah, apa arti menderita yang dimaksud kang Hasan. Yang jelas, aku harus siap-siap. Di samping katanya kegiatan pesantren semakin hari makin banyak, aku harus selalu siaga jika Bu Nyai sewaktu-waktu memanggilku untuk setor hafalan. Karena tahukah kalian, ternyata membaca Alquran ditemani rembulan jauh lebih nikmat daripada membaca koran bekas bungkus gorengan di kebun belakang rumahku. Pujiku hanya pada-Mu, Tuhan sang pemberi hidayah lewat perantara kang Hasan.

Penulis: Alfa RS