Tag Archives: Covid 19

Khutbah Idul Fitri di Rumah

Kesabaran Kunci Kebahagiaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَكْبَرُ 1  اَللهُ أَكْبَرُ 2  اَللهُ أَكْبَرُ 3  اَللهُ أَكْبَرُ 4  اَللهُ أَكْبَرُ 5  اَللهُ أَكْبَرُ 6  اَللهُ أَكْبَرُ 7  اَللهُ أَكْبَرُ8  اَللهُ أَكْبَرُ 9

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالحَمدُ لِلّهِ كَثِيرًا,  وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لَآ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ, صَدَقَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَآ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّين  وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, وَمَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَخْشَى إِلَّا اللهَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ وَاصْطَفَاهُ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَ النَّاسُ التَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسلِمُونَ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ يَومَكُمْ هَذَا يَومٌ عَظِيمٌ وَعِيدٌ كَرِيمٌ, أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيهِ الطَّعَامَ, وَحَرَّمَ عَلَيكُمْ الصِّيَام. فَهُوَ يَومُ تَسبِيحٍ وَتَهْلِيلٍ وَتَمْجِيدٍ وَتَعْظِيمٍ, فَسَبِّحُوا رَبَّكُمْ وَعَظِّمُواهُ وَتُوبُوا إِلَيهِ وَاستَغْفِرُوهُ فَإِنَّهُ  هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Keluargaku tercinta jama’ah sholat idul fitri yang berbahagia,

Marilah kita selalu bersyukur kepada Allah Swt. karena kita bisa menempuh satu bulan yang sangat mulia. Keimanan dan ketakwaan mari terus kita tingkatkan, sebagai buah dari puasa yang telah kita laksanakan.

Keluargaku yang berbahagia,

Lebaran kita saat ini tidaklah seperti lebaran kita pada saat sebelum-sebelumnya. Yang semula kita bisa berkunjung ke rumah sanak saudara, sekarang kita dianjurkan untuk tidak ke mana-mana. Yang semula kita bisa berjama’ah di masjid bersama-sama, sekarang kita berjama’ah di rumah saja. Pendapatan rezeki kita yang semula melonjak, sekarang pendapatan kita berhenti sejenak. Memang, semua kelihatannya sedang serba keterbatasan. Akan tetapi di balik itu semua ada banyak hikmah yang berkelimpahan. Di antaranya adalah melatih kita kesabaran.

Kesabaran itu bukan berarti berhenti mengais rezeki di tengah pandemi.
Kesabaran itu bukan berarti hanya menunggu tanpa mencari ide yang baru.
Kesabaran itu bukan berarti berhenti berbuat baik di saat kondisi paceklik.

Lalu apa sebenarnya makna kesabaran itu?
Syaikh Jamaluddin dalam kitab mau’idzotul mukmininnya mengungkapkan,

اِعْلَمْ أَنَّ الصَّبْرَ عِبَارَةٌ عَنْ ثَبَاتِ بَاعِثِ الدِّينِ فِي مُقَابَلَةِ بَاعِثِ الْهَوَى

Ketahuilah bahwasannya kesabaran adalah ungkapan dari ketetapan kita untuk melakukan hal-hal yang dapat membangkitkan syiar agama, yang merupakan lawan dari hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu.

Jadi, usaha kita mengais rezeki untuk menghidupi keluarga meski di tengah pandemi merupakan bentuk kesabaran kita. Diriwayatkan bahwa Rasulallah Saw. berjalan bersama sahabat-sahabatnya dan bertemu dengan seorang lelaki yang pagi-pagi sekali telah bekerja. Terlihat dari kulit dan tingkat kerajinan bekerja menunjukkan dia tampak sudah lelah. Kemudian para sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, apakah pekerjaan ini termasuk perjuangan meluhurkan Agama  Allah?” Lalu Rasulullah Saw. menjawab,

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ. وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْهِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ. وَإِنْ كَانَ يَسْعَى لِيَكُفَّ نَفْسَهُ عَنِ المَسْأَلَةِ فَهُوَ فِي سِبِيلِ اللهِ.

“Apabila dia bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka dia termasuk berjuang meluhurkan Agama Allah Swt., apabila dia bekerja untuk kedua orang tuanya maka dia termasuk berjuang meluhurkan Allah Swt., dan apabila dia bekerja untuk dirinya agar tidak meminta-minta maka dia termasuk berjuang meluhurkan Agama Allah.” (HR. Ath-Thabrani)

Ketika pekerjaan yang kita lakukan tidak sesuai dengan kondisi saat ini, maka mencari inovasi atau ide-ide yang baru supaya kerja kita lebih profesional, itu  juga merupakan bentuk kesabaran kita.

Rasulullah SAW Bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ.  (رواه الطبرني والبيهقي

Dari Sayidah Aisyah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No: 334)

Memberi bantuan kepada orang lain juga merupakan bentuk kesabaran.
Dari Abi Hurairah Ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.
اَلْحَدِيث

“Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu sesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.” (Al-Hadits)

Jadi itu semua adalah contoh-contoh kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Orang-orang yang sabar itu akan mendapatkan banyak sekali kebaikan dan derajat yang luhur. Allah menyebutkan tentang kesabaran sekitar 70 tempat dalam  Al-Quran. Di antaranya adalah:

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓا۟ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl: 96)

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Sesungguhnya (pertolongan) Allah beserta  orang-orang yang sabar” (Q.S. Al-Baqarah: 153; Al-Anfal: 46)

Ada banyak sekali Hikmah dari kesabaran yang bisa kita peroleh.

Oleh karena itu, Keluargaku tercinta, pada hari yang fitri ini, marilah kita memfitrahkan atau mensucikan hati kita sehingga tumbuhlah sifat kesabaran dalam diri kita.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيمِ. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنْ آيَةٍ وَذِكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
وَأَقُولُ قَوْلِ هَذَا فَاسْتَغْفِرُوا اللهَ العَظِيمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KE 2

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أما بعد فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَتْبِعُوا رَمَضَانَ بِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَكُونَ لَكُمْ كَصِيَامِ الدَّهْرِ وَصَلِّ اللهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا أَمَرْتَنَا، فَقُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ،

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Hukum Merenggangkan Shaf Jamaah di Tengah Pandemi Corona

Pada wilayah yang masuk kategori aman dan menyelenggarakan salat Jumat atau salat jamaah seringkali ditemukan pengaturan barisan (shaf) salat renggang dengan jarak minimal 1 meter. Sehingga tak heran menyisakan pertanyaan apakah hal tersebut dilegalkan.

Dalam tata aturan salat Jamaah, para jamaah dianjurkan untuk menertibkan barisan (shaf) dengan lurus dan rapat serta memprioritaskan barisan depan. Namun dalam keadaan tertentu, merenggangkan barisan salat diperbolehkan apabila dengan merapatkannya justru dikhawatirkan akan memberatkan atau berdampak buruk pada orang lain.

Sayyid Muhammad Syato ad-Dimyathi menjelaskan:

وَكُرِهَ لِمَأْمُوْمٍ انْفِرَادٌ عَنِ الصَّفِّ الَذِي مِنْ جِنْسِهِ إِنْ وَجَدَ فِيْهٍ سِعَةً بَلْ يَدْخُلُهُ وَشُرُوْعٌ فِي صَفٍّ قَبْلَ إِتْمَامِ مَا قَبْلَهُ مِنَ الصَّفِّ (قوله: إن وجد فيه) – أي الصَّفِّ – سِعَةً، بِأَنْ كَانَ لَوْ دَخَلَ فِي الصَّفِّ وَسِعَهُ، مِنْ غَيْرِ إِلْحَاقِ مَشَقَّةٍ لِغَيْرِهِ،

“Dan dimakruhkan bagi makmum untuk menyendiri dari barisan yang masih longgar akan tetapi ia dianjurkan untuk mengisinya dan makruh membuat barisan sebelum barisan sebelumnya sempurna. Keterangan apabila di dalam barisan masih longgar ialah sekiranya apabila seseorang mengisi kelonggaran tersebut akan memuatnya tanpa adanya rasa terganggu bagi orang lain.” (I’anah at-Thalibin, II/30).

Menurut sebagian ulama, hukum makruh yang disebabkan tidak teratur dalam merapatkan barisan (shaf) akan hilang apabila adanya uzur, semisal menjaga diri dari potensi penyebaran virus corona. Sayyid Muhammad Syato ad-Dimyathi melanjutkan:

إِنْ كَانَ تَأَخُّرُهُمْ لِعُذْرٍ كَوَقْتِ الْحَرِّ بِالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، فَلَا كَرَاهَةَ، وَلَا تَقْصِيْرَ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ.

“Apabila seorang makmum yang sengaja mundur dikarenakan uzur seperti musim panas di Masjidil Haram maka tidak makruh. Begitu juga ketika tidak ada kecerobohan di dalamnya.” (I’anah at-Thalibin, II/31).

Baca juga:
TIGA BUKU BARU TERBITAN MA’HAD ALY LIRBOYO


Hukum Salat Menggunakan Masker

Di tengah wabah virus corona atau covid-19, penggunaan masker merupakan hal yang sangat lumrah di kalangan masyarakat, bahkan pada saat salat sekalipun.

Pada dasarnya, memakai penutup mulut ketika salat, seperti masker dan semacamnya, hukumnya adalah makruh berdasarkan hadis berikut:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah Saw. melarang seseorang menutup mulutnya ketika salat.” (Faidah al-Qadir, VI/315)

Imam Nawawi menegaskan:

وَيُكْرَه أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَمِهِ فِي الصَّلَاةِ إلَّا إذَا تَثَاءَبَ فَإِنَّ السُّنَّةَ وَضْعُ الْيَدِ … وَهَذِهِ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ لا تمنع صحة الصَّلَاةِ

“Dan dimakruhkan menurut mulut dengan tangan dalam salat kecuali saat ia menguap… Makruh di sini adalah makruh tanzih (tidak haram) sehingga tidak menghalangi keabsahan salat.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, III/719)

Meskipun demikian, jika pemakain masker dalam salat sangat dibutuhkan, seperti karena khawatir terpapar virus corona, maka hal itu tidak masalah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah:

أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ عَلَى الْمَرْأَةِ أَنْ تَكْشِفَ وَجْهَهَا فِي الصَّلاَةِ وَالإِْحْرَامِ، وَلأَِنَّ سَتْرَ الْوَجْهِ يُخِل بِمُبَاشَرَةِ الْمُصَلِّي بِالْجَبْهَةِ وَيُغَطِّي الْفَمَ ، وَقَدْ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُل عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ كَحُضُورِ أَجَانِبَ، فَلاَ كَرَاهَةَ

“Para ulama sepakat bahwa wanita harus membuka wajahnya ketika salat dan ihram. Karena sesungguhnya penutup wajah itu menghalangi seseorang yang melaksanakan salat (untuk menempelkan) secara langsung dahi dan hidung serta dapat menutupi mulut. Nabi Saw. juga melarang seorang laki-laki melakukan hal itu. Jika ada kebutuhan, seperti adanya laki-laki lain (bukan mahramnya bereda di dekatnya ketika salat), maka tidak makruh.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXXI/136)

Dengan demikian, menutup mulut menggunakan masker apabila ada kebutuhan semisal mengantisipasi penyebaran virus corona atau covid-19 diperbolehkan.
waAllahu a’lam.