Tag Archives: Dai

Betapa Santri Harus Jadi Dai Setiap Hari

Santri seharusnya menyadari statusnya yang religius itu. Salah satu konsekuensinya adalah dia harus menjadi dai dalam kesehariannya. Mendai yang harus disandang santri itu bukan hanya diamalkan ketika di pesantren, tapi hidup di tengah masyarakat. Mendai atau menjadi juru dakwah harus melekat pada sanubari santri. Hati dan pikirannya harus senantiasa tertambat pada tugas suci dan mulia yang disandangnya itu. Dia pun dituntut menampilkan dirinya sesempurna mungkin untuk mendukung tugasnya sebagai dai.

Untuk menyukseskan tugasnya sebagai dai itu, paling tidak santri harus menjalankan misinya sebagai dai dalam tiga bidang dakwah. Pertama, da’wah bil hal. Syiar Islam di bidang ini banyak menuntut santri untuk berperilaku dan bersikap yang mencerminkan muslim yang seideal mungkin. Misalnya, dalam berpakaian, dia tidak mengumbar auratnya. Maka, tidak pantaslah santri di mana pun dia berada memakai celana jeans yang lubang di bagian lututnya. Dalam bertutur kata pun, dia harus sopan, lemah lembut, sangat berkesan, berbobot, dan kriteria keindahan ucapan lainnya sehingga menjadi qaulan tsaqiilaa. Demikian pula dalam bertingkah laku, santri harus berusaha semaksimal mungkin untuk meneladani akhlaaqul kariimah sebagaimana akhlak Rasulullah saw. Begitu pula ucapan dan perbuatannya satu. Artinya, lisannya klop dengan isi hatinya.

Dengan dakwah berupa tingkah laku itu, santri sebagai dai memiliki power yang luar biasa. Kekuatan ucapannya yang menyatu dengan hati dan perbuatannya dengam mudah menancap kuat ke dalam hati masyarakat yang didakwahi. Dakwahnya mengesankan sekali sehingga memotivasi audien untuk mengamalkan materi dakwahnya. Walhasil, dakwahnya sukses mengubah perilaku masyarakat menuju jalan lurus yang diridoi oleh Allah swt.

Bidang dakwah kedua adalah da’wah bil qalam. Dakwah ini berkaitan dengan dunia tulis-menulis. Artinya, materi dakwah yang disampaikan santri berupa karya tulis. Bentuk bisa opini, cerpen, feature (berita kisah), puisi, esai, artikel, dan lain-lain. Tulisannya juga bisa dimuat di majalah dinding, buletin, majalah, surat kabar, atau di media online.

[ads script=”1″ align=”center”]

Otomatis, santri dituntut memiliki ketrampilan khusus tentang dunia tulis-menulis. Untuk itu, santri harus membekali diri dengan skill di bidang jurnalistik tersebut. Caranya bisa belajar secara otodidak, yaitu dengan membaca buku tentang teknis tulis-menulis. Buku-buku tentang how to dalam menulis yang baik itu sekarang dengan mudah diperoleh di toko buku. Penulisnya pun banyak dari pengarang yang telah berhasil menekuni bidang tersebut. Atau santri bisa mengikuti kursus tentang kepenulisan, baik di dalam kelas, workshop, seminar, atau lewat media on line. Itu juga mudah dilakukan.

Jika ketrampilan itu sudah didapat, santri akan dengan mudah menuangkan ide-ide dakwahnya dalam berbagai bentuk tulisan ke aneka bentuk media massa. Di sinilah, pentingnya kedamalan ilmu keislaman santri dalam mengulas materi dakwahnya. Makin mendalam ilmunya, makin bijaksana pula dia mengulas berbagai materi dakwahnya. Ini akan bermanfaat sekali dalam menarik minat masyarakat untuk membaca tulisan berkonten dakwah yang dia buat. Contoh konkrit adalah buku-buku tafsir ulama zaman dahulu. Sebut saja Tafsir Jalalain karya Imam Nawawi, Tafsir Al Azhar karya Hamka, dan lain-lain. Hasil tulisan para ulama itu begitu fenomenal sehingga mampu membekas dan memengaruhi umat Islam zaman sekarang sekali pun.

Bidang terakhir adalah da’wah bil lisaan. Bidang ini yang paling ngetren di masyarakat. Karena, begitu disebut kata “dakwah”, maka asosiasi mereka pasti siar Islam yang berupa pidato, orasi, atau ceramah agama. Dakwah bidang ini patut diperhatikan oleh santri karena inilah dakwah yang paling diminati masyarakat. Buktinya, betapa menjamurnya majelis taklim di kota-kota, baik yang diadakan oleh ibu-ibu PKK, muslimat, maupun oleh bapak-bapak.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang haus terhadap dakwah lisan ini, santri harus mempersiapkan diri untuk menjadi singa podium yang andal. Jadi orator yang ulung. Jadi penceramah yang profesional. Caranya adalah mengasah diri, khususnya dalam olah kata, intonasi, stressing (penekanan) kata-kata penting dalam berceramah, dan lain-lain.

Penampilan yang prima pun juga harus dibiasakan mulai dari sekarang. Misalnya, membiasakan diri berpakaian rapi, sudah disetrika, warna pakaiannya matching (sesuai; tidak norak), berbaju lengan panjang, dan lain-lain. Berlatih berbicara di depan cermin setiap hari. Latihan ini dimaksudkan agar dia bisa melihat penampilan dirinya sendiri ketika berbicara dengan gerak-gerik tubuhnya. Dari situ, dia kan tahu mana pose yang terbaik yang membuatnya percaya diri ketika berpidato. Ini semua perlu dibiasakan agar nanti jika sudah benar-benar tampil di masyarakat umum tidak canggung lagi.

Alangkah baiknya, santri yang sedang mempersiapkan diri menjadi orator ulung juga aktif dalam organisasi atau jam’iyyah, baik di lingkungan pesantren maupun masyarakat sekitar pesantren. Mengapa? Karena lewat organisasi itulah santri dilatih untuk berinteraksi dengan orang lain yang karakternya berbeda-beda. Di situ, dia akan diasah untuk berbicara dan berargumentasi dalam rapat di organisasi tersebut. Dengan begitu, dia akan terlatih berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Ketrampilan ini sangat bermanfaat ketika dia harus berdakwah sekaligus harus menjawab pertanyaan para jamaah.

Kiranya bijak jika santri sadar sejak awal bahwa dialah nantinya sosok dai yang sangat diharapkan dalam siarnya Islam. Maka, tidak ada jalan lain, santri harus mendai setiap hari, baik untuk dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya.[]

Penulis, Saiful Asyhad, pengajar kursus jurnalistik Pondok Pesantren Lirboyo

Diklat Kader Da’i ASWAJA

LirboyoNet, Kediri – Kamis (6/12/2012), mendung masih  menggantung di langit Kediri, awan gelap tidak kunjung reda. Termasuk pesantren kita, walau tadi pagi matahari menyapa namun tetap saja suasana kurang begitu hangat.

Siang itu, lembaga Ittihadul Muballighin untuk pertama kalinya mengadakan Diklat Kader Da’i Aswaja bertempat digedung belakang Aula Muktamar. Peserta dari  Perwakilan Siswa Kelas I dan II Aliyah.Tutor yang dihadirkan da’i muda Dr. Buya Yahya Ma’arif Pengasuh  Pondok Pesantren al-Bahjah Cirebon Jawa Barat.

Pukul 13.12 WIB acara dibuka dengan bacaan Surat al-Fatihah, dilanjutkan dengan Tartilul Qur’an oleh saudara M. Misbah Muniruddin. Sambutan tunggal yang merupakan acara ketiga disampaikan oleh Agus Abdul Qodir Ridlwan selaku Ketua Pondok dan Pimpinan Lembaga Ittihadul Muballighin. Dalam sambutannya, beliau memaparkan sejarah terbentuknya Lembaga Ittihadul Muballighin pada tahun 2003 serta perjalanannya sampi sekarang. Pada tahun ini, siswa yang akan mengikuti  Safari sekitar 1000 santri, baik yang mengikuti  daerah maupun di pondok. Acara itu dihadiri oleh Pimpinan Pondok dan Mustahiq Kelas I dan II Aliyah.

Ibnu Atoillah selaku Moderator mengawali Diklat dengan menyampaikan sekilas Riwayat Hidup Buya Yahya, acarapun dilanjutkan dengan penjelasan Buya Yahya tentang dakwah. Beliau menyampaikan bahwa, esensi  dakwah adalah membawa umat untuk mendapatkan ridlo Allah SWT sehingga ada beberpa hal yang harus diperhatikan dalam berdakwah, diantaranya mengajak semua pihak tanpa melihat profesi maupun status sosial serta membuat sebuah himpunan untuk mewadahi semua lapisan.

Dalam diklat tersebut, Buya Yahya memaparkan 3 Prinsip Dakwah. Pertama dakwah  tidak harus menunggu pandai atau kaya, sampikan dakwah dengan ungkapan yang halus dan tidak sombong. Kedua pandanglah orang lain dengan mata kasih. Ketiga pandanglah orang lain sebagai lahan pahala bukan lahan mencari uang dan yang terakhir mengoreksi diri. Selain itu, sebagai seorang Da’i juga akan menemui beberapa kendala diantaranya menempatkan sifat Tawadu’ tidak pada tempatnya dan menghindari sifat Hasud. oleh karena itu, diperlukan ikhtiar dalam berdakwah yaitu memohon  do’a kepada Allah SWT, sebelum menyampaikan sholat 2 rokaat, memberikan penjelasan apa yang di butuhkan masyarakat bukan apa yang kita ketahui atau yang diinginkan, kebenaran tidak harus disampaikan pada waktu itu, bisa disampaikan pada kesempatan yang lain melihat situasi dan kondisi serta kebenaran didasari  dengan tendensi yang kuat.  Antusiasme peserta bisa dilihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk saat sesi tanya jawab yang dibuka oleh moderator. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya berdakwah dalam masyarakat bagi para santri.

Acara ditutup doa yang dipimpin oleh Buya Yahya kemudian dilanjutkan oleh Agus Abdul Qodir Ridwlan. Sebelumnya Bapak HM. Mukhlas Noer mewakili Pondok memohon kepada Buya Yahya untuk meluangkan waktunya guna mengisi kegiatan tersebut setiap  awal bulan.[] Akhlis