Tag Archives: daud

Nabi Terakhir : Mukjizat Mutakhir

Umat muslim harus mengimani bahwa Nabinya adalah Nabi penutup, kalaupun ada Nabi setelahnya pastilah  Nabi abal-abal, dia juga Nabi sekaligus Rosul yang paling utama di antara ribuan Nabi sebelumnya.

Sederet kelebihan yang Allah berikan kepada beliau, mulai dari derajat yang tinggi di sisiNya, makhluk yang paling sempurna diantara yang pernah di ciptakan, sampai dengan jumlah pengikut terbanyak, bahkan menjadi mayoritas penduduk surga (semoga kita termasuk).

Bertolak dari sini, Nabi yang berkriteria sedemikian itu, seharusnya bukti kenabian yang ia miliki lebih ‘’ mengalahkan ‘’ dari pada kelebihan para pendahulunya, lantas apakah memang demikian ? mari kita urai.

Nabi Adam, Nabi sekaligus manusia  pertama, di ajari langsung oleh Allah tentang nama-nama seluruh benda, selanjutnya Allah memamerkan kemampuannya itu di hadapan malaikat, dan memerintahkannya untuk bersembah sujud.

ternyata Nabi kita juga di ajari langsung oleh Allah tentang nama-nama benda sekaligus wujud bendanya, bahkan sujudnya para Malaikat kepada Nabi Adam selain merupakan perintah Allah, juga karena di kening beliau terdapat pancaran sinar Muhammad.

Nabi Idris A.S di muliakan oleh Allah dengan mengangkatnya ke tempat yang mulia (tinggi/surga) sedangkan Nabi kita diangkat oleh Allah ke sebuah tempat yang belum pernah seorangpun menjamahnya, yakni saat isro’ mi’roj, bahkan beliau berdialog langsung dengan Sang pencipta.

Sementara Nabi Nuh A.S, Allah menyelamatkan beliau dan kaumnya dari keganasan air bah, dan Ia memberikan kasih sayangNya kepada ummat Muhammad dengan menyelamatakan mereka dari siksa yang di timpakanNya langsung dari langit, layaknya umat terdahulu.

Di lain Nabi Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai kholil (kekasih/sahabat) Nya. Dan Ia memposisikan Nabi kita sebagai habib (kekasih/tercinta) Nya, perbedaan derajat keduanya jelas kentara.

Nabi Daud, besi di tangan beliau layaknya kain, beliau bisa berkreasi apa saja menggunakan besi. Nabi agung kita, dengan sentuhan tangan mulianya, pohon yang asalnya sudah kering kerontang  langsung bersemi dan berbuah.

Nabi Musa bisa mengubah tongkatnya menjadi ular,ular yang tidak bisa bicara, saat menghadapi penyihir-penyihir Raja fir’aun. Tak kalah menariknya, di tangan mulia Nabi Muhammad Saw. makanan dan kerikil-kerikil bertasbih. Batu bersalam kepadanya. Beliau bisa berdialog dengan gunung. Pohon berbicara serta mengucapkan salam bahkan bersaksi atas kenabiannya. Bersujud serta mengadunya seekor Onta. Semua hewan-hewan dan makhluk tidak bernyawa tadi bisa berdialog dengan baginda Nabi, tidak halnya dengan ular Nabi Musa.

Tanda kenabian yang lain, beliau Nabi Musa bisa membelah lautan, seperti cerita yang telah masyhur. Bandingannya,  Nabi kita di beri mukjizat bisa membelah rembulan, dijelaskan bahwa  Ketika kaum Kafir Makkah meminta Rasulullah untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah serta menguji kebenaran Risalah baginda Rasulullah dengan memintanya Membelah Bulan.Maka Allah Swt mengabulkan doa beliau hingga pada malam hari tampaklah bulan terbelah menjadi Dua bagian, di mana bagian lainnya berada di sisi  Gunung Safa dan bagian lainya di sisi Gunung Qaikaan dan terlihat di antaranya bukit Hira.Tapi orang-orang Kafir Makkah malah mengingkari Mukjizat tersebut dan berkata: “Muhammad telah Menyihir Kita”. bahkan kabar ilmu modern,Ilmuwan NASA telah mengungkapkan bawah di bulan terdapat celah dengan panjang beberapa ratus kilometer, kemudian mereka pun menemukan beberapa celah lain di permukaan Bulan yang sampai sekarang belum diketahui penyebab retakan terebut

Nabi Musa juga di beri mukjizat berupa mengalir derasnya air dari bebatuan. Lebih dari itu, celah jemari Nabi Muhammad juga bisa memancarkan air hingga bisa digunakan minum dan bersuci 1500 pasukan beliau saat perang.

Nabi Harun di beri kelebihan dengan bicaranya yang fasih, Nabi Muhammad selain fasih berbicara, perkataan beliau juga mengandung sastra yang dinggi.

Nabi Yusuf yang tampan ternyata hanya separuh dari ketampanan Nabi Muhammad (bukan berarti ketampanan Beliau di bagi 2 dengan Nabi Yusuf), bahkan ketampanan beliau tidak menimbulkan fitnah, seperti ketampanan Nabi Yusuf yang menyebabkan Zulaikho’ terpancing untuk “mencederai” beliau.

Beralih ke Nabi Sulaiman, banyak mukjizat beliau yang pernah kita dengar, diantaranya beliau bisa berbicara dengan burung, setan menjadi pasukan perangnya, mempunyai kerajaan yang besar dan mengagumkan, yang belum pernah dan tidak akan pernah di miliki seseorang selain beliau, sesuai permohonan beliau kepada Allah. Baginda Nabi kita tidak hanya bisa berkomunikasi dengan benda yang hidup, kerikil, batu, gunungpun (yang semua benda mati) berbicara dan bersaksi di hadapan beliau. Kalau Nabi Sulaiman ketika hendak pergi kemanapun di penjuru bumi dengan menaiki angin, baginda Nabi dengan Buroq yang bisa membawa beliau ke lintas ruang dan waktu  dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Beliau baginda tidaklah memperbudak Jin, tapi mengislamkannya. Pasukan perang Beliau juga bukanlah Jin, tapi para Malaikat juga turut serta dalam barisan perang. Soal kerajaan yang besar dan megah, memang Nabi sendiri memilih menjadi hamba biasa ketika beliau di suruh memilih apakah menjadi Nabi-Raja atau Nabi-Hamba.

Nabi Isa bisa menyembuhkan orang berpenyakit lepra, orang buta dan menghidupkan orang mati. Baginda Nabi mampu mengebalikan bola mata yang sudah terlepas dari kelopaknya, bahkan menjadi lebih sempurna dari yang semula. Beliau juga bisa menghidupkan orang mati, yakni saat seorang laki-laki berkata pada beliau “aku tidak akan beriman padamu hingga kau bisa menghidupkan putriku.”  Beliupun mendatangi kuburan putri laki-laki tadi dan berkata “ wahai fulanah”. Terdengar suara dari dalam kubur “ labbaika wa sa’daika”.

Gemerlap Al-Aqsha, Dulu

Seperti Kaʻbah, Masjid al-Aqsha pertama kali didirikan oleh Nabi Adam as. (6216 SH/+5591 SM). Bapak manusia itu, atas perintah Tuhan, 40 tahun setelah mendirikan Kaʻbah, meletakkan dasar-dasar dan batas-batas Baitul Makdis. Kemudian pada peristiwa Ṭūfān (banjir maha dashsyat pada era Nabi Nuh as. [+3949 SM]) yang menenggelamkan seluruh pemukaan bumi, dasar dan batas kedua masjid itu menjadi kabur. Allah swt. kemudian memperlihatkan dasar dan batas Kaʻbah kepada Nabi Ibrahim as. (2893 SH/2271 SM) sekaligus menitahkannya untuk mendirikan kembali. Dengan dibantu Nabi Ismail as., putranya, Nabi Ibrahim as. pun meletakkan dasar dan batas bangunan kubus itu. Sebelumnya, dasar dan batas Baitul Makdis diletakkan kembali oleh salah seorang putra Nabi Nuh as. yang setelah peristiwa Ṭūfān diperintahnya untuk bermukim di sana, yaitu Sām bin Nuh as.[1]

Kemudian Baitul Makdis terus mengalami pembaruan pembangunan. Dasar dan batas yang semula diletakkan kembali oleh Sām bin Nūh as., bangunannya diperbarui lagi oleh Nabi Ibrahim as. setelah Kaʻbah selesai didirikannya,[2] kemudian diteruskan oleh seorang cucunya yang menjadi kakek moyang Bani Israel, Nabi Yaʻkub as. (+1837 SM). Lalu, bangunan itu diperbarui lagi oleh Nabi Daud as. (+ 1000 SM).[3]

Sebuah riwayat menuturkan, Nabi Daud as. membangun Baitul Makdis sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan karena pertaubatannya telah diterima, dan ia melihat Bani Israel telah hidup dalam kesejahteraan lahir dan batin. Untuk itu, Nabi Daud as. ingin membangunnya secara besar-besaran, bahkan ia menyiapkan ratusan ribu emas, jutaan perak, dan 300.000 ribu dinar sebagai anggaran pembangunan. Bani Israel pun, atas perintah pemimpinnya itu, bergotong royong membangun Baitul Makdis.

Tetapi, sebelum pembangunan betul-betul sempurna, Nabi Daud as. dikunjungi ajalnya, dan ia berwasiat kepada sang putra, Nabi Sulaiman as. (+ 962 SM) agar melanjutkan dan merampungkannya. Maka, di bawah tangan seorang nabi yang menjadi raja terbesar sepanjang sejarah manusia itu, Baitul Makdis menjadi bangunan yang luar biasa indah dan megah. Betapa tidak, untuk proyek pembangunan ini Nabi Sulaiman as. mempekerjakan cerdik pandai dari golongan manusia dan jin, ʻIfrīt dan para pembesar setan; kesemuanya dikoordinasikan menjadi beberapa tim kerja, mulai dari tim arsitek, tim pemahat, sampai tim pencari bahan bangunan dan tim penyelam untuk mencari mutiara-mutiara di kedalaman samudera.

Diperkirakan seluruh pekerja proyek pembangunan ini kurang lebih sebanyak 30.000 pekerja, 10.000 pemotong kayu yang harus menyiapkan 10.000 potong kayu setiap bulan, 70.000 pemahat batu dan 300 mandor–hitungan ini pun tanpa menghitung jumlah pekerja dari bangsa jin dan setan. Walhasil, tiada yang kuasa menandingi kemegahan dan keelokan Baitul Makdis, baik dari segi desain dan ornamen-ornamen yang menghiasinya–seperti pagar dan pilar yang berhias emas, perak, intan yaqut, marjan, mutiara, dan lain sebagainya, maupun dari segi teknik bangunan dan gaya arsitekturnya.

Baitul Makdis menjulang megah dengan ketinggian batu altar 12 hasta dan ketinggian kubah 18 mil yang di atasnya dihiasi patung kijang emas dengan gemerlap mutiara merah di antara kedua matanya, sampai-sampai para wanita daerah Balqāʼ saat itu (perjalanan dua hari dari Baitul Makdis) bisa memintal dengan diterangi pantulan mutiara tersebut. Dan, di malam hari bangunan itu saja yang memancarkan cahaya terang benderang menyinari kegelapan, bagai purnama.[4]  Bangunan itulah yang kemudian dikenal dengan Haikal Sulaiman (Temple of Solomon).

Setelah pembangunan Baitul Makdis yang maha megah itu rampung, Nabi Sulaiman ỿ lantas mengumpulkan seluruh kaum Bani Israel. Ia mendeklarasikan bahwa bangunan itu telah menjadi milik Allah swt. Adalah Allah swt. yang memberi titah untuk membangunnya. Maka, setiap benda di dalamnya adalah untuk Allah swt. Barang siapa merusak bangunan itu atau benda di dalamnya, ia betul-betul berkhianat kepada Allah swt.[5]

Dalam sebuah kesempatan Nabi Muhammad saw. berkisah,

“Sesungguhnya Sulaiman ketika membangun Baitul Makdis, ia memohon kepada Tuhannya tiga permohonan. Tuhan mengabulkan dua permohonan Sulaiman itu, dan aku berharap Ia juga mengabulkan permohonannya yang ketiga. Sulaiman memohon kepada Tuhan hukum yang sesuai dengan hukum-Nya, lalu Ia pun mengabulkannya; Sulaiman memohon kepada Tuhan sebuah kerajaan besar yang tak dapat ditandingi oleh seorang pun, lalu Ia pun mengabulkannya. Dan, Sulaiman memohon kepada Tuhan agar setiap orang yang keluar dari rumahnya dan tak bertujuan apapun selain melakukan shalat di Baitul Makdis, dosa-dosanya diampuni seperti ketika ia baru dilahirkan.”[6]

Dikutip dari buku Rihlah Semesta Bersama Jibril as., karya Tim Forum Kajian Ilmiah KASYAF, Purna Siswa III Aliyah 2017 MHM Lirboyo.

[1]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1, h. 30.

[2]        Ibn ʻĀsyūr, atTaḥrīr…., vol. 14, h. 14.

[3]        Ibid., vol. 1, h. 113-116.

[4]        Mujīr ad-Dīn , al-Uns al-Jalīl, vol. 1. h, 118-120.

[5]        Ibid., h. 122.

[6]        Muhammad bin ʻAlawiy, Wahuwa…, h. 170.