Tag Archives: dosa besar

Khotbah Jumat: Hal-Hal Yang Memicu Gibah


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَهُ الْحَمْدُ كُلُّهُ وَ لَهُ الْمُلْكُ كُلُّهُ وَ بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ وَ إِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ فِيْ ذَاتِهِ وَ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ مَخْلُوْقَاتِهِ أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الْمُقْتَدِيْنَ بِهِ فِيْ كُلِّ حَالَاتِهِ. أما بعد

فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَّادِ التَّقْوَى فَقَالَ اللهُ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ

Jemaah Jumat Yang diuliakan Allah..

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan sekuat mungkin menjalankan segala perintahnya serta menjauhi tiap-tiap larangannya. Agar hidup kita benar-benar menjadi bekal untuk akhirat nanti. Ketakwaan juga akan menuntun kita untuk menjadi pribadi yang luhur serta bermanfaat bagi sesama. Sifat-sifat terpuji yang keluar dari ketakwaan akan membawa ketenteraman dan keindahan bagi hidup kita dan sekitar kita. Karena dengan sendirinya kita akan terjauhkan dari sifat-sifat buruk yang akan menjadi benalu bagi kehidupan kita dan sekitar.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Diantara sifat-sifat atau perilaku tidak terpuji yang harus kita jauhi ialah gibah. Gibah adalah sebagaimana yang disabdakan Nabi yaitu:

ذِكْرُكَ أخاكَ بِمَا يَكْرَهُهُ

“Saat kamu menuturkan tentang saudaramu perihal yang tidak disukainya (apabila tampak)”

Larangan tentang gibah ini sebagaimana firman Allah swt. dalam surat al-Hujurat ayat 12,

وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ

Artinya: “Dan janganlah sebagian kalian menggibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Tentunya, agar kita bisa menjauhinya kita mesti memahami dulu hal-hal apa saja yang dapat memicu atau membawa kita pada menggunjing orang lain.

Hal-hal yang memicu gibah diantaranya adalah:

Pertama, Pelampiasan.

Hal ini biasanya terjadi tatkala kita marah pada seseorang namun sulit atau belum ada kesempatan untuk melampiaskan kemarahan tadi pada orang tersebut. Disinilah pelampiasan dengan cara gibah itu muncul.

Kedua, tidak ingin ketinggalan dalam obrolan.

Hal ini biasanya terjadi saat diawali oleh teman bicara, lalu agar tidak terkesan ketinggalan obrolan akhirnya seseorang ikut andil dalam gibah tersebut dengan turut menyumbangkan aib-aib orang lain yang ia tahu.

Ketiga, agar terlihat unggul.

Dengan menyebut kekurangan-kekurangan orang lain, ia ingin agar orang tadi terlihat tidak lebih baik darinya.

Keempat, dengki.

Hal ini biasanya muncul saat melihat orang lain begitu banyak menuai pujian, dukungan atau pun semacamnya, sementara dirinya yang mengharapkan justeru tidak begitu mendapatkannya.

Kelima, melucu. Hal ini biasanya muncul saat dalam perkumpulan yang penuh canda tawa lalu kehabisan bahan untuk membuat teman bicaranya tertawa lagi. Disitulah ia menyebutkan kekurangan-kekurangan orang lain sebagai bahannya.

Jemaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Demikian diantara umumnya sebab gibah keluar dari lisan seseorang. Maka hendaknya sebisa mungkin kita menjauhi hal-hal demikian agar dapat terhindar dari kemunkaran gibah. Semoga Allah swt. Memberikan kemudahan-kemudahan bagi kita dalam menapaki jalan yang telah ditentukan-Nya.

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ  آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْ لُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Klik di (sini) untuk men-download versi pdf.

Mencium Tangan Guru, Syirik?

Dalam sebuah majelis, seorang pemuda memberanikan diri bertanya kepada Habib Umar bin Hafidz, “Kenapa engkau membiarkan murid-muridmu menundukkan badannya dan mencium tanganmu berbolak-balik?”

Habib Umar hanya diam. Pemuda itu kemudian menuduhnya, “Tidak tahukah engkau itu perbuatan yang syirik?”

Habib Umar masih diam. “Engkau seolah-olah membuat murid-muridmu menyembah sesama mahkluk? tidakkah hanya Allah lah yang layak disembah? Tunduk atau menunduk kepada makhluk adalah perbuatan syirik.”

Di akhir pertanyaan itu, Habib Umar hanya tersenyum. Habib Umar kemudian memanggil pemuda tadi dan mendekatinya. Sang habib mengambil pena yang ada di dalam saku baju pemuda itu, lalu menjatuhkannya ke bawah.

Ketika si pemuda ini menundukkan kepala dan badannya ke bawah guna mengambil pena, Habib Umar menahannya, “Jangan menunduk! tidakkah menunduk kepada makhluk adalah bathil?”

Seketika sang pemuda mengelaknya, “Tidak, aku hanya ingin mengambil penaku di bawah.”

Sang Habib kemudian memberi pemuda itu hikmah bijak, “Aku ini ibaratkan pena. Seorang pencari ilmu tidak akan mendapat ilmu jika tidak mempunyai pena. Begitu juga dengan murid-muridku. Mereka menghargai dan menghormatiku bukan atas permintaaanku. Aku tidak pernah memaksa. Aku tidak pernah menyuruh mereka mencium tanganku. Tetapi ketahuilah wahai pemuda, seorang pencari ilmu tidak akan mendapatkan setetespun ilmu yang bermanfaat jika dia tidak menghormati gurunya.”

Disarikan dari kisah yang diceritakan oleh Al-Habib Umar bin Agil Al-Hamid.