Tag Archives: fiqih

Mengapa Harus Fiqih Muamalah?

Sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat, manusia tidak pernah terlepas dengan kehidupan yang ada di sekitarnya. Dalam teori ilmu sosial, interaksi antar sesama manusia tidak akan pernah terlepas selama manusia tidak mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya.

Sudah diketahui bersama bahwa Islam adalah agama yang universal dan paripurna. Di dalamnya mengatur seluruh tatanan kehidupan, seakan tidak memberi peluang celah sedikitpun untuk meloloskan perkara tanpa sentuhan hukum syariat. Selain mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, Islam juga mengatur hubungan horisontal antar sesama manusia. Maka dari sinilah muncul istilah Fiqih Muamalah yang merupakan implementasi dari hubungan antar manusia tersebut.

Dalam term Fiqih klasik, Fiqih Muamalah menempati tangga urutan kedua setelah pembahasan mengenai praktek ibadah sehari-hari (‘Ubudiyah). Hal ini bukan berarti tanpa dasar, mayoritas para ulama berargumen bahwa hubungan muamalah antar manusia merupakan kebutuhan sekunder yang paling dibutuhkan setelah kebutuhan primer untuk beribadah kepada Tuhannya. Bahkan seluruh pembahasan Fiqih Muamalah telah mencakup seperempat dari semua pembahasan mengenai Ilmu Fiqih.

Urgensitas Fiqih Muamalah

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”, (QS. An-Nisa’: 29).

Islam memiliki perhatian serius terhadap dinamika sosial dan ekonomi umat. Sebab, aktivitas sosial-ekonomi merupakan salah satu pilar dari enam asas primer kehidupan (Al-Mabadi’ As-Sittah) yang menjadi cita-cita Islam (Maqashid As-Syari’ah), dimana Islam hadir untuk melindunginya. Yaitu perlindungan agama (Hifdhu Ad-Din), perlindungan jiwa (Hifdhu An-Nafs), perlindungan intelektual (Hifdhu Al-‘Aqli), perlindungan garis keturunan (Hifdhu An-Nasli), perlindungan harta (Hifdhu Al-Mal), dan perlindungan harga diri (Hifdhu Al-‘Irdhi).

Proyek dari perhatian serius yang diberikan Islam terhadap aktivitas sosial dan ekonomi adalah melalui legislasi konsep-konsep interaksi sosial (Fiqih Muamalah) dalam khazanah fiqih. Hal ini ditujukan dalam rangka memberikan penjagaan dan perlindungan terhadap asas-asas primer kehidupan tersebut, agar memungkinkan terciptanya kemaslahatan.

Secara pengertian sederhana, dapat dipahamai bahwa Fiqih Muamalah merupakan sebuah hukum Islam yang mengatur hubungan antara satu individu dengan individu lainnya, yang bertujuan untuk menjaga hak-hak manusia, merealisasikan keadilan, rasa aman, terwujudnya keadilan dan persamaan antara individu dalam masyarakat (maslahat), serta menjauhkan segala kemadaratan yang akan menimpa mereka.

Esensi dan konsep interaksi sosial-ekonomi (Muamalah) yang ditawarkan oleh Islam bukanlah sistem yang berorientasi pada kalkulasi antara untung dan rugi belaka, seperti esensi dari konsep yang ditawarkan sistem ekonomi kapitalisme yang hanya melahirkan kesenjangan sosial semata. Namun, konsep muamalah yang diusung Islam adalah konsep hubungan interaksi dalam kehidupan yang berorientasi pada nilai-nilai kemaslahatan dan keadilan.

Konsep kajian muamalah ini dapat dibuktikan dengan model kajian dan aturan yang dibahas di dalamnya. Seperti pelarangan praktek riba yang menindas, praktek manipulasi (Gharar) yang merugikan, praktek perjudian (Qimar) yang kotor, serta praktek spekulasi (Majhul) yang tidak jelas. Karena pada dasarnya, Islam melalui kajian Fiqih Muamalah melandaskan legalitas di setiap interaksinya, yang mana hal tersebut didasari atas saling rela dari pihak yang melakukan transaksi (An Taradlin). Sebagaimana sebuah hadis:

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

Sesungguhnya Akad Jual-Beli hanya dilandasi saling rela”, (HR. Ibnu Majah).

Dari uraian tersebut, tidak berlebihan kiranya apabila dikatakan bahwa pemahaman, pengamalan, dan penyebaran Fiqih Muamalah menjadi suatu yang mendesak untuk saat ini.  Fiqih Muamalah merupakan solusi dan inovasi mutakhir di tengah kegersangan spiritual ekonomi umat. Karena prinsip dasar yang ditanamkan Islam dalam proyek membumikan Fiqih Muamalah adalah sukarela (Taradlin), keadilan (Ta’adul), saling membantu (Ta’awun), dan menciptakan kemaslahatan global (Rahmatan lil ‘alamin).

[]waAllahu a’lam

 

 

Aplikasi Penunjuk Arah Kiblat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Di zaman yang serba mudah seperti saat ini, banyak hal yang membuat urusan hidup semakin mudah, tidak terkecuali dalam ibadah sekalipun. Dan sekarang, banyak dijumpai berbagai aplikasi yang membantu umat muslim dalam berbagai hal, salah satunya adalah aplikasi penunjuk arah kiblat yang mudah didownload melalui smartphone.

Bagaimana hukum menjadikan aplikasi penunjuk arah kiblat tersebut sebagai acuan dalam menentukan kiblat saat salat? Dan apakah dicukupkan hanya dengan menghadap ke arah barat bagi orang Indonesia?, Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

______________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb. Sudah menjadi keharusan bagi seseorang yang akan melaksanakan salat (terutama salat fardu) untuk menyempurnakan syarat-syarat sebelum melaksanakannya. Salah satu dari beberapa syarat tersebut adalah menghadap kiblat (Ka’bah di kota Mekah). Legalitas syarat tersebut bertendensi pada firman Allah Swt dalam Alqur’an:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Dan hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram,” (QS. Al-Baqoroh: 144).

Yang dimaksud wajah dalam ayat tersebut hanyalah sebatas kata Majaz, dengan artian bahwa yang menjadi pertimbangan penting dalam menghadap kiblat adalah posisi dada seseorang yang salat.

Pada hakikatnya, metode dalam hal menghadap kiblat bagi orang yang akan melaksanakan salat sudah dianggap cukup dengan berpedoman dari salah satu dari 4 cara, yaitu mengetahui secara yakin, kabar dari seseorang yang dipercaya, ijtihad (menghasilkan prasangka), dan mengikuti seorang mujtahid.[1]

Adapun aplikasi pencari arah kiblat dalam operasionalnya berusaha untuk menunjukkan arah kiblat seakurat mungkin dengan mengupdate data lokasi seluler yang mengaksesnya, baik ketinggian tempat, posisi garis lintang, garis bujur, dan lain sebagainya. Karena praktek dengan metode tersebut juga memandang validitas dan kemungkinan kecil untuk terjadi kesalahan, maka aplikasi penunjuk arah kiblat yang beredar sekarang sudah dianggap mencukupi sebagai acuan dalam menentukan arah kiblat.[2]

Apabila muncul lagi sebuah persoalan, apakah seorang dalam menghadap kiblat harus tepat persis terhadap bangunan Ka’bah atau dicukupkan dengan arah dimana kiblat tersebut berada?. Maka dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama (khilaf).

Menurut madzhab Syafi’i, pendapat yang unggul mengatakan bahwa seseorang harus secara tepat menghadap terhadap bangunan Ka’bah. Apabila posisi orang yang salat dekat dengan Ka’bah maka harus berdasarkan keyakinan, dan apabila posisinya jauh maka dicukupkan sebatas prasangka (dzon) saja.

Namun dalam lingkup internal madzhab Syafi’iyyah sendiri masih ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang yang salat dicukupkan menghadap arah dimana ka’bah tersebut berada, misalkan orang Indonesia menghadap ke arah barat.[3] Pendapat ini didukung oleh Al-Ghozali, al-Mahalli, Ibnu Kajin, dan Abi Usrun. Menururt Imam Al-Adzro’i, pendapat ini buka berarti tanpa alasan. Karena menimbang ukuran bangunan ka’bah yang sangat kecil, dan sudah dipastikan mustahil bagi seluruh penduduk dunia untuk menghadapnya secara tepat.[4] Dengan alasan inilah beberapa ulama tersebut mengatakan cukup dengan sekedar menghadap arah kiblat.[] waAllahu a’lam.

Referensi:

[1] Al-Bajuri, juz 1 hal 142, cet. Al-Haromain.

[2] Hasyiyah Al-Qulyubi, juz 1 hal 155, cet. Dar Al-Fikr.

[3] Bujairomi ‘Ala Al-Khotib, juz 2 hal 119, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.

[4] Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 78.

Fikih Siwak

Siwak (السواك) atau miswak secara etimologi adalah menggosok atau bisa bermakna alat yang digunakan untuk bersiwak. Adapun Siwak menurut istilah fikih adalah menggunakan alat-alat siwak pada bagian gigi atau di sekitarnya dengat niat tertentu.

Siwak ini termasuk dari sebagian syariat umat sebelum Nabi Muhammad SAW, yaitu syariat Nabi Ibrahim AS seperti yang telah Beliau tegaskan dalam sebuah hadits :

نِعْمَ السِّوَاكِ الزَّيْتُوْنُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ يُطَيِّبُ الْفَمَ وَيُذْهِبُ بِالْحَفْرِهُوَ سِوَاكِيْ وَسِوَاكِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ… رواه الطبرانيِ

“Sebaik-baiknya alat siwak yaitu kayu Zaitun, berasal dari pohon yang diberkahi, dapat menyegarkan aroma mulut, dan menghilangkan warna kuning pada gigi, ini adalah siwakku dan siwak para nabi sebelumku” (HR. ath-Thobroni).

Yang beliau maksud dalam hadits tersebut adalah zaman Nabi Ibrahim AS. Karena menurut catatan sejarah, Nabi Ibrahim AS lah yang pertama kali menggunakan siwak. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa syariat Siwak ini hanya tertentu pada umat Nabi Muhammad SAW. Pendapat tersebut bertendensi bahwa pada masa Nabi Ibrahim AS siwak ini hanya dilakukan oleh beliau, bukan umatnya.[1]

Dalil

Ada beberapa redaksi hadits yang menjadi dasar hukum disyari’atkannya bersiwak, salah satunya adalah:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ .رواه مسلم

“Seandainya aku tidak khawatir memberatkan kaum mukminin, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak melakukan salat.” (HR. Muslim).

Hukum Bersiwak

  1. Wajib, jika menjadi alternatif terakhir untuk menghilangkan najis, menjadi alternatif terakhir untuk menghilangkan bau mulut tak sedap bagi seseorang yang hendak menghadiri jamaah Salat Jum’at, dan dinadzari.
  2. Sunnah, ini adalah hukum asal dalam bersiwak dalam setiap kondisi.
  3. Makruh, bagi orang yang berpuasa setelah tergelincirnya matahari. Namun menurut Imam al-Nawawi hukumnya tetap sunnah (tidak makruh).

Bagi yang berpuasa, para ulama membedakan hukum bersiwak sebelum dan setelah tergelincirnya matahari. Dikarenakan bau mulut pada saat setelah tergelincirnya matahari, disebabkan oleh kosongnya lambung dari makanan. Dan bau mulut tersebut adalah sisa-sisa ibadah yang tidak patut untuk dihilangkan, sebagaimana darah orang-orang yang mati syahid dalam peperangan[2].

Meskipun terdapat sebuah hadits yang menjelaskan bahwa bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah tergelincirnya matahari hukumnya makruh dan hadits lain dengan tegas menyatakan bahwa disunnahkan bersiwak setiap hendak melaksanakan sholat, tidak terkecuali Salat Dhuhur dan Ashar. Maka yang lebih didahulukan adalah hukum makruh bersiwak. Karena mencegah kerusakan dalam hal ini adalah menghilangkan bau mulut itu lebih diutamakan daripada menarik pahala sebagimana dalam konsep kaidah fikih.[3]

  1. Khilaf al-aula, yakni bersiwak menggunakan siwak milik orang lain dengan seizin pemiliknya atas tujuan selain tabarruk (mencari keberkahan). Jika bertujuan tabarruk, maka hukumnya tetap sunnah.
  2. Haram, yakni bersiwak menggunakan siwak orang lain dengan tanpa seizin dari pemiliknya atau tanpa diketahui kerelaannya[4].

Struktur Bersiwak

  1. Mustak, yaitu orang yang bersiwak.
  2. Mustak bih, yaitu alat untuk bersiwak.

Bahwa alat yang dapat digunakan bersiwak ialah setiap benda kasar yang suci dan dapat menghilangkan kerak kuning pada gigi, meskipun sehelai kain, atau jari tangan orang lain yang kasar dan tidak terpotong. Bukan jari milik diri sendiri meskipun kasar, karena anggota badan diri sendiri tidak dianggap sebagai alat bersiwak. Bukan pula jari orang lain yang telah terpotong, karena anggota tubuh yang telah terpotong harus dikuburkan[5]. Dengan memandang syarat-syarat tersebut, hukum bersiwak dengan menggunakan obat kumur dianggap tidak mencukupi.[6]

Adapun alat siwak yang paling utama adalah kayu Arok, karena jenis kayu ini memiliki rasa dan bau yang sedap serta serabut-serabut kecil yang mampu membersihkan cela-cela gigi [7], kemudian dahan pohon kurma, pohon zaitun, pohon yang berbau wangi, dan urutan terakhir ialah semua jenis pohon kayu dan benda lain yang memiliki tekstur yang kasar.

Panjang siwak yang disunnahkan adalah sejengkal dan yang paling pendek berukuran tidak kurang dari 4 jari selain ibu jari (ada pendapat yang mengatakan 12 cm). Dan besar siwak yang ideal adalah tidak lebih besar dari ibu jari dan tidak lebih kecil dari jari kelingking, tidak terlalu lembut dan juga tidak terlalu keras.

  1. Mustak fih, yaitu bagian tubuh yang disiwaki, yakni bagian mulut. Mencakup gigi, langit-langit mulut, dan lidah.
  2. Niat sunnah.

Dalam permasalahan siwak ini, imam ar-Ramli mengharuskan niat dalam bersiwak kecuali jika pelaksanaan siwak tersebut berada dalam tengah-tengah rangkaian ibadah yang lain. Namun menurut imam Barmawi, niat itu hanya sebatas penyempurna ibadah. Sehingga bersiwak tanpa disertai niatpun dianggap sudah menggugurkan kesunnahan siwak.[8]

Tata Cara Bersiwak

Dalam prakteknya, tata cara menggunakan siwak masih terjadi khilaf diantara para ulama. Adapun pendapat yang diklaim sebagai pendapat yang shahih yaitu dengan menjalankan kayu siwak pada gigi secara horizontal (menyamping). Menurut pendapat ini, dimakruhkan bersiwak secara vertikal (keatas-kebawah) karena akan berpotensi mengakibatkan gigi berdarah. Adapun untuk anggota lidah, cara bersiwaknya dengan cara vertikal. Imam al-Haromain dan al-Ghozali mengatakan bahwa cara bersiwak yang utama adalah dengan menjalankan kayu siwak pada gigi, baik secara horizontal maupun vertikal. Namun, para ash-habus syafi’iyyah menentang pendapat tersebut dan berkomentar bahwa pendapat kedua ulama ini telah keluar dari konteks dalil dalam siwak itu sendiri.[9]

Adapun cara bersiwak secara detail sebagai berikut:

  1. Berdoa sebelum bersiwak. Salah satu do’a yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah:
اَللَّهُمَّ طَهِّرْ بِالسِّوَاكِ اَسْنَانِيْ وَقَوِّيْ بِهِ لَثَاتِيْ وَأَفْصِحْ بِهِ لِسَانِيْ

 “Wahai Allah sucikanlah gigi dan mulutku dengan siwak, dan kuatkanlah gusi-gusiku, dan fashihkanlah lidahku”.

Bisa juga dengan doa berikut:[10]

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ وَشَدِّدْ بِهِ لَثَاتِيْ وَثَبِّتْ بِهِ لِهَاتِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
  1. Memegang siwak dengan tangan kanan atau tangan kiri (ada perbedaan pendapat ulama tentang hal ini) dan meletakkan jari kelingking dan ibu jari di bawah siwak, sedangkan jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk diletakkan di atas siwak.
  2. Niat bersiwak.
  3. Bersiwak dimulai dari jajaran gigi atas-tengah, lalu atas-kanan, lalu bawah-kanan, lalu bawah-tengah, lalu atas-tengah, lalu atas-kiri, lalu bawah-kiri. Jadi seperti angka 8 yang ditulis rebah. Baik gigi bagian dalam maupun gigi bagian luar.
  4. Langkah ke-4 di atas dilakukan 3x putaran.[11]

Catatan : menurut syaikh Wahbah Zuhaily dalam kitabnya al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, gosok gigi menggunakan sikat dan pasta gigi hukumnya disamakan dengan bersiwak.[12]

Waktu Disunnahkannya Bersiwak

Sebenarnya melakukan siwak ini disunnahkan pada setiap keadaan, namun ada tiga tempat dimana hukum bersiwak ini lebih dianjurkan (muakkad), yaitu:

  1. Saat berubahnya warna ataupun bau dalam mulut dikarenakan diam dalam waktu yang lama atau perkara lain seperti memakan makanan yang memiliki bau tak sedap.

Hukum ini tetap berlaku meskipun pada seseorang yang tidak memiliki gigi sekalipun.

  1. Ketika bangun dari tidur, meskipun tidak ada perubahan apapun pada mulut. Karena keadaan tersebut telah madzinnah (berpotensi) akan berubahnya keadaan mulut. Hukum ini bertendensi pada perbuatan Nabi yang selalu bersiwak setiap bangun dari tidur.
  2. Ketika hendak mendirikan salat, baik salat fardhu ataupun sunnah. Meskipun salatnya dilakukan secara berulang-ulang. Disamakan dengan hukum salat yaitu thowaf, sujud tilawah, sujud syukur, khutbah Jum’at, membaca Alqur’an dan rangkaian ibadah yang lain.[13]

Hukum bersiwak di tiga tempat tersebut adalah sunnah muakkad. Adapun kesunnahan siwak juga berlaku ketika seseorang hendak tidur, hendak wudlu, membaca kitab hadits, dzikir, belajar ilmu agama, memasuki ka’bah, berkumpul dengan orang lain, ngantuk, lapar, sakaratul maut, saat waktu sahur tiba, akan makan, setelah Salat Witir, hendak bepergian, pulang dari perjalanan, dan ibadah-ibadah yang lain. Apabila seseorang tidak mampu atau merasa keberatan untuk bersiwak di waktu-waktu yang disunnahkan, maka hendaklah ia bersiwak satu kali dalam waktu sehari semalam.[14]

Keutamaan Bersiwak

Banyak sekali keutamaan dan faedah yang tersembunyi dibalik kesunnahan hukum bersiwak. Salah satu referensi menyebutkan, keutamaan-keutamaan bersiwak adalah : 1) Mendapatkan ridha Allah SWT; 2) Menambah kecerdasan akal; 3) Menguatkan Hafalan; 4) Menerangkan mata; 5) Menyehatkan pencernaan makan dan munguatkannya;  6) Menjauhkan musuh; 7) Melipat gandakan pahala; 8) Memperlambat penuaan dini; 9) Mengharumkan bau mulut; 10) Menghilangkan lendir dan warna kekuningan pada gigi; 11) Menguatkan gusi; 12) Melonggarkan tenggorokan; 13) Menambah kefashihan membaca; 14) Memutihkan gigi; 15) Mewariskan kekayaan dan kemudahan; 16) Membersihkan hati. Dan paling utama yaitu, mengingatkan bacaan syahadat disaat sakaratul maut.[15] [] waAllahu A’lam bi ash-shawab.

 _________________________

[1]Hasyiyah Al-Bajuri, juz 1 hal. 42, al-haromain.

[2]Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 1 hal 341,Dar al-Fikr.

[3]Hasyiyah Al-Jamal, juz 1 hal 119-120, Dar al-Fikr.

[4]Al-Taqrirot Al-Sadidah, hal.75-76, Dar al-‘Ulum al-Islamiyyah.

[5]Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 1 hal 348, Dar al-Fikr.

[6]Nihayah Al-Muhtaj, juz 1 hal 179, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah

[7]ibid, hal 95

[8]Hasyiyah Al-Jamal, juz 1 hal 117, Dar al-Fikr.

[9]Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 1 hal 347, Dar al-Fikr.

[10]Al-Bujairomi ‘Ala Al-Khotib, juz 1 hal 123, Dar al-Fikr.

[11]Hasyiyah Al-Bajuri, juz 1 hal. 45, al-haromain.

[12]Al-Fiqhu al-Islamy Wa Adillatuhu. Juz 1 hal 454. Dar al-Fikr.

[13]Hasyiyah Al-Bajuri, juz 1 hal. 45, al-haromain.

[14] Ibid, hal 44.

[15]Bughyah Al-Mustarsyidin, hal 31, Dar al-Fikr.

Menelaah Dispensasi Syariat

Hidup di dunia merupakan dinamika kehidupan yang tidak pernah terlepas dari yang namanya keterbatasan. Kesulitan-kesulitan pun selalu setia mengiringi setiap perputaran roda kehidupan manusia.  Fenomena tersebut sudah menjadi realita yang terbantahkan lagi karena sudah menjadi sunnatullah yang tidak akan pernah sirna dari muka bumi.

Dengan memahami kenyataan demikian, syariat Islam tidak pernah lepas dari keterlibatannya untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi sedikit kesulitan dan keterbatasan yang dialami oleh manusia, terlebih lagi dalam masalah tatanan hukum agama. Karena agama Islam adalah agama yang mudah dan tidak memberatkan para pemeluknya, sesuai firman Allah SWT dalam Alquran:

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS al-Baqarah:185)

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

 “Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (QS al-Hajj:78).

Ayat-ayat di atas menjelaskan agama Islam tidak pernah menghendaki adanya kesulitan yang sangat memberatkan pengikutnya. Justru kemudahan dan kelonggaranlah yang selalu disuguhkan dalam mengimbangi berbagai permasalahan yang semakin kompleks. Hal tersebut tentu dengan melihat kondisi objek hukum yang mengitarinya.

Andaipun terjadi juga kesulitan yang luar biasa, maka syariat memberinya sebuah dispensasi atau kelonggaran. Di samping itu, seluruh tuntutan hukum syariat pada dasarnya masih dalam batas kemampuan seorang mukallaf untuk melakukannya. Karena Allah SWT tidak akan membebani hamba-Nya diluar batas kemampuannya, sesuai dalam AlQuran:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ

 “Allah tidak membabani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Dia mendapatkan (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya” (QS al-Baqarah:286).

Sebagai jawaban atas problematika tersebut, rukhshah (dispensasi) merupakan salah satu bentuk nyata yang ditawarkan syariat sebagai formula untuk membantu umat manusia dalam menjalankan tatanan syariat demi terciptanya kemaslahatan umum (maslalah ‘ammah) sebagai khalifah di muka bumi.

Apa itu Rukhshah?

Secara etimologi, rukhshah memiliki arti kemudahan. Syaikh Zakaria al-Anshori dalam kitabnya, Lubb al-ushul, mendefinisikan rukhsah sebagai berikut:

وَالْحُكْمُ إِنْ تَغَيَّرَ اِلَى سُهُوْلَةٍ لِعُذْرٍ مَعَ قِيَامِ السَّبَبِ لِلْحُكْمِ الْأَصْلِيِّ فَرُخْصَةٌ

 “Hukum syar’i jika berubah menjadi ringan karena adanya udzur besertaan masih adanya sebab bagi hukum asal maka dinamakan dengan rukhshah”.[1]

Sebenarnya, andaikan kita menelaah beberapa referensi yang lain, sangat banyak sekali perbedaan pendapat para ulama dalam mengartikan rukhshah. Definisi semacam ini senada dengan konsep rukhshah yang diungkapkan oleh Imam Tajuddin as-Subki. Namun, mayoritas ulama Syafi’iyyah mendefinisikan rukhshah dengan redaksi:

اَلْحُكْمُ الثَّابِتُ عَلَى خِلَافِ الدَّلِيْلِ لِعُذْرٍ

 “Sebuah hukum yang berlaku yang berbeda dengan dalilnya dikerenakan ada udzur”.

Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa tingkat kemampuan umat manusia dalam menjalankan seluruh hukum syariat sangatlah beragam. Perkara yang dilakukan seseorang dalam keadaan normal mungkin bagi orang-orang tertentu ataupun keadaan tertentu dirasakan begitu berat dan diluar kemampuannya. Karena itulah demi menciptakan kemaslahatan umum (maslahah ‘ammah) bagi seluruh elemen kehidupan manusia, Allah SWT memberi berbagai macam dispensasi dan kelonggaran terhadap pihak-pihak tertentu untuk menjalankan hukum syariat yang berbeda dengan ketentuan hukum secara umum. Sehingga fenomena penerapan beberapa hukum yang tidak sesuai dengan dalil asalnya tidak dapat dihindari lagi.

Dalam kitab Mizan al-Kubro, Imam as-Sya’roni memaparkan pembagian dua tingakatan dalam menempatkan tuntunan syariat. Golongan pertama adalah golongan yang kuat untuk menjalankan tuntutan-tuntutan yang berat, golongan kedua adalah golongan yang menjalankan tuntutan-tuntutan yang ringan dan penuh dengan toleransi. Beliau juga menggarisbawahi, bagi tingkatan yang kuat tidak diperbolehkan mengamalkan pendapat-pendapat yang lemah. Begitu juga sebaliknya, bagi tingkatan yang lemah tidak dituntut untuk melakukan tuntutan yang berat sebagaimana tingkatan pertama.

Dengan demikian, dapat dipahami  bahwa bentuk kelonggaran dari syariat ini merupakan sebuah pengecualian dari hal-hal yang dilaksanakan sesuai dengan konteks hukum asalnya. Dan juga bentuk kemurahan Allah SWT terhadap hamab-Nya, terutama ketika kondisi tidak memungkinkan melaksanakan ‘azimah (hukum asal) ibadahnya.

Sebab dan Pembagian Rukhshah

Legalitas sebuah rukhshah yang diberikan oleh syariat merupakan alternatif ketika umat muslim menemukan kesulitan maupun hambatan dalam menjalankan syariat. Dengan demikian, ada beberapa keadaan tertentu yang hanya bisa mengantarkan seseorang untuk mendapatkan dispensasi tersebut.

Dalam beberapa literatur kitab Qowaid al-Fiqh, beberapa keadaan dan kondisi yang menjadi sebab bagi seorang muslim mendapatkan dispensasi ada 7, yaitu terpaksa (ikrah), lupa (nisyan), ketidaktahuan (jahl), kesukaran (‘usr),  perjalanan (safar),  sakit (marodl), dan sifat kurang (naqsh). [2]

Karakteristik dan pola pelaksanaan dalam berbagai macam syariat Islam sangatlah beragam. Hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap konsep rukhshah yang akan diberikan ketika ditemukan kendala-kendala yang menghalanginya.  Sehingga, apabila ditinjau dari segi bentuk keringanan yang diberikan, rukhshah terbagi menjadi tujuh macam, yaitu: takhfif isqot (keringanan dalam bentuk meringankan kewajiban), takhfif tanqish (keringanan dalam bentuk mengurangi kewajiban), takhfif ibdal (keringanan dalam bentuk mengganti kewajiban), takhfif taqdim (keringanan dalam bentuk mendahulukan kewajiban), takhfif ta’khir (keringanan dalam bentuk mengakhirkan kewajiban), takhfif tarkhish (keringanan dalam bentuk kemurahan dalam kewajiban), takhfif taghyir (keringanan dalam bentuk mengubah kewajiban).

Dispensasi Sebagai Solusi

Merupakan sebuah keniscayaan bahwa perubahan sosial, perkembangan teknologi, kemajuan ekonomi, dan beberapa aspek kehidupan lainnya menuntut suatu panduan rohaniah yang memiliki relevansi erat dan melekat dengan masalah-masalah nyata  yang akan terus menerus muncul seiring dengan perkembangan peradaban manusia.

Apabila syariat (fikih) gagal melayani kebutuhan pokok ini dengan pendekatan kontekstual yang dinamis, dapat dipastikan bahwa umat manusia akan semakin terjauhkan dari nilai transedental, yang pada gilirannya akan memunculkan watak dan sikap sekuler. Dengan demikian, seiring dengan perkembangan zaman yang semakin menjauh meninggalkan masa keemasan Islam, semakin jauh pula animo masyarakat untuk tetap konsisten menjalankan syariat Islam.

Salah satu hal yang menjadi pemicu terjadinya hal tersebut adalah penerapan hukum syariat dirasakan memberatkan sehingga masyarakat tidak mampu menjalankan bahkan ada kecondongan untuk meninggalkan.

Oleh karena itu, hal terpenting yang dibutuhkan oleh masyarakat yang telah silau dengan gegap gempita modernitas di zaman sekarang ini adalah, sebuah solusi yang meringankan sebagai upaya menggugah hati para masyarakat untuk senantiasa menjalankan segala kewajiban yang telah ditetapkan oleh syariat Islam secara konsisten dan seimbang. Terkait dengan hal tersebut, Nabi telah bersabda:

مَنْ وَلَّى مِنْ أَمْرِ أُمَّتِيْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ

 “Barang siapa memimpin urusan umatku sekecil apapun kemudian dia memberatkannya maka beratkanlah (Ya Allah) urusannya” (HR. Muslim)

يِّسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا

 “Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari” (HR. Bukhari)

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama ini (Islam) mudah, dan tidak ada seorang pun yang mempersulitnya melainkan (agama itu) mengalahkan dia (mengembalikan ia kepada kemudahan)” (HR. Bukhari)

 اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ,مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 “Diceritakan dari sahabat Abi Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Ketika kalian semua diperintah untuk melakukan suatu hal, maka maka kerjakanlah semampu daya dan upaya kalian semua” (HR. Bukhari Muslim).

Walhasil, salah satu karakteristik yang menonjol dalam ajaran Islam adalah mudah dan tidak mempersulit umat. Konteks ini mudah dijumpai saat seseorang menemukan keterbatasan dan kesulitan dalam menjalankan syariat. Kehadiran rukhshah atau dispensasi sebagai tawaran dalam menghilangkan atau mengurangi beban menjadi solusi berarti dalam mengentas problematika tersebut. Sehingga tak ayal lagi, ajaran Islam sangat mudah diterima dan berkembang di tengah-tengah poros kehidupan yang serba kompleks dan beragam. Dengan relevansi dan kelenturan hukum ini pula, substansi dari legislasi syariat tetap berjalan dan tumbuh sebagai pelita dalam merajut kemaslahatan umat manusia. waAllahu a’lam… []

 Penulis: Nasikhun Amin

 [1] Thoriqoh al-Hushul ‘Ala Ghoyah al-Wushul, hal 40, Mabadi’ Sejahtera.

[2] Al-Fawaid al-Janiyyah, juz 1 hal 192-196, maktabah al-Bidayah.

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-1)

Ushul fiqih merupakan kekayaan khazanah ilmu keislaman yang  kedudukannya sangat urgen dalam perumusan produk hukum syariat. Karena dengan ilmu tersebut, seseorang dapat mengetahui bagaimana hukum fiqih itu diformulasikan dari sumber-sumbernya. Ilmu fiqih yang berfungsi menyuplai hukum terhadap segala bentuk ibadah, takkan terlahir tanpa adanya ushul fiqih. Dengan pengembangan bidang keilmuan ushul fiqih di era modern seperti saat ini, diharapkan mempermudah kontekstualialisasi fiqih dan menjaganya agar tetap dinamis dan up to date dalam menyikapi problematika umat Islam sesuai tantangan zaman.

Fan ilmu ushul fiqih menjadi sangatlah penting untuk dipelajari, dikaji dan dikembangkan saat ini. Mengingat masalah-masalah baru karena pengaruh teknologi sudah tidak mungkin kita hindari. Masalah lama belum tuntas, sudah muncul permasalahan lagi. Hal tersebut menuntut untuk diberi jawaban dengan tanpa merubah maqashid al-syar’i, apalagi sampai menghilangkannya sama sekali. Sementara rumusan kitab klasik dan nushush al-fuqaha’ relatif tidak memadai, kecuali kalau kita kaji secara manhaji (metodologis) yang dapat dihasilkan dengan memahami ilmu ushul fiqih. Dan kalau kita akan membicarakan epistemologi ushul fiqih secara terperinci, maka seharusnya kita mengaitkannya terlebih dahulu dengan teori-teori pembangunnya. Tetapi dalam tulisan ini, kita hanya membahas epistemologi ushul fiqih secara umum, dan itu pun hanya memakai kerangka muqoddimah (pendahuluan) dalam kitab-kitab ushul fiqih itu sendiri.

Sejarah Singkat Ushul Fiqih

Sebenarnya, istilah ilmu ushul fiqh belum dikenal di zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Karena pada masa itu, kebutuhan akan penyelesaian hukum masih ditangani langsung oleh Rasulullah SAW dan permasalahan umat Islam belum begitu kompleks. Setelah beliau wafat, problematika umat Islam semakin berkembang dan seringkali masalah tersebut belum pernah dijumpai pada masa hidup Nabi, sementara kebutuhan akan penyelesaian problematika hukum syariat terus berkembang. Ditambah lagi meluasnya pengaruh Islam ke berbagai jazirah di luar Arab, semakin mendesak dibuatnya peraturan gramatika bahasa Arab demi terhindarnya percampuran dengan tatanan bahasa selain Arab. Maka disitulah umat Islam mulai menggunakan metode ushul fiqih dalam menggali hukum dari Alquran dan Hadis. Begitu seterusnya, metode istinbat al-ahkam menggunakan teori kaidah ushul fiqih digunakan berlanjut pada generasi-generasi selanjutnya.

Ilmu ini baru dikodifikasikan dan dijadikan sebagai cabang ilmu keislaman tersendiri atas prakarsa Muhammad bin Idris as-Syafi’i rohimahullah (w. 204 H) pada abad ke-2 Hijriyyah.  Beliau menulisnya dengan dibantu oleh murid beliau, Robi’ bin Sulaiman al-Murodi untuk dikirim kepada Abdurrahman bin Mahdi. Kemudian surat setebal 300 halaman tersebut dibukukan menjadi kitab ushul fiqih pertama dan diberi nama ar-Risalah. Dalam kitab tersebut, imam Syafi’i menuangkan kaidah-kaidah ushul fiqih yang disertai dengan pembahasannya secara sistematis yang didukung dengan berbagi keterangan dan metode penelitian. Di dalam kitab tersebut, beliau mengumpulkan rancangan ilmu ushul fiqih para ulama madzhab pendahulunya yang tersebar tanpa dibatasi oleh kaidah-kaidah yang tertata rapi. Namun, mereka dalam merumuskan hukum selalu menyebutkan dalil-dalil yang menjadi pijakannya dan metodologi pengambilan hukumnya.

Ada beberapa hal  yang mendorong imam Syafi’i dalam mengkodifikasikan ilmu ushul fiqih, diantaranya adalah:

  1. Terjadinya perbedaan yang sangat tajam diantara beberapa pendapat ulama madzhab. Seperti perbedaan pendapat antara ulama Madinah dan ulama Iraq.
  2. Menurunnya pengetahuan dzauqul ‘arabiyyah disebabkan banyaknya bangsa selain Arab yang masuk Islam. Dengan demikian diperlukan penjagaan kemurnian tata bahasa Arab demi menghindari kesulitan dalam mengkaji hukum pada dalilnya.

Dan selanjutnya, banyak ulama-ulama yang mengikuti jejak imam Syafi’I dalam mengkodifikasikan ilmu Ushul Fiqih dengan berbagai macam aliran dan metode hingga saat ini.

Bersambung ke Bagian II