Tag Archives: gotong royong

Gedung Al Ikhlas II Sempurna Sudah

LirboyoNet, Kediri – Penambahan lokal kelas Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) berlangsung Kamis (01/09) kemarin. Lokasinya berada dalam komplek gedung Al-Ikhlas II. Setelah sebelumnya masih berjumlah 14 ruang, hari itu bertambah dua lokal. Itu artinya, gedung yang berdiri tiga lantai itu sudah rampung dibangun. Tidak ada lagi lantai kosong, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dari 16 ruang itu, tiga yang berada di lantai satu diperuntukkan basecamp khusus kelas II & III Aliyah. Adapun ruang lainnya menjadi lokal kelas madrasah.

Tidak semua santri dilibatkan pada roan (istilah gotong royong di dalam pesantren) yang berlangsung sejak 06.30 itu. Hanya beberapa tingkatan kelas yang dipilih, mengingat jumlah bangunan yang ditambah tidak sebanyak sebelum-sebelumnya.

Meski begitu, roan yang dilakukan secara bergilir ini tetap saja riuh. Teriakan-teriakan para santri seperti mencoba mengalahkan deru mesin cor yang berputar. Apa yang mereka lakukan itu tentu saja untuk menambah semangat mereka dalam mengayunkan timba-timba yang berisi adukan cor yang keluar dari mesin.

Sebelum roan dimulai, seperti yang telah terbiasa, dilakukan doa bersama. Pagi itu, KH. A. Habibulloh Zaini hadir mewakili jajaran pengasuh. Dengan didampingi oleh KH. Athoillah S. Anwar, Agus HM. Dahlan Ridlwan dan beberapa Mudier MHM, beliau memimpin tahlil.

Selesai pada sekitar pukul 14.00 Wis, roan diakhiri dengan makan bersama seluruh santri yang terlibat.][

Membangun Gedung Baru Kampus IAIT

LirboyoNet, Kediri – KH. Abdullah Kafabihi Mahrus mendatangi bangunan baru Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri, Senin pagi (21/03). Didampingi beberapa staf kampus, beliau selaku rektor IAIT berkenan mengawasi jalannya ro’an ngecor yang dilaksanakan oleh santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Tidak seperti roan (gotong royong) sebelumnya, jumlah santri yang ikutserta hanya 200-an. Itu karena bangunan yang dicor tidak terlalu luas.

Institut ini terletak di Jl. KH Wakhid Hasyim No.62, Bandar Lor, Mojoroto, Kota Kediri. Berjarak kurang lebih dua kilometer dari Ponpes Lirboyo. Karena itu, para santri yang ditugaskan untuk ngecor diberangkatkan dari ponpes dengan menggunakan truk.

Bangunan yang dicor ini terletak di belakang gedung Pascasarjana. Butuh lebih dari dua ratus sak semen dan beberapa truk pasir. Dimulai pukul 08.00 Waktu Istiwa’, para santri menyelesaikan ro’an saat matahari mulai menguning.

Pembangunan infrastruktur memang sedang menjadi salah satu titik fokus bagi Ponpes Lirboyo. Jumlah santri terus bertambah secara signifikan, yang artinya memerlukan bangunan yang lebih banyak untuk tempat mereka tinggal dan belajar.

Begitu pula IAIT. Kampus yang diwariskan oleh KH. Mahrus Aly ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Walhasil, sangat diperlukan bangunan baru untuk menampung keinginan para mahasiswa untuk belajar di kampus ini.][

Roan Ngecor Pengisi Hari Libur

LirboyoNet, Kediri – Hari Kamis menurut sebagian besar santri Pondok Pesantren Lirboyo, adalah hari yang panjang. Apa pasal? “Karena hari itu, hari kiamat. Hari yang menghancurkan jagat. Eh, bukan. Kita kan liburnya hari Jumat. Jadi, rasanya ga jauh beda lah sama hari Sabtunya anak-anak luar (di luar pesantren, -red),” canda Agus, salah satu santri tingkat Aliyah.

Untuk mengisi hari yang panjang ini (29/10), dia dan ratusan santri lain mengikuti ro’an (gotong royong) ngecor  kamar blok R. Untuk memenuhi kebutuhan ngecor ini, para santri disediakan dua ratus sak semen, beberapa truk pasir dan koral, serta dua mesin molen pengaduk ‘adonan’ cor.

Upacara Bendera dilaksanakan para santri Lirboyo untuk menghormati hari Sumpah Pemuda
Upacara Bendera dilaksanakan para santri Lirboyo untuk menghormati hari Sumpah Pemuda

Roan ngecor memang berat. Tapi bagi santri Lirboyo, ia adalah media pelipur suntuk, di mana enam hari selama seminggu otak mereka diperas untuk memahami pelajaran demi pelajaran yang dijejalkan. Di roan inilah, kesempatan mereka untuk melampiaskan kesuntukan. Maka teriakan-teriakan “wooo!”, “ayoo!”, “aseek”, adalah hal yang biasa didengar ketika mereka beraksi.

Santri yang mengikuti roan ini begitu banyak, sehingga matahari belum condong ke barat pun sudah hampir selesai. Satu per satu santri pulang untuk segera mandi dan berangkat musyawarah. Sebelum semua benar-benar pulang, yang tersisa dari mereka hening sejenak. Berbaris. Mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera Merah Putih untuk merayakan Hari Sumpah Pemuda yang sejatinya berlangsung hari Rabu kemarin (28/10).

Hari Kamis kali ini memang berharga bagi mereka. Karena mereka telah diberi kesempatan untuk berkhidmah kepada pondok. “Amal jariyah bukan hanya dengan harta. Tenaga para santri yang mengangkat semen, pasir dan lainnya juga bentuk lain dari amal jariyah,” tutur teman Agus yang malu untuk menyebutkan namanya.][