Tag Archives: Hadis

Meragukan Amaliah ‘Asyura

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ketika menyambut hari ‘Asyura, banyak amal ibadah yang dilakukan umat Islam, seperti berpuasa, bersedekah, dan lain-lain. Sebenarnya amaliah apa yang paling dianjurkan di hari ‘Asyura? Dan adakah dalilnya?.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Lukman- Mojokerto)

____________________

Admin- Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Dalam kitabnya yang berjudul I’anah At-Thalibin,[1] Sayyid Abu Bakar Muhammad Syata ad-Dimyati menyebutkan ada sekitar dua belas amaliah ibadah yang dapat dilakukan untuk memuliakan hari ‘Asyura, yakni salat, puasa, silaturrahim, sedekah, mandi, memakai celak, mengunjungi ulama, menjenguk saudara yang sakit, memberi kelonggaran nafkah keluarga, memotong kuku, dan membaca surat Al-Ikhlas seribu kali.

Namun dalam penjelasan selanjutnya, mengutip pendapat imam Al-Ajhuri yang berkomentar bahwa apa yang diriwayatkan berupa amalan-amalan yang dilakukan di hari ‘Asyura tidak ada yang Shahih kecuali hadis tentang puasa dan melonggarkan nafkah keluarga.

Mengenai kesunahan berpuasa dan memperlonggar nafkah keluarga pada hari Asyuro’, dalam kitab tersebut  mengutip salah satu hadis Rasulullah saw.:

إِنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ افْتَرَضَ عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ صَوْمَ يَوِمٍ فِي السَّنَةِ، وَهُوَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهُوَ الْيَوْمُ الْعَاشِرُ مِنَ الْمُحَرَّمِ – فَصُوْمُوْهُ وَوَسِّعُوْا عَلَى عِيَالِكُمْ فِيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ َوَسَّعَ فِيْهِ عَلَى عِيَالِهِ وَأَهْلِهِ مِنْ مَالِهِ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menfardhukan kepada bani Israil, untuk puasa satu hari dalam setahun pada hari ‘Asyura, yaitu hari ke sepuluh dari bulan Muharram. Maka dari itu hendaklah kalian berpuasa ‘Asyura dan lapangkanlah nafkah kalian pada hari itu. Karena sesungguhnya barang siapa yang melapangkan nafkah dirinya dan keluarganya dari hartanya sendiri pada hari ‘Asyura niscaya Allah akan melapangkan rizkinya di sepanjang tahun.” (HR. Al-Baihaqi)

Meskipun demikian, amaliah-amaliah tersebut tetap boleh dilaksanakan dengan memandang keumuman dalil yang menjadi dasar masing-masing. Seandainya hadis yang digunakan adalah hadis Dhaif (lemah), maka hal itu tidak perlu dipermasalahkan. Karena pada dasarnya, sisi “lemah” hadis Dhaif hanya dikarenakan proses periwayatannya, sehingga boleh diamalkan dalam konteks Fadoilul a’mal (keutamaan-keutamaan amal),. []waAllahu a’lam

 

 

[1] Hasyiyah I’anah At-Thalibin, juz 2 hal 302, CD. Maktabah Syamilah.

Mulia Karena Empat Perkara

Ada empat perkara yang menjadikan derajat seseorang naik. Pertama, orang yang berilmu bisa mengangkat derajatnya naik. Entah ilmu syariat, entah ilmu formal. Kalau ilmu syariat, mulia ‘indallah (disisi Allah) dan ‘indannas (dimata manusia), tapi kalau formal, mulia ‘indannas. Sehingga orang mencari ilmu, kalau mati, (dicatat) mati syahid. Kedua, tata krama. (Tata krama) itu penting sekali. Dengan guru bisa memuliakan, dengan teman bisa berbaik hati. Bisa ngapiki, dengan anak kecil bisa mengasihi, itu penting sekali. Monggo, kita mondok jauh-jauh mencari ilmu syariat, kita berbuat baik pada teman kita, memuliakan pada guru-guru kita, itu penting sekali. Yang ketiga, itu temen (jujur). Ngalor, nggih ngalor, ngidul nggih ngidul. Maksudnya, dengan temannya, dengan gurunya, yang jujur. Orang kalau jujur, temen, insyaallah hidupnya bakal enak.

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ،

“Sesungguhnya kejujuran menyampaikan kepada kebaikan. Dan kebaikan menyampaikan kepada surga.” (HR. Bukhari)

Sekarang mencari orang jujur itu sulit, monggo kita biasakan di pondok sejujur mungkin. Insya Allah kalau sudah terbiasa, di masyarakat nanti akan jujur. Temen (jujur) hidupnya, temen pergaulannya. Keempat, bisa dipercaya. Dititipi barang bisa dipercaya, dititipi jabatan bisa dipercaya. Itu penting sekali. Karena orang kalau tidak bisa dipercaya (akan) berat sekali. Dititipi uang kancane, hilang. Dititipi jabatan, diselewengkan. Nggak bisa ngrekso (menjaga) amanahnya. Kita harus bisa dipercaya, amanah itu penting sekali. Keempat-empatnya ini insya Allah di pondok diajarkan.

Untung-untungnya anak, anak yang ada di pondok. Sebab di Pondok, insya Allah anaknya mengaji, ibadah, insya Allah tidak maksiat. Dan juga orang tuanya beruntung. Untung-untungnya orang tua, (adalah) yang anaknya di pondok. Karena dia nyambut gawe (bekerja), nafaqohi anak, untuk mengaji, insya Allah barokah.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. At-Thur: 21)

Besok, di akhirat, antara anak dan orang tua, dikumpulkan. Seiman tapi (syaratnya), kalau orang tua Islam, anaknya Islam, dikumpulkan. Bilamana orang tua derajatnya lebih tinggi, maka anaknya akan dikumpulkan ke orang tuanya. Begitu juga sebaliknya, bila anaknya derajatnya lebih tingi, orang tua akan dikumpulkan dengan anaknya. Dan disamakan, dzurriyah bin nasab (keturunan dengan jalur nasab), adalah dzurriyah bissabab. Dzurriyah bissabab, itu seperti antara murid dan guru. Besok di akhirat, antara murid dan guru dikumpulkan. Guru dengan-gurunya dikumpulkan. Sampai (kelak dikumpulkan dengan) kanjeng Nabi.

Orang yang paling dekat-dekatnya dengan kanjeng Nabi, orang yang paling banyak sholawat. Kita membaca sholawat penting sekali. Karena kita masuk surga kalau tidak mendapat syafaat dari kanjeng Nabi, tidak bisa. Kita melbet surgo mboten mergo ibadahe (masuk surga bukan karena ibadah), tapi mergo syafaate kanjeng Nabi. Maka sholawat itu fadhilahnya besar sekali. Kalau banyak membaca sholawat, menyebabkan hati menjadi qona’ah. Syukur. Wes gak pengen opo-opo. Orang harus punya sifat qona’ah, kalau nggak punya sifat qona’ah, ndak ada syukurnya. Seperti dawuhe Mbah Mad Jipang[1], “namanya orang sugih itu, orang yang ndak pingin opo-opo.

Walaupun bukan kiai, kalau mahabbah (cinta) dengan kiai, kalau mahabbah dengan orang alim. Insya Allah anak turunnya nanti jadi orang alim. Pentingnya kita senang, mahabbah dengan orang alim, dengan sholihin (orang-orang saleh), mbok menowo anak turun kita dijadikan orang alim, minassholihin. itu penting sekali.

 

 

 

Disarikan dari: Mau’idhotul hasanah KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus, dalam acara Pembukaan Majelis Sholawat Kubro, di Aula al-muktamar, Ponpes Lirboyo. Kamis, malam jumat, 09 Agustus 2018 M.

[1] KH. Muhammad Tholhah, asal Kediri. Salah satu santri kesayangan KH. Abdul Karim.

Utamakanlah Ilmu

(وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤)  (النجم: ٣-٤

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),”

Hampir seribu lima ratus tahun silam, Nabi Muhammad SAW wafat. Namun, hingga kini kita masih tetap bisa membaca dan “mendengarkan” sabda-sabda beliau. Beliau seolah masih hadir membimbing kita, menuntun, bahkan telah sejak lama membaca apa yang akan terjadi pada kita; umat beliau satu millenium lebih selepas beliau diutus.

Nabi mampu melihat masa depan, sebagai mana beliau mampu dengan indah bercerita tentang kisah-kisah umat-umat terdahulu. Tentang kejadian-kejadian kecil dalam kehidupan Bani Israil, misalkan. Sebagaimana yang dapat kita temukan dalam beragam kitab-kitab hadis, jika kita telaah. Kisah-kisah tersebut beliau ceritakan, menjadi pelajaran, juga renungan bagi para sahabat beliau.

Beliau juga membaca tentang hari esok. Beliau menjanjikan kerajaan besar Persia dan Romawi seutuhnya akan menjadi milik umat muslim. Sebuah berita yang terkesan mustahil, sebab saat itu umat islam barulah membentuk suatu komunitas kecil. Komunitas yang bahkan tak begitu diperhitungkan keberadaannya. Kekuatan masih lemah, tak memiliki tanah, apalagi armada militer. Ditambah lagi, saat itu dakwah masih terhalang kelompok kafir Quraisy sebagai musuh utama.

Tatkala Kisra, Persia masih menjadi kerajaan adidaya yang hanya mampu disaingi bangsa Romawi, sabda beliau terdengar seperti “candaan”. Kala itu beliau mengutarakan kepada Suraqah bin Malik, “Wahai Suraqah, bagaimana jika engkau memakai gelang kebesaran Kisra?”. Dan ucapan itu tidaklah luput. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, sahabat Umar RA diangkat menjadi khalifah. Saat itu pasukan muslim berhasil meruntuhkan kekuasaan kerajaan Kisra, Persia. Tentara muslim menuai keberhasilan telak. Mereka mampu memboyong banyak sekali harta rampasan perang. Termasuk diantaranya adalah mahkota dan gelang kebesaran kerajaan Kisra. Oleh sahabat Umar RA, gelang itu dipakaikan sesaat kepada Suraqah bin Malik, sebagai pembuktian atas sabda Nabi Muhammad SAW. Pembuktian bahwa Nabi tidak pernah berdusta.

Tatkala ibukota Bizantium, Konstantinopel ditaklukkan oleh bangsa Turki, itu bukanlah sebuah kebetulan. Jauh sebelum itu, Nabi pernah menjanjikan kota itu akan menjadi milik orang islam. Kelak, sabda Nabi, dibawah panji-panji pemimpin terbaik, dan bendera-bendera tentara muslim terbaik, kota itu akan takluk.

Kita masih dapat membaca beragam nasihat dalam hadis-hadis beliau. Sepintas memang terlihat beliau tujukan untuk para sahabat pada hari itu. Akan tetapi, nasihat-nasihat dan pesan-pesan itu hakikatnya “abadi” dan ditujukan kepada siapapun. Bahkan kepada umat beliau yang hidup terpaut hingga beberapa abad. Dari bahasa yang kentara, beliau telah membaca banyak hal dan perubahan besar yang akan terjadi pada umat beliau. Secara tidak langsung, bahasa yang beliau gunakan memang adalah untuk kita. Kita yang hidup hari ini. Di zaman ini. Sahabat ‘Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan suatu hadis,

وقال صلى الله عليه وسلم إنكم أصبحتم في زمن كثير فقهاؤه قليل قراؤه وخطباؤه قليل سائلوه كثير معطوه العمل فيه خير من العلم وسيأتي على الناس زمان قليل فقهاؤه كثير خطباؤه قليل معطوه كثير سائلوه العلم فيه خير من العمل

Nabi SAW bersabda; kalian semua (para sahabatku) berada di zaman yang banyak para ahli fikihnya (ulama), sedikit ahli membaca Alquran, dan orang yang pandai bicara. Sedikit para peminta-minta, banyak para pemberi. Amal pada masa ini lebih baik daripada ilmu.dan kelak akan datang, masa dimana sedikit ahli fikihnya, banyak orang yang pandai bicara, sedikit yang memberi, dan banyak yang meminta. Ilmu akan lebih utama daripada amal.

Meskipun hadis ini tidak sampai berstatus shahih, namun masih bisa kita pakai sebagai bahan renungan. Pada zaman nabi diisi oleh orang-orang yang masih “berfikir sederhana”. Meskipun tak banyak orang yang pandai bicara dihadapan umum, dan jarang sahabat yang mau berfatwa, tak lantas berbanding lurus dengan kenyataan bahwa sedikit orang yang mengerti agama. Dulu, masa Nabi Muhammad SAW tetap disebut sebagai masa yang terbaik. Karena pada waktu itu, mudah kita temukan ahli ilmu yang sejati.

Mengapa Kita Lebih Mendahulukan Ilmu

Salah satu yang ditekankan dalam hadis diatas, adalah pesan tersirat untuk senantiasa memperbanyak mencari ilmu. Syahdan, Imam Ahmad bin Hanbal, pernah mengaji bersama murid-muridnya. Tiba ditengah-tengah, terdengar suara azan. Dengan khidmat, beliau bersama murid-muridnya mendengarkan azan tersebut hingga selesai. Selesai azan berkumandang, para murid bergegas berbenah meninggalkan majlis ilmu, demi mendapat fadhilah salat di awal waktu. Bukannya mengizinkan, justru Imam Ahmad melarang. Mengaji lebih didahulukan, kata beliau. Bukannya amaliyah salat yang buru-buru dikejar, tapi sudah sejak lebih seribu tahun silam, mereka mendahulukan tholabul ‘ilmi.

Memang jika kita menelisik, tsamroh, buah dari ilmu adalah amaliyah. Tujuan utama orang belajar, salah satunya adalah agar dapat memiliki amaliah yang didasari ‘ilmiyah. Maka seharusnya yang lebih kita dahulukan adalah beramal. Karena apalah artinya suatu ilmu, jikalau tak pernah tersentuh untuk dilakukan.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, mudah sekali menemukan ahli ilmu. Hadis tersebut menjadi buktinya. Para sahabat dapat langsung menimba ilmu dari sumbernya, ada masalah apapun langsung dapat dimintakan fatwa kepada Nabi. Dalam bimbingan langsung Nabi tersebut, muncullah generasi-generasi emas, sebut saja sebagai contoh, sahabat Abdullah Ibn Mas’ud, sang perawi hadis diatas. Tak banyak tindakan penyimpangan, dan tak banyak perilaku yang keluar dari ajaran islam. Pantaslah kiranya, masa tersebut disebut sebagai era keemasan. Sesuai sabda Nabi,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (متفق عليه

Umat manusia terbaik adalah kurunku, lalukurun setelahnya, dan setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak banyak orang yang gemar meminta, karena sikap zuhud mereka. Banyak yang suka memberi karena berlomba-lomba mengejar kebaikan. Maka sudah sepantasnya pada masa itu, amaliyah lebih diutamakan, sebab ilmu sudah tersebar dimana-mana. Dan menuntut ilmu sebatas menjadi fardhu kifayah. Berbanding terbalik dengan saat ini, saat manusia berlomba-lomba menumpuk harta, dan menuntut ilmu sebagai wasilah mendapatkan kekayaan. Maka sedikit kita temukan, orang-orang yang benar-benar cakap dalam hal pemahaman agama. Qolîlun fuqohâuhu, sebagaimana sabda Nabi. Untuk membentengi diri, setidaknya kita harus mencari ilmu sebanyak-banyaknya.

Kita perlu takut, sebab beberapa sabda Nabi tentang tanda-tanda kiamat sudah mulai kita rasakan saat ini.

عن أنس ­ رضي الله عنه ­ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إن من أشراط الساعة أن يرفع العلم، ويبث الجهل، وتشرب الخمر، ويظهر الزنى» رواه البخاري و مسلم

Dari sahabat Anas RA,Rasulullah SAW bersabda, sebagian tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya arak, dan nampaknya perilaku zina.” (HR. Muslim)


إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا . رواه البخاري

Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari seorang hamba. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan wafatnya para ulama. Sampai suatu saat tatkala tak tersisa lagi orang ‘alim, umat manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh. Lalu ketika mereka ditanyai, mereka menjawab dengan tanpa landasan ilmu. Maka tersesatlah umat manusia, dan menyesatkanlah mereka.” (HR. Bukhari)

Epistemologi Ushul Fiqih (Bag-3 Habis)

Baca dulu Bagian II

Dasar Pengambilan Ushul Fiqih

Istimdad (dasar pengambilan) ushul fiqih diambil dari beberapa produk keilmuan, diantaranya:

  1. Ilmu bahasa arab (gramatika Arab).

Hal ini dikarenakan sumber hukum yang terbesar adalah Alquran dan Hadis yang semuanya menggunkan bahasa sastra Arab. Dan keduanya sudah jelas tidak akan dipahami maknanya kecuali dengan penguasaan yang memadai dalam didang kelimuan ini.

  1. Ilmu Mustholah Hadits.

Yaitu dengan memahami berbagai karakteristik sebuah Hadis dari berbagi sudut pandang. Hal ini juga akan membantu ketika terjadi kontradiksi  antara beberapa dalil suatu hukum syariat.

  1. Ilmu kalam (logika).

Dalam memahami permasalahan dibutuhkan sebuah penalaran yang memadai dalam menghasilkan kesimpulan objek secar logis. Dengan begitu, peran ilmu kalam sangat urgen dalam konteks seperti ini.

  1. Beberapa hukum syariat.

Yaitu dari sisi mengetahui macam-macam hukum syariat. Karena yang dimaksud disini adalah memberikan keputusan ada dan tidaknya hukum tersebut. Selain itu, perangkat ilmu pendukung tak kalah pentingnya dalam proses pengkajian ilmu ushul fiqih, seperti asbabun nuzul, ulum at-tafsir dan lain-lain.

Perbedaan Ushul Fikih dan Qowaidul Fiqih

Tidak jarang anggapan bahwa ilmu ushul fiqih dan qowaidul fiqih adalah sinonim, mempunyai arti dan maksud yang sama. Padahal dua ilmu tersebut sangat berbeda dalam operasionalnya, walaupun ada persamaan dalam segi pedoman yang global (kully) yang dibawahnya mencakup beberapa bagian (juz’iy) persoalan yang dihukumi. Karena dalam ilmu qowaid al-fiqih hanya mengumpulkan masalah-masalah fiqih yang serupa pada kaidah global (qowaid kulliyyah) yang memuat beberapa permasalahan hukum syariat yang saling memiliki kemiripan.

Tujuan Ilmu Ushul Fiqih

Menurut Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, Ushul al-Fiqhi al-Islami, beberapa tujuan dan manfaat mempelajari ilmu ushul fiqih adalah sebagai berikut:

  1. Dengan kaidah-kaidah ushul fiqih, seseorang dapat mengetahui dalil-dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam merumuskan berbagai produk hukum syariat.

Bagaimana para mujtahid dapat menghasilkan begitu banyak rumusan hukum dari Alquan, hadis, ijma, dan qiyas. Karena semua itu tidak akan pernah lepas dari pengetahuan terhadap bangunan dalil-dalil itu sendiri. Baik yang berbentuk ‘am, khos , mujmal, mutlaq, muqoyyad, mubayyan, dhohir, muawwal, hakikat, majaz dan lain-lain.[13]

  1. Menghasilkan kemampuan untuk menggali hukum dari dalilnya. Namun untuk hal ini hanya otoritas sesesorang yang telah mencapai derajat mujtahid. Adapun bagi para muqollid (pengikut mujtahid), ilmu ushul fiqih sebagai sarana untuk mengetahui dan memahami dalil dan metode yang digunakan oleh para mujtahid dalam menggali hukum syariat. Karena dengan mengetahui hal tersebut, seseorang akan lebih memantapkan keyakinannya pada rumusan hukum yang dicetuskan para mujtahid. Secara otomatis, keyakinan dan kemantapan tersebut akan membangkitkan semangatnya untuk mengamalkan syariat agama Islam.
  2. Membantu peran mujtahid dalam mengambil hukum dari sumber-sumbernya. Sudah maklum adanya, nash-nash Alquran dan Hadis sudah final dan tidak akan ada lagi penambahan. Sementara itu, problematika umat semakin kompleks dan beragam. Sesuai dengan maqolah:

وما يتناهى لا يحيط بأحكام غير المتناهي إلا بطريق الإجتهاد

“Sesuatu yang terbatas tidak dapat mencakup hukum-hukum perkara yang tidak ada batasnya kecuali dengan jalan ijtihad”.

  1. Ushul fiqih sebagai mediator untuk mengetahui hukum syariat beserta dalil-dalilnya. Dan mengajak seorang mukallaf untuk memahami dan mengamalkan perintah agama. Senada dengan ini, para ulama ushul fiqih berkata:

فائدة أصول الفقه معرفة أحكام الله تعالى وهي سبب الفوز بالسعادة الدينية والدنيوية

“Faedah ushul fiqih adalah mengetahui hukum-hukum Allah SWT, yang menjadi sebab keberuntungan agama (akhirat) dan keberuntungan dunia”.[14]

waAllahu a’lam bis shawab.

Penulis: Nasikhun Amin,

______________________
[1]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 25. Dar Al-Fikr.

[2]An-nafahat, hal 13, Santri Salaf press.

[3]al-Taqrir wa al-Tahbir,juz 1 hal 17.tt.

[4]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 29. Dar Al-Fikr.

[5]Ibid, hal 25.

[6]Syarh Jam’u al-Jawami’, juz 1 hal. 34. Tt.

[7]Ghoyah al-Wushul, hal 9, Mabadi’ sejahtera.

[8]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 33. Dar Al-Fikr.

[9] Materi seminar kuliah ushul Fiqih LBM P2L.

[10]Syarh Kawakib as-Sathi’, juz 1 hal 10. Tt.

[11]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 35. Dar Al-Fikr.

[12]Ghoyah al-Wushul, hal  11, Mabadi’ sejahtera.

[13]An-nafahat, hal 3. Santri salaf press.

[14]Ushul Al-Fiqhi Al-Islamiy, juz 1 hal 40. Dar Al-Fikr.

Tempat Penyembelihan Hewan Kurban

Assalamu’alaikum wr wb.
Kang, di tempat saya banyak sekali dilakukan penyembelihan hewan kurban di rumah, bagaimanakah kejelasaan hukumnya? Terima kasih atas jawabannya.
Wassalamu’alaikum wr wb.
Ahmad Kurniawan

Admin – Waalaikumsalam warahmah wabarakah. Sebelum menjawab kiranya Kami perlu haturkan apresiasi kepada Anda, karena setidaknya Anda telah mampu bersikap kritis melihat apa yang terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal. Apalagi ini berkaitan dengan agama.

Bapak Ahmad, dalam pembagian kurban dan penyembelihannya tidak diatur dengan jelas dalam Alquran atau hadis, yang ada hanya kriteria orang yang menerima, sebagaimana terangkum di dalam Alquran (QS. Al-Hajj: 28 dan 36);

…فَكُلُوْا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا القَانِعَ وَالمُعْتَرَّ … وَأطْعِمُوا البَائِسَ الفَقِيْرَ …
“Makanlah dari daging kurban dan berikanlah makan untuk القانِعَ yaitu orang fakir yang meminta dan المُعْتَرَّ yaitu orang yang meminta.” Dan juga hadis yang diriwayatkan oleh Hafid Abu Musa Al Ashfahani, bahwa sahabat Ibnu Abbas pernah menceritakan tentang tatacara kurban yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Daging kurban itu oleh Baginda Nabi diberikan kepada keluarganya sepertiga, sepertiganya lagi untuk tetangga dan fakir miskin, sedangkan sisanya Beliau sedekahkan untuk orang-orang yang meminta.

Sedangkan untuk masalah tempat tidak ada keterangan yang tegas. Namun para ulama membandingkannya dengan lokasi penyerahan zakat. Untuk masalah zakat sendiri masih terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama.

Menurut ulama Syafiiyyah yang masyhur, tidak diperbolehkan mengalokasikan pembagian zakat pada daerah lain dengan pertimbangan: Pertama, akan menimbulkan resah masyarakat yang ada di daerahnya atau cemburu karena merasa lebih berhak dari pada orang lain. Kedua, hadis tentang wasiat Rasul kepada sahabat Mu’ad bin Jabal ketika ditugaskan menjadi pemimpin di Yaman. Nabi bersabda: “Bahwasanya zakat diambil dari orang kaya tanah Yaman dan diserahkan kepada fakir miskinnya negara Yaman pula.” Dari sini jelas tidak boleh mengalihkan/mengalokasikan zakat pada daerah lain.

Sedangkan pendapat lain yang identik dengan tiga imam mazhab: Hanafi, Maliki, dan Hambali memperbolehkan pemindahan zakat, karena tidak ada ayat dan hadis yang jelas melarangnya dan melihat cakupan keumuman para penerima zakat dalam QS. at Taubah: 60, “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berhutang, untuk yang berada di jalan Allah dan untuk orang yang sedang di dalam perjalanan sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Dalam ayat ini, Allah tidak membatasi tempat, yang penting orang yang kriterianya sama dengan yang ada pada ayat tanpa ada batasan tempat.

Lantas sejatinya yang dimaksud dengan memindahkan daging kurban itu dilihat dari mana? Menurut Imam Ar-Romli, sebagaimana keterangan yang ada pada Itsmidi al-Ainain, hal ini juga terjadi beda pendapat. Pertama, dilihat dari tempat orang yang berkurban. Artinya, tidak boleh disembelih di selain tempat/daerah orang yang berkurban. Dan kedua, boleh disembelih di tempat mana saja, namun dagingnya tidak boleh dibagikan pada tempat selain tempat penyembelihan. Begitulah, semoga membantu dan dapat dipahami serta diamalkan.