Tag Archives: haflah akhirussanah

Lebih Dekat dengan KH. Said Aqil Siroj

Ketika usia negara ini masih belia–delapan tahun–dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan sengketa status kemerdekaan Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan  putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH. Abdul Karim (Mbah Manab). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Aly, KH Marzuqi Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Institut Agama Islam Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di tanah kelahiran Rasulullah saw. ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman, “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya.

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip NU Online. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang pernah diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.][

 

Sumber: nu online

 

Al-Dhomîr fî al-Dhomîr

Meskipun usia KH. Maimoen Zubair sudah sangat sepuh, beliau masih dapat mengingat dengan jelas banyak kenangan-kenangan beliau ketika masih mondok di Ponpes Lirboyo.

Salah satu kenangan beliau yang sempat beliau ceritakan dalam haul dan haflah akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo Jumat (05/05) kemarin, adalah pengalaman mengaji dengan KH. Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo. Memang, beliau yang sering dikenal dengan Mbah Moen merupakan salah satu alumni senior yang masih menangi (menjumpai) KH. Abdul Karim, dan sempat mengaji langsung dengan KH. Abdul Karim.

Beliau ketika mengaji dulu, memilih tempat duduk di belakang KH. Abdul Karim, atau lebih akrab dengan nama Mbah Manab. Sementara di depan beliau, Mbah Manab menghadap para santri dan membacakan kitab. Salah satu kekaguman Mbah Moen adalah tentang kitab Mbah Manab yang kosongan, tidak ada maknanya.  Namun dapat beliau baca dengan lancar.

Kulo nek ngaji neng mburine Mbah Manab, ambek ndelok. Kulo gumun, Mbah Manab niku ora koyo kiai akeh. Ora ono kiai koyo Mbah Manab. Ora tau nggowo Munjid, ora tau nggowo qomus. Gak tau mikir makno.” (Saya kalau mengaji di belakang Mbah Manab. Sekalian melihat kitab beliau. Saya heran, Mbah Manab itu tidak seperti kebanyakan kiai lainnya. Tidak ada kiai yang seperti Mbah Manab. Beliau tidak pernah membawa Munjid, tidak pernah membawa kamus, tidak pernah memikirkan makna.) Kenang Mbah Moen.

“Tak delok sampek nek mburine, gak ono sah-sahane. Neng aku msuykil, kok gak tau gelem ngrujuki dhomir.” (Saya lihat kitab beliau sampai dibelakang beliau. Tidak ada maknanya. Tapi saya merasa janggal, kok beliau tidak pernah memberikan rujuk dhomir.) Lanjut Mbah Moen. Ruju’ dhomir merupakan bahasa khas pesantren,  yang maksudnya adalah kembalinya kata ganti orang kedua atau orang ketiga.

“Wahuwa, utawi iyo. Wa dzalika, utawi mengkono-mengkono.”Ungkap Mbah Moen menirukan gaya khas membaca kitab Mbah Manab, yang segera disambut tawa riuh hadirin.

Beliaupun akhirnya menanyakan hal tersebut kepada santri-santri senior lain. Ternyata dahulu Mbah Manab pernah menjawab hal tersebut.

“Sampek tak takok-takok, jawabe Mbah Manab niku (Sampai saya bertanya-tanya, jawaban Mbah Manab adalah), ‘al-dhomir fi al-dhomir. Faman lam ya’rif marji’a al-dhomir, falaisa lahu dhomir.’” Kata Mbah Moen.

“Wong kok ngaji ora ruh rujuke dhomir, gak nduwe ati.” Tandas Mbah Moen menerjemahkan dawuh Mbah Manab yang berbahasa Arab tersebut. Dawuh singkat Mbah Manab tersebut beliau artikan sebagai, “Orang yang mengaji tapi tidak tahu ruju’ dhomir, berarti tidak punya hati.”.

Itu tadi sekelumit kisah-kisah unik kiai salaf dalam mendidik santri. “Di pesantren itu sudah biasa guru hanya mengaji saja, membaca saja, tidak diterangkan. Namun muridnya malah lebih alim, bisa menerangkan. Itu banyak sekali,” tutur KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dalam suatu kesempatan yang lain.[]

Khotmil Quran dan Haflah PPHMQ

LirboyoNet, Kediri – Dua tahun sekali, Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Al-Qur’aniyyah (PP HMQ) menyelenggarakan Khotmil Qur’an ke XI dan Haflah Akhirussanah. Dan pada tahun ini, acara terselenggara di Aula Al Muktamar, Senin (24/04).

Ratusan santri putri PPHMQ hadir di Aula. Mereka diantar sejak pagi hari, guna mengikuti seluruh rangkaian acara. Dari ratusan itu, ada sekitar 226 santri putri terpilih yang berhak menerima penghargaan di atas panggung. Mereka adalah para santri yang telah menyelesaikan studinya dalam beberapa jenjang pendidikan.

Dari kategori tahfidul qur’an, ada 93 santri yang menerima syahadah, atau penghargaan. Mereka terbagi atas santri yang telah mengkhatamkan juz ‘amma sebanyak 21 santri, bin nazhar sebanyak 34 santri, bil ghaib putri sebanyak 36 santri, dan bil ghaib putra berjumlah dua santri.

Selain memberikan penghargaan kepada para santri yang telah menekuni hafalan Al-Qur’an, PPHMQ juga merasa perlu untuk mewisuda para siswi Madrasah Al-Hidayah, tempat mereka menimba ilmu-ilmu pesantren yang lain. Perlu diketahui terlebih dahulu, Madrasah Al-Hidayah terbagi menjadi beberapa jenjang pendidikan, diantaranya Ma’had Aly, Aliyah, Tsanawiyah dan Ibtidaiyah. Dari masing-masing tingkatan itu, para siswi yang berhak diwisuda berjumlah total 97 siswi, dengan perincian siswi Ma’had Aly sebanyak sembilan sisiwi, madrasah Aliyah 22 siswi, dan tingkat Tsanawiyah sebanyak 66 siswi.

Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada 36 siswi yang telah menghafalkan secara penuh 1002 bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik, serta berhasil lolos dalam festival Hifzhu Alfiyah yang diadakan pada tahun ini.

Pagi itu, selain dihadiri oleh pengasuh PPHMQ, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus dan Ibu Nyai Azzah Nur Laila Muhammad, Haul Haflah Akhirussanah ini juga dihadiri oleh segenap dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo. Serta hadir pula beberapa ulama Kediri.

Sebelum acara mencapai ujung, KH. Thoifur Mawardi dari Purworejo, Jawa Tengah, diminta untuk memberikan mauizhah hasanah. Beliau berpesan, diantaranya, “Jadilah wanita shalihah bagi suami-suami kalian. Wanita shalihah itu bagaimana? Yaitu istri yang mampu mengajak suaminya berpindah dari kebiasaan buruk kepada yang lebih baik. Kalian harus bisa mengajak suami agar menjadi penerus akidah ahlussunah wal jamaah yang kuat,”.

Di penghujung acara, dilaksanakan  penyerahan seluruh penghargaan itu kepada para santri terkait, juga foto bersama para siswi terpilih itu dengan pengasuh.

Sementara Haul Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo, akan diselenggarakan pada Jumat malam Sabtu, 09 Sya’ban 1438 H./05 Mei 2017 M. besok.][