Tag Archives: Hijriyah

Praktek Rukyatul Hilal

LirboyoNet, Kediri – Jika sebagian santri yang lain sedang asyik menikmati waktu sore (8/4/’16) mereka melihat persiapan acara Lirboyo Bersholawat bersama Habib Syekh, santri yang lain sibuk dengan kertas dan bolpoint mereka. Ya, sebagian santri sedang mengikuti kelanjutan kursus falak, praktek rukyatul hilal.

Bertempat di halaman gedung ruang tamu Pondok Pesantren Lirboyo, bersama tutor Ust. Reza Zakaria dan Ust. Asmujib, para santri ini begitu antusias menyimak setiap proses yang harus dilakukan agar bisa melihat hilal.

Ketika disinggung soal apakah mungkin jika ke depan ada sebuah tutorial mencari arah kiblat yang bisa digunakan oleh masyarakat, beliau menjawab bisa saja. Meskipun toh pada akhirnya tutorial itu tidak praktis, karena tetap saja ada proses hitung-menghitung. “Kepedulian masyarakat terhadap arah kiblat itu masih minim, maka sangat bagus jika nanti kita bisa bikin sebuah tutorial yang semoga saja bisa bermanfaat bagi yang melihat dan mempraktekkannya,” tambah Ust. Reza

Kesimpulan dari praktek tadi adalah :

  • Ijtima’ akhir Jumadil Tsani 1437 H terjadi pada : Hari Kamis Pahing tanggal 7 April 2016 M
  • Jam : 18:27:2 WIB
  • Terbenamnya matahari pada pukul : 17:34:28,88 WIB
  • Ketinggian hilal hakiki : 12° 41′ 10,91″
  • Ketinggian hilal mar’i : 12° 18′ 45,97″
  • Muktsul hilal / lamanya hilal di atas ufuk : 0° 49′ 19,06″
  • Azimuth matahari : 7° 21′ 56,58″
  • Azimuth bulan : 11° 26′ 22,83″
  • Jarak hilal dan matahari : 4° 4′ 26,25″
  • Arah rukyat : 281° 26′ 22,83″
  • Nurul hilal : 2,22 cm
  • Awal Rojab 1437 H. bertepatan dengan : Hari Sabtu Wage tanggal 9 April 2016 M.

Lajnah Falakiyah

Badan otonom yang satu ini ditetapkan oleh Badan Pembina Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo (BPK P2L) pada tanggal 17Jumadil Ula 1428 H./ 033 Juni 2007 M., Lajnah Falakiyah merupakan satu-satunya tim yang bertugas menyusun almanak Pondok Pesantren Lirboyo. Awalnya, tim ini hanya berjumlah 6 orang alumni Lirboyo yang mempunyai kemampuan dalam bidang ilmu Falak. Keenam alumni itu adalah: KH. Sholeh Abdul Jamil (Bandar Kidul) sebagai ketua, dan anggota Mudi Samudi (Jamsaren), Masruhan Zen (Maesan, Mojo), Agus Reza Zakaria (Slumbung), dan A. Yazid Fattah (Malang).

Sering berjalannya waktu dan perkembangan, anggota Lajnah Falakiyah melayani konsultasi ilmu falak, karena memang keberadaan lembaga ini dibutuhkan masyarakat. Sebagian kebutuhan itu antara lain: penentuan jadwal shalat, pemateri kursus, petunjuk awal bulan dan penentuan arah kiblat. Melihat banyaknya tugas tersebut, maka BPK P2L akhirnya menambahkan anggota baru, yakni H. Saiful Islam (Kediri) dan Asmujib (Kras, Kediri).

Istighotsah 1 Muharram 1434 H

LirboyoNet, Kediri – Sore itu, bertepatan dengan pergantian tahun Hijriyah yang ke 1434, sepanjang jalan menuju Masjid Agung sangat sesak dengan kendaran yang berlalu lalang memadati ruas jalan Bandar Kidul. Terutama pada jalur menuju jantung kota Kediri. Para Polisi Lalu Lintas, BANSER dan SATPOL PP, tampak sibuk mengatur lalu lintas agar kemacetan bisa dihindarkan.

Meski cuaca panas karena tak kunjung hujan, namun hal tersebut tak menyurutkan animo para santri Pondok Pesantren Lirboyo dan masyarakat muslim Kediri untuk mengikuti agenda tahunan yang di gelar di Masjid Agung Kota Kediri. Mereka berbondong-bondong guna mengikuti doa akhir tahun dan awal tahun baru orang islam.

Dengan didominasi baju warna putih dan berbekal sajadah para santri beramai-ramai berjalan kaki menuju Masjid kebanggaan Kota Kediri. Hanya saja, agar lebih tertib para santri harus melewati jalan yang sudah ditentukan oleh pondok. Tampak para keamanan Pondok berjaga-jaga di beberapa titik-titik tertentu yang mengarahkan santri ke tujuan utama.

Pukul 17.00 WIB Masjid Agung kota Kediri mulai dipadati oleh masyarakat dan santri. Puncaknya saat acara istighotsah dimulai. Saking banyaknya pengunjung dan Masjid tak mampu membendung, para pengunjung rela mengikuti acara itu di ruas jalan raya, bahkan sampai taman alun-alun dan halaman dhoho plaza.

Acara itu di hadiri oleh beberapa Kyai terkemuka dan Pemkot Kota Kediri diantaranya; pengasuh Pon Pes Lirboyo KH. Anwar Manshur, KH. Ilham Nadlir, KH. Anwar Iskandar, KH. A. Mahin Toha, KH. An’im Falahuddin Mahrus dan Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, SE.

Pertama kali yang mengisi sambutan dalam acara itu adalah Wakil Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, SE. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa istighosah semacam ini merupakan ungkapan rasa syukur kita terhadap Yang Maha Kuasa. Dan seharusnya acara semacam ini bisa menjadi pengingat kita akan adanya peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah menuju Kota Madinah. Sehingga akhirnya kita mampu merefleksikan dan mengaktualisasikan dalam tindakan kita sehari-hari agar hari ini bisa menjadi lebih baik dari hai kemarin. Beliau juga mengutip sebuah hadits yang berbunyi; “Barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung, barangsiapa hari ini sama saja dengan hari kemarin maka dia termasuk orang yang merugi dan barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia termasuk orang yang merugi”.

Disusul kemudian sambutan atas nama pengurus cabang NU Kota Kediri oleh KH. Anwar Iskandar, Pengasuh Pon. Pes  Assaidiyyah Jamsaren Kediri.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Dalam sambutannya beliau mengingatkan segenap Kaum Nahdliyyin, betapa sulitnya perjuangan NU di masa kini dalam mempertahankan ajaran Ahlussunah Waljama’ah yang berbasis tawazun, tasamuh, dan tawasut . Hal ini dikarenakan adanya kecaman dan tantangan dari sisi kiri maupun kanan. Terutama oleh Islam radikal yang tak henti melecehkan kita dan menuduh kita telah berbuat bid’ah dholalah dan neraka. Mereka juga beranggapan bahwa para Wali Songo adalah sumber perbuatan syirik (baca: ziarah).

Beliau menambahkan, di sisi lain kita juga berhadapan dengan Islam Liberal yang membebaskan segala macam termasuk diantaranya praktek poliandri (wanita boleh bersuami lebih dari satu).Tak sampai disitu, menurut beliau saat ini kaum gay dan lesbi telah berusaha memperjuangkan pernikahan antar jenis. Terus lagi, kaum PKI yang keberadaanya dulu pernah dilarang oleh pemerintah kini sudah mulai bermunculan kembali.

Beliau mengimbau bahwa inilah saatnya bagi kita untuk meneladani Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW. Karena, berkat hijrah pula Islam yang sebelumnya adalah kaum minoritas, dikerdilkan dan termarjinalkan oleh masyarakat Makkah akhirnya dapat berkembang subur di Madinah dan terus tumbuh sampai sekarang ini. Oleh karena itu kita tak boleh berpangku tangan dan bertopang dagu dalam menghadapi tantangan yang semacam itu agar ajaran Ahlussunah Waljama’ah dapat dipertahankan.

Sebelum mengakhiri sambutannya beliau mewanti-wanti agar tak lengah oleh fasilitas dunia yang bisa membuat diri kita melupakan ajaran agama Islam.

Setelah KH. Anwar Iskandar selesai memberikan sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan do’a akhir tahun sekaligus sholat maghrib berjama’ah yang diimami langsung oleh KH. Anwar Manshur.

Selanjutnya pembacaan do’a awal tahun yang di pimpin oleh KH. Ilham Nadzir di teruskan dengan sholat isya berjam’ah yang juga di imami oleh KH. Anwar Manshur.

Pukul 19.30 Wis acara Istighotsah dan Do’a bersama yang diadakan oleh Pengurus NU bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kediri itu pun usai. Kembang api dinyalakan sebagai penutup acara diiringi dengan penampilan rebana ala habsyi yang memang diundang untuk memeriahkan acara itu.[]

Ribuan Santri Ikuti Doa Awal Tahun Hijriyah

LirboyoNet, Kediri – “Mensikapi fenomena bencana yang kerap kali terjadi akhir-akhir ini, harusnya kita dapat berbenah dengan instropeksi terhadap diri kita sendiri, mengapa musibah yang sedemikian besar dan beruntun ini datang silih berganti, sehingga kita mau bertobat dan mawas diri, “. Demikianlah sekilas penggalan ceramah yang di sampaikan oleh KH. Anwar Iskandar (pengasuh pondok pesantren Assidiqiyyah jamsaren Kota Kediri), dalam acara Do’a bersama akhir dan awal tahun Hijriyyah, yang di helat di Masjid Agung Kota Kediri sabtu petang (26/11).

Dalam kegiatan yang menjadi agenda tahunan ini, berbagai elemen masyarakat tampak mengikuti dengan seksama seluruh kegiatan, mulai dari golongan santri hingga masyarakat umum, sehingga kapasitas Masjid Agung Kota Kediri tidak mampu menampung jamaah yang berjumlah belasan ribu jamaah, akhirnya meluber hingga terpaksa jalan raya di depan Masjid Agung ditutup sementara untuk menampung jamaah.

Khusus santri lirboyo Sejak sore hari, mereka telah berduyun-duyun menuju Masjid Agung Kediri dengan berjalan kaki, meskipun jarak yang ditempuh lumayan jauh, yakni sekitar 3 KM. Iring-iringan santri yang berjalan menuju masjid Agung membuat jalanan yang dilewati santri menjadi penuh, hingga membuat arus lalu lintas merambat pelan.

Dalam seremonial acara do’a bersama akhir dan awal tahun hijriyaah ini, diawali dengan istighotsah yang dipipin oleh KH. Abdul hamid Abdul Qodir (Pengasuh PP. Maunah sari Kediri), usai istigotsah dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan oleh KH. Anwar Iskandar, diteruskan pembacaan do’a akhir tahun oleh KH. M. Anwar Manshur.

Usai sholat magrib, rangkaian kegiatan Do’a bersama diteruskan dengan pembacaan ayat kursi dan do’a awal tahun, dipungkasi dengan pembacaan Do’a yang di pimpin KH. A. Idris Marzuqi.