Tag Archives: HIMASAL

Urgensi Fikih Kebangsaan di Tengah Derasnya Informasi Medsos

Rangkaian haul KH. Abdurrahim ke-21 Pendiri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kujangsari Langensari Kota Banjar Jawa Barat tahun ini cukup spesial. Selain khataman Al Qur’an bil ghaib dan pengajian akbar yang menjadi rutinitas tahunan juga diselenggarakan halaqah kebangsaan dengan membedah buku Fikih Kebangsaan karya Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL).

Rencananya bedah Fikih Kebangsaan akan diselenggarakan pada Ahad 23 September 2018 Jam 08.00 WIB sampai selesai di PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar.

Gus Basitur Rijal selaku pihak keluarga pesantren menjelaskan: “Bedah Fikih Kebangsaan sangat penting untuk menguatkan wawasan kebangsaan bagi santri PP Citangkolo di tengah derasnya informasi di dunia maya yang sering menggerus nilai-nilai nasionalisme.”

Sementara Gus Muhammad Nailul Azmi sebagai Panitia Pelaksana menuturkan bahwa bedah buku akan diikuti 500an peserta dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, santri, undangan pesantren sekitar dan HIMASAL Kota Banjar Jawa Barat.

Dihubungi secara terpisah, Ust Ghufron anggota HIMASAL Kota Banjar yang juga menjadi fasilitator kegiatan ini mengatakan bahwa buku Fikih Kebangsaan sangat dibutuhkan untuk menjawab berbagai propaganda yang masih mempertentangkan antara semangat keagamaan dan kebangsaan.

sumber : aswajamuda.com

Bahtsul Masail Konferwil NU Jatim

LirboyoNet, Kediri- (28/07/18) Agenda yang tak kalah penting dalam rangkaian Konferwil PWNU Jatim kali ini adalah bahsul masail. Acara yang digelar menempati dua lokasi. Bertempat di Gedung LBM adalah komisi Waqiiah yang membahas berbagai permasalahan aktual. Diantara soal yang dibahas adalah terkait tayangan di salah satu stasiun televisi swasta. Meski dilaksanakan hingga dini hari, para peserta dari perwakilan PCNU se-Jatim itu tetap bersemangat  dalam mengeluarkan berbagai argumen-argumen dan analisanya.

Sedangkan komisi maudhu’iyyah yang bertempat di Aula Madrasah Baru, dini hari tadi membahas seputar kerukunan antar umat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tensi perdebatan begitu tinggi mana kala pembahasan sampai pada seberapa jauh batasan-batasan toleransi yang tidak melanggar syariat. Namun, tentu saja berbagai silang pendapat antar peserta pada akhirnya terjawab dengan uraian para perumus dan musahih yang memang sudah membidanginya.

Kedua acara yang dimulai sesaat setelah selesai pembukaan Konferwil di Aula Muktamar itu berlangsung hingga menjelang subuh. Nampak hadir sebagai mushahih  dalam komisi Waqiiyyah KH. Yasin Asmuni, KH. Mahrus Maryani, KH. Ali Maghfur Syadzili dan KH. Murtadlo Ghoni. Sementara dalam komisi Waqiiyyah ditashih oleh KH. Romadlon Khotib, KH. Muhin Aman Ali dan KH. Azizi Hasbulloh.

Tidak hanya itu, “Masalah-masalah yang sudah dirumuskan ini nantinya akan ditashih oleh jajaran Syuriah PWNU Jatim agar nantinya dapat menjembatani dan memberikan panduan kepada umat terkait hal-hal yang dibahas dalam bahsu tersebut.” Tutur Ustadz Ahmad Muntaha AM. selaku moderator acara.

Pembahasan komisi waqiiyyah pagi tadi dilanjutkan dengan pembahasan masalah kontroversi hukum wanita karir yang mengalamai masa ‘iddah, pasca ditinggal suaminya. Juga masalah terkait polemik fasilitas umum di pesantren dan tempat ibadah. Sementara komisi maudhu’iyyah pagi tadi mengkritisi pembahasan masalah terkait zakat profesi.

Untuk hasil selengkapnya, silahkan diunduh disini (komisi waqi’iyyah). [IW]

Cerita Alumni Pemenang Umrah Gratis Kamis Legi

Bismillahirrahmanirrahim, untuk pemenang umroh, namanya bapak Sabar Widodo.

Beliau seolah tak percaya ketika namanya disebut sebagai alumni yang beruntung mendapatkan doorprize umroh oleh Agus HM. Ibrahim A. Hafidz. Ya, bapak Sabar Widodo adalah nama alumni yang berkesempatan mendapatkan hadiah umroh gratis dari Himasal Haji dan Umroh.

Kulo taseh mboten percados kaleh keadaan” (Saya masih tidak percaya dengan yang terjadi). Tutur bapak Sabar Widodo ketika dihubungi Tim LirboyoNet kemarin. “Taseh kraos deg-degan.” (Masih terasa berdebar-debar) Tambahnya.

Beliau merupakan alumni Lirboyo tahun 1995 M asal kecamatan Bawen, kabupaten Semarang. Beliau rutin mengikuti pengajian kamis legi Al-Hikam. Sudah sejak tiga tahun lalu, hampir setiap ada pengajian kamis legi di Lirboyo, beliau selalu aktif dan berangkat mengikuti pengajian ini bersama rombongan sesama alumni. Tapi tak disangka, pada kesempatan kamis legi kemarin (24/08), menjadi hari keberuntungan bagi beliau.

Beliau sama sekali tak menduga kalau akan mendapatkan hadiah umroh gratis ini.

Kulo malah mboten ngertos nek bade onten undian” (Saya malah tidak tahu kalau akan ada undian.) Kata beliau.

Beliau sempat ‘digoda’ teman sesama alumni begitu mengetahui kalau beliau adalah pemenang umrah gratis.  Mereka menanyakan apa resep dan doa, sehingga bisa memenangkan undian ini. Tentu hal ini juga dijawab dengan ‘gurauan’ pula, sebab sebelumnya beliau benar-benar tak memiliki firasat apa-apa.

Kulo mboten gadah firasat nopo-nopo. Pas ngumpulken kupon, ya cuma sekedar berharap saja.” (Saya tak punya firasat apapun. Ketika mengumpulkan kupon, saya cuma berharap saja.) Ungkap bapak Sabar Widodo diiringi dengan senyum.

Kamis legi edisi 02 Dzulqa’dah atau 24 Agustus kemarin memang istimewa. Ada hadiah umroh gratis bagi satu orang alumni yang beruntung. Oleh karena itu, pengajian kamis legi kemarin cenderung lebih ramai dari biasanya. Ribuan alumni tampak hadir memenuhi serambi Masjid Lawang Songo Lirboyo, hingga ke pelatarannya.

Dan seperti biasa, pengajian dibuka dengan tahlil dan diikuti dengan pembacaan kitab Al-Hikam oleh KH. M. Anwar Manshur. Para alumni dengan khidmat menyimak baris demi baris kalam-kalam hikmah yang diuraikan oleh Syaikh Ibn ‘Athoillah, berikut beberapa penjelasan singkat dari KH. M. Anwar Manshur.

Sesusai “kembali mengaji”, dan menyibak untaian-untaian petuah dari kitab karangan ulama besar asal negri Iskandariah tersebut, para alumni bermushofahah dengan para masyayikh. Mengharap limpahan berkah dan doa senantiasa tak putus meski tak lagi berdomisili di Ponpes Lirboyo.

Selasa Wage, Sebuah Rutinitas Himasal Magelang

Lirboyonet, Magelang—Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) Magelang kecamatan Borobudur memiliki semacam kegiatan rutinan sebagai wadah berkumpul antar alumni. Kegiatan ini digelar setiap Selapanan, lebih tepatnya setiap malam Selasa Wage.

Pada malam Selasa Wage kali ini (14/08), rutinan Selapanan bertempat di lokasi ‘Rumah Kamera’, desa majaksingi kec. Borobudur. Selapanan diawali dengan tahlil teruntuk masyayikh Lirboyo, lalu dilanjutkan dengan musyawarah.

Dalam musyawarah ini, tercetus ide untuk ikut menyemarakkan kampanye #ayomondok, yang telah digaungkan oleh organisasi Nahdlatul Ulama beberapa waktu lalu. Bagaimanapun juga, sebagai alumni Pondok Pesantren Lirboyo, sudah seharusnya bergiat dalam lingkaran nasyrul ilmi, menyebarkan ilmu. Karena wasiat sang pendiri, KH. Abdul Karim, kepada para santri Lirboyo adalah ngedep dampar. Ngedep dampar adalah sebuah filosofi, yang diterjemahkan sebagai pengabdian kepada ilmu. Salah satu caranya ialah mengajarkan ilmu, apapun ilmu yang dimiliki. Termasuk dalam pengabdian ini adalah menarik hati masyarakat sekitarnya untuk memondokkan putra putrinya. Karena, diakui atau tidak, pesantren adalah tempat terbaik untuk mentrasformasikan ilmu agama dan akhlak kepada generasi muda.

Acara berlangsung hingga larut malam, sekitar pukul 01:00. WIB, yang ditutup dengan doa oleh KH. Muslih, dan Ketua Himasal daerah, KH. Noor Mahin CH.][

Sumber: akun Instagram himasalmagelang

Instruksi Qunut Nazilah dan Hizib Nashar

Baitul Makdis di masa Nabi Sulaiman as. menjulang megah dengan ketinggian batu altar 12 hasta dan ketinggian kubah 18 mil. Di atasnya dihiasi patung kijang emas dengan gemerlap mutiara merah di antara kedua matanya, sampai-sampai para wanita daerah Balqāʼ saat itu (perjalanan dua hari dari Baitul Makdis) bisa memintal dengan diterangi pantulan mutiara tersebut.[1]

Dan Baitul Makdis, yang lebih sering kita sebut Masjid Al-Aqsha, kini telah kehilangan keindahan pantulan mutiara itu. Alih-alih menjadi tempat ibadah dan ta’lim kaum muslim, Baitul Makdis kini telah dikuasai oleh Pemerintah Israel. Beberapa kasus kontroversial pun terjadi. Puncaknya adalah ketika polisi Israel tidak mengizinkan pria Muslim berusia di bawah 50 tahun untuk masuk ke kompleks Masjidil Aqsha. Mereka berdalih, penutupan ini dipicu oleh tertembaknya dua tentara mereka hingga berbuntut tewasnya tiga orang yang diduga penyerang tersebut.

Tidak berhenti pada penutupan Masjid Al-Aqsha, Israel terus saja menyiksa nurani kita dengan perbuatan-perbuatan mereka yang arogan. Setelah insiden penutupan masjid, berturut-turut mereka membuat warga Palestina menderita. Pada Ahad (16/07), mereka memasang alat-alat pendeteksi logam dan kamera pengawas di seluruh area masjid. Protes dan penolakan warga Palestina tidak membuat kekejaman mereka redam. Bahkan pada Selasa, (18/07) pasukan mereka menembak Syaikh Ikrima Sabri, mantan mufti Jerusalem dan Imam Masjid Al-Aqsha, saat menjadi imam shalat jamaah di pelataran Masjid Al-Aqsha.

Kekejaman yang tak henti-henti harus ditanggapi dengan tidak berdiam diri. Bagi umat muslim, khususnya kaum santri, senjata terampuh yang dimiliki adalah doa. “ad-Du’a shilahul mukmin,” terang Rasulullah suatu ketika. Maka sudah saatnya kaum muslim bersama-sama menengadahkan tangan dan meluapkan doa bagi keselamatan warga Palestina, dan kehancuran orang-orang kafir yang terus saja menyiksa mereka.

Pondok Pesantren Lirboyo menyeru kepada seluruh alumni untuk membaca qunut nazilah dalam shalat, dan mengamalkan Hizib Nashar yang ditujukan untuk kehancuran Zionis Israel.

Bacaan qunut nazilah bisa didownload di link ini.

[1] Mujîr ad-Dîn al-Ḥanbaly, Al-Uns al-Jalîl. Hal. 118-120.