Tag Archives: HIMASAL

Dawuh Mbah Mun dalam Haflah 1438 H.

Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien 2017 Jumat (05/05) kemarin, dihadiri oleh KH. Maimun Zubair, kiai sepuh pengasuh Ponpes Al-Anwar, Sarang Rembang Jawa Tengah. Beliau hadir untuk memberikan siraman rohani bagi para hadirin. selain juga beliau datang sebagai alumni. Berikut beberapa kutipan maqolah beliau di acara malam hari itu:

 

“Kadang wong Islam iku dirubah gak kroso, kabeh katut opo zamane.”

Terkadang, orang Islam dirubah tidak merasa. Mereka semua terhanyut oleh aliran zaman.

 

“Elek apik seko Allah, sing ngatur yo Allah.”

Semua kebaikan itu datang dari Allah. Yang mengatur semuanya adalah Allah.

 

“Wong sing tawakkal menyang Allah tenan, Allah sing nyukupi.”

Manusia yang tawakkal, berpasrah diri kepada Allah dengan sungguh-sungguh, Allah lah yang nanti akan mencukupi keadaannya.

 

“Wong sing slamet iku wong sing netepi tindakane kanjeng Nabi, lan sohabat-sohabate.”

Manusia yang selamat, adalah mereka yang teguh menjalankan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

 

“Jowo okeh kiaine mergo katah turunane kanjeng Nabi sing ora nasab.”

Di Jawa ada banyak kiai, karena banyak keturunan Nabi saw. yang tidak bernasab.

 

“Allah ndamel kedhidupan wong Islam saben tahun berubah. Jenenge mujadid. Ngurip-ngurip madzhab salaf, tapi jangan sampai bertentangan dengan zaman sekarang.”

Allah merubah kehidupan orang Islam setiap tahunnya. Itulah yang dinamakan mujaddid (pembaruan). Seorang muslim harus menghidupkan madzhab salaf (kuno), tapi jangan sampai bertentangan dengan zaman sekarang.][

Keputusan Bahtsul Masail Kubro ke-6

LirboyoNet, Kediri- Agenda Bahtsul Masail Kubro dan Himasal yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo pada Rabu-Kamis 23-24  Jumadal Akhirah 1438 H/ 22-23 Maret 2017 M sudah berakhir. Acara tersebut secara resmi ditutup oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, kemarin (23/03).

Acara yang digelar dalam rangka penutupan seluruh aktivitas kegiatan Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Ponpes Lirboyo dan menyongsong datangnya peringatan Haul dan Haflah Akhirussanah Ponpes Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien tersebut telah menghasilkan beberapa rumusan akhir yang telah didiskusikan dan disepakati oleh peserta musyawarah yang terbagi dalam 3 komisi, yaitu Komisi A & B dengan pola kajian waqi’iyyah (aktual) serta Komisi Himasal dengan pola kajian maudlu’iyyah (tematik).

 

Untuk mendownload hasil keputusannya, klik tautan dibawah ini.

KOMISI A

  1. Menshare Berita Hoax yang Belum Ditabayyun
  2. Dikotomi Al-Quran
  3. Panti Asuhan

KOMISI B

  1. Islam Keras atau Tegas
  2. Dilema Dalam Tradisi Penghormatan
  3. Kejelasan Menanam Tanaman di atas Kuburan dan Mencabutnya
  4. Tawasul Ilegal

Menyongsong Bahtsul Masail Pamungkas

LirboyoNet, Kediri – Bahtsul masail merupakan ciri khas pesantren. Salah satu cita rasa yang hanya ada di pondok-pondok pesantren ini sekarang semakin berkembang.  Selain keberadaannya yang semakin dibutuhkan sebagai “solusi aktual” problematika umat, bahtsul masail juga dinilai sebagai jalan tengah dalam menyikapi kasus-kasus yang sekarang tengah hangat merebak. Seperi isu tentang kenegaraan, yang saat ini menjadi hangat diperbincangkan. Bahtsul masail tak ketinggalan mengangkat tema ini. Baik santri maupun alumni, semua turut ambil bagian untuk andil menjawab tuntutan zaman yang semakin cepat. Seperti dikutip dari dawuh KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Ponpes Lirboyo, “Dari mana saja, dari pondok mana saja, kita tingkatkan adanya bahtsul masail, sebab itu satu-satunya ciri khas dari pondok pesantren.”

Dalam rangka penutupan seluruh aktifitas dan kegiatan Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo, dan menyongsong datangnya peringatan Haul dan Haflah Akhirussanah Ponpes Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, dimulailah acara puncak Bahtsul Masail Kubro (BMK) dan Bahtsul Masail Himasal. Seperti halnya jamak diketahui, Ponpes Lirboyo rutin setiap akhir tahun pelajaran mengadakan agenda bahstul masail, sebagai acara pamungkas. Tahun ini sendiri, bahtsul masail pamungkas di pondok Pesantren Lirboyo diagendakan mulai Rabu-Kamis, 22-23 Maret 2017 M./23-24 Jumadal Akhirah 1438 H, di serambi Masjid Lawang Songo dan Kantor Himasal. Acara ini dibuka kemarin.

(Baca beritanya disini)

Hanya saja, yang istimewa tahun ini adalah keturut sertaan Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) dalam bahtsul masail penutup. Jika biasanya ditahun-tahun sebelum ini, bahtsul masail pamungkas hanya dihadiri oleh undangan dari beberapa pondok pesantren, dan para santri Lirboyo sendiri, tahun juga turut hadir, para pengurus Himasal daerah masing-masing guna menyemarakkan jalannya bahtsul masail.

Para pengurus cabang Himasal daerah diundang untuk menghadiri bahtsul masail kali ini. Tak kurang dari dua puluh lima pengurus cabang Himasal jawa Timur, seperti Pengurus Cabang Himasal Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Malang, dan puluhan pengurus anak cabang Himasal Kediri diundang. Perwakilan dari luar Jawa Timur, seperti Jepara, Tasikmalaya, bahkan Palembang juga ikut datang. Sementara BMK, dihadiri oleh delegasi utusan dari pondok-pondok di pulau Jawa. Sekitar enam puluh  pondok pesantren diluar Pondok Pesantren Lirboyo diundang. Seperti PP. Nurul Kholil, Al-Falah, MIS, dan lain-lain.

Menurut Agus HM. Ibrahim Hafidz, adanya Bahtsul Masail Himasal ini dilatar belakangi desakan dari berbagai kalangan, yang meminta alumni Lirboyo untuk lebih turut dan peka terhadap permasalahan yang saat ini sedang hangat. Maka dibentuklah forum khusus yang mewadahi aspirasi ini. “Mulanya, di dalam agenda Himasal, bahtsul masail akan terlaksana setiap lima tahun sekali. Namun, akhir-akhir ini, ada desakan dari para alumni yang merasa bahwa untuk mengakomodir dan memformulasi permasalahan yang aktual, tidaklah cukup dirumuskan lima tahun sekali. Maka kemudian Himasal mencoba mewadahi permasalahan alumni ini dengan mengadakan bahtsul masail Himasal pada akhir tahun ini.”

(Baca wawancara eklusifnya disini.)

Tahun ini, BMK dan Bahtsul Masail Himasal mengangkat dua kajian umum. Untuk BMK khusus membahas bahtsul masail dengan pembahasan-pembahasan waqi’iyyah (aktual), sementara Bahtsul Masail Himasal membahas kajian maudhu’iyyah (tematik).

Ada dua belas soal waqi’iyyah yang dibahas, seperti yang saat ini sedang hangat, apakah hukumnya membagikan berita hoax, dikotomi Alquran untuk menarik minat baca, hukum pelestarian situs sejarah, dan bagaimana maksud “keras” dan “lembut” dengan pemeluk agama lain.

(Soal BMK waqi’iyyah, semuanya dapat diunduh di link ini.)

Sementara bahtsul Masail Himasal dengan kajian maudhu’iyyah mengangkat tema besar “Bersama Pesantren, Merajut Kebhinekaan”. Pembahasannya tak jauh dari polemik keabsahan NKRI sebagai bentuk final negara kita, dan bagaimana sikap yang akan disepakati, juga langkah yang perlu ditempuh. Tak lupa, dicantumkan pula kesimpulan dan rekomendasi.

(Draft Bahtsul Masail Himasal dapat diunduh di link ini.)

Apapun hasil pembahasan yang disepakati nantinya, kita hanya tinggal menunggu, semoga dengan adanya musyawarah semacam ini, keberadaan pesntren sebagai lembaga pendidikan berbasis agama semakin bisa menjawab “keresahan masyarakat” akan arus globalisasi.[]

Pembukaan Bahtsul Masail Kubro dan BM Himasal

LirboyoNet, Kediri –Dalam menyongsong Haul dan Haflah Akhirussanah Ponpes Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, digelarlah Bahtsul Masail Kubro (BMK) dan Bahtsul Masail Himasal. Kemarin sore (22/03), Bahtsul Masail Kubro dan Bahtsul Masail Himasal tersebut telah resmi dibuka. Dalam pembukaan kemarin, KH. M. Anwar Manshur, selaku pengasuh pondok Pesantren Lirboyo menyampaikan tentang perlunya forum semacam ini. Karena forum semacam bahtsul masail dinilai merupakan salah satu lahan kaderisasi dan regeneresasi, untuk membina calon-calon pemimpin anak bangsa. “Pondok pesantren sangat sedikit. Akeh sing ora diterusno, (banyak yang tidak dilanjutkan keberadaanya), maka beliau menghimbau, “Pondok pesantren yang kadernya kurang, kita ajak Bahtsul masail, agar memiliki tanggung jawab.”

Lebih lanjut, beliau mewanti-wanti, “Maka ayo ditingkatno, adanya pendidikan yang sebaik bahtsul masail ini. Kita kembangkan dalam daerah-daerah yang belum ada bahtsul masail walaupun kecil-kecilan. Biar tahu faidah bahtsul masail. Kalau kita kembangkan, nanti akan mudah mencari generasi-generasi yang bisa meneruskan kita.”

Pesantren juga memiliki tugas besar dalam membina umat, sekarang banyak permasalahan aktual yang belum sempat terjawab. Beliau, KH. Anwar Manshur menekankan tentang amanat dan tanggung jawab ini kemarin, “Sekarang masyaallah, lakune wong macem-macem. Sekarang kita yang harus memberi jalan, iki oleh tenan opo ora.” (Sekarang perilaku masyarakat bermacam-macam, dan sekarang kita yang harus ‘memberi jalan’, masalah yang sedang terjadi apakah hukumnya benar-benar boleh atau tidak).

Terakhir, mengenai pentingnya musyawarah, beliau mengingatkan, “Masalah-masalah yang kita hadapi dalam musyawarah ini akan kita ingat terus, tidak akan hiang. Itu barokahnya orang musyawarah.”

BMK tahun ini, Ponpes Lirboyo mengirimkan undangan ke berbagai macam delegasi-delegasi pondok pesantren diwilayah Jawa Timur, dan sekitarnya. Seperti PP. Nurul Kholil, Al-Falah, MIS, dan lain-lain. Tidak hanya itu, perwakilan pengurus cabang Himasal ari berbagai macam daerah juga turut diundang untuk menyemarakkan bahtsul masail Himasal yang dilakukan bersama dengan BMK. Tak kurang enam puluh pondok pesantren, dua puluh lima pengurus cabang Himasal daerah, juga puluhan pengurus anak cabang Himasal Kediri diundang untuk hadir menyemarakkan acara yang dilaksanakan sejak Rabu-Kamis, 22-23 Maret 2017 M./23-24 Jumadal Akhirah 1438 H ini.[]

Bersama Pesantren, Merajut Kebhinekaan

Implementasi kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan langkah konkrit dalam menjaga dan mempertahankan eksistensi agama Islam. Karena sudah menjadi sebuah keniscayaan, agama dan negara adalah dua komponen kekuatan yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dua hal tersebut saling melengkapi dan membutuhkan. Karena negara sebagai kebutuhan yang sangat penting  dalam memanifestasikan syariat Islam secara riil dalam kehidupan. Dengan pengertian, sikap moderat dan inklusif Islam ini juga harus tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Memahami hal demikian, maka menjaga keutuhan NKRI adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam. Karena memperjuangkan NKRI harga mati sejatinya adalah langkah prefentif untuk memperjuangkan agama Islam. Sebab dalam konteks keIndonesiaan, agama bisa tegak bila masyarakatnya bersatu damai. Tidak mungkin bersatu damai tanpa memegang teguh prinsip kesatuan dan pengamalan dasar negara yang disepakati masyarakat Indonesia dengan kemajemukannya.

Pesantren, dalam perjalanannya telah memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia serta mempertahankannya. Selain perjuangan fisik yang dikorbankan, para ulama’ pesantren selalu menjadi garda terdepan dalam berbagai bentuk formula pemikiran dan kontekstualisasi ajaran salaf sudah dikerahkan demi tetap menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Seperti penerimaannya terhadap Pancasila sebagai asas tunggal dasar negara, membenarkan gelar Waliyyul Amri al-Dlaruri Bi al-Syaukah kepada Presiden Soekarno, dan seterusnya.

PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945) merupakan empat pilar bangsa yang menjadi pedoman utama pandangan kenegaraan ulama pesantren. Sebab dengan cara demikian, dakwah Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah dapat berjalan dengan efektif. Sebagaimana ditegaskan Ibnu al-Arabi, berdakwah merupakan bagian siyasah (strategi), sikap ulama pesantren di atas adalah strategi yang paling sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang plural.

Nahdlatul Ulama dan pesantren dengan sikap tawazun dan tasamuhnya tidak membenarkan segala gerakan, tindakan, atau ideologi yang dapat memecah belah umat. Segala bentuk provokasi baik kepada pemerintah atau masyarakat lain yang tidak sepandangan jauh dari garis-garis yang telah digoreskan para ulama pesantren. Hampir tidak pernah ada bukti bahwa NU dan pesantren kontra dengan kekuasaan dan kepemimpinan nasional. Bahkan pesantren dan NU selalu berada digaris terdepan dalam mengawal dan menjaga NKRI dari segala bentuk upaya yang akan merongrong kesatuan dan persatuan. 20

Mengingat berbaai ancaman yang bertubi-tubi terhadap kekuatan bangsa sudah mulai gencar dilakukan. Aktualisasi pemikiran ulama pesantren sudah saatnya dikaji dan dikembangkan.  Agar seluruh elemen bangsa tetap memegang kuat  prinsip kenegaraannya serta dan menyatukan visi dan misi dalam komitmen untuk menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai penopang utama kekuatan Islam.

 

Bahtsul Masa’il HIMASAL

Selain uraian sebagaimana disebutkan di atas, acara Bahtsul Masail Maudlu’iyyah Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) pusat yang bertemakan “Meneguhkan Fiqh Kebangsaan di Tengah Kebhinekaan” juga akan membahas beberapa sub bab materi utama, diantaranya: Nasionalisme Dalam Pandangan Islam, Nahdlatul Ulama Mengawal Pemerintahan Yang Sah, Metode Dakwah Dengan mengedepankan Sisi Rahmat, dan Provokasi Bukan Ajaran Nahdlatul Ulama.

Acara Bahtsul Masail dengan pola kajian tematik tersebut dilaksanakan pada Rabu-Kamis 23-24 Jumadal Akhirah/22-23 Maret besok.  Dalam waktu yang bersamaan Lajnah Bahtsul Masa’il (LBM) Lirboyo juga akan menggelar Bahtsul Masa’il kubro (BMK) yang akan diikuti oleh pesantren-pesantren se-Jawa Madura yang diundang.  Untuk draft soal bisa diunduh di link ini. []