Tag Archives: Hukum

Hukum Membelikan Skincare untuk Istri

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apakah membelikan Skincare maupun kosmetik menjadi hak istri yang harus dipenuhi suami? Terimakasih. Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Arini, Malang)

__________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Nafkah merupakan kewajiban seorang yang harus dipenuhi untuk mencukupi kebutuhan orang lain, salah satunya adalah nafkah suami untuk istri. Dalam konteks ini, ada beberapa hal yang menjadi kewajiban seorang suami untuk istrinya, di antaranya adalah kebutuhan makan, pakaian dan tempat tinggal. Begitu juga alat kebersihan tubuh istri merupakan kewajiban suami. Syekh Khotib as-Syirbini berkata dalam kitab al-Iqna demikian:

وَيَجِبُ لَهَا آلَةُ تَنْظِيفٍ مِنْ الْأَوْسَاخِ

Dan wajib bagi istri untuk mendapatkan alat pembersih dari kotoran.”[1]

Adapun kosmetik atau skincare dan semacamnya bukan termasuk kewajiban yang harus diberikan kepada istri. Akan tetapi dalam rangka mu’asyarah bil ma’ruf dan menyenangkan istri, maka disunnahkan bagi suami memberikannya.[2] Bahkan apabila suami menginginkan istri menggunakan skincare, maka suami harus menyediakan. Hal ini dijelaskan secara terperinci oleh imam Abu Ishaq as-Syirazi dalam kitab al-Muhadzdzab:

وَأَمَّا الْخِضَابُ فَإِنَّهُ إِنْ لَمْ يَطْلُبْهُ الزَّوْجُ لَمْ يَلْزَمْهُ، وَإِنْ طَلَبَهُ مِنْهَا لَزِمَهُ ثَمَنُهُ لِاَنَّهُ لِلزِّيْنَةِ… وَإِنَّمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ لِعَارِضٍ وَأَنَّهُ يُرَادُ لِاِصْلَاحِ الٰجِسْمِ فَلَا يَلْزَمْهُ

Adapun warna pacar sesungguhnya apabila suami tidak menginginkannya maka hal itu tidak diwajibkan atas suami (untuk memberikan). Namun apabila suami menginginkannya dari istri maka wajib atas suami untuk memberikan sesuai harga untuk membelinya karena penggunaan semacam itu termasuk berhias… Hal demikian dibutuhkan karena tuntutan tertentu yang pada dasarnya hanya sebatas memperindah fisik perempuan yang hukum asalnya tidak wajib.”[3] []waAllahu a’lam


[1] Hamisy Al-Iqna’, vol. IV hlm. 93

[2] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, vol. III hlm. 65

[3] al-Muhadzdzab, vol. II hlm. 161

Hukum Parfum dan Obat-obatan Beralkohol

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dalam dunia kedokteran ataupun dalam parfum berbagai kemasan, tak jarang ditemukan keterangan mengenai alkohol sebagai salah satu campuran produk tersebut. Bagaimanakah hukumnya? Mohon jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Arinal Haq, Jombang- Jawa Timur)

___________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Tidak ada keterangan definitif nash al-Quran, Sunnah,dan fikih klasik yang secara jelas (shorih) mengenai alkohol. Ketika tersebar luas keberadaannya, terjadi perbedaan pandangan mengenai hukumnya. Sebagian ulama memasukkannya dalam kategori minuman yang memabukkan. Sebagai perkara yang memabukkan (muskir) dengan karakteristik cair, alkohol statusnya adalah najis. Namun apabila penggunaan alkohol menjadi kebutuhan seperti campuran obat-obatan maupun pelarut parfum, maka hukumnya najis namun ditolerir oleh syariat (Ma’fu). Sebagaimana penjelasan Syekh Abdurrahman al-Jaziri dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah:

وَمِنْهَا الْمَائِعَاتُ النَّجَسَةُ الَّتِي تُضَافُ إِلَى الْأَدْوِيَّةِ وَالرَّوَائِحِ الْعَطَرِيَّةِ لِإِصْلَاحِهَا فَإِنَّهُ يُعْفَى عَنِ الْقَدْرِ الَّذِي بِهِ الْإِصْلَاحُ قِيَاسًا عَلَى الْأَنْفَحَةِ الْمَصْلَحَةِ لِلْجُبْنِ

Termasuk bagian dari barang-barang najis yang ditolerir adalah najis yang terdapat pada obat-obatan dan wewangian harum dengan tujuan untuk memperbaikinya. Maka (keberadaan barang najis) itu ditolerir cukup dengan kadar yang dipakai untuk memperbaikinya dengan dianalogikan pada aroma yang digunakan untuk memperbaiki keju”.[1]

Dalam sudut pandang lain, Imam as-Syarqowi mengemukakan pendapatnya dalam kitab Hasyiyah as-Syarqowy ‘Ala at-Tahrir:

وَاَمَّا لَوِ اسْتَهْلَكَتِ الْخَمْرَةُ فِي الدَّوَاءِ بِاَنْ لَمْ يَبْقَ لَهَا وَصْفٌ فَلَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُهَا كَصَرْفِ بَاقِي النَّجَاسَاتِ هَذَا اِنْ عُرِفَ اَوْ اَخْبَرَهُ طَبِيْبٌ عَدْلٌ

Dan adapun apabila arak dilarutkan di dalam obat sehingga tidak ditemukan lagi sifat asli yang dimiliki (arak) tersebut, maka tidak haram menggunakannya, seperti najis lain yang murni. Hukum ini berlaku jika diketahui atau diberitakan oleh seorang dokter (pakar kimia) yang adil”.[2]

Dengan demikian, penggunaan alkohol dalam berbagai produk kedokteran dan kecantikan diperbolehkan. Namun dalam rangka kehati-hatian (Ikhtiyat), alangkah baiknya untuk menghindari parfum beralkohol dalam penggunaan yang berkaitan dengan ibadah, semisal salat atau sesamanya. []waAllahu a’lam


[1] Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, I/15.

[2] Hasyiyah as-Syarqowy ‘Ala at-Tahrir, II/449.

Hukum Prank Orderan Ojek Online

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mohon penjelasannya bagaimana hukum prank orderan ojek online yang sering terjadi akhir-akhir ini demi sebuah konten Youtube? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ahmadi, Bandung)

_____________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Demi sebuah konten di chanel YouTube, marak terjadi fenomena prank terhadap driver ojek online (Ojol) dengan cara memesan makanan secara kemudian membuat sang driver kebingungan dengan membatalkan orderan atau pura-pura tidak mengakui orderannya. Setelah batas kesabarannya habis, baru mereka akan mengakui dan membayar orderan bahkan ditambah bonus untuk sang driver.

Dalam sudut pandang fikih, hukum prank semacam itu tidak diperbolehkan. Alasannya, pada saat orderan dibatalkan (cancel) atau tidak diakui, pada saat itulah driver akan merasa dirugikan dan dibingungkan. Karena alasan utama adalah menimbulkan kekhawatiran, bahkan tak jarang banyak driver Ojol yang menangis akibat ulah prank semacam ini. Meskipun setelah permainan itu, pengguna jasa atau customer tetap menggantinya.

Hal ini ditegaskan pendapat Ibn Hajar al-Haitami yang mengutip perkataan imam az-Zarkasyi dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

إنَّ مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ أَخْذِ الْمَتَاعِ عَلَى سَبِيلِ الْمُزَاحِ حَرَامٌ وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ «لَا يَأْخُذْ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ صَاحِبِهِ لَاعِبًا جَادًّا» جَعَلَهُ لَاعِبًا مِنْ جِهَةِ أَنَّهُ أَخَذَهُ بِنِيَّةِ رَدِّهِ وَجَعَلَهُ جَادًّا؛ لِأَنَّهُ رَوَّعَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ بِفَقْدِ مَتَاعِهِ .

Sesungguhnya perbuatan manusia untuk mengambil harta orang lain dengan cara bercanda tetap haram. Dalam hadis dijelas: Tidak diperbolehkan bagi kalian untuk mengambil harta teman kalian dengan cara bercanda yang serius. Nabi mengatakan hal itu bercanda karena ada niat untuk mengembalikannya. Dan nabi mengatakan hal itu serius karena menakuti saudara muslimnya dengan kehilangan hartanya.”[1] []waAllahu a’lam


[1] Ibn Hajar al-Haitami, Hamisy Tuhfah al-Muhtaj, vol. X hlm. 287

Ketika Meragukan Batalnya Wudu, Apa yang Harus Dilakukan?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apa yang harus dilakukan ketika kita sudah punya wudu namun ragu apakah wudunya sudah batal atau tidak? Mohon penjelasannya karena ini sering terjadi pada saya pribadi, atau mungkin pada kebanyakan orang pada umumnya. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Fani, Surabaya)

____________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Bagi setiap orang yang memiliki wudu, sering kali terlintas keraguan dalam benak mereka apakah wudunya masih tetap ataukah sudah batal dengan melakukan hal yang dapat membatalkan wudu. Dalam keadaan penuh dilema demikian, maka wudunya tidak dihukumi batal. Alasannya adalah karena yang ia meyakini keadaan suci. Sementara keraguan akan membatalkan wudu yang sebatas asumsi tidak dapat menghilangkan keyakinan sebelumnya.

Imam Abu Ishaq as-Syirazi (w. 1083 H) menegaskan dalam kitab al-Muhadzdzab:

وَمَنْ تَيَقَّنَ الطَّهَارَةَ وَشَكَّ فِي الْحَدَثِ بَنَى عَلَى يَقِيْنِ الطَّهَارَةِ لِأَنَّ الطَّهَارَةَ يَقِيْنٌ فَلَا يُزَالُ ذَلِكَ بِالشَّكِّ وَإِنْ تَيَقَّنَ الْحَدَثَ وَشَكَّ فِي الطَّهَارَةِ بَنَى عَلَى يَقِيْنِ الْحَدَثِ لِأَنَّ الْحَدَثَ يَقِيْنٌ فَلَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

Seseorang yang yakin suci dan ragu dengan hadas, maka ia menetapkan keyakinan sucinya. Karena keyakinan akan hukum suci tidak dihilangkan dengan keraguan hadas. Begitu pula seseorang yang yakin hadas dan ragu dengan kesuciannya, maka ia menetapkan keyakinan hadasnya. Karena keyakinan akan hukum hadas tidak dihilangkan dengan keraguan suci.”[1]

Kontradiktif antara dilema keyakinan hukum asal dengan keraguan yang baru datang semacam ini berlaku dalam banyak permasalahan. Tak heran, muncullah sebuah kaidah fikih:

اَلْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

Keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan.”[2] []WaAllahu a’lam


[1] al-Muhadzdzab, vol. I hlm. 53.

[2] al-Asybah wa an-Nadhair, hlm. 7.

Hukum Berdiri Saat Maulid Nabi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimanakah hukumnya berdiri dalam rangkaian pembacaan maulid Nabi? Terimakasih atas penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Sofyan, Kota Banjar- Kalimantan Selatan)

________________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Menjadi sebuah kebiasaan yang berlaku di kalangan umat Islam, ketika pembacaan Maulid seperti ad-Dibai, al-Barzanji, Simtud Duror, atau sesamanya, mereka akan berdiri di saat-saat tertentu. Biasanya disebut dengan Mahallul Qiyam (tempat berdiri). Melihat fenomena itu, Sayyid Abi Bakar Muhammad Syato ad-Dimyati menjelaskan dalam kitab ‘Ianah at-Thalibin:

فَائِدَةٌ: جَرَتِ الْعَادَةُ أَنَّ النَّاسَ إِذَا سَمِعُوْا ذِكْرَ وَضْعِهِ يَقُوْمُوْنَ تَعْظِيْمًا لَهُ وَهَذَا الْقِيَامُ مُسْتَحْسَنٌ لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ النَّبِيْ وَقَدْ فَعَلَ ذَلِكَ كَثِيْرٌ مِنْ عُلَمَاءِ الْأُمَّةِ الَّذِيْنَ يُقْتَدَى بِهِمْ

Faidah: Telah menjadi kebiasaan ketika orang-orang mendengar kelahiran Nabi Muhammad, mereka berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada beliau. Berdiri semacam ini dianggap baik karena di dalamnya mengandung pengagungan terhadap Nabi. Hal tersebut telah dikerjakan oleh mayoritas Ulama yang patut untuk diikuti.”[1]

Dalam menyikapi persoalan ini, Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani menegaskan:

فَاعْلَمْ أَنَّ الْقِيَامَ فِى الْمَوْلِدِ النَّبَوِيْ لَيْسَ هُوَ بِوَاجِبٍ وَلَا سُنَّةٍ وَلَا يَصِحُّ اِعْتِقَادُ ذَلِكَ اَبَدًا. وَاِنَّمَا هُوَ حَرَكَةٌ يُعَبِّرُ بِهَا النَّاسُ عَنْ فَرْحِهِمْ وَسُرُوْرِهِمْ فَإِذَا ذُكِرَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ وَخَرَجَ اِلَى الدُّنْيَا يَتَصَوَّرُ السَّامِعُ فِى تِلْكَ اللَّحْظَةِ اَنَّ الْكَوْنَ كُلَّهُ تَهْتَزُّ فَرْحًا وَسُرُوْرًا بِهَذِهِ النِّعْمَةِ فَيَقُوْمُ مُظْهِرًا لِذَلِكَ الْفَرْحِ وَالسُّرُوْرِ مُعَبِّرًا عَنْهُ فَهِيَ مَسْأَلَةٌ عَادِيَةٌ مَحْضَةٌ لَا دِيْنِيَّةٌ اَنَّهَا لَيْسَتْ عِبَادَةً وَلَا شَرِيْعَةً وَلَا سُنَّةً وَمَا هِيَ اِلَّا أَنْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِهَا

Ketahuilah, sesungguhnya berdiri saat perayaan maulid nabi bukan perkara wajib, bukan pula perkara sunah. Dan keyakinan akan hukum itu tidak benar. Akan tetapi, berdiri itu merupakan ungkapan dari rasa kebahagian umat manusia. Sehingga ketika disebut Rasulullah Saw. telah lahir ke dunia, para pendengarnya menggambarkan bahwa seluruh dunia kala itu bergetar bahagia dengan nikmat tersebut sehingga ia mengungkapkan kebahagiaan itu dengan cara berdiri. Sehingga persoalan berdiri itu murni sebuah kebiasaan dan tidak masuk dalam ranah agama. Berdiri itu bukan termasuk ibadah, bukan syariat, dan bukan sunah. Akan tetapi hanya sebuah kebiasaan yang sudah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat.”[2] []waAllahu a’lam


[1] Abi bakar Muhammad Syato ad-Dimyathi, I’anah at-Thalibin, III/363

[2] Muhammad Alwi al-Maliki, Al-I’lam Bi Fatawi Aimmah Al-Islam Haula Maulidihi Alaihi As-Sholah Wa As-Salam, hal. 25-26