Tag Archives: Idul Adha

Sejarah Kurban Idul Adha

Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim bermimpi tiga malam berturut-turut, seakan ada yang berkata “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu ini. ” Pada pagi harinya beliau berfikir dan merenung. Apakah ini dari Allah atau dari setan? Oleh karena itu, hari ini disebut dengan hari berfikir (Tarwiyah).

Kemudian pada malam berikutnya beliau mengalami mimpi yang sama. Lalu beliau tahu bahwa mimpi tersebut adalah dari Allah. Maka hari itu disebut dengan hari ‘arofah (mengetahui).

Selanjutnya pada malam ketiganya beliau kembali mengalami mimpi yang sama. Maka pada hari itu beliau melaksanakan penyembelihan. Sehingga hari itu disebut dengan hari Nahr (penyembelihan).

Bagaimana berdebarnya perjalanan  kisah tersebut? Mari kita simak alurnya di bawah ini yang dinukil dari Kitab Tafsir Al-Khozin.

Pada tanggal 10 Dzul Hijjah Nabi Ibrahim AS memerintah Nabi Isma’il As agar mengambil tali dan pisau, kemudian mengajaknya mencari kayu bakar ke lereng gunung. Siti Hajar istri Nabi Ibrahim As juga menyangka bahwa kepergian mereka berdua untuk mencari kayu bakar.

Siti Hajar, Ibunda Nabi Isma’il As tidak luput dari godaan setan. Dikabarkan dari Ka’bul Akhbar dan Ibnu Ishaq, bahwa ketika setan melihat Nabi Ibrahim As hendak melaksanakan perintah penyembelihan ini, ia berkata: “Sungguh, jika aku tidak sanggup menggoda keluarga Ibrahim dalam masalah ini, niscaya setelah ini aku tidak akan mampu selamanya menggoda salah satu keluarganya. ” Setan kemudian menyamar sebagai seorang lelaki dan mendatangi ibu Nabi Isma’il As., yakni Siti Hajar, dan ia berkata: “Apakah kamu tahu ke mana Ibrahim membawa anakmu?” Siti Hajar menjawab: “Ia membawanya untuk mencari kayu bakar bersama di lereng gunung ini.” Setan berkata: “Tidak, demi Allah! Ia tidak membawanya melainkan untuk disembelih!” Siti Hajar menimpali: “Tidak akan! Dia lebih menyayanginya dan lebih mencintainya (dari pada aku).” Setan berkata: “Ia menyangka bahwa Tuhannya lah yang memerintahkan itu!” Siti Hajar menjawab: “Jika Tuhannya memerintahnya dengan itu, maka sungguh ia begitu baik dalam menaati Tuhannya.”

Keputusasaan Setan

Setan pun merasa putus asa dari Siti Hajar. Kemudian ia pergi menyusul Nabi Isma’il As yang ketika itu berjalan di belakang ayahnya. Setan berkata: “Wahai anak kecil (usia Nabi Isma’il mendekati baligh), apakah kamu tahu, kamu akan dibawa ke mana oleh ayahmu?” Nabi Isma’il menjawab: “Kami akan mencari kayu bakar bersama di lereng gunung ini.” Setan berkata: “Tidak, demi Allah, ia tidak menginginkan kecuali menyembelihmu.” Nabi Isma’il As Balik bertanya: “Mengapa?” Setan menjawab: “Sesungguhnya Tuhannya memerintahkan itu padanya.” Nabi Isma’il As Berkata: “Maka ayah harus melaksanakan perintah itu. Aku siap mendengarkan dan menaatinya. “

Ketika setan merasa putus asa dari Nabi Isma’il As ia pun menghadang Nabi Ibrahim As. Setan bertanya: “Wahai orang tua, engkau ingin ke mana?” Beliau menjawab: “Ke lereng gunung ini, karena ada sebuah keperluan.” Setan berkata: “Demi Allah, sungguh aku melihat setan telah datang dalam mimpimu dan memerintahmu untuk menyembelih anakmu ini.” Maka, Nabi Ibrahim As pun tahu bahwa lelaki itu adalah setan, lalu beliau berkata: “Menyikirlah dariku wahai musuh Allah. Maka demi Allah, sungguh aku akan melaksanakan perintah Tuhanku ini!” Dikabarkan bahwa Nabi Ibrahim Melempar setan tersebut ketika sampai di Jumrah ‘Aqobah dengan tujuh batu sampai ia menghilang. Kemudian setan menampakkan dirinya lagi di Jumroh Wustho, dan Nabi Ibrahim melemparinya kembali dengan tujuh batu sampai ia menghilang. Lalu setan menampakkan dirinya lagi di Jumroh Kubro, dan Nabi Ibrahim As. Melemparinya kembali dengan tujuh batu sampai ia menghilahng. Untuk mengenang peristiwa ini, disyariatkanlah melempar Jumroh saat pelaksanaan haji dan umroh.

Kesanggupan Nabi Isma’il

Pembaca yang Budiman, Nabi Isma’il pun menyanggupi ajakan Nabi Ibrahim As karena ia mengetahui akan ketinggian derajat ayahnya sebagai Nabi dan Rasul yang mimpinya tidak akan disisipi bisikan setan. Nabi Isma’il As tidak mengajukan banding kepada Allah agar perintah itu diperingan. Beliau sadar betul bahwa perintah Allah pasti akan mendatangkan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, kata-kata Nabi Isma’il As yang diabadikan dalam Al-Quran:

ستجدني إن شاء الله من الصابرين

 “Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. “ juga merupakan usaha Nabi Isma’il As untuk mendorong ayahnya agar juga sabar dalam menerima dan menjalankan perintah Allah.

Bahkan, Nabi Isma’il As mendukung apa yang dilakukan Nabi Ibarahim dengan berkata: “Wahai ayahku, kuatkanlah tali ikatku supaya aku tidak bergerak meronta. Jagalah bajumu dariku supaya tidak ada bercak darah padanya, sehingga jika ibuku melihatnya ia akan sedih. Tajamkanlah pisaumu dan cepatlah dalam menjalankan pisaumu pada leherku supaya lebih mudah bagiku. Sungguh, kematian adalah hal yang berat. Jika engkau menemui ibuku, maka sampaikanlah salam padanya dariku. Jika engkau ingin mengembalikan bajuku pada ibuku, maka lakukanlah. Semoga hal itu lebih memudahkan Ibu (dalam menahan kesedihan). “

Nabi Ibrahim As berkata: “Engkau adalah pembantu terbaik dalam melaksanakan perintah Allah. “ Kemudian Nabi Ibrahim As menghadap Nabi Isma’il As seraya beliau menangis dan beliau mengikat Nabi Isma’il dan Nabi Isma’il juga menangis. Lalu Nabi Ibrahim meletakkan pisau pada leher Nabi Isma’il, tetapi apa yang terjadi? Leher Nabi Isma’il tidak tergores sama sekali. Kemudian Nabi Ibrahim menajamkan pisaunya kembali dua / tiga kali dengan batu. Akan tetapi tetap saja pisau tersebut tidak mampu menggoresnya sama sekali.

Ketika itu, Sang Putra berkata: “Wahai ayahku, telungkupkanlah aku, karena jika engkau melihat wajahku, aku khawatir engkau akan mengasihiku dan merasa tidak tega. Dan aku khawatir perasaan itu menghalangimu dari melaksanakan perintah Allah. “

Kemudian ketika Nabi Ibrahim meletakkan pisau pada tengkuk Nabi Isma’il, maka pisau tersebut terbalik dengan sendirinya. Saat itu juga Nabi Ibrahim dipanggil: “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah melaksanakan perintah dalam mimpimu. “

Kemudian sebagai ganti Nabi Isma’il, didatangkanlah domba besar dari surga yang pernah menjadi persembahan Habil, putra Nabi Adam As. Nabi Ibrahim pun menyembelih domba tersebut dengan membaca takbir.

Wallohu a’lam bishshowab. Betapa besar kepatuhan keluarga Nabi Ibrahim As. Semoga keluarga kita bisa meneladani Keluarga Nabi Ibrahim As. Amin.

# Sejarah Kurban Idul Adha

Baca juga:
BOLEHKAH SATU KAMBING UNTUK KURBAN SEKELUARGA?

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal | KH. M. Anwar Manshur

# Sejarah Kurban Idul Adha # Sejarah Kurban Idul Adha

Sisa Darah dalam Daging

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saat hari raya Idul Adha, masyarakat muslim hampir seluruhnya dapat merasakan daging kurban. Berbagai menu olahan daging dibuat, mulai dari sate, gule, rendang, dan lain-lain. Namun, permasalahan muncul ketika proses perebusan daging mentah. Yang mana, air rebusan tersebut seketika menjadi kemerah-merahan. Secara pasti, hal tersebut berasal dari sisa-sisa darah dari daging yang direbus. Meskipun sebelumnya daging tersebut telah dibersihkan dan dicuci semaksimal mungkin. Yang kami tanyakan, apakah benar bahwa sisa darah dalam daging tidak najis? Apakah air rebusan tersebut juga dihukumi najis? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Sofia- Jombang)

_________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Perlu diketahui bahwa darah yang tersisa dalam daging statusnya tetap dihukumi najis, namun ditolerir (ma’fu) oleh syariat. Sebagaimana penjelasan syekh Zakaria al-Anshori dalam kitabnya yang berjudul Asna al-Mathalib:

الدَّمُ الْبَاقِي عَلَى لَحْمِ الْمُذَكَّاةِ وَعَظْمِهَا نَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ فَقَدْ قَالَ الْحَلِيمِيُّ وَأَمَّا مَا بَقِيَ مِنْ الدَّمِ الْيَسِيرِ فِي بَعْضِ الْعُرُوقِ الدَّقِيقَةِ خِلَالَ اللَّحْمِ فَهُوَ عَفْوٌ

Darah yang tersisa dalam daging atau tulang hewan yang telah disembelih statusnya najis yang ditolerir. Al-Halimi juga berkata: Adapun sedikit darah yang tersisa dalam urat-urat kecil yang ada pada daging, hukumnya (najis) yang ditolerir”.[1]

Mengenai persoalan air rebusan yang berubah warna menjadi kemerah-merahan tetap dihukumi najis, namun juga ditolerir syariat (ma’fu). Dengan syarat, sebelum proses perebusan, daging telah dibersihkan dan dicuci semaksimal mungkin. Dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, syekh Sulaiman al-Jamal menjelaskan:

وَوَقَعَ السُّؤَالُ فِي الدَّرْسِ عَمَّا يَقَعُ كَثِيرًا أَنَّ اللَّحْمَ يُغْسَلُ مِرَارًا وَلَا تَصْفُو غُسَالَتُهُ، ثُمَّ يُطْبَخُ وَيَظْهَرُ فِي مَرَقَتِهِ لَوْنُ الدَّمِ فَهَلْ يُعْفَى عَنْهُ أَمْ لَا فَأَقُولُ الظَّاهِرُ الْأَوَّلُ؛ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَشُقُّ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ

Dalam suatu pembelajaran, muncul sebuah pertanyaan yang sering terjadi, yaitu: Sesungguhnya daging yang telah dibasuh berkali-kali sehingga sisa air basuhannya menjadi keruh kemudian daging tersebut dimasak dan mengeluarkan warna darah dari air rebusannya, apakah hal tersebut ditolerir ataukah tidak?. Aku menjawab: Yang jelas adalah yang pertama (yaitu ditolerir). Karena permasalahan ini sulit untuk dihindari”. [2]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa status darah dari yang tersisa dalam daging hukumnya najis namun ditolerir (ma’fu). Kelonggaran hukum ini juga berlaku dalam permasalahan air rebusan yang berubah warna menjadi kemerah-merahan disebabkan darah tersebut dengan syarat telah melalui proses pembersihan maksimal sebelumnya. []waAllahu a’lam

 

____________________

[1] Zakaria al-Anshori, Asna al-Mathalib, vol. 1 hal. 12.

[2] Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ‘Ala Syarh al-Manhaj, vol. 1 hal 193, cet. Darul Fikr.

Catatan Kisah Santri Baru

Perkenalkan, namaku Fajar. Aku berasal dari daerah Pasuruan, Jawa Timur. 15 Syawal 1439 H., menjadi pagi pertamaku di Lirboyo. Aku merasa impian yang selama ini terpendam akan terwujud menyambut kebahagiaanku.

Setibanya di pondok, aku langsung diantar ke kamar G.15, salah satu komplek santri yang berasal dari Pasuruan. Mulanya aku kaget melihat jalan menuju kamar yang sempit, kotor dan sulit untuk diingat.

Saat-saat pertama, aku pernah kesasar dan salah masuk kamar pula. Itu salah satu alasan kenapa aku sempat berpikir pulang, gak mau mondok di sini. Setelah satu minggu, ada banyak hal baru yang aku temukan. Diantaranya, saat aku mau mengambil air wudu. Selain aku harus antri, aku juga harus menahan nafas melihat  genangan air (jeding kobok -red) itu banyak sekali kotoran. Aku jadi ragu, antara nyebur atau tidak. Tapi, mau gimana lagi, terpaksa aku nyebur juga. Belum selesai sampai di situ, aku juga dibuat bingung, kok cuma aku yang kumur-kumur? anak-anak yang lain langsung basuh muka. Sebenarnya yang salah siapa ya? ah, sudahlah.

Selain cerita di atas, ada lagi pengalaman pertamaku saat mandi. Temanku berkata, “Fajar, Aduse nganggo telesan. (Fajar, mandinya pakai telesan)”

Telesan itu apa? Aku kira semacam sabun atau apa, ternyata telesan itu berupa sarung khusus buat mandi. Sebelum berangkat, katanya tempat mandinya berupa kolam. Sempat terbersit dalam pikiranku kalau kolam-kolam itu paling sempitnya sama seperti kamar-kamar di komplekku. Eh, ternyata kolamnya luas banget. Apa aku harus pindah ke sini aja ya?. Tapi, tetep terasa sempit juga kalau mandinya harus berdesakan begini.

Terahkir, momen yang membuatku heran adalah pas menghadiri acara Halal Bihalal Pondok sekaligus pembacaan peraturan santri baru itu. Saat itu, aku duduk dalam posisi enak-enaknya. Tiba-tiba, anak-anak mengeluarkan suara “shuut…shuuut…” dan spontan yang lain merunduk. Aku biasa saja, gak merunduk, sampai akhirnya temen di sampingku menarik paksa kepalaku supaya ikut merunduk.

“Sakjane ono opo se? kok arek-arek podho ndingkluk kabeh pas ono muni shuut…shuuut… (Sebenarnya ada apa sih? Kok teman-teman menunduk semua saat ada bunyi shuut…shuut…)” tanyaku penasaran.

“Lek ngunu iku berarti enten masyayih atau kiyai lewat, paham?. Mulane ndang ndingkluk. (Klau seperti itu berarti ada Masyayikh atau Kyai lewat, paham?. Makanya cepatlah merunduk)Jawab temanku.

Aku jadi tahu, ternyata itu kode etik para santri kalau ada masyayih atau keluarga masyayih. Haduh, aku malu juga sih, maklumin aja ya, aku masih baru.

Dua minggu sudah, bagiku itu waktu yang lama. Rasa ingin pulang tambah besar, aku merasa gak nyaman banget. Sampai akhirnya, ada momen yang baru lagi, minggu itu juga ada acara jam’iyyah se-Kabupaten Pasuruan. Aku disuruh hadir. Kebetulan yang mengisi mauidzoh hasanah adalah bapak-bapak penasehat santri Pasuruan sendiri. Di sela beliau menyampaikan wejangan, ada satu hal yang berhasil memotivasiku. Beliau menuturkan, “Ada pepatah mengatakan bahwa di tangan seorang santri ada cita-cita para ulama.

Saat itu juga, bayangan rumah, keinginan untuk pulang lenyap gak tersisa. Aku harus tetap di sini, aku ingin belajar terus di sini. Aku ingin meneruskan cita-cita para ulama, aku ingin menyebarkan cita-cita ini pada santri, dari generasi ke generasi, begitu seterusnya. Aku kembali mengingat impianku saat pertama kali menapakan kaki di pondok ini. Impian menjadi seorang yang bermanfaat, dan berguna bagi agama, terlebih lagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mungin itu yang bisa aku ceritakan. Selain berbagi pengalaman, tulisan ini juga menjadi pelipur hati. Karena dengan menulis, ketenangan itu selalu menghampiri. Sekian, kurang lebihnya mohon maaf. Terimakasih.

 

_____________

Penulis adalah Muhammad Fajar, salah satu santri baru yang berasal dari Pasuruan.

Ringkasan Fikih Kurban

Dalam kajian fikih, ibadah kurban sering disebut dengan istilah Udhiyyah. Udhiyyah sendiri diartikan sebagai ibadah menyembelih binatang ternak tertentu di hari raya Idul Adha (10 dzulhijjah) sampai hari Tasyriq (11, 12, 13 dzulhijjah) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dalil Kurban

Legalitas ibadah kurban bertendensi pada firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan sembelihlah (kurban).” (QS. Al-Kautsar: 2)

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al-Hajj: 36)

Dalam salah satu hadis disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ يَذْبَحُ وَيُكَبِّرُ وَيُسَمِّي وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَتِهِمَا

Sesungguhnya nabi Muhammad saw. pernah menyembelih kurban dua kambing gibas putih yang bertanduk. Beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri, membaca basmalah dan takbir. Beliau meletakkan kaki beliau pada pipi kedua hewan tersebut.”

Hukum Kurban

Hukum menunaikan kurban adalah sunah muakkadah (sangat dianjurkan) untuk setiap orang dan sunah kifayah (kolektif) untuk satu keluarga. Artinya, apabila salah satu dari anggota keluarga telah menunaikannya, maka anjuran tersebut gugur bagi anggota keluarga yang lain. Namun dalam beberapa keadaan kurban akan menjadi wajib. Salah satunya ialah apabila memang kurban tersebut dinadzari.

Binatang Kurban

Adapun binatang yang dapat dijadikan kurban ialah unta, sapi, dan kambing. Sesuai firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَام   

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak (kambing, sapi, dan unta).” (QS. Al-Hajj: 28)

Agar dapat dijadikan kurban, ketiga binatang tersebut harus memenuhi beberapa kriteria berikut:

Pertama, umur yang cukup. Yaitu apabila unta harus sempurna usia lima tahun dan mulai memasuki tahun keenam, sapi dan kambing harus sempurna usia dua tahun dan mulai memasuki tahun ketiga. Adapun untuk kambing jenis domba dicukupkan usia satu tahun dan mulai memasuki tahun kedua.

Kedua, kondisi binatang dalam keadaan sehat. Artinya tidak ada cacat pada binatang kurban yang dapat mengurangi daging, seperti kurus kering, buta, telinga terpotong dan lain-lain.

Selain kriteria yang harus dipenuhi di atas, setiap jenis binatang kurban memiliki standar masing-masing. Jenis unta dan sapi dapat dijadikan kurban untuk tujuh orang. Sementara jenis kambing mencukupi untuk dijadikan kurban satu orang.

Waktu Penyembelihan Kurban

Penyembelihan hewan kurban dapat dilakukan setelah terbitnya matahari ditambah perkiraan waktu melaksanakan salat dan dua khutbah hari raya Idul Adha (10 dzulhijjah). Dan waktu penyembelihan berlanjut hingga tiga hari sebelum terbenamnya matahari di akhir hari Tasyriq (13 dzulhijjah).

Ketika menyembelih hewan kurban ada beberapa kesunahan yang anjur untuk dilaksanakan, yaitu:

Pertama, membaca basamalah. Kedua, membaca shalawat. Ketiga, menghadap kiblat. Keempat, membaca takbir tiga kali sebelum membaca basamalah atau setelahnya.  Kelima, membaca doa berikut:

اللهم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ, نِعْمَةً مِنْكَ عَلَيَّ وَتَقَرَّبْتُ بِهَا إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ

Ya Allah, kurban ini dari-Mu dan untuk-Mu, maka terimalah. (Kurban ini) adalah nikmat-Mu untukku, dan dengannya aku mendekatkan diri pada-Mu, maka terimalah ini dariku.”

Pendistribusian Daging Kurban

Dalam pendistribusian daging kurban terdapat beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian untuk orang-orang kaya hanya terbatas  untuk konsumsi semata (ith’am). Namun untuk golongan fakir miskin, mereka lebih leluasa, baik dalam hal menjual atau mengkonsumsi ataupun yang lainnya. Karna pemberian pada kelompok ini berstatus pemberian hak milik(tamlik).

Terlepas dari perincian tersebut, apabila kurbannya berstatus kurban sunah, bagi orang yang berkurban disunahkan mengambil sedikit bagian daging kurbannya (tidak melebihi sepertiga dari keseluruhan daging). Hal ini bertujuan mencari keberkahan. Akan tetapi berbeda halnya apabila kurbannya berstatus kurban wajib, maka seluruh dagingnya harus disedekahkan. []waAllahu a’lam

 

________________

Disarikan dari kitab Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Syarh Fathil Qorib (t.t. Surabaya: Al-Hidayah), vol. 2 h. 295-302

Khotbah Idul Adha: Memetik Pelajaran di Bulan Zulhijah

ألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأصِيْلًا لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلّه ِالْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّه ِالَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِتَعْظِيْمِ شَعَاءِرِهِ لِأَنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ وَأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا عَبْدَهُ وَرَسُوْلُهُ حَسَنُ الْخُلُقِ وَالْمَحْبُوْبِ اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ نَالُوْا غُفْرَانَ الذُّنُوْبِ
أَماَّ بَعْدُ فَيَا أَيُّهاَ النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Jamaah Salat Id yang Berbahagia..

Dihari yang agung ini, tidak henti-hentinya marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan senantiasa menjauhi tiap-tiap larangannya dan sekuat mungkin menjalankan segala perintahnya. Marilah sama-sama kita bersyukur atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga ini. Tidak mampu, kita tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita sekalian; Dan diantara nikmatnya adalah kita dipertemukan kembali pada satu diantara dua hari raya umat Islam ini. Selawat serta salam marilah sama-sama kita haturkan kepada Baginda Nabi agung Muhammad SholallahuAlaihi Wa Salam beserta para keluarga, sahabat dan seluruh umatnya sampai akhir zaman.

Alangkah indahnya jika kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Alangkah eloknya kehidupan, jika pribadi kita senantiasa menumbuhkan rasa kepedulian kepada sesama, kepekaan kepada lingkungan sekitar dan rela berkorban. Alangkah damainya negeri Indonesia tercinta kita ini, jika setiap diri kita senantiasa memupuk rasa persatuan dan cinta tanah air.

أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ و للهِ الحَمْد اَللهُ

Jamaah Salat Id yang Berbahagia..

Pagi ini, umat Islam di berbagai belahan dunia melaksanakan salah satu perintah Allah Ta’ala yakni shalat Idul adha. Gemuruh suara takbirnya menggema di jagat raya mulai maghrib kemarin malam sampai tanggal 13 Zulhijah besok. Dan pada bulan yang mulia ini juga, umat Islam melaksanakan dua ibadah akbar, yaitu haji dan kurban. Ibadah haji dan kurban adalah syiar keluhuran dan keagungan Islam. Syiar haji dan qurban bukanlah ajang pamer kekayaan dan kemewahan, melainkan beberapa diantara langkah kita dalam total beribadah kepada Allah Ta’ala.

Sungguh beruntung orang yang bisa memenuhi panggilan ilahi, pergi ke tanah suci. Yaitu mereka yang dianugerahi istitho’ah (kesanggupan) sesuai perintah Allah Ta’ala dalam Alquran surat Ali Imron ayat 97:

وَللهِ عَلَى النّاسِ حِجُّ البَيتِ مَنِ استَطاعَ إِلَيهِ سَبيلًا

”Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (yaitu) bagi orang yang mampu melakukan perjalanan ke baitullah”

Maksud istitho’ah atau mampu disini adalah orang Islam yang baligh, sehat akal, sehat jasmani dan rohani, merdeka (bukan budak) dan bekalnya cukup untuk menunaikan ibadah haji serta tidak meninggalkan kewajiban nafkah keluarga yang ditinggalkan.

أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ و للهِ الحَمْد اَللهُ

Jamaah Salat Id yang Berbahagia..

Jika pun diantara kita ada yang belum diberi kemampuan oleh Allah untuk berhaji, maka janganlah berkecil hati. Allah Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah pada Allah semampu kalian” (Qs. At-Taghabun: 16)

Demikian Allah firmankan bahwa kita sekalian tidak dituntut untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang kita benar-benar tidak mampu untuk menjalankannya. Namun dari itu bukan berarti kita disuruh untuk tidak berusaha sama sekali, karena sungguh Allah telah memberi kabar gembira berupa petunjuk jalan bagi hamba-hambanya yang mau sungguh-sungguh berusaha. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا, وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan bagi orang-orang yang berjuang dijalan-Ku, sungguh akan aku berikan kepada mereka petunjuk pada jalan-Ku. Dan sesungguhnya Allah senantiasa bersama orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. al Ankabut: 70)

أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ و للهِ الحَمْد اَللهُ

Jamaah Salat Id yang Berbahagia..

Salah satu kebaikan yang mulia itu adalah menyembelih kurban. Berkurban merupakan suatu bentuk pendekatan diri pada Allah, bahkan seringkali ibadah kurban digandengkan dengan ibadah shalat. Allah Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. al Kautsar: 2)

Diantara pesan berharga dalam ibadah kurban ini adalah bahwa suatu persatuan, yang dalam hal ini terwujudkan dalam Salat Id, tidak bisa terpisahkan dari adanya pengorbanan. Persatuan membutuhkan pengorbanan; Pengorbanan untuk melepas ego masing-masing, pengorbanan untuk menanggalkan kepentingan pribadi masing-masing atau pun pengorbanan dengan materi.

Dibulan ini, kita benar-benar diberi ibroh atau pelajaran oleh Allah untuk meredam nafsu ego kita masing-masing, sebagaimana hal ini juga tergambarkan dalam Wukuf di padang Arafah. Sungguh didalam Wukuf manusia diajarkan kembali kesadaran bahwa tidak ada yang membedakan mereka dihadapan Allah selain ketakwaan. Dengan pakaian yang sama, tempat yang sama mereka diajak sejenak untuk menanggalkan latarbelakang duniawi mereka. Hanya doa dan kain Ihram yang menemani mereka merenung. Itulah diantara pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil dibulan yang mulia ini.

أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ و للهِ الحَمْد اَللهُ

Jamaah Salat Id yang Berbahagia..

Hal penting yang juga bisa kita petik dibulan mulia ini adalah bahwa kita harus total beribadah kepada Allah. Beribadah dengan jiwa, raga, harta dan semua yang ada pada diri kita sehingga kita bisa benar-benar termasuk golongan Muttaqin yang hakiki.

Dan semoga Idul adha kali ini bisa membuat kita memiliki rasa persatuan yang semakin tinggi, kita semakin mau berkorban demi orang lain, kita semakin mudah untuk menolong orang lain dan mendapatkan ridho dari Allah Ta’ala.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHOTBAH KEDUA

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ اَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ والاَهُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ… أَمَّا بَعْدُ : أَيــُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأيــُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاً طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَام. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَام. اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

Untuk mengunduh pdf-nya, klik disini