Tag Archives: Indonesia

Sisa Darah dalam Daging

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saat hari raya Idul Adha, masyarakat muslim hampir seluruhnya dapat merasakan daging kurban. Berbagai menu olahan daging dibuat, mulai dari sate, gule, rendang, dan lain-lain. Namun, permasalahan muncul ketika proses perebusan daging mentah. Yang mana, air rebusan tersebut seketika menjadi kemerah-merahan. Secara pasti, hal tersebut berasal dari sisa-sisa darah dari daging yang direbus. Meskipun sebelumnya daging tersebut telah dibersihkan dan dicuci semaksimal mungkin. Yang kami tanyakan, apakah benar bahwa sisa darah dalam daging tidak najis? Apakah air rebusan tersebut juga dihukumi najis? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Sofia- Jombang)

_________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Perlu diketahui bahwa darah yang tersisa dalam daging statusnya tetap dihukumi najis, namun ditolerir (ma’fu) oleh syariat. Sebagaimana penjelasan syekh Zakaria al-Anshori dalam kitabnya yang berjudul Asna al-Mathalib:

الدَّمُ الْبَاقِي عَلَى لَحْمِ الْمُذَكَّاةِ وَعَظْمِهَا نَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ فَقَدْ قَالَ الْحَلِيمِيُّ وَأَمَّا مَا بَقِيَ مِنْ الدَّمِ الْيَسِيرِ فِي بَعْضِ الْعُرُوقِ الدَّقِيقَةِ خِلَالَ اللَّحْمِ فَهُوَ عَفْوٌ

Darah yang tersisa dalam daging atau tulang hewan yang telah disembelih statusnya najis yang ditolerir. Al-Halimi juga berkata: Adapun sedikit darah yang tersisa dalam urat-urat kecil yang ada pada daging, hukumnya (najis) yang ditolerir”.[1]

Mengenai persoalan air rebusan yang berubah warna menjadi kemerah-merahan tetap dihukumi najis, namun juga ditolerir syariat (ma’fu). Dengan syarat, sebelum proses perebusan, daging telah dibersihkan dan dicuci semaksimal mungkin. Dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, syekh Sulaiman al-Jamal menjelaskan:

وَوَقَعَ السُّؤَالُ فِي الدَّرْسِ عَمَّا يَقَعُ كَثِيرًا أَنَّ اللَّحْمَ يُغْسَلُ مِرَارًا وَلَا تَصْفُو غُسَالَتُهُ، ثُمَّ يُطْبَخُ وَيَظْهَرُ فِي مَرَقَتِهِ لَوْنُ الدَّمِ فَهَلْ يُعْفَى عَنْهُ أَمْ لَا فَأَقُولُ الظَّاهِرُ الْأَوَّلُ؛ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَشُقُّ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ

Dalam suatu pembelajaran, muncul sebuah pertanyaan yang sering terjadi, yaitu: Sesungguhnya daging yang telah dibasuh berkali-kali sehingga sisa air basuhannya menjadi keruh kemudian daging tersebut dimasak dan mengeluarkan warna darah dari air rebusannya, apakah hal tersebut ditolerir ataukah tidak?. Aku menjawab: Yang jelas adalah yang pertama (yaitu ditolerir). Karena permasalahan ini sulit untuk dihindari”. [2]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa status darah dari yang tersisa dalam daging hukumnya najis namun ditolerir (ma’fu). Kelonggaran hukum ini juga berlaku dalam permasalahan air rebusan yang berubah warna menjadi kemerah-merahan disebabkan darah tersebut dengan syarat telah melalui proses pembersihan maksimal sebelumnya. []waAllahu a’lam

 

____________________

[1] Zakaria al-Anshori, Asna al-Mathalib, vol. 1 hal. 12.

[2] Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ‘Ala Syarh al-Manhaj, vol. 1 hal 193, cet. Darul Fikr.

4300 Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang Mengkaji Fikih Kebangsaan

Tantangan merebaknya ideologi radikal dan intoleran yang menggerus generasi bangsa belum juga padam. Karenanya baru-baru ini kajian buku Fikih Kebangsaan digelar di UIN Raden Fatah Palembang.

Dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Raden Fatah Palembang (14-16/08) sebanyak 4.300 mahasiswa baru diwajibkan membaca dan membuat resume buku Fikih Kebangsaan karya HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Pondok Pesantren Lirboyo).

Rika Febriyansi Ketua Panitia menjelaskan: “PBAK yang mengambil tema ‘Mewujudkan Mahasiswa Nasionalis Kreatif Religius dan Intelektual dalam Rangka Menyongsong Bonus Demografi’ tahun ini sengaja menjadikan buku Fikih Kebangsaan karya HIMASAL sebagai media untuk mengenalkan budaya akademik, membudayakan baca tulis, memperkaya literasi dan wawasan kebangsaan di lingkungan mahasiswa baru.”

Aktifis kampus yang juga Ketua PC IPNU OKU Selatan lebih lanjut menegaskan: “Kajian Fikih Kebangsaan ini sangat penting bagai kalangan mahasiswa sebagai upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan, rasa cinta tanah air, membekali mahasiswa baru dengan pemahaman keagamaan yang proporsional dan menjauhkannya dari paham ekstrim-radikal yang menyusup ke berbagai ruang di masyarakat, tak terkecuali berbagai kampus di Indonesia.”

Mahasiswa Fakultas Psikologi Islam UIN Raden Fatah Palembang juga berharap, agar buku Fikih Kebangsaan dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa dan masyarakat dalam meningkatkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara, serta menangkal ideolegi ekstrim radikal anti Pancasila di lingkungan kampus UIN Raden Fatah khususnya dan di kota Palembang secara lebih luas. (Windy Susilawati/Palembang)

Sumber : aswajamuda.com

 

Judul: Fikih Kebangsaan Merajut Kebersamaan di Tengah Kebhinnekaan
Pengantar: KH. Maimun Zubair
Mushahih: KH. Athoillah Sholahuddin Anwar, dkk.
Penyusun: Tim Bahtsul Masail HIMASAL
Editor: Ahmad Muntaha AM
Page, Size: xvi + 100 hlm; 14,5 x 21 cm
Penerbit: Lirboyo Press dan LTN HIMASAL
ISBN: 978-602-1207-99-0
Harga: Rp 22.000
Pemesanan: 0856-4537-7399

Pertemuan Ma’had Aly se- Jawa Timur

 

LirboyoNet, Probolinggo—Dua belas pemimpin Ma’had Aly se-Jawa Timur menggelar pertemuan di Probolinggo, Jumat (17/08) kemarin. Pertemuan ini dilangsungkan untuk mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan audiensi bersama pemerintah provinsi.

Pertemuan dipimpin langsung oleh ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI), KH. Abdul Jalal. Pertemuan ini sangat penting digelar. Mengingat, para pemimpin Ma’had Aly ini sedang berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan santri di tingkat Ma’had Aly.

Ma’had Aly Nurul Jadid, Paiton Probolinggo, yang menjadi tuan rumah, dan ma’had aly lainnya sedari awal bertekad untuk menjadikan ma’had aly sebagai perguruan tinggi yang kompetitif. Karenanya, agenda-agenda untuk mempererat hubungan antar ma’had aly terus digalakkan, seperti Rapat Pimpinan yang berlangsung selama dua hari ini.

Ada tiga hal yang menjadi mufakat para peserta, yakni peruntukan beasiswa bagi mahasantri (sebutan bagi santri Ma’had Aly); pengadaan infrastuktur, baik fisik dan maupun non fisik; dan pembentukan kepengurusan Mahad Aly untuk wilayah Jawa Timur. Kemufakatan ini selanjutnya akan disampaikan kepada Calon Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa dalam audiensi nanti.

Kepala Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid, berpesan kepada dua belas pimpinan ma’had aly ini, dengan diakuinya Mahad Aly sebagai lembaga formal oleh pemerintah, hendaknya tidak menjadikan watak dan karakter pesantren menjadi hilang.

Dua belas pimpinan Ma’had Aly tersebut adalah: Ma’had Aly Lirboyo, Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri; Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo; Ma’had Aly Nurul Qarnain, Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Jember; Ma’had Aly Nurul Jadid, Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo; Ma’had Aly Nurul Qodim, Pondok Pesantren Nurul Qodim, Probolinggo; Ma’had Aly al-Zamachsary, Pondok Pesantren al-Rifa’ie 1, Kab. Malang; Ma’had Aly At-Tarmasi, Pondok Pesantren Tremas Pacitan; Ma’had Aly al-Fitrah, Pondok Pesantren Assalafi al-Fitrah Surabaya; Ma’had Aly Darussalam, Pondok Pesantren Darussalam, Banyuwangi; Ma’had Aly Hasyim Al-Asy’ary, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang; Ma’had Aly al-Hasaniyyah, Pondok Pesantren Daruttauhid al-Hasaniyyah, Tuban; dan Ma`had Aly Darul Ihya Liulumiddin Bangil Pasuruan.][

Memerdekakan Sejarah Kemerdekaan

Perayaan kemerdekaan RI selalu menjadi momen yang meriah disetiap tahunnya, berbagai macam kegiatan dihelat, ribuan bendera dan pamflet Selamat Dirgahayu dipasang. dimanapun dan dengan cara apapun diseluruh pelosok negeri, kumandang Lagu Kemerdekaan berulang menggaung seantero Nusantara.

Namun, situasi ini tak berbanding sebaliknya, masyarakat lebih antusias dalam hal seremonial perayaan kemerdekaan, akan tetapi kosong dari makna dan sejarah kemerdekaan itu sendiri.

Masyarakat kita terutama kawula muda yang nantinya menjadi tonggak bangsa ini minim minatnya soal urusan sejarah bangsanya, jangankan sejarah bangsanya, sejarah lingkungannya saja mereka acapkali acuh tak acuh. contoh kecil, banyak dari mereka yang kurang tahu silsilah keturunannya.

Penyebabnya, banyak yang mengidentifikasikan salah satunya sebagai efek dari pengaruh globalisasi yang menyasar dari segala lini kehidupan masyarakat kita, mulai dari budaya, teknologi, gaya hidup dan sebagainya. Hal ini tidak bisa kita tolak, namun jangan pula kita acuhkan, sebab besar imbasnya. Ia akan berperan jauh dalam mengontrol pola pikir kita.

Sehingga lambat laun tanpa sadar kita akan meninggalkan budaya dan corak kehidupan lokal kita. Selanjutnya yang dikhawatirkan kita akan terhinggapi rasa  herolessness, merasa tiada mempunyai pahlawan. Sejarah mereka kita acuhkan, kebesaran dan perjuangannya kita sisihkan, lebih tertarik dengan apapun yang berbau asing, merasa rendah dan hina yang itu datangnya dari lokal. Merasa kolot dan ketinggalan zaman.

Sebab yang lainnya adalah berkat pengetahuan kita soal sejarah yang diplesetkan oleh kolonial dulu, mereka menciptakan sejarah yang lebih mengarah kepada kepentingan mereka sendiri berkaitan dengan cengkeraman kekuasaannya di Nusantara. seperti usahanya membuat prasasti yang mendiskreditkan peran Ulama dan Santri dalam perjuangannya melawan penjajah. Kiat mereka meredam perjuangan Ulama, Santri dan Pribumi dilakukan dengan segala bentuk. Bahkan materi pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah mulai tingkat dasar hingga tinggi masih merupakan warisan kolonial, yang jelas tujuannya seperti telah diungkapkan.

Hingga sekarang warisan dari kolonial masih digunakan di negeri ini, seperti UU yang kita pakai, ratusan poin diantaranya merupakan ciptaan kolonial, padahal politik lokal islam yang diwakili kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah sejak lama mempunyai UU yang diterapkan di wilayahnya.

Ambillah contohnya Majapahit, bagi warganya yang berbuat asusila tanpa segan akan dihukum mati. sisi lainnya, UU warisan itu dinilai terlalu lembek dan ringan bagi para pelaku. Jauh dari kata jera untuk tidak mengulangi, bayangkan, koruptor yang merugikan negara ratusan milyar hanya dihukum 3 tahun kurungan, kalau punya uang bisa-bisa hanya 2 tahun, belum lagi remisi yang didapatkan.

Dari sinilah betapa pentingnya kita mengenal sejarah, sejarah bukanlah omong kosong. Seperti yang ditandaskan oleh Bapak Proklamasi Ir. Soekarno saat menyampaikan sambutannya dalam pada peringatan kemerdekaan RI yang ke-3 :

“ Dari mengenal sejarah orang bisa menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu ialah ; bahwa tidak ada bangsa yang bisa menjadi besar dan makmur zonder kerja. terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran bangsa dan kemakmuran tidak pernah jatuh dari langit. kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu “kristalisasi” keringat.” Tandas beliau menggebu.

Maka dari  itu sejarah bukan hanya sebagai masa lalu, namun bagaimana kita bisa membaca masa lalu dengan segala yang menguasainya, sebagai petunjuk arah dan haluan-haluan yang kita gunakan untuk kehidupan dan pembangunan kedepan.

Sebagai santri juga janganlah kita sekedar tahu Sejarah Nabi, Khulafa Ar-Rasyidin ataupun sejarah Timur Tengah pada umumnya, namun juga yang berkaitan dengan ke-Nusantaraan jangan kita acuhkan, sebab bagaimanapun juga sejarah selalu berkelindan dengan sosial-kultural sebuah daerah, politik dan masa. jangan dikira seperti ini anti arab.

Kalau tidak demikian, akan terulang kembali para pahlawan dari kalangan Ulama dan Santri yang enggan untuk ikut duduk mengurusi kepemerintahan selepas proklamasi, mereka memilih kembali bergulat dengan kitab-kitab dan para santrinya. Jelas ini hal yang sangat baik, namun bisa kita lihat yang duduk disana adalah para amtenar pegawai pada masa kolonial, yang jalan politiknya juga pasti masih satu urat dengan yang mendidik mereka, kolonial.[1]

 

 

 

[1] Api Sejarah ; Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Insdonesia

Tingkatkan Payung Hukum, FKPM Serahkan RUU Pendidikan Keagamaan dan Pesantren ke Baleg

Jakarta Puluhan Pimpinan Pondok Pesantren Mu’allimin dan Salafiyah se-Indonesia yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) berkunjung ke Badan Legislasi di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (5/7/2018).

Kunjungan ini untuk menyerahkan usulan Rancangan Undang Undang (RUU) tentang Pendidikan Keagamaan dan Pesantren (PKP).

“Audiensi antara FKPM dengan Badan Legislatif untuk memberikan masukan RUU PKP,” kata Presiden Perhimpunan Pengasuh Pesantren Indonesia, KH Muhammad Tata Taufik, kepada Tribunnews.com.

Kunjungan FKPM ke Baleg DPR utk menyerahkan usulan RUU pendidikan keagamaan dan pesantren. (Istimewa)

KH Muhammad Tata Taufik yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Al Ikhlas, Kuningan, Jawa Barat tersebut menjelaskan target dari audiensi ini agar pesantren punya payung hukum setingkat undang-undang.

“RUU pesantren harus bisa menjawab kebutuhan pesantren. Diantaranya legalitas lulusan pesantren, diharapkan dengan ini proses penyeteraan atau muadalah kepada pesantren-pesantren bisa diberikan lebih banyak lagi oleh pemerintah,” katanya.

Meski maklum diketahui pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia dan berkontribusi besar terhadap perekembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia tapi keberadaan ijazah lulusan pesantren baru diakui beberapa tahun lalu.

“Kami berjuang sejak 2003 dan alhamdulillah ijazah lulusan pesantren sekarang sudah mendapat penyetaraan tapi masih setingkat peraturan Menteri Agama. Untuk itu kami harus memperjuangkan lagi sampai naik ke level Undang-Undang,” kata KH Muhammad Tata Taufik.

Hal terpenting dalam Muadalah tersebut salah satunya adalah soal otonomi pesantren. Pemerintah tidak seharusnya memaksakan pesantren agar merubah kurikulumnya untuk mendapatkan pengakuan.

“Iya benar, kurikulum pesantren itu punya kekhasan tersendiri yang berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan lainya. Kekhasan itu yang harus dipertahankan,” katanya.

Untuk mensukseskan perjuangan ini FKPM berharap Pihak pesantren sebagai stakeholder yang jumlahnya ribuan di tanah air bisa lebih harmoni melaksanakan Undang-Undang.

Hadir saat audiensi Rektor Unida Gontor, Prof Amal Fathullah Zarkasyi, perwakilan dari Pondok Modern Gontor, Pengasuh Pesantren Darunnajah Jakarta, Pesantren Al Ikhlas Kuningan, Pesantren Al Ikhlas Lombok, Pesantren Tazakka, Pesantren Langitan, Pesantren Termas Pacitan, HM. Dahlan Ridlwan dari Pesantren Lirboyo dan beberapa pesantren lainnya.

sumber : tribunnews.com