Tag Archives: Islam

Betapa Santri Harus Jadi Dai Setiap Hari

Santri seharusnya menyadari statusnya yang religius itu. Salah satu konsekuensinya adalah dia harus menjadi dai dalam kesehariannya. Mendai yang harus disandang santri itu bukan hanya diamalkan ketika di pesantren, tapi hidup di tengah masyarakat. Mendai atau menjadi juru dakwah harus melekat pada sanubari santri. Hati dan pikirannya harus senantiasa tertambat pada tugas suci dan mulia yang disandangnya itu. Dia pun dituntut menampilkan dirinya sesempurna mungkin untuk mendukung tugasnya sebagai dai.

Untuk menyukseskan tugasnya sebagai dai itu, paling tidak santri harus menjalankan misinya sebagai dai dalam tiga bidang dakwah. Pertama, da’wah bil hal. Syiar Islam di bidang ini banyak menuntut santri untuk berperilaku dan bersikap yang mencerminkan muslim yang seideal mungkin. Misalnya, dalam berpakaian, dia tidak mengumbar auratnya. Maka, tidak pantaslah santri di mana pun dia berada memakai celana jeans yang lubang di bagian lututnya. Dalam bertutur kata pun, dia harus sopan, lemah lembut, sangat berkesan, berbobot, dan kriteria keindahan ucapan lainnya sehingga menjadi qaulan tsaqiilaa. Demikian pula dalam bertingkah laku, santri harus berusaha semaksimal mungkin untuk meneladani akhlaaqul kariimah sebagaimana akhlak Rasulullah saw. Begitu pula ucapan dan perbuatannya satu. Artinya, lisannya klop dengan isi hatinya.

Dengan dakwah berupa tingkah laku itu, santri sebagai dai memiliki power yang luar biasa. Kekuatan ucapannya yang menyatu dengan hati dan perbuatannya dengam mudah menancap kuat ke dalam hati masyarakat yang didakwahi. Dakwahnya mengesankan sekali sehingga memotivasi audien untuk mengamalkan materi dakwahnya. Walhasil, dakwahnya sukses mengubah perilaku masyarakat menuju jalan lurus yang diridoi oleh Allah swt.

Bidang dakwah kedua adalah da’wah bil qalam. Dakwah ini berkaitan dengan dunia tulis-menulis. Artinya, materi dakwah yang disampaikan santri berupa karya tulis. Bentuk bisa opini, cerpen, feature (berita kisah), puisi, esai, artikel, dan lain-lain. Tulisannya juga bisa dimuat di majalah dinding, buletin, majalah, surat kabar, atau di media online.

[ads script=”1″ align=”center”]

Otomatis, santri dituntut memiliki ketrampilan khusus tentang dunia tulis-menulis. Untuk itu, santri harus membekali diri dengan skill di bidang jurnalistik tersebut. Caranya bisa belajar secara otodidak, yaitu dengan membaca buku tentang teknis tulis-menulis. Buku-buku tentang how to dalam menulis yang baik itu sekarang dengan mudah diperoleh di toko buku. Penulisnya pun banyak dari pengarang yang telah berhasil menekuni bidang tersebut. Atau santri bisa mengikuti kursus tentang kepenulisan, baik di dalam kelas, workshop, seminar, atau lewat media on line. Itu juga mudah dilakukan.

Jika ketrampilan itu sudah didapat, santri akan dengan mudah menuangkan ide-ide dakwahnya dalam berbagai bentuk tulisan ke aneka bentuk media massa. Di sinilah, pentingnya kedamalan ilmu keislaman santri dalam mengulas materi dakwahnya. Makin mendalam ilmunya, makin bijaksana pula dia mengulas berbagai materi dakwahnya. Ini akan bermanfaat sekali dalam menarik minat masyarakat untuk membaca tulisan berkonten dakwah yang dia buat. Contoh konkrit adalah buku-buku tafsir ulama zaman dahulu. Sebut saja Tafsir Jalalain karya Imam Nawawi, Tafsir Al Azhar karya Hamka, dan lain-lain. Hasil tulisan para ulama itu begitu fenomenal sehingga mampu membekas dan memengaruhi umat Islam zaman sekarang sekali pun.

Bidang terakhir adalah da’wah bil lisaan. Bidang ini yang paling ngetren di masyarakat. Karena, begitu disebut kata “dakwah”, maka asosiasi mereka pasti siar Islam yang berupa pidato, orasi, atau ceramah agama. Dakwah bidang ini patut diperhatikan oleh santri karena inilah dakwah yang paling diminati masyarakat. Buktinya, betapa menjamurnya majelis taklim di kota-kota, baik yang diadakan oleh ibu-ibu PKK, muslimat, maupun oleh bapak-bapak.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang haus terhadap dakwah lisan ini, santri harus mempersiapkan diri untuk menjadi singa podium yang andal. Jadi orator yang ulung. Jadi penceramah yang profesional. Caranya adalah mengasah diri, khususnya dalam olah kata, intonasi, stressing (penekanan) kata-kata penting dalam berceramah, dan lain-lain.

Penampilan yang prima pun juga harus dibiasakan mulai dari sekarang. Misalnya, membiasakan diri berpakaian rapi, sudah disetrika, warna pakaiannya matching (sesuai; tidak norak), berbaju lengan panjang, dan lain-lain. Berlatih berbicara di depan cermin setiap hari. Latihan ini dimaksudkan agar dia bisa melihat penampilan dirinya sendiri ketika berbicara dengan gerak-gerik tubuhnya. Dari situ, dia kan tahu mana pose yang terbaik yang membuatnya percaya diri ketika berpidato. Ini semua perlu dibiasakan agar nanti jika sudah benar-benar tampil di masyarakat umum tidak canggung lagi.

Alangkah baiknya, santri yang sedang mempersiapkan diri menjadi orator ulung juga aktif dalam organisasi atau jam’iyyah, baik di lingkungan pesantren maupun masyarakat sekitar pesantren. Mengapa? Karena lewat organisasi itulah santri dilatih untuk berinteraksi dengan orang lain yang karakternya berbeda-beda. Di situ, dia akan diasah untuk berbicara dan berargumentasi dalam rapat di organisasi tersebut. Dengan begitu, dia akan terlatih berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Ketrampilan ini sangat bermanfaat ketika dia harus berdakwah sekaligus harus menjawab pertanyaan para jamaah.

Kiranya bijak jika santri sadar sejak awal bahwa dialah nantinya sosok dai yang sangat diharapkan dalam siarnya Islam. Maka, tidak ada jalan lain, santri harus mendai setiap hari, baik untuk dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya.[]

Penulis, Saiful Asyhad, pengajar kursus jurnalistik Pondok Pesantren Lirboyo

Antisipasi Musibah yang Islami

Bencana demi bencana mendera bangsa kita. Mulai dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus, tanah longsor, demam berdarah, flu burung, dan terakhir banjir bandang. Musibah itu menerpa laksana cerita komik berjilid-jilid. Bala’ seolah tak kenal kata ”stop”. Kita pun kalang kabut.

Walau demikian, kita sebagai muslim tidak boleh putus asa. Kita harus berkhusnuzh zhaan terhadap Allah SWT. Dengan berpikir positif itu, insya Allah kita mampu menguak hikmahnya. Caranya dengan meneliti tiga kemungkinan berikut.

Pertama, musibah-musibah itu adalah ujian dari Allah SWT. Jika ini benar, maka kita harus bersyukur karena itu pertanda Allah SWT akan meningkatkan derajat bangsa kita di mata-Nya jika lulus dalam ujian itu. Kita bisa tersungging karena ”naik kelas” di ”sekolah” Allah SWT setelah sabar mengahadapi tes rentetan musibah itu. Kita pun bisa tertawa lepas setelah menerima ”ijazah” dari ”tangan”-Nya di acara ”wisuda”-Nya di alam fana ini.

Bukan itu saja. Kita juga akan memperoleh limpahan rahmat dan karunia-Nya yang tanpa batas dalam berbagai bentuk. Alam yang makin tertata rapi dan subur kembali. Iklim yang kembali normal dan bersahabat. Hujan tanpa angin kencang, badai, atau banjir. Kemarau tanpa kekeringan atau kebakaran hutan. Hadirnya pemimpin yang adil yang mampu mewujudkan bangsa dan negara menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Dan banyak lagi hikmah yang akan kita terima. Sungguh, nikmat yang tiada tara bila musibah itu semata-mata tes dari Allah SWT. Karena, bila kita mampu melewatinya dengan sabar, pasti rahmat-Nya melimpah ruah di Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi tercinta.

Kemungkinan kedua, musibah itu peringatan Allah SWT. Jika ini yang benar, maka itu artinya kita harus segera mawas diri. Apa yang telah kita perbuat hingga Dia memukulkan ”cambuk kecil”-Nya. Mungkin kita mengaku Islam, namun belum kaaffah. Islamnya masih sebatas Islam-KTP. Kita harus berani meneliti di mana bercak-bercak diri berada. Kemudian, kita bersihkan dosa-dosa itu dengan amal ubudiyyah yang bernuansa taubatan nasuuha. Insya Allah, Dia yang Maha Pengampun berkenan memberikan ”penghapus”-Nya untuk kita pinjam menghapus noda-noda diri.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Yang harus sangat kita khawatirkan adalah jangan-jangan malah kemungkinan ketiga yang terjadi. Musibah itu azab! Wah, kalau ini yang terjadi, maka harus ada akselerasi tobat kepada-Nya. Kita harus terus-menerus memohon ampunan-Nya atas dosa yang telah kita perbuat. Sekecil apa pun dosa itu harus kita istighfari setiap hari. Dengan demikian, terciptalah gerakan tobat secara individual warga yang menasional kepada Allah SWT. Syukur-syukur bila ada political will dari Pemerintah dengan menggelar acara taubatan nasuuha skala nasional di tempat dan pada saat yang sama secara berjamaah kemudian dilanjutkan dengan tobat harian secara pribadi.

Langkah tobat nasional itu tampaknya sudah merupakan harga mati. Kita memang harus mengakui betapa banyak dosa yang telah kita perbuat. Kemudian, kita pun harus menyesali dosa yang kian hari makin menumpuk, menggunung, bahkan melimpah ruah bak air bah di samudra. Wujud penyesalan itu kita tumpahkan dalam bentuk linangan air mata yang tulus di hadapan Allah SWT saat qiyaam al lail, salat tahajud, atau pun salat tobat.

Langkah terakhir dari ritual taubatan nashuuha adalah berjanji sepenuh hati tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu. Kita berjanji untuk tidak terperosok ke jurang nista yang sama untuk kedua kali. Cukup sampai di sini saja laku kotor itu. Kita berjanji tidak meneruskan tingkah terkutuk yang bikin kita kian terpuruk.

Wujudnya, kita jangan lagi melakukan illegal logging yang membabi buta itu. Ingatlah, kita ini manusia. Bukan babi yang buta! Kita pun jangan mendukung, apalagi melakukan dan memperjuangkan pornografi dan pornoaksi di Indonesia yang agamis ini sebab itu bak mempertemukan anjing dan kucing. Kita juga harus antikorupsi sebab korupsi membangkrutkan negara. Kita yang mengaku umat beragama Islam, wujudkan amaliah ke-Islaman itu dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya mengaku Islam, tapi tidak salat, enggan berzakat, tak sudi mengaji, bahkan malah korupsi.

Masih banyak lagi kemaksiatan yang harus kita hindari dan ”perangi” setiap hari, baik dengan tangan atau kekuasaan yang sesuai tingkat kekuasaan yang diamanatkan dan dilekatkan Allah SWT pada diri kita. Bisa juga mencegah maksiat itu dengan lisan berupa nasihat yang bijaksana kepada saudara-saudara kita yang masih belum mau bertobat. Atau minimal dengan menyatakan ingkar terhadap kemaksiatan itu di dalam hati meskipun langkah terakhir ini mengindikasikan lemahnya iman kita. Pokoknya, paling tidak kita tidak bermaksiat, bahkan bisa mengingkari dalam hati dan mencegahnya dengan kekuasaan.

Akhirnya, kita memohon kepada Allah SWT agar berkenan mene-rima tobat-total kita semua, baik secara individual maupun nasi-onal, agar kita dapat menuai hikmah dari musibah. Aamin, aamin, yaa rabbal  ‘aalamiin…[]

Penulis, Saiful Asyhad, Pengajar Ekstrakurikuler di Ponpes Lirboyo, Kediri

Mengenal Konstruksi Madzhab Syafi’i

Madzhab–dalam literatur fiqh istilah ini sering diketemukan–adalah pola pikir dan pola amaliah yang merupakan buah pikir dari seorang mujtahid madzhab, yang disarikan dari al-Quran dan al-Hadist an-Nabawiy dengan metode tertentu. Di masa Tabi’in, islam sampai pada masa supremasi (al-‘ashru ad-dzahabi), dimana khazanah inteletual islam mengalami banyak kemajuan dan perkembangan yang signifikan. Di masa itu, banyak mujtahid bermunculan hingga tak terhitung berapa jumlahnya. Namun seiring masa, tidak semua madzhab mampu bertahan. Hingga dewasa ini, madzhab yang memiliki validitas dari segi riwayat dan ajarannya sehingga layak untuk dianut hanya tinggal empat. Yaitu Mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’i, dan Imam Ahmad, atau yang sering kita dengar dengan istilah al-Madzahib al-Arba’ah. Diantaranya adalah Madzhab Syaf’i.

Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H.)–yang dikenal dengan sebutan Imam as-Syafi’i–nama besarnya sebagai mujtahid membumi di berbagai penjuru negeri di belahan bumi manapun. Ust. Idrus Ramli mengungkapkan, tidak ada madzhab fiqih yang memiliki jumlah pengikut begitu besar seperti madzhab syafi’i yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Pilipina, Singapura, Thailand, India bagian selatan seperti daerah Kirala, Kalkutta, mayoritas negara-negara Syam seperti Syiria, Yordania, Lebanon, Palestina, sebagian besar penduduk Yaman, mayoritas penduduk Kurdistan, kaum sunni di Iran, mayoritas penduduk mesir, penduduk sebagian besar benua Afrika bagian timur dan lain-lain. Di indonesia saja, sudah jamak pesantren dan perguruan islam, dalam bidang fiqh mengikuti pola pikir dan amaliah yang merupakan buah pikir Imam Syafi’i 12 abad yang lalu.

Seperti halnya Ust. Idrus Ramli, Hasan bin Ahmad al-Kaff, dalam taqrirat-nya juga mengungkapkan bahwa mayoritas muslim Sunni di dunia mengikuti Madzhab Syafi’i. Hal ini merupakan prestasi ilmiah yang sangat mengagumkan mengingat jarak masanya lebih dari 1200 tahun atau 12 abad silam. Namun ajarannya masih eksis dan bahkan memiliki penganut (muqollid) terbanyak.

Dari paparan diatas, tentunya ada beberapa faktor logis-historys yang melatarbelakangi eksistensi dan perkembangan madzhab hingga mampu bertahan sekian lama, dan menjadi pilihan sekaligus rujukan mayoritas kaum muslim sunni di dunia. Apalagi sejarah menyaksikan banyak Mujaddid (pembaharu) dari para cendekiawan islam yang merupakan tokoh sentral di masanya masing-masing, lahir dengan latar belakang bermadzhab Syafi’i. Kehadiran mereka pun membawa kemajuan dan perkembangan entitas madzhab dan memperkaya khazanah madzhab. Pada kurun ketiga, tampil seorang cendikia, Abul ‘Abbas bin Suraij sebagai seorang pembaharu. Pada kurun keempat hingga kesepuluh, ada Abu at-Thoyyib Sahl as-Shu’luki, Abu Hamid al-Ghozali, al-Fakhru ar-Razi, an-Nawawi, al-Isnawi, Ibnu Hajar al-Asqolani, as-Suyuthi, dan masih banyak lagi. Tak dapat ditampik, secara estafet munculnya sederet nama-nama tadi dapat memperkukuh landasan ajaran Madzhab dan melestarikannya melalui karya-karya mereka.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Hasan bin Ahmad al-Kaff, mengidentifikasi bahwa perkembangan Madzhab Syafi’i melalui lima tahap. Pertama, adalah tahapan dimasa Muhammad bin Idris yang muncul memperkenalkan dasar pokok pemikirannya. Saat itu kehadirannya mampu memberi warna baru di jazirah Arabia. Ajarannya dianggap moderat. Dalam Manaqib as-Syafi’i, Fakhruddin ar-Razi mengungkapkan, bahwa ajarannya mampu menengahi polemik ilmiah antara golongan tekstualis (ahlul hadist) dari para cendekiawan Hijaz dan golongan rasionalis (ahlur ro’yi) dari para cendekiawan Iraq.

Konon sebelumnya, kedua golongan ini tak pernah menemukan kata mufakat dalam diskusinya. Argumentasi masing-masing golongan tak pernah diterima oleh golongan lainnya. Ironisnya, lama kelamaan perbedaan tersebut selalu saja berujung pada nuansa rivalitas yang memprihatinkan.

Keadaan sedemikian rupa terus berlanjut hingga kemunculan Muhammad bin Idris. Melalui sebuah kitabnya yang berjudul “ar-Risalah” yang menjadi karya pembuka dalam fan ushul fiqh, Muhammad bin Idris mampu memperbaiki keadaan tersebut. Apa yang disampaikannya melalui ar-Risalah mampu menengahi dua golongan tersebut. Melalui ar-Risalah pula, Muhammad bin Idris pun menjadi orang pertama yang mengkodifikasikan metode ilmiahnya dalam menggali hukum al-Quran dan al-Hadist an-Nabawiy.

Kedua, adalah tahapan periwayatan (marhalatu an-naqli). Setelah pendiri madzhab wafat, para muridnya berperan menggantikan peran Muhammad bin Idris dalam meriwayatkan ajaran madzhab. Diantaranya, al-Buaithi, al-Muzani, Robi’ al-Murodi, Robi’ al-Jizi, Yunus bin Abdul A’la, yang pada akhirnya apa yang disampaikan murid-murid as-Syafi’i tersebut dalam literatur fiqih jamak disebut dengan riwayatul madzhab. Periode ini berlangsung sampai wafatnya para murid as-Syafi’i pada kurun ketiga hijriyah.

Ketiga, adalah tahap kodifikasi problematika furu’iyyah (cabangan) madzhab dan pengembangan ranah pembahasan masalah fiqh (marhalatu tadwini furu’i al-madzhab wa at-tawassu’i fi masa-ilihi). Di masa transformasi tahapan ke-dua menuju tahapan ke-tiga, muncul dua golongan yang memiliki pola pikir berbeda dan memiliki kadar riwayat yang berbeda, serta pengembangan yang berbeda pula dalam mengapresiasikan riwayat-riwayat madzhab as-Syafi’i. Dua golongan tersebut dalam literatur fiqh sering disebut dengan al-Khurosaniyyun dan al-‘Iroqiyyun. Golongan al-Khurosaniyyun diawali oleh al-Qoffal al-Shoghir Abu Bakar al-Mawarzi. Kemudian diikuti oleh Abu Hamid al-Juwaini, al-Fauroni, al-Qodli Husain, dan lainnya. Sedangkan dari golongan al-‘Iroqiyyun, dimulai oleh Abu Hamid al-Isfiroini, dan diikuti oleh al-Mawardi, Abu Thoyyib at-Thobari, al-Bandaniji, al-Mahamili dan lainnya.

Hingga pada kurun ketujuh Hijriyah, tampil dua orang besar dan sering disebut-sebut dihampir semua kitab fiqih syafi’i dalam setiap bab dan fasalnya. Yaitu ar-Rofi’i dan an-Nawawi. Ketokohan mereka sudah tak teringkari lagi. Dua ulama tersebut memiliki peran dan kontribusi besar terkait ajaran-ajaran madzhab syafi’i. Peran mereka dalam koreksi ajaran madzhab sangatlah besar. Melalui karya-karya mereka, semua problema dalam furu’iyyah fiqih berikut dalil-dalilnya menjadi wilayah yang tak terlewatkan untuk dikaji ulang dan dibenahi. Semua riwayat-riwayat madzhab dan qoul-qoul madzhab juga mengalami pen-tarjih-an dalam rangka merumuskan (tahqiq) kembali ajaran madzhab as- Syafi’i. Diantara karya-karya besar mereka adalah; al-Muharror, as-Syarhu as-Shoghir, as-Syarhu al-Kabir (ketiganya adalah karya imam ar-Rofi’i), al-Minhaj, al-Majmu’, Raudlatut Thalibin (ketiganya adalah karya imam an-Nawawi). Inilah tahapan keempat dalam sejarah berkembangnya madzhab syafi’i yang dalam istilahnya disebut dengan marhalatu at-tahrir.

Dominasi ar-Rofi’i dan an-Nawawi dalam filterisasi riwayat dan ajaran madzhab nampaknya masih saja meninggalkan ruang bagi yang lain untuk melengkapi apa yang dianggap masih kurang. Selayaknya, karya manusia tak pernah sampai pada titik kesempurnaan. Pada kurun kesepuluh Hijriyah, kembali tampil dua ulama penyempurna. Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli. Kehadiran mereka berikut karyanya mempertegas eksistensi dan validitas madzhab.

Sesuai dengan hadist Nabi saw. yang menyatakan bahwa, al-quran dan hadist terhenti dan habis ketika Nabi telah mangkat. Sedangkan problema yang mencuat di tengah-tengah masyarakat terkait realitas amaliah mereka tak pernah terhenti dan habis sebelum kiamat tiba. Maka dua sisi ini tak seimbang bila al-quran dan hadist tidak dikembangkan dalam furu’iyahnya.

Sebab, banyak hal-hal baru yang belum terakomodir dalam fatwa-fatwa ulama pendahulu. Hal ini kiranya membutuhkan tindakan pembaharuan dan penyempurnaan. Maka, Ibnu Hajar al-Haitami dan ar-Romli tampil sebagai kunci kebuntuan tersebut. Melalui karya-karya mereka, keduanya tampil sebagai penyempurna.

Ranah ilmiah baru yang belum terjamah oleh pendahulunya dikupas serta dirumuskan dan dikemas dalam karya mereka. Kurun ini dikenal sebagai tahapan akhir pembangungan konstruksi madzhab syafi’i.

Nah, dari sekelumit kajian sejarah sederhana ini, kiranya begitu besar militansi para ulama syafi’iyah dalam mempertahankan, menyempurnakan, dan menyebarluaskan ajaran madzhab Syafi’i secara estafet dari generasi ke generasi. Hingga kita pun menuai keberkahan, berupa kemudahan dalam mempelajari, menjalankan, dan melestarikan ibadah ala madzhab syafi’i. “Fas-aluu ahla az-dzikri in kuntum laa ta’lamun..”[]

Penulis, M. Shidqi Lubaid

KH. Abdullah Kafabihi Mahrus : “Carilah Kawan yang baik”

Dalam pergaulan, sering kali seseorang menganggap remeh etika-etika pergaulan yang dianjurkan dalam agama. Padahal etika itu dimaksudkan untuk melindungi seseorang dari akibat buruk dari pergaulan itu sendiri. Seorang kawan sangat berpengaruh terhadap pola pikir, tingkah laku, dan bahkan keyakinan seseorang. Dalam sebuah syair arab kuno yang cukup masyhur dikatakan,

عَنْ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَأَبْصِرْ قَرِينَهُ # فَإِنَّ الْقَرِينَ بِالْمُقَارِنِ يَقْتَدِي
فَإِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْهُ سُرْعَةً # وَإِنْ كَانَ ذَا خَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَدِي

Janganlah bertanya tentang (diri) seseorang (secara langsung, namun cukup) lihatlah siapa kawannya. Sesungguhnya seorang kawan senantiasa mengikuti kawannya. Bila sang kawan adalah orang yang bersifat buruk maka jauhilah segera. (Sebaliknya) jika ia bersifat baik maka jadilah kawannya, niscaya anda akan mendapatkan petunjuk.

Dalam hal ini nabi Saw. Mengatakan,

اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِِ خَلِيْلِهِ
“Seseorang mengikuti keyakinan kawannya”

1. Tidak diragukan lagi akan pengaruh yang dibawa seorang kawan. Karena itu wejangan dari para ulama salaf sangat perlu diperhatikan. Di antara wejangan itu adalah;Berteman dengan orang yang baik fikirannya; hal ini agar kita dapat mengambil pilihan terbaik ketika menghadapi masalah. Berteman dengan orang yang bodoh (dalam arti tidak tahu diri, egois, dan mementingkan diri sendiri) hanya akan merusak tali kasih yang mempersatukan keduanya. Nabi mengatakan,

الْبَذَاءُ لُؤْمٌ ، وَصُحْبَةُ الْأَحْمَقِ شُؤْمٌ
“Berkata kotor adalah tercela, berkawan dengan orang yang tidak beres akalnya adalah kesialan”

2. Baik agamanya. Karena orang yang tidak baik agamanya hanya akan membawa kepada marabahaya, baik bahaya dalam urusan dunia maupun agama. Allah Azza Wa Jalla berfirman,

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ
“jangan kau ikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan, dan mengikuti hawa nafsunya”

Ayat ini diturunkan Allah pada Nabi, agar nabi tidak mengikuti orang-orang kafir yang tidak mengindahkan ajakan dan ajaran agama Nabi. Berkawan dengan orang yang kurang baik agamanya, mungkin tidak menjadi masalah bagi orang yang kuat menahan diri dari pengaruh-pengaruh luar. Namun bagaimana dengan orang yang mudah terbawa arus.

3. terpuji perilaku dan akhlaknya. Berkawan dengan orang yang buruk akhlaknya hanya akan memancing permusuhan dan merusak akhlak baik yang sudah tertanam dalam diri. Sebagian ulama mengatakan,

مِنْ خَيْرِ الِاخْتِيَارِ صُحْبَةُ الْأَخْيَارِ ، وَمِنْ شَرِّ الِاخْتِيَارِ صُحْبَةُ الْأَشْرَارِ
“Berkawan dengan orang yang baik (akhlaknya) adalah pilihan yang baik, berkawan dengan orang yang buruk (akhlaknya) adalah pilihan yang buruk”

Melihat maraknya cara bergaul yang salah pada generasi muda kita, sudah sepatutnya kita kembali pada tatacara dan akhlak pergaulan yang dianjurkan oleh agama. Bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, melainkan untuk melindungi masyarakat secara umum.

[ads script=”1″ align=”center”]

Maraknya pelanggaran larangan-larangan agama dalam pergaulan, seperti percampuran antar lawan jenis yang bukan mahram, konsumsi barang-barang haram, dan lain sebagainya yang seringkali memicu tindak kriminal, asusila, dan mungkar, hendaknya dilihat sebagai kritik dan ukuran bagi masyarakat kita, apakah sudah menjalankan aturan syariat atau belum.

Hendaknya setiap orang benar-benar memperhatikannya. Karena jika sebuah penyimpangan telah meluas dan menjadi kebiasaan di masyarakat, yang tertimpa musibah bukan hanya para pelakunya saja. Bahkan masyarakat yang membiarkan kemungkaran itu sendiri juga akan tertimpa. Dalam sebuah hadis dikatakan,

إِذَا خَفِيَتِ الْخَطِيئَةُ لَمْ تَضُرَّ إِلا صَاحِبَهَا، وَإِذَا ظَهَرَتْ فَلَمْ تُغَيَّرْ ضَرَّتِ الْعَامَّةَ
“Ketika kesalahan (kemungkaran) tersamar maka tidak akan berbahaya kecuali bagi pelakunya, dan ketika tampak kemudian tidak ada yang merubahnya maka akan berbahaya bagi banyak orang (sekitar yang tahu)” (HR. At-Thabrani {1010})

Generasi muda adalah tiang punggung umat di masa mendatang. Oleh karena itu hendaknya kita awasi, agar tidak mudah terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan. Jangan sampai mereka benar-benar terjerumus ke dalam jurang yang sangat dalam dan membuat mereka putus asa. Sehingga dengan mudah mereka mengatakan, “sudah terlanjur”. Yang belum terjerumus mari kita jaga, dan yang sudah terjerumus ke dalam pergaulan yang salah mari kita sadarkan. Karena pepatah kuno mengatakan,

شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الغَدِ
“Pemuda saat ini adalah generasi (yang akan mengisi kelangsungan umat) di hari esok”

Semoga negeri kita diselamatkan dari yang demikian, dan dijadikan negeri yang makmur, bersih dari berbagai penyimpangan dan kemungkaran. Amin.