Tag Archives: kajian

Dualisme Pemikian As-Syafi’i

Dalam bidang fiqih, Ahlussunnah wal Jama’ah mengikuti 4 madzhab, yakni Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Di Indonesia, mayoritas umat Islam menganut madzhab Syafi’i. Meskipun demikian, bagi sebagian besar masyarakat, istilah Qoul Qodim dan Qoul Jadid masih terasa asing di telinga mereka. Namun bagi kalangan pemerhati kajian madzhab fiqih, kedua istilah tersebut adalah hal yang sangat populer. Sebab, diskursus kajian madzhab Syafi’i tidak akan pernah terlepas dari perjalanan sejarah intelektual As-Syafi’i yang menjadi cikal bakal munculnya dua istilah yang mewakili dualisme madzhab Syafi’i tersebut.

Sejarah Singkat Qoul Qodim dan Qoul Jadid

Qoul Qodim adalah pendapat Imam Syafi’i yang pertama kali difatwakan ketika beliau tinggal di Bagdad, Irak (195 H). Fatwa tersebut dikeluarkan ketika beliau mendapat wewenang langsung oleh gurunya, yaitu Muslim bin Kholid, seorang ulama besar yang menjadi mufti di Mekah, dan Imam Malik, yang mana tinta emas sejarah mencatatnya sebagai pendiri Madzhab Malikiyah dan yang pertama kali mempunyai inisiatif untuk mengumpulkan hadis dalam bentuk kitab Sunan.

Imam Syafi’i tinggal di Baghdad selama 2 tahun. Sejak itu pula, pengaruh Madzhab Syafi’iyyah mulai tersebar luas di kalangan masyarakat. Kemudian untuk sementara waktu, beliau terpaksa pergi mennggalkan Baghdad untuk pergi menuju Mekah demi memenuhi pangilan hati yang masih haus ilmu pengetahuan. Hal ini lah yang menjadikan Madzhab Syafi’iyyah mengalami stagnansi selama kurang lebih 16 tahun sampai saat kedatangan beliau di Baghdad untuk yang kedua kalinya pada tahun 195 H.

Imam Syafi’i saat kembali ke Baghdad berusaha merawat kembali dan mengembangkan benih-benih madzhab yang telah ditebarkan. Dan pada saat itulah pengaruh Madzhab Syafi’iiyah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Hampir tidak ada lapisan masyarakat Baghdad yang belum tersentuh oleh roda pemikiran Imam Syafi’i.

Di antara pilar pendukung Madzhab Syafi’iyyah yang masyhur adalah Imam Ahmad bin Hambal (yeng kemudian terkenal sebagai pendiri Madzhab Hanabilah/Hambali), Az-Zafaroni, dan Abu Tsur. Empat orang ini lah yang tercatat sebagai periwayat Qoul Qodim yang tertuang dalam kitab Al-Hujjah.

Kemudian Imam Syafi’i terpanggil untuk memperluas lagi ladang dakwahnya. Dengan berbekal semangat dan tekad yang tak kunjung padam, akhirnya Imam Syafi’i memantapkan langkahnya untuk mengembara menuju negeri Mesir. Di sana, beliau mulai meneliti dan menelaah lebih dalam lagi terhadap ketetapan fatwa-fatwanya selama di Baghdad. Maka dari itulah, muncullah rumusan-rumusan baru yang kemudian terkenal dengan istilah Qoul Jadid yang tertulis dalam kitab Al-‘Um, Al-Imla’, Mukhtashor Muzani, dan Al-Buwaiti.

Di antara para pendukung dan periwayat Qoul Jadid yang terkenal adalah Al-Muzani, Al-Buwaiti, Ar-Robi’, Al-Jaizi, Al-Murodi, Al-Harmalah, Muhammad bin Abdillah bin Abdul Hakim, dan Abdullah bin Az-Zubair Al-Makki.

Dualisme Pendapat As-Syafi’i

Sebagian pendapat mengatakan, termasuk Qoul Qodim adalah pendapat Imam Syafi’i setelah keluar dari Irak namun belum masuk dan pendapat tersebut belum ditetapkan di Mesir. Dan termasuk Qoul Jadid adalah pendapat Imam Syafi’i yang telah ditetapkan di Mesir meskipun diucapkan di Irak.

Menurut Al-Asnawi, pendapat Imam Syafi’i yang tertuang dalam Qoul Qodim merupakan pendapat di luar Mdzhab Syaifi’iyyah, kecuali pendapat tersebut sama dengan Qoul Jadid. Hal ini didasari karena keberadaan Qoul Jadid telah menghapus (Nasikh) terhadap Qoul Qodim. Sebagai bukti, Imam Syafi’i melarang para muridnya untuk meriwayatkan Qoul Qodim dan tulisan-tulisan beliau yang terdapat dalam kitab Al-Hujjah yang tidak cocok dengan Qoul Jadid dihapus menggunakan air. Pendapat senada juga dilontarkan oleh Tajuddin Al-Kindi (terkenal dengan sebutan Farkah Al-Kindi), ia mengatakan bahwa Qoul Qodim sama sekali tidak bisa digunakan sebagai rujukan untuk berfatwa.

Di lain pihak, syaikh Ibnu Abdis Salam berpendapat, bahwa Qoul Qodim boleh digunakan sebagai tendensi hukum. Sebab munculnya Qoul Jadid bukan berarti menghapus (Nasikh) terhadap ketetapan Qoul Qodim, melainkan hanya sebatas penilaian kuat dan lemahnya suatu pendapat (Tarjih). Dengan pengertian, Qoul Jadid lebih kuat dibandingkan Qoul Qodim tanpa menafikan sama sekali terhadap keberadaan Qoul Qodim.

Dan pada akhirnya, Al-Asnawi berprediksi bahwa khilafiyah atau perbedaan pendapat di atas hanya terfokus terhadap Qoul Qodim yang tidak dicabut secara langsung oleh Imam Syafi’i. Adapun Qoul Qodim yang dicabut secara langsung oleh Imam Syafi’i, para ulama bersepakat atas ketidakabsahannya sebagai madzhab dan tidak boleh digunakan. Pendapat ini diperkuat oleh riwayat yang dikutip syaikh Abu Hamid dari Az-Za’faroni (periwayat Qoul Qodim), bahwa As-syafi’i telah mencabut sebagian Qoul Qodim sebelum beliau pergi ke Mesir. Meskipun demikian, Qoul Qodim yang telah dicabut yang dianggap sebagai pendapat di luar madzhab. Namun ada sebagian fatwa Imam Syafi’i yang boleh digunakan karena dianggap kuat dari sisi dalilnya menurut penilitian Ahli Tarjih. waAllahu a’lam[]

 

______

Referensi:

Syarah Al-Mahalli ala Al-Minhaj, Sab’ah Kutub Mufidah, Manaqib A’immah Al-Arba’ah, Hamisy Fatawi Al-Kurdi.

 

 

 

Bermaulid dengan Kemunkaran

Sejarah mencatat, perayaan ini secara riil  pertama kali diprakarsai dan digagas oleh Raja Mudhoffar Abu Sa’id Kukuburi bin Zainuddin Ali Ibnu Buktikin, penguasa Arbil (salah satu kota di Irak).[1] Dan sejak saat itulah perayaan maulid Nabi Muhammad Saw yang diselenggarakan setiap tanggal 12 robiul awwal menurut kalender Hijriyah tersebut menjadi sebuah tradisi tahunan agung umat Islam di seluruh  penjuru dunia.

Di Indonesia, perayaan maulid Nabi Saw sering diselenggarakan di surau-surau, masjid-masjid, lembaga sosial kegamaan, sekolah-sekolah, bahkan instansi pemerintahan. Corak sosial dan kebudaan lokal di Nusantara pun cukup signifikan dalam mewarnai dan mengemas berbagi bentuk dan praktek maulid Nabi yang menggairahkan. Dan yang tak kalah penting atau bahkan menjadi hal yang paling urgen adalah pembacaan sholawat dan sirah nabawiyyah (sejarah hidup Nabi) sebagai momentum untuk menambah kecintaan pada baginda Rasulullah Saw dan menjadikannya sebagai suri tauladan yang baik (Uswatun Hasanah) dalam kehidupan sehari-hari.

Maulid Nabi Masa Kini         

Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan zaman yang begitu pesat sangat berpengaruh terhadap semua sendi-sendi kehidupan manusia tak terkecuali perayaan maulid Nabi Muhammad Saw sekalipun. Pasalnya, peringatan maulid Nabi Saw yang pada mulanya hanya terlaksana di surau-surau, masjid-masjid, kini mulai menjalar dalam dimensi yang lebih luas. Baik dari segi frekuensi kegiatan maupun corak penyelenggaraannya.

Sejenak, angin segar kejayaan syiar Islam mulai tercium. Namun, sangat ironis ketika kesucian peringatan maulid Nabi Saw yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati ternyata dalam prakteknya tercemari oleh perbuatan-perbuatan munkar yang ikut serta di dalamnya. Konser musik, pawai, dan bentuk kegiatan lain yang sulit memisahkan percampuran antara laki-laki dan perempuan, ataupun penggunaan alat-alat musik yang diharamkan adalah salah satu realita perayaan maulid Nabi Saw di era modern seperti sekarang ini yang sulit bahkan tidak memberi celah untuk terlepas dari unsur kemunkaran.

Dalam kitab At-Tanbihat Al-Wajibat Li Man Yashna’u Al-Maulid Bi Al-Munkarat, Hadlratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi Saw hukumnya sunnah. Namun dalam realita yang ada, beliau lebih memilih tidak setuju dengan perayaan-perayaan maulid Nabi Saw yang bercampur dengan kemunkaran dan kemaksiatan. Dengan mengutip pernyataan syaikh Ibnu Al-Haj Fasi yang menyatakan pengguanaan hal yang bernuansa pengagungan tidak pada tempatnya saja bisa menambah dosa, akan lebih parah lagi bila menyertakan hal-hal yang bernuansa penghinaan.[2]

Dari pernyataan tersebut tampaknya sangat jelas sekali bahwa Hadlratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari merumuskan dengan tegas bahwa perbuatan-perbuatan munkar dan sarat akan kemaksiatan yang menyertai perayaan dalam memperingati maulid Nabi Saw lebih mengesankan sebuah penghinaan daripada pengagungan. Dan yang pasti hal tersebut menodai kesucian maulid Nabi Saw. Sebab, tujuan diadakannya peringatan ini adalah untuk mengagungkan Rasulullah Saw yangs seharusnya berupa perbuatan positif, sopan santun, dan menjunjung tinggi akhlaq dan tata krama.

Namun, ini semua bukan berarti perayaan memperingati maulid nabi tidak baik untuk dilaksanakan. Karena yang haram bukan perayaan maulid Nabinya, melainkan pada hala-hal yang terlarang tersebut. Adapun peringatan mauli Nabi Saw tetaplah menjadi sebuah anjuran, lebih-lebih masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur menganggap perayaan ini sebagai salah satu syiat agama Islam, hukum memperingatinya bisa berubah menjadi sunnah. Sebab, dalam masalah ini bukan hanya esensi peringatannya saja yang dibahas. Namun lebih condong pada cara yang dipakai dan bagaimana menyelenggarakannya. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Dr. Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki bahwa kita tidak perlu membahas hukum perayaan maulid Nabi karena hal itu telah dilakukan Rasulullah Saw sendiri dengan berpuasa di setiap hari senin.

Walhasil, meskipun dalam praktek nyata ada saja hal-hal yang masih dianggap tidak sejalan dengan koridor syariat, perayaan maulid Nabi Saw adalah salah satu syiar agama Islam yang harus dimuliakan yang hukum merayakannya adalah sunnah. Karena bagaimanapun, realita tersebut merupakan sebuah keniscayaan alamiah yang tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. Sehingga momentum maulid Nabi bukan hanya euforia belaka, namun bisa dijadikan ajang memacu kecintaan dan suri tauladan terhadap Nabi Muhammad Saw dalam membangun kehidupan yang lebih baik ke depannya. []waAllahu a’lam.

 

___________

[1] Al-Hawi Lil Fatawi.

[2] At-Tanbihat Al-Wajibat, hlm. 9, cet. Maktabah Al-Turats Al-Islami.

Tradisi Menyambut Jamaah Haji

Di saat memasuki separuh akhir bulan Dzulhijjah seperti sekarang ini, akan mengingatkan umat muslim terhadap saudara mereka yang telah usai melaksanakan ibadah haji. Karena pada waktu itulah para jamaah haji telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dan pada gilirannya akan diterbangkan kembali menuju tanah air.

Pada waktu ini juga terdapat anjuran untuk menyambut kedatangan jamaah haji. Hal yang demikian sudah pernah dicontohkan para Sahabat ketika menyambut kedatangan Rasulullah saw dari suatu perjalanan. Hadis dari sahabat Abdulah bin Ja’far, beliau menceritakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تَلَقَّى بِنَا، فَتَلَقَّى بِي وَبِالْحَسَنِ أَوِ الْحُسَيْنِ، قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ

“Ketika Rasulullah Saw datang dari perjalanan kami meyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain. Lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau hingga kami masuk kota Madinah,” (HR, Muslim).[1]

Selamatan dan Doa Haji

Suka cita kedatangan seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji tergambar jelas saat dia sampai di kampung halamannya. Sebagian dari mereka ada yang merayakan dalam bentuk Selamatan Haji sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.

Dalam praktek nyata, ada sebuah tradisi untuk menghidangkan makanan kepada para tamu yang mengunjunginya. Tradisi seperti ini disebut dengan nama An-Naqi’ah. Secara pengertian, An-Naqi’ah dapat diartikan sebagai tradisi jamuan makanan yang diselenggarakan oleh seseorang yang baru pulang  dari perjalanan. Tentunya melihat konteks ini, tidak hanya terbatas pada perjalanan haji. Namun memiliki cakupan praktek yang lebih luas. Tradisi ini memiliki landasan hukum salah satu hadis:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً

“Sesungguhnya Rasulullah Saw ketika tiba di Madinah dari suatu perjalanan, beliau menyembelih unta atau sapi,” (HR. Bukhari).[2]

Namun, tradisi selamatan haji tidak sebatas acara jamuan makan. Namun yang lebih penting dari  hal itu adalah mendapatkan berkah doa ampunan dari orang yang yang berhaji. Bahkan hampir dapat dipastikan, tujuan sentral yang paling utama dari adanya Selamatan Haji adalah mendapatkan keberkahan doanya. Adapun permasalahan legalitas syariat dalam memandang polemik tersebut didasarkan pada salah satu hadis, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:

إِذَا لَقِيتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ رَوَاهُ أَحْمَدُ

“Ketika engkau bertemu dengan orang yang haji, ucapkanlah salam padanya, dan berjabat tanganlah dengannya, serta mintalah doa ampunan kepadanya sebelum ia memasuki rumahnya. Karena sesungguhnya dia merupakan orang yang telah terampuni” (HR. Ahmad).[3]

Karena bukan rahasia umum lagi, mereka yang baru datang dari ibadah haji bagaikan seorang bayi yang baru lahir tanpa adanya sedikitpun dosa yang berhubungan langsung dengan Allah. Oleh karena itu, keadaan mereka yang tidak memiliki dosa menjadi lebih dekat dengan Allah Swt, sehingga permohonan dan doanya memiliki nilai lebih daripada yang lain.

Dari hadis tersebut juga dapat ditarik pemahaman yang menjelaskan anjuran bagi seseorang yang haji untuk mendoakan ampunan bagi orang lain meskipun orang lain tersebut tidak minta didoakan. Namun dalam keadaan seperti ini, disunnahkan bagi seseorang berada di sekitar orang yang baru menunaikan ibadah haji untuk menunjukkan permintaannya agar didoakan secara langsung. Hal ini ditujukan agar doan yang dipanjatkan juga tercakup dalam doa yang pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana dalam redaksi hadis:

للَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ

Ya Allah, ampunilah dosa orang yang berhaji. Dan dosa orang yang dimintakan ampunan oleh orang yang berhaji” (HR. Muslim).[4]

Memang benar, para ulama telah sepakat bahwasanya seseorang yang baru pulang dari perjalanan haji memiliki keistimewaan yang berupa doa yang mustajab. Mengenai batasan waktu yang utama untuk doa orang yang baru pulang dari haji masih menyisakan perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian mengatakan hal tersebut berlaku sejak mereka memasuki kota Mekah hingga kembali ke keluarganya. Sebagian lagi berpendapat sebelum mereka masuk rumahnya. Dan ada yang berpendapat sampai 40 hari terhitung sejak mereka pulang dari haji. Bahkan, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diceritakan berdasarkan cerita dari sahabat Umar Ra, keadaan ini akan terus berlangsung hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram, dan  20 Rabiul Awwal dalam hitungan kelender Hijriyah.[5][]. waAllahu a’lam.

__________________________

[1] Shahih Muslim, juz 4 hal 185.

[2] Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 4 hal 400.

[3] Dalil Al-Falihin, juz 3 hal 237.

[4] Faidh Al-Qodir, juz 2 hal 101.

[5] Hasyiyah Al-Jamal, juz 2 hal 554.

Kajian Tafsir; Tiada Paksaan dalam Beragama

Allah Swt berfirman dalam Alqur’an:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقى لَا انْفِصامَ لَها وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan di dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang (teguh) kepada tali yang kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 256).

Meskipun ayat tersebut memiliki kaitan yang erat dengan asbabun nuzul(latar belakang penurunan ayat), namun tidak menafikan kontekstualisasi dari esensial ayat itu sendiri. Hal ini senada dengan konsep kaidah Fiqih bahwa yang menjadi pertimbangan dalam hukum adalah keumuman suatu kata (lafadz), bukan karena sebab khusus.[1]

Sekilas, pemahaman atas ayat tersebut menjelaskan bahwa umat Islam tidak diperbolehkan memaksakan seseorang untuk beriman dan masuk agama Islam. Mengapa bisa demikian, bukankah Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menyerukan dan mensyiarkan agama Islam?.

Sebenarnya, dalam  penggalan ayat tersebut Allah Swt secara tegas telah menyampaikan bagaimana sikap Islam terhadap konsep keimanan. Di awal ayat sudah dikatakan bahwa “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Dalam aspek literatur kebahasaan, kata paksaan (Ikrah) memiliki pengertian memperlakukan orang lain dengan sebuah pekerjaan yang tidak disukai. Sebuah pemaksaan tidak akan dapat dibuktikan secara empiris kecuali dalam bentuk pekerjaan anggota lahiriyyah yang hanya dapat ditangkap oleh panca indra. Sementara keimanan adalah sebuah urusan keyakinan yang wilayahnya ada di dalam hati.  Sehingga dari aspek kebahasaan ini saja sudah menunjukkan bahwa tidak mungkin adanya keimanan yang dihasilkan dari sebuah paksaan.[2]

Pada lanjutan ayat ini juga dipaparkan “Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. Artinya, berbagai argumentasi dan bukti-bukti atas kebenaran agama Islam sudah sangat jelas bahwa keimanan adalah sebuah petunjuk yang mengarahkan kepada keselamatan abadi. Begitu juga sebaliknya, sudah sangat jelas bahwa kekufuran merupakan sebuah kesesatan yang mengantarkan kepada kesengsaraan abadi.

Ketika hal tersebut sudah sangat jelas, maka bagi orang yang memiliki akal sehat dan sempurna secara otomatis akan memilih terhadap jalan yang akan mengantarkannya kepada keselamatan abadi, yaitu dengan jalan keimanan. Dengan demikian, tidak diperlukan lagi adanya sebuah paksaan dalam konsep keimanan.[3]

Selanjutnya, walaupun tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam, bukan berarti pilihan seseorang untuk tidak memeluk agama Islam tidak berkonsekuensi apa-apa. Karena orang yang telah memeluk agama Islam berarti telah memegang teguh pedoman yang kuat. Begitu juga sebaliknya orang yang kufur yang enggan beriman maka dia akan tetap di lembah kesesatan.

Sebagian ahli Tafsir lain menafsiri redaksi “Tidak ada paksaan dalam (mengikuti) agama (Islam)” sebagai bentuk larangan, sehingga sejalan dengan arti “Janganlah kalian memaksa dalam (mengikuti) agama (Islam)”. Karena sebuah keimanan tidak bisa dibangun di atas sebuah paksaan, maka paksaan tersebut sudah tidak bermanfaat lagi. Selain itu, para ulama juga melarang sebuah paksaan dalam keimanan dikarenakan bertendensi bahwa di dunia merupakan wahana ujian atas keimanan setiap manusia. Sehingga adanya paksaan akan meniadakan konsep ujian tersebut, sesuai dengan firman allah Swt:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah; Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka barang siapa yang ingin (beriman) maka hendaklah ia beriman. Dan barang siapa yang ingin (kufur) biarlah dia kafir” (QS. Al-Kahfi: 29).[4]

Dalam ayat laian, Allah swt berfirman:

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?,” (QS. Yunus: 99).

Ayat tersebut menjadi sebuah bukti yang tidak dapat terbantahkan dalam ranah keimanan. Disebutkan bahwa keimanan adalah hak mutlak yang menjadi wilayah kehendak Allah Swt. Dan ayat ini juga diklaim menjadi dalil argumentasi  paling kuat dalam mendukung sebuah konsep bahwa tidak ada paksaan dalam urusan keimanan.[5] Dan dari Surat Al-baqarah 256 itu pula akan memunculkan konsep politik Islam untuk mengembangkan sayap dakwah Islam yang ramah, bukan Islam yang mudah marah.[6]

Dalam aktualisasi ayat dalam konteks kekinian, sudah saatnya umat Islam menunjukkan identitas kebenarannya dalam berbagai aspek kehidupan. Semuanya dilakukan dengan tetap berpedoman pada prinsip rahmatan lil ‘alamin, tanpa memaksakan kehendak atas keimanan yang sudah menjadi wilayah ketuhanan. Karena sesungguhnya melakukan intervensi terhadap sebuah perkara yang bukan menjadi wilayahnya tidak akan berguna dan hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka.[] sekian, waAllahu a’lam.

____________________________

[1] Al-Ashbah wa An-Nadhoir, juz 2 hal 134.

[2] Tafsir Al-Mudzohhiri, juz 1 hal 362.

[3] Tafsir Al-Baidhowi, juz 1 hal 154.

[4] Tafsir Ar-Razi, juz 7 hal 13.

[5] Tafsir Az-Zamahsyari, juz 1 hal 303.

[6] Tafsir Al-Manar, juz 3 hal 33.