Tag Archives: kedokteran

Khasiat Madu dalam Tubuh Manusia

Khasiat Madu dalam Tubuh Manusia | Penulis: Segenap PBM Ma’had Aly Smt I-II

Al-Quran, merupakan induk segala jenis ilmu pengetahuan. Melihat tidak ada suatu apapun yang terlepas dari peranan al-Quran. Sebagaimana Firman Allah SWT.

مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ (الأنعام :38)

            Artinya: Tidak ada sesuatu apapun yang kami luputkan di dalam kitab. (QS. Al-An’am: 38)

Begitu juga dalam persoalan ilmu kedokteran. Jauh sebelum berkembangnya peradaban, al-Quran telah membahasnya.

Berawal dari sebuah ayat:

 يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ فِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ (النحل:69)

            Artinya: “Dari perut lebah keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)

Madu adalah sebuah cairan yang mengandung obat. Jika kita mengeksplorasi lebih dalam persoalan ini. Kita akan tahu bahwa sebagian dari prinsip-prinsip kedokteran terkandung dalam kandungan makna ayat tersebut.

 Kajian tentang ayat di atas

Pertama,  kita mengkaji dengan metode Ilmu Tafsir dan Ushul Fiqh. Pada redaksi ayat, huruf  “في” pada lafadz “فيه شفاء” bermakna dzorfiyyah majaziyyah. Dalam pengaplikasiannya bahwa madu adalah dzorof (wadah). Sedangkan obat sebagai madzruf (isi). Wadah pada umumnya lebih luas dari pada isinya, maka bisa menarik kesimpulan bahwa tidak semua obat terkandung sebuah madu.

Status lafadz “شفاء” juga demikian. Karena berupa isim nakiroh yang berada pada susunan kalam istbat (kalimat positif), maka lafadz tersebut termasuk lafadz yang خاص (khusus), dan tidak bermakna umum. Kesimpulan yang dapat kita ambil disini yakni, bahwa madu merupakan obat yang dapat menyembuhkan sebagian penyakit saja.

Mengenai lafadz للناس pada ayat di atas, tidak jauh dengan lafazd sebelumnya. Walaupun merupakan lafadz mufrod ma’rifat yang konsekuensinya termasuk lafadz عام (umum), tapi keumumannya tidaklah menyeluruh—dalam artian bermakna umum. Namun tidak bisa menyeluruh terhadap semua perseorangan. Dalam Ushul Fiqh disebut dengan العام البدلي yang mengandung makna bahwa madu merupakan obat untuk sebagian personal saja.

Walhasil. Dari penjelasan di atas bisa kita pahami bahwa di dalam madu terkandung sebuah obat untuk sebagian penyakit. Hanya saja tidak secara menyeluruh madu bisa menyembuhkan penyakit, namun hanya sebagian saja.

Kedua, ada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang berhubungan dengan ayat tersebut. Yakni Nabi pernah didatangi oleh seseorang yang mengadu bahwa saudaranya sedang sakit perut (diare). Kemudian Nabi meminta kepadanya untuk diminumkan madu. Kemudian ia pergi dan mencari apa yang dipinta oleh Nabi.

Tak lama kemudian, ia datang kembali menemui Nabi. Ia mengabarkan bahwa sakit yang diderita saudaranya bertambah parah setelah minum madu. Lantas Nabi tetap memintanya untuk meminumkan madu kepada saudaranya yang sakit. Bahkan hal itu terjadi sebanyak tiga kali. Pada minuman yang ketiga kalinya, akhirnya sakit perut yang diderita oleh saudaranya sembuh.

baca juga: Kopi dan Beberapa Khasiatnya

Hikmah yang dapat diambil

Hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa itu, para ulama berkomentar bahwa alasan Nabi memintanya untuk meminumkan madu adalah karena diare yang diderita olehnya. Disebabkan oleh terkumpulnya kotoran pada perut dan usus yang menyebabkan tercegahnya makanan masuk ke dalam tubuh diolah oleh tubuh dan langsung terbuang begitu saja tanpa adanya pengolahan. Lalu Nabi memerintahkan untuk meminumkan madu kepadanya. Karena madu bersifat panas, madu mampu menghancurkan kotoran yang ada pada perut dan usus.

Lantas, yang menjadi persoalan, mengapa penyakit tidak langsung bereaksi setelah diberi minum dan harus menunggu sampai tiga kali minuman? Hal ini disebabkan dosis yang pertama terlampau sedikit, akibatnya tidak langsung bereaksi terhadap penyakit. Kemudian diperintahkan untuk mengulanginya lagi hingga tiga kali, sehingga kadar dosis yang telah diminum telah sesuai. Dan ia dapat sembuh seperti sedia kala atas izin Allah.

Kolaborasi antara ayat dan hadis di atas, memberi kepada dua kesimpulan yang merupakan sebuah prinsip pada dunia permedisan.

Pertama, dalam pengobatan haruslah mempertimbangkan kondisi suhu tubuh si penderita. Bila kondisi suhu tubuhnya dingin, seperti diare, flu, liver dan sebagainya. Maka mengharuskan diberi obat yang bersifat panas. Karena tabiat penyakit akan sembuh saat diberi obat dengan sifat kebalikannya.

Kedua, sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam dunia medis adalah dosis yang digunakan. Karena apabila kandungan obatnya terlalu rendah, ia tidak akan optimal dalam menyembuhkan. Begitu juga sebaliknya, jika terlalu tinggi, niscaya akan melemahkan tubuh dan memunculkan penyakit lain.

Kendati demikian, diakui atau tidak. Sebenarnya banyak prinsip-prinsip kedokteran yang mengadopsi dari Al-Quran. Hal inilah hanya sebagai contoh kecil. Masih banyak hal lain, tergantung bagaimana sumber daya manusia dalam menyikapi. []

Khasiat Madu dalam Tubuh Manusia

tonton juga: Apa Itu FKI?

Hukum Parfum dan Obat-obatan Beralkohol

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dalam dunia kedokteran ataupun dalam parfum berbagai kemasan, tak jarang ditemukan keterangan mengenai alkohol sebagai salah satu campuran produk tersebut. Bagaimanakah hukumnya? Mohon jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Arinal Haq, Jombang- Jawa Timur)

___________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Tidak ada keterangan definitif nash al-Quran, Sunnah,dan fikih klasik yang secara jelas (shorih) mengenai alkohol. Ketika tersebar luas keberadaannya, terjadi perbedaan pandangan mengenai hukumnya. Sebagian ulama memasukkannya dalam kategori minuman yang memabukkan. Sebagai perkara yang memabukkan (muskir) dengan karakteristik cair, alkohol statusnya adalah najis. Namun apabila penggunaan alkohol menjadi kebutuhan seperti campuran obat-obatan maupun pelarut parfum, maka hukumnya najis namun ditolerir oleh syariat (Ma’fu). Sebagaimana penjelasan Syekh Abdurrahman al-Jaziri dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah:

وَمِنْهَا الْمَائِعَاتُ النَّجَسَةُ الَّتِي تُضَافُ إِلَى الْأَدْوِيَّةِ وَالرَّوَائِحِ الْعَطَرِيَّةِ لِإِصْلَاحِهَا فَإِنَّهُ يُعْفَى عَنِ الْقَدْرِ الَّذِي بِهِ الْإِصْلَاحُ قِيَاسًا عَلَى الْأَنْفَحَةِ الْمَصْلَحَةِ لِلْجُبْنِ

Termasuk bagian dari barang-barang najis yang ditolerir adalah najis yang terdapat pada obat-obatan dan wewangian harum dengan tujuan untuk memperbaikinya. Maka (keberadaan barang najis) itu ditolerir cukup dengan kadar yang dipakai untuk memperbaikinya dengan dianalogikan pada aroma yang digunakan untuk memperbaiki keju”.[1]

Dalam sudut pandang lain, Imam as-Syarqowi mengemukakan pendapatnya dalam kitab Hasyiyah as-Syarqowy ‘Ala at-Tahrir:

وَاَمَّا لَوِ اسْتَهْلَكَتِ الْخَمْرَةُ فِي الدَّوَاءِ بِاَنْ لَمْ يَبْقَ لَهَا وَصْفٌ فَلَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُهَا كَصَرْفِ بَاقِي النَّجَاسَاتِ هَذَا اِنْ عُرِفَ اَوْ اَخْبَرَهُ طَبِيْبٌ عَدْلٌ

Dan adapun apabila arak dilarutkan di dalam obat sehingga tidak ditemukan lagi sifat asli yang dimiliki (arak) tersebut, maka tidak haram menggunakannya, seperti najis lain yang murni. Hukum ini berlaku jika diketahui atau diberitakan oleh seorang dokter (pakar kimia) yang adil”.[2]

Dengan demikian, penggunaan alkohol dalam berbagai produk kedokteran dan kecantikan diperbolehkan. Namun dalam rangka kehati-hatian (Ikhtiyat), alangkah baiknya untuk menghindari parfum beralkohol dalam penggunaan yang berkaitan dengan ibadah, semisal salat atau sesamanya. []waAllahu a’lam


[1] Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, I/15.

[2] Hasyiyah as-Syarqowy ‘Ala at-Tahrir, II/449.

Hukum Salat Untuk Anestesi (Pembiusan) Total

Musibah tidak pernah mengenal ruang dan waktu, musibah tidak mentolerir untuk menimpa siapapun. Sehingga, musibah dapat menimpa siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Tentu saja sebagai manusia normal, setiap orang tidak ada yang berharap ingin terkena sebuah musibah. Namun apa daya ketika Allah Swt berbicara lain, yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan manusia.

Realita mengatakan, sebagian dari musibah yang dirasa sangat membebani adalah mengidap penyakit berat, seperti kanker, serangan jantung, gagal ginjal dan semacamnya. Dalam penanganannya, tak jarang untuk penyakit-penyakit berat tersebut memerlukan proses pembedahan dan operasi. Dilihat dari skala tindakannya, operasi pembedahan dapat dibagi menjadi dua, yakni operasi bedah kecil (minor) dan operasi bedah besar (mayor). Sebelum operasi pembedahan kecil, seperti penjahitan pada luka atau khitan, sering kali dilakukan tindakan pembiusan (anestesi) lokal. Dalam proses anestesi ini, pasian dibiarkan tetap dalam keadaan sadar, hanya saja pada bagian tertentu dari tubuh yang dibutuhkan akan dihilangkan rasa sakitnya dengan cara memblokade saraf-saraf tepi yang ada di area injeksi (pati rasa). Sementara dalam operasi pembedahan besar, misalkan dalam proses amputasi atau operasi caesar, kerap dilakukan pembiusan yang melumpuhkan sebagian anggota tubuh (anestesi regional). Bahkan dalam operasi besar yang berkaitan dengan anggota dalam, sering dilakukan pembiusan total yang menyebabkan kesadaran pasien menjadi hilang. Dalam pembiusan total ini, sesuai dengan masa kerja obat, dalam hitungan waktu tertentu pasiean akan kembali sadar.

Meninjau dari beberapa skala tindakan pembedahan operasi ini, sering kali membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pertanyaanpun mengemuka di tengah-tengah masyarakat terkait pasien tersebut yang sebagian besar meninggalkan ibadah-ibadah yang menjadi kewajibannya, semisal salat.

Menjawab problematika tersebut, para ulama acap kali mengkategorikan persoalan ini dalam pembahasan syarat wajib salat, yakni mukallaf yang mencakup usia baligh dan berakal. Karena realita mengatakan bahwa pembiusan total akan menghilangkan kesadaran (akal) pasien, maka pasien yang dibius secara total dihukumi tidak mukallaf. Dalam kitabnya, al-Majmu’ syarh al-Muhadzdzab, Imam an-Nawawi mengemukakan pendapat terkait kasus hilangnya akal dan kesadaran yang disebabkan oleh obat bius:

قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْجُنُونَ وَالْإِغْمَاءَ وَمَا فِي مَعْنَاهُمَا مِمَّا يُزِيلُ الْعَقْلَ بِغَيْرِ مَعْصِيَةٍ يَمْنَعُ وُجُوبَ الصَّلَاةِ وَلَا إعَادَةَ سَوَاءٌ كَثُرَ زَمَنُ الْجُنُونِ وَالْإِغْمَاءِ وَنَحْوِهِمَا أَمْ قَلَّ الى أن قال-يَجُوزُ شُرْبُ الدَّوَاءِ الْمُزِيلِ لِلْعَقْلِ لِلْحَاجَةِ كَمَا أَشَارَ إلَيْهِ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ شُرْبِ دَوَاءٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ وَإِذَا زَالَ عَقْلُهُ وَالْحَالَةُ هَذِهِ لَمْ يَلْزَمْهُ قَضَاءُ الصَّلَوَاتِ بَعْدَ الْإِفَاقَةِ لِأَنَّهُ زَالَ بِسَبَبٍ غَيْرِ مُحَرَّمٍ

 

Kami telah menyebutkan bahwasanya orang gila dan penderita epilepsi dan perkara-perkara yang serupa dengan kedua perkara tersebut yang berupa hal-hal yang menghilangkan akal (kesadaran) yang dilegalkan syariat, akan menggugurkan kewajiban salatnya dan tidak diharuskan mengganti salatnya….. Dan diperbolehkan menggunakan obat yang menghilangkan akal (kesadaran) untuk kebutuhan tertentu. Jika akal (kesadaran) hilang sebab obat tersebut, maka ia tidak harus mengganti shalatnya setelah siuman, karena akal (kesadaran) yang hilang itu bukan disebabkan oleh sesuatu atau tindakan yang diharamkan.”[1]

Dalam konteks penerapan hukum dan pemilahannya, penjelasan Imam an-Nawawi tersebut sangatlah umum. Sehingga dari penjelasan itu memunculkan perbedaan dua pendapat di antara para ulama terkait pengkategorian orang yang dibius tersebut:

Pertama, menurut imam al-Mutawali dan ulama lain, orang yang dibius tersebut dihukumi seperti halnya orang yang gila. Dengan artian bahwa saat dia meninggalkan salat tidak berdosa namun masih memiliki kewajiban Qadla’ (mengganti salat).

Kedua, menurut sebagian ulama bahwa orang yang dibius tersebut dihukumi seperti halnya orang yang terjangkit epilepsi. Dengan artian bahwa saat dia meninggalkan salat tidak berdosa dan tidak memiliki kewajiban Qadla’ (mengganti salat).[2]

Dari dua kubu yang berbeda pendapat tersebut, secara bijak syekh as-Syarwani memberi sebuah kesimpulan bahwa pengaruh obat bius dipilah menjadi dua bagian, apabila lebih mendekati tanda-tandanya orang gila maka dikategorkan hukum seperti halnya orang gila. Begitu pula sebaliknya, apabila lebih mendekati tanda-tanda yang dimiliki seseorang yang terjangkit epilepsi maka dikategorkan hukum seperti halnya orang epilepsi.[3] Pemilahan kategori tersebut akan berpengaruh terhadap hukum-hukum selanjutnya, yakni apakah ia diharuskan mengganti (Qadla’) salatnya ataukah tidak.

Namun apabila diteliti dan dikaji lebih mendalam lagi, pasien yang dibius lebih mendekati terhadap perumpamaan sebagai penderita epilepsi, baik ditinjau dari segi ketidaksadaran serta kondisi fisik tubuhnya yang melemas. Maka dari itu, dapat diambil kesimpulan bahwa pasien yang dibius untuk keperluan kedokteran tidak berdosa apabila meninggalkan salat dan tidak memiliki kewajiban mengganti (Qadla’) salatnya. Dengan catatan, proses pembiusan menghabisklan seluruh waktu salatnya.[4] []waAllahu a’lam.

(Oleh Nasikhun Amin, santri asal Pasuruan, kelas 1 Aliyah MHM)

 

_________________________

Referensi:

[1] al-Majmu’ syarh al-Muhadzdzab, III/7, Maktabah Syamilah

[2] Hawasyi as-Syarwani, IV/415.

[3] Ibid.

[4] Raudlah at-Thalibin, I/190.