Tag Archives: kewanitaan

Makna Surga Istri Tergantung Keridaan Suami

 

Keharmonisan dalam rumah tangga, siapa sih yang tidak mengidam-idamkannya?  Apalagi keharmonisan ini bisa sampai dibawa hingga nanti di akhirat. Untuk meraih itu, haruslah ada keseimbangan dan saling beriringan antara suami dan istri dalam satu misi. Rasulullah Saw. Sebagai penuntun kita telah memberikan banyak kiat terkait hubungan suami-istri. beliau sebagai manusia yang paling sempurna saja dalam keluarganya masih ada batu sandungan. Semua dari kisah kehidupan Nabi Saw. Yang terjadi salah satu tujuannya untuk memberikan nilai hikmah yang terkandung didalamnya.

dalam koridor islam, banyak persoalan agama yang dijadikan sebagai alat oleh orang-orang yang memang tujuannya untuk merusak citra islam, untuk menyerang agama ini. Satu kasus seperti permasalahan keluarga, antara suami-istri, banyak yang beranggapan bahwa islam mendiskreditkan peran istri, istri cukup berada dirumah, tidak usah ikut campur soal urusan diluar. Tuduhan semacam ini sudah banyak dari pakar islam yang menjawabnya.

Memang syariat memerintahkan seorang istri supaya taat kepada suami, bahkan dengan ketaatan itulah ketergantungan surga seorang istri, jikalau sebelum ia bersuami, surganya berada dibawah telapak kaki ibunya, namun setelah bersuami surga itu beralih kepada sang suami. sebagaimana sebuah hadis mengatakan :

عَنِ الْحُصَيْنِ بْنِ مِحْصَنٍ، أَنَّ عَمَّةً لَهُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ، فَفَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا، فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ ” قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: ” كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ ” قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ: ” فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ .

Dari Al Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi Saw. untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi Saw. pun bertanya kepadanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Bagaimana engkau baginya?” ia menjawab, “Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda: “Perhatikanlah, akan posisimu terhadapnya. Sesungguhnya suamimu adalah yang menentukan surga dan nerakamu (dengan keridhoannya terhadapmu atau ketidak sukaannya terhadapmu).” [HR. Ahmad 31/341]

Keridaan suami pada hadits diatas tidaklah mencakup rida dalam segala hal,baik ataupun buruk, sebab tidak semua suami adalah suami yang mentaati Allah Swt. dan RasulNya, apabila seorang suami adalah orang yang tidak taat kepada Allah Swt. dan ia memerintahkan istrinya untuk tidak mentaati Allah Swt. maka kala itu ketaatan kepada Allah Swt. lebih diutamakan daripada ketaatan kepada suami, dan mengharap rida Allah Swt. haruslah lebih diutamakan dibanding mengharap rida suami.

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فيِ المَعْرُوفُ

“Sesungguhnya ketaatan hanya pada perkara yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim.)

Perkara yang baik disini adalah perkara yang diperintahkan oleh syari’at dan perkara yang tidak menyelisihi syari’at dan legal. Apabila seorang suami ahli maksiat dan ia rida terhadap istrinya bila ia ikut berbuat maksiat maka istri tidak boleh mengikuti keinginan suami dan mengutamakan keridaannya sebab mengutamakan keridaan suami yang demikian tidak akan mengantarkan ke surga, akan tetapi malah bisa mengantarkan seorang istri ke neraka.

Apa ini sebuah pendiskriminasian kepada perempuan? Tidak juga, sebab sudah selayaknya seorang suami mendapatkan hak untuk ditaati, mengapa? Kalau kita tinjau lebih dalam, semua itu tidak lepas dari tanggung jawab yang teramat berat yang dipikul oleh suami yang tidak hanya tanggung jawab di kehidupan dunia ini seperti wajibnya memberi nafkah, penjagaan dan lainnya, namun juga kelak di akhirat suami masih dituntut untuk memberikan pertanggung jawaban kepada istri sekaligus anaknya selama di dunia. Singkatnya tanggung jawab suami meliputi urusan material dan juga spiritual. Sehingga dirasa cukup impas kalau ketaatan kepada suami adalah sebuah hak.

 

الرِّجَالُ قَوّٰمُونَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَبِمَآ أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوٰلِهِمْ ۚ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya” (QS. An-Nisa’ 4: 34)

 

Bahkan pepatah jawa mengatakan bahwa istri itu “surgo nunut neroko katut”  artinya keselamatan dan celakanya seorang istri kelak diakhirat tergantung suaminya, namun jikalau suaminya masih berhenti dineraka, sedangkan istrinya shalihah sehingga mengantarnya untuk menghuni surga, sang suami tidak ikut kecipratan masuk surga, ia masih dituntut menyelesaikan urusannya sendiri. Hal ini akan berbeda ketika yang terjadi sebaliknya.

Namun, dengan memiliki hak yang sedemikian rupa tersebut, bukan berarti laki-laki bisa seenaknnya sendiri memperlakukan anggota keluarga yang berada pada otoritas pengaturannya, semua tetap berjalan pada norma-norma yang telah ditetapkan oleh agama, sehingga jika semua mampu berjalan pada posisinya dan dengan porsi yang sesuai, keharmonisan akan dapat diraih.

Ketika Wanita Tak Lagi Menggoda

Perubahan dinamika zaman, budaya dan peradaban yang semakin maju telah membongkar tembok pembatas ruang gerak kaum wanita. Pada gilirannya, perubahan-perubahan semacam itu membawa banyak penilaian dan pemikiran baru, misalkan konsep emansipasi wanita. Banyak dari golongan kaum hawa yang mengembangkan potensi dirinya dengan mengisi posisi strategis dalam semua sektor kehidupan. Dengan demikian, aktivitas di luar rumah menjadi sebuah keniscayaan yang sulit dihindari untuk saat ini.

Sekilas, realita zaman yang semacam itu akan memberikan polemik dan asumsi yang beragam di kalangan masyarakat. Hukum agama sebagai etika tentu sangat berperan penting di dalamnya. Maka secara otomatis, problem ini akan diseret dalam ranah dialog hukum syariat Islam (Fikih).

Pada dasarnya syariat tidak secara mutlak melarang dan mempersempit ruang gerak kaum wanita untuk berinteraksi dan beraktivitas di luar rumah. Hanya saja, norma-norma agama yang ada sangat berhati-hati untuk mempertimbangkan dampak negatif yang ditimbulkan. Langkah awal dari merupakan bentuk upaya antisipatif terhadap fitnah dari interaksi dan pergaulan kaum hawa apabila tidak diatur secara mapan dalam syariat.

Maka dari itu, dengan tetap memegang teguh prinsip kemaslahatan, syariat memberi kelonggaran bagi wanita untuk beraktivitas di luar rumah. Namun dengan catatan, mereka diharuskan mampu menjaga dari hal-hal yang diharamkan. Salah satu keterangan mengatakan:

لَيْسَ فِي الْاِسْلَامِ مَا يَمْنَعُ الْمَرْأَةَ اَنْ تَكُوْنَ تَاجِرَةً اَوْ طَبِيْـبَةً اَوْ مُدَرِّسَةً اَوْ مُحْتَرِفَةً لِأَيِّ حِرْفَةٍ تَكْسِبُ مِنْهَا الرِّزْقَ الْحَلَالَ مَا دَامَتِ الضَّرُوْرَةُ تَدْعُوْ اِلَى ذَلِكَ وَما دَامَتْ تَـخْتَارُ لِنَفْسِهَا الْاَوْسَطَ الْفَاضِلَةَ وَتَلْتَزِمُ خَصَائِصَ الْعِفَّةِ اهـ

Di dalam Islam tidak ada larangan yang mencegah wanita untuk menjadi usahawan, dokter, guru atau menjadi pekerja di profesi apapun yang ditujukan mencari rezeki yang halal, selama ada unsur darurat yang menuntutnya seperti itu, dan selama ia sanggup menerima persyaratan iffah (menjaga diri dari hal-hal yang haram)”.[1]

Etika Wanita dan Lingkungannya

Syekh Muhammad bin Salim dalam kitabnya, Is’adur Rofiq, menjelaskan beberapa etika bagi wanita terkait aktivitas dan interaksinya dengan lingkungan sekitar:

وَمِنْهَاخُرُوْجُ الْمَرْأَةِ مِنْ بَيْتِهَا مُتَعَطِّرَةً اَوْ مُتَزَيِّنَةً وَلَوْ كَانَتْ مَسْتُوْرَةً وَكَانَ خُرُوْجُهَا بِاِذْنِ زَوْجِهَا اِذَا كَانَتْ تَمُرُّ فِيْ طَرْيِقِهَا عَلَى رِجَالٍ اَجَانِبَ –الى ان قال- قَالَ فِي الزَّوَاجِرِ وَهُوَ مِنَ الْكَبَائِرِ لِصَرِيْحِ هَذِهِ الْحَدِيْثِ وَيَنْبَغِيْ حَمْلُهُ لِيُوَافِقَ قَوَاعِدَنَا عَلَى مَا اِذَا تَحَقَّقَتِ الْفِتْنَةُ اَمَّا مُجَرَّدُ خَشْيَتِهَا فَاِنَّمَا هُوَ مَكْرُوْهٌ وَمَعَ ظَنِّهَا حَرَامٌ غَيْرُ كَبِيْرَةٍ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ وَعُدَّ مِنَ الْكَبَائِرِ اَيْضًا خُرُوْجُهَا بِغَيْرِ اِذْنِ زَوْجِهَا وَرِضَاهُ لِغَيْرِ ضَرُوْرَةٍ شَرْعِيَّةٍ

Diantara maksiat tubuh adalah ketika wanita keluar dari rumahnya dengan cara memakai wewangian atau berhias meskipun seluruh tubuhnya tertutup rapi, dan keluar rumah atas izin suaminya tetapi ternyata ia melewati jalan yang dipenuhi para lelaki yang bukan mahramnya…Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya, az-Zawajir: Hal ini adalah bagian dari dosa besar karena sudah dinyatakan secara jelas dalam hadis. Dan selayaknya hadis ini diarahkan (agar dapat selaras dengan kaidah kita) pada permasalahan yang mana fitnah bisa terjadi secara pasti. Kalau hanya sebatas kekhawatiran akan terjadinya fitnah saja maka masuk dalam hukum makruh. Sedangkan bila ada dugaan kuat akan terjadi fitnah maka hukumnya adalah haram, tetapi tidak mencapai taraf dosa besar. Termasuk dalam kategori dosa besar adalah keluarnya wanita tidak dengan seizin dan restu dari suaminya tanpa ada faktor darurat secara syariat”.[2]

Sekilas, penjelasan di atas memberikan kesimpulam bahwa aktivitas wanita di luar rumah dinilai sebagai tindakan yang maksiat. Namun yang perlu digarisbawahi, hukum maksiat itu jika memang aktivitas di luar rumah dilakukan sebab melanggar garis aturan yang telah ditetapkan syariat.

Begitu juga sebaliknya, aktivitas wanita di luar rumah mendapatkan legalitas apabila dilakukan dengan tetap memegang teguh prinsip syariat, baik dari segi tingkah laku, cara berpakaian, tujuan keluar rumah, dan mempertimbangkan maslahat dan madharat yang ditimbulkan. Hal-hal tersebut dapat direpresentasikan dengan hal-hal berikut:

  1. 1.Melakukan aktivitas di luar rumah berdasarkan keperluan (hajat);
  2. 2.Mendapat izin dari suami atau mahrom-nya;
  3. 3.Menutup aurat, tidak berpakaian ketat atau menyerupai gaya laki-laki;
  4. 4.Menghindari bercampur dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya;
  5. 5. Menjamin aman dari fitnah.

Meskipun demikian adanya, bukan berarti fitnah yang timbul dari interaksi pergaulan selalu bersumber dari kaum hawa. Di sisi yang lain, golongan laki-laki juga memiliki kewajiban untuk selalu menjaga pandangan mereka, terlebih lagi dari perkara-perkara yang sangat jelas keharamannya.[3] Dalam hal ini, senada dengan hadis Rasulullah Saw yang ada dalam kitab Shahih Bukhari:

فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّهُ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

Berikanlah hak-hak di jalanan. Para sahabat bertanya: Apakah hak di jalanan itu?. Rasulullah Saw menjawab: (Yaitu) menundukkan pandangan, menghilangkan perilaku untuk menyakiti, menjawab salam, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran”.[4] []waAllahu a’lam

 

_______________________

Referensi:

[1] Adabu Hayat az-Zaujiyyah, hlm 163.

[2] Is’ad ar-rafiq, II/126, al-Haromain.

[3] Al-fatawi al-Fiqhiyah al-Kubro, I/121-122.

[4] Sahih al-Bukhari, III/312, Maktabah Syamilah.