Tag Archives: KH. M. Anwar Manshur

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Pon. Pes Salafiy Terpadu Ar-Risalah

LirboyoNet, Kediri- Sabtu (02/11) Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah.

Acara yang dimulai pukul 20:00 itu berjalan lancar dan penuh khidmat. Dimulai dengan acara pembacaan tahlil yang di pimpin langsung oleh Romo KH. M. Anwar Manshur. Dalam acara tersebut tampak hadir Rois Am PBNU KH. Miftachul Akhyar, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, KH. Ma’ruf Zainuddin, KH. Ahmad Muwafiq, serta Wakil Gubernur Jawa Timur Bapak Emil Elestianto Dardak, M.Sc.

“Perlu saya sampaikan Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah Lirboyo Kota Kediri, sampai malam hari ini masih di beri pertolongan oleh Allah Swt, untuk selalu konsisten dengan Visi dan Misinya yaitu, mendidik anak bangsa menjadi anak yang bermanfaat bagi Agama, Bangsa dan Negara. Sesuai dengan hadits Rasulullah yaitu khoirunnas anfa’uhum linnas sekaligus membentuk pribadi akhlak yang mulia sesuai dengan akhlak Rasulullah Saw.” Tutur Ibu Nyai Hj. Aina Ainaul Mardliyah Anwar, S.H.I. memberikan sambutan atas nama Pengasuh Ponpes Ar-Risalah.

Kemudian acara di lanjut dengan mauidzah hasanah yang dibawakan oleh Rois Am PBNU yaitu KH. Miftachul Akhyar dan KH. Ahmad  Muwafiq.

Selengkapnya: lihat dalam Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan Haul Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah ini diakhiri dengan bacaan doa yang dipimpin langsung oleh Romo KH. Abdulloh Kafaihi mahrus.()

Haul Hj. Ummi Kultsum binti KH. Mahrus ‘Aly

LirboyoNet, Kediri- Memperingati jasa dan perjuangan orang yang telah meninggal dunia bisa dilakukan dengan beragam cara. Mengadakan peringatan haul adalah salah satunya. Kata haul berasal dari bahasal Arab al-haul, berarti “tahun”, dimaknai di bumi nusantara sebagai peringatan tahunan kepergian orang yang tercinta. Acara yang telah mengakar di masyarakat ini biasa diadakan setiap satu tahun sekali. Umumnya dilangsungkan tepat pada hari kepergian almarhum atau almarhumah.

Kamis malam Jumat kemarin (08/03), diperingatilah haul Hj. Ummi Kultsum. Beliau merupakan putri ketiga KH. Mahrus ‘Aly, penerus ponpes Lirboyo sepeninggal KH. Marzuqi Dahlan. Beliau juga merupakan istri dari KH. M. Anwar Manshur. Ini merupakan haul beliau yang ke 21 tahun. Beliau wafat pada 21 Maret 1997 M, atau bertepatan dengan 18 Dzulqa’dah 1395 H.

Haul yang berjalan khidmat ini diadakan di ndalem KH. M. Anwar Manshur. Dihadiri oleh segenap dzurriyah  KH. Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo, dan beberapa tamu undangan. Termasuk beberapa tokoh kiai dan ulama di sekitar Kota Kediri.

 “Niki nilingaken  kulo lan panjenengan sedoyo, anggenipun narbiyyah dateng poro putro monggo kito tambah-tambah. Kersane anak kito dados waladun shôlihun yad’û lahû naliko ba’danipun kito sampun sedo. Sebab sing diarep-arep nggih namung niku. Urip nduwe shodaqoh, gadah amal jariyah, nduwe ilmu diwulangaken, lan nduwe anak sing gelem ndungaaken wong tuo. Sing diarep-arep namung niku. Mulo mugi sedanten kito dipun paringi ingkang kados meniko.” (Sekedar mengingatkan untuk saya dan anda semua. Dalam mendidik anak kita tingkatkan. Supaya anak kita kelak menjadi anak saleh yang mau mendoakan orang tuanya setelah orang tuanya meninggal dunia. Sebab yang diharapkan hanya itu. Hidup punya sedekah, punya amal jariyah, punya ilmu kemudian disebarkan, dan punya anak yang mau mendoakan orang tuanya. Semoga kita semua diberikan hal seperti itu.) Demikian dawuh KH. M. Anwar Manshur. ][

Kamis Legi, Kirim Fatihah Untuk Korban Longsor Ponorogo

LirboyoNet, -Kediri. Sebagai seorang alumni, menyambung tali silaturahmi dengan guru merupakan hal yang wajib. Status alumni tidak lantas membuat title “santri” yang melekat dalam diri menghilang begitu saja. Menyambung silaturahmi dan memperkuat kembali ikatan hubungan keilmuan tidak hanya bisa dilakukan dengan sowan-sowan, bertamu dan minta doa restu. Tapi bisa dilakukan dengan mengaji kembali dengan sang guru. Inilah yang coba dilakukan para alumni Ponpes Lirboyo. Meskipun sudah bermukim di rumah, namun tetap masih “nyambung” dengan pesantrennya berkat mengikuti pengajian rutinan kamis legi.

Setelah selama satu tahun ini dibacakan, terhitung mulai tanggal 1 Dzulqo’dah 1437 H atau bertepatan dengan 4 Agustus 2016 M, pengajian Al-Hikam yang diadakan setiap sebulan sekali ini belum pernah libur. Dan kamis kemarin (06/04), menjadi pengajian Al-Hikam yang terakhir tahun ini. Besok, pengajian Al-Hikam akan dimulai kembali pada tahun ajaran baru Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, pada kamis legi, 26 Syawal 1437 H, atau bertepatan dengan 20 Juli 2017 M.

Dalam penutupan kemarin, KH. M. Anwar Manshur menyampaikan tentang kondisi saudara muslim kita yang berada di Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo. Kemarin terjadi tanah longsor, yang mengakibatkan dua puluh delapan orang hilang, hingga kemarin (06/04), baru tiga orang yang ditemukan. “Monggo fatehahi, kangem wong sing kelongsoran, ting Ponorogo.” Kata beliau.

Ada kejadian yang luar biasa dalam tanah longsor kemarin, menurut penuturan Kiai Anwar, tanda-tanda akan terjadinya tanah longsor sudah ada sejak sebulan silam, dan sejak saat itu warga juga sudah mengungsi. Namun, justru tidak terjadi apa-apa. Baru ketika para warga pulang sesaat untuk memanem tanaman jahe yang mereka tanam, tanah longsor justru terjadi. Beliau juga mengatakan, “longsor niku saget mencolot kali, wonten wetane onten kali, longsor saget mencolot kali. Niku kuasane Gusti Allah.” (Tanah longsor tadi bisa melompati sungai. Di sisi timur ada sungai, dan longsor tersebut bisa melompati sungai tersebut. Itu bukti kekuasaan Allah.)

Nasehat Kiai Anwar untuk Santri Putri

LirboyoNet, Kediri – Ketika mendampingi puluhan santri dari Pondok Pesantren Roudlotul Muta’abbidin Lamongan, Ahad (01/01) kemarin, KH. M. Anwar Manshur selaku pengasuh Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat memberikan beberapa petuah bagi para santri putri itu. Berikut kutipan-kutipannya.

“Sampean harus terus belajar. Perdalami ilmu-ilmu yang tidak bisa disampaikan laki-laki. Misalnya haidl. Harus paham betul itu. Kalau laki-laki yang menyampaikannya, sulit. Sampean yang jadi tumpuan masyarakat.”

“Mumpung masih di pesantren, cari kekurangan-kekurangan sampean.  Penuhi semua. Nanti kalau sudah di masyarakat sulit. Sampean belajar masalah-masalah yang ada di masyarakat. Belajar MC, memimpin tahlil, memimpin istighotsah, belajar pidato. Supaya nanti kalau ditunjuk di tengah-tengah masyarakat biar siap. Sampean harus siap. Dibutuhkan jadi apapun harus siap.”

“Sampean itu adalah delegasi dari masyarakat. Sampean mondok itu bukan untuk diri sendiri, tapi untuk masyarakat. Biarpun yang biayai orangtua kalian, yang butuh peran kalian itu masyarakat. Peran kalian itu berat.”

“Jangan lupa, ditata lagi niatnya. Karena semua itu bergantung niatnya. Semoga semua ini jadi amal shaleh sampean. Berangkat cari ilmu itu diangkat derajatnya oleh Allah swt. Semoga kita semua diangkat derajatnya oleh Allah swt.”][