Tag Archives: khotbah jumat

Khotbah Jumat: Amalan Pergantian Tahun

أَلْحَمْدُ للهِ مُنْشِئِ الْأَيَّامِ وَ الشُّهُوْرِ وَ مُفْنِي الْأَعْوَامِ وَ الدُّهُوْرِ وَ مُضَاعِفِ الثَّوَابِ لِمَنْ أَطَاعَهُ وَ الْأُجُوْر فَسُبْحَانَهُ مَنْ تُسَبِّحُهُ الْأَفْلَاقِ وَ بِتَسْخِيْرِهِ تَدُوْرُ وَ تُقَدِّسُهْ الْأَمْلَاكُ وَ لِأَمْرِهِ تَبْتَدِرُ الْمَأْمُوْر أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمٍ تَتَجَدَّدُ بِالرَّوَاحِ وَالْبُكُوْرِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَوَادِيْ وَالْحُضُوْرِ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Pada kesempatan yang mulia ini, saya menyeru pada diri saya dan hadirin sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala serta selalu berusaha menyirami iman kita dengan ibadah-ibadah yang telah digariskan-Nya.

Diantar rukun Khotbah yang tiap Jumatnya kita dengarkan adalah wasiat untuk bertakwa. Khotbah tidak dianggap jika tidak terdapat wasiat takwa di dalamnya. Apa hikmahnya sehingga setiap Jumat kita senantiasa diperdengarkan wasiat takwa? Tidak lain adalah agar kita tidak bosan dan lalai dalam urusan ketakwaan kita kepada Allah.

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Setahun penuh setiap Jumatnya kita diperdengarkan wasiat takwa, semoga hal itu membekas di hati kita. Sebagaimana batu yang akan terlubangi oleh tetesan air yang terus-menerus. Dipenghujung tahun hijriah ini hendaknya kita punya inisiatif untuk meningkatkan kualitas hidup kita ditahun berikutnya, dan semakin giat dalam taat kepada-Nya.

Bukankah kita tidak tahu sampai kapan umur kita? Bukankah suatu saat nanti kita pasti meninggalkan dunia ini?  Dan saat itu tiba, sedetik pun kita tidak bisa menawarnya, Allah ta’ala berfirman dalam surat al-A’raf ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Artinya: Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka tatkala telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”

Demikianlah bahwa ajal tidak menunggu kita siap.

Hadirin Jemaah Jumat Yang Dimuliakan Allah..

Untuk menutup tahun ini dan mengawali tahun baru dengan manfaat, ada baiknya kita mengamalkan hadis yang diriwayatkan Imam Ibnu Hajar dari Sayyidah Hafsah ra.; Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ صَامَ أَخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّة ِوَ أَوَّلَ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ، جَعَلَهُ اللهُ كَفَارَةَ خَمْسِيْنَ سَنَةً. وَصَوْم يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ بِصَوْمِ ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا

Barang siapa berpuasa di hari terakhir bulan zulhijah dan hari pertama bulan Muharram, maka Allah swt. akan menjadikannya sebagai pelebur dosa selama lima puluh tahun. Dan puasa sehari di bulan Muharram sama dengan puasa tiga puluh hari di bulan lainnya.”

Dengan mengamalkan hadis di atas, semoga saja memberi keberkahan kepada kita untuk mengarungi tahun berikutnya dengan penuh manfaat dan amal kebaikan.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

Khotbah Jumat: Amar Makruf Nahi Mungkar

أَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ النَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ مِنْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَ أَكَّدَهُمَا بِقَوْلِهِ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ أَعُوْذُ بِالله مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلّاَ الله أَلْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْن وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى سَيَّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ  أما بعد أَيُّهَا الْحَاضِرِيْنَ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah..

Marilah kesempatan ini kita gunakan untuk meningkatkan iman serta ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala, Tentunya dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Termasuk dalam kategori perintah adalah melaksanakan amar makruf nahi mungkar sesuai dengan jalur yang telah ditentukan, baik dalam Alquran atau pun hadis, melalui arahan-arahan dari para ulama kita. Karena melalui arahan para ulama, baik melalui kitab-kitabnya atau pun petuah-petuahnya, kita akan benar-benar mengetahui porsi yang pas untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah..

Agar kita tidak terjebak dalam kekeliruan pada pengamalan amar makruf nahi mungkar, sudah sepatutnya kita mengetahui prinsip-prinsipnya dan arahan para ulama dalam kaitannya dengan posisi kita.

Prinsip paling mendasar dalam hal ini adalah sabda baginda nabi Muhammad saw.:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِّهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

Artinya: “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia menghilangkannya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Orang yang tidak mampu dengan lisannya, maka dengan hatinya. Dan dengan hati ini adalah lemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah..

Bagaimanakah pengamalan yang tepat untuk hadis di atas? Dalam hal ini Syekh Abdul Qodir al-Jailani telah menjelaskan:

فَالْمُنْكِرُوْنَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامِ قِسْمٌ يَكُوْنُ إِنْكَارُهُمْ بِالْيَدِّ وَهُمْ أَلْأَئِمَّةُ وَ السَّلَاطِيْنُ وَالْقِسْمُ الثَّانِي إِنْكَارُهُمْ بِاللسَانِ دُوْنَ الْيَدَّ وَ هُمْ أَلْعُلَمَاءُ وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ إِنْكَارُهُمْ بِالْقَلْبِ وَهُمْ أَلْعَامَةُ

Artinya: “Orang yang mengingkari perbuatan itu ada tiga tingkatan; Pertama, pengingkaran dengan tangan (kekuasaan), ini adalah tugas pemerintah. Kedua, pengingkaran dengan lisan dan itu adalah tugas ulama. yang ketiga, pengingkaran dengan hati, sedangkan ini adalah bagiannya kaum muslimin secara keseluruhan.”

Demikian telah dipaparkan oleh beliau bahwa amar makruf nahi mungkar dalam pelaksanaannya terdapat tingkatan-tingkatan tertentu. Dari arahan ini, dengan memandang posisi diri masing-masing setidaknya kita bisa tau bentuk amar makruf nahi mungkar seperti apakah yang harus kita lakukan sehingga kita bisa benar-benar mengamalkan hadis di atas.

Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah..

Dengan pemamaparan sederhana tadi semoga saja kita bersama-sama bisa mengamalkannya dan juga tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang berbuat mungkar.

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ أُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat: Tiga Peringatan Dari Nabi

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ وَ قَالَ سَيِّدُ الْمُرْسَلِيْنَ : مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُوْ ضِيْقَ الْمَعَاشِ فَكَأَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَ مَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخِطًا عَلَى اللهِ وَ مَنْ تَوَاضَعَ لِغِنًى لِغِنَاهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Dibulan yang mulia ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala dengan menjauhi segala larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya. Karena hanya dengan ketakwaan sajalah hidup kita akan menjadi berarti dan membawa kita pada kebahagiaan hakiki yang tidak terbatas oleh waktu. Dengan ketakwaan pula hidup kita akan diberi ketenteraman dan jalan keluar dari berbagai cobaan dan ujian hidup yang kita alami. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan jadikan baginya jalan keluar (dari kesusahan dunia dan akhirat)” (QS. at Talaq: 2)

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Di mimbar khotbah ini ijinkanlah kami untuk menyampaikan beberapa hal untuk sekedar menjadi pengingat yang khususnya kepada diri kami dan umumnya kepada kaum muslim sekalian. Baginda nabi pernah mensabdakan:

 مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُوْ ضِيْقَ الْمَعَاشِ فَكَأَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَ مَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخِطًا عَلَى اللهِ وَ مَنْ تَوَاضَعَ لِغِنًى لِغِنَاهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ

“Siapa yang memasuki waktu pagi sementara dia mengeluhkan sulitnya hidup, maka seolah-olah dia mengeluhkan (keputusan) tuhannya; Siapa yang pagi-pagi sudah memusingkan perkara dunia, maka sesungguhnya ia tengah tidak terima kepada Allah dan barang siapa yang menghormati orang kaya karena kekayaannya sungguh telah hilang dua pertiga agamanya.”

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Sudah sepatutnya hadis di atas menjadi patokan dan rem bagi kita sekalian. Karena sering saat dalam keadaan yang kurang mengenakkan atau saat jalan rezeki kita terasa begitu sempit, lisan kita begitu lancar mengeluhkan apa yang sedang dialami. Tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya secara tidak langsung kita sedang mengeluhkan takdir yang Allah putuskan kepada kita, dan selanjutnya adalah larang dari nabi berupa menghormati orang kaya karena kekayaannya. Mengapa demikian?

Seseorang yang menghormati orang lain karena kekayaannya sama halnya ia sedang menghormat pada harta karena otomatis ketika harta itu lenyap maka lenyap pulalah hormatnya. Padahal sungguh manusia jauh lebih mulia daripada harta. Firman Allah dalam surat al-Isra’ ayat 70:

 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang sempurna.”

Selain itu, dikarenakan syariat telah memberi tolak ukur suatu kemuliaan yakni terletak pada ketakwaan seseorang, amal saleh dan juga ilmunya.

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Dari pemaparan singkat tadi semoga saja kita bersama-sama dapat mengamalkan apa yang telah disabdakan baginda nabi tercinta kita sehingga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang mengingkari takdir Allah atau pun golongan orang-orang yang dua pertiga agamanya lenyap.

بَارَكَ اللّه لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ  آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفَرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

 

Khotbah Jumat: Renungan Bulan Kemerdekaan

ألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أَلْحَمْدُ للهِ عَلَى نِعْمَةِ الْأَمَانِ فِيْ بَلَدِنَا إِنْدَوْنِسِيْيَا الْمَتِيْنِ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضلِ اْلأَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبه أَجْمَعِيْنَ ومن تبعهم الى يوم الدين. قَالَ تَعَالَى يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ أَمَّا بَعْد: فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَادَ التَّقْوَى فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah..

Di momen hari kemerdekaan ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah ta’ala dengan menjauhi tiap-tiap larangan-Nya serta sekuat mungkin menjalankan perintah-perintah-Nya. Diantaranya dengan semakin memerdekakan diri kita dari jeratan nafsu karena dalam waktu cepat atau lambat nafsu pasti akan membawa kita pada suatu keburukan, sebagai mana difirmankan oleh Allah ta’ala:

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

Artinya:Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, sebab mereka lupa akan hari perhitungan.” (QS. Shad: 26)

Oleh karenanya, seyogyanya raga yang sudah merdeka ini diikuti pula oleh jiwa yang merdeka. Merdeka dari belenggu nafsu yang menjerumuskan.

Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah..

Syukur Alhamdulillah, sampai saat ini kita masih dianugerahi berbagai nikmat yang tak terhingga oleh Allah ta’ala. Kita bersyukur pula bahwa Allah pernah memunculkan para syuhada’, para pejuang di negeri ini yang dengan lantaran beliau-beliau saat ini kita bisa menikmati indahnya persaudaraan, indahnya ketentraman dan manisnya rasa perdamaian.

Bentuk syukur yang dapat kita jalankan sungguh bermacam-macam, namun yang terpenting dari itu adalah dengan bersama-sama merawat warisan kemerdekaan ini melalui rasa persatuan dan kecintaan pada negeri. Kenapa persatuan? satu lidi mudah dipatahkan, tapi seratus lidi akan sulit dipatahkan. Persatuan akan membuat kita kuat dan lebih terhindar dari kebinasaan. Baginda Nabi bersabda:

أَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

 

Artinya: “Persatuan adalah rahmat, sementara perpecahan adalah azab” (HR. al-Qadha’i)

Lalu, kenapa cinta tanah air? cinta akan menumbuhkan kepedulian untuk merawat. Tidak terkecuali negeri ini, kecintaan pada negeri akan membuat kita semakin sadar bahwa negeri adalah sebuah rumah yang apabila tidak ada kepedulian dari penghuninya maka kerusakan tinggallah menunggu waktu.

Dan hal ini bukan tidak pernah dicontohkan oleh baginda Nabi. Imam Bukhari meriwayatkan:

كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدْرَانِ الْمَدِيْنَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَ إِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

Artinya: “Ketika Rasulullah pulang dari bepergian dan melihat dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju untanya; Dan bila mengendarai tunggangan (seperti kuda), maka beliau gerak-gerakkan karena cintanya pada Madinah.” 

Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah..

Demikianlah apa yang telah ditauladankan oleh Rasulullah dalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bertanahair. Maka kita sebagai umatnya sungguh tidak pantas apabila sampai memunculkan tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan perpecahan dan melunturkan kecintaan pada negeri ini. Karena sungguh kita diciptakan berbeda-beda ini untuk saling mengenal satu-sama lain. Allah ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurat: 13)

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

Khotbah Jumat: Menyikapi Ujian

ألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

أَلْحَمْدُ ِللهِ أَهْلِ الْحَمْدِ وَالثَّنَاءِ, أَلْمُنْفَرِدِ بِرِدَاءِ الْكِبْرِيَاءِ, أَلْمُتَوَحِّدِ بِصِفَاتِ الْمَجْدِ وَالْعَلَاءِ , أَلْمُؤَيَّدِ صَفْوَةَ الْأَوْلِيَاءِ بِقُوَّةِ الصَّبْرِ عَلَى السَّرَّاءِ وَ الضَّرَّاءِ وَالشُّكْرِ عَلَى الْبَلاَءِ وَالنَّعْمَاءِ, وَالصَّلَاةُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْأَنْبِيَاءِ وَعَلَى أَصْحَابِهِ سَادَةِ الْأَصْفِيَاءِ وَعَلَى أَلِهِ قَادَةِ الْبَرَارَةِ الْأَتْقِيَاءِ صَلَاةً مَحْرُوْسَةً بِالدَّوَامِ عَلَى الْفَنَاءِ وَمَصُوْنَةً بِالتَّعَاقُبِ عَنِ التَّصَرُّمِ وَ الْإِنْقِضَاءِ. وَقَالَ تَعَالَى لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَقَالَ أَيْضًا إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Tak henti-hentinya, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan menjauhi segala larangannya dan berusaha melaksanakan perintah-perintahnya. Ketakwaan adalah kunci. Kunci untuk menjalani kehidupan yang singkat ini. Berbagai gelombang dan suasana kehidupan yang silih berganti menghampiri kita ini, hendaknya takwa selalu menjadi panduan utama kita dalam menghadapinya. Jika kenikmatan yang sedang kita peroleh, maka bersyukur adalah sikap yang pantas bagi kita sebagai seorang hamba dan jika yang terjadi adalah hal-hal yang tidak mengenakkan kita, maka insyafilah bahwa itu adalah tangga-tangga dari Allah untuk menaikkan derajat kita.

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Selain itu, saat menyikapi ujian yang tengah menimpa, hendaknya kita tidak lupa dengan firman Allah Ta’ala dalam surat al-Baqarah ayat 286,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: “Allah tidak akan membebani seseorang diluar kemampuannya”

Dengan berpijak pada ayat ini, setidaknya agar kita tetap memiliki semangat dan tekad untuk melalui tangga ujian yang tengah Allah berikan kepada kita. Dengan mengingat ayat ini pula kita disadarakan bahwa sebenarnya kita mampu untuk menghadapi berbagai ujian yang datang silih berganti, lebih-lebih Allah ta’ala telah memberikan kabar gembira bagi hamba-hambanya yang sedia untuk bersabar. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. az-Zumar: 10)

Hadirin Jamaah Jumat Yang Dirahmati Allah..

Ada baiknya pula dalam menyikapi ujian yang tengah menimpa kita, kita meraba-raba pikiran dan menelusuri nikmat-nikmat yang masih Allah anugerahkan untuk tetap mensyukurinya. agar nantinya hal ini menjadi penyeimbang kesedihan ataupun kesusahan yang tengah kita alami;

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Maka sungguh ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan, sungguh pada kesulitan ada kemudahan” (QS. As-Sarh :5-6)

 

Demikian janji Allah terhadap segala kesulitan yang menimpa kita. Dengan ini semoga saja kita diakui sebagai hamba-Nya yang tetap bisa bersyukur dalam berbagai keadaan.

Dan yang terpenting dalam mencari ketentraman hati di tengah ujian yang melanda adalah dengan selalu ingat kepada Allah. Firman Allah Ta’ala:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”(QS. ar-Ra’du:28)

 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته