Tag Archives: Khutbah Idul Adha

Khutbah Idul Adha: Makna Kesabaran dari Hari Raya

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللّه أكبر 1     اَللّه أكبر 2      اَللّه أكبر 3     اَللّه أكبر 4     اَللّه أكبر 5     اَللّه أكبر 6     اَللّه أكبر 7     اَللّه أكبر 8     اَللّه أكبر 9

الْحَمْدُ لِلّهِ أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى, وَأَشْكُرُهُ عَلَى عَطَائِهِ وَفَضِيلَتِهِ لَا تَبْرَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, شَهَادَةً تُنجِي قَائِلَهَا مِنْ نَارِ اللَّظَّى. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه النَّبِيُّ المُصْطَفَى, اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الفَضلِ وَالنُّهَى.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَآ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ, وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأنتُمْ مُسْلِمُونَ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ يَومَكُم هذَا يَومُ عِيدٍ وَسُرُورٍ وَيَومُ بَهْجَةٍ وَ حُبُورٍ, عَظَّمَ اللهُ قَدْرَهُ وَشَرَّفَهُ .
هذَا يَوْمُ ابْتَلَى اللهُ إِبْرَاهِيمَ الخَلِيلَ, حَيثُ أَمَرَهُ بِذَبْحِ إسْمَاعِيلَ, فَامْتَثَلَ أَمْرَ رَبِّهِ طَائِعًا وَخَرَجَ بِابْنِهِ مُسَارِعًا, فَلَمَّا أْسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمَ, قَدْ صَدَّقتَ الرُّؤْيآ إِنَّا كَذلِكَ نَجْزِي المُحْسِنِينَ, إِنَّ هذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَجَاءَ جِبْرِيلُ مِنَ الْجَنَّةِ بِالْكَبْشِ الَّذِي قَرَّبَهُ هَابِيلُ, فَذَبَحَهُ إبْرَاهِيمُ الخَلِيلُ فِدَآءَ وَلَدِهِ إسْمَاعِيلَ

Hadirin Jama’ah Sholat Idul Adha yang dimulyakan Allah Swt…

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah Swt. dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan berbekal iman dan takwa kita dapat memperoleh ridho dari Allah Swt.

 Hari ini adalah hari raya Idul Adha. Hari dimana Allah Swt. menyebutkan dalam Al-qur’an dengan nama hari yang sangat agung. Kalimat-kalimat takbir selalu dikumandangkan di setiap sudut. Mulai dari masjid, surau, pasar, dijalan ataupun di tempat yang lain, baik laki-laki, perempuan, tua, muda, ataupun anak- anak. Mereka mengumandangkan kalimat-kalimat takbir seraya bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang diberikan Allah Swt. Terlebih dalam menyikapi kondisi dunia yang sedang mengalami pandemi covid-19, dimana segala aspek sedang mengalami kemerosotan tidak terkecuali masalah ekonomi, sehingga berimbas pada mata pencaharian dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Idul Adha merupakan salah satu hari raya umat islam yang didalamnya menyimpan peristiwa bersejarah dalam peradaban kehidupan di muka bumi. Peristiwa tersebut kemudian diabadikan sebagai ritual ibadah yang identik dengan hari raya idul Adha yakni ibadah Kurban dan ibadah Haji. Kedua ibadah ini mengandung hikmah tentang kesabaran, tawakal dan ketaatan kepada Allah Swt.

Hadirin yang dimulyakan Allah Swt…

Ibadah Qurban adalah sebuah ritual ibadah yang bermula dari kisah nabi Ibrahim As. yang bermula dari sebuah mimpi. Dalam mimpinya beliau diperintahkan untuk menyembelih buah hatinya nabi Ismail As. Ketaan dan ketakwaan telah membuatnya untuk melaksanakan perintah Allh Swt. seraya pasrah atas takdir Allh Swt. Kisah tersebut kemudian diabadikan dalam al-Qur’an al-karim :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya :Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggupberusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” ( Q.S. ash-Shaffat : 102 ).

               Kepatuhan dan kesunggguhan niat nabi Ibrohim As sehingga Allah Swt. menampakkan sifat rahmat-Nya pada nabi Ibrahim As. Dikala keduanya berserah diri dan membaringkan anaknya di atas pelipisnya lalu meletakkan pisau di atas lehernya, Allah Sw.t mendatangkan seekor domba jantan  dari surga sebagai tebusan dari putranya yang akan disembelih. Allah memuji Nabi ibrahim As. atas kesungguhan dan ketaan dalam menjalankan perintahNya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman :

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ  قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Artinya :Dan Kami panggil dia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, “sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. ( Q.S. Assaffat : 104-105 ).

Dari sejarah inilah umat Islam diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban yang pada hakikatnya merupakan sebuah ibadah dalalm rangka mengingatkan kita semua kepada tujuan hidup di dunia ini yaitu beribaha kepada Allah Swt. Dalam al-Qur’an disebutkan :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Artinya :Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariyat: 56)

Hadirin yang bersahaja…

Ibadah selanjutnya yang identik dengan hari raya adalah melaksankan ritual ibadah Haji di tanah Mekah. Ibadah Haji merupakan rukun Islam yang ke-lima dan di wajibkan atas setiap orang muslim yang mampu. Hal ini telah ditegaskan dalam firman Allah Swt. yang berbunyi :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعالَمِينَ 

Artinya :Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Mampu melaksanakan ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang ke-lima ini mengajarkan kita untuk mengorbankan harta yang kita miliki sebagai bentuk syukur atas nikmat harta dan kesehatan yang diberikan Allh Swt. dalam rangka mendekatkan diri kapada Allh Swt. Kesiapan kita dalam mengorbankan harta untuk menjadi tamu Allah Swt. di Baitullah sekaligus mengajarkan kita untuk menjauhi sifat kikir dan kecintaan terhadap kekayaaan materi.

Pengorbanan kita dalam berhaji memberi hikmah untuk tidak membangga–banggakan diri dengan harta yang kita miliki, sebab pada dasarnya semuanya itu adalah titipan dari Allah yang seharusnya kita syukuri dan digunakan dalam beribadah mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Ibada haji pula merupakan wujud ketaan dan ketundukan kita sebagai hamba atas perintahkan dan berusaha untuk meninggalkan urusan duniawi dan fokus untuk beribadah bagi kepentingan ukhrowi.

Hadirin yang berbahagia..

Marilah kita ambil hikmah dari peristiwa di atas sebagai bentuk pelajaran dalam meningkatkan ketaatan dan ketakwaan dalam penghambaan diri kepada Allah Swt. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia telah merubah situasi ini, di mana seluruh jamaa’ah haji selain dari Arab Saudi atau orang asing yang berdomisili  di Arab telah membuat pembatalan pemberangkatan ibadah haji guna untuk memutus penularan covid 19. Tentunya sebagian jama’ah haji yang telah lama menatikan kebarangkatkannya merasa kecewa, akan tetapi kalau kita tarik benang merahnya ada pelajaran yang mengajarkan kesabaran. Sebab Allah akan sealau bersama orang-orang yang sabar. Dalam firmanNya berbunyi :

 وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya : Bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.( Q.S. Am-Anfal : 46 )

Ibadah kurban yang dilakukan pada tahun ini sangat bermakna. Masayarakat ekonomi kebawah sangat merasakan dampaknya pandemi ini. Mereka yang kehilangan mata pencaharian dan begitu sulit dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Adanya kurban memberikan pealajaran sosial tentang arti berbagi kepada yang membutuhkan serta mengingatkan bahwa harta yang ada pada diri kita ini hakikatnya adalah  sebuah titipan yang di dalamnya terdapat hak orang lain.

Hadirin yang berbahagia …

Sebagai umat Islam yang memegang bendera Islam, mari kita sama-sama menjalankan perintah tersebut dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

Demikianlah khutbah yang singkat ini, semoga bisa menyegarkan jiwa kita dalam menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta menjadi bahan renungan kita dalam menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ, فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ, إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ فَاستَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَحِيمُ

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولله الحمد اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِصْلَاحِ، وَحَثَّنَا عَلَى الصَّلَاحِ، وَبَيَّنَ لَنَا سُبُلَ الْفَلَاحِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ. إنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى فِيْهِ بِمَلَائِكَتِهِ، فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. وقالَ رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً. اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ. اَللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا دَيْنًا إِلَّا قَضَيْتَهُ، وَلَا مَرِيْضًا إِلَّا شَفَيْتَهُ وَعَافِيَتَهُ، وَلَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا إِلَّا قَضَيْتَهَا وَيَسَّرْتَهَا لَنَا يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ الفِتَنِ ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ

Baca juga:
Khutbah Idul Adha

Bacaan Bilal dalam Shalat Idul Adha

Di belahan bumi bagian manapun, bisa mengikuti ibadah salat hari raya sangatlah membahagiakan bagi seorang muslim. Ibadah tersebut seakan menyempurnakan rentetan ibadah-ibadah sebelumnya. Kalau dalam suasana Idul Adha, berarti menyempurnakan ibadah puasa sepuluh hari atau hanya dua harinya saja (puasa Tarwiyah dan Arafah).

BACA JUGA : KHUTBAH IDUL ADHA BAHASA INDONESIA

Hukum mengerjakan salat Idul Adha adalah sunnah muakkad, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Salat Idul Adha sendiri boleh dikerjakan dengan berjamaah dan bisa juga dikerjakan sendirian. Untuk orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji lebih baik mengerjakan salat Idul Adha berjamaah, sedang bagi mereka yang sedang berhaji sebaiknya melakukan salat Idul Adha sendiri-sendiri.

Waktu mengerjakan salat Idul Adha dimulai sejak terbitnya matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah sampai dengan masuknya waktu Dzuhur hari tersebut. Dan sebelum kita berangkat salat ied, kita disunnahkan mandi dengan niat: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِعِيْدِ اْلأَضْحَى سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Bahasa Indonesianya: Nawaitul ghusla li’idil adha sunnatan lillahi ta’ala. Yang artinya, Saya berniat melakukan sunnahnya mandi untuk salat Idul Adha ikhlas karena Allah ta’ala. Setelah itu, kita juga disunnahkan berhias dengan pakaian yang bagus (lebih afdhal warna putih) dan memakai wewangian. Pada pagi hari sebelum salah Idul Adha, tidak ada kesunnahan makan. Kita disunnahkan makan setelah menunaikan salat.

Bagi bilal yang bertugas, sebelum salat Idul Adha dimulai, tidak disunnahkan mengumandangkan adzan dan iqamat. Tetapi disunnahkan mengumandangkan kalimat

أَلصَّلاَةُ جَامِعَةٌ atau  الصَّلاَةَ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

Untuk kalimat niatnya makmum salat Idul Adha adalah:

أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِهَِاْ تَعَالَى

Bahasa Indonesianya: Ushalli sunnatan li’idil adha rok’ataini makmuman lillahi ta’ala. Yang artinya: Saya berniat menjadi makmum salat sunnah Idul Adha dua rakaat ikhlas karena Allah ta’ala.

Sedangkan tata cara salat Idul Adha 2 (dua) rokaat adalah rokaat pertama diawali dengan takbirotul ihrom ditambah 7 (tujuh) kali takbir. Sedangkan rakaat kedua sebanyak 5 (lima) kali takbir. Setiap setelah takbir tersebut, baik dalam rakaat pertama atau kedua disunnahkan membaca tasbih:

سُبْحَانَ اللَّهِِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِِ وَلَا إلَهَ إلَّااللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Bahasa Indonesianya: Subhanallah walhamdulillah walailaha illallah wallahu akbar.
Artinya: Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Mahabesar.

Seusai salam, bilal melakukan tugasnya. Dia berdiri menghadap jamaah, lantas mengucapkan kalimat :

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، إِعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمُ عِيْدِ الْأَضْحَى وَيَوْمُ السُّرُوْرِ وَيَوْمُ الْمَغْفُوْرِ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ، إِذَا صَعِدَ الْخَطِيْبُ عَلَى الْمِنْبَرِ أَنْصِتُوْا أَثَابَكُمُ اللهُ، وَاسْمَعُوْا أَجَارَكُمُ اللهُ، وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ الله

Setelah bilal selesai membaca, imam naik ke mimbar lantas mengucapkan salam. Setelah imam salam, bilal berbalik menghadap kiblat kemudian membaca shalawat dan doa sebagai berikut :

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَاناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ … اللهم قَوِّ الْإِسْلَامَ وَالْإِيْمَانَ، مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِ الدِّيْنِ، رَبِّ إخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ، وَيَا خَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 

Setelah khutbah selesai, ada baiknya semua jamaah tidak beranjak dahulu. Akan lebih baik jika seluruh jamaah melakukan musfofahah/ saling bersalaman dengan membuat formasi yang rapi (tidak berjubel) sambil sama-sama mengumandangkan shalawat. Dan selama tiga hari setelahnya (sampai selepas salat Ashar di tanggal 13 Dzulhijjah), ada kesunnahan membaca takbir sehabis salat lima waktu ataupun sehabis melakukan salat sunnah./-

Khutbah Idul Adha

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهَِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأصِيْلًا لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلّه ِالْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّه ِالَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِتَعْظِيْمِ شَعَاءِرِهِ لِأَنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ وَأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا عَبْدَهُ وَرَسُوْلُهُ حَسَنُ الْخُلُقِ وَالْمَحْبُوْبِ اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ نَالُوْا غُفْرَانَ الذُّنُوْبِ
أَماَّ بَعْدُ فَيَا أَيُّهاَ النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ …

Jamaah Shalat Ied yang berbahagia …
Pertama-tama saya mengajak kepada diri saya pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan, memperkokoh iman dan selalu berusaha agar Islam kita semakin kuat. Meningkatkan ketakwaan merupakan wujud syukur kita kepada Allah SWT yang telah menganugerahi kita kehidupan. Allah yang tak pernah berhenti memberi kita nikmat-nikmat dan segala anugerah. Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, Beliau yang telah menuntun umat manusia menuju jalan kebenaran, pembawa sejatinya kebenaran, teladan sempurna dan terbaik sepanjang zaman. Juga semoga tercurah kepada ahli baitnya, para sahabat dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

BACA JUGA : TATA CARA MENJADI BILAL IDUL ADHA

Alangkah indahnya jika kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Alangkah eloknya kehidupan, jika pribadi kita senantiasa menumbuhkan rasa kepedulian kepada sesama, kepekaan kepada lingkungan sekitar dan rela berkorban. Alangkah damainya negeri Indonesia tercinta kita ini, jika setiap diri kita senantiasa memupuk rasa persatuan dan cinta tanah air.

Pagi ini, umat Islam di berbagai belahan dunia melaksanakan salah satu perintah Allah SWT yakni sholat idul adha. Gemuruh suara takbirnya menggema di jagat raya mulai maghrib kemarin malam sampai tanggal 13 Dzulhijjah besok. Dan pada bulan yang mulia ini juga, umat Islam melaksanakan dua ibadah akbar, yaitu haji dan qurban. Ibadah haji dan kurban adalah syiar keluhuran dan keagungan Islam. Syiar haji dan kurban bukanlah ajang pamer kekayaan dan kemewahan, melainkan kebanggaan dan keunggulan beribadah yang ditujukan hanya untuk Allah SWT. Ibadah haji merupakan syiar persatuan umat Islam. Ini karena mereka yang pergi ke Tanah Suci Makkah itu hanya mempunyai satu tujuan, untuk menunaikan perintah Allah atau kewajiban rukun Islam yang kelima.

Dalam memenuhi tujuan tersebut mereka melakukan perbuatan yang sama, memakai pakaian yang sama, mengikut tata tertib yang sama. Perkumpulan mereka di Padang Arafah menghilangkan status dan perbedaan hidup manusia sehingga tidak dapat dikenal siapa kaya, hartawan, rakyat biasa, raja atau sebagainya. Semua mereka sama, memakai pakaian selendang kain putih tanpa jahit. Bisa dikatakan, disana semuanya sama. Ini menggambarkan persatuan dan satu hatinya kita sebagai umat Islam. Dan gambaran inilah yang semestinya diamalkan dalam kehidupan umat Islam sehari-harinya, baik bagi mereka ketika kembali ke negaranya masing-masing, ataupun bagi kita yang belum dikasih kesempatan mengunjungi baitulloh.

Jamaah Shalat Ied yang berbahagia…
Sungguh beruntung orang yang bisa memenuhi panggilan ilahi, pergi ke tanah suci. Yaitu mereka yang dianugerahi istitho’ah (kesanggupan) sesuai perintah Allah SWT dalam al Quran surat Ali Imron ayat 97:

وَللهِ عَلَى النّاسِ حِجُّ البَيتِ مَنِ استَطاعَ إِلَيهِ سَبيلًا
”Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (yaitu) bagi orang yang mampu melakukan perjalanan ke baitullah”

Maksud istitho’ah atau kemampuan disini adalah orang Islam yang baligh, sehat akal, sehat jasmani dan rohani, merdeka (bukan budak) dan bekalnya cukup untuk menunaikan ibadah haji serta tidak meninggalkan kewajiban nafkah keluarga yang ditinggalkan.

Bagi kita yang belum dapat kesempatan itu, janganlah berkecil hati atau malah iri pada mereka. Semua itu adalah bujuk rayu setan. Karena meskipun kita belum ke tanah suci, banyak kebaikan lain yang bisa kita lakukan dari tanah kelahiran.

Jamaah Shalat Ied yang dimuliakan Allah …
Salah satu kebaikan yang mulia itu adalah menyembelih qurban. Berqurban merupakan suatu bentuk pendekatan diri pada Allah, bahkan seringkali ibadah qurban digandengkan dengan ibadah shalat. Allah Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)

Harapan yang ingin dicapai dalam qurban adalah murni keikhlasan dan ketakwaan, bukan yang lain. Bukan hanya daging atau darahnya hewan qurban. Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”(Qs. Al Hajj: 37)

Ayat tersebut jelaslah mengatakan maksud dari berqurban bukan hanya menyembelih saja, karena Allah SWT. tidaklah butuh pada segala sesuatu. Yang Allah harapkan dari qurban adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang shalih. Karena hanya ketakwaan dari kitalah, yang dapat mencapai ridho-Nya. Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berqurban yaitu ikhlas, bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan.

Dengan disyariatkannya qurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, kepedulian, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama. Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna dari ibadah yang kita lakukan, bukan hanya sebagai rutinitas tahunan belaka. Oleh karenanya, semangat untuk terus ‘berkurban’ harus senantiasa kita lestarikan meski ‘perayaan’ Idul Adha telah usai.

Jamaah Idul adha yang dirahmati Allah …
Momentum Idul Adha sekarang ini yang teraplikasi dengan pelaksanaan ibadah haji dan qurban merupakan saat yang tepat untuk memacu diri kita berusaha lebih keras dan sungguh-sungguh agar terwujud lingkungan yang baik dan memperoleh ridha Allah Swt.

Dalam kondisi bangsa seperti saat ini, sudah sepatutnya kita banyak berharap dan mendoakan mudah-mudahan para pemimpin kita, elit-elit kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya, tapi untuk kepentingan bangsa dan negara, kepentingan rakyatnya.
Mudah-mudahan perayaan Idul Adha kali ini, mampu menggugah kita untuk rela berkorban demi kepentingan bangsa, negara dan agama. Amiin ya robbal alamin.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ اَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ والاَهُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ… أَمَّا بَعْدُ : أَيــُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأيــُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاً طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَام. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَام. اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر…