Tag Archives: kisah hikmah

Kisah Hikmah: Obrolan Iblis dan firaun

Suatu kali iblis pernah mendatangi Firaun, ia mengetuk pintu. Mendengar itu, firaun menimpali,
“Siapa itu?”
“Saya,” Jawab Iblis
“Saya siapa?” Lanjut Firaun penasaran
“Loh, katanya mengaku tuhan. Kalau kamu tuhan seharusnya kamu tahu siapa di balik pintu ini,” Jawab iblis sedikit terkekeh
“Sudah! Masuk saja hai, mahluk pendosa!” Jawab Firaun geram
Setelah Iblis masuk Firaun mengawali pembicaraan,
“Blis, sebenarnya ada tidak mahluk yang lebih buruk dari kita? Dari diriku dan dirimu.” Tanya Firaun.
“Saya punya seorang teman yang selalu menuruti apapun yang saya katakan -Iblis mulai bercerita- maka aku berkata padanya, ‘Mintalah apapun dariku, aku akan mengabulkannya’
ia menjawab, ‘Tetanggaku memiliki seekor sapi, aku ingin engkau membunuhnya!’
‘Wah, tidak bisa seperti itu’ Jawabku, lalu aku memberinya penawaran,
‘Bagaimana kalau engkau kuberi sapi saja?’
‘Tidak!’ Jawabnya
‘Sepuluh ekor sapi untukmu!’ Kembali aku menawarkannya
‘Tidak! Aku hanya ingin engkau membunuh sapinya saja!’ Jawabnya.
Tahukah engaku wahai Firaun, dari peristiwa itu aku tahu bahwa ternyata ada mahluk yang lebih buruk dari kita berdua, yaitu seorang pendengki.” Jelas Iblis pada Firaun.

sumber: kitab al-Hussad Bainana karya Agus H. Said Ridlwan

Tawasulnya Nabi Adam As.

Dalam berdoa, agar bisa tembus hingga sampai ke hadiratNya, haruslah memegang  persyaratan yang telah ditentukan. Diantaranya, doa dihaturkan dengan tulus, dalam kondisi suci, mengenakan pakaian dan makanan yang halal, dan menghadap kiblat.

Salah satu yang tidak boleh terlewatkan sebelum berdoa adalah bertawasul, atau berperantara. Sebab kalau kita hanya mengandalkan doa kita tanpa bertawasul, kita yang tidak sedekat orang-orang mulia dengan Allah, tentu doa kita akan kesulitan menemu pintu ijabahNya. Layaknya mendaki gunung, tentunya akan lebih mudah bagi kita untuk ikut melangkah bersama pemandu, daripada mengandalkan kemampuan sendiri. Ada banyak hal yang bisa kita jadikan perantara dalam berdoa, agar doa kita bisa terdongkrak dengan cepat.  Allah sendiri memberikan contoh dan perintah untuk bertawasul:

Hanya milik Allah Asmaa Al-Husna (nama-nama yang bagus), Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa  Al-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS al-A’raf: 180)

Perkara-perkara yang bisa digunakan bertawasul diantaranya adalah dengan Nama-nama Allah yang agung seperti dalam ayat di atas, amal saleh, doa para rasul, orang mulia, baik yang sudah wafat maupun masih hidup, derajat para Nabi dan lainnya.

Banyak sekali hadis-hadis yang bercerita tentang keampuhan dan keutamaan bertawasul. Salah satunya adalah tawasulnya Nabi Adam As. sewaktu beliau mengakui kesalahan setelah makan buah terlarang. Sebagaimana hadits Rasulullah saw.:

“Sewaktu Adam mengakui kesalahannya, ia bertaubat dan berkata: wahai Tuhan, aku mohon kepadaMu dengan hak Muhammad, supaya Engkau mengampuniku. lalu Allah menjawab : “Hai Adam, bagaimana engkau mengetahui Muhammad sedang ia belum kuciptakan? Adam menjawab : Wahai Tuhan, setelah Engkau mewujudkanku, aku angkat kepalaku dan melihat ke tiang Arsy di mana tertulis kalimat: Laa Illaaha Illallah Muhammadurrasulullah. Akupun tahu bahwa Engkau tidak akan menyertakan NamaMu, kecuali dengan nama orang yang Engkau kasihi.

Maka Allah menjawab: Engkau benar Adam, ia adalah seorang yang paling Aku kasihi, kalau engkau memohon kepada Aku dengan haknya, engkau Aku ampuni. Kalau tidaklah karena dia, engkau tidak akan Aku ciptakan.” (HR. Imam Baihaqi)

Teranglah bahwa Nabi Adam telah bertawassul dengan Nabi Muhammad Saw. walaupun Nabi Muhammad Saw. belum diwujudkan ke dunia ketika itu. Bahkan dengan beliau bertawasul kepada Nabi Muhammad beliau mendapat ampunan. Nabi Adam sebagai Bapak para manusia, dijadikan sebagai Nabi yang sudah pasti dekat dengan Allah saja bertawasul. Sudah seyogyanya kita yang sebagai hamba biasa mengikutinya.||-

Gus Mus dan Karomah KH. Marzuqi Dahlan

Banyak kisah yang dikenang KH. Ahmad Mustofa Bisri ketika mesantren di Lirboyo. Salah satunya pernah beliau ungkapkan pada Haul & Haflah Akhirussanah beberapa tahun lalu.

Suatu saat, beliau bersama beberapa kawannya menyusun rencana nakal. Mereka hendak menuju kebun tebu milik sang pengasuh, KH. Marzuqi Dahlan. Sengaja mereka pilih waktu sore hari, karena itu adalah waktu di mana para abdi ndalem yang bertugas merawat kebun tebu pulang beristirahat.

Mereka membayangkan betapa nikmatnya nyesep tebu segar, langsung dari kebunnya. Dari kamar mereka berjalan berdampingan. Tawa dan canda menemani langkah mereka, selayaknya santri ketika berkerumun dengan kawan-kawannya.

Tiba-tiba Gus Mus, panggilan akrab beliau, mendengar namanya dipanggil, “Gus, bade tindak pundi?”[1] Dug. Jantung beliau berhenti berdegup. Suara itu sangat dikenalnya. Suara yang sering didengarnya saat pengajian-pengajian kitab. Suara khas milik seseorang yang telah ditempa pahit manis perjuangan menimba ilmu pengetahuan.

Di depan ndalem, KH. Marzuqi Dahlan melambaikan tangan ke arah beliau.

“Mriki Gus, mriki.”[2]

Kaki yang sebelumnya tegap kini bergetar hebat. Rasa waswas melanda seluruh hati segerombol santri itu. Terbayang niat buruk yang mereka susun di kamar. Rasa sesal memenuhi sekujur tubuh mereka. Sungguh lancang niat kami. Sungguh santri yang tak tahu diri. Mereka melangkah gontai menuju ndalem Mbah Juki—sebuah panggilan yang menunjukkan penghargaan tinggi atas kemuliaan ilmu KH. Marzuqi Dahlan.

“Bade tindak pundi?”

 “Mriki Gus.” “Peneran jenengan mriki.[3] Ini saya ada tebu banyak sekali. Jenengan ambil saja Gus.” Gus Mus terdiam. Berdiri memaku. Segerombol santri di belakang beliau juga tampak bengong. Mereka terheran-heran dengan perintah Mbah Juki itu.

“Ambil sesukanya. Kawan-kawannya diajak juga.” Rasa heran yang besar itu tertutupi dengan perasaan gembira yang luar biasa. Segera saja Gus Mus memimpin kawan-kawannya untuk mengambil lonjoran-lonjoran tebu yang tertumpuk di samping ndalem.

Mereka dengan sekuat tenaga menahan rasa gembira itu. Sesampainya di kamar, mereka luapkan segala perasaan yang bertumpang tindih sore itu: takut, khawatir, heran, penasaran, dan gembira teraduk menjadi satu.

______________________

Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo & Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien ke-108 tahun akan dilaksanakan pada Selasa malam Rabu, 09 Sya’ban 1439 H./24 April 2018 M. Insya Allah akan dihadiri oleh KH. Said Aqil Siroj selaku penceramah.

 

[1] hendak kemana, Gus?

[2] sini Gus, sini.

[3] kebetulan anda datang ke sini.

Mencium Tangan Guru, Syirik?

Dalam sebuah majelis, seorang pemuda memberanikan diri bertanya kepada Habib Umar bin Hafidz, “Kenapa engkau membiarkan murid-muridmu menundukkan badannya dan mencium tanganmu berbolak-balik?”

Habib Umar hanya diam. Pemuda itu kemudian menuduhnya, “Tidak tahukah engkau itu perbuatan yang syirik?”

Habib Umar masih diam. “Engkau seolah-olah membuat murid-muridmu menyembah sesama mahkluk? tidakkah hanya Allah lah yang layak disembah? Tunduk atau menunduk kepada makhluk adalah perbuatan syirik.”

Di akhir pertanyaan itu, Habib Umar hanya tersenyum. Habib Umar kemudian memanggil pemuda tadi dan mendekatinya. Sang habib mengambil pena yang ada di dalam saku baju pemuda itu, lalu menjatuhkannya ke bawah.

Ketika si pemuda ini menundukkan kepala dan badannya ke bawah guna mengambil pena, Habib Umar menahannya, “Jangan menunduk! tidakkah menunduk kepada makhluk adalah bathil?”

Seketika sang pemuda mengelaknya, “Tidak, aku hanya ingin mengambil penaku di bawah.”

Sang Habib kemudian memberi pemuda itu hikmah bijak, “Aku ini ibaratkan pena. Seorang pencari ilmu tidak akan mendapat ilmu jika tidak mempunyai pena. Begitu juga dengan murid-muridku. Mereka menghargai dan menghormatiku bukan atas permintaaanku. Aku tidak pernah memaksa. Aku tidak pernah menyuruh mereka mencium tanganku. Tetapi ketahuilah wahai pemuda, seorang pencari ilmu tidak akan mendapatkan setetespun ilmu yang bermanfaat jika dia tidak menghormati gurunya.”

Disarikan dari kisah yang diceritakan oleh Al-Habib Umar bin Agil Al-Hamid.

Begitu Spesialnya Maulid Nabi saw. [ bagian :2]

Dalam mimpinya ia melihat bahwa hari kiamat sudah terjadi. Ia bersama milyaran manusia yang lain, berkumpul di tempat pemberhentian (mauqif), guna menghisab amal-amal masing-masing. Orang-orang yang dalam hidupnya di dunia banyak berbuat dosa masuk neraka, yang banyak baiknya mendapatkan pengampunan.

Hari yang begitu memilukan semua orang, termasuk dirinya. Di hari itu hanya Ia yang Maha Kuasa, semua manusia akan di hadapkan dengan amalnya masing-masing dengan adil, tanpa ada kecurangan dalam menimbang, sedikitpun.

Tibalah pada giliran si anak untuk di hisab amal perbuatannya. Keringat bak aliran sungai bahkan lebih deras mengalir. Ketika di putuskan bahwa amal buruknya lebih banyak, dan hendak dibawa ke neraka, tiba-tiba ada suara yang menghentikan “ tunggu, masukkan ia ke surga bersama orang-tuanya, sebab ia sudah berlaku sama dengan leluhurnya”

Sebagaimana firman Allah, bahwa Ia akan  mengangkat derajat anak cucu orang mukmin dan mengumpulkannya kelak di surga, jika anak cucunya masih sejalan dengan orang tuanya.

Orang-oranng yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)

Setelah itu, masih dalam mimpinya,si anak dengan diiringi malaikat hendak menuju surga. Begitu masuk di surga pertama, ia terkagum-kagum dengan suguhan pemandangan dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya,  ia terus berjalan tidak terasa , saking nikmatnya apa-apa yang masuk di kelopak matanya. Hinggga ia sampai di pintu surga yang kedua, ia ingin memasukinya, sambil bergumam dalam hati “ jikalau kenikmatan yang ada di surga pertama saja begitu mengagumkannya, apalagi di surga yang kedua” tanpa pikir panjang ia memasuki surga kedua.

Ternyata benar, kenikmatan di surga ini berlipat-lipat dibanding sebelumnya. Ia terus berjalan sambil menikmati pemandangannya.

Begitu seterusnya, kenikmatan demi kenikmatan yang senantiasa berlipat dari sebelumnya ia rasakan sambil terus berjalan tanpa terasa, sampai akhirnya ia berdiri di pintu surga kedelapan. Ia masih juga belum puas dengan keelokan dan kelezatan surga-surga sebelumnya, ia ingin masuk lagi di sura kedelapan ini. sebelum kakinya menjejakkan untuk melangkah, ia di hadang malaikat penjaga sambil berkata menegur “berhenti, surga ini hanya untuk orang-orang yang merayakan maulid Nabi saw.”

Belum juga si anak menjawab, tiba-tiba ada suara tanpa rupa ”biarkan ia masuk bersama orang tuanya disurga ini”

Dengan girang ia memasuki surga khusus ini, sesampainya di dalam, ia berjumpa dengan perempuan-perempuan yang cantik menawan, hanya seorang yang ia kenali rupanya, yakni ibunya. Perempuan-perempuan lainnya sama sekali belum pernah ia jumpai.

Di sisi lain, ia melihat seseorang yang wajahnya bagai purnama bersinar penuh wibawa, ia tahu bahwa orang itu adalah baginda nabi, beliau di iringi para sahabatnya di belakang. ternyata ada satu orang dibelakang kanjeng Nabi yang juga ikut mengiringi yang membuat si anak ini tergerak untuk memanggilnya, adalah ayahnya, setelah sang ayah tahu ada anaknya memanggil-manggil, ia menghampiri dan menanyakan kondisinya, setelah si anak menjawab, ia berbalik bertanya perihal perempuan-perempuan yang di awal masuk tadi ia temui, ayahnyapun menjawab, bahwa meraka adalah istri-istri nabi, Sayyidah Khadijah, ‘Aisyah, Asiah istri firaun, Fathimah putri Rasul dan Wali-wali perempuan lainnya.

Anaknya kembali bertanya lagi, tentang rahasia ayahnya bisa di surga khusus ini, ayahnya menjawab bahwa ia bisa sampai di sini berkat usahanya menyisihkan penghasilannya guna ikut andil merayakan maulid Nabi setiap tahun “ seperti yang engkau ketahui “ katanya.

Sampai disini, si anak tadi terbangun dari mimpi dahsyatnya itu. Di barengi dengan keringat bercucur sebab perasaannya campur aduk, senang, terharu dan juga takut.

Setelah itu, si anak dengan tekad bulat terinspirasi akan menjual semua sisa-sisa harta peninggalan orang tuanya untuk ia gunakan merayakan maulid nabi. Setelah semua terjual, ia memenuhi tekadnya tadi, ia sedekahkan semua hasil dari penjualan tanah, rumah dan perkakas-perkakasnya untuk acara muludan.

Untuk kehidupan sehari-harinya, untuk tempat berteduh dan tidurnya, ia bertempat tinggal di sebuah masjid, hingga 30 tahun kemudian ia masih dalam kondisi seperti ini, dan setiap tahunnya ia selalu menghadiri majelis-majelis perayaan maulid nabi.

Semoga kita bisa menirukan semangat kedua orang tadi dalam merayakan maulid.

selamat merayakan maulid Nabi

semoga kita dapat syafatnya kelak

Sholluu alannabii muhammad …!

-Kisah nyata, dengan banyak penambahan sana-sini.

-Di kutip dari sebuah kitab karangan ulama konteporer awal abad 20.