Tag Archives: kisah hikmah

Kisah Nasehat untuk Pejabat

Zaman digital seperti sekarang ini apapun dari belahan dunia lain bisa kita temukan di tempat. Informasi yang di dapatpun dari berbagai sumber yang keakuratannya di sesuikan dengan tujuan penyebarnya. Sehinga ujaran kebencian atau hoax tak terelakkan.

Ketika ada apapun yang mengenai harga diri atau nama kebesaran akan berbuntut pada permusuhan dan saling caci.

Semua bermula dari diri sendiri, yang betapa egoisnya dalam bertindak, masih mengedepankan kepentingan golongan lebih-lebih pribadi. Tanpa di saring terlebih dahulu menggunakan pikiran dingin baik-buruknya.

halifah Hisyam bin Abdul Malik dilahirkan pada tahun 70 H. Ia termasuk salah satu khalifah yang cerdas, tegas dan pemurah. Salah satu dari Khalifah Bani Ummayah ini juga memiliki selera seni sastra yang cukup tinggi. Selain itu, ia juga suka wewangian dan pakaian indah, hemat, tidak boros, dan tidak mudah ditipu. Khalifah Hisyam juga dikenal dengan penyantun dan bertaqwa.

Pada suatu tempo, ia besertaan dengan rombongan kerajaannya berangkat menuju kota suci Makkah untuk menunaikan ibadah Haji, sesampainya di Makkah, ia memerintahkan bawahannya;

“datangkan padaku seseorang Sahabat Nabi.”

“ wahai Amirul mukminin, sudah tidak ada lagi Sahabat Nabi yang masih hidup.”

“kalau begitu datang Taabi-‘ien (pengikut Sahabat)”

Pesuruhnyapun memanggilkan permintaan Rajanya itu, ia memanggil Thowus al-Yamany, salah seorang Taabi-‘ien.

Datanglah Thowus al-Yamany, ketika ia masuk untuk menemui Khalifah, ia tidak melepas terompahnya hingga sampai di karpet kebesaran Khalifah yang telah menunggunya, kontan memberi kesan Negatif pada khalifah. Tidak cukup di sini, Thowus al-Yamany juga tidak memberikan salam keagungan dengan ucapan “assalamuilakum wahai Amirul mukminin” justru  ia secara terang menyebut nama Khalifah pada salamnya tanpa menyamarkan nama  aslinya (kunyah) “assalamuilakum wahai Hisyam” bertambah geramlah sang Khalifah.

Setelah itu  Thowus al-Yamany duduk berhadapan langsung dengan Khalifah juga dengan tanpa mencium tangan Khalifah, bahkan tanpa meminta izin. Cukuplah kejadian di depan Khalifah ini membuatnya semakin marah tak terelakkan, sang Khalifah hendak membunuh Thowus al-Yamany, karena geram dengan tindakannya yang di rasa merobek kebesaran seorang Khalifah, tapi beruntung penasehatnya melarang “ engkau berada di tanah haram, tidak mungkin itu di lakukan” Khalifahpun mencoba menenangkan diri dan perasaannya.

“Thowus, apa yang mendorongmu betindak tidak senonoh di hadapannku? “ kata Khalifah memulai percakapan.

memangnya apa yang aku kerjakan ?” jawab Thowus al-Yamany tanpa ada beban sama sekali.

Sekali lagi Khalifah menahan hatinya.

“ kau mencopot terompahmu di pinggir karpetku, kau tidak mencium tanganku, tidak salam dengan salam kehormatan kepadaku ( dengan “assalamuilakum wahai Amirul mukminin” ), menyebut langsung namaku, ”bagaimana kabarmu wahai Hisyam”. Kau duduk di depanku tanpa seizinku.” Ujar Khalifah panjang lebar menerangkan semua kesalahan fatal Thowus al-Yamany sehingga ia harus memberikan alasan yang tepat atas tindakannya kalau tidak mau menerima hukuman.

Sebenarnya Thowus al-Yamany sendiri bukannya tidak tau dengan tindakan dan resikonya, ia hanya ingin menesehati.

” aku mencopot kedua terompahku di pinggir karpetmu, karena aku mencopot keduanya saat menghadap Tuhan yang Maha Mulia saja setiap hari lima kali, tapi Ia tidak menyiksaku dan lagi tidak marah padaku. Aku tidak mencium tanganmu karena aku mendengar Amirul mukminin Ali ibn Abi Tholib berkata “ tidak halal bagi seseorang untuk di cium tangannya kecuali istri dan anaknya karena kasih sayangnya”. Aku tidak mengucapkan salam dengan ucapan kebesaran Khalifah karena orang-orang tidak rela dengan kepemimpinanmu menjadi Khalifah sehingga aku tidak mau bedusta dengan bersalam kebesaran padamu. Aku tidak memanggilmu dengan nama kunnyahmu  (julikan) karena Allah sendiri menyebut nama kekasih, Nabi maupun RosulNya dengan namanya ( tanpa di kunnyahi) seperti ”wahai Daawud..”, “wahai Yahya…”,  “wahai Isa..” akan tetapi Ia menyebut secara nama samar (kunnyah) musuhnya “ Tabbat yadaa Abii Lahab”. aku duduk langsung di hadapannu (tidak berdiri di pinggir seperti layaknya seorang Raja) karena aku mendengar Khalifah Ali ibn Abi Tholib berkata “ jika kalian ingin melihat seseorang ahli neraka maka lihatlah orang yang sedang duduk dan di sekitarnya, Di depannya, samping kanan-kirinya ada banyak orang berdiri (karena memuliakannya sebagai Raja)”

Mendengar dalih panjang Thowus atas semua tindakannya tadi, luluhlah hati Khalifah Hisyam, Ia mulai mewawas diri.

“ nasehatilah aku” pintanya tidak ingin menyia-nyiakan pertemuannya dengan orang yang menjumpai dan pernah bertatap muka dengan sahabat Nabi ini.

“ Aku mendengar Khalifah Ali ibn Abi Tholib berkata “ sesungguhnya di neraka terdapat ular-ular besar dan kalajengking sebesar kerbau, yang siap memakan pemimpin yang tidak berlaku adil pada rakyatnya (orang yang di kuasainya)”

Setelah mendengar nasehat yang memilukan ini, Sang Khalifah sontak berdiri dan tersungkur tak sadarkan diri.

Kisah Semangka vs Kelapa

Alkisah, di sebuah kebun, terdapat dua macam buah yang kebetulan dipelihara Pak Tani sedari bibit hingga besar. Buah semangka dan buah kelapa. Suatu pagi, mereka terlibat suatu obrolan.

“Kasihan deh lo, Ka,” ejek kelapa.

“Emangnya kenapa, Pa?” tanya semangka.

“Gimana nggak, dari kecil, bibit elo terus ditanam tak terlihat di bawah tanah. Mulai dari biji, tunas, bunga, buah hingga masak malah makin tak ada yang bisa melihatmu. Gak keren blas!” ujar kelapa. “Lihat gue dong. Sejak kecil sampe gede di atas terus. Mulai dari manggar, bluluk, cengkir, degan hingga kambil tetap bertenger di atas.”

Semangka yang menyadari kelemahannya hanya bisa mengelus dada (emang semangka punya dada?). Ia tahu Tuhan senantiasa bersama mereka yang lemah.

Sampai suatu hari di rumah Pak Tani cucu-cucunya berkumpul semua. Untuk menyambut kedatangan mereka ia ingin menyuguhkan hasil ladangnya yang terbaik. Ia perintahkan putrinya untuk ke ladang, karena kebetulan waktu itu putra-putranya sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Karena hanya anak perempuannya yang ada di rumah ia memilih semangka saja, yang tidak harus repot-repot naik pohon, untuk dipetik. “Nduk, kalo milih semangka yang matang. Nah, buah semangka itu semakin matang semakin tertanam ke tanah. Jadi nanti cari buah yang benar-benar tak terlihat. Setelah ketemu hati-hati memetiknya, ya. Potong tangkainya dan jangan sampai mengusik buah-buah muda yang lain. Soalnya sekali batang sulurnya rusak, rusak pula semua buahannya,” pesan Pak Tani kepada putrinya sebelum berangkat ke ladang.

Sesampai di ladang bergerilyalah sang putri mencari semangka terbaik. Ia susur rimbunan tanaman palarambat itu hati-hati. Sesuai pesan ayahnya ia abaikan buah yang masih terlihat di atas tanah.
“Mungkin di rimbunan daun yang paling lebat itu,” pikirnya.

Benar saja, begitu ia sibak daun-daun dan membersihkan tanah yang menutupinya terlihat satu buah semangka bulat besar nan ranum. Dengan hati-hati ia memotong tangkainya dengan gunting yang sudah dibawanya dari rumah. Namun sayang ia lupa membawa keranjang ataupun kain untuk membawanya. Apa boleh buat akhirnya ia membawa buah besar itu dengan mendekapnya.

Ketika melewati pohon kelapa semangka menyapa kawannya yang tadi mengejeknya. “Pa, kelapa, eh enakan aku dong. Dipeluk putrinya Pak Tani,” ujar semangka. Kelapa yang melihat hal itu gantian manyun.

“Ka, tukeran tempat dong,” pinta kelapa.

“Sori ya, rezeki emang gak ke mana. Da da kelapa,” kata semangka yang semakin lama semakin menjauhi kelapa.

Di luar dugaan ternyata para cucu Pak Tani juga membawa serta teman-temannya. Kian ramailah rumah kecilnya itu. Ia berniat menambah keceriaan itu dengan membuatkan minuman kelapa muda. Karena harus naik pohon ia sendiri yang turun tangan. Dengan sigap ia memanjat dan memilih kelapa yang pas untuk sajian rombongan kecilnya itu. Memetiknya pun tak harus hati-hati seperti memetik semangka. Cukup sekali sabit jatuhlah buahnya. Naas, jatuhnya malah di comberan sekalian. Apa boleh buat Pak Tani membawa pulang hasil petikannya itu dengan mencangking tangkainya sambil tutup hidung.

Di rumah semangka yang sudah siap diperlakukan bak raja. Dicuci, dipersiapkan nampan yang bagus dan dipotong dengan pisau yang bersih untuk kemudian disuguhkan. Sebaliknya kelapa justru makin mendapat perlakuan kasar. Dipecoki dengan parang tajam, dibuang sabutnya, baru diambil airnya kemudian dibelah dan diambil dagingnya.

Keduanya kemudian sama-sama disuguhkan kepada para tamu kecilnya, namun dengan perlakuan yang sama sekali berbeda.

disarikan dari mauidzah almahfurlah KH. Abdul Aziz Manshur dalam acara Tahlil dan Fida Kubro Alm. KH. M Thohir Marzuqi, Oktober 2013.

Penulis, M. Aminulloh, Mutakhorijin Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo tahun 2015, pernah menjabat Pemimpin Redaksi Majalah Dinding Hidayah.