Tag Archives: Kitab Kuning

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Ponpes Lirboyo

Oleh: Tgk. Mustafa Husen Woyla, S.Pd.I*

Lirboyo awalnya adalah nama sebuah desa terpencil yang terletak di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Dulu desa ini merupakan ‘sarang’ Partai Komunis Indonesia (PKI), penyamun dan perampok. Berkat kerja keras KH. Abdul Karim, seorang yang alim berasal dari Magelang Jawa Tengah berhasil mengubah semua tatanan masyarakat Komunis dan Kejawen menjadi masyarakat yang santun dan agamis, bermazhab ahlussunanh wal jamaah, dan berorganisasikan Nahdhatul Ulama (NU) lewat pendidikan pesantren salafiah.

Dengan model pembelajaran pesantren tradisional para kiai penerus KH. Abdul Karim telah berhasil mendidik puluhan ribu santri yang berilmu yang mumpuni sejak 1910 sampai sekarang. Pesantren Lirboyo sekarang (2014-Red.) dihuni oleh 13.000 ribu santri lebih yang terdiri dari 9 unit yakni PP HM Al Mahrusiyyah, PP Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM), PP Haji Ya’qub (HY), PP Haji Mahrus HM ANTARA, PP Putri Tahfizhil Qur’an (P3TQ), PP Putri Hidayatul Mubtadi-aat Al-Qur’aniyyah (HMQ), PP Darussalam, PP Murottilil Qur’an (PPMQ), PP Salafiy Terpadu Ar-Risalah (sekarang sudah bertambah dengan diresmikannya unit PP Al Baqoroh-Red.).

Kesembilan unit tersebut berada di bawah naungan pondok induk Lirboyo, kiai sepuh KH. M. Anwar Manshur yang berada dalam satu komplek dengan luas area 19 hektare. Sedangkan Yayasan Pendidikan Islam Tribakti (YPIT) berada di luar komplek, namun tidak jauh dari PP Lirboyo. Di samping itu Lirboyo juga memiliki lembaga otonom yang diberi kewenangan mengambil kebijakan membuat manajemen secara terpisah.

Kedatangan kami ke berbagai Pesantren di Jawa Timur pada Selasa, 20 Agustus 2014 berakhir sampai 18 September 2014 merupakan Program Badan Pembinaan Pendidikan Badan Dayah (BPPD) Provinsi Aceh yang diberi nama Magang/Kaderisasi Guru Dayah ke Jawa Timur. Kami semua beranggotakan 50 orang dari berbagai dayah di 23 kabupaten/kota di Aceh dan ditempatkan 10 orang perpesantren.

Adapun yang menjadi tujuan adalah Pesantren Tebuireng di Jombang, Pesantren Lirboyo di Kediri, Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Pesantren Langitan di Tuban, dan Pesantren Asy-Syafi’iyah di Situbondo. Sementara saya dan teman-teman ditempatkan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Belajar kitab kuning
Sekilas Ponpes Lirboyo tidak berbeda jauh dengan pesantren pada umumnya di Aceh yakni belajar kitab turats (kitab kuning Arab gundul) dan menekankan aspek penanaman karakter terhadap santri, mulai bangun tidur sampai tidur kembali. Namun ketika diperhatikan metode belajar di Lirboyo ada yang berbeda dengan dayah-dayah di Aceh.

Umumnya, dayah atau pesantren di Aceh menerapkan metode guru aktif dengan cara guru membaca dan menjelaskan isi kitab, sementara santri hanya dituntut mendengar dan bertanya jika masih kurang jelas. Di Lirboyo, para santri dibagi dalam tiga tingkatan yaitu Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Pembagian tingkatan ini bukan berdasarkan umur, namun berdasarkan kemampuan. Maka tidak heran ada dosen, misalnya, yang duduk di kelas 4 Ibtidaiyah.

Jadwal atau waktu belajar di Ponpes Lirboyo pagi, siang dan malam. Jika dilihat dari kalender akademik pelajaran, jumlah alokasi waktu kegiatan belajar mengajar (KBM) formal (dalam kelas) 8 jam (60 menit perjam pelajaran). Dari 8 jam tersebut hanya 2 jam digunakan oleh mustahiq (guru) untuk menjelaskan pelajaran. Selebihnya guru hanya diam mengamati jalannya musyawarah (diskusi) santri dengan mengunakan metode bahtsul masail (pemecahan masalah) yang dipimpin oleh rais (ketua) yang dipilih secara bergiliran.

Kami pernah menguji kemampuan santri dari berbagai unit dan tingkatan dengan sistem random atas daya serap santri terhadap materi ajar. Hasilnya menakjubkan, kebanyakan santri mampu menjawab dengan tepat bahkan dengan menggunakan dalil yang dikutip dari berbagai matan kitabut turats (kitab kuning).

Visi misi Ponpes Lirboyo mendidik generasi berakhlak, beramal ikhlas dan berilmu benar-benar tercapai maksimal. Capaian itu kentara terlihat setelah kami amati selama seminggu melakukan kunjungan dan dialog dengan seluruh unsur di Ponpes Lirboyo mulai pengasuh, pengurus, guru, santri dan masyarakat sekitar.

Jika kita keliling komplek Ponpes Lirboyo, dengan sangat mudah menemukan para santri sambil berjalan mulut komat-komit mengahafal pelajaran yang sudah dirangkum dalam bait syair (nadham) dan duduk berdiskusi kelompok di berbagai sudut komplek pesantren. Benar-benar terlihat lingkungan para hamba ilmu yang sudah merasakan manisnya ilmu. Ada tiga metode andalan Ponpes Lirboyo yang sangat terkenal, yaitu metode musyawarah (diskusi), metode bahtsul masail (pemecahan masalah) dan metode sorogan (membaca kitab secara mendetail di depan guru).

Keberhasilan ketiga metode tersebut terbukti dengan ribuan penghafal bait atau syair nadham pelajaran seperti matan Al-fiah ibnu Malik dan Imrithi (Nahwu), Amsilatut Tasrifiyah (Sharaf), Sulam Munawwaraq (Mantiq), Jauhar Maknun (Sastra) dan Munadhamah Baiquniyah (hadis) dan sejumlah disiplin ilmu lain serta mampu memahami dengan mendalam isi kitab kuning. Inilah satu hal yang sangat langka di zaman sekarang. Remaja belasan tahun sudah berilmu dan mampu memahami dengan kitab ulama terdahulu secara mendalam.

Estafet kepemimpinan
Ada yang luar biasa dalam hal melanjutkan estafet kepemimpinan pesantren dengan cara mewajibkan anak para pengasuh pondok untuk mengaji di pondok pesantren atau tetap meneruskan di perguruan tinggi agama Islam. Ketika sudah mempunyai kapasitas yang mumpuni untuk memimpin kelanjutan pesantren, maka anak-anak kiai (Gus) akan membentuk dewan pembina untuk menampung aspirasi anak para kiai agar terhindar perpecahan antarsesama melalui musyawarah, mengedapankan persatuan dan bersikap ikhlas.

Beranjak dari itulah Ketua Dewan Pembina Lirboyo KH. M. Anwar Manshur memberikan kewenangan kepada anak kiai mendirikan unit lembaga otonom dengan manajemen yang berbeda untuk menampung semua aspirasi santri, tuntutan masyarakat serta menjawab kebutuhan zaman dengan syarat tetap mempertahankan kelestarian nilai salafiah dan paham ahlusunnah wal jamaah. Dari itulah lahir pondok terpadu salafiah modern dan Perguruan Tinggi Tribakti dan sejumlah lembaga otonom yang sudah saya singgung di awal.

Kurikulum Lirboyo wujud konkret Kurikulum Berkarakter 2013. Dalam sejarah panjang kurikulum pendidikan Indonesia sudah 12 kali mengalami perubahan sejak 1947 sampai 2013. Setiap ganti Menteri Pendidikan, ganti pula kurikulumnya. Sementara tumbal atau kelinci percobaan penerapan kurikulum adalah siswa yang terdiri dari seluruh generasi Indonesia. Akhirnya sampailah pada 2013 dengan berbagai evaluasi dan riset menyimpulkan, ternyata model kurikulum pendidikan berkarakter sebenarnya sudah diimplimentasikan di pesantren, termasuk di Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Bahkan, lengkap dengan metode ajar modern dengan mengedapankan siswa aktif dan mendidik siswa mandiri. Jadi, tidak salah kalau guru-guru dayah di Aceh, juga menuntut ilmu sampai ke Ponpes Lirboyo.

*) Guru Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Aceh Besar. Peserta Program Magang Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD) Aceh, ke Pesantren di Jawa Timur. Email: [email protected]

Tulisan asli artikel ini bisa dibaca di sini.

Delegasi MQK Kota Kediri Menuju Probolinggo

LirboyoNet, Kediri – Sebanyak 52 orang santri putra-putri dan 9 orang official Delegasi MQK (Musabaqoh Qiro’atul Kutub) Kota Kediri diberangkatkan menuju Pondok Pesantren Nurul Qodim Paiton Probolinggo, untuk mengikuti MQK Tingkat Provinsi Jawa Timur yang dilaksanakan mulai tanggal 09 Mei 2011 hingga 15 Mei 2011.

Dalam cermonial pemberangkatan yang dilaksanakan di Masjid Al-Hasan komplek Pondok Pesantren LIrboyo ini (07/05), hadir pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH. Ahmad Idris Marzuqi dan KH. Imam Yahya Mahrus, Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Kediri beserta staf dan beberapa pengurus Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam sambutan atas nama Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. A. Idris Marzuqi mengatakan “ Silahkan ditata niatnya, bahwa inti dari kegiatan ini adalah mencari Ridlo Allah semata, sehingga perasaan akan lebih tenang,” ujar beliau, lebih lanjut Kyai yang juga Mutasyar PBNU ini mengatakan apapun yang diperoleh nantinya, semua wajib bersyukur, sehingga tidak mempunyai beban apapun.

[ads script=”1″ align=”center”]

Senada dengan Mbah Kyai Idris Marzuqi, KH. Imam Yahya mahrus mengatakan “salah satu tujuan utama penyelenggaraan MQK ini adalah mengangkat kembali nilai-nilai Pesantren yang saat ini mulai pudar,” ujar beliau tegas, selanjutnya Rektor IAIT Tribakti ini juga menambahkan jika pelaksanaan MQK ini sangat banyak hikmahnya, oleh karenanya segenap delegasi Lirboyo diharapkan lebih bersemangat dan giat.

Dalam sambutan atas nama pemerintah Kota Kediri, Kepala Kantor Kementrian Kota Kediri, Haryono Msi mengatakan “Mewakili segenap jajaran Pemerintah Kota Kediri, kami menyampaikan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta dan kami secara khusus menghaturkan terima kasih kepada segenap Kyai yang berkenan hadir memberikan Do’a dan restu,” Ujarnya ramah. Selanjutnya Pak Haryono menambahkan jika seluruh pembiayaan pengiriman delegasi ini, ditanggung sepenuhnya oleh kantor Kementrian Agama Kota Kediri.

Ketua Kafilah (delegasi.red) Pondok Pesantren Lirboyo, Ust. Arif Akbar disela-sela pemberangkatan ketika ditemui Crew Lirboyo.net di Masjid Al-Hasan mengatakan “seluruh delegasi MQK Kota Kediri berasal dari Pondok Pesantren Lirboyo, sehingga kami harus maksimal dalam mempersiapkan semua, termasuk memberikan kursus secara privat dengan metode satu peserta satu pembimbing,” ujarnya.

Salah seorang peserta MQK delegasi Kota Kediri, Abdurahman Auf ketika diwawancarai mengatakan “Secara mental insya Allah saya sudah siap, karena berbagai persiapan yang telah dilakukan,” ujarnya semangat, selanjutnya remaja yang juga Putra KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus ini menambahkan meskipun persiapan yang dilakukan hanya 15 hari, namun dia yakin akan mampu menjawab pertanyaan pada saat pelaksanaan. Seiring dengan jawaban ca’ Aiman (Panggilan akrab Abdurrohman Auf.red) M. Syarif Hakim, peserta pada kategori Ula dengan pelajaran Djurumiyah ini mengatakan “Minta do’a restunya saja, semoga bisa menang,” ujarnya bercanda, remaja putra KH. Anim Falahuddin Mahrus ini menambahkan jika persiapan yang dilakukan sudah prima.rIFF

SEJARAH MADRASAH HIDAYATUL MUBTADIIN (MHM) DAN MA’HAD ALY LIRBOYO

Semenjak didirikannya pada tahun 1910 M oleh KH. Abdul Karim, kegiatan belajar mengajar di Pondok Pesantren Lirboyo dilaksanakan dengan metode pendidikan klasik dalam format pengajian weton sorogan (santri membaca materi pelajaran di hadapan Kiai), dan pengajian bandongan (santri menyimak dan memaknai kitab yang dibaca oleh Kiai).

Seiring bertambahnya jumlah santri dengan usia dan tingkat kemampuan yang berbeda-beda, maka Pondok Pesantren Lirboyo menerapkan sistem pendidikan baru dengan metode klasikal / madrasah (pembagian tingkat belajar). Adalah Jamhari (KH. Abdul Wahab, Kendal Jawa Tengah) dan Syamsi, dua santri senior yang memprakarsai ide pembaharuan sistem belajar di Pondok Pesantren Lirboyo. Ide brilian tersebut lantas mendapat restu dari KH. Abdul Karim sebagai pengasuh, dibuktikan dengan dawuh beliau: “Santri kang durung biso moco lan nulis kudu sekolah.” (Santri yang belum bisa membaca dan menulis wajib sekolah).

Berbekal restu dari Pengasuh, sistem pendidikan madrasah pun mulai dilaksanakan pada tahun 1925 M. yang kemudian dikenal dengan nama Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM). Namun demikian pembaharuan sistem ini tidak serta merta menghapus sistem yang lama. Sistem pengajian weton sorogan dan bandongan pun tetap dilestarikan, bahkan hingga saat sekarang.

Pada tahun-tahun pertamanya, perjalanan MHM bukan tanpa hambatan. Seringkali MHM mengalami jatuh bangun. Syukurnya, selalu ada santri senior yang berjuang melanjutkan langkah MHM meski tertatih. Setelah Jamhari sebagai pembuka, muncul sosok Sanusi, dilanjutkan oleh Syaerozi (Bodrot, Perak, Jombang). Untuk selanjutnya, muncul pula Abdul Malik dan kemudian Muharror (Tegal, Jawa Tengah).

Karena berbagai kendala dan hambatan, usaha mereka untuk melanjutkan langkah MHM pun akhirnya terhenti. Tepat pada tahun 1931 M, MHM mengalami kekosongan (vakum). Barulah pada bulan Muharram 1353 H / tahun 1933 M, atas upaya KH. Abdullah Jauhari (menantu KH. Abdul Karim), K. Kholil (Melikan, Kediri ; selaku Ketua Pondok Lirboyo), dan KH. Faqih Asy’ari (Sumbersari, Pare, Kediri), MHM dibuka kembali diikuti oleh 44 siswa. Sejak itulah MHM melangkah tanpa pernah terhenti hingga sekarang.

Berlaku sebagai Kepala Madrasah (Mudir) saat itu, KH. Faqih Asy’ari yang sekaligus merangkap sebagai mustahiq (pengajar) di MHM. Beberapa mustahiq lain yang memiliki peran aktif dalam memajukan MHM pada generasi ini antara lain; KH. Zamroji (Kencong, Pare), Sholih (Blitar), Hamzah (Tulungagung), Suhadi (Sumbersari, Pare), dan Abdurrahman (Ngoro, Jombang) yang kemudian digantikan oleh Jawahir (Sindang Laut, Cirebon), dan kemudian digantikan oleh Anshori (Cangkring, Malang).

Jenjang pendidikan di MHM saat itu adalah selama 8 tahun dengan dua tingkatan, yakni tiga tahun untuk tingkat Sifir (Persiapan) dan lima tahun untuk tingkat Ibtidaiyyah. Kurikulum pendidikan meliputi ilmu tauhid, tajwid, fiqh, nahwu, sharaf, dan balaghah. Sedangkan standar kitab yang dipergunakan saat itu disesuaikan dengan tiap-tiap tingkatan. Pelajaran tertinggi pada masa itu adalah ilmu balaghah dengan standar kitab al-Jauhar al-Maknun. Kegiatan belajar mengajar MHM dilaksanakan pada pukul 19.00 WIs sampai pukul 23.00 WIs, dibagi menjadi dua jam pelajaran, yakni Hisshoh Ula dan Hisshoh Tsaniyah.

MHM terus mengalami perkembangan meskipun bukan dengan lonjakan yang tajam. Siswa MHM yang semula berjumlah 44, pada tahun berikutnya menjadi 60 siswa, dan pada tahun ke tiga menjadi 70 siswa. MHM terus mengalami peningkatan jumlah siswa pada tahun-tahun berikutnya, dan barulah pada tahun 1936 M, sebagian siswa telah menyelesaikan program belajarnya di MHM meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, hanya berkisar 10 – 12 siswa.

Pada tahun 1942 M, KH. Zamroji menerima amanah sebagai Mudir MHM, menggantikan KH. Faqih Asy’ari. Dalam menjalankan perputaran roda MHM, pada beberapa tahun ini KH. Zamroji dibantu oleh sahabat beliau, yakni KH. Abdul Lathif (Kolak, Ngadiluwih, Kediri). Pada masa ini, kegiatan belajar mengajar di MHM yang semula dilaksanakan di malam hari, dirubah pada siang hari. Hal ini dikarenakan sulitnya mencari bahan bakar untuk penerangan, sebab bertepatan dengan masa penjajahan Jepang di Indonesia. Bahkan, beberapa tahun berikutnya MHM juga mengalami penurunan drastis.  Jumlah siswa yang semula mencapai 300 siswa, kini tinggal 150 siswa. Diantara masa tersebut, pernah pula hanya ada 5 siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan.

Pada tahun 1947 M, MHM melakukan pembaharuan tingkat pendidikan, yang semula adalah Sifir selama 3 tahun dan Ibtidaiyyah selama 5 tahun, kini dirubah menjadi tingkat Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah dengan jenjang pendidikan masing-masing 4 tahun. Kurikulum pelajaran yang dipergunakan pada masa itu masih sama dengan sebelumnya. Pada tahun ini pula, atas gagasan KH. Zamroji, MHM menambahkan satu tingkatan lagi sebagai tingkat penyempurna yang dikenal dengan sebutan tingkat Mu’allimin. Jenjang ini hanya ditempuh selama satu tahun. Sedangkan kitab yang diajarkan pada tingkat ini meliputi Kitab Fathul Wahhab (Fiqh), ‘Uqudul Juman (Balaghah), dan Jam’ul Jawami’ (Ushul Fiqh).

Pada tahun 1947 M KH. Zamroji juga memiliki inisiatif untuk mengadakan forum musyawarah (diskusi) bagi siswa MHM. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pada siswa dalam memahami materi pelajaran, serta mengasah kemampuan mereka dalam berdiskusi. Pada tahap pertama, siswa yang berminat mengikuti musyawarah memang tidak banyak, hanya sekitar 90 siswa. Namun kemudian MHM mewajibkan siswa yang berdomisili di pondok untuk mengikuti musyawarah. Kegiatan musyawarah ini adalah cikal bakal berdirinya Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadiin (M3HM).

Pada tahun 1955 M, MHM mendirikan PPMHM (Persatuan Pelajar Madrasah Hidayatul Mubtadiin) sebagai respon dari perkembangan IPNU di tanah air. PPMHM berdiri sebagai lembaga layaknya OSIS di sekolah umum. Dalam aplikasinya, PPMHM kemudian diberi tugas untuk menangani berjalannya musyawarah di MHM. Ketua PPMHM pertama adalah Agus Ali bin Abu Bakar (Bandar Kidul, Kediri).

Seiring dengan perkembangannya, tepat pada tahun 1958 M PPMHM mengubah namanya menjadi M3HM (Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadiin) yang kala itu diketuai oleh Abdul Ghoni Ali. Mulai tahun ini pula, kepengurusan yang semula dilimpahkan kepada beberapa pengajar MHM, kini diamanahkan kepada beberapa siswa MHM, sedangkan pengajar MHM hanya mendampingi untuk memberikan bimbingan dan arahan.

Berikutnya, pada tahun 1950 M amanah sebagai Mudir MHM diamanahkan kepada Agus Ali bin Abu Bakar (Bandar Kidul, Kediri), dibantu oleh Yasin (Juwet, Prambon, Nganjuk). Pada tahun-tahun ini MHM juga terus melakukan pembenahan dalam berbagai bidang, utamanya pada jenjang pendidikan dan kurikulum pelajaran. Dalam jenjang pendidikan, Jenjang Ibtidaiyyah yang semula ditempuh 4 tahun ditambah menjadi 5 tahun. Sebaliknya, jenjang Tsanawiyyah yang semula 4 tahun dikurangi menjadi 3 tahun. Sedangkan dalam hal kurikulum pelajaran, pembenahan yang dilakukan adalah dengan ditetapkannya pelajaran Ilmu Falak dan Ilmu ‘Arudl sebagai bagian dari kurikulum pendidikan MHM.

MHM terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya, seiring dengan silih bergantinya Mudir MHM pada masa berikutnya. Tercatat dalam sejarah bahwa para Mudir MHM setelah Agus Ali bin Abu Bakar adalah KH. Ali Shodiq (Ngunut, Tulungagung) pada tahun 1958 M. sampai 1964 dan KH. Hafidz Syafi’i (Tlogo, Kanigoro, Blitar) pada tahun 1964 M. sampai 1972 M.

Pada tahun 1975 M, MHM kembali membuat perubahan dengan mendirikan Lembaga Pendidikan baru yang disebut dengan ar-Rabithah. Lembaga yang diresmikan oleh KH. Mahrus Ali ini bukan hanya mengajarkan materi bidang keagamaan, namun juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Hal ini dimaksudkan agar santri memiliki kesiapan penuh untuk hidup di masyarakat yang majemuk. Kendati masih berada di bawah naungan MHM, lembaga Ar-Rabithah diberi hak otonom untuk mengatur dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Namun demikian, sebagai dukungan kepada lembaga ar-Rabithah, MHM menetapkan kebijakan bahwa ijazah MHM tidak dapat diserahkan kepada  siswa sebelum mengenyam pendidikan di lembaga Ar-Rabithah.

Pada dekade ini, MHM juga sempat mengubah jenjang pendidikan tingkat Tsanawiyah yang semula ditempuh selama 3 tahun menjadi 6 tahun. Hal ini dimaksudkan agar ijazah MHM dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Namun, pada tahun 1982 M KH. Mahrus Aly memiliki inisiatif membentuk jenjang baru di MHM, yakni jenjang Aliyah, sehingga pendidikan tingkat Tsanawiyah dikembalikan menjadi 3 tahun. Pada tahun ini pula Lembaga Ar-Rabithah resmi tidak difungsikan lagi seiring dengan lahirnya tingkat Aliyah di MHM.

Sampai di sini, sempurna sudah formula jenjang pendidikan MHM, yakni tingkat Ibtidaiyah 6 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, dan Aliyah 3 tahun. Rangkaian jenjang pendidikan yang diputuskan dalam Sidang Panitia Kecil ini berjalan efektif hingga sekarang.

Pada tanggal 25 Juli 1989 M. menambahkan jenjang persiapan yang disebut dengan tingkat I’dadiyah (Sekolah Persiapan). Jenjang ini dimaksudkan sebagai wadah kegiatan belajar mengajar bagi siswa baru yang datang setelah ditutupnya pendaftaran siswa baru MHM. Jenjang pendidikan di tingkat I’dadiyah terbagi menjadi tiga, yakni I’dadiyah I, I’dadiyah II dan I’dadiyah III.

Ketiga jenjang pendidikan di MHM (Ibtidaiyah – Tsanawiyah – Aliyah), telah mendapatkan Piagam Penyelenggaraan Madrasah Diniyah dari Departemen Agama dengan nomor sebagai berikut:

Tingkat Ibtidaiyyah         : Kd. 13.30/5/PP.00.7/1795/2009

Tingkat Tsanawiyyah       : Kd. 13.30/5/PP.00.7/1850/2009

Tingkat Aliyyah               : Kd. 13.30/5/PP.00.7/1871/2009

Selain itu, pada tahun 2006 untuk tingkat Aliyah, tahun 2015 untuk tingkat Tsanawiyah dan pada tahun 2017 untuk Ibtidaiyah MHM telah mendapatkan Pengakuan Kesetaraan (Muadalah) dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Dan pada tahun 2017 pula, Ma’had Aly Lirboyo telah mendapatkan izin operasional dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Ma’had Aly Lirboyo menyelenggarakan Program Pendidikan Fiqh dan Ushul Fiqh dengan takhassus Fiqh Kebangsaan.

Dengan adanya Pengakuan Kesetaraan ini, maka tamatan tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah MHM sama halnya dengan siswa yang telah menamatkan pendidikan SD/SMP/SMA/sederajat dan lulusan Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula mendapatkan gelar S.Ag. (Sarjana Agama) sebagaimana Mahasiswa Strata Satu (S1). Selain itu, Madrasah Aliyah MHM juga telah mendapatkan pengakuan kesetaraan dengan jenjang pendidikan Aliyah Cairo Mesir, sehingga Ijazah Aliyah MHM dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan perkuliahan di Universitas Al Azhar Cairo Mesir.