Tag Archives: Konsultasi

Kapan saja Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat

Kapan Saja Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya Azizah, ingin bertanya tentang pada waktu kapan saja disunahkan membaca do’a qunut pada waktu sholat?

Admin| Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Do’a Qunut merupakan bacaan yang senantiasa dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika beliau melaksanakan sholat shubuh. Namun, do’a qunut juga dianjurkan dibaca selain shalat subuh, yaitu ketika terjadi sebuah tragedi besar yang menimpa manusia.

Qunut ini dinamakan sebagai qunut nazilah atau qunut petaka. Ketika terjadi sebuah bencana, qunut ini sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk dibaca. Hal ini sebagai wujud rasa kepedulian seorang Muslim kepada saudara seiman ketika sedang ditimpa musibah.

Namun perlu digaris bawahi bahwa bacaan qunut nazilah ini hanya dapat dikerjakan ketika melaksanakan ibadah sholat fardlu saja, tidak pada shaat sunnah.

baca juga: Mengusap Wajah Setelah Qunut
baca juga: Instruksi Qunut Nazilah Untuk Palestina
baca juga: Instruksi Qunut Nazilah Dan Hizib Nashar

Keterangan demikian bisa ditemukan dalam kitab Muhadzzab karya dari imam Abu Ishaq Ibrohim bin ‘Aly bin Yusuf As-Syairozi yang kemudian dikupas secara terperinci dalam kitab Al-Majmu’ Syarkh Muhadzzab sebagaimana berikut:

وَأَمَّا غَيْرُ الصُّبْحِ مِنْ الْفَرَائِضِ فَلَا يُقْنَتُ فيه من غير حاجة فان نزلت بالمسملين نَازِلَةٌ قَنَتُوا فِي جَمِيعِ الْفَرَائِضِ لِمَا رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَقْنُتُ إلَّا أَنْ يَدْعُوَ لِأَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ عَلَى أحد كَانَ إذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمْدَهُ قَالَ ربنا لك الحمد وذكر الدعاء

“Membaca do’a qunut tidak dianjurkan diselain sholat shubuh tanpa ada alasan tertentu, namun disaat terjadi sebuah musibah yang dihadapi oleh orang-orang Muslim, maka dianjurkan untuk membaca do’a qunut dalam semua sholat fardlu sebagaimana riwayat yang berasal dari sahabat Abu Hurairah”

tonton juga: Rahasia Sukses Dunia & Akhirat | KH. Abdullah Kafabihi Mahrus
tonton juga: Prasangka Buruk Salah Satu Penyebab Su’ul khatimah

Kapan Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat
Kapan Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat

Adzan Hayya Alal Jihad

Assalamualaikum Wr. Wb.

Maaf mau bertanya, bagaimana hukumnya mengganti lafal bacaan adzan? Misalkan mengganti bacaan Hayya ‘alas sholat menjadi “Hayya ‘alal jihad seperti video-video yang beredar saat ini. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Abdul Hakim, Bogor)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di media sosial telah beredar video sebuah provokasi untuk jihad. Hal ini dilakukan beberapa kelompok orang melalui seruan adzan dengan mengganti lafal “Hayya ‘alas sholat” (marilah shalat) menjadi “Hayya ‘alal jihad” (marilah berjihad).

Dalam sudut pandang fikih, permasalahan ini mirip dengan tambahan lafal “Hayya ‘ala khairil ‘amal” (marilah melakukan amal terbaik) yang hukumnya makruh serta tergolong perbuatan bid’ah. Sebagaimana Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Al-Minhaj al-Qawim berikut:

وَيُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُبْطِلُ الأَذَانَ بِشَرْطِ أَنْ يَأْتِيَ بِالْحَيْعَلَتَيْنِ أَيْضًا

“Dimakruhkan mengumandangkan Hayya ‘ala khairil ‘amal (marilah melakukan amal terbaik) karena termasuk perbuatan bid’ah. Akan tetapi tadak sampai membatalkan adzan dengan syarat tetap melafalkan Hai’alah dua, yaitu Hayya ‘alas sholah dan Hayya ‘alal falah.” (Al-Minhaj al-Qawim, hal. 83)

Dengan demikian, apabila penambahannya sampai mengganti keberadaan lafal “Hayya ‘alas sholah” dan “Hayya ‘alal falah” tersebut, seperti yang ada dalam video yang beredar, maka dapat berkonsekuensi haram.

Hal ini sesuai dengan keterangan dari Imam Ali Syibramulisi yang
memperkuat penjelasan Imam ar-Ramli:

وَيُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ مَعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ: حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ، فَإِنْ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَصِحَّ
(قَوْلُهُ: فَإِنْ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَصِحَّ) وَالْقِيَاسُ حِينَئِذٍ حُرْمَتُهُ لِأَنَّهُ بِهِ صَارَ مُتَعَاطِيًا لِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ

“Dimakruhkan menambahkan lafal Hayya ‘ala khairil ‘amal bersamaan dengan lafal Hayya ‘alas sholah dan Hayya ‘alal falah. Apabila hanya menggunakan lafal tambahan itu, maka adzannya tidak sah. (Penjelasan) perilaku ini termasuk haram sebab orang tersebut sengaja melakukan ibadah yang rusak.” (Nihayah al-Muhtaj, I/409-410)

Untuk itu, mengubah lafal adzan seperti dalam video yang beredar termasuk perbuatan yang hukumnya haram sebab melakukan amaliah yang tidak memiliki dasar legalitas dari syariat. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
MENJAWAB ADZAN DARI SPEAKER DAN TELEVISI

Dengarkan juga:
Dawuh Masyayikh | Rendah Hati

# ADZAN HAYYA ALAL JIHAD | BAGAIMANAKAH HUKUMNYA?
# ADZAN HAYYA ALAL JIHAD | BAGAIMANAKAH HUKUMNYA?

Kesucian Toilet Umum

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ini merupakan kejadian realita yang sering saya alami ketika akan bersuci di toilet umum yang hanya tersedia air di bak kecil. Terkadang keraguan akan kesucian air membuat saya bingung. Bagaimanakah hukumnya bersuci menggunakan air bak yang ada di toilet umum, memandang kondisinya yang rentan terkena najis? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ab. Fida – Jakarta.

______________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Sebelumnya kami berterima kasih dan mengapresiasi kepada saudara penanya yang telah kritis dengan hukum syariat yang ada di sekitar.

Masyarakat mengakui bahwa toilet merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting. Hal ini dibuktikan dengan ketersediaan toilet di berbagai tempat dan fasilitas umum, seperti SPBU, terminal, stasiun dan lain-lain. Namun sayang, hal ini tidak dibarengi dengan ketersediaan air yang memadai dan  sering tidak ideal untuk digunakan bersuci. Bak air yang berukuran kecil serta posisinya yang rentan akan terkena cipratan najis. Sementara toilet itu terkadang merupakan satu-satunya alternatif sebagai tempat untuk bersuci.

Menaggapi keadaan seperti itu, syekh Zainuddin al-Malibari pernah menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Fathul Mu’in:

قَاعِدَةٌ مُهِمَّةٌ: وَهِيَ أَنَّ مَا أَصْلُهُ الطَّهَارَةُ وَغَلَبَ عَلَى الظَّنِّ تَنَجُّسُهُ لِغَلَبَةِ النَّجَاسَةِ فِيْ مِثْلِهِ فِيْهِ قَوْلَانِ مَعْرُوْفَانِ بِقَوْلَيِ الْأَصْلِ وَالظَّاهِرِ أَوِ الْغَالِبِ أَرْجَحُهُمَا أَنَّهُ طَاهِرٌ عَمَلًا بِالْأَصْلِ الْمُتَيَقَّنِ لِأَنَّهُ أَضْبَطُ مِنَ الْغَالِبِ الْمُخْتَلَفِ بِالْأَحْوَالِ وَالْأَزْمَانِ

Kaidah penting: Adapun setiap perkara yang memiliki hukum asal suci kemudian ada prasangka akan kenajisannya dikarenakan kebiasaan hukum najis pada hal serupa, maka memiliki dua pemilahan hukum yaitu hukum asal dan realita yang sering terjadi. Adapun yang paling unggul di antara keduanya adalah status suci dengan mempertimbangkan hukum asalnya. Karena hukum asal yang didasari keyakinan dianggap lebih kuat dari pada hukum realita yang masih tak menentu sesuai keadaan dan waktu”.[1]

Berdasarkan keterangan tersebut, maka air yang ada di bak dapat digunakan untuk bersuci dengan memandang hukum asal yang diyakininya, yaitu suci. Sedangkan kondisi air yang rentan akan terkena najis masih bersifat praduga tanpa adanya penguat. []waAllahu a’lam

 

_____________________

[1] Hamisy Fathul Mu’in (I/83).

Batasan Memutus Silaturrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang saya hormati, pada saat Idul Fitri kemarin saya belum sempat bersilaturrahim kepada seluruh sanak saudara. Selain terkendala waktu dan tempat, ada beberapa hal lain yang tidak memberi kesempatan kepada saya untuk bersilaturrahim kepada saudara dan teman-teman. Apakah hal tersebut tergolong memutus silaturrahim?. Terimakasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sholihah – Banyuwangi

__________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih kepada ibu Sholihah yang kami hormati.

Silaturrahim (menyambung tali persaudaraan) merupakan salah satu anjuran yang sangat ditekankan dalam agama Islam. Selain dapat mempererat tali persaudaraan sesama manusia, silaturrahim memiliki beberapa keutamaan yang lain, diantaranya ialah melapangkan rizki dan memperpanjang umur.[1] Bahkan di dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW melarang umatnya untuk memutus tali silaturrahim:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali persaudaraan.“ (HR. Muslim)[2]

Namun yang perlu dicermati, sebatas manakah perilaku seseorang itu tergolong sebuah tindakan yang memutus tali persaudaraan. Dalam hal ini, Syekh Muhammad bin Salim dalam kitabnya yang berjudul Is’adur Rofiq menjelaskan demikian:

وَمِنْهَا قَطِيْعَةُ الرَّحِمِ وَاخْتُلِفَ فِي الْمُرَادِ بِهَا فَقِيْلَ يَنْبَغِيْ أَنْ تَخُصَّ بِالْإِسَاءَةِ وَقِيْلَ لَا بَلْ يَنْبَغِيْ أَنْ تَتَعَدَّى اِلَى تَرْكِ الْإِحْسَانِ وَاسْتُوْجِهَ فِي الزَّوَاجِرِ أَنَّ الْمُرَادَ بِهَا قَطْعُ مَا أَلَّفَهُ الْقَرِيْبُ مِنْ سَاِبٍق لِغَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ

Termasuk sebuah kemaksiatan ialah memutus tali persaudaraan. Kategori memutus silaturrahim pun masih dipersilisihkan. Ada yang mengatakan bahwa memutus silaturrahim adalah dengan berbuat jelek. Menurut pendapat lain, memutus silaturrahim adalah meninggalkan perbuatan baik… Pendapat lain dalam kitab Az-Zawajir, bahwa yang dimaksud memutus silaturrahim ialah memutus kebiasaan baik terhadap kerabat tanpa adanya udzur yang dibenarkan syariat.”[3]

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hal-hal yang termasuk memutus silaturrahim adalah berbuat jelek pada kerabat atau tidak berbuat baik pada kerabat serta memutus kebiasaan baik kepada kerabat tanpa adanya udzur (halangan) yang dapat dibenarkan syariat. Sehingga apabila tidak memiliki kesempatan untuk bersilaturrahim kepada kerabat karena keterbatasan waktu, tempat, biaya, ataupun alat komunikasi, maka tidak termasuk kategori perbuatan memutus tali persaudaraan. []waAllahu a’lam

 

 

[1] Shahih Bukhari, III/56, Maktabah Syamilah.

[2] Shahih Muslim, hadis nomor 2556.

[3] Is’adur Rofiq, II/117.

Dzikir Pengiring Jenazah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudara admin yang saya hormati, saya ingin bertanya tentang adat istiadat yang berlaku di daerah saya, yang mungkin ini juga berlaku di sebagian besar wilayah di Nusantara.

Kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat ialah membaca dzikir dengan suara keras ketika mengiringi jenazah menuju persemayaman terakhir. Bagaimanakah fiqih menanggapi hal itu? Apakah tidak bertentangan dengan kesunnahan untuk bertafakkur tentang kematian di saat ada orang meninggal dunia?. Terimakasih untuk jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ach. Faizal – Buduran, Sidoarjo.

_______________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi disebutkan :

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُونَ رَفْعَ الصَّوْتِ عِنْدَ الْجَنَائِزِ وَعِنْدَ الْقِتَالِ وَعِنْدَ الذِّكْرِ

Para Sahabat Rasulullah SAW tidak menyukai mengeraskan suara di samping jenazah, ketika perang, dan ketika dzikir.”[1]

Atas dasar hadis itu, para ulama telah sepakat bahwa hukum beramai-ramai di samping jenazah adalah makruh. Segala bentuk kegaduhan dan keramaian tetap dihukumi makruh, tak terkecuali bacaan al-Qur’an, dzikir, atau bacaan sholawat.[2] Karena memang yang disunnahkan dalam keadaan itu adalah bertafakkur tentang ihwal kematian atau hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana keterangan yang diungkapkan oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya, Nihayah az-Zain :

وَيُكْرَهُ اللَّغَطُ فِي الْجَنَازَةِ بَلِ الْمُسْتَحَبُّ التَّفَكُّرُ فِي الْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ قَالَ الْقُلْيُوْبِيْ وَيُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الْمُدَابِغِيْ وَهَذَا بِاِعْتِبَارِ مَا كَانَ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ وَأَمَّا الْآنَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

Dimakruhkan beramai-ramai di samping jenazah. Karena yang disunnahkan ialah bertafakkur tentang kematian dan kejadian-kejadian setelahnya. Imam al-Qulyubi berkata: Bahkan dimakruhkan mengeraskan bacaan al-Qur’an, bacaan dzikir, dan bacaan sholawat kepada baginda Nabi SAW. Imam al-Mudabighi berkata: Hukum ini hanya berlaku di masa-masa awal Islam, adapun di masa sekarang maka hukumnya tidak apa-apa karena yang demikian itu merupakan syiar terhadap peristiwa kematian.”[3]

Meskipun hukumnya demikian, di sebagian besar daerah memiliki kebiasaan melantunkan dzikir semisal bacaan “Laa ilaha illallah” ketika mengiringi jenazah dengan suara yang begitu keras. Menanggapi persoalan itu, secara bijaksana Imam Ibnu ‘Allan dalam kitabnya, al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, menjelaskan :

فَالَّذِي اخْتَارَهُ أَنَّ شُغْلَ أِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ الْمُؤّدِّيْ إِلَى تَرْكِ الْكَلَامِ وَتَقْلِيْلِهِ أَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِي الْكَلَامِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَابًا لِأَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ كَمَا هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ

Adapun pendapat yang dipilih ialah sebagai berikut: Sesungguhnya menyibukkan pengiring jenazah dengan bacaan dzikir yang dapat menjauhkan mereka dari pembicaraan masalah dunia itu lebih utama dari pada membiarkan mereka membicarakan masalah duniawi. Pendapat ini merupakan bentuk alternatif yang mengambil resiko lebih kecil, sebagaimana kaidah syariat yang lain.”[4]

Dalam keterangan yang dikutip dari pendapat Imam Ibnu Ziyad tersebut, imam Ibnu ‘Allan sepakat dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa anjuran saat mengiringi jenazah ialah diam dan bertafakkur tentang kematian. Namun melihat realita di masyarakat saat ini hampir dipastikan apabila mereka dianjurkan untuk diam maka yang dilakukan bukanlah tafakkur, justru akan melakukan perbincangan yang tidak bermanfaat apabila tidak tersibukkan dengan bacaan-bacaan dzikir. Maka dari itu, menganjurkan mereka dengan bacaan dzikir adalah suatu langkah alternatif terbaik daripada melakukan kemungkaran yang lebih besar.

Pendapat itu juga memberikan pelajaran berharga kepada kita, bahwa dalam memberikan solusi permasalahan keagamaan di tengah-tengah masyarakat tidak hanya dituntut memahami teks hukum secara tekstual. Namun memahami seluk-beluk keadaan masyarakat dengan melalui pendekatan maslahat sangat dibutuhkan demi terciptanya kebaikan untuk semua pihak. Sekian. []waAllahu a’lam

________

Referensi:

[1] As-Sunan al-Kubro li al-Baihaqi, IV/124.

[2] Hasyiyah al-jamal ‘ala al-Manhaj, II/168.

[3] Nihayah az-Zain, hlm 153, cet. Al-Haromain

[4] al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, IV/183.