Tag Archives: Konsultasi

Kesucian Toilet Umum

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ini merupakan kejadian realita yang sering saya alami ketika akan bersuci di toilet umum yang hanya tersedia air di bak kecil. Terkadang keraguan akan kesucian air membuat saya bingung. Bagaimanakah hukumnya bersuci menggunakan air bak yang ada di toilet umum, memandang kondisinya yang rentan terkena najis? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ab. Fida – Jakarta.

______________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Sebelumnya kami berterima kasih dan mengapresiasi kepada saudara penanya yang telah kritis dengan hukum syariat yang ada di sekitar.

Masyarakat mengakui bahwa toilet merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting. Hal ini dibuktikan dengan ketersediaan toilet di berbagai tempat dan fasilitas umum, seperti SPBU, terminal, stasiun dan lain-lain. Namun sayang, hal ini tidak dibarengi dengan ketersediaan air yang memadai dan  sering tidak ideal untuk digunakan bersuci. Bak air yang berukuran kecil serta posisinya yang rentan akan terkena cipratan najis. Sementara toilet itu terkadang merupakan satu-satunya alternatif sebagai tempat untuk bersuci.

Menaggapi keadaan seperti itu, syekh Zainuddin al-Malibari pernah menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Fathul Mu’in:

قَاعِدَةٌ مُهِمَّةٌ: وَهِيَ أَنَّ مَا أَصْلُهُ الطَّهَارَةُ وَغَلَبَ عَلَى الظَّنِّ تَنَجُّسُهُ لِغَلَبَةِ النَّجَاسَةِ فِيْ مِثْلِهِ فِيْهِ قَوْلَانِ مَعْرُوْفَانِ بِقَوْلَيِ الْأَصْلِ وَالظَّاهِرِ أَوِ الْغَالِبِ أَرْجَحُهُمَا أَنَّهُ طَاهِرٌ عَمَلًا بِالْأَصْلِ الْمُتَيَقَّنِ لِأَنَّهُ أَضْبَطُ مِنَ الْغَالِبِ الْمُخْتَلَفِ بِالْأَحْوَالِ وَالْأَزْمَانِ

Kaidah penting: Adapun setiap perkara yang memiliki hukum asal suci kemudian ada prasangka akan kenajisannya dikarenakan kebiasaan hukum najis pada hal serupa, maka memiliki dua pemilahan hukum yaitu hukum asal dan realita yang sering terjadi. Adapun yang paling unggul di antara keduanya adalah status suci dengan mempertimbangkan hukum asalnya. Karena hukum asal yang didasari keyakinan dianggap lebih kuat dari pada hukum realita yang masih tak menentu sesuai keadaan dan waktu”.[1]

Berdasarkan keterangan tersebut, maka air yang ada di bak dapat digunakan untuk bersuci dengan memandang hukum asal yang diyakininya, yaitu suci. Sedangkan kondisi air yang rentan akan terkena najis masih bersifat praduga tanpa adanya penguat. []waAllahu a’lam

 

_____________________

[1] Hamisy Fathul Mu’in (I/83).

Batasan Memutus Silaturrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang saya hormati, pada saat Idul Fitri kemarin saya belum sempat bersilaturrahim kepada seluruh sanak saudara. Selain terkendala waktu dan tempat, ada beberapa hal lain yang tidak memberi kesempatan kepada saya untuk bersilaturrahim kepada saudara dan teman-teman. Apakah hal tersebut tergolong memutus silaturrahim?. Terimakasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sholihah – Banyuwangi

__________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih kepada ibu Sholihah yang kami hormati.

Silaturrahim (menyambung tali persaudaraan) merupakan salah satu anjuran yang sangat ditekankan dalam agama Islam. Selain dapat mempererat tali persaudaraan sesama manusia, silaturrahim memiliki beberapa keutamaan yang lain, diantaranya ialah melapangkan rizki dan memperpanjang umur.[1] Bahkan di dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW melarang umatnya untuk memutus tali silaturrahim:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ

Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali persaudaraan.“ (HR. Muslim)[2]

Namun yang perlu dicermati, sebatas manakah perilaku seseorang itu tergolong sebuah tindakan yang memutus tali persaudaraan. Dalam hal ini, Syekh Muhammad bin Salim dalam kitabnya yang berjudul Is’adur Rofiq menjelaskan demikian:

وَمِنْهَا قَطِيْعَةُ الرَّحِمِ وَاخْتُلِفَ فِي الْمُرَادِ بِهَا فَقِيْلَ يَنْبَغِيْ أَنْ تَخُصَّ بِالْإِسَاءَةِ وَقِيْلَ لَا بَلْ يَنْبَغِيْ أَنْ تَتَعَدَّى اِلَى تَرْكِ الْإِحْسَانِ وَاسْتُوْجِهَ فِي الزَّوَاجِرِ أَنَّ الْمُرَادَ بِهَا قَطْعُ مَا أَلَّفَهُ الْقَرِيْبُ مِنْ سَاِبٍق لِغَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ

Termasuk sebuah kemaksiatan ialah memutus tali persaudaraan. Kategori memutus silaturrahim pun masih dipersilisihkan. Ada yang mengatakan bahwa memutus silaturrahim adalah dengan berbuat jelek. Menurut pendapat lain, memutus silaturrahim adalah meninggalkan perbuatan baik… Pendapat lain dalam kitab Az-Zawajir, bahwa yang dimaksud memutus silaturrahim ialah memutus kebiasaan baik terhadap kerabat tanpa adanya udzur yang dibenarkan syariat.”[3]

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hal-hal yang termasuk memutus silaturrahim adalah berbuat jelek pada kerabat atau tidak berbuat baik pada kerabat serta memutus kebiasaan baik kepada kerabat tanpa adanya udzur (halangan) yang dapat dibenarkan syariat. Sehingga apabila tidak memiliki kesempatan untuk bersilaturrahim kepada kerabat karena keterbatasan waktu, tempat, biaya, ataupun alat komunikasi, maka tidak termasuk kategori perbuatan memutus tali persaudaraan. []waAllahu a’lam

 

 

[1] Shahih Bukhari, III/56, Maktabah Syamilah.

[2] Shahih Muslim, hadis nomor 2556.

[3] Is’adur Rofiq, II/117.

Dzikir Pengiring Jenazah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudara admin yang saya hormati, saya ingin bertanya tentang adat istiadat yang berlaku di daerah saya, yang mungkin ini juga berlaku di sebagian besar wilayah di Nusantara.

Kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat ialah membaca dzikir dengan suara keras ketika mengiringi jenazah menuju persemayaman terakhir. Bagaimanakah fiqih menanggapi hal itu? Apakah tidak bertentangan dengan kesunnahan untuk bertafakkur tentang kematian di saat ada orang meninggal dunia?. Terimakasih untuk jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ach. Faizal – Buduran, Sidoarjo.

_______________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi disebutkan :

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُونَ رَفْعَ الصَّوْتِ عِنْدَ الْجَنَائِزِ وَعِنْدَ الْقِتَالِ وَعِنْدَ الذِّكْرِ

Para Sahabat Rasulullah SAW tidak menyukai mengeraskan suara di samping jenazah, ketika perang, dan ketika dzikir.”[1]

Atas dasar hadis itu, para ulama telah sepakat bahwa hukum beramai-ramai di samping jenazah adalah makruh. Segala bentuk kegaduhan dan keramaian tetap dihukumi makruh, tak terkecuali bacaan al-Qur’an, dzikir, atau bacaan sholawat.[2] Karena memang yang disunnahkan dalam keadaan itu adalah bertafakkur tentang ihwal kematian atau hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana keterangan yang diungkapkan oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya, Nihayah az-Zain :

وَيُكْرَهُ اللَّغَطُ فِي الْجَنَازَةِ بَلِ الْمُسْتَحَبُّ التَّفَكُّرُ فِي الْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ قَالَ الْقُلْيُوْبِيْ وَيُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الْمُدَابِغِيْ وَهَذَا بِاِعْتِبَارِ مَا كَانَ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ وَأَمَّا الْآنَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

Dimakruhkan beramai-ramai di samping jenazah. Karena yang disunnahkan ialah bertafakkur tentang kematian dan kejadian-kejadian setelahnya. Imam al-Qulyubi berkata: Bahkan dimakruhkan mengeraskan bacaan al-Qur’an, bacaan dzikir, dan bacaan sholawat kepada baginda Nabi SAW. Imam al-Mudabighi berkata: Hukum ini hanya berlaku di masa-masa awal Islam, adapun di masa sekarang maka hukumnya tidak apa-apa karena yang demikian itu merupakan syiar terhadap peristiwa kematian.”[3]

Meskipun hukumnya demikian, di sebagian besar daerah memiliki kebiasaan melantunkan dzikir semisal bacaan “Laa ilaha illallah” ketika mengiringi jenazah dengan suara yang begitu keras. Menanggapi persoalan itu, secara bijaksana Imam Ibnu ‘Allan dalam kitabnya, al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, menjelaskan :

فَالَّذِي اخْتَارَهُ أَنَّ شُغْلَ أِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ الْمُؤّدِّيْ إِلَى تَرْكِ الْكَلَامِ وَتَقْلِيْلِهِ أَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِي الْكَلَامِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَابًا لِأَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ كَمَا هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ

Adapun pendapat yang dipilih ialah sebagai berikut: Sesungguhnya menyibukkan pengiring jenazah dengan bacaan dzikir yang dapat menjauhkan mereka dari pembicaraan masalah dunia itu lebih utama dari pada membiarkan mereka membicarakan masalah duniawi. Pendapat ini merupakan bentuk alternatif yang mengambil resiko lebih kecil, sebagaimana kaidah syariat yang lain.”[4]

Dalam keterangan yang dikutip dari pendapat Imam Ibnu Ziyad tersebut, imam Ibnu ‘Allan sepakat dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa anjuran saat mengiringi jenazah ialah diam dan bertafakkur tentang kematian. Namun melihat realita di masyarakat saat ini hampir dipastikan apabila mereka dianjurkan untuk diam maka yang dilakukan bukanlah tafakkur, justru akan melakukan perbincangan yang tidak bermanfaat apabila tidak tersibukkan dengan bacaan-bacaan dzikir. Maka dari itu, menganjurkan mereka dengan bacaan dzikir adalah suatu langkah alternatif terbaik daripada melakukan kemungkaran yang lebih besar.

Pendapat itu juga memberikan pelajaran berharga kepada kita, bahwa dalam memberikan solusi permasalahan keagamaan di tengah-tengah masyarakat tidak hanya dituntut memahami teks hukum secara tekstual. Namun memahami seluk-beluk keadaan masyarakat dengan melalui pendekatan maslahat sangat dibutuhkan demi terciptanya kebaikan untuk semua pihak. Sekian. []waAllahu a’lam

________

Referensi:

[1] As-Sunan al-Kubro li al-Baihaqi, IV/124.

[2] Hasyiyah al-jamal ‘ala al-Manhaj, II/168.

[3] Nihayah az-Zain, hlm 153, cet. Al-Haromain

[4] al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, IV/183.

Sajadah Masjid Sebagai Garis Shof

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Untuk menertibkan barisan shof salat, di masing-masing masjid memiliki inisiatif yang berbeda. Sebagian daerah ada yang menggunakan karpet panjang masjid yang bergambar sajadah. Ada juga yang tanpa karpet namun dengan menggunakan mengecat keramik sebagai pertanda shof.

Yang menjadi pertanyaan di benak saya, cukupkah karpet bergambar sajadah dan garis shaf di masjid sebagai penghalang (sutroh) memandang hal itu telah menyebabkan orang sungkan lewat di depannya?, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

(Lailil A., Cililitan-Jakarta)

________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Keberadaan masjid yang tumbuh bak cendawan di musim hujan telah mengilhami para produsen untuk meluncurkan produk-produk khas masjid. Tak terkecuali karpet yang telah menjadi kebutuhan primer. Agar lebih bernuansa ibadah, karpet mode masjid telah didesain sedemikian rupa sehingga mirip dengan beberapa sajadah yang menyatu, lengkap dengan ukuran press body (satu gambar sajadah untuk satu orang). Sementara itu, sebagian masjid lain lebih memilih opsi lain dengan memberi garis shaf di lantai baik berbentuk garis dengan cat ataupun keramik yang sengaja dibedakan warnanya.

Di sisi lain, dalam bab shalat dikenal konsep sutroh sebagai penanda hak musholli.[1] Di sana dijelaskan, salah satu wujud sutroh adalah dengan memakai sajadah ataupun membuat garis di lantai.[2] Bagaimanapun juga, sutroh tak lebih hanya sebagai penanda mana lokasi yang merupakan wilayah ‘kekuasaan’ musholli sehingga dapat mencegah orang yang hendak lewat di depannya. Secara aturan, panjang sutroh tidak lebih dari tiga dziro’ terhitung dari ujung jari kaki musholli (menurut pendapat al-Aujah).[3]

Mengenai hukum karpet bergambar sajadah dan garis shaf di masjid dapat dikategorikan sebagai penghalang (sutroh). Dengan syarat apabila menurut penilaian atau pandangan umum (‘urf) sudah bisa digunakan sebagai batas wilayah sholat untuk mencegah orang lewat di depannya, serta sudah bisa digunakan untuk membedakan tempat sujud dari tempat lain. Sebagaimana ungkapan imam ar-Romli dalam kitabnya, Nihayatul Muhtaj:

وَلَيْسَ مِنَ السُّتْرَةِ الشَّرْعِيَّةِ مَا لَوِ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَاسْتَنَدَ فِيْ وُقُوْفِهِ إِلَى جِدَارٍ عَنْ يَمِيْنِهِ أَوْ يَسَارِهِ فِيْمَا يَظْهَرُ  لِأَنَّهُ لَا يُعَدُّ سُتْرَةً عُرْفًا

Tidak termasuk Sutroh secara syariat adalah ketika seorang yang shalat bersandar pada tembok yang ada di sebelah kanan atau kirinya. Karena hal tersebut tidak dianggap sebagai Sutroh menurut pandangan umum (‘Urf)”.[4]

Namun masih ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan dalam permasalahan ini, yakni seringnya pengguna karpet tersebut berdiri sesuai dengan lebar garis samping sehingga terjadi renggangnya barisan maka sebaiknya tetap merapatkan barisan dan tidak terikat garis samping.[5] Selain itu, dianjurkan penggunaan karpet yang tidak bergambar, karena akan berpotensi mengganggu kekhusyuan sholat.[6] []waAllahu a’lam

 

 _________________

Referensi:

[1] Hasyiyah at-Tarmasi, II/402.

[2] Syarah ‘Umdah al-Ahkam, I/337.

[3] Tuhfah al-Muhtaj, II/158.

[4] Nihayatul Muhtaj, V/98.

[5] Al-Hawi li al-Fatawa, I/143.

[6] Ianah at-Thalibin, I/190.

 

Promo Akhir Tahun

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang terhormat, sudah kita ketahui bersama bahwa menjelang libur natal dan akhir tahun seperti saat ini merupakan kesempatan emas bagi para pelaku usaha untuk memikat para konsumen. Salah satu strategi pemasaran yang dirasa pas untuk momentum tersebut adalah dengan menggelar diskon (potongan harga) besar-besaran. Berbagai pusat perbelanjaan, supermarket, swalayan, bahkan Online shopping tak melewatkan kesempatan emas ini.

Keadaan tersebut menimbulkan pertanyaan, bagaimana hukum menggelar diskon pada momen natal dan akhir tahun?. Apakah tergolong merayakan hari raya non muslim?. Terimakasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Imamatul H, -Surabaya.

_____

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Momentum natal dan tahun baru merupakan kesempatan berharga bagi para pelaku usaha untuk mendongkrak penjualan dengan menggelar berbagai macam strategi, salah satunya yang sering kita temui adalah memotong harga penjualan atau yang sering disebut diskon.

Menanggapi hal tersebut, syariat membaginya ke dalam tiga perincian:

Pertama, jika komoditas barang yang dijual berhubungan dengan syiar non muslim, maka hurumnya haram. Bahkan dapat berakibat kufur apabila memiliki tujuan berpartisipasi dalam merayakan hari raya mereka.

Kedua, jika komoditas barang yang dijual tidak berhubungan dengan syiar non muslim namun memiliki motif menyemarakkan hari raya mereka, maka hukumnya haram.

Ketiga, jika komoditas barang yang dijual tidak berhubungan dengan syiar non muslim dan tidak ada tujuan sebagaimana di atas, maka diperbolehkan.

Dari tiga perincin tersebut, sudah dapat diketahui bagaimana sikap syariat yang disesuaikan dengan tujuan, praktek, dan dampak yang dihasilkan oleh kegiatan pelaku usaha tersebut. Keterangan tersebut sesuai dengan penjelasan Ibnu Hajar Al-Haitamy dalam kitabnya, Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro, yang mengutip pendapat Ibnu Al-Haj.

Yang perlu digarisbawahi, diskon pada dasarnya bukan hanya ada saat natal dan akhir tahun. Momentum-momentum hari besar Islam seperti hari raya Idul Fitri atau hari kemerdekaan juga sering dijumpai diskon. Dari sini sudah jelas bahwa hal tersebut bukanlah syiar hari raya non muslim.

Adapun hukum membeli bagi para masyarakat yang menjadi konsumen dalam momentum tersebut dapat diperbolehkan selama tidak ada tujuan mengagungkan hari raya non muslim atau rela dengan kekufuran mereka.[] waAllahu a’lam

 

Referensi:

Tafsir Al-Munir, I/94, Maktabah Syamilah.

Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro, IV/239, cet. Darul Fikr.

Is’adur Rofiq, II/50, cet. Al-Hidayah.