Tag Archives: Kunjungan

Study Banding Penguatan Ulama/Pengasuh PP. Purworejo di Lirboyo

Lirboyonet, Kediri– pagi ini Sabtu (18/11) beliau KH. M. Anwar Manshur duduk didepan para kiyai dan umara dari Purworejo, hal tersebut merupakan sambutan dari beliau menyambut para tamu dari Purworejo.

Para kiyai dari Purworejo menjadi tamu Ponpes Lirboyo pagi ini, tujuan kedatangan mereka untuk bersilaturrahmi dan mengadakan study banding penguatan ulama/pengasuh pp. purworejo.

Penyambutan kunjungan tersebut bertempat di Serambi Masjid Lirboyo dan KH. M. Anwar Manshur selaku pengasuh Ponpes. Lirboyo hadir untuk memberikan Mauidoh dalam acara tersebut.

Beliau KH. M. Anwar Manshur menceritakan tentang lirboyo yang sederhana dan begitu hebatnya pendiri Ponoes Lirboyo yakni KH. Abdul Karim, bagaimana tirakat beliau dan mempengnya beliau dalam belajar.

KH. M. Anwar Manshur juga berpesan agar kitab salaf tidak hilang dalam ajaran Pondok Pesantren, karena kitab salaf merupakan identitas Pondok Pesantren.

Kunjungan Ponpes Wasilatul Huda Bandung Dalam Balutan Study Banding

Lirboyonet, Kediri“Pondok Lirboyo yang didirikan pada tahun 1910 M. Ini ketika mendengar namanya yang begitu menggaung di luar pondok sangatlah wah, akan tetapi jika sudah masuk pondoknya, beginilah Pondok Pesantren Lirboyo dengan kesederhanaannya,” sambut Bpk. M. Maftuch Sayidun yang mewakili pimpinan pondok kepada tamu dari Ponpes Wasilatul Huda dari Bandung.

Pagi tadi, Selasa (17/10/2017) Ponpes Lirboyo mendapat kunjungan dari Ponpes Wasilatul Huda yang bertujuan untuk Study Banding. Mereka ingin mengetahui teknis mengapa Lirboyo bisa eksis sampai beberapa tahun dari zaman berdirinya sampai sekarang ini. Mereka juga ingin tahu bagaimana kurikulum Lirboyo yang mampu membentuk santri bisa mengharumkan nama Lirboyo.

Penyambutan kunjungan dari Ponpes Wasilatul Huda bertempat di gedung rusunawa dengan mengadakan tanya jawab yang diwakili oleh Bpk. Maftuch Sayidun bersama Mudier Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) yang diwakili oleh Bpk. Irfan Zidni.

Acara yang dipimpin oleh Bpk. M. Mutamakkin Saifuddin selaku Kasie Sie. Penerangan & Pendidikan itu diawali dari sambutan tamu yang menginginkan untuk mengetahui tentang Ponpes Lirboyo, mereka mengakui bahwa sanad keilmuan mereka juga dari sini karena guru mereka KH. Hasan Amiruddin merupakan alumni Lirboyo.

Dari percakapan yang panjang lebar itu para tamu begitu antusias untuk mendengarkan teknis-teknis Lirboyo baik dari sistem pondok dan sistem madrasah, diantaranya mengenai struktur yang ada di pondok bahwa di dalam struktur pondok terdapat BPK yang merupakan lembaga tertinggi di Ponpes Lirboyo yang disana beranggotakan dzuriyyah Ponpes Lirboyo.

Menurut penuturan Bpk. Irfan Zidni dalam penyambutan tadi “bahwa kesuksesan Ponpes Lirboyo dalam mencetak santri yang berguna salah satunya adalah keterikatan batin antara pengajar dan siswa, karena di lirboyo pengajar akan mengikuti siswanya ketika naik tingkatan, dengan seperti itu akan muncul ikatan batin”.

“Begitu juga dengan musyawaroh yang diterapkan oleh MHM dalam membentuk santri yang berguna, karena dengan musyawaroh santri akan terlatih mental dan penyampaiaanya ketika nanti sudah masuk dunia luar pesantren,” imbuh Bpk. Maftuch Sayidun.

Dari beberbagai penanya ada salah satu ibu-ibu ingin tahu bagaimana riyadoh yang dilakukan oleh santri Lirboyo. “karena kesuksesan yang ada tersebut tidak akan terlepas dari riyadoh-riydoh yang dilakukan muasis dan para santri” tutur ibu tersebut.

“bahwasanya dalam riyadoh yang ditekankan oleh masyayikh kepada santri hanyalah mempeng akan tetapi untuk pengajar seyogyanya menjalani riyadoh-riayadoh khusus seperti ngrowot, dan lain-lain.”

Acara diakhiri dengan penyerahan cindera mata dan foto bersama.

Al-Habib Umar bin Zain bin Smith Temui Santri

LirboyoNet, Kediri. Kemarin (03/05) Pondok Pesantren Lirboyo kembali kedatangan tamu istimewa. Beliau adalah Al-Habib Umar bin Zain bin Ibrahim bin Smith dari kota Madinah Al-Munawwaroh. Beliau sendiri merupakan putra Al-Habib Zain bin Smith Ba’lawi, salah seorang habaib nusantara dan pengarang kitab Al-Manhaj Al-Sawi yang kemudian berhijrah ke kota Madinah Al-Munawwaroh.

Beliau beserta rombongan meluangkan waktu untuk menyapa para santri di serambi masjid Lawang Songo. Cukup banyak santri yang belum pulang dan bertatap muka dengan Al-Habib kemarin. Para santri dengan  antusias menyambut tamu agung ini, mereka sampai rela duduk berdesakan di serambi masjid. Khusyuk, para santri mencatat satu demi satu wejangan-wejangan yang diberikan oleh Al-Habib.

Dalam kunjungan singkat ini, beliau menyampaikan banyak nasihat dan petuah. “Kita niat berada di perkumpulan seperti ini karena ilmu. Karena Rasul SAW. Beliau yang menjadi sebab akan terkumpulnya kita di tempat yang berkah ini.” Tutur beliau melalui seorang penerjemah.

Al-Habib Umar bin Zain bin Smith berkali-kali mengingatkan mengenai keutamaan ikhlas dalam mencari ilmu. “Kalianlah (para santri-Red) yang tengah ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Oleh sebab itu saya mengajak kalian, untuk tidak mencari ilmu karena dunia, tidak mencari ilmu kecuali dengan dibarengi amal. Karena ilmu akan tetap ada dengan diamalkan.” Kata beliau. “Yang harus kita jadikan pedoman, bahwa karena hakikat ilmu ini, mereka para nabi dan rasul telah diutus ke dunia ini. Mereka diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan ilmu.“ Tambah Al-Habib.

Pagi kemarin, beliau juga membuka sedikit diskusi dan pertanyaan. “Bagaimana caranya agar seorang penuntut ilmu bisa tetap memiliki semangat hingga akhir hayat?” tanya seorang santri yang hadir.

Mereka para ulama hingga usia delapan puluh tahun, semangat mereka dalam belajar masih sama seperti para pemuda.” Terang Al-Habib, “karena mereka tahu, bahwasanya harganya ilmu begitu mulia disisi Allah dan Rasulnya. Dan mereka punya tanggung jawab menyebarkan ilmu kepada masyarakat, agar masyarakat tahu tentang hakikat syari’at Allah SWT dan sunnah-sunnah Rasul SAW.”  Pungkas beliau.

Lirboyo sering menerima kunjungan tamu-tamu besar dari berbagai daerah. Biasanya, selain bersilaturahim ke ndalem, para tamu tersebut juga menyapa para santri. Seperti Al-Habib Syekh bin Abdul Qadir As-Segaf belum lama ini, dan Al-Habib Ali Zainal Abidin dari Malaysia, beberapa waktu silam.[]

Duta Besar Inggris Kunjungi Lirboyo

LirboyoNet, -Kediri. Indonesia menjadi salah satu “kiblat” bagi negara-negara lain yang dihuni komunitas warga muslim. Tidak hanya berjaya dalam hal kuantitas, Indonesia juga dikagumi karena sukses memerangi radikalisme. Indonesia sukses menangkal isu global ini dengan metode yang kini coba dipelajari oleh negara lain.

Kemarin, duta besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, beserta direktur British Council Indonesia, Paul Smith datang berkunjung ke Ponpes Lirboyo. British Council sendiri merupakan organisasi internasional asal Inggris, yang menawarkan kesempatan pendidikan dan hubungan budaya.

Pagi tadi (26/04), bertempat di Kantor Muktamar Ponpes Lirboyo, beliau berdua beserta rombongan menyapa para santri, serta menyempatkan berdiskusi secara langsung dengan mereka. Beliau berdua mendiskusikan tentang banyak hal, terutama menyangkut ekstrimisme, radikalisme, dan beberapa masalah viral lain, seperti ancaman media sosial, dan pujian atas prestasi keberhasilan Indonesia dalam menangkal isu-isu tersebut.

“Dibandingkan dengan negara lain, banyak yang bisa dipelajari dari pengalaman Indonesia.” Tutur Moazzam yang ternyata juga fasih berbahasa indonesia, “Saya baru dua setengah tahun di Indonesia, tapi yang saya lihat, Indonesia jauh lebih berhasi megendalikan resiko ekstrimisme.”

Kedatangan dubes Inggris ini juga sebagai momen menjalin kerjasama, dan memperkuat tali persatuan dalam menghadapi berbagai ancaman global. Karena mustahil ada bangsa yang sanggup melawan  masalah berskala global seorang diri. Butuh kerjasama dari negara lain, agar tercipta pula kerukunan. Sebagai catatan tersendiri, Moazzam Malik menjadi dubes muslim pertama Kerajaan Inggris untuk Indonesia.

“Karena negara kami sadar atas potensi Indonesia, kami berusaha untuk mempererat hubungan, agar kami bisa mendukung proses pembangunan indonesia.” Ungkap Moazzam, “Salah satu kepentingan masa depan yang penting sekali adalah keamanan dan kerukunan, karena kalau tidak ada kerukunan, kesejahteraan kita semua pasti akan dirugikan.” Imbuhnya.

Keberhasilan Indonesia dimata dunia memang sudah diakui, Indonesia memiliki cara-cara sendiri yang unik untuk menghindari segala bentuk dan upaya perusakan identitas bangsa. Utamanya dalam mempertahankan persatuan dan keutuhan umat islam. Tentu saja, sebagai bangsa dengan penganut umat islam terbesar, tidak mudah menjaga persatuan. Tapi indonesia mampu membuktikan hal tersebut. Salah satu caranya  melalui adanya lembaga-lembaga pendidikan islam, seperti pesantren. Itu salah satu yang dibidik Kedutaan Inggris, menjalin keharmonisan dengan komunitas pendidikan berbasis islam.

“Harapan saya adalah melalui kerjasama antara lembaga-lembaga muslim di inggris dan lembaga-lembaga muslim di indonesia. Umat muslim di Inggris bisa melihat contoh yang lebih damai, lebih maju, lebih rukun, daripada negara-negara asalnya.” Kata Moazzam. “Saya mau berbagi pengalaman saya di sini, dengan umat muslim di Inggris agar mereka bisa diinspirasikan oleh contoh Indonesia. Kami bisa menjaga kerukunan negara kami dimasa depan.”

Sebelumnya, rombongan sudah terlebih dahulu sowan ke ndalem untuk bertemu langsung dengan pengasuh Ponpes Lirboyo, KH. M. Anwar Manshur. Dengan ramah Kiai Anwar menyambut tamu beliau yang beragama islam ini. Beberapa dialog singkat tentang bagaimana sebenarnya agama islam yang sejati diangkat. Bukan islam dengan wajah radikal seperti yang sekarang kencang berhembus.

“Kami hanya mengulangi apa yang disampaikan oleh KH. Anwar Manshur, bahwa Ponpes Lirboyo siap menjalin hubungan dengan kedubes Inggris, menjalin hubungan dari sisi pendidikan, menjalin hubungan untuk keharmonisan Indonesia dan dunia.” Pungkas Agus Reza Ahmad Zahid sebelum menutup acara pagi tadi.[]

Berlibur ke Lirboyo

Belajar bisa ditempuh dengan cara apa saja, waktu kapan saja. Lihat saja apa yang kami lakukan. Kami berasal dari Pondok Pesantren Roudlotul Muta’abbidin, Lamongan Jawa Timur. Di akhir tahun 2016 ini (31/12), kami memilih menghabiskan waktu liburan untuk menikmati gerimis Lirboyo.

Kami yang terdiri dari puluhan santri putri turun satu per satu dari bus, tepat di depan gerbang Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM). Seragam yang kami pakai, tas yang kami jinjing, serasa menunjukkan keinginan kami yang besar untuk mengetahui rahasia belajar santri Lirboyo.

Kami tak mau membuang-buang kesempatan. Tanpa istirahat, dengan hanya disela helaan nafas, kami berkumpul di Aula P3HM untuk membuka kegiatan kunjungan kami ini. Pengurus pondok yang hadir siang itu, memberikan kami beberapa keterangan ringan terkait P3HM. Tentu saja agar kami, 36 santri dadakan ini merasa lebih dekat dengan Lirboyo.

Tak berselang lama, dengan ditemani dua pembimbing, kami segera mengikuti salah satu jadwal harian santri P3HM di siang hari. Yakni, pengajian kitab tafsir Jalalain setelah jamaah salat dhuhur. Kitab ini dibacakan langsung oleh sang pengasuh yang kami kagumi, KH. M. Anwar Manshur.  Kami memang tidak membawa kitab tafsir. Namun hanya dengan mendengarkan bacaan beliau saja hati kami adem, sejuk, tentram. Kami yakin, itu adalah pancaran yang keluar dari kealiman dan ketawadhuan beliau. Kesempatan kami untuk bersuka dengan pengajian beliau siang itu tak lama, hanya sekitar setengah jam. Tapi, siapa mengelak kalau itu adalah salah satu momen paling berharga yang bisa didapatkan? Terutama bagi kami, santri-santri kecil ini?

Sore hari adalah waktu yang padat bagi santri Mubtadi-aat. Di waktu ini, kami dapat melihat bagaimana aktivitas berjalan di luar kegiatan belajar. Sejatinya, di waktu itu pula kami bisa merasakan atmosfir pesantren sebenarnya. Bagaimana mereka menjalani keseharian. Memenuhi keperluan insaniyah mereka. Tidak begitu berbeda dengan kami sebenarnya. Hanya, mungkin berkah kebersahajaan para pendiri dan pengasuh menjadikan pondok ini beraura sejuk dan menenangkan. Entah bagaimana pola kesejukan itu bekerja.

Kami sengaja menepikan lelah. Ini adalah kesempatan kami satu-satunya. Karena meski kunjungan dari pesantren kami ini berulang setiap tahun, masing-masing dari kami hanya mendapat satu kali kesempatan. Di tahun berikutnya, giliran adik kelas kami yang menimba ilmu di sini nantinya.

Dan the only chance ini kami tak ingin melewatkannya dengan berleha-leha. Bada isya, kami mengikuti jam wajib belajar. Kabarnya, sistem wajib belajar ini juga diberlakukan di pondok putra, yang berada di barat pondok putri ini. Menurut kawan-kawan baru, wajib belajar ini adalah ajang diskusi interaktif antar teman sekelas. Jika di sekolah diskusi berlangsung dengan guru, dan musyawarah dilangsungkan dengan beberapa sistem dan banyak peserta, di wajib belajar ini santri berdiskusi dengan lebih dalam lagi. Di samping karena sudah mendapat bekal di sekolah dan musyawarah, jumlah peserta yang lebih kecil membuat diskusi lebih intens, dan bahasan masalah dapat diperoleh lebih dalam.

Pada akhirnya, kondisi tubuhlah yang berbicara. Kebetulan, pengurus memberi tahu kami bahwa sudah tidak ada kegiatan selepas pukul sembilan malam, saat wajib belajar berakhir. Kami harus istirahat, karena di pagi hari, setelah subuh, kami mendapat ilmu baru dari kawan-kawan Mubtadi-aat: menggunakan mukenah yang sah dan sesuai kutubus salaf.

Sepertinya sederhana, tinggal mengerubungi tubuh dengan kain putih panjang. Ternyata, ada yang belum disadari bahwa terdapat hal-hal kecil yang bisa mempengaruhi keabsahan salat kami. Misalnya, memakai mukena potongan. Yang terlihat, memang sudah cukup untuk menutup seluruh aurat. Namun ketika kita gunakan untuk salat, takbir misalnya, aurat kita, baik sebagian maupun seluruh bagian lengan kita akan terlihat dari bawah. Sementara, syariat menuntut untuk tertutupnya aurat dari penglihatan dari seluruh arah, atas-bawah, depan-belakang, kanan-kiri.

Dan ilmu-ilmu kami semakin bertambah ketika setelahnya kami dipersilahkan untuk ikut sekolah pagi. Di sini kami melihat dialog yang sangat cair antara guru dengan para siswa. Candaan sering digulirkan, tanpa mengurangi fokus pembahasan pelajaran.

Bagi kami, suguhan ilmu di pesantren ini melimpah ruah. Di ruang kelas, di aula, di serambi-serambi kecil kamar, ilmu –ilmu itu tersebar. Pada akhirnya, kami hanya bisa ber-tamanni, ilmu-ilmu itu dapat kami tangkup dan terkumpul di gelas kecil kami. Harapan yang lucu dan aneh, mengingat kami mengenyamnya hanya sehari semalam. Bahkan, untuk menyimpan nasehat beliau, Romo Yai Anwar, gelas kami masih terlalu kecil. Dari beberapa tetes yang tertangkup itu, satu yang paling kami ingat, “kalian mondok itu bukan untuk diri sendiri, tapi untuk masyarakat. Biarpun yang membiayai orangtua kalian, yang membutuhkan peran kalian adalah masyarakat.”

Terima kasih Lirboyo. Sungguh liburan yang menyenangkan.