Tag Archives: Lajnah Bahtsul Masail

Apa Kabar Musyawarah Fathul Qarib Lirboyo

LirboyoNet, Kediri. Dengan dimulainya kembali seluruh aktifitas Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo (LBM P2L), dimulai pula seluruh kegiatan ekstra kulikuler penunjang, seperti musyawarah Fathul Qarib perdana yang kamis kemarin malam (11/08) dimulai. Selain musyawarah Fathul Qarib, juga dilaksanakan musyawarah kitab Al-Mahalli yang sedianya di agendakan setiap malam ahad.

Pembukaan musyawarah Fathul Qorib kemarin berlangsung dengan suasana penuh semangat. Antusiasme santri, terutama siswa yang baru menginjak kelas satu tsanawiyyah tahun ini seolah tak terbendung. Ratusan jumlahnya memenuhi gedung LBM P2L guna berpartisipasi meramaikan musyawarah. Bahkan banyak dari peserta yang terpaksa harus duduk di emperan dan teras gedung karena auditorium sudah tidak mampu lagi menampung jumlah peserta musyawarah. Mereka yang bisa masuk, harus rela duduk berdesak-desakan di dalam gedung. Awal tahun pelajaran ini, musyawarah Fathul Qorib materinya dimulai lagi dari awal, “Kitab Ahkâm Thohârah”. Sebagai catatan, akhir tahun pelajaran kemarin, materi musyawarah telah mencapai bab terakhir dan selesai. Khatamanpun dihadiri oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. Musyawarah dimulai sekitar pukul 23.00 WIs (Waktu Istiwa’) hingga pukul 02.00 WIs lebih. Agus HM. Sa’id Ridhwan, salah satu dewan rois LBM P2L kurang lebih menyampaikan pada pembukaan tadi malam, “Tidaklah pesantren salaf dibangun kecuali mencintai ilmu.” Beliau mengeluhkan, “Banyak orang yang cinta ilmunya saja. Syari’atnya saja” Dalam artian, kebanyakan pencari ilmu kurang membagi kecintaan mereka terhadap shôhibus syâri’at (Dalam konteks ini adalah Nabi Muhammad SAW.), dan justru hanya senang mempelajari syari’atnya saja. Akibatnya, mereka kurang memperhatikan amaliyah dan tidak begitu mementingkan ibadahnya. Kemudian timbulah perasaan kurang ikhlas dalam bertaqarrub dan “penyakit-penyakit” lainnya. “Kalau mencari ilmu kita ekspresikan sebagai cinta kepada Nabi, itu merupakan afdholil maulid” kata beliau mengutip maqolah seorang ulama.

Musyawarah Fathal Qorib merupakan tradisi yang sudah bergulir sejak bertahun-tahun silam. Tradisi ini terus dilestarikan hingga sekarang. Di Lirboyo, musyawarah Fathal Qorib merupakan salah satu ajang yang paling bergengsi bagi setiap angkatan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien mulai tingkat Tsanawiyyah hingga ‘Aliyyah. Disinilah setiap angkatan menunjukkan kesiapan dan kematangan mereka dalam beradu argumen. Sehari sebelum musyawarah dilaksanakan, sudah menjadi adat kalau setiap angkatan mengadakan Pra Fathul Qarib. Semacam musyawarah dengan cakupan peserta yang lebih intern demi mempersiapkan materi yang hendak dibahas di gedung LBM P2L. Persiapan menjadi  lebih matang lagi karena biasanya dua hari sebelum musyawarah Pra Fathul Qorib dilakukan musyawarah lagi. Musyawarah ini biasanya dikoordinir oleh pengurus tiap-tiap Himpunan Pelajar santri atau yang sejenis. Anggotanyapun hanya terbatas pada santri-santri di tiap-tiap daerahnya masing-masing. Persiapan yang bisa memakan waktu hingga berhari-hari dengan referensi dari berbagai kitab komentar (Syarah) dan catatan pinggir (Hasyiyah) ini tentu membuat pembahasan musyawarah Fathul Qorib menjadi semakin dalam. Bahkan tidak hanya sekedar membawa referensi standar sebagai bahan acuan bermusyawarah, tak jarang peserta juga menampilkan kitab-kitab yang tergolong besar dan sulit, seperti Majmu’ dan Al-Hâwi Al-Kabîr yang tebalnya puluhan jilid. Pembahsan materi dilakukan pelan-pelan. Sekali pertemuan, biasanya hanya mampu membahas satu fasal atau bahkan setengan fasal saja.

Musyawarah dipandu oleh seorang rois pembaca yang bertugas membacakan materi, dan seorang moderator yang bertugas memimpin jalannya musyawarah. Dewan perumus dan dewan rois LBM P2L juga hadir turut menjadi pengarah. Beliau-beliaulah yang nantinya mendapatkan mendapat bagian akhir untuk menyimpulkan hasil pembahasan, serta melengkapi beberapa kekurangan yang belum sempat terbahas. “Tujun LBM dibangun, untuk mencetak kader yang handal. Setaraf disebut al-‘alim dan al-faqih” kata Agus HM. Sa’id Ridhwan.[]

Lajnah Bahtsul Masail Buka Aktivitas Kembali

LirboyoNet, Kediri. Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM P2L) sebagai semacam badan otonom yang bertanggung jawab dalam mengurusi acara-acara terkait bahtsul masail dan musyawarah, kemarin (05/08) resmi membuka seluruh aktifitasnya. Pembukaan ini dihadiri oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, Rois ‘Am LBM, dan beberapa dewan rois LBM P2L. Acara yang berlangsung ba’da salat jumat ini diikuti dan disaksikan juga oleh ratusan santri. Mereka memenuhi auditorium gedung LBM hingga ujung paling belakang.

Dalam sambutannya, beliau Agus H. Ibrahim A. Hafidz kurang lebih menyampaikan “Pada dasarnya LBM adalah lajnah yang bertanggung jawab untuk menyediakan fasilitas yang membuat santri yang ada di Lirboyo untuk mencapai tingkat tertinggi dalam keilmuan.” Sebenarnya tidak hanya fokus dalam hal berahtsul masail dan musyawarah saja, gedung auditorium LBM juga memiliki perpustakaan yang menampung ratusan, bahkan ribuan judul kitab. “Saat ini, saya yakin faslitas kitab yang kita miliki sudah lebih dari cukup, dan tinggal dimanfaatkan.” Kata beliau. Sebagai catatan, LBM P2L hanya menyediakan rujukan berbahasa Arab, baik dari ulama klasik atau kontemporer yang berakidah ahlussunnah wal jama’ah. LBM tidak menyediakan bacaan-bacaan berbentuk buku-buku, karya ilmiah atau bahkan berbentuk semacam majalah, seperti yangdisediakan pondok-pondok pesantren lain. Tujuannya sederhana, agar santri bisa lebih konsentrasi untuk terbiasa belajar langsung dari referensi-referensi kutu­bus salaf al-mu’tabaroh. Beliau Cak Bram (panggilan akrab Agus H. Ibrahim A. Hafidz), menceritakan pengalaman beliau berkunjung ke pondok pesantren salaf lain yang memajang juga referensi buku-buku dan majalah di perpustakaannya, yang terjadi justru santri yang berkunjung ke perpustakaan tersebut menjadi kurang berminat terhadap kitab-kitab klasik dan lebih memilih membaca buku-buku modern. Mengantisipasi hal seperti ini, LBM P2L melarang buku-buku dan majalah masuk ke rak perpustakaannya.

Dalam perkembangannya, sekarang LBM juga mengadakan aktifitas-aktifitas tambahan penunjang lain, seperti sorogan membaca kitab kuning kosongan (tanpa makna gandul ala pesantren), pengajian-pengajian bandongan, dan kuliah ushul fiqh yang langsung dipandu oleh seorang alumnus PP. Lirboyo dan salah satu dewan perumus di PWNU Jawa Timur, KH. Azizi Hasbullah. Semua itu tentu saja upaya mencetak generasi mutakhorijin santri Lirboyo yang bermutu. “(Agar) muncul santri yang berkualitas unggul dalam pemahaman agama dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekarang. ” tutur Cak Bram.

Dalam mau’idhotul hasanah, secara singkat KH. Abdullah Kafabihi Mahrus mendukung apa yang disampaikan oleh Cak Bram tadi, beliau juga menambahkan jika aktifitas keilmuan adalah aktifitas yang ringan dilakukan bagi para santri, namun memilik nilai ibadah yang tak kalah besar dengan qiyamul lail dan ibadah-ibadah lainnya. “Ngaji adalah ibadah yang dilakukan mudah, tapi pahalanya banyak. Sekarang siapa orang yang mampu salat seribu rakaat?” Ini mengingatkan kita tentang hadis Rasulillah SAW, jika menghadiri majlis ilmu nilai pahalanya sama dengan salat hingga seribu rakaat. “Santri supaya memprioritaskan ibadah yang ada hubungannya dengan ilmu.” Tambah beliau.

Dengan ketukan tiga kali dari beliau, kemarin seluruh aktifitas LBMpun resmi dibuka. Kita menantikan, hasil-hasil musyawarah dan bahtsul masail yang tentunya amat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.[]