Tag Archives: LIM

HBH Lembaga Ittihadul Muballighin: Meneguhkan Ruh Dakwah

LirboyoNet, -Kediri. Setelah bulan Ramadhan lalu mengemban amanah sebagai “talang” para masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo di masyarakat awam, para delegasi safari Ramadhan pondok pesantren Lirboyo kemarin dikumpulkan untuk sambung silaturahim dalam acara halal bi halal Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM).

Dalam acara yang bertempat di Aula an-Nahdhoh tersebut, ribuan orang bersatu padu dalam riuh rendah suasana ramah tamah. Ramadhan kemarin, Lembaga Ittihadul Muballighin pusat tak kurang memberangkatkan sekitar seribu lima ratus orang delegasi yang dikirim ke berbagai pelosok daerah untuk menegakkan panji-panji dakwah. Dengan titik utama sasaran dakwah masyarakat yang masih awam dalam bidang agama, para delegasi dituntut harus bisa “mencair” dan menyampaikan materi dakwah dengan cara yang kreatif dan mudah diterima.

Berbagai pengalaman delegasi kemarin sempat dibagikan, Badruttamam, salah satu delegasi asal Purworejo mengungkapkan, bahkan ada salah satu delegasi yang menetap disana hingga tiba malam takbiran. Padahal, tugas dari Lembaga Ittihadul Muballighin hanya sampai malam ke-24 Ramadhan. “Bahkan ada delegasi yang ‘ketinggalan’ dan krasan disana sampai hari raya karena di masjid yang ditempati tidak ada imamnya. Jadi, imam yang biasanya mengimami justru ‘mengundurkan diri’.” Ungkap Badruttamam. Ada juga delegasi yang mendapat jatah berdakwah di tempat yang muslimnya masih minoritas. Bahkan lokasi dakwah yang hanya bisa dijangkau dengan perahu.

Tujuan diadakan safari dakwah Ramadhan ini memang untuk melatih mental dan karakter santri. Agar nantinya jika sudah langsung terjun ke masyarakat selepas menamatkan pendidikan di pondok sudah memiliki pengalaman bergaul dengan masyarakat. Seperti yang dulu pernah dipesankan oleh al-Maghfurlah KH. A. Idris Marzuqi, bahwa tujuan utama safari Ramadhan adalah bermasyarakat.

“Tujuannya adalah menanamkan ruh dakwah kepada sampean. Karena santri adalah penerusnya Rasulullah.” Ungkap Ust. Hadi Lukman Hakim, salah satu dewan pengajar Ma’had Ali Lirboyo. “Jadi sekarang kita sedang mengalami krisis ruh dakwah. Karena sekarang dakwah sering mengedepankan kekerasan.” Tambah beliau.[]

Muallafnya Warga Pasuruan saat Safari Ramadan

LirboyoNet, Pasuruan—Selasa (30/05) lalu, keluarga besar Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM), khususnya LIM cabang Pasuruan dilanda kebahagiaan. Pasalnya, kegiatan Safari Ramadan di daerah mereka mendapat hadiah berupa kemauan beberapa warganya untuk masuk agama Islam.

Ada dua perempuan paruh baya yang mengucapkan syahadat pertamanya malam itu. Dengan disaksikan oleh imam masjid, dan delegasi Safari Ramadan, keduanya dengan mantap meyakinkan diri mereka dan hadirin bahwa mereka benar-benar ingin menjadi pribadi yang muslim dan taat.

Keduanya adalah warga kecamatan Tosari. Masyarakat di daerah ini memang sangat minim pengetahuannya akan agama Islam. Dari data panitia Safari Ramadan, orang-orang Islam di daerah itu bukanlah mereka yang terdidik agama sejak dini. Justru mayoritas dari mereka baru mengenal Islam setelah dewasa. Pada akhirnya, meskipun mereka telah memeluk agama Islam, jiwa dan prilaku mereka masih kering akan nilai-nilai Islam. Karenanya, dinilai oleh panitia safari, sangat perlu mendatangi daerah ini dan menjadikannya sebagai lahan dakwah 31 santri Lirboyo.

Secara total, Safari Ramadan daerah Pasuruan dilaksanakan di dua kecamatan, yakni Tosari dan Puspo. Ada delapan belas titik dakwah yang tersebar di dua kecamatan itu.][

Safari Dakwah Rutinan

LirboyoNet, Kediri- Setiap kamis sore, puluhan santri tingkat Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadiien yang mendapat giliran disebar di berbagai pelosok di wilayah  Kediri. Kegiatan tersebut merupakan program safari dakwah rutinan yang diselenggarakan oleh Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Pondok Pesantren Lirboyo.

Tidak kurang dari 22 titik yang tersebar di wilayah Kediri yang menjadi tempat mereka berdakwah, baik yang ada di surau, masjid, ataupun rumah-rumah penduduk setempat. Adapun agenda kegiatan dakwah yang mereka lakukan begitu beragam, mulai dari  membantu mengajar TPQ, mengimami shalat maktubah, memimpin pengajian rutinan, tahlilan, yasinan, dan sebagainya.

Salah satu contoh adalah kegiatan safari dakwah rutinan yang dilakukan di Desa Kalipang, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Desa yang secara geografis terletak di sebelah utara gunung Klotok ini, setiap malam Jum’at selalu kehadiran delegasi safari dakwah rutinan. Kegiatan yang diselenggarakan adalah majelis ta’lim dan tahlil yang dilaksanakan secara bergantian dari rumah kerumah.

Menurut pemaparan bapak Malik Sofi kemarin (23/02), mediator di Desa Kalipang, kegiatan safari dakwah rutinan tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat. Pasalnya, desa yang  masih minim pengetahuan agamanya tersebut sangat memerlukan adanya penyuluhan-penyuluhan keagamaan seperti yang telah dilaksanakan oleh Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Lirboyo. “Alhamdulillah, kami sebagai masyarakat di sini sangat senang sekali dan merasa terbantu dengan adanya delegasi safari dakwah rutinan dari Ponpes Lirboyo, karena dari merekalah kami bisa belajar banyak dan bertanya masalah-masalah yang masih belum kami ketahui,” tegasnya.

Beliau juga berharap, hendaknya kegiatan seperti ini untuk selalu dipertahankan bahkan kalau bisa ditingkatkan lagi. Mengingat antusiasme masyarakat yang begitu baik dan kemanfaatan yang bisa diperoleh baik bagi delegasi itu sendiri maupun masyarakat pada umumnya, kegiatan semacam ini sepatutnya untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak dan dijadikan prioritas utama dalam menjalankan misi suci sebagai generasi penerus yang selalu konsisten mensyiarkan agama Islam. []

Bekali Delegasi Sebelum Berangkat Safari

LirboyoNet, Kediri – Salah satu program penting tahunan pondok adalah safari dakwah. Program yang digiatkan ini bertujuan sebagai media syiar Islam dan praktek lapangan bagi santri untuk belajar bermasyarakat secara langsung. Program ini sendiri diwajibkan menjelang mereka lulus dari Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Tepatnya, ketika para santri menginjak jenjang kelas dua Aliyah. Namun juga tidak sebaku itu, program ini bersifat terbuka, dalam artian, semua santri yang masih berdomisili di pondok tetap boleh dan berhak ikut. Baik dikoordinir oleh Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) daerah masing-masing, atau melalui LIM pusat.

Realisasi safari dakwah memang masih lama, bulan Ramadhan yang akan datang. Namun persiapan yang matang mutlak perlu dan tetap harus dilakukan sedini mungkin, agar delegasi yang nantinya dikirim benar-benar siap menjawab tantangan di medan safari.

Kemarin (14/02), sebelum terjun ke lapangan, Pimpinan Pusat Lembaga Ittihadul Muballighin menggelar diklat dan pembekalan safari dakwah. Tutornya Ust. Ma’rifatus Sholihin dari Blitar. Beliau merupakan alumnus Ponpes Lirboyo tahun 2004. Beliau memiliki riwayat mengajar di Ponpes Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo semenjak beliau tamat, hingga tahun 2010 lalu. Beliau juga dikenal sebagai salah satu dai yang aktif di kawasan Blitar, Jawa Timur.

Banyak sebenarnya hal tak terduga yang mewarnai agenda safari dakwah. Delegasi tidak bisa menebak-nebak masyarakat seperti apakah yang nantinya akan mereka hadapi. Tidak hanya masyarakat yang plural; beda aliran, beda ras, beda adat, bahkan beda agama. Tapi juga  kondisi dan budaya yang berbeda harus benar-benar siap dipahami oleh setiap delegasi. Beliau, Ust. Ma’riatus Sholihin mencontohkan kondisi masyarakat yang sama juga terjadi pada era walisongo. Namun para aulia tanah Jawa tersebut mampu membaca situasi masyarakat yang ada, hingga akhirnya mereka mudah merangkul masyarakat. “Para walisongo piawai sekali. Mereka tidak memakai Alquran, tidak memakai hadis, tapi memakai lagu-lagu”. Ungkap beliau.

Memang juga tidak bisa kita paksakan kepada masyarakat, untuk segera menerima perubahan. Meskipun perubahan itu juga berarti kebenaran. Mengubah tatanan masyarakat secara frontal justru akan lebih banyak punya potensi kegagalan. Dalam arti, dakwah harus dilakukan bertahap. Mengambil hati masyarakat terlebih dahulu, baru setelah mereka terpikat, naik tingkatan. “(Masyarakat dibuat) seneng disek, baru dilakukan tahap selanjutnya”. Kata Ustadz yang dijuluki Pak Dalang, karena kepiawaianya menguasai panggung itu. “Kalau kita bisa menyatu bersama masyarakat, mereka akan suka dan ilmunya akan mudah (diterima).

Peserta dan delegasi yang hadir tampak sepakat saat diberikan banyak pemahaman-pemahaman baru untuk meraih strategi dakwah secara maksimal. Tentunya memang butuh terjun langsung, namun setidaknya pengalaman dari senior juga cukup membantu.  Seperti saat delegasi dihimbau untuk tidak sembarangan dalam “berfatwa”. Menjawab problematika yang bergulir di masyarakat jelas butuh kejelian. “Proporsional dalam memberikan solusi, sebab masing-masing individu butuh solusi yang berbeda”, jelas Ustadz yang juga aktif sebagai dewan harian LIM Blitar ini. Kadang, setiap pertanyaan yang muncul tidak selamanya bersifat ingin tahu, kadang sifatnya menjebak, kadang juga hanya sebatas mengetes. Disitulah kepekaan delegasi diuji. Manakah pertanyaan yang harus dijawab dengan detail, mana yang harus dijawab dengan guyonan, dan mana yang tidak harus dijawab, namun dialihkan menuju pembahasan lain.

Sampai menjelang maghrib, ratusan peserta tetap setia menyimak materi yang disampaikan. Hingga acara selesai sekitar pukul 17.00 WIB. Para delegasi kembali ke kamar masing-masing dengan kesiapan yang cukup untuk menghadapi safari dakwah.

Ballighû ‘annî walau âyatan, sampaikanlah apa yang kalian dengar dariku (Nabi Muhammad SAW) meskipun hanya satu ayat. Diharapkan muncul generasi-generasi yang tetap tabah dan ikhlas berdakwah, sebab andai kata dulu Nabi Muhammad SAW dan generasi setelahnya tidak berdakwah, agama Islam mungkin saja tidak akan bisa tersebar sampai sebesar ini.[]

Silaturahim IASS Sidogiri dan HIMASAL Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Seusai salat Jumat kemarin (13/01), keluarga Pondok Pesantren Lirboyo menyambut kedatangan tamu para pengurus pusat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) di Kantor Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo.

Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL), dengan Kiai Kafabihi sebagai Ketua Umum dan Kiai Atho’illah sebagai Sekretaris Umum, membuka acara dengan menunjukkan program-program yang telah disusun oleh HIMASAL. Baik dalam bidang dakwah, pendidikan, organisasi, hingga ekonomi. Khusus dakwah, Ponpes Lirboyo dengan dukungan HIMASAL telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia. “LIM (Lajnah Ittihadul Muballighin, sebuah wadah bagi para pendakwah, -red) Lirboyo telah mempunyai 63 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini yang memudahkan kita untuk nasyrul ‘ilmi (menebar ilmu),” terang beliau.

Setelah itu, IASS juga mengungkapkan beberapa perihal yang telah dicanangkan oleh organisasi mereka. Dari sistem dan program yang dimiliki oleh masing-masing organisasi inilah, muncul harapan untuk dapat bersinergi dan saling mendukung satu sama lain. Sehingga ke depannya, kerjasama yang berkelanjutan ini akan menumbuhkan benih-benih mashlahah yang dapat dituai oleh masyarakat.

Dalam kesempatan itu juga ditandatangani suatu MoU (memorandum of understanding/ nota kesepahaman) terkait sebuah kerjasama penting: saling memperkuat posisi dalam mensyiarkan dan membentengi ideologi Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah di Indonesia. Hal ini dinilai urgen, memandang semakin maraknya ideologi-ideologi di luar ideologi ini, yang menjangkiti dan merusak tatanan masyarakat, baik dalam ranah aktivitas intelektual, lebih-lebih sosial.
Kedua organisasi alumni ini sama-sama meyakinkan diri untuk terus berusaha agar silaturahim ini dapat berjalan secara istiqamah, sehingga apa yang telah menjadi tujuan bersama bisa diperjuangkan dengan baik.][