Tag Archives: Madrasah

Membangun Gedung Baru, MHM Memanjatkan Harapan Baru

LirboyoNet, Kediri – Rabu sore kemarin (01/03), beberapa dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo berdoa bersama di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM) lantai bawah. Dengan ditemani beberapa pengurus MHM, mulai dari mudier hingga para sekretaris, KH. Nurul Huda Ahmad memimpin tahlil untuk mengawali sebuah pembangunan gedung baru.

Bangunan ini akan difungsikan sebagai gedung MHM. “Wacana pembangunan ini sebenarnya telah ada sejak lama. Namun baru tahun-tahun ini pembangunan ini dirasa urgen untuk segera direalisasikan,” ujar Fahrurrozi, salah satu pengurus MHM. Rencananya, gedung MHM akan bersandingan dengan aula LBM.

Para pengurus Madrasah berharap, dengan pembangunan ini, hal-hal yang kurang terakomodasi oleh gedung MHM sekarang dapat disempurnakan oleh bangunan yang baru nanti. Seperti kebutuhan akan ruang yang luas untuk persidangan-persidangan, dan lain-lain.

Setelah berdoa bersama, dilakukanlah seremoni peletakan batu pertama oleh KH. Nurul Huda Ahmad dan Mudier ‘Am, KH. Atho’illah S. Anwar, dan beberapa dzuriyah yang ikut hadir sore itu.][

Siswa Tiga Aliyah Siap Berkhidmah

LirboyoNet, Kediri—Khidmah adalah proses penempaan diri untuk membentuk karakter santri sebelum akhirnya betul-betul pulang dan bertempat di sekeliling masyarakat. Begitulah kira-kira apa yang disampaikan ustadz Thohari Muslim, pemateri Diklat Khidmah dan Mengajar yang diselenggarakan Kamis (02/02) kemarin.

Di awal materi, ustadz Thohari mengingatkan bahwa program wajib khidmah ini adalah kesempatan mulia yang diberikan oleh pesantren kepada para santri. “Jangan malah ngersulo (resah). Lihat mustahiq (guru) sampean. Mereka bertahan tidak hanya setahun, tapi sampai lima tahun, sembilan tahun.” Dengan berkhidmah dan mengajar, santri akan mempunyai kesempatan untuk menutupi kekurangan yang ada. “Sederhananya, mengajar itu belajar lagi,” jelas beliau.

Tidak ada kamus minder dalam berkhidmah. KH. Marzuqi Dahlan, atau Kiai Juki, sendiri telah mewanti-wanti santri untuk tetap mendedikasikan diri dalam proses ajar-mengajar, di manapun. “Isone alif ba ta yo diulangne alif ba ta, iso Sullam yo diulangne Sullam, (bisanya alif ba ta ya diajarkan alif ba ta, bisanya Sullam (kemungkinan besar kitab Sullam Taufiq, ­-Red) ya diajarkan Sullam), ungkap beliau menirukan maqalah Kiai Juki.

Tentu perjalanan khidmah nanti tidak bisa semulus yang dibayangkan. Akan ada halangan-halangan yang tidak diprediksi. Beliau memberi misal, “waktunya mengajar, ternyata ada undangan tahlilan di tetangga. Ini tidak bisa kita kukuh mengajar. (jika begitu) Akan dikucilkan masyarakat. Mengajar juga tidak bisa disampingkan. Lalu bagaimana? Titik tengahnya, tetaplah mengajar, meskipun sebaris. Setelahnya, baru hadiri undangan.” Dengan begitu, kita tidak meninggalkan tanggungjawab sebagai pengajar, juga tetap memiliki hubungan baik dengan masyarakat sekitar.

Acara sore itu adalah salah satu hajat dari tiga lembaga inti dalam naungan ponpes Lirboyo, yakni Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM), Pondok Pesantren Lirboyo (P2L), dan Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM). Tujuannya, materi-materi yang disampaikan akan dapat menjadi bekal bagi para siswa kelas III Aliyah untuk menghadapi program wajib khidmah. Sehingga, mereka akan lebih siap dalam menerima tugas khidmah nanti.

Selain ustadz Thohari Muslim, acara yang digelar di Aula Al-Muktamar ini juga mendatangkan tutor lain, ustadz Zahrowardi, yang sama-sama alumni ponpes Lirboyo, dan telah mendapat peran penting di tengah masyarakat.

Beliau lebih dulu memberitahu para peserta bahwa afât (penyakit) yang paling berat kala berkhidmah nanti adalah hubbul jâh (cinta kedudukan) dan hubbul mâl (gila harta). “Ini yang nanti akan menjadi fitnah bagi kita,” tuturnya.

“Namun yang pasti, dalam bermasyarakat, jangan sampai menolak permintaan mereka. seberat apapun,” lanjutnya. Beliau memberi alasan, jika sekali saja permintaan itu ditolak, akan menutup peluang berperan di tengah-tengah mereka. Selain itu, beliau juga berpesan untuk menambah pengetahuan tentang kondisi dan lembaga-organisasi yang sedang berjalan, “pahamilah Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah, bukan sekedar jamaah. Struktural, tidak hanya kultural.” Karena dengan terjun dalam organisasi, atau paling tidak mengetahui gerak-geriknya, akan dapat membantu kita untuk menentukan langkah dalam berkhidmah.][

Sejarah Baru: Pemberangkatan Guru Bantu

LirboyoNet, Kediri – Sejarah baru tertoreh di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM), Sabtu (30/07). Untuk pertama kalinya, Pondok Pesantren Lirboyo secara resmi menebar santri-santrinya. Mereka ditugaskan untuk berkhidmah. Ratusan daerah menjadi titik tujuan. Bagi beberapa pesantren maupun madrasah, bisa jadi para santri yang mereka minta ini menjadi berkah. Bagi para santri, program wajib khidmah ini menjadi ajang untuk mengharapkan barokah.

Sebenarnya, keputusan untuk membuka diri bagi pesantren dan madrasah luar untuk meminta guru bantu, baru diketok palu bulan Rabiul Awal lalu. “Setelah itu, (para pengurus) rapat secara maraton. Kita cari formula terbaik bagaimana program ini bisa berjalan. Alhamdulillah, akhirnya bisa terlaksana di tahun ini juga,” papar KH. Atho’illah Sholahudin Anwar pagi itu.

Ada banyak pertimbangan dalam memutuskan hal ini. Diantaranya, santri yang tidak mempunyai tanggungjawab khidmah, baik di pondok maupun sekolah, seringkali terlihat resah. Eman sekali jika potensi mereka yang mereka miliki tidak disalurkan dengan baik.

Khidmah adalah salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi itu. Apa yang santri dapatkan di pondok, akan dapat berguna dan tercerna ketika dileburkan dalam khidmah di tengah masyarakat. Maka wajar jika program ini langsung dijalankan bagi santri mutakhorijin (alumnus) periode 1436/1437 H. ini.

Faktanya, program guru bantu sebenarnya bukanlah program yang murni baru bagi Ponpes Lirboyo. Bertahun-tahun lalu, sudah dimulai berdakwah mingguan di daerah-daerah membutuhkan. Semisal, setiap hari Kamis, tidak kurang dari 30 santri diterjunkan ke pelosok desa yang tersebar di Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Di Jumat paginya, puluhan santri lain juga ditugaskan untuk mengajar di beberapa sekolah di Kota Kediri. Hanya saja, program ini lebih dikembangkan lagi. Bukan hanya masyarakat Kediri yang merasakan alunan dakwah para santri. Kini, madrasah-madrasah di Sumatera dan Kalimantan pun ikut mencicipi ilmu para santri Ponpes Lirboyo.

Memang, program yang terhitung mendadak ini membuat banyak santri kaget. Imam Masyhuri, santri asal Riau yang mendapat tugas khidmah di Gurah, Kediri mengakui hal itu. “Saya sempat shock setelah tahu akan ada kewajiban khidmah. Apalagi saya ditempatkan di Madrasah Ibtidaiyah di Gurah. Hehe. Gawatnya, yang saya pegang adalah kelas dua,” imbuhnya. Memang belum terbayang susahnya. Namun itulah santri. Harus siap sedia diletakkan di manapun.

Beberapa waktu lalu, setelah dibukanya program guru bantu ini, terutama setelah terdengar di berbagai pelosok Nusantara,  ‘jatah’ santri segera habis dalam waktu tidak begitu lama. Padahal, masih banyak pesantren maupun madrasah yang mengantri untuk mendapatkan guru bantu. Walhasil, mereka harus bersabar menanti tahun depan.

Meningkatnya kebutuhan pesantren-pesantren akan hadirnya guru bantu juga terlihat dari ‘ketidaksabaran’ mereka. Beberapa santri diberangkatkan terlebih dahulu ke daerah di mana mereka akan ditempatkan. Itu terjadi pada bulan Ramadlan lalu. Karenanya, acara ini hanya bisa mereka ikuti lewat media sosial dan kabar dari kawan-kawan.

“Yang paling penting adalah, kalian menjaga akhlakul karimah. Bagaimanapun alimnya seseorang, nek ora nganggo akhlakul karimah ora ono regane (kalau tidak berakhlakul karimah, tidak ada harganya),” dawuh KH. M. Anwar Manshur saat memberikan mauidlah hasanah.

“Ojo reno-reno. Ga usah dolanan arek wedok. Nek seneng ditari pisan nang wongtuwone. Pengen rabi ditembung pisan. Timbang plirak-plirik. (jangan macam-macam. Tidak usah pacaran. Kalau suka, bicara dengan orangtuanya. Ingin nikah dibicarakan saja. Daripada melirik kesana-kemari)” sambung beliau, diiringi tawa renyah para santri dan penjemputnya. Perlu diketahui, salah satu syarat untuk meminta guru bantu adalah menjemput mereka di Lirboyo. Walhasil, pagi itu banyak ustadz dan utusan dari masing-masing lembaga pendidikan hadir di gedung LBM.

“Berangkat dan niatlah berdakwah dan nasyrul ilmi. Dakwah paling ampuh adalah dakwah bil fi’li. Itu yang paling mancep di hati masyarakat. Tunjukkan kedisiplinan kalian. Jalan di depan kalian sudah tergelar sayap-sayap malaikat karena ridla atas langkah dakwah kalian,” pungkas beliau.

Semoga apa yang menjadi harapan santri, para penjemput, para pemangku lembaga pendidikan, lebih-lebih para masyayikh Ponpes Lirboyo, akan senantiasa terwujud dan bendera kalimatillah dapat berkibar di mana-mana. Amin.][

 

Keluarga, Awal Kebangkitan Moral Bangsa

Allah SWT berfiman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Al Quran surat At Tahrim: 6) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci bersih. Kedua orang tuanyalah yang menyebabkannya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Hadis Riwayat Bukhari dari Adam Abi Dza’b dari Zuhri dari Abi Salamah ibn Abd. Rahman dari Abi Hurairah r.a.)

Sebagai bangsa, kita saat ini sedang menghadapi masalah dekadensi moral yang luar biasa. Anak sulit sekali patuh kepada orangtua. Susah kita temui anak yang membungkukkan badannya ketika lewat di depan orangtuanya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya yang lebih tua. Apalagi, adegan anak mencium tangan orang tua sebagai tanda hormat kaum muda kepada yang lebih tua. Amat sangat susah kita temukan saat ini.

Demikian juga siswa hingga mahasiswa. Mereka sukar sekali menghormati guru atau dosennya. Mereka anggap pengajar itu sebagai teman. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai musuh sehingga berani menghajar sang guru. Itu belum termasuk pergaulan muda-mudi yang sudah bebas bablas dalam bergaul. Tak ada rasa malu di hati mereka bila bermesraan di depan umum. Sampai-sampai ada yang bilang, “Siapa yang malu? Yang bermaksiat atau yang melihat? ”Na’uudzubillaahi min dzaalik!.

[ads script=”1″ align=”center”]

Keadaan demikian tentu tidak bisa kita biarkan berlarut-larut. Apa jadinya bangsa kita bila kemaksiatan dalam bentuk penurunan kualitas moral itu terus menggerus? Bukankah bila kemaksiatan telah merajalela menjadi alasan kuat bagi Allah untuk mengazab bangsa kita? Kita pasti tak mau itu terjadi, bukan? Lalu, bagaimana kita seharusnya mengatasi masalah kemerosotan moral bangsa?

Solusi yang tepat secara islami adalah kita kembali kepada tuntunan Allah dan rasul-Nya. Salah satu bentuknya adalah memahami dan mengamalkan kedua dalil naqli di awal tulisan ini. Di situ, Allah telah memberikan pemecah masalah tersebut. Pertama, kita sebagai orang yang beriman kepada Allah harus menyelamatkan diri sendiri dari api neraka. Artinya, secara individual, kita wajib berusaha maksimal agar tak terjerumus ke dalam perbuatan kotor yang membuat kita memenuhi syarat sebagai penghuni neraka. Kita jauhkan diri dari laku maksiat.

Bila sebagai pribadi telah melaksanakan itu, berarti kita tidak menambah orang yang berbuat dosa di Indonesia tercinta. Malah, kita mencatatkan diri sebagai warga negara yang meningkatkan kualitas moral bangsa melalui penyucian diri dari hal yang hina dina.

Itu saja memang belum cukup, tentu saja. Kita masih harus meneruskannya dengan membentengi keluarga kita dari sesuatu yang menuruti hawa nafsu. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak itu harus kita proteksi sedini mungkin agar tak terjilat lidah api neraka di akhirat nanti. Caranya, dengan mengajak, membimbing, dan mengingatkan keluarga kita masing-masing secara bijak tentang sikap yang benar dalam menghadapi perintah dan larangan Allah. Kita tak boleh bosan berdakwah kepada keluarga agar tetap berada dalam shiraathal mustaqiim. Dengan demikian, keluarga kita tak tercatat sebagai penghuni neraka kelak.

Di antara anggota keluarga itu, ibulah yang memegang peranan penting bagi pendidikan anak. Sebab, ibu yang paling dominan dalam mengasuh anak. Sejak di dalam kandungan, pada saat lahir, hingga pasca lahir, ibulah yang paling dekat dengan anak. Maka, dari ibulah tumpuan baik-buruknya anak.

Bagaimana peran ayah? Ayah memang juga punya andil dalam membina keluarga, yaitu sebagai kepala keluarga yang tugas utamanya adalah memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, ibu jauh lebih menentukan baik tidaknya moral sang anak karena ibulah yang paling banyak dan paling lama berinteraksi dengan anak dalam keseharian.

Mulai sekarang, mari kita sadari bahwa keluarga adalah pilar pendidikan pertama dan utama bagi tiap pribadi. Jika keluarga itu sudah sakiinah, maka masyarakat pun akan jadi mawaddah wa rahmah. Akhirnya, negeri kita pun menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Maka, mari pula kita tata apik-apik diri pribadi, kemudian keluarga kita masing-masing. Karena, itulah yang menjadi awal kebangkitan moral bangsa kita.

Semoga Alllah berkenan mengabulkan keinginan kita yang tulus dan luhur itu. Aamin, aamin, yaa rabbal ‘aalamiin

Penulis, Saiful Asyhad, pengajar ekstrakurikuler Pondok Pesantren Lirboyo

Sidang Kwartal: Evaluasi Seluruh Aspek

LirboyoNet, Kediri – Setelah melaksanakan seluruh agenda kegiatan belajar mengajar, pimpinan MHM mengadakan evaluasi pendidikan secara total melalui sidang paripurna Kwartal yang dihelat tiap 4 bulan. Tadi malam (08/12) agenda sidang Kwartal pertama dilaksanakan di Gedung Annadloh Komplek Aula Muktamar PP. Lirboyo Kediri.

Dalam kegiatan ini beberapa Pengasuh dan Penasehat MHM tampak hadir, diantaranya adalah KH. A. Idris Marzuqi, KH. M. Anwar Manshur dan KH. Abdul Aziz Manshur, dari jajaran Pimpinan MHM terlihat seluruh pimpinan hadir, seperti KH. Habibulloh Zaini, KH. Atho’illah S. Anwar, Agus H. Mu’id Shohib dan Ustad Faqih.

Dalam laporan pendataan siswa MHM yang disampaikan oleh Mudier (kepala) lima MHM yang dilakukan per tujuh desember, terungkap bahwa jumlah siswa MHM naik 5.6 % dibandingkan dengan tahun kemarin dengan rincian sebagai berikut :
1. I’dadiyyah : 115 siswa
2. Ibtida’iyyah : 2591 siswa
3. Tsanawiyyah : 1672 siswa
4. Aliyyah : 1425 siswa
Total siswa MHM 5.803 siswa,
dibandingkan dengan tahun kemarin jumlah siswa MHM kwartal satu berjumlah 5607 siswa.

Selain melaporkan jumlah siswa MHM, Ustad Faqih juga membacakan beberapa usulan dan kendala dilapangan terkait pelaksaan Proses belajar mengajar MHM, “dari beberapa laporan yang masuk, banyak sekali yang mengeluhkan turunnya kesemangatan santri dalam belajar, sehingga berakibat pada tururnnya indeks prestasi siswa,” ujarnya.

Setelah dilakukan pembacaan dan evaluasi secara menyeluruh, acara dilanjutkan dengan Mauidzoh Hasanah oleh Pengasuh MHM, diawali dari KH. Abdul Aziz Manshur, yang banyak memberikan suport kepada para pengajar, agar senantiasa meningkatkan kesemangatan dalam berkhidmah.

Senada dengan yang disampaikan KH. Aziz Manshur, KH. A. Idris Marzuqi berharap agar seluruh Komponen MHM meningkatkan kekompakkan dalam menjalankan tugas, agar tercipta suasana yang kondusif.

Sebagai penutup acara, KH. M. Anwar Manshur melengkapi petuah-petuah yang disampaikan para pengasuh, dalam kesempatan itu Mbah Kyai Anwar berpesan agar melengkapi kesemangatan dalam belajar dengan rasa syukur, agar keikhlasan hati dapat terjaga selalu. riff