Tag Archives: manaqib

Majelis Dzikir wa Maulidurrosul & Haul Masyayikh Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Kamis malam Jumat (27/06) ribuan santri putra dan putri menghadiri acara Majelis Dzikir wa Maulidurrosul & Haul Masyayikh Lirboyo di Aula al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.

Acara yang dimulai setelah maghrib itu diawali dengan membaca manaqib Syeikh Abdul Qodir Jailani bersama hingga pukul sepuluh malam.

Silah (hubungan) kita dengan wali-wali Allah adalah dengan cara Manaqiban”, tutur KH. Melvin Zainul Asyiqin Imam dalam sambutan beliau. Dalam artian, semua hal yang ada di dunia ini selalu membutuhkan sebuah koneksi dengan orang-orang alim, terlebih dengan para Wali dan Nabi Allah Swt, Silah kita kepada nabi tidak lain adalah dengan membaca sholawat sebanyak-banyaknya.

Baca juga; Dawuh KH. M. Anwar Manshur : Perintah Rasulullah untuk para pelajar.

Beliau juga berpesan kepada para santri agar menguatkan kembali tekad belajar di pesantren, terutama untuk santri-santri yang baru masuk ke pesantren.

Manaqiban menjadi acara rutinan setiap tahunnya, yang diadakan oleh yayasan al-Mahrusiyah Lirboyo.

Acara itu ditutup dengan mauidzoh hasanah dan doa yang disampaikan oleh Al-Habib Syekh bin Mustofa Ba’abud hingga pukul sebelas malam.[]

Jamiyah Dzikir itu Abadi

LirboyoNet, Kediri—Aula Muktamar malam tadi dibanjiri oleh ratusan orang berpakaian putih. Mereka berkumpul di Aula Muktamar guna menghadiri satu acara besar: Manaqib Kubra al-Khidmah. Acara ini rutin dilaksanakan tiap tahun. Biasanya, Manaqib Kubra Al-Khidmah dilaksanakan setiap Kamis akhir bulan Syawal.

Seperti biasanya acara dibuka dengan pembacaan manaqib syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, dan shalawat bersama jama’ah. “Jam’iyyah dzikir itu abadi, dan akan terus berlanjut hingga di akhirat nanti,” tutur Agus H. Reza Ahmad Zahid, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Unit HM Al-Mahrusiyah, yang malam itu bertindak sebagai tuan rumah.

Perlu diketahui, jam’iyyah al-khidmah dahulu tidaklah seramai seperti sekarang. Almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus lah yang menjadi poros utama berkembangnya jamiyah ini, terutama di daerah Kota Kediri dan sekitarnya. Di awal perjuangan beliau dalam mensyiarkan jamiyah, beliau mendatangkan santri dari Surabaya. Tidak tanggung-tanggung, dalam beberapa kesempatan beliau bahkan mendatangkan mereka dengan menggunakan moda transportasi beberapa bus. Hingga kini, jamiyah ini telah mendapatkan tempat di hati warga Kota Kediri dan sekitarnya.

Malam itu, turut hadir KH. Najib Zamzami selaku ketua Jamiyah Al- Khidmah Kota Kediri, dan Habib Abdurrahman Baagil dan Habib Haidar Al Idrus yang berkenan memberikan mauidoh kepada jamaah Al-Khidmah. Di malam itu, beliau berdua bersepakat, bahwa “para masyayikh itu adalah orang yang sesungguhnya mulia dunia dan akhirat. Maka seyogyanya jika kita ingin mulia, ikutilah jejak masyayikh, bagaimana istiqomah mereka dan bagaimana mereka memuliakan guru-guru mereka.”|\

 

 

Imam Syafi’i; Tokoh Fikih dan Bahasa

ما مسّ أحد محبرة إلا وللشافعي فى عنقه منّة

Tidaklah ada seseorang yang menyentuh tinta, kecuali disitu ada jasa Imam Syafi’i”

Kita mengenal Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris bin Syafi’, wafat 820 M) sebagai tokoh besar pendiri madzhab yang saat ini sedang kita anut, madzhab syafi’iyyah. Salah satu madzhab terbesar yang hingga kini masih bertahan. Beliau membangun pondasi-pondasinya lebih dari seribu tahun lalu, dan hingga kini masih tetap kokoh berdiri. Nama Imam Syafi’i  begitu tenar tidak hanya sebatas itu, beliau memiliki catatan keilmuan dan riwayat yang “sulit ditiru” oleh generasi-generasi selanjutnya. Tapi dibalik itu, jauh sebelum beliau terkenal dengan penguasaan fikihnya, dulu justru beliau lebih tertarik pada disiplin gramatika. Seni tentang bahasa Arab, literatur, sejarah bangsa-bangsa Arab, dan tentu saja, syair. Beliau terkenal sangat fasih, dan menjadi rujukan banyak orang tidak hanya dalam masalah fikih saja, namun jika ada kemusykilan tentang gramatika, bertanya kepada Imam Syafi’i adalah pilihan yang tepat. “Bahkan imam Malik saja kagum akan bacaan beliau, karena beliau orang yang sangat fasih”, komentar Imam Ahmad bin Hanbal kala Imam Syafi’i kecil membaca kitab Al-Muwatho’ langsung dihadapan penyusunnya, Imam Malik bin Anas.

Imam Syafi’i dikenal sebagai salah satu ulama besar yang paling hebat mengolah kata-kata lewat syair. Syair-syairnya khas, tidak seperti kebanyakan penyair tulen lain. Kita mungkin tak akan pernah menemukan syair-syair Imam Syafi’i yang bercerita tentang alangkah indahnya hidup didunia ini, atau tentang tema apapun yang agak “pendek renungan”. Namun kita lebih bisa temukan untaian syair beliau sebagai orang yang memiliki sarat keilmuwan, sarat hikmah dan teladan. Kebanyakan syair beliau, yang terkodifikasikan, berbicara tentang budi pekerti, adab, dan nasihat-nasihat.

وَلاَ حُزْنٌ يَدُومُ وَلاَ سُرورٌ ** ولاَ بؤسٌ عَلَيْكَ وَلاَ رَخَاءُ

Tak ada kesedihan yang kekal, tak ada pula kebahagiaan yang abadi. Tak ada kesengsaraan yang bertahan selamanya, demikian halnya dengan kemakmuran.

Bahkan sampai akhir hayatnya, tatkala Imam Muzani muridnya datang berkunjung, beliau kala itu masih terbaring sakit diatas tempat tidur. Imam Syafi’i menyampaikan sebuah harapan, dan pengakuan. Dalam bentuk syair,

إلـيــك إلـــه الـخـلـق أرفــــع رغـبـتــي # وإن كـنـتُ يــا ذا الـمــن والـجــود مـجـرمـا
ولـمــا قـســا قـلـبـي وضـاقــت مـذاهـبــي # جـعـلـت الـرجــا مـنــي لـعـفـوك سـلـمــا
فـمـا زلــتَ ذا عـفـو عــن الـذنـب لــم تـزل # تــجــود و تـعــفــو مــنـــة وتـكــرمــا
ألــســت الــــذي غـذيـتـنـي وهـديـتـنــي # ولا زلــــت مـنـانــا عــلـــيّ ومـنـعـمــا
عـسـى مــن لــه الإحـســان يـغـفـر زلـتــي # ويـسـتــر أوزاري ومــــا قــــد تـقــدمــا

Kupersembahkan kepada-Mu Tuhan sekalian makhluk akan harapanku. Sekalipun aku seorang yang berdosa wahai yang Maha Pemberi dan Maha Pemurah.

Bilamana keras hatiku dan terasa sempit perjalanan hidupku, kujadikan rayuan dariku sebagai jalan untuk mengharapkan ampunan-Mu

Bilamana Engkau yang memiliki ampunan menghapuskan dosa yang terus menerus ini. Karunia-Mu dan ampunan-Mu adalah merupakan rahmat dan kemuliaan.

Bukankah Engkau yang memberi aku makan serta hidayah kepadaku. Dan janganlah Engkau hapuskan karunia, anugerah dan nikmat itu kepadaku.

Semoga orang yang memiliki ihsan mengampunkan kesalahanku. Dan menutup dosa-dosaku serta setiap perkara yang telah lalu.

Imam Syafi’i kecil memang memiliki ketertarikan akan bahasa Arab. Jauh sebelum rihlah ilmiahnya “benar-benar dimulai”. Ketertarikan ini menjadikan sebuah motivasi besar untuk beliau lebih menguasai bahasa tersebut. Imam Syafi’i kecil bahkan sampai tinggal sementara waktu di pemukiman Bani Hudzail. Suku yang kemampuan berbahasa Arabnya masih sangat asli. Belum tercampur oleh dialek-dialek asing. Pada akhirnya, ketertarikan inilah yang kelak menjadi bekal penting beliau kala menjadi tokoh mujtahid, untuk menggali hukum-hukum islam langsung lewat Alquran dan Al-Hadis. Sebuah kapasitas yang memang hanya dicapai oleh orang-orang yang juga mengerti betul apa itu bahasa Arab.

Menurut cerita Mus’ab bin Abdullah Al-Zubairi, tatkala Imam Syafi’i kecil, yang saat itu telah mahir dan terbiasa mengolah syair naik kendaraan bersama seseorang, Imam Syafi’i kecil menyenandungkan sebuah syair. Dan tak disangka-sangka, tiba-tiba orang dibalik Imam Syafi’i kecil tadi justru memukulnya dengan cambuk.

Orang sepertimu, hilanglah harga dirinya melakukan hal-hal seperti ini.” Kata orang tersebut. Tentu maksudnya, adalah kegemarannya akan bersyair. “Kemana saja kamu tidak belajar fikih!

Kata-kata dan pukulan itu tidak hanya menggetarkan tubuh Imam Syafi’i. namun menggoyahkan batinnya. Ia tertegun dan mulai merenung, untuk mengalihkan minatnya.

Lalu semenjak saat itu, tersebutlah riwayat-riwayat masyhur tentang beliau. Beliau mulai berguru kepada para ulama dan mulai mendalami ilmu fikih. Menurut cerita, beliau telah hafal Alquran diusai yang masih sangat belia. Tujuh tahun, menurut cerita. Tak hanya sampai disitu, beliau juga hafal kitab Al-Muwatho’ diusianya yang ke sepuluh. Kitab setebal itu dihafal hanya dalam waktu tidak sampai sepuluh hari.

Pengakuan muncul dari berbagai kalangan. Semua mengakuinya. Imam Syafi’i adalah tokoh besar. Namun yang kita tahu hanya sekilas, beliau pakar fikih. Ternyata, beliau juga memiliki kemampuan bahasa yang luar biasa. “Dialah Imam Syafi’i, hujjah dalam bahasa Arab dan ilmu-ilmu sejenisnya. Imam Syafi’i telah belajar bahasa Arab hingga sepuluh tahun,bersama dengan kenyataan kalau beliau adalah orang yang baligh dan fasih. Orang yang terlahir dengan lisan Arab.” Puji Imam Nawawi.

Terangi Hati dengan Mengenang Al-Jailani

LirboyoNet, Kediri – Pada tahun 1999, almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus memulai perjuangannya untuk menyebar kebiasaan mengenang suri tauladan Sulthanul Auliya Syaikh Abdul Qadir Jailani. Salah satunya, dengan membaca kitab Faidu al Rahman, kitab tentang kisah hidup Syaikh Abdul Qadir. Beliau wali besar, benar. Memiliki ratusan karomah, terang. Tapi kenapa harus dikenang?

Agus H. Melvin Zainul Asyiqien menyitir sebuah maqalah, yang bermakna “mengingat para nabi adalah ibadah. Dan mengingat kisa-kisah orang saleh dapat menjadi tebusan atas dosa-dosa.” Maka tak heran, Kamis (28/07) ribuan orang berdatangan dari berbagai daerah. Tulungagung, Blitar, Malang bahkan Surabaya. Bermacam pula mereka berkendara. dari bus hingga jalan kaki. Mereka adalah para santri Ponpes Lirboyo dan sekitarnya. Tunggu, jalan kaki? Tentu saja. karena Majlis al-Ghoutsiyah bi Manaqibi Syaikh Abdul Qadir Jailani ini terlaksana di komplek Aula Al-Muktamar Ponpes Lirboyo. Jadilah aula dan lapangan penuh oleh baju putih-kopyah hitam para santri.

Sebenarnya, rutinitas manaqib ini telah dimulai sejak lama, jauh sebelum 1999. KH. Imam Yahya Mahrus berinisiatif menularkan kebiasaan membaca manaqib di pondok pesantren Al-Fitrah, Surabaya milik almaghfurlah KH. Utsman Al Ishaqi kepada santri Lirboyo. Mertua KH. Imam Yahya ini adalah pemimpin thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah semasa hidupnya.

Awalnya, kegiatan manaqib ini dilaksanakan di mushola HM, sebelah barat rumah ayah beliau, KH. Mahrus Aly. Demi menggalakkan manaqiban, beliau mendatangkan santri-santri ponpes Al Fitrah untuk mengajari para santri membaca manaqib. Selang beberapa waktu, barulah kegiatan beralih ke Aula Al Muktamar hingga sekarang.

H. Ridlwan, salah satu pengurus Jamiyah Al Khidmah Kediri yang malam itu memberikan sambutan, menyebut bahwa pembacaan manaqib adalah salah satu cara dalam membentuk karakter. “Karena dalam manaqib, kita akan tahu bagaimana hidup orang-orang saleh. Agar kita bisa meniru mereka.”

Dalam sambutan selanjutnya, Agus Melvin Zainul Asyiqien mempertegas hal ini. “Syaikh Abdul Qadir Jailani sebagaimana yang telah kita baca tadi, tiga tahun diam di satu tempat. Tidak berpindah ke mana-mana. Itu setelah beliau dipesan oleh Nabi Khidir untuk tidak meninggalkan tempat sebelum ia datang. Takdzim kepada guru seperti itu.”

Acara ini dihadiri oleh Habib Abdurrahman bin Aqil dari Surabaya, KH. Abdullah Said Malang (mertua Agus Reza Ahmad Zahid, putra sulung KH. Imam Yahya Mahrus), serta habaib dan masyayikh Kediri dan sekitarnya. Adapun Agus Reza Ahmad Zahid berhalangan hadir karena sedang berkunjung ke Amerika Serikat.][