Tag Archives: menulis

Cangkruk bareng Cak Hids

LirboyoNet, Kediri – Jumat (27/09), bersama Tim Website lirboyo(dot)net dan Staf Ahli lainnya, Crew Mading Hidayah melaksanakan cangkruk bersama teman-teman santri yang dilaksanakan di gedung Rusunawa lantai I Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.

Acara yang dihadiri lebih dari seratus santri ini diisi dengan teori-teori dasar seputar membuat esai, cerpen, opini, dan artikel.

Pemateri yang ikut menyemarakkan cangkruk itu antara lain; saudara Ackyl Mustavid, Hisyam Syafiq, Arif Rahman Hakim, Tubagus Godhonfar, serta Niqo Maimun Mahera.

“Menulis itu ga perlu bagus, untuk permulaan. Karena kalau mikirin bagus, tentu tidak akan bisa membuat karya,” Kata Ackyl saat menjelaskan seputat cerpen.

“Andrea Hirata karya yang terkenal adalah Laskar Pelangi, itu yang terkenal. Yang buruk sebelum itu apakah ada? Jelas banyak. Dan tidak dipublikasikan.” Pungkasnya.

Tujuan dilaksanakannya cangkruk ini tidak lain untuk menumbuhkembangkan, serta memancing semangat teman-teman santri untuk menulis. kegelisahan teman-teman mading seputar pentingnya diadakan cangkruk melihat banyaknya teman-teman santri yang antusias akan adanya Mading Hidayah dari tahun ke tahun, membuat Crew perlu bertemu dan paling tidak, memberikan mereka sesuatu yang bermanfaat selain doorprize buku.

Acara tersebut berakhir setelah adzan waktu Isya berkumandang, harapan dari acara cangkruk ini tidak lain adalah munculnya embrio menulis bagi teman-teman yang mengikuti cangkruk bersama mading hidayah.

Hukum Peletakan Batu Nisan dan Tulisannya

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagimana hukum memasang batu nisan pada kuburan? Dan bagaimana pula hukum menulisinya dengan nama jenazah? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Syafi’-Nganjuk)

_______________

Admin-Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Memberi tanda pengenal atas kuburan dengan memasang batu nisan, patok, dan penanda lain merupakan kebiasan umat Islam hingga sejak dulu hingga sekarang. Hal tersebut merupakan sebuah anjuran syariat yang telah dicontohkan secara langsung oleh baginda Rasulullah saw. Sebagaimana penjelasan imam Khotib as-Syirbini dalam kitabnya yang berjudul al-Iqna’:

وَأَنْ يَضَعَ عِنْدَ رَأْسِهِ حَجَرًا أَوْ خَشَبَةً أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ عِنْدَ رَأْسِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ صَخْرَةً وَقَالَ : أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي

Hendaklah meletakan batu, kayu, atau benda serupa di atas makam pada bagian kepala jenazah. Karena Rasulullah SAW meletakkan batu besar di atas makam bagian kepala Utsman bin Mazh‘un. Rasulullah SAW bersabda ketika itu, ‘Dengan batu ini, aku menandai makam saudaraku agar di kemudian hari aku dapat memakamkan keluargaku yang lain di dekat makam ini.”[1]

Selain bagian kepala, di sebagian wilayah juga memasang batu nisan di bagian kaki. Menjawab permasalahan tersebut, Al-Bujairimi memberikan jawaban demikian:

لِأَدْفِنَ إلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي) قَضِيَّتُهُ نَدْبُ عِظَمِ الْحَجَرِ وَمِثْلُهُ نَحْوُهُ، وَوَجْهُهُ ظَاهِرٌ فَإِنَّ الْقَصْدَ بِذَلِكَ مَعْرِفَةُ قَبْرِ الْمَيِّتِ عَلَى الدَّوَامِ، وَلَا يَثْبُتُ كَذَلِكَ إلَّا الْعَظِيمُ؛ وَذَكَرَ الْمَاوَرْدِيُّ اسْتِحْبَابَهُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ،

Agar di kemudian hari aku dapat memakamkan keluargaku yang lain di dekat makam ini. Penjelasannya adalah anjuran peletakan batu besar atau benda serupa itu. Masalah ini sudah jelas. Tujuan peletakan batu itu adalah penanda makam secara permanen di mana hal itu tidak dapat terwujud kecuali dengan batu besar. Imam Al-Mawardi menyebutkan anjuran peletakan batu di atas makam pada bagian kedua kaki jenazah.”[2]

Adapun hukum menulis nama jenazah di batu nisan masih dipertentangkan oleh para Ulama. Sebagaimana dalam kitab al-Fiqhu ‘Ala al-Madzahib al-‘Arba’ah:

الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا: الْكِتَابَةُ عَلَى الْقَبْرِ مَكْرُوْهَةٌ، سَوَاءٌ كَانَتْ قُرْآنًا أَوْ غَيْرَهُ، إِلَّا إِذَا كَانَ قَبْرَ عَالِمٍ أَوْ صَالِحٍ، فَيُنْدَبُ كِتَابَةُ اسْمِهِ، وَمَا يُمَيِّزُهُ لِيُعْرَفَ

Golongan ulama Madzhab Syafii berpendapat: menulis sesuatu di atas kuburan hukumnya makruh, baik berupa al-Quran atau selainnya. Kecuali kuburan orang Alim atau orang Salih, maka sunah menulis namanya dan sesuatu lain yang dapat membedakannya (dengan kuburan lain) agar dapat dikenali.”[3]

[]waAllahu a’lam

_____________________

[1] Al-Iqna, vol. II hal. 571, Cd. Maktabah Syamilah

[2] Hasyiyah al-Bujairomi ‘Ala al-Khotib, vol. II hal. 571, CD. Maktabah Syamilah

[3] Al-Fiqh ‘Ala Madzhahib al-Arba’ah, vol. I hal. 486.

 

Pesantren Harapan Masa Depan     

Kehidupan masyarakat berubah amat cepat sebagai dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa akibat positif sekaligus negatif. Dalam konteks ilmu sosial, ada pedoman yang mengemukakan bahwa  “all is change “. Disamping ada pula yang menunjukan kontinuitas.

Hingga kini, peran pendidikan masih tetap menjadi tumpuan harapan yang dapat membawa  pencerahan dan stimulator bagi masyarakat yang mengalami perubahan. Namun dalam menghadapinya tidak dapat di pungkiri lembaga pendidikan harus dinamis untuk menyesuaikan perubahan masyarakat. Para civitas akademika dengan bidang dan dukungan Community of scholar-nya sudah seharusnya mengupayakan penyesuaian, bahkan perubahan untuk mengantisiasi sekaligus menjawab berbagai dampak perubahan itu. Termasuk pesantren yang menempuh mu`adalah (persamaan) dan jenjang pendidikan Ma’had ‘Aly supaya tidak tereliminasi laju roda modernitas.

Dilihat dari historis, pendidikan meunasah atau dayah, surau dan pesantren telah ada di Indonesia pada era pra kolonial. Trilogi sistem pendidikan di atas secara fungsional, subtansial dan operasional dipresentasikan bermakna tunggal. Dari ranah fungsional ketiganya dijadikan wadah membina mental dan moral di samping wawasan sebagai  manifestasi agama, masyarakat dan bangsa. Dilihat dari kacamata substansial trilogi khas Indonesia ini merupakan panggilan jiwa spiritual dan religius para teungku, buya dan kyai tanpa motif materil dan murni pengabdian kepada Allah SWT. Secara operasional muncul dan berkembang dari masyarakat bukan sebagai kebijakan, proyek, apalagi perintah para sultan, raja atau penguasa. Fakta sejarah ini menegaskan mengapa tidak mengherankan memasuki masa kemerdekaan trilogi sistem pendidikan diatas tetap menunjukan eksistensi khidmah kepada umat, meski sitem pendidikan islam tradisional tersebut di ‘anak tirikan’.

Betapa perubahan modernitas menyeret individu maupun masyarakat pada maslah multi-dimensi dan kultural. Individu manusia modern dituntut cerdas dan rasional dalam segala aspek. Namun di sisi lain belum menyentuh efeksinya (sikap). Masyarakat modern meresahkan keruhan kriminalitas, hegemonisme, liberalisme tanpa batas, bahkan radikalisme yang menginginkan perubahan NKRI. Lebih memilukan sering pelakunya adalah kaum terpelajar yang notabene mereka tonggak estafet bangsa. Maka dari itu dirasa perlu mengejahwantahkan karakter atau merealisasikan pembiasaan (biasa disebut budaya religius).

Kenyataan bahwa sebagus apapun kurikulum dan metode/strategi pembelajaran apabila tidak di terapkan budaya religius maka akan kesulitan dalam membudayakan religiusitas meski dalam kognitifitasnya mumpuni. Pesantren yang kini kongkren menjadi center of knowledge (pusat ilmu pengetahuan) sekaligus  Center transfer of value (pusat pengajaran tata nilai) mestinya mengevaluasi  peserta didiknya yang memerankan peran sentral dalam keberhasilan menjalankan misi kedepan. Hasil yang didapat santri menjadi insan kamil, bermental revolusioner, berkarakter kuat dan moral uswatun hasanah mampu mengemban responsibilitas menguraikan dan menjawab permasalahan dunia modern dan perkembangan perubahan yang selalu pasti sebagai agent of change pada struktural masyarakat bernegara. Tentunya demi keluhuran ini bersinergi dengan pemerinyah adala diperlukan untuk meluluskan pesantren sebagai instiusi pendidikan Negara. []

 

Oleh: Arif Fahrijal, santi asal Brebes

 

Rekonstruksi Doktrin “Seng Penting Tamat”

“Kunci sukses mondok di Lirboyo, di samping mempeng adalah menamatkan madrasah”

-KH. Ahmad Marzuqi-

Manakala disebut nama Lirboyo, tentu pikiran kita akan langsung tertuju pada sebuah pondok pesantren legendaris di Kota Kediri. Pondok pesantren yang selama ini konsisten dengan upaya produktifnya dalam melahirkan tokoh-tokoh mumpuni, yang memiliki tempat di hati masyarakat. Sekarang, Lirboyo sedang mengandung puluhan ribu bibit-bibit unggul, dan bibit-bibit itu semakin hari semakin tak terbendungkan, tumbuh pesat dan semoga tetap seperti itu. Kenyataan ini tentu membuat hati kita gembira. Karena, pesantren salaf tak lagi dipandang sebagai barang antik yang lebih pantas dimuseumkan dari pada dilestarikan. Malah pesantren salaf, khususnya Lirboyo yang bisa dikatakan sebagai pondok pesantern salaf terbesar di Indonesia, menjadi semacam mercusuar, jujukan para nahkoda yang masih menggunakan akal warasnya di tengan gelombang badai kesemerawutan akhlak anak bangsa.

Lirboyo menyuguhkan oase segar, terlebih ketika cawan yang berisi kejernihan hikmah dituangkan melalui lisan-lisan mulia para masyayikh. Namun begitu, tak selamanya air jernih dituangkan dan diterima oleh wadah yang bersih. Adakalanya, kejernihan itu menjadi keruh setelah bersinggungan dengan penadah yang bedebah. Semisal dawuh masyayikh, yang mendiktekan bahwa kita di Lirboyo itu “Seng penting tamat”. Selanjutnya dawuh tersebut dikonsumsi bulat dan mentah-mentah oleh sebagian santri. Sejurus kemudian, dawuh itu tumbuh menjadi dogma. Sebatas dogma tak masalah. Namun, yang menjadi permasalahan berikutnya adalah banyak dari kawan-kawan santri baik tingkat Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah terlebih ketika sudah Aliyyah mengisi hari-harinya dengan cangkrukan, ngopi, tidur serta membuka kitab hanya ketika musyawaroh saja. Setelah itu, kitab lebih sering dijadikan hiasan kamar dari pada dibaca dan dikaji. Ironisnya, ketika ditanya kenapa? Dengan entengnya mereka menjawab “jarene mbah yai seng penting tamat”. Sungguh prihatin mendengarnya. Mereka telah meletakan dawuh masyayikh tidak dalam proporsinya. Dan barang siapa yang meletakan sesuatu bukan pada tempatnya, maka ia dzolim. Mereka merasa dan meyakini bahwa tujuan paling utama mereka di Lirboyo adalah tamat, tanpa merasa perlu lagi untuk bermuthola’ah dan mujahadah.

Mungkin tamat madrasah di Lirboyo memang mempunyai keistimewaan tersendiri, sehingga masyayikh sering mengingatkan akan hal itu. Tapi, jangan sampai kesalahpahaman mengenai hal tersebut menjadikan benalu kemajuan rihlah ta’allum kita di Lirboyo. Bukankah ketika kita sudah merampungkan jenjang pendidikan berarti kita sudah sampai di puncak pendakian, telah memandang luas hamparan hijau ladang dakwah, dan kita akan menjajal sejengkal demi sejengkal mengajarkan ajaran nubuwah, mengharap ridho masyayikh. Kita tak akan mampu menjawab varian problematika umat yang semakin kompleks, jika kita tidak mempersiapkannya sadari awal dengan cara mempeng dan belajar, tidak sekedar tamat madrasah.

Mengembalikan “Seng Penting Tamat” Pada Khittahnya

Agar kejernihan mata air dari bawah masyayikh tidak keruh akibat ulah piro-piro wong kang aras-arasen,  maka perlu adanya upaya untuk mengembalikan adagium di atas ke khittah-nya, tempat yang steril dari propaganda para pencari justifikasi dari sifat malasnya.

Yang pertama perlu kita sadari sebagai santri kita harus cermat dan kontekstual dalam memahami setiap persoalan, terlebih yang ada  keterkaitan daengan dawuh masyayikh. Karena, tak jarang sebuah teks yang tersurat, belum tentu memuat kandungan komprehensif dari apa yang dimaksudkan oleh pembicaranya (mutakallim). Kadang ada maksud tersirat, kadang pula kata-kata itu hanya satu potong dari rangkaian puzzle yang perlu dicari batang pelengkapnya. Atau kata-kata itu masih berupa mukadimah sughro (premis minor) yang untuk menghasilkan natijah (konklusi) masih memerlukan adanya premis mayor (mukadimah kubro). Sama, kata-kata “seng penting tamat” tidak bias kita artikan dengan hanya yang penting tamat. Tamat itu penting, tapi yang lebih penting lagi dalam menapaki tangga menuju purna adalah mengisinya dengan mempeng, sebuah syarat mutlak untuk memperoleh kesuksesan belajar, tidak hanya di Lirboyo, tapi memang sudah menjadi semacam konsensus para ulama dari masa kemasa untuk diamalkan para santri di seantero dunia.

Ilmu itu dapat diperoleh dengan belajar dan bersungguh-sungguh, tidak dengan faktor genetik, maupun sekedar tamat”

Ala kulli hal, sekali lagi, penulis bukan hendak membangun opini bahwa tamat itu tidak penting. Namun, yang perlu dikoreksi adalah pemahaman sebagian kawan santri yang memiliki pandangan bahwa di Lirboyo yang penting tamat, entah rajin atau tidak itu urusan belakangan. Padahal, seperti dawuh Mbah Yai Ahmad Idris allahumma yarhamhu, kunci sukses mondok di Lirboyo, ya di disamping mempeng, adalah menamatkan madrasah. Dua kata kramat itu, memiliki ikatan simbiosis-mutualistik yang satu dengan lainnya saling memberikan manfaat. Maka pemahaman yang benar adalah “tamat iku penting” bukan “seng penting tamat”.[]

 

________

 Oleh Muhammad Mizad, kamar G 14, santri asal Pasuruan.