Tag Archives: Moslem

Tafsir Modern VS Klasik dalam Problematika Umat

Alquran dalam pandangan Islam adalah intisari dari semua pengetahuan. Bukan sekedar pengetahuan metafisis-religius yang berisi petunjuk moral dan hukum agama yang menjadi pedoman kehidupan, akan tetapi Alquran juga mengandung beberapa tingkatan pengertian dan pemahaman sesuai dengan karakter dan tingkat keilmuan pribadi sang pemaham. Terkadang sebuah kepentingan, situasi, serta kondisi juga ikut andil dalam memahami pesan yang disampaikan Allah melalui Alquran.

Dari beberapa faktor di atas, pemahaman Alquran yang merupakan sebuah sumber hukum primer dan menjadi sentral untuk menciptakan produk hukum (fikih) menjadi semakin tidak karuan. Mungkin benar ungkapan Jalaludin Rumi yang menyatakan: “Alquran adalah ibarat pengantin wanita dari Timur Tengah yang memakai cadar dan menyembunyikan wajahnya darimu. Bila engkau membuka cadarnya tapi tidak mampu mendapat kebahagiaan, itu mungkin disebabkan oleh tata cara membukamu yang telah menipu dirimu, sehingga keanggunan wajahnya tampak jelek bagimu.” Ungkapan Rumi ini seakan mewakili kebingungan para kiai sepuh melihat figur muda yang dengan keterbatasan ilmu dan kurangnya tanggung jawab secara ilmiah, begitu bersemangat dalam berpendapat.

Semoga keanekaragaman tafsir yang ada tidak sampai masuk dalam sabda Nabi Muhammad SAW. yang berbunyi: “Barang siapa yang menafsiri Alquran dengan tanpa melalui pendekatan keilmuan, maka bersiap-siaplah untuk menempati neraka.”

Ahmad Shawi Al-Maliki mengelompokkan guru yang belum mencapai derajat mufassir dalam tiga kelompok, sekalipun latar belakang keilmuan dan kemampuan berbeda. Di antaranya ada yang lebih cenderung tekstual, ada yang terlalu kontekstual, dan ada juga mufassir yang memadukan antara keduanya.

Golongan pertama (cenderung tekstual) memiliki metode pemahaman Alquran melalui beberapa hal:

  1. Penjelasan langsung dari Nabi (al-manqul)
  2. Pendapat dari mufassir yang sudah diakui keilmuannya.
  3. Asbabun nuzul (sebab turunya ayat)
  4. Ma’ani al-Harf (kandungan arti huruf)
  5. Aujuh al I’rab (bentuk-bentuk perubahan kalimat)

Golongan ulama kedua (cenderung kontekstual) mempunyai gaya pemahaman yang agak berani. Mereka lebih mengandalkan pemahaman melalui akal dan pikiran. Padahal banyak ulama berpendapat bahwa akal dengan keterbatasannya hanya mampu mengarahkan hukum (al-mubdi), dan tidak
bisa memproduksi hukum (al-wadi). Sehingga dari pendapat kedua ini mengundang kontroversi antar ulama.

Golongan yang terakhir adalah mufassir yang memadukan dua metode di atas (aljamu). Golongan ulama inilah yang paling berhati-hati dalam berpendapat dibandingkan dengan dua golongan ulama di atas. Sebagian dari ulama ini adalah Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin Al-Suyuti.

Uraian di atas mungkin sudah bisa menjadi bahan untuk mengetahui sebuah pendapat, dari golongan manakah dia.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Baru-baru ini mencuat beberapa pemahaman Alquran modern dengan mengusung metode penafsiran barat dengan nama hermeneutika. Hermeneutika, kalau kita telaah secara letterlijk jelas bukan bahasa islami. Apalagi mengarah kepada konsep islami, sekalipun juga banyak dikaji dan diajarkan sebagai kurikulum khusus di sebagian lembaga Islam. Katakanlah seperti Nasr Abu Zaid, Hassan Hanafi, Fazlul Rahman, Muhamed Arkoun, Amina Wadud, Muhsin dan yang seirama dengan mereka yang kemudian diamini serta agak ‘diimani’ oleh beberapa cendikiawan muslim di Indonesia. Upaya peniruan terhadap tradisi dan filsafat barat jelas menjadi faktor terpenting pemikiran mereka.

Ini semua merupakan hal yang lazim disaat sebuah budaya dan kemajuan segala aspek kehidupan mendominasi dan menjadi harapan negara-negara berkembang. Istilahpun berkembang di masyarakat dengan nama ke barat-baratan bagi segala sesuatu yang diambil dari gaya budaya yang dominan, yaitu budaya Barat. Hal yang demikian ini pernah terjadi disaat konsep budaya Islam mendominasi beberapa negara non Islam, seperti Spanyol. Spanyol pernah kalah perang budaya melawan budaya Arab yang sedang mendominasi negaranya, sehingga banyak orang-orang Eropa yang meniru tradisi Arab (mozarabic culture).

Dengan wajah baru dan metode baru, kaum intelektual Indonesia memberikan konsep agama yang juga baru sesuai dengan tuntutan realita. Sehingga mereka membuat hukum fikih yang sesuai dengan negara Indonesia atau dengan nama fikih ke-Indonesiaan. Mungkin nantinya ada fikih ke-Araban, dan fikih ke-Amerikaan. Perbedaan daerah, golongan, dan budaya -menurut mereka- juga merupakan peluang berbedanya formulasi fikih yang dicetuskan.

Mungkin kita perlu sedikit menelaah pertanyaan ulama bahwa hukum itu akan berbeda melihat perbedaan zaman, tempat, ruang, situasi, dan waktu. Realita menunjukkan bahwa sebagian hukum yang dicetuskan Imam Syafi’i di Mesir sangatlah berbeda dengan sebagian hukum yang dicetuskan di Iraq. Inilah yang melatarbelakangi munculnya istilah qaul qadim dan qaul jadid.

Seharusnya telaah kita berangkat dari mengapa Imam Syafi’i punya dua pendapat yang berbeda dalam menyikapi keadaan negara yang berbeda? Mungkin kita juga perlu menelaah hukum yang bagaimana yang bisa berubah dan hukum mana pula yang tidak bisa berubah? Dan yang terpenting lagi apakah semua hukum yang dicetuskan Imam Syafi’i di Iraq berbeda dengan yang di Mesir? Jadi, intinya tidak semua hukum bisa berubah dengan hanya melihat perbedaan tradisi dan lingkungan yang ada.

Ciri khas dan karakter ayat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. di kota Mekah memang sedikit berbeda dengan ayat yang diturunkan di kota Madinah. Karakter ayat makiyyah banyak menjelaskan tentang ketuhanan dan ayat madaniyah lebih terfokus pada tatanan legal formal. Akan tetapi, sekali lagi jangan disalah artikan bahwa perbedaan ayat di atas dilatarbelakangi oleh situasi, kondisi sosial, dan budaya yang berbeda, sehingga timbul kefahaman yang jauh dari kebenaran bahwa hukum agama Islam adalah “hasil perjumpaan wahyu dengan nilai-nilai budaya lokal.” Ironis sekali kalau hukum yang bersumber dari Alquran dan lebih dijelaskan melalui ucapan dan perbuatan Rasulullah SAW. sebagai qudwah seluruh alam adalah potret dari budaya lokal.

Hukum Islam dilihat dari sisi tarikh tasri’ (sejarah pembentukan dan penerapan syari’at) memang tampak berbeda dengan rumusan al-aimmah al-arba’ah, padahal berangkat dari sumber yang sama, yaitu nash Alquran dan sunnah. Mungkin dalam hal ini para mujtahid punya cara pandang dan pendekatan yang berbeda dalam mehahami nash Alquran dan sunnah dengan perbedaan qa’idah ushuliyyah dan qa’idah fiqhiyyah mereka. Jadi, setiap hukum yang mereka rumuskan sebagai legitimasi dan solusi permasalahan agama di masyarakat tetap berlandaskan nash Alquran dan sunnah dengan didukung qa’idah ushuliyyah dan qa’idah fiqhiyyah. Silahkan mengembangkan dan mengamati fikih dengan pandangan yang berbeda. Akan tetapi tetap berpedoman pada kajian yang jelas dan bersumber dari literatur kitab yang jelas, sehingga bentuk kajian hukum itu akan menjadi sesuatu yang diterima, bukan ditolak, sebagaimana sabda Nabi: “Barang siapa melakukan suatu aktivitas (agama) yang tidak pernah dilakukan dan tidak termasuk ajaran kami, maka ia ditolak.

Demikian bentuk pemikiran ulama dalam memproduksi hukum. Sehingga bisa membawa ‘buletin’ pemikiran Islam kepada zaman keemasan, telah mampu membawa Islam dalam kancah peradaban dunia pada masanya. Dan hukum yang dirumuskan juga menjadi rahmatan lil ummah, tidak malah menimbulkan kebingingan umat.[]

Penulis: Muhammad Zainuri, mantan Perumus Lajnah Bahtsul Masail PP. Lirboyo (LBM P2L)

Transformasi Masyarakat Transisional Menuju Masyarakat Madani

Al Insanu Madaniyyun bi at Thab’i.” Manusia adalah makhluk berperadaban secara instingtif, demikian Ibnu Khaldun dalam karya fenomenalnya. Jika manusia disebut sebagai makhluk berperadaban, kita tidak dapat memisahkankannya dari definisi lain manusia, yang dikatakan para pakar sebagai “Hewan yang bisa berpikir.”

Kemampuan untuk berpikir ini bersumber dari anugerah yang diberikan Allah Swt pada manusia, yaitu akal. Sebuah potensi yang tidak diberikan pada makhluk-Nya dari jenis hewan yang lain di persada bumi. Dengan potensi ini, manusia mengalami beberapa fase, mulai dari zaman batu dengan pola hidup nomaden, hingga era satelit seperti saat ini.

Ada ragam teori yang berupaya menggambarkan tahapan-tahapan kebudayaan manusia. Teori evolusi adalah teori yang populer pada abad IX. Teori ini menyatakan, perkembangan kebudayaan mengalami tahapan-tahapan yang ajeg, pasti. Tahapan itu adalah, keliaran, kebiadaban dan peradaban. Sementara teori lain yang disebut toeri degradasi menyatakan, semua kebudayan berasal dari satu kebudayaan tunggal, yaitu kebudayaan kuno yang tinggi. Teori ini beranggapan, tiga tahapan kebudayaan yang dinyatakan dalam teori evolusi, disebabkan proses degradasi atau degenerasi. Pada permulaan abad XX, teori evolusi menghadapi tantangan, berupa kesulitan dalam menjabarkan gagasan tahapan perkembangan yang tetap. Fakta itu akhirnya memunculkan teori baru yang disebut sebagai neo-evolusiesme yang digagas oleh Ralp Linton. Teori ini meyakini manusia melalui beberapa tahapan kebudayaan, akan tetapi tidak pasti menjalani semua fase yang telah ditetapkan.

Dalam perkembangnnya, umat manusia mengalami tiga perubahan teknologi yang sangat mendasar. Ketiga perubahan itu dapat mengantarkan manusia pada perkembangan baru dalam aspek-aspek kehidupan manusia. Tiga tahapan itu disebut Ralp Linton sebagai “mutasi teknologi.” Mutasi teknologi pertama ditandai oleh adanya penggunaan alat dan api dalam masyarakat. Pada fase ini, masyarakat disebut sebagai masyarakat primitif. Mutasi teknologi kedua ditandai dengan adanya domestikasi hewan dan tanaman, yang merupakan pengganti dari mengumpulkan makanan dan berburu dalam memproduksi makanan. Pada mutasi kedua ini, mulai berkembang pusat perkotaan pra-industri. Mutasi kedua telah dimulai sejak 5.000 tahun silam di Timur Tengah dan menyebar ke dunia lama. Mutasi teknologi ketiga ditandai dengan produksi energi dan penerapan metode ilmiah. Fase ini menjadi landasan bagi masayrakat industri modern. Meski demikian, Linton tidak memahami tahapan itu sebagai deterministik (satu sama lain yang saling mempengaruhi) dan metrealistik (sejarah berdiri dipengaruhi adanya andil benda-benda).

Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa manusia mengalami tahapan-tahapan menuju masyarakat yang lebih berperadaban. Sungguh banyak spesies yang memiliki struktur dan pola hidup komunitas teratur, seperti semut, lebah dan spesies hewan lainnya, tapi populasi spesies itu tidak mengalami perkembangan karena keteraturannya tidak berdasarkan akal melainkan berdasar insting. Manusia memiliki gerak sejarah, kisah dan harmoni kehidupan yang begitu kompleks. Tak berlebihan jika permintaan raja Rusia kuno pada para pakar negerinya untuk menuliskan tentang “Apa, siapa dan bagaimana manusia?” baru bisa dirampungkan setelah berpuluh-puluh tahun dengan ratusan jilid buku.

Kebudayaan-Peradaban

Penyair Prancis, Rene Char, sebagaimana dikutip DR. Dadang Kahmad mengatakan “Kebudayaan adalah warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat.” (Notre heritage n’es precede d’aucun testament). Ungkapan itu menggambarkan kebudayaan sebagai sebuah nasib yang diwariskan. Kita menerima yang sudah ada, kita alami kemudian kita kembangkan. Singkat kata, kutipan itu menggambarkan, satu sisi kebudayaan sebagai satu produk masa lalu, yang bisa berkembang di tangan generasi penerusnya. Sementara, para ilmuan sosial melihat kebudayaan sebagai realitas, sesuatu yang diciptakan, dihasilkan, dan dibentuk atau sudah dilembagakan. Kuntjaraningrat, seorang pakar Antropologi memandang kebudayaan sebagai tiga wujud, yaitu sebagai sistem ide-ide, tingkah laku dan sebagai perwujudan benda-benda budaya. Secara spesifik dapat dikatakan budaya adalah kesatuan nilai, politik, sosial, ekonomi, seni, keyakinan, idiologi, dan segala fasilitas indrawi.

Jika kita menerima itu sebagai definisi kebudayaan dan kita mengetahui budaya akan terus berkembang, berubah, disebabkan daya cipta, rasa dan karsa yang dimiliki manusia, maka dapat kita katakan peradaban adalah satu keadaan yang lebih mapan, lebih maju dari satu kebudayaan.

Realitas Masyarakat Indonesia

Bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejumlah kepulauan dan segudang kekayaan, yang memiliki ragam budaya, tradisi yang sangat kaya, keyakinan yang plural, ras dan suku bangsa yang homogen, diikat dengan satu kesadaran sejarah yang sama, kemudian dikokohkan dengan satu komitmen dan ideologi yang sama, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan falsafah Pancasila.

Suku-suku bangsa yang terdapat di Nusantara, memiliki tradisi-tradisi sebagai kekayaan kultural; lagu daerah, tarian, pakaian, arsitektur, bahasa, letak geografis, kekayaan alam, dan kepercayaan sebagai jati diri bangsa. Kekayaan kultural itu adalah satu tumpuan untuk merajut kehidupan yang lebih maju. Kemerdekaan yang diproklamirkan 1945 silam, terlampau singkat untuk membawa anak bangsa menuju proses pendewasaan. Sementara tantangan modernitas telah menjalar dalam segala segi kehidupan, menghempas segala sekat dan batas, hingga dunia yang luas seumpama desa buana yang sempit (global village).

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Masyarakat Transisional

Indonesia adalah Negara berkembang (untuk tidak mengatakan Negara tertinggal), dengan masyarakat tradisional yang dicirikan dengan pola kehidupan agraris; bertani, bercocok tanam, beternak dan kegiatan agraria lainnya. Di satu sisi, modernitas yang dicirikan dengan penggunaan alat-alat teknologi dalam dunia produksi, penggunaan fasilitas elektronik dalam segala lini kehidupan, serta gaya dan pola hidup hedonisnya yang mulai membudaya. Pada kondisi ini, masyarakat mengalami fluiditas. Yaitu pelenturan suatu budaya ketika ia masuk pada wilayah kebudayaan lain. Pelenturan itu memetamorfosis dalam maknanya yang baru, sekaligus simbol yang lama memiliki ketidakjelasan dibandingkan dengan simbol asalnya. Sementara manusianya mengalami kondisi transisi (liminality) atau juga disebut masyarakat transisional.

Profesor Sjafri Sairin, dalam makalahnya yang disampaikan dalam Widyakarkya Nasional Antropologi dan Pembangunan, dan Kongres Asosiasi Antropologi Indonesia, mencontohkan dengan fenomena perhelatan resepsi pernikahan yang memuat nilai-nilai konvesional-tradisional dengan kebudayaan masyarakat modern. Nilai-nilai lama itu berupa pemasangan tarup, lengkap dengan janur kelapa muda dan pisang. Pada sore hari, diadakan kenduren yang dilanjutkan dengan pengajian. Kemudian, keesokan harinya ritual siraman dilaksanakan. Pada malam harinya, dilanjutkan dengan kegiatan midodareni. Pagi hari, diadakan upacara panggih. Malam harinya, resepsi diadakan digedung yang cukup megah dengan dihadiri oleh ratusan pasangan undangan. Dengan memakai pakaian adat jawa, kedua mempelai dan keluarganya menerima ucapan selamat dari para undangan. Setelah berjabat tangan, para undangan lalu menuju hidangan yang telah disediakan yang ditata di sekeliling arena resepsi dengan pola standing party. Di bagian-bagian tertentu, disediakan tempat celengan sebagai simbol harapan pihak penyelenggara agar ucapan selamat tidak diwujudkan karangan bunga atau yang lain, tapi dengan uang.

Dalam acara pernikahan di atas, terdapat pencampuran antara budaya modern dengan tradisi masyarakat agraris. Upacara adat, kenduren, pengajian dan hadirnya banyak tamu undangan, adalah ciri masyarakat agraris. Sementara uang yang diharapkan dari tamu undangan, prasmanan, standing party adalah sebagai simbol masyarakat indutsri (modern). Kegiatan tersebut bersifat ambiguistik, tidak tradisional tidak pula modern. Fenomena di atas menunjukan adanya peralihan budaya masyarakat dari satu bentuk ke pola yang lain, akan tetapi belum menemukan bentuknya yang pas. Kenyataan ini disebabkan masih mengakarnya budaya lama, sementara persentuhan budaya modern telah begitu kuat. Prof. Sjafri Sairin menggambarkan fenomena ini dengan ungkapannya, “Sebelah kaki masyarakat telah berpijak pada gagasan kehidupan baru, sebelah kakinya masih berpijak pada gagasan budaya lama yang mereka miliki.”

Modernitas akan membawa perubahan masyarakat Indonesia pada tiga kondisi. Yang pertama, masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat agraris menjadi industri. Kedua, globalisasi informasi. Ketiga, semakin tingginya intelektualitas di kalangan muda. Demikian H. Zulfi Mubarak, M.Ag. menuturkan dalam bukunya, Sosiologi Agama: Tafsir Sosial Fenomena Multi-Religius Kontemporer. Tiga faktor itu akan menimbulkan implikasi sebagai berikut:

Pertama, masyarakat jauh dari agama. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa masyarakat agraris masih sangat menggantungkan kehidupannya pada alam. Faktor-faktor yang di luar kemampuan mereka untuk mengatasinya, seperti kemarau panjang, banjir besar secara psikologis membuat masyarakat agraris cenderung taat pada agama. Disebabkan kesadarannya yang kuat akan fenomena-fenomena alam di luar kemampuannya. Sebaliknya, dengan masyarakat industri yang tidak menggantungkan lagi hasil produksinya pada alam, melainkan pada perhitungan matematis dan manajerial yang cermat. Mereka cenderung merasa kurang perlu akan agama. Atas dasar ini, terbuka lebar masyarakat untuk berperilaku tidak sesuai ajaran agama.

Kedua, masyarakat berperilaku tidak sopan. Kecenderungan ini antara lain disebabkan derasnya globalisasi informasi, baik media cetak maupun media elektronik. Dimungkinkan budaya lain yang negatif sulit disensor, sementara secara merata dapat diakses oleh setiap individu masyarakat.

Ketiga, masyarakat tidak mudah menerima pendapat orang lain, guru agama sekalipun, kecuali jika suatu pendapat diberikan dengan argumentasi yang rasional yang dapat diterima oleh pikirannya. Hal semacam ini antara lain diakibatkan oleh semakin luasnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang hakikatnya lebih banyak untuk dikonsumsi rasio akan semakin digandrungi kaum muda yang mencari jati diri. Mereka mengukur segala sesuatu dengan rasionya.

Indikasi lain dari pola perilaku masyarakat transisional adalah pola meterialistik-konsumtif yang tinggi. Dengan mendapatkan simbol-simbol dalam benda-benda (pakaian produk Amerika, motor keluaran Jepang, makanan ala Eropa) masyarakat transisional (liminality) sudah merasa menjadi bagian masyarakat modern. Yang lebih memprihatinkan, seperti sudah disinggung H. Zulfi di atas adalah melemahnya kehidupan beragama, degradasi moral, dan kegalauan mental. Max Weber dalam teorinya yang terkenal, menamai kondisi masyarakat seperti ini dengan istilah “Anomi”, yakni kondisi masyarakat tanpa nilai. Nilai lama memudar nilai baru belum menemukan bentuknya yang ideal. Sebab hal-hal baru yang diimpor dari luar tidak berarti akan membawa kemajuan sebagaimana nilai itu berhasil diterapkan di daerah asalnya. Tergantung sejauh mana kesesuaian sejarah, nilai-nilai lama dan konteks kekinian dan kedisinian suatu bangsa.

Walhasil, modernitas telah membawa masyarakat pada satu peradaban baru. Sementara mereka masih memiliki keterikatan erat secara emosional dan mendarah daging dengan budaya lama, meski hanya sekedar simbol-simbol yang tidak dihayati atau diketahui apa maknanya.

Masyarakat Madani

Masyarakat transisional adalah masyarakat yang tidak memiliki karakter atau disebut juga masyarakat tanpa struktur. Demi kemajuan bangsa, masyarakat tanpa struktur ini harus segera mendapatkan bentuknya yang ideal di ranah modernitas. Sebagai acuan, apa yang dikatakan DR. Ali Syari’ati pantas menjadi pertimbangan. Ali Syari’ati mengatakan: “Masa lalu yang tidak melihat masa depan adalah stagnasi dan masa depan yang tidak berpijak masa lalu adalah kebodohan.” Singkat kata, pencarian bentuk baru itu harus mengakomodir nilai-nilai lama. Dalam ungkapan lain dikatakan, “Al Muhafdzah ala Qadimi Shalih, Wa al Ahkdzu bil Jadid al Ashlah”(menjaga nilai-nilai lama yang baik dan mengadopsi hal-hal baru yang bermanfaat). Konsep masyarakat madani dapat menjadi satu tawaran bagi pengentasan masyarakat transisional di Negara-negara maju pada umumnya, dan bangsa Indonesia khusunya.

Banyak pakar yang berbicara masalah ini. Hanya saja, definisi yang diberikan bersifat subyektif. Frans Magnes suseno, seorang Profesor filsafat, mengartikan masyarakat madani sebagai “Wilayah-wilayah kehidupan sosial terorganisasi yang bercirikan antara lain: kesukarelaan (voluntary), keswasembadaan (self generating), dan kewaspadaan (self supporting), kemandirian yang tinggi berhadapan dengan Negara dan keterkaitan dengan norma-norma dan nilai-nilai hukum yang diakui warganya. Sebagai sebuah ruang publik, ia harus menjamin berlangsungnya perilaku, tindakan dan refleksi mandiri, tidak terkungkung kondisi kehidupan metrial dan tidak terserap jaringan-jaringan kelembagaan politik resmi. Di dalamnya tersirat pentingnya suatu ruang publik yang bebas, dimana proses komunikasi yang bebas bisa dilakukan masyarakat.”

Dari sekian definisi, hemat kami definisi inilah yang paling tepat dalam mendefinisikan masyarakat madani. Sementara para pakar berpendapat masyarakat madani bersumber dari tradisi Barat, dimana konsepnya lahir dari sejarah Yunani kuno. Aristoteles mengungkapakan istilah “Politike Kononia” yang dalam bahasa latin disebut “Societas Civilis” yang berarti masyarakat politik. Politike kononia yang dikehedaki oleh Aristoteles adalah satu masyarakat politik dan etis dimana warga negara berkedudukan sama di depan hukum. Menurut pendapat ini, konsep masyarakat madani mendapatkan perubahan makna terutama pada masa Renaissance. Berbeda dengan Adam B. Seligman dalam bukunya, The Idea of Civil Society. Menurutnya, masyarakat madani adalah akibat pemacetan pemikiran sosial politik Barat sekitar abad ke XVII sampai XVIII.

Demikian pendapat sementara pakar. Akan tetapi, jika kita mengacu pada kata “Madani”, yang berasal dari bahasa Arab, kita akan menemukan apa yang dinyatakan pakar, bahwa teori masyarakat madani bersumber dari tradisi Yunani kuno tidaklah tepat. Sebab, madani dalam bahasa Arab mempunyai banyak makna. Madani dapat diartikan sebagai orang beradab, yang berbudaya kota, bisa juga bermakna berkenaan dengan masalah sipil dan sekuler. Yang lebih tepat adalah pendapat yang menyatakan masyarakat madani adalah bentuk negara ideal yang terinspirasi negara yang pernah berdiri di Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah Muhammad Saw. Menurut Profesor Jamal al Bana dalam bukunya, “Agama dan Negara”, negara Madinah adalah negara ideal yang pernah ada di muka bumi dan tak mungkin terulang kembali. Jamal al Bana mendasarkan pendapatnya pada; pertama, negara Madinah adalah negara yang berjalan langsung dibimbing oleh wahyu. Kedua, negara Madinah tidak memiliki perangkat yang dibutuhkan oleh sebuah negara pada umumnya, seperti penjara, tentara, polisi, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Ini tidak mungkin terjadi di negara manapun. ketiga, negara Madinah didirikan dengan satu komitmen hidup bersama antar etnis agama dan budaya, tidak didirikan dengan agitasi politik (perlawanan), apalagi pertumpahan darah. Butir-butir perjanjian kesepahaman yang dibuat oleh Rasulullah Saw bersama seluruh komponen masyarakat Yatsrib (kemudia disebut Madinah) dinamakan Piagam Madinah.

Negara makmur sejahtera itulah yang menjadi inspirasi teori “masyarakat madani”. Sebab, seperti dikatakan di atas, gambaran yang diberikan sementara kalangan yang menyatakan teori masyarkat madani berasal dari Yunani dengan makna “Societas Civilis” tidak mampu mewakili makna yang terdapat dalam kata “madani itu sendiri”.

Asas- Asas Masyarakat Madani

Imam al Mawardi, dalam bukunya yang berjudul “Adab ad Dunya wa Din”, mengatakan “Terciptanya masyarakat madani meniscayakan dua syarat; pertama, teratur dan terorganisirnya masalah publik. Kedua, kesejahteraan yang dapat dinikmati setiap warga negara.” Dua poin itu terkait satu dengan lainnya. Untuk tercapainya poin yang pertama, ada enam syarat yang harus dipenuhi.

Pertama, adanya agama yang ditaati. Sebab keyakinan setiap individu terhadap agama akan menjadi kontrol dalam diri setiap individu.

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ (الأعراف 3)

Artinya: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.”

Kedua, pemerintarah yang kuat. Yang dapat mengendalikan komponen-komponen bangsa. Ketiga, keadilan sosial bagi seluruh anak bangsa. Menurut Imam al Mawardi, tidak ada sebab yang dapat menghancurkan suatu bangsa yang lebih berbahaya daripada korupsi, dan tindakan sewenang-wenang. Keempat, keamanan, ketertiban dan stabilitas sosial. Orang-orang yang kuat merasa tentram, kaum lemah merasa tenang. Kelima, stabilitas ekonomi dan swasembada pangan. Keenam, cita-cita bersama komponen bangsa, sehingga menjadi bangsa yang dinamis. Berkenaan dengan ini, Rasulullah Saw bersabda: “Cita-cita adalah rahmat dari Allah bagi umatku. Seandainya tidak ada cita-cita, seorang petani tidak akan pernah menanam pohon, seorang ibu enggan menyusui sang anak.”

Itulah syarat-syarat untuk terpenuhinya poin pertama. Semantara untuk terealisasinya poin kedua, yaitu kesejahteraan setiap individu masyarakat, diperlukan tiga hal. Pertama, ketaatan kepada pemimpin, dimulai dari tiap individu. Kedua, kasih sayang antar sesama. Ketiga, kebutuhan pokok masyarakat yang tercukupi. Demikian dengan panjang lebar pengarang karya fenomenal “al Ahkam Sulthaniah” itu menjelaskan bagaimana masyarakat madani berdiri. Semua syarat itu mengakomodir pluralisme, egalitarianisme, terutama bagi daerah yang memiliki agama dan kepercayaan yang tidak tunggal.

Setelah kita mengetahui syarat-syarat untuk bedirinya masyarkat madani, muncul sebuah pertanyaan, “Dari mana kita memulai?” Para Ulama, seperti Imam Hasan al Bana, demikian juga ulama kontemporer dan pakar tafsir Indonesia, Quraish Shihab sepakat bahwa untuk terciptanya tatanan masyarakat ideal harus dimulai dari komponen terkecil sebuah bangsa, yaitu keluarga. Satuan terkecil ini dibina baik segi pendidikan, mental kejiwaan, agama dan tanggungjawab sosial. Jika satuan masyarakat ini telah terbina, maka akan tercipta masyarakat madani.

Yang signifikan, selain beberapa poin tersebut di atas adalah adanya seorang pemimpin yang mempunyai moralitas tinggi, yang sikap, gerak, dan segala kebijakannya bisa menjadi referensi bawahan. Sosok ini di gambarkan oleh Ali Syari’ati sebagai sosok yang memiliki karakter; ilmuan; seorang pembelajar sejati, intelektual; seorang yang berupaya memahami realitas zaman dan bangsanya, idiolog; berpandangan jauh yang tidak terperangkap kepentingan politik sesaat, dan terakhir pemimpin itu harus mempunyai karakter ulama, orang yang bukan hanya mengajarkan wudhu, tapi juga berupaya mengetahui orang yang diajari wudhu bisa makan apa tidak, jiwanya terzalimi apa tidak, dan seterusnya. Menurut Ali Syari’ati, keempat komponen itu harus ada dalam diri seorang pemimpin yang akan membawa masyarakat pada pencerahan. Atau dalam konteks ini, pemimpin yang akan mengentaskan masyarakat dari kondisi trasnsisi (liminality) ke kondisi modern religi.[]

Penulis, Ahmad Tsauri

Sejarah Masjid Lirboyo

Semula masjid itu amat sederhana sekali, tidak lebih dari dinding dan atap yang terbuat dari kayu. Namun setelah beberapa lama masjid itu digunakan, lambat laun bangunan itu mengalami kerapuhan. Bahkan suatu ketika bangunan itu hancur porak poranda ditiup angin beliung dengan kencang. Akhirnya KH. Muhammad yang tidak lain adalah kakak ipar KH. Abdul Karim sendiri mempunyai inisiatif untuk membangun kembali masjid yang telah rusak itu dengan bangunan yang lebih permanen. Jalan keluar yang ditempuh KH. Muhammad, beliau menemui KH. Abdul Karim guna meminta pertimbangan dan bermusyawarah. Tidak lama kemudian seraya KH. Abdul Karim mengutus H. Ya’qub yang tidak lain adik iparnya sendiri untuk sowan berkonsultasi dengan KH. Ma’ruf Kedunglo mengenai langkah selanjutnya yang harus ditempuh dalam pelaksanaan pembangunan masjid tersebut.

Dari pertemuan antara H. Ya’qub dengan KH. Ma’ruf Kedunglo itu membuahkan persetujuan, yaitu dana pembangunan masjid dimintakan dari sumbangan para dermawan dan hartawan. Usai pembangunan itu diselesaikan, peresmian dilakukan pada tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1347 H. / 1928 M. Acara itu bertepatan dengan acara ngunduh mantu putri KH. Abdul Karim yang kedua , Salamah dengan KH. Manshur Paculgowang.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Dalam tempo penggarapan yang tidak terlalu lama, masjid itu sudah berdiri tegak dan megah (pada masa itu) dengan mustakanya yang menjulang tinggi, dinding serta lantainya yang terbuat dari batu merah, gaya bangunannya yang bergaya klasik, yang merupakan gaya arsitektur Jawa kuno dengan gaya arsitektur negara Timur Tengah.

Untuk mengenang kembali masa keemasan Islam pada abad pertengahan, maka atas prakarsa KH. Ma’ruf pintu yang semula hanya satu, ditambah lagi menjadi sembilan, mirip kejayaan daulat Fatimiyyah.

Selang beberapa tahun setelah bangunan masjid itu berdiri, santri kian bertambah banyak. Maka sebagai akibatnya masjid yang semula dirasa longgar semakin terasa sempit. Kemudian diadakan perluasan dengan menambah serambi muka, yang sebagian besar dananya dipikul oleh H. Bisyri, dermawan dari Branggahan Kediri. Pembangunan ini dilakukan pada tahun sekitar 1984 M.

Tidak sampai disitu, sekitar tahun 1994 M. ditambahkan bangunan serambi depan masjid. Dengan pembangunan ini diharapkan cukupnya tempat untuk berjama’ah para santri, akan tetapi kenyataan mengatakan lain, jama’ah para santri tetap saja membludak sehingga sebagian harus berjamaah tanpa menggunakan atap. Bahkan sampai kini bila berjama’ah sholat Jum’at banyak santri dan penduduk yang harus beralaskan aspal jalan umum.

Untuk menjaga dan melestarikan amal jariyyah pendahulu serta menghargai dan melestarikan nilai ritual dan histories, sampai sekarang masjid itu tidak mengalami perobahan, hanya saja hampir tiap menjelang akhir tahun dinding-dindingnya dikapur dan sedikit ditambal sulam.

Memegang Tafsir Quran Saat Haid

Admin yang terhormat. Seorang wanita yang sedang haid, apakah boleh memegang tafsir quran, seperti Shafwatu al Bayan li Ma’ani Alqur’ani al Karim?

Fitri

Admin – Saudari Fitri yang berbahagia. Hukum menyentuh atau membawa Alquran bagi orang yang hadats (tidak suci) masih diperselisihkan oleh para ahli fikih:

  1. Menurut Imam Dawud al Dzahiri, hukumnya diperbolehkan secara mutlak, walaupun Alquran tersebut tidak disertai tafsir. Pendapat ini juga disampaikan Imam Hakim dan Imam Hammad, guru Abu Hanifah. Dalil yang menjadi pijakan mereka dalam mencetuskan hukum tersebut adalah: Pertama, Rasulullah pernah mengirimkan surat yang di dalamnya tertulis ayat-ayat Alquran kepada Raja Heraqles. Padahal Raja Heraqles dalam keadaan hadats. Kedua, firman Allah dalam surat al Waqi’ah [56]: 77-79

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ.  فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ.  لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” Menurut mereka, maksud kalimat Alquran dalam ayat tersebut adalah Alquran yang ada di Lauh Mahfudz, sehingga yang dimaksud al Muthahharun adalah para malaikat. Jadi, Alquran yang ada di dunia tidak haram disentuh. Ketiga, hadis Rasulullah Saw.:

لَا يَمُسُّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ

Artinya: “Tidak boleh menyentuh al Quran selain orang yang suci (orang mukmin).” Kalimat Thahir (orang yang suci) dalam hadis di atas maksudnya adalah orang-orang mukmin, yang berarti setiap orang mukmin diperbolehkan menyentuh atau membawa Alquran. Penafsiran hadis ini berdasarkan firman Allah surat al Taubah [9]: 28:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا … الآية

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini.”

Dan berdasar hadis Rasulullah Saw. yang disabdakan saat Abu Hurairah merasa enggan berkumpul bersama para sahabat karena beliau sedang junub (berhadas besar):

سُبْحَانَ اللّٰهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ

Artinya: “Maha Suci Allah, sesungguhnya orang mukmin tidaklah najis.”

  1. Menurut mayoritas ahli fikih, membawa Alquran diperbolehkan jika disertakan dengan benda lain -meskipun hanya sebuah jarum kecil- asalkan berniat membawa benda yang menyertai Alquran, bukan berniat membawa Alquran atau berniat membawa keduanya sekaligus. Diperbolehkan juga membawa Alquran yang disertai tafsir, atau keterangan-keterangan lain seperti asbab al nuzul (sebab-sebab ayat Alquran diwahyukan), fadhilah ayat dan lain sebagainya. Hal ini jika tafsirnya atau keterangan-keterangan itu lebih banyak daripada ayat Alquran itu sendiri. Pendapat ini juga disampaikan oleh Abu Makhramah dan Imam Romli.

Ulama madzhab Syafi’i menjelaskan, Alquran yang tulisannya bercampur dengan tafsir -seperti kitab Tafsir Jalalain- dan Alquran yang tulisannya terpisah dari tafsirnya -seperti tafsir Shafwatul Bayan li Ma’ani al Quran– memiliki hukum yang sama. Tentang hukum menyentuh Alquran, menurut Imam Romli diperbolehkan asalkan tidak menyentuh pada bagian tulisan Alquran.

Perlu diketahui bahwa kitab tafsir Shafwatul Bayan li Ma’ani Alquran memuat beberapa keterangan berupa: Asbab al Nuzul, Tafsir, dan Faharis (Daftar Isi). Sehingga jelas bagi kita bahwa menyentuh atau membawa kitab tafsir Shafwatul Bayan li Ma’ani Alquran diperbolehkan, namun hukumnya makruh. Dijelaskan dalam kitab Itsmid al ‘Ainaini:

[مسألة] يَحِلُّ حَمْلُ قُرْآنٍ مَعَ تَفْسِيْرٍ مَشْكُوْكٍ فِيْ أَكْثَرِيَّتِهِ عِنْدَ (حج) كالضَّبَّةِ وَالْحَرِيْرِ

Artinya: “Halal membawa Alquran disertai tafsir yang perbandingan banyaknya masih diragukan menurut Imam Ibnu Hajar, seperti masalah tambalan dengan perak dan masalah kain sutera.”

[مسألة]: لَا تُعْطَى حَوَاشِي الْمُصْحَفِ حُكْمَ التَّفْسِيْرِ عِنْدَ (حج) وَقَالَ (م ر): الْحُكْمُ وَاحِدٌ

Artinya: “Bagian tepi Alquran tidak sama hukumnya dengan Alquran menurut Imam Ibnu Hajar. Sedangkan menurut Imam al Ramli hukumnya sama dengan Alquran.”

[مسألة]: حَيْثُ كَانَ التَّفْسِيْرُ أَكْثَرَ لَا يَحْرُمُ مَسُّ الْمُصْحَفِ مُطْلَقاً، وَقَالَ (م ر): الْعِبْرَةُ فِي الْحَمْلِ بِالْجَمِيْعِ وَفِي الْمَسِّ بِمَوْضِعِهِ.

Artinya: “Jika jumlah huruf tafsir lebih banyak dari pada jumlah huruf Alquran, maka tidak haram menyentuh kitab tersebut secara mutlak. Imam Al Romli mengatakan, hukum membawa kitab memandang pada keseluruhan kitab, sedangkan hukum menyentuh hanya pada bagian yang disentuh saja.”

[مسألة]: لَا يَحِلُّ حَمْلُ قُرْآنٍ وَمَتَاعٍ بِقَصْدِهِمَا (تحفة) وَيَحِلُّ عِنْدَ (م ر)

Artinya: “Haram membawa Alquran bersama benda lain dengan niat membawa keduanya (kitab Tuhfah). Namun menurut Imam al Ramli hukumnya halal.”

Dalam kitab Bughyaah al Mustarsyidin (Sayyid Abdurrahman bin Muhammad) menjelaskan:

وَاعْتَمَدَ (م ر) وَالْخَطِيْبُ حُرْمَةَ مَسِّ السَّاتِرِ لِلْمُصْحَفِ فَقَطْ ، وَجَوَّزَ أَبُوْ مَخْرَمَةَ مَسَّ جَمِيْعِ الْجِلْدِ. فَائِدَةٌ : قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ : يَجُوْزُ حَمْلُ الْمُصْحَفِ وَمَسُّهُ بِحَائِلٍ. وَقَالَ دَاوُدُ : لَا بَأْسَ بِهِمَا لِلْمُؤْمِنِ مُطْلَقاً. وَقَالَ طَاوُسُ : يَحِلَّانِ لِآلِ مُحَمَّدٍ مَعَ الْحَدَثِ اهـ شَرْحُ الدَّلَائِلِ

Artinya: “Imam al Romli dan Imam Khathib berpendapat, ‘Haram menyentuh penutup Alquran.’ Sedangkan Abu Makhramah memperbolehkan menyentuh seluruh sampul Alquran. (Faidah) Abu Hanifah memperbolehkan menyentuh dan membawa Alquran dengan alas/penghalang. Imam Dawud berpendapat, ‘Orang mukmin diperbolehkan menyentuh atau membawa Alquran secara mutlak.’ Sedangkan Imam Thawus berkata, ‘Keduanya (menyentuh dan membawa Alquran) halal bagi keturunan Nabi Muhammad Saw. meskipun dalam keadaan hadas.’

Kembali Pada Renungan yang Terlupakan

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Yunus [10]: 3)

Ayat di atas menyuguhkan sebuah renungan kepada para makhluk-Nya. Sebuah renungan yang selalu dilupakan oleh para hamba-Nya. Renungan bahwa segala sesuatu itu hendaknya dilakukan dengan bertahap, tidak dilakukan tergesa-gesa. Dalam ayat tersebut merekam kejadian penciptaan langit dan bumi dalam enam masa. Kenapa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan keduanya dalam jangka cukup lama, tidak dalam sekejap saja. Padahal kita tahu jika Allah adalah Dzat yang ketika ingin mewujudkan sesuatu pasti akan terwujud dan sekejap langsung jadi; “Kun Fayakun”. Diantara ulama yang menginterpretasikan ayat tersebut, ada yang memberikan sebuah statemen jika hikmah dibalik penciptaan langit dan bumi dalam enam masa itu adalah agar para manusia sadar jika segala sesuatu yang ingin dilakukan hendaknya secara bertahap, tidak atau jangan sampai dilakukan dengan adanya ketergesa-gesaan.

Sesuatu yang diidam-idamkan jika terwujud pasti akan memberikan sebuah kesan yang sungguh berarti pada orang yang mempunyai keinginan tersebut. Untuk menuju kesana, tentu diperlukan sebuah usaha keras agar keinginan bisa tercapai dengan sempurna. Dan bukanlah hal yang mudah proses menuju kesana, karena banyak kerikil tajam yang siap menghadang. Setiap individu pasti mempunyai keinginan, namun keinginan itu belum tentu atau tidak akan pernah terwujud jika ia tidak mau melakukan usaha secara intensif. Ini merupakan harga mati jika keinginannya ingin terwujud. Seseorang bisa menyandang gelar ulama, karena berkat usaha keras yang dilakukannya dan yang pasti untuk menempuhnya diperlukan tenggang waktu yang tidak sebentar. Dia harus mempelajari, membahas, menelaah ulang, dan lain sebagainya yang mestinya butuh waktu cukup lama. Tidak bisa diraih secara instan seperti menimba air dari dalam sumur.

Ketika seseorang telah mempunyai suatu keinginan dan dia telah merencanakan usaha untuk kesana dengan membuat beberapa langkah, yang perlu dia lakukan selanjutnya ialah hendaknya menjalaninya dengan pelan-pelan. Sikap ini dibutuhkan karena ketika menjalani suatu hal dengan tanpa adanya kehati-hatian, bisa-bisa ketika telah sampai pada tujuan dia akan sedikit menemui keganjalan karena merasa telah salah arah. Adanya sikap hati-hati yang dimanifestasikan dengan pelan-pelan atau bertahap, sebenarnya berguna untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan. Sedang tindakan tergesa-gesa adalah sebuah kebiasaan yang negatif. Apalagi ciri khas grusa-grusu-nya itu, membuat orang di sekitar menjadi tidak ‘mantap’. Disamping tindakan yang kurang baik, agama pun mengatakan jika tindakan tergesa-gesa merupakan salah satu tindakan musuh bebuyutan kita, setan.

Sebenarnya kalau kita mau merenungkan semua hal yang diciptakan oleh Allah Swt., pasti kita akan menemukan secercah kebeningan hati karena telah merasa mendapat pentunjuk atau hidayah-Nya. Ingat, merenungkan apa yang diciptakan, bukan Yang Menciptakan. Sebab jika pikiran kita merenungkan pada sang Pencipta, akal kita tidak akan pernah menjamah kesana. Bahkan yang paling ditakuti adalah malahan bisa jadi kita tersesat terlalu jauh.

Banyak sekali ayat Alquran yang menyetir tentang perenungan tentang apa-apa yang telah diciptakan-Nya. Seperti dalam surat Ali Imran ayat 190-191: 190. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka’.”

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa termasuk orang berakal atau kata lainnya pintar adalah orang yang mau berfikir tentang penciptaan langit dan bumi. Tujuan perenungan itu adalah agar mengetahui jika segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi pasti ada hikmahnya. Dan biasanya orang yang mengoptimalkan pikirannya dengan seringnya merenung tentang ciptaan Tuhan, pasti akan mempunyai ide-ide cemerlang. Bahkan tidak hanya sampai di situ, bisa jadi ide itu dikembangkan sehingga menjadi sebuah bidang ilmu khusus, seperti kemajuan teknologi saat ini.

Dalam pembahasan sikap tergesa-gesa, sebenarnya agama Islam juga dalam melarangnya ada banyak sekali hikmah yang terkandung. Hanya saja tidak ada atau jarang yang tahu. Seperti anjuran pelan-pelan ketika makan. Ketika makanan sampai di mulut, ada anjuran sebaiknya tidak langsung ditelan, tapi dikunyah terlebih dahulu sampai benar-benar halus. Hikmah yang terkandung, menurut ahli pencernaan, adalah jika makanan yang masuk ke dalam perut tidak dalam keadaan halus, maka akan merusak lambung, karena lambung adalah termasuk organ tubuh yang sensitif. Makan dengan tenang, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang, juga akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaan pun jadi lebih ringan dan proses pencernaan berjalan sempurna. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna dan dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Kalau kita sejenak mau melirik kembali tentang historis Nabi tatkala menerima wahyu, mungkin kita akan sadar jika memang perlakuan tergesa-gesa bukanlah hal yang baik. Kisah ini terekam dalam Alquran surat al-Qiyamah ayat 16-19: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.”

Dulu, Nabi Muhammad ketika menerima wahyu lewat malaikat Jibril sempat ditegur oleh Allah karena tergesa-gesa menggerakan bibirnya sebelum Jibril membacakan wahyu itu. Teguran kepada Nabi yang terekam rapi dalam Alquran ini secara tidak langsung juga menyuruh kita agar tidak melakukannya.

Dari sedikit ulasan ini mungkin dapat ditarik sehelai benang merah, jika sikap tergesa-gesa itu memang sungguh sikap yang tidak baik diterapkan dalam semua tindakan dan banyak akibat yang fatal jika orang telah terlanjur melakukannya. Oleh karenanya, mulailah dari sekarang kita mengatur pola hidup dengan sikap yang tenang, tidak tergesa-gesa. Disamping karena sikap ini banyak menguntungkan, Allah pun akan menyayangi kita sehingga kita akan mendapatkan pahala dari-Nya. Sebab sikap tenang adalah sikap yang dicintai-Nya. Wallahu A’lam bis Shawab.

Penulis : Zainal Faruq