Tag Archives: Muhammad

Menghayati Perjalanan Isra’ Mi’raj

Dalam sebuah keterangan yang terdapat dalam kitab Tafsir At-Thobari, peristiwa Isra’ dan Mi’raj diartikan sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Muqaddas (Jerusalem), lalu dilanjutkan dengan perjalanan dari Qubbah As-Sakhrah menuju Sidratul Muntaha (akhir penggapaian).[1]  Kronologi tersebut sebenarnya sudah dideskripsikan secara jelas oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu (potongan) malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al-Isro’: 1).

Mengenai waktu kapan peristiwa tersebut terjadi masih diperselisihkan para ulama. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di tahun kesepuluh dari masa kenabian.[2] Namun dalam kitab Al-Thobaqot Al-Kubro karya Ibnu Sa’d dikatakan, bahwa peristiwa ini terjadi di antara 18 bulan sebelum Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk melakukan hijrah ke kota Yatsrib (Madinah).

Dalam salah satycatatan sejarah, Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling bersejarah bagi umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Bagaimana seorang hamba yakni Nabi Muhammad SAW bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam waktu tempuh satu malam.

Sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim berkenaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengendarai Buraq. Dan juga disebutkan bahwa ketika di Masjidil Aqsha Palestina, Rasulullah SAW melakukan salat dua rakaat. Setelah itu, datanglah malaikat Jibril membawa sebuah bejana berisi arak dan bejana lain berisi susu, namun Rasulullah SAW memilih bejana yang berisi susu. Dan dalam riwayat itu pula kronologi peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW ke langit pertama, kedua, dan seterusnya hingga mencapai Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), ‘Arsy, dan Mustawa. Di sanalah beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT, dan sejak saat itu pula salat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Yang pada mulanya, sholat yang diwajibkan berjumlah 50 rakaat.

Keesokan paginya, ketika Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang telah beliau alami kepada khalayak penduduk kota Mekah. Orang-orang kafir Mekah pun segera menyebarluaskan berita yang dianggap sebagai cerita palsu tersebut kepada teman-teman mereka sambil mengolok-olok Rasulullah SAW.

Karena Rasulullah SAW mengaku datang ke Baitul Muqaddas di Palestina, beberapa orang kafir menantang beliau untuk menjelaskan semua yang ada di sana. Padahal, ketika mendatangi Baitul Muqaddas pada malam itu, tidak pernak terlintas dalam benak Rasulullah SAW untuk memperhatikan dengan seksama seluruh detail bangunan Baitul Muqaddas, apalagi menghafalkan jumlah pilarnya. Mendapatkan tantangan seperti itu, Allah SWT menampakkan Baitul Muqaddas di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun dapat menjelaskan semua hal tentang Baitul Muqaddas dengan sangat rinci seperti yang diminta orang-orang kafir. Berkenaa dengan hal itu, Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَمَّا كَذَّبَتْنِيْ قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللهُ لِيْ بَيْتَ الْمُقَدَّسِ فَطَفَقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ اِلَيْهِ

“Ketika orang-orang Quraisy menganggap aku berdusta, aku pun berdiri di Hijr Ismail, dan Allah menampakkan Baitul Muqoddas padaku, maka aku pun menceritakan kepada mereka semua tanda-tanda bangunan tersebut sembari aku melihat bangunan itu”.[3]

Sementara itu, beberapa orang kafir Quraisy telah mendatangi Abu Bakar As-Shidiq RA untuk menyampaikan hal yang baru dituturkan oleh Rasulullah SAW. Mereka berharap sahabat terdekat Rasulullah SAW ini menganggap peristiwa tersebut merupakan sebuah kebohongan besar. Mereka juga berharap, Abu Bakar As-Shidiq RA tidak akan mempercayai Rasulullah SAW lagi. Ternyata Abu Bakar As-Shidiq RA malah berkata, “Jika memang benar Dia (Muhammad SAW) mengatakan seperti itu, aku pasti percaya. Bahkan, jika beliau mengatakan yang lebih jauh (lebih ajaib) dari itu, akau pasti akan tetap mempercayainya,”.[4]

Pada pagi hari setelah peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut malaikat Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW tentang tata cara salat beserta waktu pelaksanaannya. Sebelum syariat salat lima waktu ditetapkan, Rasulullah SAW biasa melaksanakan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari, sebagaimana dilakukan nabi Ibrahim AS.[5]

Menguatkan Semangat Dakwah

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi pada saat Rasulullah SAW mengalami masa-masa kecemasan. Karena beberapa waktu sebelumnya, Rasulullah SAW sangat terpukul dengan meninggalnya dua orang yang menjadi ujung tombak kekuatan beliau dalam mendakwahkan agama Islam, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib RA. Sementara tekanan fisik maupun psikis yang terus dilancarkan kafir Quraisy semakin menambahkan kegelisahan beliau, seolah tiada celah dan harapan bagi masa depan agama Islam pada saat itu.

Maka pada malam malam 27 Rajab, seakan menjadi penyejuk di tengah kegersangan yang selama ini menyelimuti beliau. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Muqaddas menjadi langkah untuk menjelajahi napak tilas perjuangan nabi-nabi terdahulu. Begitu pula dengan proses Mi’raj, beliau dapat melihat secara langsung seluruh alam dan singgasana kebesaran di jagad raya. Secara keseluruhan, semua yang dialami pada malam itu telah membantu meredakan kecemasan yang beliau alami selama ini dan meningkatkan kembali gairah dakwah dan tekad yang semakin kuat ke depannya.

Melihat konteks situasi dan kondisi peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah memberi pelajaran berharga kepada umat manusia dalam menghadapi sebuah perjuangan. Segala rintangan dan penentangan yang ditemukan akan dapat diselesaikan dengan cara maupun metode yang sudah diketahui oleh Allah SWT. Karena yang terpenting bagi manusia adalah terus berjuang, memperkuat tekad, dan terus konsisten dalam semua keadaan. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,” (QS. Yusuf: 87).  []waAllahu a’lam

 

 

[1] Tafsir At-Thobari, juz 17 hal 333.

[2] ‘Umdah Al-Qori’ ‘Ala Shahih Al-Bukhari, juz 17 hal 20.

[3] Shahih Al-Bukhari, juz 5 hal 52.

[4] Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah, hal 108-109, Maktabah Dar As-Salam.

[5] Fath Al-Bari, Juz 1 hal 465.

Nabi Terakhir : Mukjizat Mutakhir

Umat muslim harus mengimani bahwa Nabinya adalah Nabi penutup, kalaupun ada Nabi setelahnya pastilah  Nabi abal-abal, dia juga Nabi sekaligus Rosul yang paling utama di antara ribuan Nabi sebelumnya.

Sederet kelebihan yang Allah berikan kepada beliau, mulai dari derajat yang tinggi di sisiNya, makhluk yang paling sempurna diantara yang pernah di ciptakan, sampai dengan jumlah pengikut terbanyak, bahkan menjadi mayoritas penduduk surga (semoga kita termasuk).

Bertolak dari sini, Nabi yang berkriteria sedemikian itu, seharusnya bukti kenabian yang ia miliki lebih ‘’ mengalahkan ‘’ dari pada kelebihan para pendahulunya, lantas apakah memang demikian ? mari kita urai.

Nabi Adam, Nabi sekaligus manusia  pertama, di ajari langsung oleh Allah tentang nama-nama seluruh benda, selanjutnya Allah memamerkan kemampuannya itu di hadapan malaikat, dan memerintahkannya untuk bersembah sujud.

ternyata Nabi kita juga di ajari langsung oleh Allah tentang nama-nama benda sekaligus wujud bendanya, bahkan sujudnya para Malaikat kepada Nabi Adam selain merupakan perintah Allah, juga karena di kening beliau terdapat pancaran sinar Muhammad.

Nabi Idris A.S di muliakan oleh Allah dengan mengangkatnya ke tempat yang mulia (tinggi/surga) sedangkan Nabi kita diangkat oleh Allah ke sebuah tempat yang belum pernah seorangpun menjamahnya, yakni saat isro’ mi’roj, bahkan beliau berdialog langsung dengan Sang pencipta.

Sementara Nabi Nuh A.S, Allah menyelamatkan beliau dan kaumnya dari keganasan air bah, dan Ia memberikan kasih sayangNya kepada ummat Muhammad dengan menyelamatakan mereka dari siksa yang di timpakanNya langsung dari langit, layaknya umat terdahulu.

Di lain Nabi Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai kholil (kekasih/sahabat) Nya. Dan Ia memposisikan Nabi kita sebagai habib (kekasih/tercinta) Nya, perbedaan derajat keduanya jelas kentara.

Nabi Daud, besi di tangan beliau layaknya kain, beliau bisa berkreasi apa saja menggunakan besi. Nabi agung kita, dengan sentuhan tangan mulianya, pohon yang asalnya sudah kering kerontang  langsung bersemi dan berbuah.

Nabi Musa bisa mengubah tongkatnya menjadi ular,ular yang tidak bisa bicara, saat menghadapi penyihir-penyihir Raja fir’aun. Tak kalah menariknya, di tangan mulia Nabi Muhammad Saw. makanan dan kerikil-kerikil bertasbih. Batu bersalam kepadanya. Beliau bisa berdialog dengan gunung. Pohon berbicara serta mengucapkan salam bahkan bersaksi atas kenabiannya. Bersujud serta mengadunya seekor Onta. Semua hewan-hewan dan makhluk tidak bernyawa tadi bisa berdialog dengan baginda Nabi, tidak halnya dengan ular Nabi Musa.

Tanda kenabian yang lain, beliau Nabi Musa bisa membelah lautan, seperti cerita yang telah masyhur. Bandingannya,  Nabi kita di beri mukjizat bisa membelah rembulan, dijelaskan bahwa  Ketika kaum Kafir Makkah meminta Rasulullah untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah serta menguji kebenaran Risalah baginda Rasulullah dengan memintanya Membelah Bulan.Maka Allah Swt mengabulkan doa beliau hingga pada malam hari tampaklah bulan terbelah menjadi Dua bagian, di mana bagian lainnya berada di sisi  Gunung Safa dan bagian lainya di sisi Gunung Qaikaan dan terlihat di antaranya bukit Hira.Tapi orang-orang Kafir Makkah malah mengingkari Mukjizat tersebut dan berkata: “Muhammad telah Menyihir Kita”. bahkan kabar ilmu modern,Ilmuwan NASA telah mengungkapkan bawah di bulan terdapat celah dengan panjang beberapa ratus kilometer, kemudian mereka pun menemukan beberapa celah lain di permukaan Bulan yang sampai sekarang belum diketahui penyebab retakan terebut

Nabi Musa juga di beri mukjizat berupa mengalir derasnya air dari bebatuan. Lebih dari itu, celah jemari Nabi Muhammad juga bisa memancarkan air hingga bisa digunakan minum dan bersuci 1500 pasukan beliau saat perang.

Nabi Harun di beri kelebihan dengan bicaranya yang fasih, Nabi Muhammad selain fasih berbicara, perkataan beliau juga mengandung sastra yang dinggi.

Nabi Yusuf yang tampan ternyata hanya separuh dari ketampanan Nabi Muhammad (bukan berarti ketampanan Beliau di bagi 2 dengan Nabi Yusuf), bahkan ketampanan beliau tidak menimbulkan fitnah, seperti ketampanan Nabi Yusuf yang menyebabkan Zulaikho’ terpancing untuk “mencederai” beliau.

Beralih ke Nabi Sulaiman, banyak mukjizat beliau yang pernah kita dengar, diantaranya beliau bisa berbicara dengan burung, setan menjadi pasukan perangnya, mempunyai kerajaan yang besar dan mengagumkan, yang belum pernah dan tidak akan pernah di miliki seseorang selain beliau, sesuai permohonan beliau kepada Allah. Baginda Nabi kita tidak hanya bisa berkomunikasi dengan benda yang hidup, kerikil, batu, gunungpun (yang semua benda mati) berbicara dan bersaksi di hadapan beliau. Kalau Nabi Sulaiman ketika hendak pergi kemanapun di penjuru bumi dengan menaiki angin, baginda Nabi dengan Buroq yang bisa membawa beliau ke lintas ruang dan waktu  dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Beliau baginda tidaklah memperbudak Jin, tapi mengislamkannya. Pasukan perang Beliau juga bukanlah Jin, tapi para Malaikat juga turut serta dalam barisan perang. Soal kerajaan yang besar dan megah, memang Nabi sendiri memilih menjadi hamba biasa ketika beliau di suruh memilih apakah menjadi Nabi-Raja atau Nabi-Hamba.

Nabi Isa bisa menyembuhkan orang berpenyakit lepra, orang buta dan menghidupkan orang mati. Baginda Nabi mampu mengebalikan bola mata yang sudah terlepas dari kelopaknya, bahkan menjadi lebih sempurna dari yang semula. Beliau juga bisa menghidupkan orang mati, yakni saat seorang laki-laki berkata pada beliau “aku tidak akan beriman padamu hingga kau bisa menghidupkan putriku.”  Beliupun mendatangi kuburan putri laki-laki tadi dan berkata “ wahai fulanah”. Terdengar suara dari dalam kubur “ labbaika wa sa’daika”.

KH. M. Anwar Manshur : Maulid Nabi, Momen Meneladani Nabi

“Keagungan dan keutamaan Nabi Muhammad SAW, sungguh sangat besar, sehingga Pahala dan barokah dapat kita peroleh secara bersamaan”, itulah Petikan Mauidzoh Hasanah yang disampaikan oleh KH. M. Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo tadi malam, dalam acara “Malam Ta’dhim Maulid Nabi Muhammad SAW” yang di helat semalam di Serambi Masjid Lawang Songo Lirboyo.

Lebih lanjut Mbah Yai Anwar menjelaskan, “Sangat Disayangkan sekali, jika waktu-waktu utama seperti ini, dibiarkan begitu saja, tanpa diperingati dan di hormati. Karena hanya dengan mempunyai krentek (kata samar-red) hati saja, itu sudah mendapatkan pahala, apalagi jika mau bersholawat, semacam ini. Insya Allah syafa’atnya akan sampai pada kita,” ujar beliau tegas.

“Banyak kitab-kitab ulama’ Salaf, yang menjelaskan dengan runtut keutamaan mencintai Nabi, salah satunya adalah dengan memperingati kelahirannya.” Riff