Tag Archives: Nabi

Kisah Bisyr bin Harits: Mantan Preman yang Meraih Derajat Mulia

Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi (w. 227 H) pernah mengisahkan:

Pada suatu kesempatan, aku bermimpi bertemu Baginda Rasulullah Saw. Dalam mimpi itu, Rasulullah Saw. bertanya kepadaku, “Wahai Bisyr, tahukah kamu kenapa Allah Swt. meninggikan derajatmu mengalahkan teman-temanmu?”

 “Tidak tahu, Wahai Rasulullah,” Jawabku.

Sebab engkau mengikuti sunahku, mengabdi kepada orang salih, memberi nasihat pada teman-temanmu dan kecintaanmu kepada para sahabat dan keluargaku. Inilah faktor yang membuatmu meraih derajat orang-orang yang baik (Abror).” Tegas Rasulullah Saw.

________________________

Disarikan dari karya Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Mafahim Yajibu An Tushahhaha, hlm. 34.

Khotbah Jumat: Meningkatkan Cinta Kepada Nabi

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah..

Tidak henti-hentinya, marilah kita senantiasa sekuat mungkin selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan menjalankan perintahnya serta menjauhi tiap-tiap larangannya karena hal itulah yang akan membawa kita pada kebahagian dihari penghisaban amal kelak. Tidak lupa, kita bersyukur karena telah berjumpa kembali dengan bulan bulan Rabiul Awal.

Dibulan inilah langit malam pernah terang benderang oleh lahirnya bayi bercahaya yang kelak merubah kehidupan Jahiliah bangsa Arab menjadi peradaban yang penuh nilai-nilai keluhuran nan Islami. Bulan ini adalah bulan dilahirkannya manusia termulia yaitu baginda nabi agung Muhammad saw.

Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Dibulan kelahiran Nabi ini, hendaknya kita mengukur-ukur dan melihat-lihat kembali adakah dihati ini rasa cinta kepada baginda nabi atau seberapa meresap cinta kita kepada baginda nabi? Karena di akhirat nanti, kita sekalian akan dikumpulkan dengan orang yang kita cintai. Baginda Nabi bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Artinya: “Seseorang akan bersama orang yang dia cintai” (HR. Bukhari)

Demikian sabda nabi ini dimkasudkan kelak di akhirat nanti kita akan dikumpulkan beserta orang yang kita cintai

Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

Bagaimana cara kita meningkatkan rasa cinta kepada Nabi? Diantaranya adalah dengan mengetahui dan terus menggali kehidupan nabi. Bagaimana nabi bergaul, bagaimana nabi tidur, bagaimana nabi menghormati orang lain, bagaimana nabi menyayangi binatang dan sebagainya. Karena dari tahu itulah diantara sebab yang akan menumbuhkan rasa cinta.

Sambil terus menggali, rasa cinta juga akan timbul dengan sedikit demi sedikit kita meneladani apa yang diamalkan dan disabdakan nabi. Dari sini cinta kita kepada nabi akan mulai meresap dalam sanubari kita. Juga sebagaimana difirmankan Allah swt :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya: “Sungguh, pada diri Rasulullah adalah teladan yang baik bagi kalian semua” (QS. al-Ahzab: 21)

Jamaah Jumat Yang dimuliakan Allah..

semoga Allah swt melimpahkan kita cinta yang istiqomah kepada baginda nabi dan senantiasa bisa meneladani akhlak-akhlak beliau

ِبَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Nilai Penting Mempelajari Sejarah Nabi

Dr. Said Ramadhan Al-Buthy dalam karyanya yang berjudul Fiqh as-Sirah an-Nabawiyah menjelaskan, bahwa mempelajari dan memahami perjalanan hidup Nabi saw. bukanlah semata-mata bertujuan mencermati pelbagai peristiwa sejarah, bukan pula sekedar meriwayatkan aneka kisah dan kejadian yang sebenarnya. Akan tetapi, tujuan mempelajari sejarah perjalanan hidup Nabi saw. adalah agar umat Muslim dapat menggambarkan hakikat Islam yang menjelma dalam kehidupan Nabi saw.[1]

Apabila tujuan tersebut diperinci, ada beberapa tujuan khusus dalam mempelajari dan memahami sejarah Nabi saw., yaitu:

Pertama, untuk memahami kepribadian Rasulullah saw. dengan cara mempelajari kehidupan serta situasi dan kondisi di masa beliau hidup sehingga dapat menegaskan bahwa Rasulullah saw. bukan sekedar sosok yang paling cerdas dan jenius pada masanya, tetapi juga menunjukkan bahwa beliau adalah rasul yang disokong oleh Allah swt. dengan wahyu serta taufiq dari-Nya.

Kedua, agar setiap Muslim menemukan potret ideal yang bisa diteladani dalam menjalani seluruh kehidupannya, yang menjadikannya pedoman utama dalam seluruh aktivitasnya. Allah swt. telah berfirman dalam al-Quran:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab [33]: 21)

Ketiga, menjadi salah satu jalan untuk meemahami kitab Allah. Sebab banyak sekali ayat al-Quran yang hanya dapat ditafsirkan dan dijelaskan dengan mencermati kejadian yang dialami Rasulullah saw. serta bagaimana sikap beliau dalam menghadapinya.

Keempat, dapat menghimpun porsi terbesar wawasan dan pengetahuan Islam yang benar, baik yang berkaitan dengan akidah, hukum, maupun akhlak. Selain itu bagi pendidik atau pendakwah memiliki contoh hidup dalam mendidik dan mengajar.

Nilai terpenting mengapa sejarah Nabi saw. dapat mewujudkan semua tujuan di atas adalah karena kehidupan Nabi saw. meliputi seluruh aspek kemanusiaan dan kemasyarakatan, baik sebagai individu, maupun anggota suatu komunitas. Kehidupan Rasulullah saw. menjadi contoh luhur tentang seorang pemuda yang dipercaya mengemban amanah kau dan sahabatnya. Beliau adalah pemimpin negara yang mengelola segala urusan dengan cerdas dan sangat bijaksana; beliau adalah suami ideal yang selalu bersikap santun kepada keluarganya; beliau adalah seorang ayah yang penyayang, yang dapat membedakan secara rinci antara hak dan kewajiban istri dan anaknya; beliau adalah panglima perang dan politisi yang jujur dan cerdik; beliau adalah seoarng Muslim paripurna yang cermat dan adil membagi antara penghambaan dan pertapaan kepada Allah dan pergaulan yang jenaka serta lembut bersama keluarga dan para sahabatnya. []waAllahu a’lam

 

 

______________________________

[1] Fiqh as-Sirah an-Nabawiyah, hal 15-16, cetakan Maktabah Darus Salam.

Sekilas Tentang Pengucapan Sayidina

Mengucapkan ‘sayidina’ kepada nabi Muhammad sering menjadi perbincangan hangat di antara umat  muslim. Sebagian dari mereka melarangnya dengan dalil:

أن رجلا قال يا محمد يا سيدنا وبن سيدنا وخيرنا وبن خيرنا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : يا أيها الناس عليكم بتقواكم ولا يستهوينكم الشيطان أنا محمد بن عبد الله عبد الله ورسوله والله ما أحب أن ترفعوني فوق منزلتي التي أنزلني الله عز و جل

Artinya: Seorang lelaki telah datang kepada Rasulullah  seraya berkata:”Ya Muhammad! Ya Sayidina, Ya anak Sayidina! ,wahai yang terbaik di kalangan kami dan anak orang terbaik di kalangan kami!” Rasulullah menjawab:”Wahai manusia, hendaklah kalian bertakwa dan jangan membiarkan setan mempermainkan engkau. Sesungguhnya aku adalah Muhammad bin Abdillah, hamba Allah dan Rasul-Nya dan Demi Allah bahwasanya aku tidak suka se-siapa mengangkat kedudukan aku melebihi apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tentukan bagiku.” (HR. Ahmad)

Juga dengan dalil:

لا تسيدوني في الصلاة

Artinya: Janganlah mengucapkan sayidina padaku saat sholat.

 

Ada juga yang memperbolehkannya bahkan sunah untuk mengucapkannya dengan dalil:

انا سيد ولد  ادم ولا فخر

Artinya: Aku adalah junjungan/tuan dari anak turun adam dan tidak ada kesombongan sama sekali

Kalau kita cermati dari kedua pendapat tersebut merupakan adab kepada nabi Muhammad. Yang melarang berpendapat ketika menambahkan sayidina berarti menambahkan sesuatu yang tidak diberikan oleh Allah SWT, karena ada perintah untuk tidak meninggikan dengan ungkapan yang tidak diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Dan memakai kaidah mengikuti perintah berarti melakukan sebuah adab, bahkan ketika mengucapkan sayidina berarti merendahkan Rasul yang sudah bergelar Nabi atau Rasul.

Sedangkan pendapat yang memperbolehkannya bahwa sayidina itu tetap pantas disandang oleh siapapun bahkan seorang nabi dan rasul dengan dalil di atas, yaitu yang disampaikan rasul, “Aku adalah junjungan/tuan dari anak turun adam dan tidak ada kesombongan sama sekali”, di sini nabi Muhammad mengakui sendiri bahwa beliau adalah seorang sayyidul waladil adam, andaikan tidak boleh jelas menggunakan lafal yang lain seperti aku nabi atau rasul dari anak turun adam. Dan mengikuti kaidah:

التزام الأدب مُقدَّم على امتِثال الأمْر

“Mempertahankan adab atau kesantunan lebih diutamakan daripada memenuhi perintah”

Artinya, konteks pelarangan memanggil sayidina di atas adalah lebih pada ketawadhu’an beliau terhadap para sahabatnya, bukan dalam konteks melarang ‘karena itu buruk’. selain itu juga berpijak pada firman Allah:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).”(QS an-Nur: 63)

 Maka tidak heran bila kalangan Nahdiyin lebih mengutamakan adab ketika memanggil beliau. tidak lain hal itu untuk menjaga kehormatan beliau serta agar panggilan kepada beliau lebih tinggi dari pada panggilan kepada selainnya.

Sedangkan mengenai dalil:

لا تسيدوني في الصلاة

Menurut pendapat  Mutaakhirin Khuffad bahwa hadist tersebut tidak ada dasarnya atau maudhu’ (palsu).

Oleh: M. Yusuf, santri Ma’had Aly PP. Lirboyo semester VII asal Trenggalek.

Kisah Taubat di Akhir Hayat

Diceritakan dari sahabat Umar bin Khattab RA:

Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah SAW. Kami berdua menjenguk salah satu sahabat dari golongan Anshor yang hampir menghembuskan nafas terakhirnya. Melihat keadaannya yang demikian, Rasulullah SAW berkata pada sahabat tersebut, “Bertaubatlah engkau kepada Allah”.

Karena keadaan yang begitu parah, sahabat tersebut tidak mampu mengucapkan sepatah katapun dari lisannya. Ia hanya memberi isyarat pandangan mata yang melihat ke arah langit. Mengamati apa yang dilakukan sahabat tersebut, Rasulullah SAW akhirnya tersenyum.

Wahai Rasulullah SAW, apakah gerangan yang membuat engkau tersenyum?” tanyaku penasaran.

Sahabat ini dalam keadaan sakit yang tidak memungkinkan bertaubat dengan ucapan. Ia hanya memberi isyarat pandangan mata ke arah langit. Sedangkan hatinyalah yang bertaubat dan menyesali segala dosa yang telah ia perbuat.” Jawab Rasulullah SAW.

Tak berselang lama Rasulullah SAW melanjutkan, “Maka dari itu Allah SWT berkata pada malaikat; Wahai para malaikatku. Hamba-Ku yang satu ini sudah tidak mampu lagi untuk bertaubat dengan lisannya namun ia bertaubat dan menyesali dalam hati. Maka Aku tidak akan menyia-nyiakan taubat dan penyesalah yang ada dalam hatinya. Dan saksikanlah bahwa Aku telah mengampuninya.

______________

Disarikan dari kitab Dzurrotun Nashihin, halaman 37, cetakan al-Haromain.