Tag Archives: nasihat

Golden Couple: Setitik Makna Syair Gundul Pacul

Gundul-gundul pacul cul gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan

Wakul gelimpamg segane dadi sak latar

Wakul gelimpamg segane dadi sak latar

Syair klasik yang telah jarang terdengar ternyata di dalamnya tidak hanya terkandung sebuah estetika dan hiburan semata. Dalam liriknya tersirat nasihat bagi seorang pemimpin. Ibaratkan sang pemimpin yaitu Ulama dan Umara adalah yang ‘nyunggi wakul’, penopang utama persatuan berbagai elemen manusia dari yang kecil sampai yang besar dari kasta rendah ke kasta tinggi.

Bedanya, Umara mengatur, mengorganisir semua. Menempatkan pada sebuah wadah formal yang mana dalam pembuatannya umara harus memperhatikan kapasitas dan kualitas tentunya. bagaimana sebuah wadah itu harus menjadi se efesien mungkin, senyaman mungkin dan terjaga keamanannya. Semua dalam lingkup kekuasaan yang sudah tertuang dalam hukum tata negara yang sah dan absolut.

Baik ulama maupun umara keduanya sama-sama menjadi tokoh masyarakat. Ulama diikuti dan disegani karena nilai keluhuran ilmunya dan pengabdian utama untuk menyyebarkan norma-norma agam berdedikasi tinggi mengumpulkan masyarakat dalam majelis non-formal untuk mendidik batiniah dengan pedoman yang bersanad sampai nabi Muhammad saw.

Tatkala ulama mampu mendidik masyarakat dengan ilmu dan barokah keikhlasan tentunya. dengan penunjang yang mendukung dari umara. Hasil ini akan memudahkan umara menata masyarakat yang telah dipondasi dengan nilai kebaikan dari agama. Saling melengkapi,saling membantu, bahu membahu menyelami masyarakat dengan berbaur, bersama mencoba mengerti kemauan masyarakat menjadi kesatuan ‘nyunggi wakul’  sehingga mendekatkan realisasi yang konkrit yaitu bangsa yang aman-damai-sentosa.

Maka dari itu, sangat dibutuhkan keduanya untuk saling terhubung, no mis komunikasi,karena harfiahnya pasangan ini adalah indikator kesuksesan golden couple  yang mana dengan adanya kerjasama yang baik dan konstan tentunya. masa jaya keemasan tak kan hanya jadi mimpi belaka.

Namun jika sang ‘nyunggi wakul’ sampai terjadi berbeda langkah, berlawanan, ibarat kaki kiri dan kanan yang tidak saling menjaga lagi maka terjadilah ‘wakul ngglimpang segone dadi sak latar’ tiang penopang jatuh, masyarakat bak nasi yang berantakan hingga jauhlah kata damai dalam ingatan!

Oleh:Rohmania Nurul F. kelas 2 Tsanawiyah PP Putri Hidayatul Mubtadi-aat asal Malang.

Gosip dan Seluk-beluknya

Di mana saja kita sering dengar gosip. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Mulai dari permasalahan-permasalahan sepele hingga permasalahan yang serius. Bahkan anak kecil pun juga kadang melakukannya. Karena menggosip sering dilakukan banyak orang, maka membahas hukum dan seluk-beluknya sangat penting dilakukan.

Pengertian dan Dampak

Gosip dalam terminologi syariat disebut dengan ghibah. Yakni membicarakan kejelekan orang lain, sekalipun orang yang dibicarakan berada di hadapannya. Allah berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ.

Artinya: “Dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentu kamu merasa jijik”. (al-Hujurat:12)

Ghibah (selanjutnya disebut gosip) termasuk kategori akhlaqul mazmumah (akhlak tercela) yang diharamkan oleh Allah, dikarenakan dapat menimbulkan dampak negatif bagi orang yang membicarakan maupun yang dibicarakan. Dampak-dampak tersebut di antaranya:
1. orang yang dibicarakan tersakiti;
2. orang yang membicarakan seakan-akan menganggap bahwa ciptaan Allah penuh kekurangan;
3. membuang-buang waktu;
4. menjadikan dosa.

Delapan (8) Sebab Menggosip
Sementara sebab-sebab gosip ada 8, yaitu:
1. Iri
Berawal dari rasa iri kepada orang lain, terkadang orang terjebak melakukan gosip, membicarakan kejelekannya, meskipun sebenarnya orang tersebut tidak mempunyai kesalahan kepadanya.

2. Sebagai pemuas hati
Memuaskan hati yang dimaksud adalah melampiaskan rasa kesal karena iri. Sehingga ia akan merasa puas dengan membicarakannya, karena beranggapan seakan-akan orang yang diajak bicarapun juga sependapat dengannya.

3. Tidak ingin orang lain sukses

Hal ini biasanya dikarenakan rasa takut seseorang andai saja ada orang lain yang sukses seperti dia maka dia akan tersaingi.

4. Keinginan untuk dianggap
Biasanya orang yang sering menggosip merupakan orang yang ingin dianggap sebagai orang hebat dan mulia. Dengan cara membicarakan kejelekan orang lain dan merendahkannya, ia berharap agar lawan bicara beranggapan sebenarnya dirinya lebih mulia dibanding dengan orang yang dibicarakan.

5. Ingin memiliki banyak teman
Upaya seseorang untuk memperbanyak teman ada kalanya dengan menjelekkan orang lain. Agar orang-orang di sekitarya lebih suka kepadanya, sehingga mempunyai teman banyak.

6. Bercanda
Membicarakan orang lain terkadang hanya untuk bercanda saja, untuk mencairkan suasana. Meskipun pada kenyataannya hal tersebut dapat menyakiti salah satu pihak.

7. Cuci tangan dari kesalahan
Ketika seseorang mempunyai kesalahan, terkadang ia tidak mau mempertanggungjawabkannya. Justru ia memilih untuk membicarakan kesalahan atau kejelekan orang lain, agar terbebas dari kesalahanya sendiri dan justru orang lain yang dituntut untuk mempertanggungjawabkannya.

8. Menertawakan orang lain
Yakni sebagai bahan ledekan atau ejekan. Menyakiti orang lain dengan cara meledek atau menjelek-jelekannya dihadapan orang banyak. Entah teman-temannya, kerabatnya ataupun yang lain.

Nasihat Bukan Termasuk Gosip

Menasehati orang lain sebab kecerobohannya, tidak masuk kategori gosip. Begitu juga ketika menunjukkan suatu kemaslahatan kepada orang yang ceroboh. Karena Allah tidak pernah mencegah hamba-Nya untuk saling menasehati. Dalam konteks ini orang yang diajak bermusyawarah tentang calon suami atau istri boleh menyampaikan kekurangan-kekurangan darinya kepada calon pasangannya. Namun sebatas yang diperlukan, demi kemaslahatan setelah pernikahan, agar tidak terjadi penyesalan di antara keduanya. Dalam hal ini Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan:

وَمَنِ اسْتُشِيرَ فِي خَاطِبٍ أَوْ نَحْوِ عَالِمٍ يُرِيدُ الْاِجْتِمَاعَ بِهِ ذَكَرَ وُجُوبًا مَسَاوِيهِ.

Artinya: “Orang yang diajak musyawarah tentang laki-laki pelamar seorang wanita, atau semisal tentang guru yang hendak berhubungan dengannya, maka ia wajib menyebutkan keburukan-keburukannya.

Di mana kemudian oleh Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi dijelaskan, bahwa menyebut keburukan itu menjadi satu-satunya jalan untuk menghindarkan orang yang meminta nasihat dari keburukan orang yang akan berhubungan dengannya. (Fath al-Mu’in dan I’anah at-Thalibin, III/311).

Doa Pelebur Dosa Gosip
Sehubungan dengan sulitnya menghindarkan diri dari gosip, apabila seseorang terlanjur melakukannya, maka disunnahkan membaca doa:

(سُبْحَانَكَ اللهم وَبِحَمْدِك أَشْهَدُ أَنْ لاَ إلهَ إلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ. (رواه الترمذي، حديث حسن صحيح

Artinya, “Maha suci engkau ya Allah. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan dan bertobat kepada-Mu.” (HR. At-Tirmidzi. Hasan shahih)
Sumber:
1. Hafizh Hasan al-Mas’udi, Taisir al-Khalaq, (Surabaya: al-Hidayah, tth.),44-45)
2. Abu Zakariya Yahya an-Nawawi, Riyadh as-Shalihin, I/439.
3. Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, (Bairut: Daral-Fikr, tth.), III/311.
4. Abu Bakr bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anah at-Thalibin, (Bairut: Daral-Fikr, tth.), III/311

Oleh: Arina Robithoh Fuadina, Santri 3 Tsanawiyah MPHM PP. Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo, asal Magelang

Nasihat Sahabat Abdullah bin ‘Amr

Sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Ash ra. Pernah menuturkan, bahwa sesiapa yang dalam dirinya terkumpul lima amalan ini, maka niscaya ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pertama, ia senantiasa mengisi waktu-waktunya dengan berzikir: لا اله الا الله محمد رسول الله.

Berdzikir merupakan salah satu diantara ibadah yang ringan untuk dilakukan. Bukan saja karena hanya dengan lisan atau hati belaka, melainkan karena dengan mudah kita bisa merangkapnya bersama berbagai kegiatan lainnya semisal: menyapu, berkendara, memasak, atau pun pekerjaan-pekerjaan lainnya yang sehari-hari kita lakukan.

Rasulullah saw. bersabda:

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ عز وجل عَلَى كُلِّ حَالٍ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَمَلٌ أَحَبُّ إِلَى اللهِ وَ لَا أَنْجَى لِعَبْدٍ مِنْ ُكلِّ سَيِّئَةٍ فِي الدُّنْيَا وَ الْأَخِرَةِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ

Artinya: “Perbanyaklah berdzikir kepada Allah yang maha luhur lagi agung dalam berbagai keadaan. Karena tidak ada perbuatan yang lebih dicintai Allah dan lebih menyelamatkan seorang hamba dari keburukan dunia dan akhirat melebihi berdzikir kepada Allah” (HR. Ibnu Sorsori).

Kedua, tatkala mendapat cobaan ia berkata: لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم  إن لله وإن إليه راجعون

Yang artinya adalah, segala sesuatu sungguh dari dan kembali pada Allah semata dan tidak ada daya upaya melainkan hanya dengan pertolongan Allah yang maha Luhur lagi Agung.

Dengan mengucapkan ini, disaat kesulitan melanda kita, setidaknya kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak pernah lepas dari garis yang telah ditentukan oleh Allah. Sehingga akan semakin menambah rasa kepasrahan kita kepada Allah swt. dan terhindar dari rasa putus asa.

Ketiga, tatkala ia diberi nikmat ia berucap: الحمد لله ربّ العالمين sebagai tanda syukurnya,

Dengan mengucap hamdalah kita sekaligus menginsyafi bahwa segala nikmat adalah anugerah dari dan milik Allah Ta’ala, sehingga diharapakan kita semakin menjauhi kesombongan dan kelalaian oleh sebab nikmat tadi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”(QS. Ibrahim: 7)

Keempat, tatkala memulai sesuatu senantiasa mengucapkan: بسم الله الرحمن الرحيم

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh baginda Nabi saw.:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر

Artinya: “Setiap perkara yang memiliki nilai baik namun tidak diawali dengan bismillah, maka akan kurang (kemanfaatannya)

Demikian hal ringan ini semoga bisa kita biasakan agar hal-hal yang kita lakukan menuai manfaat yang maksimal.

Kelima, tatkala ia melakukan sebuah dosa, ia berucap:  أستغفر الله العظيم وأتوب اليه

Nabi saw bersabda:

أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى دَائِكُمْ وَدَوَائِكُمْ  أَلا إِنَّ دَاءَكُمُ الذُّنُوبُ  وَدَوَاؤُكُمُ الاسْتِغْفَارُ

 Artinya: “Tidakkah kalian mau aku tunjukkan penyakit kalian sekalian beserta obatnya? Ketahuilah sungguh penyakit itu adalah dosa sdang obatnya adalah beristighfar” (HR. ad-Dailami)

Sebagai manusia yang tidak luput dari dosa, hendaknya kita selalu mengiringinya dengan istigfar kepada Allah swt. Bahkan baginda nabi yang terjaga dari dosa pun setiap harinya tidak kurang seratus kali bertaubat atau beristighfar kepada Allah swt.

 

Alangkah indah jika kita sekalian dapat dengan istiqomah mengamalkan sekaligus meresapi lima hal ringan yang dituturkan oleh sahabat Abdullah bin ‘Amr tadi. Semoga.(IM)

Disarikan dar kitab Nasoihul Ibad, Imam Ahmad bin Hajar al-Asqolani, bab al-khumasi.

Khotbah Jumat: Jemaah Laku Kang Utomo

أَلْحَمْدُ للهِ فَرَضَ عَلَى عِبَادِهِ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ بِأُجُوْرٍ عَظِيْمَةٍ وَأَمَرَهُمْ بِالْجَمَاعَةِ لِحِكَمٍ وَ أَسْرَارٍ جَلِيْلَةٍ وَجَعَلَ هَذِهِ الصَّلَاةَ مُكَفِّرَاتٍ لِمَا بَيْنَهُنَّ مِنْ صَغَائِرِ الذَّنْبِ وَالْخَطِيْئَةِ وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِمَامُ الْمُتَّقِيْنَ وَالْبَرَرَة

أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَعَظِّمْ وَتَرَحَّمْ وَ تَحَنَّنْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. 

أَمَّا بَعْدٌ: فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَالزَادَ التَّقْوَى فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 

Jamaah Jumah Ingkang Minulyo.

Monggo kito sedoyo tansah ningkataken takwa kito dumateng Allah swt. kanti nglampahi punopo ingkang sampun dipun printahaken soho nebihi sedoyo cecegahanipun. Kito nglampahi taqwa puniko mboten lintu wujud ngawulo kito sedoyo dumateng Allah swt. Ingkang ngratoni sedanten alam.

Kito sedoyo ugi kedah nderek tindak lampahipun Rasulullah saw. Inggih puniko menungso ingkang sampurno ingkang dados rahmat dateng sedanten alam. Dene kasunnahan-kasunnahan ingkang dipun anjuraken Rasulullah inggih puniko salat kanti jamaah. Hukum salat kanti jamaah ing sholat gangsal wekdal puniko sunah muakkad. Mboten lintu inggih puniko tindak lampahipun kanjeng nabi ingkang dipun anjuraken sanget supados dipun tiru umatipun.

Ngantos-ngantos wonten salah setunggalipun ulama’ ingkang ndawuhaken bilih jamaah puniko hukumipun fardu kifayah. Artosipun bilih saben-saben padukuhan kedah wonten sholat kanti jamaah kangge syiar Islam. Menawi mboten wonten salah setunggaling wargo  ingkang sholat kanti jamaah, sakmangkih sedanten wargo padukuhan puniko pikantuk tatrapan dosa.

Jamaah Jumah Ingkang Minulyo.

Salat jamaah puniko anggadahi faedah ingkang katah ingkang magayutan kalian sholat ingkang dipun lampahi soho perkawis perkawis ingkang sifatipun sosial. Salah setunggaling faedah jamaah ingkang agung inggih puniko kados ingkang dipun dawuhaken kanjeng nabi saw.:

صَلَاةُ  الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artosipun: ‘Salat jamaah puniko langkung utomo tinimbang sholat ijen kanti kacek 27 derajat’ (HR. Bukhari Muslim)

Salat kanti jamaah puniko ugi lankung gampil dipun tampi dening Allah swt. Kados keterangan ingkang sampun dipun jelasaken wonten kitab I’anatut Tholibin inggih puniko menawi poro jamaah wonten kekirangan saget dipun tambel kalian lintunipun sehinggo saking meniko, sedanten dipun anggep sempurno amargi sami nglampahi kanti jamaah. Kados tiyang ingkang nyade jeruk menawi dipun sade kanti setungal setunggal sampun tamtu tiyang milih ingkang sae kemawon. Ananging menawi dipun sade kanti borongan sakmangkeh jeruk ingkang kirang sae ugi pajeng. Mekaten ugi sholat kito sedoyo.

Babakan puniko, kanjeng nabi sampun paring tulodo bilih hewan ingkang arupi macan puniko bade nyatru mendo ingkang kapijen soho setan lankung gampil mlebet dumateng tiyang ingkang kapisah saking jamaah.

Rasululloh ndawuhaken….

مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِيْ قَرْيَةٍ أَوْ بَدْوٍ لَاتُقَامُ فِيْهِمُ الْجَمَاعَةُ إِلَّا اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Artosipun: ‘Mboten wonten saking tigo ing padukuhan utawi alas ingkang mboten njumenengaken jamaah kejawi dipun kuwasani setan. Pramilo jumenengaken jamaah amargi macan puniko nyatru dateng mendo ingkang kepijen’.

 

Poro Jamaah Ingkang Minulyo…

Saking mriki kito saged mangertosi bilih jamaah puniko mbimbing kito sedoyo derajat ingkang sapodo tumpraping manungso. Ingkang miskin saget sesandingan kalian ingkang sugih, ingkang ageng saget sesandingan kalian ingkang alit, ingkang sepuh saget sesandingan kalian ingkang poro taruno wonten satunggaling baris. Meniko inggih salah setunggaling conto bilih sedanten tiyang sami derajat pangkatipun wonten ngarso dalem Allah swt. Namung takwa kulo panjenengan sedoyo ingkang ndadosaken mulyo lan parek dateng Allah swt. Alloh swt. Sampun dawuh:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَاللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artosipun: ‘Saestunipun tiyang ingkang langkung mulyo menggah Allah inggih puniko tiyang ingkang langkung taqwa. Saestunipun Allah puniko dzat ingkang ngudaneni soho dzat ingkang waspodo’. (QS. Al-Hujarat:13).

 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَاتُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اللآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

 

Sejarah Hari ini; Semangat Juang Ibn al-Jauzy

Ia bernama lengkap  al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi  lahir pada 13 Dzul Qadah 508 H/1114 M  di Baghdad, beliau dikenal luas dimasanya sebagai ulama Ahlussunnah Madzhab Hanbali yang ahli dalam berbagai banyak bidang keilmuan, Hadis, Tafsir dan juga seorang Teolog kondang yang kritis dengan aliran-aliran menyimpang.

Silsilah keturunannya, jika diurut akan sampai pada salah satu Sahabat mulia Nabi Saw. Yakni  Abu Bakar RA. Al-jauzy adalah nama yang dinisbatkan pada kakeknya, yang artinya anak kelapa, sebab ditempat tinggal kakeknya ini tidak ada pohon kelapa yang mampu hidup kecuali milik sang kakek. Ia hidup pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang kala itu Al-Mustadi menjadi Khalifahnya.

Ayahnya meninggal kala ia berusia tiga tahun, kemudian ia diasuh bibinya. Bibinya inilah yang membawanya untuk belajar kepada seorang ulama masyhur dizamannya, al-Hafidh Ibn Nashir. Dari sang guru ini beliau menjadi penda’i yang mutiara katanya mampu menyilaukan banyak orang, sehingga tidak heran pengajiannya dihadiri oleh ribuan orang, bahkan dengan kelembutan beliau dalam berdakwah, piluhan ribu orang masuk islam.

Dengan keluwesan beliau berdakwah, dan juga isinya yang konservatif mampu menarik hati Khalifah Al-Mustadi’, Khalifah mengundang beliau ke istana guna memberikan siraman rohani kepadanya dan pejabat istana.

Semenjak kecil beliau sangat haus akan ilmu, diusia dini kalbunya sudah terisi untaian kalam ilahi. Ia rela usia bermainnya dihabiskan bersama kitab-kitab dan buku, beliau juga mempunyai daya ingat dan kecepatan menghafal yang luar biasa, nama al-Hafidh disandang beliau sebab kemampuannya menghafal ribuan hadis.

Karya-karyanya mencapai 300-an buku, yang terkenal seperti Zad Al-Masir, Minhajul Qashidin yang merupakan kitab tiruan ala Ihya Ulumuddin milik Hujjatul Islam al-Ghazali, Talbis Iblis, Shaidul Khatir dan sebagainya, belum lagi karya-karya dalam bentuk lembaran yang belum terjilid mencapai ribuan.

Dalam salah satu karangan beliau, Shaidul Khatir jilid II hal 329, beliau memberikan wejangan dan  nasihatnya kepada para penuntut ilmu:

“Barangsiapa menghabiskan masa mudanya untuk ilmu, maka pada masa tuanya nanti ia akan memuji hasil dari apa yang telah ia tanam. Dia akan menikmati hasil karya yang telah ia himpun. Dia tidak akan menggubris hilangnya kenyamanan fisik yang ia alami, setelah ia melihat kelezatan ilmu yang telah ia raih. Disamping itu, ia juga merasakan kelezatan saat mencarinya, yang dengannya ia berharap mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan, bisa jadi berbagai upaya untuk mendapatkan ilmu tersebut lebih terasa nikmat daripada hasil yang telah ia raih.”

Beliau wafat pada malam jumat 12 Ramadan  597 H/ 1201 M pada usianya yang hampir 90 tahun. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman  Babu Harb Di Kota Baghdad berdekatan dengan Imam Madzhabnya, Al-Imam Ahmad bin Hanbal Ra. semoga tetesan keberkahan dan semangat dalam menuntut ilmu beliau bisa kita dapatkan dan menirunya, amiin. [ABNA]