Tag Archives: NU

Meneguhkan Toleransi Menuai Kontroversi

Sisi rahmatan lil ‘alamin agama Islam dapat ditinjau dari karakter pembawa risalah yang merupakan sosok berbudi luhur. Dalam Alquran, secara langsung Allah Swt. memuji akhlak Rasulullah Saw. yang mulia pada siapa pun.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam: 4)

Berkaitan dengan penafsiran ayat tersebut, Imam Fakhruddin ar-Razi (wafat 606 H), mengutip penggalan sebuah hadis dalam salah satu karya tafsirnya,  Mafatih al-Ghaib atau sering dikenal dengan sebutan Tafsir ar-Razi. Suatu ketika, Sahabat Abi Hurairah Ra. bertanya kepada Nabi atas kebiasaan yang dilakukan oleh komunitas musyrik. “Wahai Rasul, apakah aku membiarkan tindakan mereka?” Rasulullah Saw. Menjawab, “Aku diutus sebagai simbol kasih sayang, bukan permusuhan.”

Di sisi lain, segenap umat muslim juga mengemban tanggung jawab untuk menebar kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, tak terkecuali dengan kalangan nonmuslim. Dalam konteks ini, Syekh Ramadhan al-Buthi (wafat 1424 H) dalam salah satu bukunya, al-Jihad fi al-Islam, menguraikan bahwa asas hubungan antara umat muslim dan nonmuslim bukanlah hubungan konflik (hirabah), melainkan hubungan harmonis dan hidup berdampingan secara damai.[1] Hal ini didasari bahwa perbedaan agama dan keyakinan merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Dalam Alquran, Allah Swt. telah berfirman,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya.” (Q.S. Hud: 118-119)

Pada titik ini, kritik Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (wafat 751 H) dalam salah satu bukunya, al-Ahkam Ahl adz-Dzimmah, menarik untuk dipaparkan. Di sana dijelaskan bahwa pada dasarnya sikap diskriminasi terhadap nonmuslim yang dijelaskan dalam berbagai literatur fikih klasik pada dasarnya merupakan siyasah dan berdasarkan mashlahah rajihah (kemaslahatan yang lebih unggul), dapat berubah-ubah sesuai konteks zaman, tempat, kondisi politik dan kemaslahatan yang dinamis.[2]

Meskipun demikian, prinsip-prinsip dalam penerapan toleransi sebagai cerminan Islam yang rahmat tidak boleh melampaui batas-batas tertentu. Pertama, tidak melampaui batas akidah yang berdampak pada kekufuran semisal mengikuti ritual ibadah agama lain dengan motif mensyiarkan agama mereka. Kedua, tidak melampaui ketetapan syariat yang berdampak pada keharaman semisal memakai simbol identitas agama lain dengan motif mengagungkan keyakinannya.

Tentu wajar, apabila interaksi dengan nonmuslim di luar dua ketentuan tersebut dilegalkan. Seperti dalam hal menerima hadiah pemberian nonmuslim, menjenguknya ketika sakit, bertakziah ketika meninggal dunia dan seterusnya. Bahkan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berpendapat dalam karyanya yang lain, yakni Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad, bahwa interaksi-interaksi yang lebih menunjukkan sikap keindahan, cinta dan kasih sayang Islam, perlu untuk dilakukan.

Berpegang teguh dan konsisten menunjukkan Islam yang rahmat bukan berarti tanpa tantangan. Di Indonesia, meneguhkan tolerasi antar umat beragama dalam naungan kehidupan berbangsa dan bernegara bukan hal mudah.  Berbagai isu, tuduhan, dan stigma yang cenderung negatif bahkan menjadi kontroversi adalah hal yang lumrah dilontarkan, baik dari dalam maupun luar. Tantangan yang ada tidak sedikit pun membuat umat muslim goyah. Semua itu justru menjadikan komitmen umat muslim di Indonesia semakin kuat dalam rangka meneguhkan Islam yang rahmat, penuh cinta dan kasih sayang. []


[1] Said Ramadhan al-Buthi, al-Jihad fi al-Islam, hlm. 120-121.

[2] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, al-Ahkam Ahl adz-Dzimmah, III/1321.

Doa dari Hadramaut

LirboyoNet, Hadramaut–Ahad malam Senin (16/02), tepatnya di Sakan Bahakim, Fuwwah Masakin, Mukalla, pelajar indonesia, khususnya alumni Pondok Pesantren Lirboyo yang ada di sana ikut membacakan doa dan tahlil dalam rangka memperingati tujuh hari wafatnya KH. A. Habibulloh Zaini.

Telah kita ketahui bahwa Kiai Habibulloh adalah sosok yang bersahaja dan mencintai ilmu. Kebersahajaan beliau dapat dilihat dari sikap hidupnya sehari-hari. Dari cara berpakaian, cara dahar, cara berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya. Beliau juga selalu berhati-hati dalam persoalan fiqh, akhlak dan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan dan akhlak beliau sungguh tampak saat berdekatan dengan beliau. Ketawadluan beliau juga akan dapat terlihat dari melihat sikap tubuh beliau kala beliau berada satu majelis dengan kiai-kiai yang lain.

Sikap tawadlu’ beliau terlihat pada saat momen dahar bersama kiai-kiai yang lain di ndalem Kiai Sahal Mahfudh. Walau di Lirboyo beliau dihormati oleh ribuan santri, tapi ketika berada dalam kesempatan dahar siang di Kajen, Kiai Habibulloh justru berinisiatif mengambilkan nasi (nanduki) kiai-kiai lain yang berusia lebih lanjut. Tawadlu’ beliau juga sungguh terlihat saat berada dalam majelis ngaji Kamis Legian yang diselenggarakan oleh pengasuh pesantren Lirboyo untuk para alumni pada tahun-tahun terakhir ini. Kala badan dalam kondisi sehat, Kiai Habibulloh, bersama dengan dzurriyyah yang lain selalu tampak ikut mengaji, menyimak dengan takzim pengajian kitab al-Hikam Kamis Legi yang diampu KH. M. Anwar Manshur tersebut.

Imam al-habib Ali Al-Habsyi dawuh:

فما من خلق في البرية محمود إلا وهو متلقى عن زين الوجود

“Semua akhlaq terpuji dalam diri makhluq pasti bersumber dari Nabi SAW. sang Perhiasan alam

semesta”

Para alumni pondok pesantren lirboyo di daerah lain juga melaksanakan tahlil untuk memperingati tujuh hari wafat beliau. Semoga Allah SWT selalu menyinari maqbaroh beliau, dan kita sebagai santrinya selalu mendapatkan berkah perjuangan beliau.

Baca Juga: Peringatan 7 Hari Wafatnya Almagfurlah KH. Ahmad Habibullah Zaini

Masjid dan Muholla NU akan Diberi Prasasti

Deskripsi masalah :

Blitar, NU Online. Hilangnya beberapa aset NU, termasuk masjid dan musholla milik warga NU, menjadi perhatian khusus pada pengurus NU Kabupaten Blitar yang baru. PCNU Kabupaten Blitar akan memberikan prasasti untuk masjid dan musholla milik warga NU, dengan label Nahdlatul Ulama. “Ini perlu dilakukan. Karena berbagai cara orang luar banyak yang ingin menguasai masjid dan musholla milik warga kita. Ini bukan isapan jempol. Namun sudah banyak terjadi,’’ ungkap KH Mohammad Djais, Ketua Lembaga Ta’mir Masjid Indonesia (LTMU NU) Kabupaten Blitar, Rabu (26/12) pagi.

Sebenarnya, lanjut Kiai Djais, program tersebut periode kepengurusan yang lalu sudah mulai dilaksanakan. Namun belum bisa maksimal. Karena belum semua masjid dan musholla diberi prasasti yang berlabel Nahdlatul Ulama.  “Dampaknya sangat besar sekali dengan pemasangan prasasti tersebut. Karena orang yang mau sembarangan merubah tatacara beribadah warga NU jadi segan dan tidak berani,’’ tandas Kiai Djais yang kini juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Kerukunan Kesejahteraan Keluarga (LK3) Kabupaten Blitar ini. Menurut Mbah Djais, panggilan akrabnya, bukan tanpa alasan mengapa NU Kabupaten Blitar melakukan gerakan ini. “Belakangan, banyak masjid dan musholla di wilayah Kabupaten Blitar, tahu-tahu dikuasai sekelompok orang. Mereka kemudian melaksanakan kegiatan di luar kebiasaan yang dilakukan jamaah masjid NU. Sehingga meresahkan para jamaah masjid,” katanya.  Misalnya mereka membid’ahkan, mengkafirkan  jamaah lain yang tidak sesuai dengan amalan ubudiyahnya. “Sudah nunut (numpang: Red), lalu membid’ah-bid’ahkan lagi. Sehingga warga resah. Akhirnya NU turun tangan,’’ katanya. (Rabu 26 Desember 2012 09:55 WIB)

Pertanyaan :

Bagaimana hukum memberi prasasti NU di masjid?

Jawaban :

Hukumnya diperbolehkan, kecuali jika menimbulkan dampak negatif seperti  :

  • Memicu gesekan & perpecahan antar warga masyarakat setempat
  • Menyebabkan berkurangnya jamaah

Catatan : Pemasangan prasasti NU di wilayah kab. Blitar, yang diinisiasi PCNU setempat hukumnya mutlak diperbolehkan sebab pemasangan tersebut berdasarkan permintaan masyarakat warga NU setempat dan tanpa paksaan, sehingga potensi terjadinya dampak negatif sebagaimana di atas tidak mungkin terjadi.

Referensi :

  1. Tuhfah al-Muhtaj, juz III hlm. 197
  2. Fath al-Bari, juz I hlm. 515
  3. I’anah at-Thalibin, juz III hlm. 178

Selain membahas masjid dan musholla NU akan diberi prasasti, pada komisi B Bahtsul Masail FMPP XXXVI di Pondok Pesantren Lirboyo juga membahas ekspedisi Alquran, ayunan kaki, strategi bisnis, dan zakat peternak ikat dan zakat uang.

Untuk mendownload hasilnya, klik tautan di bawah ini:

[Hasil Bahtsul Masail FMPP XXXVI Komisi B]

Penutupan FMPP XXXVI, Menag Fachrul Razi: Bangsa ini Merdeka, karena Peran Besar Pesantren

LirboyoNet, Kediri—Menteri Agama Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi menutup secara resmi acara FMPP (Forum Musyawarah Pondok Pesantren) ke-XXXVI se-Jawa Madura pada kamis malam jumat (14/02).

Acara tersebut, dihadiri juga oleh segenap Masyayikh dan Dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo, dan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

Acara yang dimulai sehabis isya itu dibanjiri oleh segenap delegasi FMPP dan santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam kesempatan ini, Menag RI Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi menyampaikan sambutan beliau, bahwa “Saya di amanahi oleh Presiden dan Wakil Presiden sebagai menteri Republik Indonesia.”

“Jabatan ini cukup berat, namun saya berprinsip, sepanjang ada doa dan barokah dari para kiai,”

“Terutama keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, insyaAllah Allah akan memudahkan tugas-tugas saya.”

Beliau juga menyampaikan, bahwa beliau merasakan ketenangan ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo ini.

“Bangsa ini dapat merdeka, karena peran besar Pesantren”,

“Negara dan pemerintah tidak pernah lupa atas jasa para syuhada’ bangsa dari kalangan Pesantren.”

“Indonesia dari dulu tidak pernah memisahkan antara identitas islam dan identitas kebangsaan,” kata beliau,

“Dan ujung tombak paling utama adalah Nahdlatul Ulama.” Pungkas beliau.

Para ulama kita adalah nasionalis sejati. Jauh sebelum kita merdeka, ulama dan pesantren sudah berkontribusi nyata, mengambil bagian, mengukir peradaban, serta mencerdaskan kehidupan bangsa lewat lembaga-lembaga pendidikan yang didirikannya.

Mereka tetap mempertahankan identitas ke-indonesia-an, menguatkan nasionalisme santri dalam situasi apapun juga.

Pada bulan September 2019 lalu, telah disahkan undang-undang tentang pesantren. Undang-undang ini terbit bukan untuk menyeragamkan pesantren, seperti sekolah, madrasah, atau mengatur pesantren agar mau mengikuti pemerintah. Undang-undang ini hadir dalam rangka menjaga khas pesantren.

Apa yang selama ini dilakukan oleh pesantren, berupa proses belajar-mengajar dengan segala khas-nya.

Baik segi metode, kurikulum dan lainnya tetap akan dipertahankan sebagai sebuah sistem pendidikan yang diakui sebagai sistem pendidikan nasional.

Kalau kita membaca sejarah, bisa akan tergambar dengan jelas bahwa pendidikan asli Indonesia adalah pendidikan pesantren.

Acara pungkas diisi dengan mauidzoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, dan ditutup dengan doa yang dibawakan oleh KH. Zainuddin Jazuli.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Muhasabah Membuat Diri Berubah

Takdir Allah yang terbaik

ولدتك امك يا ابن آدم باكيا * والناس حولك يضحكون سرورا

فاجهد لنفسك ان تكون اذا بكوا * في يوم موتك ضاحكا مسرورا

artinya: Hai Anak Adam kau terlahir dari rahim Ibumu dalam keadaan menangis, sedangkan orang disekitarmu riang gembira akan kelahiranmu. Maka bersungguh-sungguhlah untuk dirimu sendiri sebagai bekal diharimu mati nanti kau pergi dalam keadaan tersenyum bahagia, sedangkan orang disekitarmu menangisi kepergianmu.

Itu adalah nasihat syair karya orang-orang terdahulu, artinya adalah ketika kita bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup untuk kesuksesan di hari esok kita akan meninggal dengan bahagia.

Baca juga; Orang-orang sukses

Orang yang baik itu pasti meninggal dengan bahagia. Kebahagiaan itu bisa terlihat dengan memandang orang-orang di sekitarnya, ketika orang di sekitarnya banyak yang bersedih, itu sudah menggambarkan bahwa orang tersebut sangat berharga, sehingga orang yang meninggal tersebut sangat disayangkan oleh orang sekitarnya.

Allah berfirman dalam Al-Quran Innalladzina qolu robbunallah tsummastaqomu tatanazzalu ‘alaikumul malaikatu alla takhofu wala tahzanu wa absiru bil jannati kuntum tu’adun. Yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan Kami adalah Allah, kemudian mereka konsisten, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.”

InsyaAllah KH. Maftuh Basthul Birri termasuk kategori seseorang yang ada dalam ayat tersebut. Dan kita semua mendapatkan keberkahan beliau.

Jika kita ingin berkehendak tentu ingin Kiai Maftuh tidak wafat saja. Tetap menemani kita. Tetapi meski kita memiliki kehendak, Allah juga memiliki kehendak yang terbaik. Dan tugas kita adalah selalu yakin bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik.

*Disampaikan dalam acara Tahlil dan Doa memperingati 40 hari wafatnya KH. Maftuh Basthul Birri oleh KH. Anwar Iskandar

Baca juga; Dawuh KH. M. Anwar Manshur: Cara Bersyukur Seorang Pelajar