Tag Archives: NU

Ribuan Orang Iringi Kepergian Kiai Imam

LirboyoNet, Kediri – (15/01/2012) Lautan Manusia memenuhi sepanjang jalan KH. Abdul Karim Lirboyo, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Mbah Yai Imam (sapaan akrab KH. Imam Yahya Mahrus), ribuan orang dari berbagai kalangan, yang di dominasi golongan santri ini, tampak memenuhi seluruh ruas jalan, terutama sekitar kediaman Almarhum, Pondok dan Masjid Lirboyo.

Dari kalangan Ulama’ tampak hadir, Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Sirajd dan rombongan dari Jakarta, KH. Maemun Zubeir (Sarang), KH. Musthofa Bisri (Rembang) KH. Nurul Huda Jazuli (Ploso Kediri), KH. Zaenuddin Jazuli (Ploso Kediri), KH. Mas Subadar (Pasuruan), KH. Syukri (Gontor Ponorogo), KH. Masduqi Mahfudz (Malang),  KH. Sholahuddin Wahid (Tebu Ireng Jombang) dan Seluruh Masyayikh Pondok Pesantren Lirboyo.

Dari golongan pemerintah tampak Wakil Walikota Kediri, Kapolresta Kediri, Dandim 0809 Kediri dan beberapa anggota DPRD Jatim dan Kota Kediri.

Dalam seremonial pemberangkatan Jenazah, yang dilaksanakan di depan Mushola Pondok HM Al Mahrusiyyah yang beliau asuh, adik kandung Mbah Yai Imam, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus mengungkapkan perasaan duka yang sangat mendalam, atas kewafatan Mbah Yai Imam, “Kami mewakili seluruh keluarga, meminta maaf yang sebesar-besarnya, jika Kyai Imam Mempunyai salah, kami mohon agar hadirin yang berkenan membacakan Do’a terkhusus kepada ibu Nyai Zakiyah dan putra-putri beliau, agar diberi ketabahan dan kekuatan, untuk melanjutkan perjuangan beliau” ujar Kyai Kafa berlinangan air mata.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Setelah sambutan keluarga, acara dilanjutkan dengan sambutan atas nama PBNU yang disampaikan oleh KH. Said Aqil Sirajd, dalam sambutannya, kyai yang akrab di sapa dengan Kyai Said tersebut banyak mengungkapkan jasa-jasa Mbah Yai Imam, ” Totalitas beliau dalam berdakwah sungguh luar biasa, hingga minggu-minggu terakhir sebelum beliau wafat, beliau masih sempatkan diri ke Jakarta menghadiri acara RMI Pusat, meskipun di dada beliau menacap selang ke ginjal beliau.” Ujar beliau.

Usai sambutan PBNU, dilanjutkan dengan Isyhad (persaksian) dan pelepasan oleh KH. Maemun Zubeir, pengasuh PP. Sarang Rembang. Dalam keterangan singkatnya, Kyai Maimun berujar “Sejatinya Beliau Yai Imam adalah anak dari Guru saya Mbah Yai Mahrus, jadi meskipun beliau  besan saya, beliau tetap saya hormati karena putra guru saya” ujarnya tegas. Lebih lanjut Kyai sepuh yang sangat dihormati ini, secara Khusus meminta kepada seluruh pentakziah, agar bersedia memndoakan keluarga, semoga diberikan ketabahan dan kekuatan.

Acara seremonial pemberangakatan jenazah, diakhiri dengan pembacaan Do’a yang dipimpin oleh KH. M. Anwar Manshur, pengasuh pondok Pesantren Lirboyo, yang juga kakak ipar Almarhum. Usai dibacakan Do’a Jenazah diusung menuju Masjid  Lirboyo dengan berjalan kaki.

Sebelumnya, ribuan pelayat dari berbagai Daerah, berkesempatan melaksanakan sholat Jenazah, namun karena keterbatasan tempat, maka sholat di jadikan beberapa gelombang, di Ndalem beliau 24 kali, di mushola HM Almahrusiyyah 7 kali dan terakhir di Masjid Lirboyo 2 kali yang diimami bergantian, KH. Idris Marzuqi dan KH. Masduqi Mahfud.

Keharuan nampak begitu terasa, pada saat Jenazah diusung menuju Masjid Lirboyo, Ribuan orang tampak berdesak-desakan ingin memberikan penghormatan terakhir kepada Al Marhum, hingga kondisi dalam Masjid mapun Serambi Masjid pun penuh sesak dengan manusia, dan akhirnya terpaksa beberapa penta’ziah melakukan sholat Jenazah dihalaman samping dan depan masjid.

Usai di Sholati para santri dan Alumni, jenazah diusung menuju ambulan, yang sudah menunggu di depan Gerbang Pondok, disinilah puncak keharuan santri sangat terasa, karena mereka untuk yang terakhir kalinya dapat bersua dengan Mbah Yai Imam, hujan tangis tiada henti, hingga mobil Ambulance yang membawa jenazah secara perlahan meninggalkan Gerbang Pondok, dengan kawalan Mobil polisi, 6 unit Truck Dalmas Brimob Kediri, 2 unit Bus Polresta Kediri dan ratusan kendaraan pribadi. Riff

PPHM Gelar Bahtsul Masa’il Kubro Jawa-Bali

LirboyoNet, Kediri – (04/12/2011) Sebuah Event besar beberapa hari lagi akan dilaksanakan Pondok Pesantren HM Lirboyo, kegiatan berskala Nasional tersebut adalah Bahtsul Masa’il Kubro yang akan diikuti oleh 48 Pondok Pesantren terkemuka se- Jawa Madura dan Bali.

Salah seorang panitia pelaksana Bahtsul Masa’il Kubro, Ust. Syaifulloh mengatakan “secara garis besar persiapan yang kami lakukan sudah rampung, baik yang berhubungan dengan sarana maupun prasarana” ujar nya, lebih lanjut Ust. Syaifulloh menambahkan seluruh undangan juga telah disebar, bahkan ada beberapa pesantren di bali yang di undang untuk ikut berpartisipasi. Demikian ungkapnya ketika dihubungi crew lirboyo.net via telephone.

Sekretaris umum pelaksana Bahtsul Masa’il kubro Agus H. Muhammad mengatakan “insya Allah persiapan kami 80% sudah ready, tinggal menunggu hari H nya saja, semoga tidak ada kendala” ujar Gus Muhammad yang juga putra pengasuh PPHM KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus.

Dari draf yang di sampaikan panpel, agenda Bahtsul Masa-il kubro ini akan dilaksanakan dua hari Selasa s/d Rabu tanggal 14 -15 Desember 2011, bertempat di Aula PPHM dan Mushola HM, dari puluhan peserta Bahtsul Masa’il ini, akan terbagi menjadi 2 komisi (kelompok diskusi) yakni komisi A dan Komisi B. Pelaksanakan acara pada hari Rabu – Kamis, 18 – 19 Muharram  1433  H. / 14 – 15  Desember 2011  M. mulai pukul 16.00 WIB – selesai.

Ditinjau dari materi pembahasan yang akan di bahas dalam Bahtsul Masa’il Kubro ini, panitia pelaksana sengaja mengangkat beberapa tema aktual kemasyarakatan, diantaranya adalah : seputar hukum Nasionalisme, Klenik (hukum Penangkal Hujan), tarik ulur pencalonan nadzir masjid, bermaaf-maafan di hari raya, Penyiksaan binatang, Pengelolaan zakat kontemporer, Fenomena media yang berbau pornografi kesehatan dan lain-lain,

Adapun misi khusus yang akan dijadikan tema event tahunan ini adalah ” Mentransformasikan Buah Pikiran Para Shalafus Sholih, Dalam Ranah sosial Kemasyarakatan”, dengan harapan semoga dapat membuka cakrawala baru para aktifis Bahtsul Masa’il, sehingga mampu dan menjawab tantangan zaman. agar pelaksanaan Bahtsul Masa’il ini lebih bergengsi dan bermutu, panpel mengundang Dua orang Alumni, yakni KH. Azizi Hasbulloh dari Blitar dan Kyai Syahrowardi dari Trenggalek, yang kebetulan keduannya adalah anggota LBM PWNU JATIM.

Secara khusus pengasuh PPHM KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus berpesan kepada panitia pelaksana Bahtsul Masa’il agar fasilitas dan kenyamanan peserta Bahtsul Masa’il benar-benar dioptimalkan, ” Karena pesertanya berasal dari luar Lirboyo, tolong penghormatannya di maksimalkan,” ujar beliau santun. riff

Halal Bihalal MHM, Mantapkan kembali kedisiplinan

LirboyoNet, Kediri – Setelah libur panjang dengan durasi waktu kurang lebih 2 bulan, akhirnya seluruh aktifitas belajar mengajar dilingkungan Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo, kembali berjalan sempurna, hal ini ditandai dengan dilaksanakannya acara Halal Bihalal pengurus dan pengajar MHM yang dilaksanakan tadi malam (selasa/13/09) digedung An-Nahdloh.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pengasuh MHM KH. A. Idris Marzuqi dan KH. M. Anwar Manshur, Kepala  MHM KH. Habibulloh Zaini dan beberapa Pimpinan MHM, hadir pula seluruh Pengurus MHM dan pengajar MHM disemua tingkatan.

Acara tersebut diawali dengan pembukaan sekaligus ucapan selamat hari raya Idul Fitri 1432 H, Oleh Agus H. Abdul Muid Shohib selaku Mudier Tsanawiyyah MHM, selanjutnya diteruskan dengan pembacaan tata tertib pengajar MHM oleh Mudier Aliyah MHM KH. Atho’illah S. Anwar, dalam pembacaan tata tertib tersebut Kyai Atho’ menyampaiakan beberapa hal yang selama ini menjadi catatan para pengajar MHM, terutama dalam hal kedisiplinan waktu. Sebab akhir-akhir ini keaktifan pengajar mulai luntur sehingga berdampak terhadap anak didiknya.

[ads script=”1″ align=”center”]

Usai dibacakan tata tertib, acara dilanjutkan dengan Pembacaan Tahlil dan Do’a yang dipimpin langsung oleh KH. M. Anwar Manshur, dalam Muqqodimahnya Mbah Yai anwar menjelaskan bahwa pembacaan tahlil ini sebagai wujud syukur kehadlirat Allah SWT, atas kenikmatan yang telah kita terima selama ini, sehingga bisa berkumpul kembali di Pondok Pesantren Lirboyo dalam keadaan sehat wal afiat.

Dalam acara Mauidzotul Hasanah yang disampaikan oleh KH. A. Idris Marzuqi, Mbah Yai Idris mengharap kepada para pengurus dan pengajar MHM agar menggali kembali nilai-nilai ramadhan dalam kegiatan sehari-hari, terutama dalam kegiatan mengajar terhadap para santri, sehingga akan tercipta suasana pendididikan yang kondusif dan harmonis, karena dilandasi rasa ikhlas dalam mengajar.

Lebih lanjut, Kyai sepuh yang juga Muthasyar PBNU ini mengatakan momen idul fitri ini harus kita maksimalkan dengan baik, sehingga tidak ada lagi rasa iri dan dengki, dengan saling memaafkan antara satu dengan yang lain. Dalam kesempatan ini pula Mbah Yai Idris meminta Do’a Restu kepada seluruh pengurus dan pengajar MHM, karena beberapa minggu lagi beliau akan menunaikan Ibadah Umroh menemani Putri beliau. Riff

SEJARAH MADRASAH HIDAYATUL MUBTADIIN (MHM) DAN MA’HAD ALY LIRBOYO

Semenjak didirikannya pada tahun 1910 M oleh KH. Abdul Karim, kegiatan belajar mengajar di Pondok Pesantren Lirboyo dilaksanakan dengan metode pendidikan klasik dalam format pengajian weton sorogan (santri membaca materi pelajaran di hadapan Kiai), dan pengajian bandongan (santri menyimak dan memaknai kitab yang dibaca oleh Kiai).

Seiring bertambahnya jumlah santri dengan usia dan tingkat kemampuan yang berbeda-beda, maka Pondok Pesantren Lirboyo menerapkan sistem pendidikan baru dengan metode klasikal / madrasah (pembagian tingkat belajar). Adalah Jamhari (KH. Abdul Wahab, Kendal Jawa Tengah) dan Syamsi, dua santri senior yang memprakarsai ide pembaharuan sistem belajar di Pondok Pesantren Lirboyo. Ide brilian tersebut lantas mendapat restu dari KH. Abdul Karim sebagai pengasuh, dibuktikan dengan dawuh beliau: “Santri kang durung biso moco lan nulis kudu sekolah.” (Santri yang belum bisa membaca dan menulis wajib sekolah).

Berbekal restu dari Pengasuh, sistem pendidikan madrasah pun mulai dilaksanakan pada tahun 1925 M. yang kemudian dikenal dengan nama Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM). Namun demikian pembaharuan sistem ini tidak serta merta menghapus sistem yang lama. Sistem pengajian weton sorogan dan bandongan pun tetap dilestarikan, bahkan hingga saat sekarang.

Pada tahun-tahun pertamanya, perjalanan MHM bukan tanpa hambatan. Seringkali MHM mengalami jatuh bangun. Syukurnya, selalu ada santri senior yang berjuang melanjutkan langkah MHM meski tertatih. Setelah Jamhari sebagai pembuka, muncul sosok Sanusi, dilanjutkan oleh Syaerozi (Bodrot, Perak, Jombang). Untuk selanjutnya, muncul pula Abdul Malik dan kemudian Muharror (Tegal, Jawa Tengah).

Karena berbagai kendala dan hambatan, usaha mereka untuk melanjutkan langkah MHM pun akhirnya terhenti. Tepat pada tahun 1931 M, MHM mengalami kekosongan (vakum). Barulah pada bulan Muharram 1353 H / tahun 1933 M, atas upaya KH. Abdullah Jauhari (menantu KH. Abdul Karim), K. Kholil (Melikan, Kediri ; selaku Ketua Pondok Lirboyo), dan KH. Faqih Asy’ari (Sumbersari, Pare, Kediri), MHM dibuka kembali diikuti oleh 44 siswa. Sejak itulah MHM melangkah tanpa pernah terhenti hingga sekarang.

Berlaku sebagai Kepala Madrasah (Mudir) saat itu, KH. Faqih Asy’ari yang sekaligus merangkap sebagai mustahiq (pengajar) di MHM. Beberapa mustahiq lain yang memiliki peran aktif dalam memajukan MHM pada generasi ini antara lain; KH. Zamroji (Kencong, Pare), Sholih (Blitar), Hamzah (Tulungagung), Suhadi (Sumbersari, Pare), dan Abdurrahman (Ngoro, Jombang) yang kemudian digantikan oleh Jawahir (Sindang Laut, Cirebon), dan kemudian digantikan oleh Anshori (Cangkring, Malang).

Jenjang pendidikan di MHM saat itu adalah selama 8 tahun dengan dua tingkatan, yakni tiga tahun untuk tingkat Sifir (Persiapan) dan lima tahun untuk tingkat Ibtidaiyyah. Kurikulum pendidikan meliputi ilmu tauhid, tajwid, fiqh, nahwu, sharaf, dan balaghah. Sedangkan standar kitab yang dipergunakan saat itu disesuaikan dengan tiap-tiap tingkatan. Pelajaran tertinggi pada masa itu adalah ilmu balaghah dengan standar kitab al-Jauhar al-Maknun. Kegiatan belajar mengajar MHM dilaksanakan pada pukul 19.00 WIs sampai pukul 23.00 WIs, dibagi menjadi dua jam pelajaran, yakni Hisshoh Ula dan Hisshoh Tsaniyah.

MHM terus mengalami perkembangan meskipun bukan dengan lonjakan yang tajam. Siswa MHM yang semula berjumlah 44, pada tahun berikutnya menjadi 60 siswa, dan pada tahun ke tiga menjadi 70 siswa. MHM terus mengalami peningkatan jumlah siswa pada tahun-tahun berikutnya, dan barulah pada tahun 1936 M, sebagian siswa telah menyelesaikan program belajarnya di MHM meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, hanya berkisar 10 – 12 siswa.

Pada tahun 1942 M, KH. Zamroji menerima amanah sebagai Mudir MHM, menggantikan KH. Faqih Asy’ari. Dalam menjalankan perputaran roda MHM, pada beberapa tahun ini KH. Zamroji dibantu oleh sahabat beliau, yakni KH. Abdul Lathif (Kolak, Ngadiluwih, Kediri). Pada masa ini, kegiatan belajar mengajar di MHM yang semula dilaksanakan di malam hari, dirubah pada siang hari. Hal ini dikarenakan sulitnya mencari bahan bakar untuk penerangan, sebab bertepatan dengan masa penjajahan Jepang di Indonesia. Bahkan, beberapa tahun berikutnya MHM juga mengalami penurunan drastis.  Jumlah siswa yang semula mencapai 300 siswa, kini tinggal 150 siswa. Diantara masa tersebut, pernah pula hanya ada 5 siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan.

Pada tahun 1947 M, MHM melakukan pembaharuan tingkat pendidikan, yang semula adalah Sifir selama 3 tahun dan Ibtidaiyyah selama 5 tahun, kini dirubah menjadi tingkat Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah dengan jenjang pendidikan masing-masing 4 tahun. Kurikulum pelajaran yang dipergunakan pada masa itu masih sama dengan sebelumnya. Pada tahun ini pula, atas gagasan KH. Zamroji, MHM menambahkan satu tingkatan lagi sebagai tingkat penyempurna yang dikenal dengan sebutan tingkat Mu’allimin. Jenjang ini hanya ditempuh selama satu tahun. Sedangkan kitab yang diajarkan pada tingkat ini meliputi Kitab Fathul Wahhab (Fiqh), ‘Uqudul Juman (Balaghah), dan Jam’ul Jawami’ (Ushul Fiqh).

Pada tahun 1947 M KH. Zamroji juga memiliki inisiatif untuk mengadakan forum musyawarah (diskusi) bagi siswa MHM. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pada siswa dalam memahami materi pelajaran, serta mengasah kemampuan mereka dalam berdiskusi. Pada tahap pertama, siswa yang berminat mengikuti musyawarah memang tidak banyak, hanya sekitar 90 siswa. Namun kemudian MHM mewajibkan siswa yang berdomisili di pondok untuk mengikuti musyawarah. Kegiatan musyawarah ini adalah cikal bakal berdirinya Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadiin (M3HM).

Pada tahun 1955 M, MHM mendirikan PPMHM (Persatuan Pelajar Madrasah Hidayatul Mubtadiin) sebagai respon dari perkembangan IPNU di tanah air. PPMHM berdiri sebagai lembaga layaknya OSIS di sekolah umum. Dalam aplikasinya, PPMHM kemudian diberi tugas untuk menangani berjalannya musyawarah di MHM. Ketua PPMHM pertama adalah Agus Ali bin Abu Bakar (Bandar Kidul, Kediri).

Seiring dengan perkembangannya, tepat pada tahun 1958 M PPMHM mengubah namanya menjadi M3HM (Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadiin) yang kala itu diketuai oleh Abdul Ghoni Ali. Mulai tahun ini pula, kepengurusan yang semula dilimpahkan kepada beberapa pengajar MHM, kini diamanahkan kepada beberapa siswa MHM, sedangkan pengajar MHM hanya mendampingi untuk memberikan bimbingan dan arahan.

Berikutnya, pada tahun 1950 M amanah sebagai Mudir MHM diamanahkan kepada Agus Ali bin Abu Bakar (Bandar Kidul, Kediri), dibantu oleh Yasin (Juwet, Prambon, Nganjuk). Pada tahun-tahun ini MHM juga terus melakukan pembenahan dalam berbagai bidang, utamanya pada jenjang pendidikan dan kurikulum pelajaran. Dalam jenjang pendidikan, Jenjang Ibtidaiyyah yang semula ditempuh 4 tahun ditambah menjadi 5 tahun. Sebaliknya, jenjang Tsanawiyyah yang semula 4 tahun dikurangi menjadi 3 tahun. Sedangkan dalam hal kurikulum pelajaran, pembenahan yang dilakukan adalah dengan ditetapkannya pelajaran Ilmu Falak dan Ilmu ‘Arudl sebagai bagian dari kurikulum pendidikan MHM.

MHM terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya, seiring dengan silih bergantinya Mudir MHM pada masa berikutnya. Tercatat dalam sejarah bahwa para Mudir MHM setelah Agus Ali bin Abu Bakar adalah KH. Ali Shodiq (Ngunut, Tulungagung) pada tahun 1958 M. sampai 1964 dan KH. Hafidz Syafi’i (Tlogo, Kanigoro, Blitar) pada tahun 1964 M. sampai 1972 M.

Pada tahun 1975 M, MHM kembali membuat perubahan dengan mendirikan Lembaga Pendidikan baru yang disebut dengan ar-Rabithah. Lembaga yang diresmikan oleh KH. Mahrus Ali ini bukan hanya mengajarkan materi bidang keagamaan, namun juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Hal ini dimaksudkan agar santri memiliki kesiapan penuh untuk hidup di masyarakat yang majemuk. Kendati masih berada di bawah naungan MHM, lembaga Ar-Rabithah diberi hak otonom untuk mengatur dan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Namun demikian, sebagai dukungan kepada lembaga ar-Rabithah, MHM menetapkan kebijakan bahwa ijazah MHM tidak dapat diserahkan kepada  siswa sebelum mengenyam pendidikan di lembaga Ar-Rabithah.

Pada dekade ini, MHM juga sempat mengubah jenjang pendidikan tingkat Tsanawiyah yang semula ditempuh selama 3 tahun menjadi 6 tahun. Hal ini dimaksudkan agar ijazah MHM dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Namun, pada tahun 1982 M KH. Mahrus Aly memiliki inisiatif membentuk jenjang baru di MHM, yakni jenjang Aliyah, sehingga pendidikan tingkat Tsanawiyah dikembalikan menjadi 3 tahun. Pada tahun ini pula Lembaga Ar-Rabithah resmi tidak difungsikan lagi seiring dengan lahirnya tingkat Aliyah di MHM.

Sampai di sini, sempurna sudah formula jenjang pendidikan MHM, yakni tingkat Ibtidaiyah 6 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, dan Aliyah 3 tahun. Rangkaian jenjang pendidikan yang diputuskan dalam Sidang Panitia Kecil ini berjalan efektif hingga sekarang.

Pada tanggal 25 Juli 1989 M. menambahkan jenjang persiapan yang disebut dengan tingkat I’dadiyah (Sekolah Persiapan). Jenjang ini dimaksudkan sebagai wadah kegiatan belajar mengajar bagi siswa baru yang datang setelah ditutupnya pendaftaran siswa baru MHM. Jenjang pendidikan di tingkat I’dadiyah terbagi menjadi tiga, yakni I’dadiyah I, I’dadiyah II dan I’dadiyah III.

Ketiga jenjang pendidikan di MHM (Ibtidaiyah – Tsanawiyah – Aliyah), telah mendapatkan Piagam Penyelenggaraan Madrasah Diniyah dari Departemen Agama dengan nomor sebagai berikut:

Tingkat Ibtidaiyyah         : Kd. 13.30/5/PP.00.7/1795/2009

Tingkat Tsanawiyyah       : Kd. 13.30/5/PP.00.7/1850/2009

Tingkat Aliyyah               : Kd. 13.30/5/PP.00.7/1871/2009

Selain itu, pada tahun 2006 untuk tingkat Aliyah, tahun 2015 untuk tingkat Tsanawiyah dan pada tahun 2017 untuk Ibtidaiyah MHM telah mendapatkan Pengakuan Kesetaraan (Muadalah) dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Dan pada tahun 2017 pula, Ma’had Aly Lirboyo telah mendapatkan izin operasional dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Ma’had Aly Lirboyo menyelenggarakan Program Pendidikan Fiqh dan Ushul Fiqh dengan takhassus Fiqh Kebangsaan.

Dengan adanya Pengakuan Kesetaraan ini, maka tamatan tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah MHM sama halnya dengan siswa yang telah menamatkan pendidikan SD/SMP/SMA/sederajat dan lulusan Ma’had Aly Lirboyo Marhalah Ula mendapatkan gelar S.Ag. (Sarjana Agama) sebagaimana Mahasiswa Strata Satu (S1). Selain itu, Madrasah Aliyah MHM juga telah mendapatkan pengakuan kesetaraan dengan jenjang pendidikan Aliyah Cairo Mesir, sehingga Ijazah Aliyah MHM dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan perkuliahan di Universitas Al Azhar Cairo Mesir.