Tag Archives: Organisasi

KH. A. Idris Marzuqi Sosok yang Bijaksana

“Almghfurlah kiyai Idris Marzuqi sosoknya bijaksana, beliau bisa berhubungan baik kepada siapa saja, baik kepada dzuriyyah  juga kepada orang luar seperti pejabat, masyarakat dll.”

“Jasa beliau, setelah wafatnya KH. Marzuqi Dahlan, kiyai idris sangat peduli terhadap santri dengan dibantu kiyai Anwar Manshur,  kiyai Aziz Manshur dan kiyai Ilham Nadzir, beliau perhatian terhadap mulang santri, itu merupakan atsar beliau.”

“Seperti sohabat. Sohabat pada awal-awal penuh dengan masaqoh(kesulitan). Setelah islam berkembang, banyak negara yang ditundukkan, islam menjadi makmur. Sohabat menikmati kenikmatan itu namun sohabat takut dengan kenikmatan itu karena mereka khawatir kenikmatan duniawi bisa mengurangi kenikmatan di akhirat.”

“Ketika khalifah Umar ra. dahaga beliau diberi minuman yang dingin namun beliau tidak mau. Sehingga orang disekitar bingung, kenapa tidak mau ? jawab khalifah Umar ra. : jika ini tidak ada hubungan dengan akhirat saya takut minum, sebab pandangan orang sufi kenikmatan di dunia bisa mengurangi di akhirat.”

“Lirboyo itu dibangun dengan kebersamaan, kiyai Idris menuntun kita dengan kebersamaan.”

“Orang bisa bersama juga rukun ini diikat dengan agama Allah, agama di sambungkan dengan tampar atau tali untuk mengikat dan tali itu dalam menyatukan ini tidak terasa, agama tidak disatukan dengan saif (pedang) akan tetapi dengan tampar seperti lambang NU.”

“Bukan ahli sunah rasul jika orang yang tidak takdzim terhadap yang lebih tua dan yang mulia juga tidak sayang terhadap yang muda.”

“Pada wafatnya kiyai Idris saya ditunjuk ngaji oleh kiyai Anwar, berhubung saya muda saya manut. Oleh itu supaya yang muda bisa mudah diatur.”

“Prinsip Lirboyo seperti yang di dawuhkan kiyai Ghozali Prambon beliau guru kiyai Anwar, gus yang penting hadir saja di majelis ilmi walaupun tidur.”

“Jadi orang bisa bersatu itu bila mana mau mengalah, mau mendahulukan orang lain, hal demikian dilakukan sohabat anshor.”

“Sahabat ansor itu kata rasul seperti garam. Garam itu walau sedikit itu bisa menentukan rasa makanan.”

“Mendahulukan orang lain itu faidahnya untuk kerukunan, seperti orang yang sedang bertengkar jika salah satunya mengalah maka tidak akan terjadi permusuhan.”

“Jadi orang itu bengak-bengok demo bela islam, mayoritas itu bukan pesantren.”

“Ciri khas dakwah pesantren itu lemah lembut dan mengaji.”

“Orang kalau mengaji itu rizkinya barokah, kehidupannya barokah, dzuriyyahnya barokah.”

“Makanya pesan kiyai sepuh mulai dari KH. Abdul Karim, KH. Marzuqi Dahlan, KH. Mahrus Aly itu diantara pesan beliau santri kalau dirumah supaya mulang, juga pesen yai idris santri bila mana berorganisasi silahkan berorganisasi di NU.”

“Orang alim itu bila mana berkhidmah di NU insyaAllah anaknya bisa diharapkan minas solihin akan diberi Allah dzuriyyatan toyyibah, sebab di doakan oleh para ulama khusunya kiyai hasyim.”

“Jadi santri Lirboyo kalau ingin barokah berkhidmahlah di NU sebab saya yakin kekuatan NU itu terletak di pondok pesantren.”

 

Dawuh KH. Kafabihi Mahrus dalam acara Haul Almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi

 

Mengapa Harus Berorganisasi?

Apabila ada yang mengatakan bahwa “mengikuti organisasi tertentu merupakan bukanlah sebuah kewajiban dan yang wajib ialah hanya mengikuti al-Qur’an dan hadis”, maka dapat ditegaskan bahwa statement tersebut tidak dapat dibenarkan. Karena dalam ungkapan yang begitu serampangan tersebut terdapat banyak kejanggalan yang masih perlu diluruskan dan dibenarkan.

Pertama, ketidakjelasan arti “mengikuti al-Qur’an dan hadis”. Apakah yang dimaksud adalah mengambil secara mentah etrhadap tekstual kedua sumber hukum tersebut ataukah melalui jalan para ulama?. Untuk opsi yang pertama merupakan sebuah kemustahilan memandang kredibilitas keilmuan orang zaman sekarang. Maka opsi kedua dengan mengikuti para ulama salafuna as-Shalih menjadi sebuah keniscayaan demi menjaga kemunian ajaran syariat. Bahkan di dalam al-Qur’an dan hadis terdapat pertintah untuk mengikuti para ulama. Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’: 59).

Dalam kitab tafsir at-Thabari disebutkan bahwa penafsiran kata Ulil Amri dalam ayat tersebut adalah para ulama.[1]

Rasulullah SAW telah bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepadapenguasa kaum muslimin), walaupun (dia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barang siapa yang hidup setelahku dia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagimu untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat, ” (HR. Abu Dawud)

Kedua, yang perlu dipahami ialah memaknai kata organisasi (ijtima’). Tentu saja yang dimaksud bukanlah secara tekstual kata, melainkan dipandang dari sisi misi dan tujuan yang ada di dalamnya. Adapun organisasi Nahdlatu Ulama dibentuk dalam rangka menjadikan wadah perjuangan para ulama dalam mempertahankan serta mendakwahkan paham Ahlussunnah Wal Jamaah. Tentunya, tujuan yang begitu mulia tersebut telah menjadi perintah dalam al-Qur’an. Allah SWT telah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa”. (QS. Al-Maidah; 02)

Dalam ayat tersebut terdapat perintah (‘amr) pada “kebaikan” dan “takwa” yang masih umum, sehingga dalam mewujudkan perintah kebaikan ini dapat dilakukakan dengan segala macam wujud kerjasama dalam hal kebajikan dan ketakwaan. Dalam kitab tafsir al-Maraghi dikatakan:

وَالْأَمْرُ بِالتَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى مِنْ أَرْكَانِ الهِدَايَةِ الْاِجْتِمَاعِيَّةِ فِى الْقُرْآنِ، إِذْ يُوْجَبُ عَلَى النَّاسِ أَنْ يُعَيِّنَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا عَلَى كُلِّ مَا يَنْفَعُ النَّاسَ أَفْرَادًا وَجَمَاعَاتٍ فِى دِيْنِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَعَلَى كُلِّ عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ التَّقْوَى الَّتِيْ يَدْفَعُوْنَ بِهَا الْمَفَاسِدَ وَالْمُضَارَّ عَنْ أَنْفُسِهِمْ

Perintah untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan merupaka bagian dari petunjuk untuk berorganisasi yang telah ada dalam al-Qur’an. Karena bagi setiap manusia memiliki kewajiban untuk membantu antara satu dengan yang lain atas segala hal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik secara individual maupun kelompok, baik urusan dunia ataupun urusan akhirat. Begitu juga setiap perilaku ketakwaan yang dapat menjauhkan mereka dari segala macam bahaya yang akan menimpanya.”[2]

Dalam merongrong ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, berbagai kelompok telah mengerahkan kekuatan penuh. Sejak dulu hingga sekarang berbagai hujatan, ujaran kebencian, serta fitnah terus digencarkan secara masif dan terorganisir. Maka dari itu, persatuan ulama Ahlussunnah Wal Jamaah menjadi suatu keniscayaan untuk berafiliasi dalam jamiyyah Nahdlatul Ulama. Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu upaya dalam melembagakan wawasan tradisi keagamaan yang dianut sebelumnya, yakni paham Ahlussunnah Wal Jamaah.[3] Sahabat Ali karramallahu wajhahu pernah mengatakan:

أَنَّ الْحَقَّ يَضْعُفُ بِالْإِخْتِلَافِ وَالْإِفْتِرَاقِ وَأَنَّ الْبَاطِلَ قَدْ يَقْوِيْ بِالْإِتِّحَادِ وَالْاِتِّفَاقِ

Kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan, dan kebatilan sebaliknya dapat menjadi kuat dengan persatuan dan kekompakan”.[4] []waAllahu a’lam

 

______________________

[1] Tafsir at-Thabari, VIII/501, Maktabah Syamilah

[2] Tafsir al-Maraghi, VI/46

[3] Khittah Nahdliyyah, (Surabaya: Balai Pustaka, 1980), hal. 11

[4] Muqaddimah Qanun Asasi Jamiyyah Nahdlatul Ulama

HIMASAL Cabang Semarang-Salatiga

STRUKTUR PERSONALIA PENGURUS
HIMPUNAN ALUMNI SANTRI LIRBOYO (HIMASAL)
CABANG SEMARANG – SALATIGA
Masa Khidmah : 2015-2020

I. DEWAN PENASEHAT

1. KH. Nur Wahid
2. Habib Zainal Abidin Baharun
3. Habib Farid Bin Masyhur Al Munawar
4. KH. Adro’i
5. KH. Nur Hasan
6. KH. Nur Kholis
7. K. Fatih Poncol
8. KH. Fatkhurrokhim
9. KH. Fauzan Mas’ud
10. KH. Moh. Rohadi
11. KH. Asy’ari
12. KH. Miftahuddin
13. KH. Fauzan
14. K. Fahrurrozi

II. DEWAN HARIAN

Ketua Umum : K. Toha Mahsun
Ketua Satu : K. Syifa Munim Yasin
Ketua Dua : KH. Hamzah
Ketua Tiga : Ky. Anas Muhlison
Ketua Empat : K. Muhib
Sekretaris Umum : Bpk. Syukri Alimuddin
Sekretaris Satu : Bpk. Adib Seno S.I.P
Sekretaris Dua : Bpk. Alif Sa’dullah
Sekretaris Tiga : Bpk. Agus Siswanto S.I.P
Sekretaris Empat : Bpk. Lutfi Hakim
Bendahara Umum : KH. Muhlisin
Bendahara Satu : H. Ahmad Irfai
Bendahara Dua : K. Zuhdi Amin

Pleno Pertama Pengurus Lirboyo

LirboyoNet – Demi tercapainya tujuan yang dicita-citakan, sebuah lembaga sangat memerlukan personil yang diberi tanggungjawab mengelola lembaga tersebut. Pun demikian dengan lembaga pondok pesantren yang notabene tugas dan tanggungjawabnya lebih besar.

Dan pada Jum’at malam kemarin, 17 September 2015, Badan Pembina Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo (BPKP2L) mereshuffle (karena ada pengurus yang karena satu dan lain hal tidak bisa melanjutkan berkhidmah) dan mengesahkan kepengurusan pondok Lirboyo Masa Khidmah 1436-1437 H./ 2015-2016 M. yang secara kelembagaan pengurus baru ini disahkan dengan Surat Ketetapan BPK P2L No: 01/PK-P2L I/IX/2015.

Hadir pada Rapat Pleno I malam itu diantaranya KH. M. Anwar Manshur, KH. Habibullah Zaini, KH. Nurul Huda Ahmad, beberapa dzurriyah muda keluarga besar Pondok Lirboyo dan juga seluruh pengurus yang dilantik.

Selain mengesahkan pengurus baru, agenda Sidang Pleno I tersebut juga pembacaan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus Bulan Ramadhan Pondok Pesantren Lirboyo. ”…Dari jumlah 32 qori’ (ustad atau kiai yang membacakan kitab) telah dibacakan lebih dari 50 judul kitab yang diikuti oleh santri sebanyak 5.374 santri…” kata M. Akhlish Faqih selaku ketua Pengurus Bulan Ramadhan 1436 H.

Acara ditutup dengan tausiyah dan doa yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. M. Anwar Manshur. ”…Sebagai sesama santri, karena saya juga bukan siapa-siapa, saya masih santrinya mbah sepuh, mari kita sama-sama berlomba dalam kebaikan. Mari kita sama-sama menjaga warisan mbah sepuh, mempertahankan pendidikan yang ada di dalam Pondok Pesantren Lirboyo…”, tambah beliau dalam tausiyahnya.

MHM Gelar Sidang Panitia Kecil

LirboyoNet, Kediri – Salah satu keunggulan sistem pendidikan di MHM (Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien) Lirboyo Kediri, adalah evaluasi dan koordinasi tersentral, sehingga sekecil apapun kendala yang terjadi di MHM maka harus di selesaikan  dengan bijak. Salah satu usaha yang nyata adalah pelaksanaan Sidang Panitia Kecil, yang di gelar Jum’at hingga Sabtu (11-12/05) dikantor MHM.

Dalam sidang yang diikuti oleh 15 orang ini, seluruh pimpinan MHM terlibat didalamnya, ditambah beberapa penasehat dan perwakilan pengajar senior, “Selain pimpinan MHM, ada beberapa penasehat yang terlibat dalam sidang kali ini, yakni penasehat dan perwakilan pengajar senior yang dipilih secara demokratis dalam Rapat Kwartal kemarin” ujar Ust. Kholil disela-sela persiapan pelaksanaan Sidang Panitia kecil.

Lebih lanjut Ustadz muda kelahiran Jember ini mengatakan, “materi yang dibahas kali ini adalah Evaluasi sistem pendidikan, kurikulum, pengajar hingga keuangan, karena begitu pentingnya pelaksanaan sidang ini, maka sidang ini dilaksanakan secara tertutup dan bersifat rahasia,” ujarnya tegas.

Dari pantauan Crew Lirboyo.net, beberapa penasehat MHM hadir, sebagian diantaranya adalah KH. A. Idris Marzuqi, KH. M. Anwar Manshur, KH. M. Abdul Aziz Manshur, KH. Habibulloh Zaini dan beberapa keluarga pengasuh PP. Lirboyo. Riff